Seminar
Pembahasan ajaran
Pdt. Erastus Sabdono
(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Rabu, tanggal 10 April 2019, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Corpus Delicti (14)
John Owen (tentang Ibr 5:7): “To be ‘heard’ in Scripture signifies two things: - 1. To be accepted in our request, though the thing requested be not granted unto us. ‘God will hear me,’ is as much as, ‘God will accept of me, is pleased with my supplication,’ Psalm 55:17, 22:21. 2. To be answered in our request. To be heard, is to be delivered. So is this expressed, Psalm 22:24. In the first way there is no doubt but that the Father always heard the Son, John 11:42, - always in all things accepted him, and was well pleased in him; but our inquiry is here, how far the Lord Christ was heard in the latter way, so heard as to be delivered from what he prayed against.” [= ‘Didengar’ dalam Kitab Suci berarti dua hal: - 1. Diterima dalam permohonan kita, sekalipun hal yang dimohon tidak dikabulkan bagi kita. ‘Allah akan mendengar aku’, adalah sama seperti, ‘Allah akan menerima aku, dan berkenan dengan permohonanku’, Maz 55:18 22:22. 2. Dijawab dalam permohonan kita. Didengar, artinya dibebaskan. Demikianlah ini dinyatakan, Maz 22:25. Dalam cara yang pertama di sana tak ada keraguan bahwa Bapa selalu mendengar Anak, Yoh 11:42, - selalu dalam segala hal menerima Dia, dan berkenan kepadaNya; tetapi pertanyaan kita di sini, berapa jauh Tuhan Kristus didengar dalam cara yang belakangan, begitu didengar sehingga dibebaskan dari apa yang Ia tentang dalam doaNya.] - ‘Hebrews’, vol 4, hal 508-509.
Maz 55:18 - “Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku.”.
KJV: ‘will I pray, and cry aloud’ [= aku akan berdoa, dan berteriak / menangis dengan keras].
Maz 22:22 - “Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng. Engkau telah menjawab aku!”.
Maz 22:25 - “Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajahNya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepadaNya.”.
Yoh 11:42 - “Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.’”.
John Owen: “Concerning this observe, that the prayers of Christ in this matter were of two sorts: - 1. Hypothetical or conditional; such was that prayer for the passing of the cup from him, Luke 22:42, ‘Father, if thou wilt, remove this cup from me.’ And this prayer was nothing but what was absolutely necessary unto the verity of human nature in that state and condition. Christ could not have been a man and not have had an extreme aversation to the things that were coming upon him. Nor had it been otherwise with him, could he properly have been said to suffer; for nothing is suffering, nor can be penal unto us, but what is grievous unto our nature, and what it is abhorrent of. This acting of the inclination of nature, both in his mind, will, and affections, which in him were purely holy, our Savior expresseth in that conditional prayer. And in this prayer he was thus answered, - his mind was fortified against the dread and terror of nature, so as to come unto a perfect composure in the will of God: ‘Nevertheless, not my will, but thine, be done.’ He was heard herein so far as he desired to be heard; for although he could not but desire deliverance from the whole, as he was a man, yet he desired it not absolutely, as he was wholly subjected to the will of God. 2. Absolute. The chief and principal supplications which he offered up to him who was able to save him from death were absolute; and in them he was absolutely heard and delivered. For upon the presentation of death unto him, as attended with the wrath and curse of God, he had deep and dreadful apprehensions of it; and how unable the human nature was to undergo it, and prevail against it, if not mightily supported and carried through by the power of God. In this condition it was part of his obedience, it was his duty, to pray that he might be delivered from the absolute prevalency of it, that he might not be cast in his trial, that he might not be confounded nor condemned. This he hoped, trusted, and believed; and therefore prayed absolutely for it, Isaiah 50:7, 8. And herein he was heard absolutely; for so it is said, ‘He was heard ἀπὸ τῆς εὐλαβείας.’” [= Berkenaan dengan ini perhatikan, bahwa doa-doa Kristus dalam persoalan ini terdiri dari dua jenis: - 1. Bersyarat; seperti doa itu untuk lewatnya cawan dari Dia, Luk 22:42, ‘Bapa, jikalau Engkau mau, singkirkan cawan ini dari padaKu’. Dan doa ini bukan lain kecuali apa yang secara mutlak perlu bagi kebenaran dari hakekat manusia dalam keadaan dan kondisi itu. Kristus tidak bisa adalah seorang manusia dan tidak mempunyai ketidak-senangan yang extrim pada hal-hal yang sedang mendatangi Dia. Juga seandainya terjadi yang sebaliknya dengan Dia, Ia tidak bisa secara benar dikatakan menderita; karena tak ada yang merupakan penderitaan, juga tidak bisa berhubungan dengan hukuman bagi kita, kecuali itu merupakan sesuatu yang menyedihkan bagi hakekat / keadaan alamiah kita, dan apa yang menjijikkan bagi kita. Tindakan dari kecondongan dari hakekat ini, baik dalam pikiran, kehendak dan perasaan, yang dalam Dia adalah kudus / suci sepenuhnya, Juruselamat kita menyatakannya dalam doa bersyarat itu. Dan dalam doa ini Ia dijawab dengan cara ini, - pikiranNya dibentengi terhadap rasa takut dari hakekat / keadaan alamiah, sehingga sampai pada suatu ketenangan pikiran yang sempurna dalam kehendak Allah: ‘Tetapi bukan kehendakKu, tetapi kehendakMu, jadilah’. Ia didengarkan dalam hal ini sejauh yang Ia inginkan untuk didengar; karena sekalipun Ia tidak bisa tidak menginginkan pembebasan dari seluruhnya, karena Ia adalah seorang manusia, tetapi Ia tidak menginginkan hal itu secara mutlak, karena Ia tunduk sepenuhnya pada kehendak Allah. 2. Mutlak. Permohonan-permohonan utama yang Ia naikkan kepada Dia, yang mampu menyelamatkan Dia dari maut bersifat mutlak; dan dalam hal-hal ini Ia didengarkan dan dibebaskan secara mutlak. Karena tentang pemberian / pernyataan tentang kematian kepadaNya, karena disertai dengan murka dan kutuk dari Allah, Ia mempunyai rasa takut yang mendalam dan menakutkan tentangnya; dan betapa tidak mampu hakekat manusia untuk mengalaminya, dan menang terhadapnya, jika tidak disokong dan dibawa melaluinya secara kuat oleh kuasa Allah. Dalam kondisi ini itu merupakan bagian dari ketaatanNya, itu merupakan kewajibanNya, untuk berdoa supaya Ia bisa dibebaskan dari penerimaan mutlak darinya, supaya Ia bisa tidak dibuang dalam pencobaan / ujianNya, supaya Ia tidak dipermalukan atau dikecam. Ini Ia harapkan, percayai; dan karena itu berdoa secara mutlak untuknya, Yes 50:7-8. Dan dalam hal ini Ia didengar secara mutlak; karena demikian dikatakan ‘Ia didengarkan APO TES EULABEIAS {= in that He feared / dalam hal yang Ia takuti}’.] - ‘Hebrews’, vol 4, hal 509.
Luk 22:42 - “‘Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.’”.
Yes 50:7-8 - “(7) Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu. (8) Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku!”.
Catatan: saya tidak tahu apakah text ini memang berbicara tentang Kristus, tetapi itu memang memungkinkan.
John Owen: “Ἀπὸ τῆς εὐλαβείας. The word here used is in a singular construction of speech, and is itself of various significations. Sometimes it is used for a ‘religious reverence,’ but such as hath fear joined with it; that is, the fear of evil. Frequently it signifies ‘fear’ itself, but such a fear as is accompanied with a reverential care and holy circumspection. The word itself is but once more used in the New Testament, and that by our apostle, Heb. 12:28, where we well render it ‘godly fear.’ Εὐλαβής, the adjective, is used three times, Luke 2:25, Acts 2:5, 8:2; everywhere denoting a religious fear. Heb. 11:7, we render the verb, εὐλαβηθείς, by ‘moved with fear;’ that is, a reverence of God mixed with a dreadful apprehension of an approaching judgment. And the use of the preposition ἀπό added to εἰσακουσθεἴς is also singular, - ‘auditus ex metu,’ ‘heard from his fear.’ Therefore is this passage variously interpreted by all sorts of expositors. Some read it, ‘He was heard because of his reverence.’ And in the exposition hereof they are again divided. Some take ‘reverence’ actively, for the reverence he had of God; that is, his reverential obedience: ‘He was heard because of his reverence,’ or reverential obedience unto God. Some would have the reverence intended to relate to God, the reverential respect that God had unto him; God heard him, from that holy respect and regard which he had of him. But these things are fond, and suit not the design of the place; neither the coherence of the words, nor their construction, nor their signification, nor the scope of the apostle, will bear this sense. Others render it, ‘pro metu;’ ‘from fear,’ or ‘out of fear.’ And this also is two ways interpreted: - 1. Because ‘heard from fear’ is somewhat a harsh expression, they explain ‘auditus’ by ‘liberatus,’ - ‘delivered from fear;’ and this is not improper. ... In this sense fear internal and subjective is intended. God relieved him against his fear, removing it and taking it away, by strengthening and comforting of him. Others by ‘fear’ intend the thing feared; which sense our translators follow, and are therefore plentifully reviled and railed at by the Rhemists: ‘He was heard;’ that is, delivered from the things which he feared as coming upon him. And for the vindication of this sense and exposition, there is so much already offered by many learned expositors as that I see not what can be added thereunto, and I shall not unnecessarily enlarge myself.” [= APO TES EULABEIAS. Kata yang digunakan di sini ada dalam suatu konstruksi pembicaraan tunggal, dan dalam dirinya sendiri mempunyai bermacam-macam arti. Kadang-kadang itu digunakan untuk suatu ‘rasa hormat agamawi’, tetapi sedemikian rupa sehingga mempunyai rasa takut digabungkan dengannya; yaitu, rasa takut terhadap kejahatan. Seringkali itu berarti ‘rasa takut’ itu sendiri, tetapi suatu rasa takut sedemikian rupa yang disertai dengan suatu perhatian yang bersifat hormat dan kehati-hatian yang kudus. Kata itu sendiri hanya digunakan satu kali lagi dalam Perjanjian Baru, dan itu oleh rasul kita, Ibr 12:28, dimana kita menterjemahkannya dengan baik ‘rasa takut yang saleh’. EULABES, kata sifatnya, digunakan tiga kali, Luk 2:25, Kis 2:5, 8:2; di setiap tempat menunjukkan suatu rasa takut agamawi. Ibr 11:7, kita menterjemahkan kata kerja, EULABETHEIS, dengan ‘digerakkan dengan / oleh rasa takut’; yaitu, suatu rasa hormat terhadap Allah bercampur dengan suatu pengertian yang menakutkan tentang suatu penghakiman yang mendekat. Dan penggunaan kata depan APO ditambahkan pada EISAKOUSTHEIS juga adalah bentuk tunggal, - ‘auditus ex metu’, ‘didengar dari rasa takutNya’. Karena itu text ini ditafsirkan secara bermacam-macam oleh semua jenis ahli exposisi / penafsir. Sebagian membacanya, ‘Ia didengarkan karena rasa takutNya’. Dan dalam exposisi tentangnya mereka terbagi-bagi lagi. Sebagian mengartikan ‘rasa takut / hormat’ secara aktif, untuk rasa takut / hormat yang Ia miliki terhadap Allah; yaitu, ketaatanNya yang bersifat takut / hormat kepada Allah. Sebagian menghendaki rasa takut / hormat itu dimaksudkan berhubungan dengan Allah, rasa hormat yang bersifat takut / hormat yang Allah punyai terhadap Dia; Allah mendengarkanNya, dari rasa hormat yang kudus yang Ia miliki terhadap / tentangNya. Tetapi hal-hal ini adalah naif / bodoh, dan tidak sesuai dengan rancangan dari tempatnya; baik hubungan logis dari kata-katanya, atau konstruksinya, atau arti kata-kata itu, atau jangkauan pengertian sang rasul, tidak membawa / mendukung arti ini. Orang-orang lain menterjemahkannya, ‘PROMETU’; ‘dari rasa takut’, atau ‘keluar dari rasa takut’. Dan ini juga ditafsirkan dengan dua cara: - 1. Karena ‘didengar dari rasa takut’ agak merupakan suatu ungkapan yang tidak menyenangkan, mereka menjelaskan ‘AUDITUS’ dengan ‘LIBERATUS’, - dibebaskan dari rasa takut’; dan ini bukannya tidak benar / tepat. ... Dalam arti ini rasa takut di dalam dan bersifat subyektif yang dimaksudkan. Allah membebaskan Dia terhadap rasa takutNya, menyingkirkannya, dan mengambilnya, dengan menguatkan dan menghiburNya. Orang-orang lain dengan ‘rasa takut’ memaksudkan hal yang ditakuti; arti mana yang diikuti oleh penterjemah kita, dan karena itu diserang dan dikritik secara berlimpah-limpah oleh penterjemah-penterjemah dari suatu jenis Perjanjian Baru (Perancis?): ‘Ia didengarkan’; yaitu, dibebaskan dari hal-hal yang Ia takuti yang mendatangiNya. Dan untuk pembelaan dari arti dan exposisi ini, disana sudah ada begitu banyak yang diberikan oleh banyak ahli-ahli exposisi yang terpelajar sehingga saya tidak melihat apa yang bisa ditambahkan padanya, dan saya tidak akan secara tak perlu memperluas diri saya sendiri.] - ‘Hebrews’, vol 4, hal 509-510.
==============Lanjutan kata-kata ES=================
Dalam hal tersebut kita menemukan kehidupan Tuhan Yesus diarahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tuhan Yesus sebelumnya: “Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes [4:34])
Filosofi ini sangat bertentangan dari filosofi Lucifer. Filosofi Lucifer adalah: “Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!” (Yesaya [14:14])
Tampak dua pribadi yang sangat kontras. Orang percaya ditantang: hendak memilih yang mana? Mau ikut siapa? Setiap orang harus menentukan sikap, tidak bisa menghindarinya.
Kalau Tuhan Yesus tidak saleh, Ia akan tetap ada di dalam kubur. Jadi kebangkitan-Nya adalah prestasi-Nya sendiri yang menyediakan diri untuk hidup dalam kesalehan. Kebangkitan-Nya merupakan bukti bahwa Ia “lulus”, taat kepada Bapa sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Bapa tidak memberikan kemudahan-kemudahan agar Ia dapat menang atau bisa hidup saleh dengan mudah.
Bicara mengenai kuasa kebangkitan Tuhan (Fil. 3:9-10), hendaknya orang percaya tidak hanya menghubungkannya dengan kuasa spektakuler Allah yang bersifat mistis atau adikodrati. Bapa membangkitkan Tuhan Yesus bukan karena kuasa Allah yang spektakuler adikodrati yang mampu membangkitkan tubuh dari kematian. Bapa membangkitkan Tuhan Yesus karena Ia telah membuktikan ketaatan-Nya kepada Bapa. Jadi, kuasa kebangkitan Tuhan Yesus terletak pada ketaatan-Nya kepada Bapa, bukan sekadar ketaatan melakukan hukum Taurat, tetapi ketaatan melakukan apa yang diingini oleh Bapa, atau menegakkan hukum yang ada dalam diri Allah.
=================================================
Tanggapan Budi Asali:
Bagian ini tak perlu saya tanggapi lagi, karena tanggapan yang lalu sudah cukup.
==============Lanjutan kata-kata ES=================
Berkualitas “corpus delicti”
Kekristenan adalah proses menjadi manusia yang berkualitas corpus delicti, artinya berkualitas seperti Kristus yang memiliki penghormatan secara pantas kepada Bapa di Sorga. Sehingga Bapa bukan hanya menunjuk kepada Tuhan Yesus sebagai “Anak-Ku yang Kukasihi yang kepadanya Aku berkenan” (Mat [3:17]), tetapi juga orang percaya dapat dinyatakan sebagai anak yang memperoleh perkenanan-Nya.
Kalau Tuhan Yesus bisa mencapai kesempurnaan dalam ketaatan-Nya kepada Bapa, maka orang percaya pun dapat mencapai kesempurnaan seperti Dia oleh pertolongan Roh Kudus. Kalau Tuhan Yesus dapat menjadi corpus delicti dalam mengalahkan Iblis, orang percaya juga dapat menjadi corpus delicti oleh pertolongan Roh Kudus.
===============================================
Tanggapan Budi Asali:
1) Berapa kali Tuhan harus membuktikan kesalahan Iblis? Kalau Yesus sudah hidup suci, dan menurut ES Yesus sudah menjadi Corpus Delicti, lalu untuk apa orang-orang Kristen harus menjadi Corpus Delicti lagi???
2) Kita manusia bisa diperkenan Bapa karena iman, atau karena ketaatan, atau karena iman + ketaatan?
3) Kalau kita manusia bisa menjadi Corpus Delicti karena pertolongan Roh Kudus, mengapa itu tidak dianggap tidak fair? Mengapa untuk Yesus, ES beranggapan Ia tidak boleh dibantu? Jelas ini lagi-lagi merupakan suatu ketidak-konsistenan!
4) Untuk menjadi Corpus Delicti, kita harus sesuci apa? Sempurna seperti Kristus? Ini berbau ajaran Perfectionisme, dan jelas salah / ngawur.
Kita memang diperintahkan untuk sempurna (Mat 5:48), tetapi itu tidak berarti bahwa ada siapapun dari orang-orang Kristen yang bisa mencapai kesempurnaan! Semua perintah, menuntut ketaatan kita, tetapi tidak membuktikan bahwa kita bisa mentaatinya, apalagi secara sempurna!
Tetapi bagaimana dengan text di bawah ini?
1Yoh 3:6-9 - “(6) Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia. (7) Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; (8) barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. (9) Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.”.
Text ini sering dipakai sebagai dasar dari ajaran Perfectionisme ini, yang mempercayai bahwa dalam hidup ini ada orang-orang yang bisa mencapai kesempurnaan, dan hidup suci murni, seperti Kristus hidup.
Ada beberapa jawaban terhadap argumentasi ini:
a) Text ini tidak berbicara tentang beberapa orang, atau orang-orang tertentu, dari kalangan orang-orang Kristen, yang bisa mencapai kesempurnaan. Text ini berbicara tentang semua orang kristen yang sejati! Jadi, kalau text ini diterapkan hanya kepada sebagian kecil orang Kristen, itu sudah merupakan penerapan yang menyalahi text itu sendiri.
b) Kita tidak boleh menafsirkan suatu ayat sehingga bertentangan dengan ayat lain dalam Alkitab. Menafsirkan text di atas sebagai menunjuk pada ajaran Perfectionisme ini, jelas-jelas menentang ayat-ayat di bawah ini.
1Yoh 1:8,10 - “(8) Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. ... (10) Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita.”.
Herschel H. Hobbs (tentang 1Yoh 1:10): “‘Have sinned’ is a perfect tense ... It expresses action in the past which is still going on at the time of speaking, with the assumption that it will continue in the future. The perfect tense is the tense of completeness. It reads, ‘If we say that we have not sinned in the past, do not sin now, and will not sin in the future.’ Whereas in verse 8 the reference is to the principle of sin, in verse 10 it involves acts of sin.” [= ‘Telah berbuat dosa’ merupakan perfect tense ... Itu menyatakan tindakan di masa lampau yang masih terus berlangsung pada saat berbicara, dengan anggapan bahwa itu akan berlanjut di masa yang akan datang. Perfect tense merupakan tense dari kelengkapan / kesempurnaan. Itu artinya: ‘Jika kita berkata bahwa kita tidak berbuat dosa di masa lampau, tidak berbuat dosa sekarang, dan tidak akan berbuat dosa di masa yang akan datang’. Kalau ay 8 berhubungan dengan kwalitet dosa, maka sebaliknya ay 10 menyangkut tindakan berdosa.] - hal 35.
William Barclay: “Any number of people do not really believe that they have sinned and rather resent being called sinners. Their mistake is that they think of sin as the kind of thing which gets into the newspapers.” [= Banyak orang tidak sungguh-sungguh percaya bahwa mereka telah berbuat dosa dan tersinggung / marah pada waktu disebut sebagai orang berdosa. Kesalahan mereka adalah bahwa mereka menganggap dosa sebagai hal-hal yang dimasukkan ke surat kabar.] - hal 33.
Kata ‘dosa’ dalam 1Yoh 1:8,9,10 adalah HAMARTIA, yang arti hurufiahnya adalah ‘a missing of the target’ [= suatu keluputan dari sasaran]. Luputnya sedikit atau banyak, itu tetap namanya dosa. Sasaran seharusnya adalah Kitab Suci. Jadi kalau hidup kita tidak sesuai dengan Kitab Suci, apakah tidak sesuainya sedikit atau banyak, itu tetap adalah dosa.
Orang-orang yang mengatakan dirinya tidak berbuat dosa ini membuat:
1. Allah menjadi pendusta (ay 10).
Mengapa demikian? Karena Allah mengatakan bahwa semua manusia berdosa. Kalau kita mengatakan kita tidak berdosa, maka itu sama dengan mengatakan bahwa Allah adalah pendusta.
2. Firmannya tidak ada dalam kita (ay 10).
Memang hanya orang yang tidak mengerti Kitab Suci yang bisa mengatakan bahwa dirinya tidak berbuat dosa, karena salah satu fungsi Kitab Suci adalah menyadarkan dosa (2Tim 3:16 Ro 3:20b).
Herschel H. Hobbs mengutip kata-kata Vaughan:
“Mark the significance of ‘in us’ (vv. 8,10). Truth may be all around us, near us, and acknowledged, but when we claim sinlessness we show that it has not penetrated our souls.” [= Perhatikan pentingnya kata-kata ‘di dalam kita’ (ay 8,10). Kebenaran bisa ada di sekitar kita, di dekat kita, dan diakui, tetapi pada waktu kita mengclaim ketidak-berdosaan kita menunjukkan bahwa kebenaran itu belum merasuk / merembes ke dalam jiwa kita.] - hal 36.
Perbandingan antara orang-orang yang sadar akan dosanya, dan orang-orang yang menganggap dirinya suci / baik.
Charles Haddon Spurgeon: “Nothing is more deadly than self-righteousness, or more hopeful than contrition.” [= Tidak ada yang lebih mematikan dari pada sikap / anggapan yang membenarkan diri sendiri, atau lebih berpengharapan dari pada perasaan sedih karena kesadaran / kebencian akan dosa.] - ‘Morning and Evening’, September 29, morning.
Ada seseorang yang berkata:
“There is more hope for a self-convicted sinner than there is for a self-conceited saint.” [= Ada lebih banyak harapan untuk orang berdosa yang sadar akan dosanya sendiri dari pada untuk seorang kudus / suci yang menipu dirinya sendiri.] - ‘The Encyclopedia of Religious Quotation’, hal 345.
Dwight L. Moody: “You can always tell when a man is a great way from God - when he is always talking about himself, how good he is.” [= Kamu selalu bisa mengetahui / mengenali pada waktu seseorang jauh dari Allah - pada waktu ia selalu berbicara tentang dirinya sendiri, bagaimana baiknya ia.] - ‘The Encyclopedia of Religious Quotation’, hal 598.
Bdk. Luk 18:9-14 - “(9) Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: (10) ‘Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. (11) Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (13) Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (14) Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.’”.
Baca tulisan-tulisan ES, dan tonton video-videonya di Youtube, dan pikirkan sendiri, ia termasuk yang mana? Orang berdosa yang sadar dosanya, atau orang yang merasa dirinya benar / suci???
c) Semua kata ‘berbuat’ dalam 1Yoh 3:6-9 di atas, ada dalam bentuk present tense, dan ini menunjukkan suatu tindakan terus menerus / bersifat kebiasaan.
1. Ay 6: “Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.”.
Kata ‘berbuat dosa’ ada dalam present tense, dan karena itu harus diartikan ‘berbuat dosa terus menerus’ atau ‘berbuat dosa sebagai kebiasaan’.
NIV: ‘No one who lives in him keeps on sinning. No one who continues to sin has either seen him or known him’ [= Tidak seorangpun yang hidup di dalam Dia terus menerus berbuat dosa. Tidak seorangpun yang terus berbuat dosa telah melihat atau mengenal Dia].
Herschel H. Hobbs: “The verbs for ‘sinning’ are present tenses expressing repeated action in the present time. ... whosoever makes sinning the habit of life has never (past or present) had a vital contact with Christ.” [= Kata-kata kerja untuk ‘berbuat dosa’ ada dalam bentuk present yang menyatakan tindakan yang berulang-ulang pada masa sekarang. ... siapapun yang membuat dosa sebagai kebiasaan dari kehidupan tidak pernah (lampau dan sekarang) mempunyai kontak yang hidup dengan Kristus.] - hal 85.
2. Ay 8: “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.”.
Perhatikan kata-kata “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis”.
a. Kata ‘berbuat’ lagi-lagi merupakan present tense, yang menunjukkan tindakan terus menerus / kebiasaan.
b. Dari ayat ini Calvin mengatakan (hal 211) bahwa tidak ada keadaan di tengah-tengah. Atau seseorang adalah milik Kristus, yaitu kalau ia berbuat kebenaran (ay 7), atau seseorang adalah milik setan, yaitu kalau ia berbuat dosa (ay 8).
3. Ay 9: “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.”.
Lagi-lagi kata ‘berbuat’ (2 x) ada dalam present tense, yang menunjukkan suatu tindakan terus menerus / bersifat kebiasaan!
NIV: ‘No one who is born of God will continue to sin, because God’s seed remains in him; he cannot go on sinning, because he has been born of God’ [= Tidak seorangpun yang dilahirkan dari Allah akan terus berbuat dosa, karena benih Allah tetap di dalam dia; ia tidak dapat terus berbuat dosa, karena ia telah dilahirkan dari Allah].
Herschel H. Hobbs: “In English this reads as though a true believer commits no sin. But again the Greek tense of ‘commit’ has a different shade of meaning. It is the present tense of the verb ‘to do,’ expressing habitual action.” [= Dalam bahasa Inggris ini seakan-akan menunjukkan bahwa seorang percaya yang sejati tidak melakukan dosa. Tetapi lagi-lagi tense bahasa Yunani dari ‘berbuat’ mempunyai bayangan arti yang berbeda. Itu adalah present tense dari kata kerja ‘to do’ / ‘berbuat / melakukan’, yang menyatakan tindakan yang bersifat kebiasaan.] - hal 87-88.
John Stott (Tyndale): “the Christian ‘cannot sin’ ... ‘he is not able to sin’, where ‘to sin’ is a present, not an aorist, infinitive. If the infinitive had been an aorist it would have meant ‘he is not able to commit a sin’; the present infinitive, however, signifies ‘he is not able to sin habitually’.” [= orang kristen ‘tidak dapat berbuat dosa’ ... ‘ia tidak bisa berbuat dosa’, dimana ‘berbuat dosa’ adalah suatu infinitif bentuk present, bukan aorist / lampau. Seandainya infinitif itu merupakan suatu aorist / lampau, maka artinya adalah ‘ia tidak bisa melakukan suatu dosa’; tetapi infinitif bentuk present berarti ‘ia tidak bisa berbuat dosa sebagai kebiasaan’.] - hal 126.
Calvin (tentang 1Yoh 3:9): “all those who dream of a perfection of this kind, sufficiently shew what stupid conscience they must have.” [= semua mereka yang bermimpi tentang suatu kesempurnaan dari jenis ini, menunjukkan secara cukup betapa bodoh hati nurani yang mereka miliki.] - hal 212.
Louis Berkhof: “2. Denial of this imperfection by the Perfectionists. a. The doctrine of perfectionism. Speaking generally, this doctrine is to the effect that religious perfection is attainable in the present life. It is taught in various forms by Pelagians, Roman Catholics or Semi-Pelagians, Arminians, Wesleyans, such mystical sects as the Labadists, the Quietists, the Quakers, and others, some of the Oberlin theologians, such as Mahan and Finney, and Ritschl. These all agree in maintaining that it is possible for believers in this life to attain to a state in which they comply with the requirements of the law ‘under which they now live,’ or under that law ‘as it was adjusted to their present ability and needs,’ and, consequently, to be free from sin. They differ, however: (1) In their view of sin, the Pelagians, in distinction from all the rest, denying the inherent corruption of man. They all agree, however, in externalizing sin. (2) In their conception of the law which believers are now obliged to fulfill, the Arminians, including the Wesleyans, differing from all the rest in holding that this is not the original moral law, but the gospel requirements or the new law of faith and evangelical obedience. The Roman Catholics and the Oberlin theologians maintain that it is the original law, but admit that the demands of this law are adjusted to man’s deteriorated powers and to his present ability. And Ritschl discards the whole idea that man is subject to an externally imposed law. He defends the autonomy of moral conduct, and holds that we are under no law but such as is evolved out of our own moral disposition in the course of activities for the fulfilment of our vocation. (3) In their idea of the sinner’s dependence on the renewing grace of God for the ability to fulfill the law. All, except the Pelagians, admit that he is in some sense dependent on divine grace, in order to the attainment of perfection. It is very significant that all the leading perfectionist theories (with the sole exception of the Pelagian, which denies the inherent corruption of man) deem it necessary to lower the standard of perfection and do not hold man responsible for a great deal that is undoubtedly demanded by the original moral law. And it is equally significant that they feel the necessity of externalizing the idea of sin, when they claim that only conscious wrong-doing can be so considered, and refuse to recognize as sin a great deal that is represented as such in Scripture.” [= 2. Penyangkalan tentang ketidak-sempurnaan ini oleh orang-orang yang menganut ajaran Perfectionisme. a. Doktrin / ajaran dari Perfectionisme. Berbicara secara umum, doktrin / ajaran ini secara umum berarti bahwa kesempurnaan agamawi bisa dicapai dalam hidup sekarang ini. Itu diajarkan dalam bermacam-macam bentuk oleh orang-orang yang menganut Pelagianisme, Roma Katolik atau Semi-Pelagianisme, Arminianisme, Wesleyanisme, sekte-sekte mistik seperti Labadists, Quietists, Quakers, dan yang lain, sebagian dari ahli-ahli theologia Oberlin, seperti Mahan dan Finney, dan Ritschl. Orang-orang ini semua setuju / sepakat dalam mempertahankan bahwa adalah mungkin bagi orang-orang percaya dalam hidup ini untuk mencapai suatu keadaaan dalam mana mereka menyesuaikan dengan / mentaati tuntutan-tuntutan hukum (Taurat) ‘di bawah mana mereka sekarang hidup’, atau di bawah hukum itu ‘sebagaimana itu disesuaikan pada kemampuan dan kebutuhan mereka pada saat ini, dan karena itu / sebagai hasilnya, bebas dari dosa. Tetapi mereka berbeda: (1) Dalam pandangan mereka tentang dosa, pengikut-pengikut Pelagianisme, dalam perbedaan dengan semua sisanya, menyangkal keadaan jahat sebagai pembawaan dari manusia (dosa asal). Tetapi mereka semua setuju / sepakat, dalam melahiriahkan dosa. (2) Dalam pengertian mereka tentang hukum yang orang-orang percaya sekarang wajib penuhi, orang-orang Arminian, termasuk Wesleyans, berbeda dari semua sisanya dalam memegang / mempercayai bahwa ini bukanlah hukum Taurat moral yang asli / orisinil, tetapi tuntutan-tuntutan injil atau hukum yang baru dari iman dan ketaatan injili. Orang-orang Roma Katolik dan ahli-ahli theologia Oberlin mempertahankan bahwa itu adalah hukum Taurat yang orisinil, tetapi mengakui bahwa tuntutan-tuntutan dari hukum Taurat ini disesuaikan dengan kekuatan-kekuatan manusia yang memburuk / berkurang dan dengan kemampuannya pada saat ini. Dan Ritschl membuang seluruh gagasan bahwa manusia berada di bawah suatu hukum yang dipaksakan secara lahiriah. Ia mempertahankan otonomi dari tingkah laku moral, dan memegang / mempercayai bahwa kita tidak berada di bawah hukum apapun kecuali seperti yang berkembang keluar dari kecondongan moral kita sendiri dalam jalan dari aktivitas-aktivitas untuk pemenuhan / penggenapan dari panggilan agamawi kita. (3) Dalam gagasan mereka tentang ketergantungan orang berdosa pada kasih karunia yang memperbaharui dari Allah untuk kemampuan untuk menggenapi hukum. Semua, kecuali penganut-penganut Pelagianisme, mengakui bahwa ia dalam arti tertentu tergantung pada kasih karunia ilahi, untuk bisa mencapai kesempurnaan. Merupakan sesuatu yang sangat menyolok bahwa semua teori-teori Perfectionisme yang utama (dengan satu-satunya perkecualian dari orang-orang yang menganut Pelagianisme, yang menyangkal kejahatan bawaan dari manusia) menganggap perlu untuk menurunkan standard kesempurnaan dan tidak menganggap manusia bertanggung jawab sampai suatu tingkat yang sangat besar yang tak diragukan dituntut oleh hukum Taurat moral yang orisinil. Dan adalah menyolok secara sama bahwa mereka merasa keharusan untuk melahiriahkan gagasan dari dosa, pada waktu mereka mengclaim bahwa hanya tindakan salah yang disadari yang bisa dipertimbangkan, dan menolak untuk mengakui sebagai dosa suatu tingkat yang sangat besar yang digambarkan seperti itu dalam Kitab Suci.] - ‘Systematic Theology’, hal 537-538 (Libronix).
Louis Berkhof: “b. Scriptural proofs adduced for the doctrine of perfectionism. (1) The Bible commands believers to be holy and even to be perfect, 1 Pet. 1:16; Matt. 5:48; Jas. 1:4, and urges them to follow the example of Christ who did no sin, 1 Pet. 2:21 f. Such commands would be unreasonable, if it were not possible to reach sinless perfection. But the Scriptural demand to be holy and perfect holds for the unregenerate as well as for the regenerate, since the law of God demands holiness from the start and has never been revoked. If the command implies that they to whom it comes can live up to the requirement, this must be true of every man. However, only those who teach perfectionism in the Pelagian sense can hold that view. The measure of our ability cannot be inferred from the Scriptural commandments. (2) Holiness and perfection are often ascribed to believers in Scripture, Song of Sol. 4:7; 1 Cor. 2:6; 2 Cor. 5:17; Eph. 5:27; Heb. 5:14; Phil. 4:13; Col. 2:10. When the Bible speaks of believers as holy and perfect, however, this does not necessarily mean that they are without sin, since both words are often used in a different sense, not only in common parlance, but also in the Bible. Persons set aside for the special service of God are called holy in the Bible, irrespective of their moral condition and life. Believers can be and are called holy, because they are objectively holy in Christ, or because they are in principle subjectively sanctified by the Spirit of God. Paul in his Epistles invariably addresses his readers as saints, that is ‘holy ones,’ and then proceeds in several cases to take them to task for their sins. And when believers are described as perfect, this means in some cases merely that they are full-grown, 1 Cor. 2:6; Heb. 5:14, and in others that they are fully equipped for their task, 2 Tim. 3:17. All this certainly does not give countenance to the theory of sin less perfection. (3) There are, it is said, Biblical examples of saints who led perfect lives, such as Noah, Job, and Asa, Gen. 6:9; Job 1:1; 1 Kings 15:14. But, surely, such examples as these do not prove the point for the simple reason that they are no examples of sinless perfection. Even the most notable saints of the Bible are pictured as men who had their failings and who sinned, in some cases very grievously. This is true of Noah, Moses, Job, Abraham, and all the others. It is true that this does not necessarily prove that their lives remained sinful as long as they lived on earth, but it is a striking fact that we are not introduced to a single one who was without sin. The question of Solomon is still pertinent: ‘Who can say, I have made my heart clean, I am pure from my sin?’ Prov. 20:9. Moreover, John says: ‘If we say that we have no sin, we deceive ourselves, and the truth is not in us,’ 1 John 1:8. (4) The apostle John declares explicitly that they who are born of God do not sin, 1 John 3:6, 8, 9; 5:18. But when John says that they who are born of God do not sin, he is contrasting the two states, represented by the old and the new man, as to their essential nature and principle. One of the essential characteristics of the new man is that he does not sin. In view of the fact that John invariably uses the present to express the idea that the one born of God does not sin, it is possible that he desires to express the idea that the child of God does not ‘go on sinning habitually,’ as the devil does, 1 John 3:8. He certainly does not mean to assert that the believer never commits an act of sin, cf. 1 John 1:8–10. Moreover, the Perfectionist cannot very well use these passages to prove his point, since they would prove too much for his purpose. He does not make bold to say that all believers are actually sinless, but only that they can reach a state of sinless perfection. The Johannine passages, however, would prove, on his interpretation, that all believers are without sin. And more than that, they would also prove that believers never fall from the state of grace (for this is sinning); and yet the Perfectionists are the very people who believe that even perfect Christians may fall away.” [= b. Bukti-bukti Kitab Suci yang diajukan untuk doktrin perfectionisme. (1) Alkitab memerintahkan orang-orang percaya untuk menjadi kudus / suci dan bahkan untuk menjadi sempurna, 1Pet 1:16; Mat 5:48; Yak 1:4, dan mendesak mereka untuk mengikuti teladan Kristus yang tidak berbuat dosa, 1Pet 2:21-dst. Perintah-perintah seperti itu akan menjadi tidak masuk akal, seandainya tidak mungkin untuk mencapai kesempurnaan tanpa dosa. Tetapi tuntutan Kitab Suci untuk menjadi kudus / suci dan sempurna mengikat / berlaku bagi orang-orang yang belum lahir baru maupun untuk orang-orang yang sudah lahir baru, karena hukum Allah menuntut kekudusan dari awal dan tidak pernah dibatalkan. Jika perintah itu menunjukkan secara implicit bahwa mereka kepada siapa perintah itu diberikan bisa menggenapi tuntutan itu, ini harus benar untuk setiap orang. Tetapi, hanya mereka yang mengajarkan perfectionisme dalam arti Pelagianisme yang bisa memegang / mempercayai pandangan seperti itu. Ukuran dari kemampuan kita tidak bisa disimpulkan dari perintah-perintah Kitab Suci. (2) Kekudusan dan kesempurnaan sering dianggap sebagai milik orang-orang percaya dalam Kitab Suci, Kid 4:7; 1Kor 2:6; 2Kor 5:17; Ef 5:27; Ibr 5:14; Fil 4:13; Kol 2:10. Tetapi, pada waktu Alkitab berbicara tentang orang-orang percaya sebagai kudus dan sempurna, ini tidak berarti bahwa mereka tanpa dosa, karena kedua kata itu sering digunakan dalam suatu arti yang berbeda, bukan hanya dalam percakapan umum, tetapi juga dalam Alkitab. Orang-orang yang dipisahkan untuk pelayanan khusus bagi Allah disebut kudus dalam Alkitab, tak peduli bagaimana kondisi dan kehidupan moral mereka. Orang-orang percaya bisa menjadi, dan disebut, kudus, karena mereka kudus secara obyektif di dalam Kristus, atau karena mereka dalam prinsipnya dikuduskan secara subyektif oleh Roh Allah. Paulus dalam surat-suratnya menyebut secara tetap para pembacanya sebagai orang-orang kudus, dan lalu melanjutkan dalam beberapa kasus mengecam / mengkritik mereka untuk dosa-dosa mereka. Dan pada waktu orang-orang percaya digambarkan sebagai sempurna, dalam beberapa kasus ini semata-mata berarti bahwa mereka telah dewasa, 1Kor 2:6; Ibr 5:14, dan dalam kasus-kasus lain bahwa mereka diperlengkapi secara penuh untuk tugas mereka, 2Tim 3:17. Semua ini pasti tidak mendukung / menyetujui teori tentang kesempurnaan tanpa dosa. (3) Dikatakan bahwa disana ada, teladan-teladan Alkitabiah tentang orang-orang kudus yang hidup secara sempurna, seperti Nuh, Ayub, dan Asa, Kej 6:9; Ayub 1:1; 1Raja 15:14. Tetapi pasti, teladan-teladan seperti orang-orang ini tidak membuktikan pointnya karena alasan yang sederhana bahwa mereka bukanlah contoh-contoh dari kesempurnaan tanpa dosa. Bahkan orang-orang kudus yang paling menyolok dari Alkitab digambarkan sebagai orang-orang yang mempunyai kegagalan-kegagalan / titik lemah mereka, dan yang berbuat dosa, dalam beberapa kasus secara sangat menyedihkan. Ini benar tentang Nuh, Musa, Ayub, Abraham, dan semua orang-orang lain. Adalah benar bahwa ini tidak harus membuktikan bahwa kehidupan-kehidupan mereka tetap penuh dosa selama mereka hidup di bumi, tetapi itu merupakan suatu fakta yang menyolok bahwa kita tidak diperkenalkan dengan satu orangpun yang tanpa dosa. Pertanyaan Salomo tetap relevan: ‘Siapa bisa berkata: Aku telah membuat hatiku bersih, aku murni dari dosaku?’ Amsal 20:9. Selanjutnya / lebih lagi, Yohanes berkata: ‘Jika kita berkata, bahwa kita tidak mempunyai dosa, kita menipu diri kita sendiri, dan kebenaran tidak ada di dalam kita’, 1Yoh 1:8. (4) Rasul Yohanes menyatakan secara explicit bahwa mereka yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa, 1Yoh 3:6,8,9; 5:18. Tetapi pada waktu Yohanes berkata bahwa mereka yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa, ia sedang mengkontraskan dua keadaan, disimbolkan oleh manusia lama dan manusia baru, berkenaan dengan hakekat dan prinsip dasari mereka. Salah satu dari karakteristik dasari dari manusia baru adalah bahwa ia tidak berbuat dosa. Mempertimbangkan fakta bahwa Yohanes secara tetap menggunakan bentuk present (tense) untuk menyatakan gagasan bahwa orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa, adalah mungkin bahwa ia ingin menyatakan gagasan bahwa anak Allah tidak ‘terus berbuat dosa sebagai kebiasaan’, seperti yang Iblis / setan lakukan, 1Yoh 3:8. Ia pasti tidak bermaksud untuk menegaskan bahwa orang percaya tidak pernah melakukan suatu tindakan dari dosa, bdk. 1Yoh 1:8-10. Selanjutnya / lebih lagi, orang-orang yang percaya Perfectionisme tidak bisa menggunakan dengan baik text-text ini untuk membuktikan pointnya, karena mereka akan membuktikan terlalu banyak untuk tujuannya. Ia tidak berani untuk berkata bahwa semua orang-orang percaya betul-betul tanpa dosa, tetapi hanya bahwa mereka bisa mencapai suatu keadaan dari kesempurnaan tanpa dosa. Tetapi text-text Yohanes membuktikan, berdasarkan penafsirannya, bahwa semua orang-orang percaya adalah tanpa dosa. Dan lebih dari itu, mereka juga membuktikan bahwa orang-orang percaya tidak pernah jatuh dari keadaan kasih karunia / murtad (karena ini adalah perbuatan dosa); tetapi orang-orang yang menganut Perfectionisme justru adalah orang-orang yang percaya bahwa bahkan orang-orang Kristen yang sempurna bisa murtad.] - ‘Systematic Theology’, hal 538-539 (Libronix).
1Pet 1:16 - “sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”.
Mat 5:48 - “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.’”.
Yak 1:4 - “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”.
1Pet 2:21-23 - “(21) Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya. (22) Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulutNya. (23) Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.”.
Kid 4:7 - “Engkau cantik sekali, manisku, tak ada cacat cela padamu.”.
1Kor 2:6 - “Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan.”.
2Kor 5:17 - “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”.
Ef 5:27 - “supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diriNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.”.
Ibr 5:14 - “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”.
Fil 4:13 - “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”.
Kol 2:10 - “dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.”.
1Kor 2:6 - “Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan.”.
Ibr 5:14 - “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”.
2Tim 3:17 - “Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”.
Kej 6:9 - “Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.”.
Ayub 1:1 - “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”.
1Raja 15:14 - “Sekalipun bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan, namun Asa berpaut kepada TUHAN dengan segenap hatinya sepanjang umurnya.”.
Amsal 20:9 - “Siapakah dapat berkata: ‘Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?’”.
1Yoh 1:8 - “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.”.
1Yoh 3:6,8,9 - “(6) Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia. ... (8) barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. (9) Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.”.
1Yoh 5:18 - “Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.”.
1Yoh 3:8 - “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.”.
1Yoh 1:8-10 - “(8) Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. (9) Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (10) Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita.”.
Louis Berkhof: “c. Objections to the theory of Perfectionism. (1) In the light of Scripture the doctrine of Perfectionism is absolutely untenable. The Bible gives us the explicit and very definite assurance that there is no one on earth who does not sin, 1 Kings 8:46; Prov. 20:9; Eccl. 7:20; Rom. 3:10; Jas. 3:2; 1 John 1:8. In view of these clear statements of Scripture it is hard to see how any who claim to believe the Bible as the infallible Word of God can hold that it is possible for believers to lead sinless lives, and that some actually succeed in avoiding all sin. (2) According to Scripture there is a constant warfare between the flesh and the Spirit in the lives of God’s children, and even the best of them are still striving for perfection. Paul gives a very striking description of this struggle in Rom. 7:7–25, a passage which certainly refers to him in his regenerate state. In Gal. 5:16–24 he speaks of that very same struggle as a struggle that characterizes all the children of God. And in Phil. 3:10–14 he speaks of himself, practically at the end of his career, as one who has not yet reached perfection, but is pressing on toward the goal. (3) Confession of sin and prayer for forgiveness are continually required. Jesus taught all His disciples without any exception to pray for the forgiveness of sins and for deliverance from temptation and from the evil one, Matt. 6:12, 13. And John says: ‘If we confess our sins, He is faithful and righteous to forgive us our sins, and to cleanse us from all unrighteousness,’ 1 John 1:9. Moreover, Bible saints are constantly represented as confessing their sins, Job 9:3, 20; Ps. 32:5; 130:3; 143:2; Prov. 20:9; Isa. 64:6; Dan. 9:16; Rom. 7:14. (4) The Perfectionists themselves deem it necessary to lower the standard of the law and to externalize the idea of sin, in order to maintain their theory. Moreover, some of them have repeatedly modified the ideal to which, in their estimation, believers can attain. At first the ideal was ‘freedom from all sin’; then, ‘freedom from all conscious sin,’ next, ‘entire consecration to God,’ and, finally, ‘Christian assurance.’ This is in itself a sufficient condemnation of their theory. We naturally do not deny that the Christian can attain to the assurance of faith.” [= c. Keberatan-keberatan terhadap teori dari Perfectionisme. (1) Dalam terang dari Kitab Suci doktrin Perfectionisme secara mutlak tidak bisa dipertahankan. Alkitab memberi kita keyakinan / kepastian yang explicit dan sangat pasti bahwa disana tidak ada seorangpun di bumi yang tidak berbuat dosa, 1Raja 8:46; Amsal 20:9; Pkh 7:20; Ro 3:10; Yak 3:2; 1Yoh 1:8. Mempertimbangkan pernyataan-pernyataan yang jelas dari Kitab Suci adalah sukar untuk melihat bagaimana siapapun yang mengclaim untuk mempercayai Alkitab sebagai Firman Allah yang tidak bisa salah bisa mempercayai bahwa adalah mungkin bagi orang-orang percaya untuk menjalani kehidupan tanpa dosa, dan bahwa beberapa / sebagian betul-betul berhasil dalam menghindari semua dosa. (2) Menurut Kitab Suci disana ada suatu peperangan konstan antara daging dan Roh dalam kehidupan dari anak-anak Allah, dan bahkan yang terbaik dari mereka tetap berjuang untuk kesempurnaan. Paulus memberikan suatu penggambaran yang sangat menyolok tentang pergumulan ini dalam Ro 7:7-25, suatu text yang pasti menunjuk kepada dia dalam keadaan (sudah) lahir baru. Dalam Gal 5:16-24 ia berbicara tentang pergumulan yang sama itu sebagai suatu pergumulan yang menjadi ciri dari semua anak-anak Allah. Dan dalam Fil 3:10-14 ia berbicara tentang dirinya sendiri, hampir pada akhir dari karirnya, sebagai seseorang yang belum mencapai kesempurnaan, tetapi sedang terus berusaha untuk menuju pada tujuan itu. (3) Pengakuan dosa dan doa untuk pengampunan dituntut secara terus menerus. Yesus mengajar semua murid-muridNya tanpa kecuali untuk berdoa untuk pengampunan dosa-dosa dan untuk pembebasan dari pencobaan dan dari si jahat, Mat 6:12,13. Dan Yohanes berkata: ‘Jika kita mengaku dosa kita, Ia adalah setia dan benar untuk mengampuni kita dari dosa-dosa kita, dan membersihkan kita dari segala ketidak-benaran’, 1Yoh 1:9. Selanjutnya / lebih lagi, orang-orang kudus dalam Alkitab secara konstan digambarkan sebagai mengakui dosa-dosa mereka, Ayub 9:3,20; Maz 32:5; 130:3; 143:2; Amsal 20:9; Yes 64:6; Dan 9:16; Ro 7:14. (4) Para Perfectionist sendiri menganggap perlu untuk menurunkan standar dari hukum dan untuk melahiriahkan gagasan tentang dosa, untuk mempertahankan teori mereka. Selanjutnya / lebih lagi, sebagian dari mereka telah secara berulang-ulang memodifikasi keadaan ideal pada mana, dalam penilaian mereka, bisa dicapai oleh orang-orang percaya. Mula-mula keadaan idealnya adalah ‘bebas dari semua dosa’; lalu, ‘bebas dari semua dosa sadar / yang disadari’, dan selanjutnya, ‘pembaktian sepenuhnya kepada Allah’, dan akhirnya, ‘keyakinan Kristen’. Ini dalam dirinya sendiri merupakan suatu pengecaman yang cukup tentang teori mereka. Kita pasti tidak menyangkal bahwa orang Kristen bisa mencapai keyakinan / kepastian dari iman.] - ‘Systematic Theology’, hal 539-540 (Libronix).
1Raja 8:46 - “Apabila mereka berdosa kepadaMu - karena tidak ada manusia yang tidak berdosa - dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri musuh yang jauh atau yang dekat,”.
Amsal 20:9 - “Siapakah dapat berkata: ‘Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?’”.
Pkh 7:20 - “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!”.
Ro 3:10 - “seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.”.
Yak 3:2 - “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.”.
1Yoh 1:8 - “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.”.
Ro 7:7-26 - “(7) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: ‘Jangan mengingini!’ (8) Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati. (9) Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, (10) sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian. (11) Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku. (12) Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik. (13) Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. (14) Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. (15) Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. (16) Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. (17) Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. (18) Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. (19) Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. (20) Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. (21) Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. (22) Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, (23) tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. (24) Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? (25) Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.”.
Gal 5:16-24 - “(16) Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. (17) Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (18) Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. (19) Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, (20) penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, (21) kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu - seperti yang telah kubuat dahulu - bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (22) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23) kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (24) Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”.
Fil 3:10-14 - “(10) Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, (11) supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. (12) Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. (13) Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, (14) dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”.
Mat 6:12,13 - “(12) dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; (13) dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.”.
1Yoh 1:9 - “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”.
Ayub 9:3,20 - “(3) Jikalau ia ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali ia tidak dapat membantahNya. ... (20) Sekalipun aku benar, mulutku sendiri akan menyatakan aku tidak benar; sekalipun aku tidak bersalah, Ia akan menyatakan aku bersalah. ”.
Maz 32:5 - “Dosaku kuberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: ‘Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,’ dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela”.
Maz 130:3 - “Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?”.
Maz 143:2 - “Janganlah beperkara dengan hambaMu ini, sebab di antara yang hidup tidak seorangpun yang benar di hadapanMu.”.
Amsal 20:9 - “Siapakah dapat berkata: ‘Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?’”.
Yes 64:6 - “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.”.
Dan 9:16 - “Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihanMu, biarlah kiranya murka dan amarahMu berlalu dari Yerusalem, kotaMu, gunungMu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umatMu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami.”.
Ro 7:14 - “Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali