Khotbah Eksposisi

Filemon 4-7

Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

Ucapan syukur dan doa Paulus.

Ay 4-7: (4) Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku, (5) karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus. (6) Dan aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus. (7) Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku.

 

1)   Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku (ay 4).

 

a)   Terjemahan bagian ini.

Dalam bahasa Yunaninya, kata-kata ‘setiap kali’ / ‘always’ bisa dihubungkan dengan ‘mengucap syukur’ atau dengan ‘mengingat engkau dalam doaku’. Jadi, kalimat ini bisa mempunyai 2 terjemahan:

 

1.   ‘Aku selalu mengucap syukur kepada Allahku, pada waktu aku mengingat engkau dalam doaku’. Ini seperti NIV.

NIV: I always thank my God as I remember you in my prayers (= Aku selalu mengucap syukur kepada Allahku pada waktu aku mengingat engkau dalam doa-doaku).

 

2.   ‘Aku mengucap syukur kepada Allahku tentang engkau dan selalu mengingat engkau dalam doaku’. Ini seperti KJV dan Kitab Suci Indonesia.

KJV: ‘I thank my God, making mention of thee always in my prayers’ (= Aku mengucap syukur kepada Allahku, selalu menyebutmu dalam doa-doaku).

 

Calvin memilih terjemahan yang pertama.

 

b)   Paulus berdoa untuk hal untuk mana ia mengucap syukur.

 

Calvin: “It deserves attention, that he at the same time prays for that very thing for which he ‘give thanks.’ Even the most perfect, so long as they live in the world, never have so good ground for congratulation as not to need prayers, that God may grant to them, not only to persevere till the end, but likewise to make progress from day to day” (= Perlu mendapatkan perhatian, bahwa ia pada saat yang sama berdoa untuk hal untuk mana ia ‘mengucap syukur’. Bahkan orang yang paling sempurna, selama mereka hidup dalam dunia ini, tidak pernah mempunyai dasar yang begitu baik untuk ucapan selamat sehingga tidak membutuhkan doa-doa, supaya Allah memberikan kepada mereka, bukan hanya untuk bertekun sampai akhir, tetapi juga untuk bisa maju dari hari ke hari) - hal 349.

 

Penerapan: kita mungkin sering menganggap pengucapan syukur sebagai tindakan terakhir. Misalnya kalau kita berdoa untuk suatu hal, dan setelah doa itu terkabul, kita lalu bersyukur, dan lalu berhenti berdoa untuk hal itu. Tetapi Paulus tidak demikian. Ia bersyukur, tetapi terus berdoa untuk hal tersebut.

 

c)   Kita mungkin berdoa untuk orang lain, tetapi apakah kita mengucap syukur untuk orang lain?

Apakah kita melakukan hal ini atau tidak menunjukkan seberapa besar kasih kita untuk orang itu, dan juga seberapa besar kita merasa satu (dalam Kristus) dengan orang itu.

 

d)   Bahwa Paulus mengucap syukur kepada Allah untuk hal-hal yang baik yang ada dalam diri Filemon (bdk ay 5), menunjukkan bahwa hal-hal baik itu berasal dari Allah.

 

Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

·        Hos 14:9 - “Efraim, apakah lagi sangkut pautKu dengan berhala-berhala? Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau! Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari padaKu engkau mendapat buah.

Catatan: dalam Kitab Suci Inggris ayat ini ada dalam Hos 14:8.

·        Yoh 15:4-5 - “(4) Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (5) Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

·        Kis 18:27 - “Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya.

·        1Kor 15:10 - “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku”.

 

Penerapan: kalau saudara selalu menyadari bahwa semua hal baik yang ada dalam diri saudara berasal dari Allah, maka saudara tidak akan pernah menjadi orang yang sombong, tetapi saudara akan menjadi orang yang selalu mengucap syukur.

Bdk. 1Kor 4:7 - “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”.

 

2)   karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus (ay 5).

 

Bandingkan dengan:

 

a)   ‘aku mendengar’.

 

Dari mana Paulus mendengar tentang Filemon? Rupanya dari sedikitnya 2 orang:

 

1.   Epafras, yang rupanya merupakan pendiri dan juga pendeta / pemimpin rohani dari gereja Kolose (Kol 1:7-8  4:12,13), yang pada saat itu kelihatannya dipenjara bersama dengan Paulus (Filemon 23).

 

Kol 1:7-8 - “(7) Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia. (8) Dialah juga yang telah menyatakan kepada kami kasihmu dalam Roh”.

 

Kol 4:12-13 - “(12) Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah. (13) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang dia, bahwa ia sangat bersusah payah untuk kamu dan untuk mereka yang di Laodikia dan Hierapolis”.

 

Filemon 23 - “Salam kepadamu dari Epafras, temanku sepenjara karena Kristus Yesus”.

 

Catatan: William Hendriksen mengatakan ada orang-orang yang berpendapat bahwa Pauluslah pendiri gereja Kolose, tetapi ia sendiri tidak setuju dengan pandangan ini. Menurut dia, Epafraslah pendiri gereja Kolose (Introduction to Colossians and Philemon, hal 15).

 

2.         Dari Onesimus sendiri.

Bahwa Onesimus lari dari Filemon jelas karena ada ketidak-senangan dalam dirinya terhadap Filemon, tetapi William Hendriksen menganggap bahwa pertobatan Onesimus pasti membuat pemikirannya tentang Filemon berubah, sehingga bisa saja ia juga memberitahu Paulus tentang kebaikan Filemon.

 

b)   ‘Iman’ dan ‘kasih’.

Iman kepada Kristus dan kasih kepada sesama saudara seiman merupakan 2 hal yang terpenting dalam kerohanian kita. Karena mendengar tentang 2 hal yang baik dalam diri Filemon inilah maka Paulus selalu mengucap syukur pada waktu ia berdoa untuk Filemon.

Jadi, kesalehan Filemon yang didengar oleh Paulus, menyebabkan Paulus selalu bersukacita / mengucap syukur.

 

Renungkan: Kira-kira kalau orang mendengar tentang saudara, apakah mereka bersyukur kepada Allah atau bersedih hati?

 

c)   Iman dikatakan ‘kepada Tuhan Yesus’ karena iman kita memang khususnya memandang kepada Kristus, dan tidak ada jalan lain selain melalui Dia melalui mana Allah bisa dikenal. Juga di luar Dia tidak ada berkat yang bisa kita temukan.

 

d)   ‘Kasih kepada semua orang kudus tidak berarti bahwa kita tidak harus mengasihi orang-orang non kristen. Tetapi memang kasih kepada orang percaya harus lebih diutamakan.

 

Bdk. Gal 6:10 - “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman”.

 

e)   Posisi ‘iman’ dan ‘kasih’ terbalik, karena iman seharusnya mendahului kasih. Juga obyek dari iman dan kasih itu dibalik. Tetapi hal kedua ini tidak terlihat dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia karena Kitab Suci Indonesia tidak menterjemahkan secara hurufiah. Karena itu, perhatikan terjemahan KJV di bawah ini.

KJV: ‘Hearing of thy love and faith, which thou hast toward the Lord Jesus, and toward all saints’ (= Mendengar tentang kasih dan imanmu, yang engkau miliki kepada Tuhan Yesus, dan kepada semua orang kudus).

Kata ‘kasih’ mendahului ‘iman’, tetapi pada waktu menyebutkan obyeknya, kata-kata ‘kepada Tuhan Yesus’ mendahului kata-kata ‘kepada semua orang kudus’.

 

Mengapa harus terjadi 2 pembalikan seperti ini?

 

1.   Kasih didahulukan dari iman, mungkin karena Paulus memang ingin menekankan kasih Filemon, dengan tujuan untuk secara tidak langsung mengatakan hal sebagai berikut: kamu sudah banyak menunjukkan kasih kepada sesama saudara seiman, sekarang, tunjukkanlah kasihmu kepada Onesimus. Karena hal ini merupakan penekanan surat Filemon ini, maka Paulus mendahulukan ‘kasih’ dari ‘iman’ (William Hendriksen, hal 213, footnote).

 

2.         Penyilangan obyek dari iman dan kasih dalam ayat ini.

Albert Barnes mengatakan bahwa penyilangan seperti ini bukan merupakan sesuatu yang tidak biasa, dan hal ini juga terjadi misalnya dalam kasus Mat 12:22.

 

Mat 12:22 - “Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu berkata-kata dan melihat.

KJV: ‘Then was brought unto him one possessed with a devil, blind, and dumb: and he healed him, insomuch that the blind and dumb both spake and saw (= Lalu dibawalah kepadaNya seseorang yang kerasukan setan, buta dan bisu: dan Ia menyembuhkannya, sehingga orang buta dan bisu itu berbicara dan melihat).

NIV: Then they brought him a demon-possessed man who was blind and mute, and Jesus healed him, so that he could both talk and see (= Lalu mereka membawa kepadaNya seorang yang kerasukan setan yang buta dan bisu, dan Yesus menyembuhkannya, sehingga ia bisa berbicara dan melihat).

 

3)   Dan aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus (ay 6).

 

Ayat ini, khususnya pada bagian akhirnya, merupakan ayat yang sukar terjemahannya, dan ini menimbulkan terjemahan dan penafsiran yang berbeda-beda.

 

KJV: ‘That the communication of thy faith may become effectual by the acknowledging of every good thing which is in you in Christ Jesus’ (= Supaya pemberitaan imanmu bisa menjadi efektif oleh pengakuan terhadap setiap hal yang baik yang ada dalam kamu dalam Kristus Yesus).

 

NIV: I pray that you may be active in sharing your faith, so that you will have a full understanding of every good thing we have in Christ (= Aku berdoa supaya engkau bisa aktif dalam mensharingkan imanmu, sehingga engkau akan mendapatkan pengertian penuh tentang setiap hal yang baik yang kita miliki dalam Kristus).

 

Mungkin terjemahan NIV inilah yang paling baik.

 

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘persekutuan’ dalam Kitab Suci Indonesia adalah KOINONIA. Sekalipun kata Yunani ini memang bisa diartikan seperti itu, tetapi juga bisa diartikan ‘pemberitaan’ / ‘pensharingan’.

 

Calvin: “What blessing then did he ask for Philemon? That his faith, exercising itself by good works, might be proved to be true, and not unprofitable. He calls it ‘the communication of faith,’ because it does not remain inactive and unconcealed within, but is manifested to men by actual effects. Although faith has a hidden residence in the heart, yet it communicates itself to men by good works” (= Berkat apa yang ia minta untuk Filemon? Supaya imannya, yang menyatakan dirinya sendiri oleh perbuatan baik, bisa terbukti kebenarannya, dan berguna. Ia menyebutnya ‘pemberitaan / pensharingan iman’, karena itu tidak tetap pasif dan tersembunyi di dalam, tetapi dimanifestasikan kepada orang-orang oleh hasil / pengaruh yang sungguh-sungguh. Sekalipun iman mempunyai tempat tinggal yang tersembunyi dalam hati, tetapi iman itu mensharingkan dirinya sendiri kepada orang-orang oleh perbuatan baik) - hal 350-351.

 

Barnes’ Notes: “‘That the communication of thy faith.’ That is, this was a subject of prayer on the part of the apostle, that the ‘communication of his faith’ might receive from all the proper acknowledgment of the good which he did in the Christian cause. The phrase translated ‘communication of thy faith,’ means the making of thy faith common to others; that is, enabling others to partake of the fruits of it, to wit, by good deeds” (= ‘Supaya pemberitaan imanmu’. Artinya, ini merupakan subyek doa dari sang rasul, supaya ‘pemberitaan imannya’ bisa menerima dari semua orang pengakuan tentang apa yang baik yang ia lakukan dalam perkara Kristen. Ungkapan yang diterjemahkan ‘pemberitaan imanmu’ berarti tindakan membuat imanmu umum bagi orang-orang lain; yaitu, memampukan orang-orang lain ikut ambil bagian dari buah-buah iman itu, yaitu, oleh perbuatan-perbuatan baik).

 

Barnes’ Notes: “Calvin has well expressed the sense of this passage. ‘It is to be observed that the apostle here does not proceed in the commendation of Philemon, but rather expresses what he desires for him from the Lord. These words are connected with those in which he says that he remembered him in his prayers. What, therefore, did he desire for Philemon? That his faith, expressing itself by good fruits, might be shown to be true and not vain. For he calls that the communication of his faith when it does not remain inoperative within, but bears itself forth to benefit men by its proper effects. For although faith has its proper seat in the heart, yet it communicates itself to men by good works.’ The meaning is, that he desired that Philemon would so make common the proper fruits of faith by his good deeds toward others, that all might acknowledge it to be genuine and efficacious (= Calvin telah menyatakan dengan baik arti dari text ini. ‘Harus diperhatikan bahwa sang rasul di sini tidak meneruskan pujian terhadap Filemon, tetapi menyatakan apa yang ia inginkan baginya dari Tuhan. Kata-kata ini dihubungkan dengan kata-kata dalam mana ia mengatakan bahwa ia mengingatnya dalam doa-doanya. Karena itu, apa yang ia inginkan untuk Filemon? Supaya imannya, yang menyatakan dirinya sendiri oleh buah-buah yang baik, bisa ditunjukkan benar dan tidak sia-sia. Karena ia menyebutkan supaya pemberitaan imannya pada waktu iman itu tidak tinggal diam / tidak bekerja di dalam, tetapi berbuah bagi keuntungan manusia oleh hasil-hasilnya yang benar. Karena sekalipun iman mempunyai kedudukan yang benar di hati, tetapi iman itu memberitakan dirinya sendiri kepada manusia oleh perbuatan-perbuatan baik’. Artinya, bahwa ia menginginkan bahwa Filemon akan membuat umum buah-buah yang benar dari iman oleh perbuatan-perbuatannya yang baik terhadap orang-orang lain, sehingga semua orang bisa mengakuinya sebagai iman yang asli dan membuahkan hasil yang semestinya).

 

Barnes’ Notes: “‘May become effectual.’ Greek, ‘May be energetic’ (energees); may become operative, active, effective” [= ‘Bisa menjadi efektif’. Yunani, ‘Bisa menjadi energik’ (ENERGEES); bisa menjadi bekerja, aktif, berhasil].

 

Vincent: “His liberality and love will result in perfect knowledge of God’s good gifts. ... He that gives for Christ’s sake becomes enriched in the knowledge of Christ” (= Kedermawanan dan kasihnya akan menghasilkan pengenalan yang sempurna tentang pemberian-pemberian yang baik dari Allah. ... Ia yang memberi demi Kristus menjadi diperkaya dalam pengenalan terhadap Kristus).

 

Dari sini terlihat bahwa Filemon adalah orang kaya yang tidak pelit, baik bagi Tuhan maupun bagi sesama saudara seiman. Ia banyak menggunakan kekayaannya untuk menolong orang lain. Dan ini disebut oleh Paulus sebagai pemberitaan / pensharingan imannya.

 

Catatan: kita harus sangat berhati-hati dengan bagian ini. Ini sama sekali tidak berarti bahwa orang Kristen boleh melakukan ‘pemberitaan iman’ hanya dengan melakukan perbuatan baik! Perbuatan baik memang penting tetapi itu tidak bisa menggantikan pemberitaan Injil!

 

Bdk. Ro 10:13-14,17 - “(13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. (14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya? ... (17) Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”.

 

Kalau Paulus menginginkan supaya Filemon memberitakan imannya melalui perbuatan-perbuatan baik, pasti secara implicit ia memaksudkan supaya Filemon juga melakukan hal ini dalam urusan dengan Onesimus.

 

4)   Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku (ay 7).

 

Barnes’ Notes: “The word here rendered ‘joy’ (charin), properly means ‘grace.’ A large number of manuscripts, however, instead of this word, have Charan, ‘joy.’” [= Kata yang di sini diterjemahkan sukacita / kegembiraan (KHARIN), sebetulnya berarti ‘kasih karunia’. Tetapi sejumlah besar manuscripts bukannya mempunyai kata ini, tetapi kata KHARAN, ‘sukacita’].

 

Kata ‘kauhiburkan’ dalam KJV diterjemahkan ‘refreshed’, dan kata Yunaninya juga digunakan dalam Mat 11:28-29 - “(28) Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (29) Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

 

William Hendriksen: “it indicates ‘rested,’ and thus ‘revived,’ having obtained fresh courage and vigour” (= kata ini menunjuk pada tindakan beristirahat sehingga disegarkan kembali, setelah mendapatkan keberanian dan semangat yang segar / baru) - hal 7 (footnote).

 

Kelihatannya Filemon melakukan sesuatu untuk orang-orang lain sehingga menghiburkan / menyegarkan mereka, dan ini menyebabkan Paulus merasa sukacita.

Calvin mengatakan bahwa ini kasih yang luar biasa, karena Paulus merasa sukacita karena sesuatu yang diterima oleh orang-orang lain.

 

Bdk. 1Kor 12:26 - “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita”.

 

William Hendriksen mengatakan bahwa kata-kata ay 7 ini secara implicit juga bermaksud sebagai berikut: kalau kamu telah menyegarkan orang-orang lain, maka sekarang segarkanlah Onesimus.

 

-o0o-


e-mail us at [email protected]