(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 2 September 2012, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
Sebelum saya membahas tentang karya penyelamatan yang Yesus lakukan bagi kita, terlebih dulu saya ingin membahas tentang diri Yesus sendiri. Setelah inkarnasi, Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.
A) Yesus adalah Allah.
Bukti bahwa Yesus adalah Allah:
1) Yesus menyebut diriNya sendiri ‘Anak Allah’.
Saksi-Saksi Yehuwa maupun para Unitarian berpendapat bahwa karena Yesus adalah Anak Allah, maka Ia bukan Allah. Mereka juga berulangkali mengatakan bahwa Yesus tidak pernah mengclaim diriNya sebagai Allah, tetapi selalu sebagai Anak Allah.
Jawaban:
a) Yesus memang tidak pernah menyatakan diri sebagai ‘Allah’; Ia selalu menyatakan diri sebagai ‘Anak Allah’. Tetapi perlu dipertanyakan pertanyaan ini: apakah kita harus membentuk pemikiran / kepercayaan / ajaran tentang Yesus hanya berdasarkan kata-kata Yesus sendiri saja, atau juga dari bagian-bagian Kitab Suci yang lain? Yang dianggap sebagai Firman Tuhan itu hanya kata-kata Yesus sendiri saja, atau juga bagian-bagian lain dari Kitab Suci? Sekalipun Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diri sebagai ‘Allah’, tetapi banyak ayat-ayat Kitab Suci yang menyatakan demikian, seperti Yes 9:5 Yoh 1:1 Yoh 20:28 Kis 20:28 Ro 9:5 Tit 2:13 Ibr 1:8 2Pet 1:1 1Yoh 5:20 Wah 1:8 dsb. Ayat-ayat ini tidak akan saya bahas sekarang, karena akan saya bahas belakangan.
b) Ingat bahwa suatu istilah dalam Kitab Suci harus diartikan sesuai dengan pengertian penulisnya / orang jaman itu tentang istilah tersebut, bukan dengan pengertian orang jaman sekarang tentang istilah tersebut.
Tentang istilah ‘Anak Allah’ yang digunakan oleh Yesus terhadap diriNya sendiri ini, banyak orang menyalah-artikan istilah ini, dengan mengatakan bahwa istilah ‘Anak Allah’ menunjukkan bahwa dulu hanya ada Allah saja, yang lalu beranak, dsb. Karena itu jelas bahwa Yesus tidak setua / sekekal BapaNya. Tetapi ini adalah penafsiran yang menggunakan pengertian orang jaman sekarang tentang istilah ‘Anak Allah’ itu. Padahal istilah itu digunakan sekitar 2000 tahun yang lalu di Palestina, dan karena itu harus diartikan menurut pengertian orang-orang di sana pada jaman itu.
Kalau begitu apa artinya? Tentang istilah / gelar ‘Anak Allah’ bagi Yesus, W. E. Vine memberikan komentar sebagai berikut: “absolute Godhead, not Godhead in a secondary or derived sense, is intended in the title” (= keAllahan yang mutlak, bukan keAllahan dalam arti sekunder atau yang didapatkan, yang dimaksudkan dalam gelar tersebut) - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’, hal 1061.
Tetapi, apa dasarnya pandangan seperti ini?
1. Kita bisa mendapatkan jawabannya dengan membandingkan istilah ‘Anak Allah’ dengan istilah ‘Anak Manusia’, yang sama-sama merupakan gelar / sebutan yang sangat sering digunakan oleh Yesus untuk diriNya sendiri. Kalau istilah ‘Anak Manusia’ diartikan bahwa Yesus ‘betul-betul manusia’, maka istilah ‘Anak Allah’ harus diartikan bahwa Yesus ‘betul-betul Allah’.
Maz 8-5 - “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”.
Dalam ayat ini jelas ada dua kalimat paralel, yang artinya sama, tetapi menggunakan kata-kata yang berbeda. Jadi, ‘anak manusia’ sama dengan ‘manusia’!
2. Bandingkan dengan Mat 14:33 - “Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: ‘Sesungguhnya Engkau Anak Allah.’”.
Pikirkan ayat ini! Mereka menganggap Yesus betul-betul adalah Anak Allah, dan karena itu mereka lalu menyembah Dia. Kalau mereka menganggap bahwa ‘Anak Allah’ itu ‘bukan Allah’, atau ‘lebih rendah dari Allah’, maka mungkinkah mereka, yang adalah orang-orang Yahudi (bangsa monotheist, yang hanya menyembah Allah saja), lalu menyembah Dia? Dari ayat ini jelas bahwa mereka menganggap istilah ‘Anak Allah’ berarti ‘Allah sendiri’.
3. Bandingkan dengan Yoh 5:17-18 - “(17) Tetapi Ia berkata kepada mereka: ‘BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.’ (18) Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah”.
NIV/NASB: ‘making himself equal with God’ (= membuat diriNya sendiri setara dengan Allah).
Catatan: kata Yunani yang diterjemahkan ‘menyamakan’ dalam Yoh 5:18 adalah kata yang sama dengan kata Yunani yang diterjemahkan ‘setara’ dalam Fil 2:6. Jadi artinya ‘menyetarakan’ / ‘menyederajatkan’, bukan betul-betul ‘mengidentikkan’.
Di sini terlihat dengan jelas bahwa pada waktu Yesus menyebut diriNya sebagai ‘Anak Allah’, orang-orang Yahudi pada saat itu mengerti bahwa kata-kata itu berarti bahwa Yesus menganggap diri sehakekat dengan Allah, atau menyamakan diri dengan Allah, atau menganggap diri setara dengan Allah. Ini mereka anggap sebagai penghujatan terhadap Allah, dan karena itu mereka mau merajam Yesus.
Saksi-Saksi Yehuwa maupun para Unitarian menganggap bahwa penyetaraan Yesus dengan Allah itu hanya merupakan anggapan / penafsiran yang salah dari orang-orang Yahudi tentang pengakuan Yesus sebagai Anak Allah.
Jawaban:
Kalau itu memang merupakan pemikiran yang salah dari orang-orang Yahudi tentang kata-kata Yesus itu, mengapa Yesus tidak mengoreksi pemikiran yang salah itu?
Dalam perdebatan antara saya dengan para Unitarian, mereka mengatakan bahwa Yesus sendiri mengoreksi pandangan salah dari orang-orang Yahudi itu dengan mengucapkan kata-kata dalam Yoh 5:19 - “Maka Yesus menjawab mereka, kataNya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak”.
Sekarang mari kita membahas Yoh 5:19 ini.
a. ‘Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri’ (ay 19b bdk. ay 30a: ‘Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriKu sendiri’).
Ayat ini dipakai oleh Arius / Arianisme (yang nantinya menjadi dasar dari ajaran Saksi Yehuwa) untuk mengatakan bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa, karena Ia tidak bisa melakukan apapun dari diriNya sendiri.
Tetapi sebetulnya ayat ini sama sekali tidak menunjukkan ketidakmampuan Yesus! Dalam kontex dimana Yesus menunjukkan diriNya sebagai Anak Allah, dan menyamakan diriNya dengan Allah (ay 17-18), tidak mungkin tahu-tahu Ia justru menunjukkan ketidak-mampuanNya.
Kalau demikian, apa arti / maksud kata-kata Yesus ini? Kata-kata Yesus ini bertujuan untuk menekankan kesatuan yang tidak terpisahkan antara Yesus dengan Bapa, yang menyebabkan Yesus tidak bisa melakukan apapun terpisah dari Bapa. Dan jelas bahwa Bapapun tidak bisa melakukan apapun terpisah dari Yesus!
Jadi, Yesus dan Bapa tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Sebaliknya, pekerjaan Yesus adalah pekerjaan Bapa, dan pekerjaan Bapa adalah pekerjaan Yesus.
Dengan demikian, kata-kata Yesus ini menjawab serangan mereka bahwa Yesus melanggar Sabat dan menghujat Allah (ay 18). Kalau Yesus bisa melanggar Sabat dan menghujat Allah, maka itu berarti Ia bisa melakukan sesuatu terpisah dari Bapa. Tetapi Yesus tidak bisa melakukan sesuatu terpisah dari Bapa, dan karena itu jelas bahwa Ia tidak bisa melanggar Sabat maupun menghujat Allah.
b. ‘Jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak’ (ay 19c).
· Kata ‘apa’ dalam bagian ini seharusnya adalah ‘apapun’.
RSV/NIV/NASB: ‘whatever’ (= apapun).
KJV: ‘what things soever’ (= hal-hal apapun juga).
Jadi kata-kata Yesus di sini menunjukkan bahwa Anak / Yesus melakukan apapun juga yang dilakukan oleh Bapa. Padahal, apa yang dilakukan oleh Bapa jelas merupakan pekerjaan ilahi, seperti menciptakan alam semesta dengan segala isinya, membangkitkan orang mati, dsb. Bahwa Yesus melakukan apapun juga yang dilakukan Bapa, menunjukkan bahwa Yesus / Anak adalah Allah!
· Jangan mengartikan bagian ini seakan-akan Yesus itu cuma bisa meniru BapaNya! Tentang bagian ini NICNT mengutip kata-kata Westcott, yang berkata sebagai berikut: “The things that the Father does that the Son does, too, not in imitation, but in virtue of His sameness of nature” (= Hal-hal yang dilakukan oleh Bapa juga dilakukan oleh Anak, bukan dalam peniruan, tetapi berdasarkan kesamaan hakekatNya).
· Kalau ay 19 berarti bahwa Yesus hanya bisa meniru apa yang Bapa lakukan, bagaimana mungkin Yesus mencipta alam semesta? Kapan Yesus pernah melihat Bapa melakukan hal itu?
· Hal lain yang tidak memungkinkan penafsiran Unitarianisme ini adalah bahwa seluruh kata-kata Yesus dalam Yoh 5:19 ada dalam present tense. Kalau itu diartikan tindakan meniru, seharusnya ada dalam bentuk lampau.
4. Yoh 10:30-33 - “(30) Aku dan Bapa adalah satu.’ (31) Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. (32) Kata Yesus kepada mereka: ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari BapaKu yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?’ (33) Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah [NWT / TDB: “make yourself a god” (= menjadikan dirimu suatu allah)]” (bdk. Yoh 10:36b - “Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?”.).
Catatan: kata-kata ‘menyamakan diriMu dengan Allah’ seharusnya adalah ‘membuat diriMu Allah’.
Dalam Yoh 10:33, sekalipun kata-kata itu memang itu diucapkan oleh orang-orang Yahudi, tetapi lagi-lagi kata-kata itu pasti benar. Mengapa? Karena kalau kata-kata itu salah, Yesus pasti akan membetulkannya / mengoreksinya; Ia pasti akan menyangkal bahwa Ia menyetarakan diriNya dengan Allah. Tetapi Yesus tidak pernah melakukan hal itu! Kalau saudara membaca Yoh 10:34-39 terlihat dengan jelas bahwa Yesus bukannya membetulkan kesalahan mereka, tetapi sebaliknya justru menegaskan bahwa kata-kata mereka itu benar. Supaya lebih jelas, mari kita pelajari bagian itu.
Yoh 10:34-39 - “(34) Kata Yesus kepada mereka: ‘Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? (35) Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah - sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan -, (36) masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusNya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? (37) Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan BapaKu, janganlah percaya kepadaKu, (38) tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.’ (39) Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka”.
Ada hal-hal yang ingin saya jelaskan tentang jawaban Yesus dalam Yoh 10:34-38 ini:
a. Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dari seluruh jawaban Yesus ini adalah: terhadap kata-kata orang-orang Yahudi dalam ay 33 (bahwa Yesus menyetarakan diri dengan Allah), Yesus tidak menyangkalnya!
Dalam persoalan Sabat, pada saat mereka menyalahkan Yesus, Yesus sering membantahnya (Mat 12:1-8 Mat 12:9-15a Luk 13:10-17 Luk 14:1-6 Yoh 5:16-17 Yoh 7:22-24). Tetapi dalam hal ‘tuduhan’ menyetarakan diri dengan Allah, Yesus tidak pernah membantahnya (Yoh 5:17-18 Yoh 10:30-38). Kalau memang pendapat / penafsiran mereka itu salah, mengapa Yesus tidak pernah membantahnya?
Loraine Boettner: “And Jesus did not deny, but acknowledged, the accuracy of their charge. If they had been wrong a word from Him would have set them right, and it would have been nothing short of criminal for Him to have withheld it. ... It was not because of a slight misunderstanding of His claims that He allowed Himself to be murdered by His enemies, but because His claims were insisted upon by Him and accurately understood and resented by the Jews that He went to the cross” (= Dan Yesus tidak menyangkal, tetapi mengakui, keakuratan dari tuduhan mereka. Seandainya mereka salah, maka satu kata dari Dia akan membetulkan mereka, dan merupakan suatu tindakan kriminil dari Dia untuk menahan / tidak mengucapkan kata itu. ... Bukan karena suatu kesalah-pahaman yang kecil tentang claimNya sehingga Ia mengijinkan diriNya sendiri dibunuh oleh musuh-musuhNya, tetapi karena Ia berkeras / bersikukuh tentang claimNya, dan claimNya itu dimengerti secara akurat dan dibenci oleh orang-orang Yahudi sehingga Ia disalibkan) - ‘Studies in Theology’, hal 155.
b. Jawaban Yesus dalam ay 34-38 terdiri dari 2 hal:
· Ay 34-36:
Ay 34b dikutip dari Maz 82:6. Yesus berkata bahwa dalam Kitab Suci juga ada orang yang disebut dengan istilah ‘allah’, dan itu tidak dianggap penghujatan. Yesus tidak memaksudkan bahwa Ia juga adalah ‘allah’ dalam arti yang sama. Yesus tidak menyejajarkan diriNya dengan hakim-hakim yang disebut ‘allah’ itu. Maksud Yesus adalah: kalau mereka, yang adalah manusia biasa / hakim, bisa disebut ‘allah’ tanpa harus menghujat Allah, maka lebih-lebih Dia, yang adalah Mesias. Pada waktu Ia menyebut diriNya sendiri ‘Anak Allah’, tentu itu bukan penghujatan.
· Ay 37-38: Hal kedua yang Yesus tekankan adalah: mujijat-mujijat yang Ia lakukan seharusnya membuat mereka mempercayai kata-kataNya.
c. Ada 3 kalimat / pernyataan yang artinya sama.
Yoh 10:30-39 - “(30) Aku dan Bapa adalah satu.’ (31) Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. (32) Kata Yesus kepada mereka: ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari BapaKu yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?’ (33) Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.’ (34) Kata Yesus kepada mereka: ‘Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? (35) Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah - sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan -, (36) masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusNya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? (37) Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan BapaKu, janganlah percaya kepadaKu, (38) tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.’ (39) Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka”.
Ingat bahwa semua persoalan ini muncul karena dalam Yoh 10:30 Yesus berkata: ‘Aku dan Bapa adalah satu’.
Sekarang perhatikan bahwa dalam ay 36b Yesus berkata: “karena Aku berkata: ‘Aku Anak Allah’”. Ini aneh! Mengapa Ia tidak berkata: “karena Aku berkata: ‘Aku dan Bapa adalah satu’”? Bukankah kata-kata ‘Aku dan Bapa adalah satu’ dalam ay 30 itu yang dipersoalkan di sini?
Juga dalam ay 38b, Yesus berkata: “Supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa”. Ini juga aneh! Mengapa Ia tidak berkata: “Supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa ‘Aku dan Bapa adalah satu’”?
Jawabannya: jelas karena ketiga kalimat itu: yaitu:
· Aku dan Bapa adalah satu (ay 30).
· Aku adalah Anak Allah (ay 36b).
· Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (ay 38b bdk. Yoh 14:8-11).
maksudnya adalah sama! Semuanya menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah sendiri!
5. Yoh 19:7 - “Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: ‘Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diriNya sebagai Anak Allah.’”.
Catatan: terjemahan sebenarnya dari kata-kata ‘Ia menganggap diriNya sebagai Anak Allah’ adalah ‘Ia membuat diriNya sendiri Anak Allah’.
Bdk. Mark 14:61-64 - “(61) Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepadaNya sekali lagi, katanya: ‘Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?’ (62) Jawab Yesus: ‘Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.’ (63) Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: ‘Untuk apa kita perlu saksi lagi? (64) Kamu sudah mendengar hujatNya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?’ Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati”.
Pengakuan Yesus bahwa diriNya adalah Anak Allah membuat orang-orang Yahudi itu menganggapNya menghujat Allah, sehingga mereka menganggap bahwa Ia harus dihukum mati. Dan lagi-lagi, tidak ada bantahan / pengkoreksian dari Yesus terhadap tuduhan tersebut.
Kesimpulan: Dari kelima point di atas ini, jelas bahwa pengakuan Yesus bahwa Ia adalah ‘Anak Allah’ adalah sama dengan pengakuan bahwa diriNya adalah Allah / setara dengan Allah.
Pertanyaan: apakah saudara percaya bahwa Yesus adalah Allah sendiri? Kalau ya, apakah saudara mengarahkan hidup saudara sesuai dengan kepercayaan tersebut?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube: