Khotbah Eksposisi

Filemon 8-11

Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

Ay 8-11: (8) Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan, (9) tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, (10) mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus (11) - dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.

 

1)   Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan, tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu (ay 8-9a).

 

Paulus bukan memerintahkan, tetapi meminta. Sebagai rasul, ia mempunyai hak untuk memerintah. Tetapi ia lebih senang untuk tidak menggunakan ototritasnya. Ia lebih senang meminta, sehingga Filemon melakukannya bukan karena terpaksa (ay 14).

 

Calvin: “By his example he shows that pastors should endeavour to draw disciples gently rather than to drag them by force” (= Oleh teladannya ia menunjukkan bahwa pendeta-pendeta harus berusaha untuk menarik murid-murid dengan lembut dari pada menyeret mereka secara paksa / dengan kekuatan) - hal 353.

 

Sebetulnya ini bukan hanya untuk pendeta, tetapi kalau bisa juga untuk seadanya majikan / atasan / boss. Lebih baik meminta, sehingga orang yang diminta melakukan dengan kerelaan, dari pada memerintah, sehingga yang diperintah melakukan dengan terpaksa. Semua yang dilakukan dengan rela, lebih baik dari pada yang dilakukan dengan terpaksa.

 

2)   Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus (ay 9b).

 

a)   Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua.

Calvin menterjemahkan kata-kata yang saya garis-bawahi itu sebagai ‘elder’ (= tua-tua), dan mengatakan bahwa ini tidak menunjuk pada usia tua, tetapi pada jabatan (tua-tua / penatua).

Ada juga penafsir yang menterjemahkan sebagai ‘ambassador’ (= duta besar).

William Hendriksen (hal 217, footnote) menolak semua ini, dan tetap menterjemahkan ‘an old man’, dengan alasan: kalau Paulus dalam ay 1 menghindari sebutan ‘rasul’ untuk dirinya, tidak mungkin dalam ayat ini ia lalu menggunakan sebutan lain yang menunjuk pada jabatan gereja bagi dirinya. Jadi ‘an old man’ lebih masuk akal.

 

b)   lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus.

Kata-kata ini kelihatannya diucapkan oleh Paulus supaya Filemon tidak menolak permintaannya. Karena Filemon dan Paulus mempunyai agama yang sama, maka pemenjaraan Paulus bisa memotivasi Filemon untuk mengabulkan permintaan Paulus, untuk bisa menyenangkan Paulus, dan dengan demikian meringankan penderitaan Paulus dalam penjara.

 

3)   mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus (ay 10).

 

a)   Permintaan Paulus berkenaan dengan budak Filemon yang bernama Onesimus.

 

Calvin: “The singular loftiness of the mind of Paul, though it may be seen to greater advantage in his other writings which treat of weightier matters, is also attested by this Epistle, in which, while he handles a subject otherwise low and mean, he rises to God with his wonted elevation. Sending back a runaway slave and thief, he supplicates pardon for him. But in pleading this cause, he discourses about Christian forbearance with such ability, that he appears to speak about the interests of the whole Church rather than the private affairs of a single individual. In behalf of a man of the lowest condition, he demeans himself so modestly and humbly, that nowhere else is the meekness of his temper painted in a more lively manner” (= Kemuliaan / keagungan yang luar biasa dari pikiran Paulus, sekalipun itu bisa terlihat lebih bermanfaat dalam tulisan-tulisannya yang lain dimana ia membahas hal-hal yang lebih penting, juga diperlihatkan oleh Surat ini, dalam mana, sementara ia menangani suatu persoalan yang rendah dan hina, ia naik kepada Allah dengan peninggiannya yang biasa. Pada waktu mengirimkan kembali seorang budak dan pencuri yang melarikan diri, ia memohonkan ampun baginya. Tetapi pada waktu memohon tentang perkara ini, ia membicarakan tentang kesabaran Kristen dengan kemampuan sedemikian rupa, sehingga ia kelihatannya berbicara tentang kepentingan dari seluruh Gereja dan bukannya persoalan pribadi dari satu individu. Demi seseorang dari kondisi yang paling rendah, ia merendahkan dirinya sendiri dengan begitu sopan dan rendah hati, sehingga tidak ada tempat lain dimana kelembutan dari tabiat / sifatnya digambarkan dengan cara yang lebih hidup) - hal 347-348.

 

Paulus bukan hanya mau melayani orang penting / kaya / berkedudukan dsb, tetapi juga mau melayani orang hina / remeh / tak berarti seperti Onesimus. Paulus bukan hanya mau menangani doktrin-doktrin besar / penting, tetapi juga mau menangani persoalan pribadi dari orang yang sangat rendah, yaitu seorang budak / pencuri yang melarikan diri dari tuannya!

Tindakan Paulus ini meneladani Kristus, yang di kayu salib melayani seorang penjahat yang sekarat (Luk 23:42-43), dan melayani seorang perempuan Samaria, yang adalah seorang pelacur (Yoh 4)!

 

Penerapan: gereja / pendeta yang hanya mau melayani dalam seminar / KKR, tetapi tak mau melakukan pelayanan di penjara / panti asuhan, adalah gereja / pendeta / orang Kristen yang tidak meneladani Kristus maupun Paulus!

 

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa Paulus bukan hanya mau melakukan pelayanan remeh / rendah, tetapi juga mau meresikokan hubungannya dengan Filemon, demi hal remeh tersebut!

Jadi, gereja / pendeta / orang Kristen harus mau melayani orang-orang yang rendah / tidak penting, bahkan pada saat pelayanan itu mempunyai resiko untuk mendapat kerugian!

 

Pelayanan memang tak boleh dilakukan berdasarkan untung rugi / besar kecilnya, tetapi berdasarkan benar / tidaknya pelayanan itu, atau apakah Tuhan menghendaki pelayanan itu atau tidak. Gereja / pendeta / orang Kristen harus mengambil keputusan bukan berdasarkan untung ruginya tetapi berdasarkan benar tidaknya hal itu!

 

Penerapan: kalau ada seorang pelacur masuk ke gereja ini dan ia ingin bertobat dengan sungguh-sungguh, bukankah kita harus menerimanya? Tentu saja ya! Tetapi bagaimana jika ada orang kaya dalam gereja ini, yang merasa dirinya terlalu tinggi untuk berdekatan dengan seorang pelacur, dan menuntut saya dan pengurus untuk menolak pelacur itu? Bandingkan dengan anak sulung yang marah pada waktu bapanya menerima anak bungsu yang kembali (Luk 15:28-30)! Kalau kita menerima pelacur itu, kita beresiko kehilangan orang kaya itu. Haruskah kita mengorbankan pelacur itu demi orang kaya itu? Pertanyaan ini sebaiknya dijawab juga dengan sebuah pertanyaan: haruskan bapa itu mengorbankan anak bungsunya demi anak sulungnya? Di sini harus ditekankan bahwa dalam mengambil keputusan, kita tidak boleh memutuskan demi untung ruginya tindakan tersebut (ini politik!), tetapi harus berdasarkan benar tidaknya tindakan tersebut (ini kebenaran!).

 

b)   Paulus menyebut Onesimus sebagai anaknya, yang telah ia peranakkan dalam penjara.

Ay 10 (KJV): ‘I beseech thee for my son Onesimus, whom I have begotten in my bonds’ (= Aku memohon kepadamu untuk anakku Onesimus, yang telah kuperanakkan dalam penjara).

 

1.   Merupakan sesuatu yang lazim untuk menyebut orang yang dipertobatkan sebagai ‘anak’ (secara rohani).

 

Bdk. 1Kor 4:14-15 - “(14) Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi. (15) Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu”.

 

Memang pertobatan Onesimus bukan terjadi oleh pekerjaan / kuasa Paulus, karena kelahiran baru maupun pertobatan seseorang merupakan pekerjaan Allah / Roh Kudus sendiri! Tetapi karena seseorang menjadi anak Allah karena iman, dan iman timbul dari pendengaran (Ro 10:14,17), maka orang yang memberitakan Injil sehingga seseorang percaya kepada Kristus disebut sebagai bapa / orang tuanya.

 

Ro 10:14,17 - “(14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya? ... (17) Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”.

 

2.   Apakah ayat ini, dan juga 1Kor 4:14-15 di atas, bertentangan dengan Mat 23:9?

 

Mat 23:9 - “Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga”.

 

Dengan mengatakan bahwa Onesimus adalah anaknya, dan ia yang memperanakkan Onesimus, itu sama dengan mengatakan dirinya sebagai bapa dari Onesimus. Bukankah itu bertentangan dengan Mat 23:9 di atas? Bagaimana kita bisa mengharmoniskan ayat-ayat yang kelihatannya saling bertentangan ini?

 

Pertama-tama mari kita melihat seluruh kontext dari Mat 23:9 itu.

Mat 23:6-12 - “(6) mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; (7) mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. (8) Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. (9) Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. (10) Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. (11) Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. (12) Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”.

Catatan: Kata ‘rabi’ berarti ‘guru’ / ‘pengajar’. Bdk. Yoh 1:38b - “Kata mereka kepadaNya: ‘Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?’”.

 

Dalam menafsirkan Mat 23:8-10 ini, kita harus memperhatikan bahwa:

·        Paulus menyebut dirinya ‘bapa rohani’ (1Kor 4:15  Fil 2:22).

Fil 2:22 - “Kamu tahu bahwa kesetiaannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya”.

·        Paulus menyebut dirinya ‘pengajar’ / ‘guru’ (1Tim 2:7  2Tim 1:11).

1Tim 2:7 - “Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul - yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta - dan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran”.

2Tim 1:11 - “Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru.

·        Jabatan dalam gereja diberikan oleh Tuhan, termasuk ‘pengajar’.

Ef 4:11 - “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.

1Kor 12:28a - “Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar.

·        Kitab Suci sendiri menggunakan sebutan ‘pemimpin’ untuk pemimpin gereja.

Ibr 13:7,17,24 - “(7) Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. ... (17) Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu. ... (24) Sampaikanlah salam kepada semua pemimpin kamu dan semua orang kudus. Terimalah salam dari saudara-saudara di Italia”.

 

Karena itu, jelaslah bahwa dalam menafsirkan Mat 23:8-10, kita harus memperhatikan bahwa: “The prohibition must be understood in the spirit and not in the letter” (= Larangan ini harus dimengerti menurut arti yang sebenarnya, dan bukan menurut arti hurufiahnya).

 

Untuk bisa mengetahui arti yang sebenarnya, maka ada 2 hal yang harus diperhatikan:

 

a.   Arah / penekanan dari kontex (Mat 23:6-12).

Mat 23:6-12 - “(6) mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; (7) mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. (8) Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. (9) Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. (10) Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. (11) Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. (12) Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

 

Mat 23:6-7 jelas menyerang kesombongan, sifat ingin dihor­mati / ditinggikan dsb.

Mat 23:11-12 jelas juga mengajar kerendahan hati dan melarang peninggian diri sendiri.

Jadi jelas bahwa Mat 23:8-10 terletak dalam kontext (Mat 23:7-12) yang menekankan bahwa kita harus rendah hati, tidak boleh ingin dihormati / meninggikan diri dsb.

 

b.   Penekanan dari Mat 23:8-10 sendiri.

Mat 23:8 menunjukkan Yesus sebagai satu-satunya Rabi yang sejati; sedangkan semua orang kristen adalah saudara / setingkat (hanya Yesus yang ada di atas!).

Mat 23:9 menunjukkan hanya ada 1 Bapa.

Mat 23:10 menujukkan hanya ada 1 pemimpin yaitu Mesias.

Jadi, penekanan dari Mat 23:8-10 ini adalah: kemuliaan hanya boleh diberikan kepada Allah; kita tidak boleh mengurangi kemuliaan Allah dengan memberikannya kepada manusia.

 

Kesimpulan: Larangan menyebut rabi, bapa, pemimpin hanya berlaku kalau:

·        Orang itu ingin disebut demikian untuk meninggikan dirinya.

·        Sebutan terhadap orang itu mengaburkan / mengurangi kemuliaan Allah / Tuhan Yesus.

Calvin (tentang Mat 23:9): “The true meaning therefore is, that the honour of a father is falsely ascribed to men, when it obscures the glory of God” (= Arti sebenarnya adalah, bahwa penghormatan dari bapa secara salah ditujukan kepada manusia, kalau itu mengaburkan kemuliaan Allah).

 

Jadi, selama kedua point di atas tidak terjadi, maka tak ada salahnya menyebut seseorang sebagai ‘bapa’, ‘guru’, ataupun ‘pemimpin’!

 

Juga, Mat 23:8-10 ini (khususnya Mat 23:8 - ‘kamu semua adalah saudara’), tidak bisa dipakai untuk membenarkan adanya ‘gereja tanpa gembala’ (gereja yang menolak adanya gembala / pendeta), seperti Gereja Sidang Jemaat Kristus. Ingat bahwa jabatan gembala itu juga diberikan oleh Tuhan (Ef 4:11)!

 

3.   Paulus tidak merasa terlalu tinggi untuk memberitakan Injil / melayani seorang budak!

Bahwa Onesimus bisa menjadi anak rohani Paulus, jelas menunjukkan bahwa Paulus telah memberitakan Injil kepada dia, yang adalah seorang budak.

 

Bdk. 1Kor 7:20-21 - “(20) Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah. (21) Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu”.

 

Ini kelihatannya menunjukkan bahwa pada abad pertama itu ada banyak budak yang bertobat / percaya kepada Kristus. Bahwa mereka bertobat, pasti menunjukkan bahwa mereka diinjili oleh orang-orang kristen. Jadi, orang Kristen pada saat itu juga tidak merasa diri terlalu tinggi untuk memberitakan Injil kepada seorang budak.

Ini merupakan hal yang harus kita tiru. Memang jaman sekarang tidak ada lagi budak, tetapi ada orang-orang rendahan, miskin, tidak terpelajar, dan sebagainya. Apakah dalam memberitakan Injil saudara hanya mau menjangkau orang kaya, berkedudukan tinggi, populer, tetapi tidak mau menjangkau orang-orang rendahan? Kristus juga mati untuk orang kelas bawah, dan karena itu kita juga harus memberitakan Injil kepada mereka!

 

4.   Calvin menganggap sebutan ‘anakku’ ini sebagai suatu perendahan yang luar biasa, karena ia menggunakan sebutan itu terhadap seorang budak, seorang pelarian, dan seorang pencuri!

 

c)   Kalau tadi dalam ay 5 Paulus telah memuji kasih Filemon terhadap orang-orang kudus, maka sekarang dengan mengatakan bahwa Onesimus telah bertobat, secara implicit ia menghendaki supaya Filemon yang mengarahkan kasihnya kepada Onesimus. Bdk. ay 16 - sebagai saudara yang kekasih.

 

4)   dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku (ay 11).

 

a)   Nama Onesimus ini artinya ‘berguna / bermanfaat’.

Perhatikan kata-kata Paulus dalam ay 10b-11 - Onesimus - dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.

 

Adam Clarke: “ONESIMUS, ... ‘Useful’ or ‘profitable’ ... The import of this name led the apostle to play upon the word thus: I beseech thee for my son Onesimus - which in time past was to thee UNPROFITABLE, but now PROFITABLE to thee and me” (= Onesimus, ... ‘Berguna’ atau ‘bermanfaat’ ... Makna dari nama ini memimpin sang rasul untuk bermain kata sebagai berikut: Aku memohon kepadamu untuk anakku Onesimus - yang pada masa lalu TIDAK BERMANFAAT bagimu, tetapi sekarang BERMANFAAT bagiku dan bagiku).

 

Jadi, Onesimus yang dulunya adalah orang yang tidak berguna, setelah pertobatannya menjadi orang yang berguna!

 

Matthew Henry: “Unsanctified persons are unprofitable persons” (= Orang-orang yang tidak dikuduskan adalah orang-orang yang tidak berguna).

 

Memang, tanpa pertobatan / tindakan datang dan percaya kepada Kristus, semua orang adalah tidak berguna, tak peduli dunia begitu menyanjung mereka!

 

Barclay mengatakan bahwa dalam surat dari Ignatius, ia menyebutkan bahwa Onesimus adalah bishop / uskup di kota Efesus. Kalau ini memang adalah Onesimus yang sama dengan yang ada di surat Filemon ini, maka ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Budak / pencuri ini akhirnya menjadi seorang uskup di kota Efesus!

Jangan meremehkan siapapun dalam pelayanan. Orang yang tadinya kelihatannya tidak menjanjikan masa depan apa-apa, ternyata bisa menjadi sangat berguna!

 

Juga terapkan hal ini bagi diri saudara sendiri! Apakah saudara berguna bagi Tuhan dan sesama / gereja? Apakah saudara berusaha menjadi orang yang berguna? Kalau saudara tidak menggunakan talenta saudara bagi kemuliaan Tuhan, saudara adalah orang yang tidak berguna.

 

Bdk. Mat 25:30 - “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.’”.

 

Bdk. Mat 12:30 - “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan”.

 

Dari ayat ini bisa disimpulkan bahwa orang Kristen yang tidak berguna, sebetulnya bukan hanya tidak berguna, tetapi bahkan merugikan!

 

b)   Ini menunjukkan bahwa dengan menjadi orang Kristen, seseorang harus mengalami kemajuan dalam kebergunaan! Orang Kristen yang tidak melayani, jelas tidak bisa mengalami kemajuan dalam kebergunaan!

 

Bandingkan dengan:

·        Mat 3:7-10 - “(7) Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: ‘Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? (8) Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. (9) Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! (10) Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api”.

·        Luk 13:6-9 - “(6) Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: ‘Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. (7) Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! (8) Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, (9) mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!’”.

 

 -o0o-

 


e-mail us at [email protected]