(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 4 Maret 2012, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
b) Kitab Suci juga menunjukkan bahwa semua manusia condong / lebih senang pada dosa, dan bahkan sama sekali tidak bisa berbuat baik.
1. Condong kepada dosa.
Calvin: “Man’s disposition voluntarily so inclines to falsehood that he more quickly derives error from one word than truth from a wordy discourse” (= Kecenderungan manusia dengan sukarela begitu condong pada kepalsuan sehingga ia dengan lebih cepat mendapatkan kesalahan dari satu kata dari pada kebenaran dari suatu pelajaran yang panjang) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter II, no 7.
Contoh kecenderungan kepada dosa:
a. Kalau ada guru tidak masuk karena sakit, murid-muridnya malah senang.
b. Kalau dipukul, kita cenderung membalas daripada mengampuni.
c. Kalau mendengar Firman Tuhan selama 1 jam sudah merasa capai, tetapi kalau nonton film 3 jam tidak apa-apa.
d. Kalau membaca Kitab Suci merasa mengantuk, tetapi kalau membaca novel, buku silat, majalah dsb, tahan berjam-jam.
e. Anak kecil diajar mengasihi, hidup disiplin, dsb, sukar sekali. Tetapi kalau diajar untuk mencaci-maki orang, gampang sekali.
2. Sebetulnya, manusia berdosa itu bukan hanya cenderung kepada dosa, tetapi bahkan sama sekali tidak bisa berbuat baik, dan selalu berbuat dosa saja.
Ini bisa terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:
a. Kej 6:5 - “Ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, ...”.
KJV: ‘And GOD saw that the wickedness of man was great in the earth, and that every imagination of the thoughts of his heart was only evil continually’ (= Dan ALLAH melihat bahwa kejahatan manusia besar di bumi, dan bahwa setiap imajinasi dari pikiran-pikiran dari hatinya hanyalah kejahatan terus menerus).
Terjemahan ‘continually’ (= terus menerus) sama dengan terjemahan dari RSV/NASB/ASV/NKJV. Tetapi NIV menterjemahkan: ‘all the time’ (= setiap waktu / saat).
Calvin: “‘Every imagination of the thoughts of his heart.’ Moses has traced the cause of the deluge to external acts of iniquity, he now ascends higher, and declares that men were not only perverse by habit, and by the custom of evil living; but that wickedness was too deeply seated in their hearts, to leave any hope of repentance. He certainly could not have more forcibly asserted that the depravity was such as no moderate remedy might cure. It may indeed happen, that men will sometimes plunge themselves into sin, while yet something of a sound mind will remain; but Moses teaches us, that the mind of those, concerning whom he speaks, was so thoroughly imbued with iniquity, that the whole presented nothing but what was to be condemned. For the language he employs is very emphatical: it seemed enough to have said, that their heart was corrupt: but not content with this word, he expressly asserts, ‘every imagination of the thoughts of the heart’; and adds the word ‘only’, as if he would deny that there was a drop of good mixed with it.” [= ‘Setiap imajinasi dari pikiran-pikiran dari hatinya’. Musa telah melacak penyebab dari air bah pada tindakan-tindakan kejahatan luar, sekarang ia naik lebih tinggi, dan menyatakan bahwa manusia bukan hanya jahat oleh kebiasaan, dan oleh kebiasaan hidup jahat; tetapi bahwa kejahatan duduk dengan terlalu dalam di dalam hati mereka, untuk meninggalkan pengharapan apapun tentang pertobatan. Pastilah ia tidak bisa dengan lebih kuat menyatakan / menegaskan bahwa kebejatan adalah sedemikian rupa sehingga tidak ada obat yang layak / lunak bisa menyembuhkannya. Memang bisa terjadi, bahwa manusia kadang-kadang akan menceburkan diri mereka sendiri ke dalam dosa, sementara sesuatu dari pikiran yang sehat tetap ada / tersisa; tetapi Musa mengajar kita, bahwa pikiran dari mereka, tentang siapa ia berbicara, adalah begitu menyeluruhnya dipenuhi dengan kejahatan, sehingga seluruhnya tidak memberikan apapun kecuali apa yang harus dihukum / dikutuk. Karena bahasa / kata-kata yang ia gunakan adalah sangat bersifat menekankan: kelihatannya adalah cukup untuk berkata, bahwa hati mereka jahat: tetapi tidak puas dengan kata ini, ia secara jelas / explicit menyatakan, ‘setiap imajinasi dari pikiran-pikiran dari hati’; dan menambahkan kata ‘hanya’, seakan-akan ia menyangkal bahwa di sana ada satu tetespun kebaikan dicampurkan dengannya.].
Calvin: “‘Continually.’ Some expound this particle to mean, from commencing infancy; as if he would say, the depravity of men is very great from the time of their birth. But the more correct interpretation is, that the world had then become so hardened in its wickedness, and was so far from any amendment, or from entertaining any feeling of penitence, that it grew worse and worse as time advanced; and further, that it was not the folly of a few days, but the inveterate depravity which the children, having received, as by hereditary right, transmitted from their parents to their descendants” [= ‘Terus menerus’. Sebagian orang menjelaskan bagian ini sebagai berarti, sejak dari bayi; seakan-akan ia menyatakan, kebejatan manusia adalah sangat besar sejak saat kelahiran mereka. Tetapi penafsiran yang lebih benar adalah, bahwa dunia saat itu telah menjadi begitu dikeraskan dalam kejahatannya, dan ada begitu jauh dari perbaikan apapun, atau dari tindakan mempertimbangkan perasaan apapun tentang penyesalan, bahwa itu bertumbuh makin lama makin buruk dengan berjalannya waktu; dan lebih jauh, bahwa itu bukanlah kebodohan dari beberapa hari, tetapi kebejatan yang mendarah daging yang telah diterima anak-anak, seperti oleh hak warisan, diteruskan dari orang tua mereka kepada keturunan mereka].
Saya tak setuju dengan penafsiran Calvin tentang kata ‘continually’ (= terus menerus) ini. Saya justru setuju dengan pandangan yang ia tentang. Mengapa? Karena kata bahasa Ibrani yang diterjemahkan ‘continually’ (= terus menerus) ini adalah KOL HAYOM. Kata KOL artinya ‘semua / seluruh’; HA adalah ‘definite article’ (= kata sandang tertentu); kata YOM bisa diartikan ‘hari’ atau ‘waktu / saat’. Jadi KOL HAYOM arti hurufiahnya adalah ‘the whole day / time’ (= seluruh hari / saat). Jadi, NIV yang menterjemahkan ‘all the time’ (= semua / setiap saat) menurut saya adalah terjemahan yang paling tepat / hurufiah, dan dengan demikian penafsiran yang Calvin berikan, yang kelihatannya mengarahkan pada dosa yang menurun / diwariskan, rasanya menjadi tidak masuk akal.
Keil & Delitzsch: “Now when the wickedness of man became great, and ‘every imagination of the thoughts of his heart was only evil the whole day,’ i.e., continually and altogether evil” (= Pada waktu kejahatan manusia menjadi besar, dan ‘setiap imajinasi dari pikiran-pikiran dari hatinya hanyalah kejahatan seluruh hari’, yaitu, terus menerus dan sama sekali jahat).
Calvin: “Nevertheless, though Moses here speaks of the wickedness which at that time prevailed in the world, the general doctrine is properly and consistently hence elicited. Nor do they rashly distort the passage who extend it to the whole human race. So when David says, ‘That all have revolted, that they are become unprofitable, that is, none who does good, no not one; their throat is an open sepulcher; there is no fear of God before their eyes,’ (Psalm 5:10 14:3;) he deplores, truly, the impiety of his own age; yet Paul (Romans 3:12) does not scruple to extend it to all men of every age: and with justice; for it is not a mere complaint concerning a few men, but a description of the human mind when left to itself, destitute of the Spirit of God” [= Sekalipun Musa di sini berbicara tentang kejahatan yang pada saat itu berlaku di dunia, namun doktrin yang umum didapatkan dari sini secara benar dan konsisten. Juga mereka bukannya secara terburu-buru / gegabah menyimpangkan text ini, yang memperluasnya kepada seluruh umat manusia. Jadi pada waktu Daud berkata: ‘Bahwa mereka semua telah memberontak, bahwa mereka telah menjadi tak berguna, artinya, tak ada yang berbuat baik, tidak, seorangpun tidak; kerongkongan / tenggorokan mereka adalah kuburan yang terbuka; di sana tidak ada rasa takut akan Allah di depan mata mereka’, (Maz 5:10; 14:3); ia menyesalkan, secara benar, kejahatan dari jamannya sendiri; tetapi Paulus (Ro 3:12) tidak segan-segan untuk memperluasnya kepada semua manusia dari setiap jaman: dan dengan kebenaran / keadilan; karena ini bukanlah semata-mata suatu keluhan tentang beberapa orang, tetapi suatu penggambaran tentang pikiran manusia pada waktu dibiarkan / ditingalkan pada dirinya sendiri, miskin / tidak mempunyai Roh Allah].
Maz 5:10 - “Sebab perkataan mereka tidak ada yang jujur, batin mereka penuh kebusukan, kerongkongan mereka seperti kubur ternganga, lidah mereka merayu-rayu”.
Maz 14:3 - “Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”.
Ro 3:12 - “Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”.
b. Kej 8:21b - “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya”.
KJV: ‘for the imagination of man’s heart is evil from his youth’ (= karena imajinasi dari hati manusia adalah jahat dari masa mudanya).
Perhatikan kemiripan Kej 6:5 dan Kej 8:21, khususnya dalam terjemahan KJV. Kej 6:5 terjadi sebelum air bah, Kej 8:21 terjadi sesudah air bah. Jadi, air bah itu tak mengubah manusia. Manusia tetap terus menerus berbuat dosa.
Calvin (tentang Kej 8:21): “Nor does the sentence refer only to corrupt morals; but their iniquity is said to be an innate iniquity, from which nothing but evils can spring forth. I wonder, however, whence that false version of this passage has crept in, that the thought is prone to evil; except, as is probable, that the place was thus corrupted, by those who dispute too philosophically concerning the corruption of human nature. It seemed to them hard, that man should be subjected, as a slave of the devil to sin. Therefore, by way of mitigation, they have said that he had a propensity to vices. But when the celestial Judge thunders from heaven, that his thoughts themselves are evil, what avails it to soften down that which, nevertheless, remains unalterable? Let men therefore acknowledge, that inasmuch as they are born of Adam, they are depraved creatures, and therefore can conceive only sinful thoughts, until they become the new workmanship of Christ, and are formed by his Spirit to a new life. And it is not to be doubted, that the Lord declares the very mind of man to be depraved, and altogether infected with sin; so that all the thoughts which proceed thence are evil” (= Kalimat ini tidak hanya menunjuk pada moral yang jahat; tetapi kejahatan mereka dikatakan sebagai suatu kejahatan bawaan, dari mana tidak ada apapun kecuali kejahatan bisa muncul. Tetapi saya bertanya-tanya, dari mana versi palsu tentang text ini telah merangkak masuk, bahwa pikiran condong pada kejahatan; kecuali, seperti memang memungkinkan, bahwa tempat ini telah dirusak seperti itu, oleh mereka yang memperdebatkan secara terlalu filosofis berkenaan dengan kerusakan dari manusia. Kelihatannya terlalu keras bagi mereka, bahwa manusia tunduk sebagai seorang budak dari Iblis kepada dosa. Karena itu, dengan cara memperingan, mereka telah mengatakan bahwa ia mempunyai suatu kecondongan kepada kejahatan. Tetapi ketika Hakim surgawi mengguntur dari surga, bahkan pikiran-pikiran mereka sendiri adalah jahat, apa gunanya melembutkan hal itu, yang bagaimanapun juga, tetap tak berubah? Karena itu hendaklah manusia mengakui, bahwa karena mereka dilahirkan dari Adam, mereka adalah makhluk-makhluk bejat, dan karena itu hanya bisa membayangkan pikiran-pikiran yang berdosa, sampai mereka menjadi hasil karya yang baru dari Kristus, dan dibentuk oleh RohNya pada suatu kehidupan yang baru. Dan tidak boleh diragukan, bahwa Tuhan menyatakan bahwa pikiran manusia sebagai bejat, dan secara menyeluruh dipengaruhi oleh dosa; sehingga semua pikiran-pikiran yang keluar dari sana adalah jahat).
c. Ro 6:20 - “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran”.
Calvin (tentang Ro 6:20): “He calls those ‘free from righteousness’ who are held by no bridle to obey righteousness. This is the liberty of the flesh, which so frees us from obedience to God, that it makes us slaves to the devil. Wretched then and accursed is this liberty, which with unbridled or rather mad frenzy, leads us exultingly to our destruction” (= Ia menyebut mereka ‘bebas dari kebenaran’ yang tidak ditahan oleh kekang untuk mentaati kebenaran. Ini adalah kebebasan dari daging, yang begitu membebaskan kita dari ketaatan kepada Allah, sehingga itu membuat kita budak-budak bagi Iblis. Maka sangat buruk dan terkutuklah kebebasan ini, yang dengan tanpa kekang, atau lebih tepat, kegilaan, membimbing kita dengan sangat senang kepada penghancuran kita).
d. Tit 1:15 - “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis”.
Catatan: semua kata ‘suci’ dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘pure’ (= murni) dalam Kitab Suci bahasa Inggris.
Matthew Henry (tentang Tit 1:15): “To good Christians that are sound in the faith and thereby purified ‘all things are pure.’ Meats and drinks, and such things as were forbidden under the law (the observances of which some still maintain), in these there is now no such distinction, all are pure (lawful and free in their use), but to those that are defiled and unbelieving nothing is pure; things lawful and good they abuse and turn to sin; they suck poison out of that from which others draw sweetness; their mind and conscience, those leading faculties, being defiled, a taint is communicated to all they do” [= Bagi orang-orang Kristen yang baik / saleh yang sehat dalam iman dan dengan demikian dimurnikan, ‘semua hal adalah murni’. Makanan dan minuman, dan hal-hal yang dilarang di bawah hukum Taurat (yang masih dipelihara oleh sebagian orang), dalam hal-hal ini sekarang tidak ada pembedaan seperti itu, semua adalah murni (sah dan bebas dalam penggunaan mereka), tetapi bagi mereka yang cemar / najis dan tidak percaya tidak ada apapun yang murni; hal-hal yang sah dan baik mereka salah-gunakan dan belokkan kepada dosa; mereka menghisap racun dari itu dari mana orang-orang lain mendapat kemanisan; pikiran dan hati nurani mereka, hal-hal yang membimbing pikiran, telah dicemarkan / dinajiskan, dan karenanya suatu noda disampaikan pada semua yang mereka lakukan].
Matthew Henry (tentang Pkh 7:20): “We sin even in our doing good; there is something defective, nay, something offensive, in our best performances” (= Kita berdosa bahkan pada waktu kita berbuat baik; di sana ada sesuatu yang cacat, bahkan sesuatu yang menyakitkan hati / menjijikkan, dalam perbuatan-perbuatan terbaik kita).
Calvin (tentang Yes 64:6): “There are some who frequently quote this passage, in order to prove that so far are our works from having any merit in them, that they are rotten and loathsome in the sight of God. But this appears to me to be at variance with the Prophet’s meaning, who does not speak of the whole human race, but describes the complaint of those who, having been led into captivity, experienced the wrath of the Lord against them, and therefore, acknowledged that they and their righteousnesses were like a filthy garment. And first, he exhorts them to a confession of their sin, that they may acknowledge their guilt; and next, that they should nevertheless ask pardon from God, the manner of obtaining which is, that, while we complain that we are wretched and distressed, we at the same time acknowledge that we are justly punished for our sins” (= Ada beberapa / sebagian orang yang sering mengutip text ini, untuk membuktikan bahwa begitu jauh pekerjaan-pekerjaan kita dari mempunyai kebagusan / kelayakan untuk mendapat pahala dalam diri mereka, sehingga mereka busuk dan menjijikkan dalam pandangan Allah. Tetapi bagi saya ini kelihatannya berbeda dengan arti dari sang Nabi, yang tidak berbicara tentang seluruh umat manusia, tetapi menggambarkan keluhan dari mereka, yang setelah dibimbing ke dalam pembuangan, mengalami murka dari Tuhan terhadap mereka, dan karena itu, mengakui bahwa mereka dan kebenaran-kebenaran mereka adalah seperti pakaian kotor. Dan pertama, ia mendesak mereka pada suatu pengakuan dari dosa mereka, supaya mereka bisa mengakui kesalahan mereka; dan selanjutnya, supaya bagaimanapun mereka harus meminta ampun dari Allah, dan cara mendapatkan pengampunan itu adalah, sementara kita mengeluh bahwa kita berada dalam keadaan buruk dan susah, pada saat yang sama kita mengakui bahwa kita dihukum secara adil untuk dosa-dosa kita).
Catatan: saya heran mengapa Calvin menafsir seperti ini. Adalah aneh bahwa dalam penafsirannya tentang Kej 6:5 di atas, sekalipun ia mengatakan bahwa dalam ayat itu Musa berbicara tentang orang-orang pada jaman itu, tetapi ia tetap berpendapat bahwa ayat itu bisa diberlakukan secara umum bagi seluruh umat manusia, tetapi dalam Yes 64:6 ini ia mengatakan bahwa Yesaya hanya berbicara tentang orang-orang yang pulang dari pembuangan saja. Saya tidak setuju dengan dia dalam hal ini. Saya lebih setuju dengan tafsiran dari E. J. Young dan Matthew Henry, yang memberlakukan ayat itu secara umum kepada seluruh umat manusia.
E. J. Young (tentang Yes 64:6): “Calvin objects to the use of this verse to support the doctrine of total depravity, inasmuch as he believes that it is primarily the utterance not of all the Jews but only of those who, having experienced God’s wrath, acknowledge the true nature of their own righteousness. This is true, and yet the comparison is an apt description of the true nature of all our works of righteousness” [= Calvin keberatan terhadap penggunaan ayat ini untuk mendukung doktrin tentang Total Depravity (= Kebejatan Total), karena ia percaya bahwa itu terutama bukanlah ucapan tentang semua orang-orang Yahudi tetapi hanya dari mereka yang, setelah mengalami murka Allah, mengakui keadaan sebenarnya dari kebenaran mereka. Ini benar, tetapi perbandingan itu merupakan suatu penggambaran yang tepat / cocok tentang keadaan / sifat yang benar dari semua pekerjaan kebenaran kita] - Libronix.
Matthew Henry (tentang Yes 64:6): “‘Even all our righteousnesses are as filthy rags.’ (1.) ‘The best of our persons are so; we are all so corrupt and polluted that even those among us who pass for righteous men, in comparison with what our fathers were who rejoiced and wrought righteousness (v. 5), are but as filthy rags, fit to be case (cast?) to the dunghill. The best of them is as a brier.’ (2.) ‘The best of our performances are so. There is not only a general corruption of manners, but a general defection in the exercises of devotion too; those which pass for the sacrifices of righteousness, when they come to be enquired into, are the torn, and the lame, and the sick, and therefore are provoking to God, as nauseous as filthy rags.’ Our performances, though they be ever so plausible, if we depend upon them as our righteousness and think to merit by them at God’s hand, are as filthy rags - rags, and will not cover us - filthy rags, and will but defile us. True penitents cast away their idols as filthy rags (ch. 30:22), odious in their sight; here they acknowledge even their righteousness to be so in God’s sight if he should deal with them in strict justice. Our best duties are so defective, and so far short of the rule, that they are as rags, and so full of sin and corruption cleaving to them that they are as filthy rags. When we would do good evil is present with us; and the iniquity of our holy things would be our ruin if we were under the law” [= ‘Bahkan semua kebenaran-kebenaran kita seperti kain kotor’. (1.) ‘Yang terbaik dari orang-orang kita adalah seperti itu; kita semua adalah begitu rusak / jahat dan terpolusi sehingga bahkan mereka di antara kita yang dipandang sebagai orang benar, dalam perbandingan dengan bagaimana keadaan dari nenek moyang kami yang bersukacita dan melakukan kebenaran (ay 5), hanyalah seperti kain kotor, cocok untuk dibuang ke tumpukan kotoran / tai. Yang terbaik dari mereka adalah seperti suatu tanaman yang berduri’. (2.) ‘Yang terbaik dari perbuatan-perbuatan kami / kita adalah demikian. Di sana bukan hanya ada suatu kerusakan / kejahatan tingkah laku yang umum, tetapi suatu cacat umum dalam pelaksanaan-pelaksanaan dari pembaktian juga; mereka yang dipandang sebagai korban-korban kebenaran, pada waktu mereka diselidiki, adalah korban-korban yang dicabik-cabik, dan pincang, dan sakit, dan karena itu memprovokasi Allah, sama memuakkannya seperti kain kotor’. Perbuatan-perbuatan kita, sekalipun mereka kelihatannya benar, jika kita bersandar kepada mereka sebagai kebenaran kita dan berpikir untuk layak mendapatkan pahala oleh mereka dari tangan Allah, adalah seperti kain kotor - kain compang camping, dan tidak akan menutupi kita - kain kotor, dan hanya akan mengotori / menajiskan kita. Petobat-petobat yang sejati membuang berhala-berhala mereka seperti kain kotor (pasal 30:22), menjijikkan dalam pandangan mereka; di sini mereka mengakui bahkan kebenaran mereka adalah seperti itu dalam pandangan Allah jika Ia menghadapi mereka dengan keadilan yang ketat. Kewajiban-kewajiban / ketaatan-ketaatan terbaik kita adalah begitu bercacat, dan begitu jauh dari peraturannya, sehingga mereka adalah seperti kain compang camping, dan begitu penuh dengan dosa dan kerusakan / kejahatan yang melekat pada mereka sehingga mereka adalah seperti kain compang camping yang kotor. Pada waktu kita mau melakukan yang baik, kejahatan hadir bersama kita; dan kejahatan dari hal-hal kudus kita akan merupakan kehancuran kita seandainya kita berada di bawah hukum Taurat].
Yes 1:6 - “Dari telapak kaki sampai kepala tidak ada yang sehat: bengkak dan bilur dan luka baru, tidak dipijit dan tidak dibalut dan tidak ditaruh minyak”.
Yes 30:22 - “Engkau akan menganggap najis patung-patungmu yang disalut dengan perak atau yang dilapis dengan emas; engkau akan membuangnya seperti kain cemar sambil berkata kepadanya: ‘Keluar!’”.
KJV: ‘a menstruous cloth’ (= kain menstruasi).
NIV: ‘a menstrual cloth’ (= kain menstruasi).
Kalau saudara sudah bisa mempunyai kerinduan untuk melakukan hal-hal yang baik, seperti pergi ke gereja, mendengar Firman Tuhan, dsb, maka itu bisa terjadi karena Roh Kudus sudah bekerja dalam diri saudara (melahir-barukan dan mengubahkan saudara). Tanpa pekerjaan Roh Kudus, saudara tidak akan senang / rindu pada apa yang baik.
Calvin (tentang Kej 3:6): “A question is mooted by some, concerning the time of this fall, or rather ruin. The opinion has been pretty generally received, that they fell on the day they were created; and, therefore Augustine writes, that they stood only for six hours. The conjecture of others, that the temptation was delayed by Satan till the Sabbath, in order to profane that sacred day, is but weak. And certainly, by instances like these, all pious persons are admonished sparingly to indulge themselves in doubtful speculations. As for myself, since I have nothing to assert positively respecting the time, so I think it may be gathered from the narration of Moses, that they did not long retain the dignity they had received; for as soon as he has said they were created, he passes, without the mention of any other thing, to their fall. If Adam had lived but a moderate space of time with his wife, the blessing of God would not have been unfruitful in the production of offspring; but Moses intimates that they were deprived of God’s benefits before they had become accustomed to use them. I therefore readily subscribe to the exclamation of Augustine, ‘O wretched freewill, which, while yet entire, had so little stability!’ And, to say no more respecting the shortness of the time, the admonition of Bernard is worthy of remembrance: ‘Since we read that a fall so dreadful took place in Paradise, what shall we do on the dunghill?’” (= Suatu pertanyaan diperdebatkan oleh beberapa / sebagian orang, berkenaan dengan saat kejatuhan ini, atau lebih tepat, kehancuran ini. Pandangan yang secara umum telah diterima, adalah bahwa mereka jatuh pada hari mereka diciptakan; dan karena itu, Agustinus menulis, bahwa mereka bertahan hanya selama enam jam. Tebakan dari orang-orang lain, bahwa pencobaan itu ditunda oleh Iblis sampai hari Sabat, untuk menajiskan / mencemarkan hari keramat itu, hanyalah tebakan yang lemah. Dan pasti, oleh contoh-contoh seperti ini, semua orang-orang yang saleh dinasehati untuk membatasi diri mereka sendiri dalam menuruti hati mereka dalam spekulasi-spekulasi yang meragukan. Untuk diri saya sendiri, karena saya tidak mempunyai apapun untuk menegaskan secara positif berkenaan dengan waktu / saat, maka saya berpikir bahwa itu bisa didapatkan dari cerita Musa, bahwa mereka tidak lama mempertahankan martabat yang telah mereka terima; karena begitu ia telah mengatakan bahwa mereka diciptakan, ia beralih, tanpa menyebutkan hal lain apapun, pada kejatuhan mereka. Seandainya Adam hidup untuk suatu jangka waktu yang moderat dengan istrinya, berkat Allah akan telah berbuah dalam produksi keturunan; tetapi Musa mengisyaratkan bahwa mereka dicabut dari kebaikan-kebaikan Allah sebelum mereka menjadi terbiasa untuk menggunakannya. Karena itu, saya dengan cepat / rela menganut seruan dari Agustinus, ‘O kehendak bebas yang sangat buruk, yang pada saat masih utuh, mempunyai begitu kecil kestabilan!’ Dan, tanpa mengatakan lebih banyak lagi berkenaan dengan pendeknya waktu, nasehat dari Bernard layak untuk diingat: ‘Karena kita membaca bahwa suatu kejatuhan yang begitu menakutkan terjadi di Firdaus, apa yang akan kita lakukan pada tumpukan kotoran / tai?’).
6) Semua manusia ada di bawah murka Allah.
Yoh 3:36 - “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya”.
Kata ‘tetap ada’ di sini menunjukkan bahwa dari semula (sejak orang itu lahir), murka Allah itu sudah ada di atasnya. Kalau ia percaya kepada Yesus, maka murka itu dicabut, tetapi kalau ia tidak percaya / tidak taat, maka murka Allah itu tetap ada di atasnya.
Kata ‘tetap ada’ ini dalam KJV diterjemahkan ‘abideth’ (= tinggal / tetap ada).
Calvin: “But to express more clearly that no hope remains for us, unless we are delivered by Christ, he says that the wrath of God ‘abideth’ on unbelievers. Though I am not dissatisfied with the view given by Augustine, that John the Baptist used the word ‘abideth,’ in order to inform us that, from the womb we were appointed to death, because we are all born the children of wrath, (Ephesians 2:3.) At least, I willingly admit an allusion of this sort, provided we hold the true and simple meaning to be what I have stated, that death hangs over all unbelievers, and keeps them oppressed and overwhelmed in such a manner that they can never escape. And, indeed, though already the reprobate are naturally condemned, yet by their unbelief they draw down on themselves a new death” [= Tetapi untuk menyatakan dengan lebih jelas bahwa tidak ada pengharapan tersisa bagi kita, kecuali kita dibebaskan oleh Kristus, ia mengatakan bahwa murka Allah ‘tinggal / tetap ada’ pada orang-orang yang tidak percaya. Bagaimanapun saya bukannya tidak puas dengan pandangan yang diberikan oleh Agustinus, bahwa Yohanes Pembaptis menggunakan kata ‘tinggal / tetap ada’, untuk memberi kita informasi bahwa sejak dari kandungan kita ditetapkan pada kematian, karena kita semua dilahirkan sebagai anak-anak kemurkaan (Ef 2:3). Setidaknya, saya dengan sukarela mengakui suatu kiasan dari jenis ini, asal kita memegang arti yang benar dan sederhana yang adalah apa yang telah saya nyatakan, bahwa kematian menggantung / tergantung di atas semua orang-orang yang tidak percaya, dan menjaga mereka ditindas dan dikalahkan dengan suatu cara sehingga mereka tidak pernah bisa lolos. Dan memang, sekalipun orang-orang jahat secara alamiah sudah dihukum, tetapi oleh ketidak percayaan mereka, mereka menurunkan kepada diri mereka sendiri suatu kematian yang baru].
Ef 2:1-3 - “(1) Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. (2) Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. (3) Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain”.
Bagian yang saya garisbawahi itu, terjemahan hurufiahnya adalah seperti yang diberikan oleh NASB: ‘and were by nature children of wrath, even as the rest’ (= dan secara alamiah adalah anak-anak kemurkaan, sama seperti orang-orang yang lain).
Calvin (tentang Ef 2:3b): “‘And were by nature children of wrath.’ All men without exception, whether Jews or Gentiles, (Galatians 2:15,16,) are here pronounced to be guilty, until they are redeemed by Christ; so that out of Christ there is no righteousness, no salvation, and, in short, no excellence. ‘Children of wrath’ are those who are lost, and who deserve eternal death. ‘Wrath’ means the judgment of God; so that ‘the children of wrath’ are those who are condemned before God. Such, the apostle tells us, had been the Jews, - such had been all the excellent men that were now in the Church; and they were so ‘by nature,’ that is, from their very commencement, and from their mother’s womb” [= ‘Dan secara alamiah adalah anak-anak kemurkaan’. Semua orang tanpa kecuali, apakah Yahudi atau non Yahudi, (Gal 2:15,16), di sini dinyatakan sebagai bersalah, sampai mereka ditebus oleh Kristus; sehingga di luar Kristus tidak ada kebenaran, tak ada keselamatan, dan singkatnya, tak ada hal yang baik. ‘Anak-anak kemurkaan’ adalah mereka yang terhilang, dan yang layak mendapatkan kematian kekal. ‘Kemurkaan’ berarti penghakiman Allah; sehingga ‘anak-anak kemurkaan’ adalah mereka yang dikecam / dihukum di hadapan Allah. Demikianlah keadaan orang-orang Yahudi dulu, - demikianlah keadaan semua orang-orang yang baik sekali yang sekarang ada di dalam Gereja; dan mereka adalah demikian ‘secara alamiah’, artinya, dari pertama-tama keberadaan mereka, dan dari kandungan ibu mereka].
Matthew Henry: “‘We are by nature the children of wrath, even as others.’ The Jews were so, as well as the Gentiles; and one man is as much so as another by nature, not only by custom and imitation, but from the time when we began to exist, and by reason of our natural inclinations and appetites. All men, being naturally children of disobedience, are also by nature children of wrath: God is angry with the wicked every day. Our state and course are such as deserve wrath, and would end in eternal wrath, if divine grace did not interpose” (= ‘Kita secara alamiah adalah anak-anak kemurkaan, sama seperti orang-orang lain’. Orang-orang Yahudi adalah demikian, dan demikian juga orang-orang non Yahudi; dan satu orang adalah seperti itu sama seperti orang yang lain secara alamiah, bukan hanya karena tradisi / kebiasaan dan peniruan, tetapi sejak waktu dimana kita mulai ada, dan karena kecenderungan dan keinginan / nafsu alamiah kita. Semua manusia, karena secara alamiah adalah anak-anak ketidak-taatan, secara alamiah juga adalah anak-anak kemurkaan: Allah murka kepada orang-orang jahat setiap hari. Keadaan dan jalan kita adalah sedemikian rupa sehingga layak mendapatkan kemurkaan, dan akan berakhir dalam kematian kekal, jika kasih karunia ilahi tidak ikut campur).
Maz 7:12 - “Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat”.
Jadi, ini menunjukkan bahwa manusia itu secara alamiah, maksudnya sejak lahir, adalah orang yang dimurkai oleh Allah. Kita lahir sebagai manusia berdosa, dan karena itu sejak kita lahir, kita sudah ada di bawah murka Allah. Kita tidak lahir di daerah netral! Kita lahir di bawah murka Allah! Karena itu, kalau saudara tidak mau datang dan percaya kepada Yesus untuk mendapatkan pengampunan dosa dan perdamaian dengan Allah, maka secara otomatis saudara akan menuju ke neraka dimana saudara akan mengalami / merasakan murka Allah secara penuh.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube: