Seminar
Pembahasan ajaran
Pdt. Erastus Sabdono
(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Rabu, tanggal 27 Maret 2019, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Corpus Delicti (13)
==============Lanjutan kata-kata ES=================
Dalam kemanusiaan-Nya, Tuhan Yesus harus taat bahkan sampai kepada kematian-Nya. Semua itu untuk membuktikan kesetiaan dan ketaatan-Nya, kepada Bapa. Itulah sebabnya dalam Wahyu [12:10]-11, darah Anak Domba (Kristus) dapat mengalahkan Iblis (pendakwa) sehingga ia bisa diusir dari Sorga. Yang membuat darah Yesus berkuasa adalah keberhasilan-Nya menyelesaikan tugas-Nya melalui ketaatan-Nya secara penuh kepada Bapa. Ia telah membuktikan sikap hormat yang semestinya kepada Bapa. Dengan demikian Bapa di Sorga dapat berkata kepada Lucifer: “Seharusnya kamu bersikap seperti Anak Tunggal-Ku ini. Oleh karena kamu tidak berbuat seperti yang seharusnya kamu perbuat, maka kamu terbukti berbuat salah”.
===============================================
Tanggapan Budi Asali:
1) Dalam ayat Alkitab mana Allah berkata seperti itu kepada Iblis?? Ini hanya khayalan ES, bukan ajaran Alkitab!
2) Menurut ES, Iblis diusir dari surga itu kapan???
Di sini ES mengatakan: “Itulah sebabnya dalam Wahyu [12:10]-11, darah Anak Domba (Kristus) dapat mengalahkan Iblis (pendakwa) sehingga ia bisa diusir dari Sorga.”.
Ini menunjukkan bahwa pengusiran Iblis terjadi setelah pencurahan darah Kristus / kematian Kristus.
Tetapi kalau kita lihat dalam pelajaran-pelajaran yang lalu ES menganggap bahwa Yes 14:12 dan Yeh 28 menunjuk pada kejatuhan Iblis. Kalau seperti yang ES anggap, bahwa text-text itu menunjuk pada kejatuhan Iblis, maka dilihat dari text-text itu, pengusiran Iblis itu seharusnya sudah terjadi pada saat ia jatuh, dan itu pasti terjadi di masa lalu yang jauh, sebelum kejatuhan, bahkan sebelum penciptaan Adam (ingat bahwa ES beranggapan Adam diciptakan dengan tujuan menjadi Corpus Delicti, untuk membuktikan kesalahan Iblis).
Yes 14:9-15 -
“(9) Dunia orang
mati yang di bawah gemetar untuk menyongsong kedatanganmu, dijagakannya
arwah-arwah bagimu, yaitu semua bekas pemimpin di bumi; semua bekas raja
bangsa-bangsa dibangunkannya dari takhta mereka. (10) Sekaliannya mereka mulai
berbicara dan berkata kepadamu: 'Engkau juga telah
menjadi lemah seperti kami, sudah menjadi
sama seperti kami!' (11) Ke dunia orang mati sudah
diturunkan kemegahanmu dan bunyi gambus-gambusmu; ulat-ulat dibentangkan sebagai
lapik tidurmu, dan cacing-cacing sebagai selimutmu.’ (12) ‘Wah, engkau
sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur,
putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan
jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! (13) Engkau yang tadinya
berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku
mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan,
jauh di sebelah utara. (14) Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan,
hendak menyamai Yang Mahatinggi! (15) Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati
engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur.”.
Yeh 28:13-19 - “(13) Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. (14) Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. (15) Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. (16) Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya. (17) Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya. (18) Dengan banyaknya kesalahanmu dan kecurangan dalam dagangmu engkau melanggar kekudusan tempat kudusmu. Maka Aku menyalakan api dari tengahmu yang akan memakan habis engkau. Dan Kubiarkan engkau menjadi abu di atas bumi di hadapan semua yang melihatmu. (19) Semua di antara bangsa-bangsa yang mengenal engkau kaget melihat keadaanmu. Akhir hidupmu mendahsyatkan dan lenyap selamanya engkau.’”.
Catatan: untuk kata-kata yang saya garis-bawahi, KJV menterjemahkan menggunakan future tense, tetapi RSV/NIV/NASB menterjemahkan dengan past tense atau perfect tense.
Jadi, lagi-lagi ada kontradiksi dalam ajaran ES. Mana yang benar?
==============Lanjutan kata-kata ES=================
Sekali lagi ditegaskan bahwa kemenangan Tuhan Yesus bukan karena Ia Anak Allah yang diberikan kemampuan-kemampuan ekstra. Ya, Ia memang Anak Allah, tetapi Ia disamakan sepenuhnya dengan manusia. Harus Anak Allah sendiri yang turun agar Ia tidak tercemar dosa Adam. Tetapi Ia tidak boleh diistimewakan. Jika Ia diistimewakan, kemenangan-Nya bukanlah kemenangan yang adil. Jika Ia diistimewakan, Ia tidak bisa mengklaim bahwa kemenangan-Nya adalah dari perjuangan-Nya sendiri.
=================================================
Tanggapan Budi Asali:
1) Perhatikan kata-kata ES pada bagian awal:
“Sekali lagi ditegaskan bahwa kemenangan Tuhan Yesus bukan karena Ia Anak Allah yang diberikan kemampuan-kemampuan ekstra. Ya, Ia memang Anak Allah, tetapi Ia disamakan sepenuhnya dengan manusia. Harus Anak Allah sendiri yang turun agar Ia tidak tercemar dosa Adam.”.
Ada 3 hal yang saya berikan sebagai jawaban / pembahasan:
a) Anak Allah adalah Allah, dan tidak butuh diberi kemampuan-kemampuan ekstra!
b) Anak Allah disamakan sepenuhnya dengan manusia? Kelihatannya ES tidak bisa membedakan antara kemanusiaan Yesus dan keilahianNya. Keilahiannya tidak pernah, dan tidak bisa, disamakan dengan manusia!
c) Harus Anak Allah sendiri yang turun AGAR Ia tidak tercemar dosa Adam?????
Bukankah kata-kata ini secara implicit menunjukkan bahwa Ia diberi / mempunyai keistimewaan / kemampuan-kemampuan extra??
2) Sebelum inkarnasi, Yesus adalah 100 % Allah, dan NOL % manusia. Sejak inkarnasi, Ia adalah sungguh-sungguh Allah, dan sungguh-sungguh manusia. Atau 100 % Allah, dan 100 % manusia!
Ia mempunyai 2 hakekat (natures), yaitu hakekat ilahi dan hakekat manusia, tetapi Ia hanya satu Pribadi!
Bagaimana manusia Yesus dalam persoalan menghadapi godaan setan dsb? Apakah manusia Yesus memang dibiarkan sendirian, tanpa bantuan keilahianNya, dan juga tanpa perolongan Roh Kudus? Bagi saya, itu mustahil!
a) KeilahianNya tidak bisa membiarkan kemanusiaanNya berjuang sendiri menghadapi godaan.
William G. T. Shedd: “The truth and self-consistence of the doctrine of Christ’s impeccability appear, also, from a consideration of the constitution of his person. Christ’s person is constituted of two natures: one divine and the other human. Divine nature is both intemptable and impeccable: ‘God cannot be tempted with evil’ (James 1:13); ‘it is impossible for God to lie’ (Heb. 6:18). Human nature, on the contrary, is both temptable and peccable. When these two natures are united in one theanthropic person, as they are in the incarnation, the divine determines and controls the human, not the human the divine (see pp. 269 sq.). The amount of energy, therefore, which the total complex person possesses to resist temptation, must be measured not by the human nature but by the divine; and the amount of energy to resist temptation determines the peccability or impeccability of the person. Jesus Christ, consequently, is as mighty to overcome Satan and sin, as his mightiest nature is. His strength to prevent a lapse from holiness is to be estimated by his divinity, not by his humanity, because the former and not the latter is the base of his personality and dominates the whole complex person.” [= Kebenaran dan kekonsistenan sendiri dari doktrin tentang ketidak-bisa-berdosaan Kristus juga terlihat dari suatu pertimbangan tentang ‘pembentukan’ dari PribadiNya. Pribadi Kristus ‘terbentuk’ dari dua hakekat: satu Ilahi dan yang lain manusiawi. Hakekat Ilahi adalah baik tak bisa dicobai dan tak bisa berdosa: ‘Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat’ (Yak 1:13); ‘adalah mustahil bagi Allah untuk berdusta’ (Ibr 6:18). Sebaliknya, hakekat manusia, adalah baik bisa dicobai dan bisa berdosa. Pada waktu kedua hakekat ini bersatu dalam satu pribadi manusia Allah, seperti dalam inkarnasi, hakekat Ilahi menentukan dan mengontrol hakekat manusia, bukan hakekat manusia menentukan dan mengontrol hakekat Ilahi (lihat hal 269 dst.). Karena itu, jumlah / total kekuatan yang dimiliki oleh Pribadi yang komplex untuk menahan pencobaan, tidak boleh diukur oleh hakekat manusia tetapi oleh hakekat Ilahi; dan jumlah / total kekuatan untuk menahan pencobaan menentukan bisa berdosa atau tidak bisa berdosanya Pribadi itu. Karena itu, Yesus Kristus, adalah sama kuatnya untuk mengalahkan Iblis dan dosa, seperti hakekatNya yang terkuat. KekuatanNya untuk mencegah kejatuhan dari kekudusan harus dinilai oleh keilahianNya, bukan oleh kemanusiaanNya, karena yang terdahulu dan bukan yang belakangan adalah dasar dari kepribadianNya dan mendominasi seluruh Pribadi yang komplex.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 332-333.
William G. T. Shedd: “In this latter instance, the divine nature cannot innocently and righteously leave the human nature to its own finiteness without any support from the divine, as it can in other instances. When the Logos goes into union with a human nature, so as to constitute a single person with it, he becomes responsible for all that this person does through the instrumentality of this nature. The glory or the shame, the merit or the blame, as the case may be, is attributable to this one person of the God-man. If, therefore, the Logos should make no resistance to the temptation with which Satan assailed the human nature in the wilderness and should permit the humanity to yield to it and commit sin, he would be implicated in the apostasy and sin. The guilt would not be confined to the human nature. It would attach to the whole theanthropic person. And since the Logos is the root and base of the person, it would attach to him in an eminent manner.” [= Dalam hal yang terakhir ini, hakekat ilahi tidak bisa secara tak berdosa dan secara benar, meninggalkan hakekat manusia pada keterbatasannya tanpa pertolongan dari hakekat ilahi, seperti yang bisa dilakukan oleh hakekat ilahi dalam hal-hal lain. Pada waktu LOGOS bersatu dengan suatu hakekat manusia, sehingga membentuk suatu pribadi tunggal denganNya, Ia menjadi bertanggung-jawab untuk semua yang pribadi ini lakukan melalui hakekat ini sebagai alat. Kemuliaan atau kehinaan, jasa atau kecaman, sebagaimana adanya kasusnya, dianggap berasal dari satu Pribadi manusia-Allah ini. Karena itu, jika LOGOS tidak membuat pertahanan terhadap pencobaan dengan mana Iblis menyerang hakekat manusia di padang gurun dan mengijinkan kemanusiaan itu untuk menyerah pada pencobaan itu dan melakukan dosa, Ia akan terlibat dalam kemurtadan dan dosa. Kesalahan tidak akan dibatasi pada hakekat manusia. Itu akan melekat pada seluruh Pribadi manusia-Allah. Dan karena LOGOS adalah akar dan dasar dari Pribadi, itu akan melekat kepadaNya dengan suatu cara yang menyolok / lengkap.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 333-334.
R. L. Dabney: “It is impossible that the person constituted in union with the eternal and immutable Word, can sin; for this union is an absolute shield to the lower nature, against error.” [= Adalah tidak mungkin bahwa pribadi yang terbentuk / terdapat dalam persatuan dengan Firman yang kekal dan yang tak berubah, bisa berdosa; karena persatuan ini adalah suatu perisai yang mutlak bagi hakekat yang lebih rendah, terhadap kesalahan.] - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 471.
b) Dalam persatuan hakekat manusia dengan LOGOS, hakekat manusia itu dikuasai sepenuhnya oleh Roh Kudus.
Kalau orang Kristen saja diberi bantuan oleh Roh Kudus supaya bisa taat, apalagi manusia Yesus itu! Tetapi berbeda dengan orang Kristen yang diberi bantuan secara tidak mutlak, sehingga pasti bisa jatuh ke dalam banyak dosa, maka manusia Yesus dibantu secara mutlak sehingga tidak mungkin jatuh ke dalam dosa. Karena, kalau satu kali saja manusia Yesus itu jatuh ke dalam dosa, maka rencana penebusan Allah akan gagal total. Yesus yang berdosa tidak bisa menjadi Penebus / Juruselamat dosa!
R. L. Dabney: “This lower nature, upon its union with the Word, was imbued with the full influence of the Holy Ghost.” [= Hakekat yang lebih rendah ini, dalam persatuannya dengan Firman, dikaruniai dengan pengaruh penuh dari Roh Kudus.] - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 471.
Dabney juga memberikan dasar-dasar Alkitab yang menunjukkan peranan Roh Kudus dalam diri Kristus, yaitu:
1. Maz 45:8 - “Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu.”.
Bdk. Ibr 1:9 - “Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutuMu.’”.
Catatan: kata-kata ‘teman-teman sekutuMu’ (baik dalam Maz 45:8 maupun Ibr 1:9) diterjemahkan ‘thy fellows’ [= sesamaMu / rekan-rekanMu] oleh KJV.
Matthew Henry (tentang Maz 45:8): “The Spirit is called ‘the oil of gladness’ because of the delight wherewith Christ was filled in carrying on his undertaking. He was anointed with the Spirit ‘above all his fellows,’ above all those that were anointed, whether priests or kings.” [= Roh (Kudus) disebut ‘minyak kesukaan’ karena kesukaan / kegembiraan dengan mana Kristus dipenuhi dalam melaksanakan tugasNya. Ia diurapi dengan Roh (Kudus) ‘melebihi semua sesamaNya / rekan-rekanNya’, melebihi semua mereka yang diurapi, apakah imam-imam atau raja-raja.].
Matthew Henry (tentang Ibr 1:9): “This anointing of Christ was above the anointing of his fellows: ... As man, however, he has his fellows, and as an anointed person; but his unction is beyond all theirs. (1.) Above the angels, who may be said to be his fellows, as they are the sons of God by creation, and God’s messengers, whom he employs in his service. (2.) Above all prophets, priests, and kings, that ever were anointed with oil, to be employed in the service of God on earth. (3.) Above all the saints, who are his brethren, children of the same father, as he was a partaker with them of flesh and blood. (4.) Above all those who were related to him as man, above all the house of David, all the tribe of Judah, all his brethren and kinsmen in the flesh. All God’s other anointed ones had only the Spirit in a certain measure; Christ had the Spirit above measure, without any limitation.” [= Pengurapan Kristus ini melebihi pengurapan dari sesamaNya / rekan-rekanNya: ... Tetapi sebagai manusia, Ia mempunyai sesamaNya / rekan-rekanNya, dan sebagai seorang pribadi yang diurapi; tetapi pengurapanNya melampaui pengurapan mereka. (1.) Melebihi malaikat-malaikat, yang bisa dikatakan sebagai sesamaNya, karena mereka adalah anak-anak Allah oleh penciptaan, dan utusan-utusan Allah, yang Ia gunakan dalam pelayananNya. (2.) Melebihi semua nabi-nabi, imam-imam, dan raja-raja, yang pernah diurapi dengan minyak, untuk digunakan dalam pelayanan Allah di bumi. (3.) Melebihi semua orang kudus, yang adalah saudara-saudaraNya, anak-anak dari Bapa yang sama, karena Ia adalah seorang pengambil bagian dengan mereka tentang daging dan darah. (4.) Melebihi semua mereka yang berhubungan dengan Dia sebagai manusia, melebihi semua keluarga Daud, semua suku Yehuda, semua saudara-saudara dan keluarga dalam daging. Semua orang-orang lain yang diurapi Allah hanya mempunyai Roh (Kudus) dalam suatu ukuran tertentu; Kristus mempunyai Roh (Kudus) melebihi ukuran, tanpa batasan apapun.].
Catatan: saya meragukan point 1. karena menurut saya ini tidak ada hubungannya dengan malaikat-malaikat. Tak pernah ada pengurapan terhadap malaikat-malaikat manapun. Juga malaikat-malaikat tak bisa disebut sesama / rekan-rekan dari Kristus!
Calvin (tentang Ibr 1:9): “But he was anointed above us all, as it was beyond measure, while we, each of us, according to a limited portion, as he has divided to each of us.” [= Tetapi Ia diurapi melebihi kita semua, karena itu melampaui ukuran, sedangkan kita, setiap dari kita, sesuai dengan suatu bagian terbatas, seperti yang Ia telah bagi-bagikan kepada setiap dari kita.].
2. Yes 11:2,3 - “(2) Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; (3) ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.”.
3. Yes 42:1 - “Lihat, itu hambaKu yang Kupegang, orang pilihanKu, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh RohKu ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.”.
4. Yes 61:1 - “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara,”.
Bdk. Luk 4:17-21 - “(17) KepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibukaNya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: (18) ‘Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (19) untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.’ (20) Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepadaNya. (21) Lalu Ia memulai mengajar mereka, kataNya: ‘Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.’”.
5. Luk 4:1 - “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.”.
6. Yoh 1:32 - “Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: ‘Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atasNya.”.
7. Yoh 3:34 - “Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan RohNya dengan tidak terbatas.”.
Barnes’ Notes (tentang Yoh 3:34): “Though Jesus was God as well as man, yet, as Mediator, God anointed him, or endowed him with the influences of his Spirit, so as to be completely qualified for his great work.” [= Sekalipun Yesus adalah Allah maupun manusia, tetapi, sebagai Pengantara, Allah mengurapi Dia, atau memperlengkapi Dia dengan pengaruh-pengaruh dari RohNya, sehingga menjadi sepenuhnya memenuhi syarat untuk pekerjaanNya yang besar / agung.].
Dan ingat, Yesus tidak akan memenuhi syarat untuk menjadi Penebus dosa, kalau Ia jatuh ke dalam dosa.
Pandangan Dabney ini kelihatannya sesuai dengan pandangan Calvin, karena dalam komentarnya tentang Mat 4:1 (dimana Kristus dipenuhi oleh Roh Kudus sebelum Ia dicobai oleh setan) Calvin berkata sebagai berikut:
“Christ was fortified by the Spirit with such power that the darts of Satan could not pierce him.” [= Kristus dibentengi oleh Roh dengan kuasa sedemikian rupa sehingga panah-panah Setan tidak bisa menusukNya.].
Di sini lagi-lagi bisa terlihat bahwa saya memberikan banyak ayat Alkitab sebagai dasar. Bandingkan dengan kata-kata ES di atas yang tak mempunyai dasar ayat Alkitab apapun!
==============Lanjutan kata-kata ES=================
Padahal Ibrani menulis:
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya. (Ibrani 5:7-9)
Tuhan Yesus memohon kepada Bapa agar ia dapat dihindarkan dari maut atau bisa dibangkitkan. Alkitab mencatat, karena kesalehan-Nya doanya didengar atau dikabulkan. Jelas bahwa dikabulkannya doa Tuhan Yesus bukan karena Ia adalah Anak Allah, melainkan karena Ia saleh atau taat kepada Bapa di Sorga. Ini sebuah pertaruhan yang luar biasa. Kalau Tuhan Yesus tidak taat, maka Ia tidak akan dibangkitkan. Kalau Ia tidak dibangkitkan berarti Ia menjadi milik Kerajaan Kegelapan!
=================================================
Tanggapan Budi Asali:
1) Kalau Yesus tidak taat, sekalipun hanya satu kali saja, maka Ia tidak bisa mati menebus dosa orang-orang lain. Ia akan mati karena dosaNya sendiri!
2) Yesus bisa bangkit karena Ia TELAH membereskan hukuman dosa manusia!
Upah dosa adalah maut (Ro 6:23), dan karena itu seandainya ada satu dosa saja yang belum Ia bereskan, maka Ia tidak bisa bangkit.
Baik kata-kata ‘Sudah selesai’ (Yoh 19:30), maupun kebangkitanNya dari antara orang mati, menunjukkan bahwa dosa-dosa manusia memang telah Ia bereskan.
Juga perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
Yoh 19:28-30 - “(28) Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci -: ‘Aku haus!’ (29) Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. (30) Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya.”.
Yoh 17:4-5 - “(4) Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya. (5) Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadiratMu sebelum dunia ada.”.
Text terakhir ini menunjukkan bahwa kenaikan Yesus ke surga, dan diterimanya Ia oleh Bapa, menunjukkan bahwa pekerjaanNya memang sudah selesai!
3) Perhatikan kata-kata ES ini:
“Tuhan Yesus memohon kepada Bapa agar ia dapat dihindarkan dari maut atau bisa dibangkitkan.”.
Apakah ES sengaja memplesetkan kata-kata dalam firman Tuhan?
‘Dihindarkan dari maut’ berarti Ia terhindar dari maut, dan tidak mengalami kematian!
Tetapi ‘bisa dibangkitkan’ menunjukkan Ia mengalami kematian, tetapi tidak dibiarkan terus mati, melainkan dibangkitkan dari antara orang mati!
Jadi, bagaimana ES bisa menggunakan kata ‘ATAU’ di antara kedua potongan kata-kata ini, seakan-akan keduanya mempunyai arti yang sama??
Ibr 5:7 - “Dalam hidupNya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya dari maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan.”.
Perhatikan 2 hal ini:
a) Ayat ini menggunakan kata ‘menyelamatkanNya’, bukan ‘menghindarkannya’.
LAI: ‘yang sanggup menyelamatkanNya dari maut’.
KJV: ‘that was able to save him from death’ [= yang mampu menyelamatkanNya dari kematian / maut].
RSV: ‘who was able to save him from death’ [= yang mampu menyelamatkanNya dari kematian / maut].
NIV: ‘who could save him from death’ [= yang bisa menyelamatkanNya dari kematian / maut].
NASB: ‘able to save Him from death’ [= mampu menyelamatkanNya dari kematian / maut].
Jadi ES seharusnya menggunakan kata-kata ‘diselamatkan dari maut’, dan bukan ‘dihindarkan dari maut’!
b) Saya berpendapat bahwa sebetulnya, kalau dilihat secara strict / ketat, ayat ini tidak menunjukkan secara explicit apa yang Yesus minta dalam doaNya. Karena kata-kata ‘yang sanggup menyelamatkanNya dari maut’, merupakan penjelasan tentang ‘Dia’, yang jelas menunjuk kepada Allah Bapa. Mari kita membaca ayatnya sekali lagi.
Ibr 5:7 - “Dalam hidupNya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya dari maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan.”.
4) Penafsiran beberapa penafsir tentang Ibr 5:7 ini.
Ibr 5:7 - “Dalam hidupNya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya dari maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan.”.
KJV: ‘Who in the days of his flesh, when he had offered up prayers and supplications with strong crying and tears unto him that was able to save him from death, and was heard in that he feared;’ [= Yang dalam hari-hari dari dagingNya, pada waktu Ia menaikkan doa-doa dan permohonan-permohonan dengan jeritan / tangisan yang kuat dan air mata kepada Dia yang sanggup untuk menyelamatkan Dia dari kematian, dan didengarkan dalam hal yang ditakutiNya;].
NIV: ‘During the days of Jesus’ life on earth, he offered up prayers and petitions with loud cries and tears to the one who could save him from death, and he was heard because of his reverent submission.’ [= Selama hari-hari / masa dari kehidupan Yesus di bumi, Ia menaikkan doa-doa dan permohonan-permohonan dengan jeritan / tangisan yang keras dan air mata kepada ‘Orang’ yang bisa menyelamatkan Dia dari kematian, dan didengarkan karena ketundukanNya yang penuh rasa takut / hormat.].
Calvin: “Christ who was a Son, who sought relief from the Father and was heard, yet suffered death, that thus he might be taught to obey. ... Then by ‘tears’ and ‘strong crying’ the Apostle meant to express the intensity of his grief, for it is usual to show it by outward symptoms; nor do I doubt but that he refers to that prayer which the Evangelists mention, ‘Father, if it be possible, let this cup pass from me,’ (Matthew 26:42; Luke 22:42;) and also to another, ‘My God, my God, why hast thou forsaken me?’ (Matthew 27:46.) For in the second instance mention is made by the evangelists of strong crying; and in the first it is not possible to believe that his eyes were dry, since drops of blood, through excessive grief, flowed from his body.” [= Kristus yang adalah Anak, yang mencari pertolongan dari Bapa dan didengarkan, tetapi mengalami kematian, supaya dengan demikian Ia bisa diajar untuk taat. ... Lalu dengan ‘air mata’ dan ‘jeritan yang kuat’ sang Rasul bermaksud untuk menyatakan intensitas dari kesedihanNya, karena merupakan kebiasaan untuk menunjukkannya dengan tanda-tanda lahiriah; juga saya tak meragukan bahwa ia menunjuk pada doa itu yang disebutkan oleh para Penginjil, ‘Bapa, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu dari padaKu’, (Mat 26:42; Luk 22:42); dan juga pada doa yang lain, ‘AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’ (Mat 27:46). Karena dalam contoh kedua disebutkan oleh para penginjil tentang jeritan yang kuat; dan dalam contoh yang pertama tidaklah mungkin untuk percaya bahwa mataNya kering, karena tetesan-tetesan darah, melalui kesedihan yang berlebihan, mengalir dari tubuhNya.].
Calvin: “‘And was heard,’ etc. ... I doubt not but that the Apostle means that Christ was heard from that which he feared, so that he was not overwhelmed by his evils or swallowed up by death. ... But how was Christ heard from what he feared, as he underwent the death which he dreaded? To this I reply, that we must consider what it was that he feared; why was it that he dreaded death except that he saw in it the curse of God, and that he had to wrestle with the guilt of all iniquities, and also with hell itself? Hence was his trepidation and anxiety; for extremely terrible is God’s judgment. He then obtained what he prayed for, when he came forth a conqueror from the pains of death, when he was sustained by the saving hand of the Father, when after a short conflict he gained a glorious victory over Satan, sin, and hell. Thus it often happens that we ask this or that, but not for a right end; yet God, not granting what we ask, at the same time finds out himself a way to succor us.” [= ‘Dan Ia didengarkan’, dst. ... Saya tidak meragukan bahwa sang Rasul memaksudkan bahwa Kristus didengarkan dari hal yang Ia takuti, sehingga Ia tidak ditenggelamkan / dikalahkan sepenuhnya oleh bencana-bencanaNya atau ditelan oleh kematian. ... Tetapi bagaimana Kristus didengarkan dari apa yang Ia takuti, karena Ia mengalami kematian yang Ia takuti? Terhadap hal ini saya menjawab, bahwa kita harus mempertimbangkan apa yang Ia takuti; mengapa Ia takut terhadap kematian kecuali bahwa Ia melihat di dalamnya kutuk Allah, dan bahwa Ia harus bergumul dengan kesalahan dari semua kejahatan / dosa, dan juga dengan neraka? Karena alasan inilah rasa takut dan kekuatiranNya; karena sangat hebat penghukuman Allah. Ia lalu mendapatkan apa yang Ia doakan, pada waktu Ia keluar / muncul sebagai seorang pemenang dari penderitaan kematian, pada waktu Ia ditopang oleh tangan / kuasa yang menyelamatkan dari Bapa, pada waktu setelah suatu konflik yang singkat Ia memperoleh / mencapai suatu kemenangan yang mulia terhadap / atas Iblis, dosa, dan neraka. Jadi, sering terjadi bahwa kita meminta ini atau itu, tetapi bukan untuk tujuan yang benar; tetapi Allah, tidak mengabulkan apa yang kita minta, pada saat yang sama menemukan sendiri suatu jalan untuk menolong kita.].
Saya merasa tafsiran Calvin aneh! Karena bagian yang saya garis-bawahi bagi saya tidak menunjukkan kalau doaNya didengarkan. Sekarang mari kita membandingkan tafsiran Calvin dengan tafsiran Lenski, yang adalah seorang Arminian.
Lenski: “‘To the One able to save him from death’ he cried. This might mean that God should not let him enter death, or that, having entered death, God should raise him up again and thus take him out of death. It cannot be the latter because Jesus never prays to God regarding his resurrection. Already in John 12:27 and also in Gethsemane he prayed that, if it be possible, God might not make him drink the cup of death. Yet in John 12:28 this prayer ends: ‘Father, glorify thy name!’ and in Gethsemane: ‘Not my will, but thine be done!’ Some, like the A. V. with its references, introduce Golgotha and the cries on the cross (Matt. 27:46, 50), but these were neither beggings nor pleadings, nor were they accompanied by tears. The ultimate obedience was learned in Gethsemane, after Gethsemane and on the cross the obedience was only carried out. The second participle elucidates the first: ‘and having been heard for his godly fear.’ Two facts are stated: that Jesus’ begging and pleading was actually heard and fully granted by God, and that this granting was due to his εὐλάβεια. Superficial readers of the Gethsemane account take it that Jesus prayed not to die, that God, nevertheless, let him die, and that God did not grant his prayer, and then draw the conclusion that God at times does not grant our prayers, nor must we expect him to grant them. Yet we are told that ‘he was heard,’ which means that his pleadings were granted. Some commentators start with the same opinion, namely that what Jesus really begged for was to be kept from death; they see, too, that it is here said that God granted this prayer. But in making these two statements agree they are satisfied with what is not really an agreement: they let the answer to the pleadings consist in God’s freeing Jesus from the fear of death. It should be seen that the prayer was then really not answered, was at most answered only partially. Jesus did not ask to be saved from the fear of death; neither the Gospels nor our passage say this. To receive no more than deliverance from such fear is not a real hearing of his prayer, if what he prayed for was deliverance from death. The mistake lies in this latter assumption. Jesus prayed for deliverance from death, only with an ‘if’: ‘if it be possible’ (Matt. 26:39); ‘if this cup may not pass away from me, except I drink it’ (v. 42). The real burden of his prayer was: ‘Nevertheless, not what I will, but what thou wilt’ (Mark 14:36). So also Matt. 26:39, 42, ‘thy will be done,’ and this prayer of Jesus was fully and truly granted.” [= ‘Kepada 'Orang' yang mampu untuk menyelamatkan Dia dari kematian’ Ia berteriak / menangis. Ini bisa berarti bahwa (Ia meminta supaya) Allah jangan membiarkan Dia memasuki kematian, atau bahwa setelah memasuki kematian, Allah membangkitkan Dia lagi dan dengan demikian mengeluarkan Dia dari kematian. Artinya tidak bisa yang belakangan, karena Yesus tidak pernah berdoa kepada Allah berkenaan dengan kebangkitanNya. Bahkan seawal dalam Yoh 12:27 dan juga di Getsemani, Ia berdoa supaya, jika mungkin, Allah bisa tidak memaksaNya meminum cawan kematian. Tetapi dalam Yoh 12:28 doa ini diakhiri dengan kata-kata: ‘Bapa, muliakanlah namaMu!’ dan di Getsemani: ‘Bukan kehendakKu, tetapi kehendakMu yang jadi!’ Beberapa, seperti A. V. (KJV) dengan referensi-referensinya mengajukan / mengusulkan Golgota dan teriakan-teriakan pada salib (Mat 27:46,50), tetapi hal-hal ini bukanlah permohonan-permohonan ataupun permintaan-permintaan, dan juga hal-hal itu tidak disertai dengan air mata. Ketaatan yang tertinggi dipelajari di Getsemani, setelah Getsemani dan pada salib, ketaatanNya hanya dilaksanakan. Participle yang kedua menjelaskan yang pertama: ‘Dan setelah didengarkan untuk rasa takutNya yang saleh’. Dua fakta dinyatakan: bahwa permohonan dan permintaan Yesus didengarkan dengan sungguh-sungguh, dan dikabulkan sepenuhnya oleh Allah, dan bahwa pengabulan ini disebabkan oleh EULABEIA (rasa takut / hormat)Nya. Pembaca-pembaca sepintas lalu tentang cerita Getsemani mengartikannya bahwa Yesus berdoa supaya tidak mati, tetapi bahwa Allah bagaimanapun membiarkan Dia mati, dan bahwa Allah tidak mengabulkan doaNya, dan lalu menarik kesimpulan bahwa kadang-kadang Allah tidak mengabulkan doa-doa kita, atau bahwa kita tidak boleh mengharapkan Dia untuk mengabulkannya. Tetapi kita diberitahu bahwa ‘Ia didengarkan’, yang berarti bahwa permohonan-permohonanNya dikabulkan. Sebagian penafsir memulai dengan pandangan yang sama, yaitu bahwa apa yang sesungguhnya Yesus mohon adalah untuk dicegah dari kematian; mereka melihat juga, bahwa di sini dikatakan bahwa Allah mengabulkan doa ini. Tetapi dalam membuat kedua pernyataan ini setuju mereka puas dengan apa yang bukanlah suatu persetujuan yang sungguh-sungguh: Mereka membiarkan jawaban terhadap permohonan-permohonan itu terdiri dari pembebasan Allah terhadap Yesus dari rasa takut terhadap kematian. Harus dilihat bahwa doa itu pada saat itu sesungguhnya tidak dijawab, atau paling-paling dijawab hanya sebagian. Yesus tidak meminta untuk diselamatkan dari rasa takut terhadap kematian; baik kitab-kitab Injil maupun text kita tidak mengatakan hal ini. Menerima tidak lebih dari pada pembebasan dari rasa takut bukanlah suatu tindakan mendengar yang sungguh-sungguh terhadap doaNya, jika apa yang Ia doakan adalah pembebasan dari kematian. Kesalahannya terletak pada anggapan belakangan ini. Yesus berdoa untuk pembebasan dari kematian, hanya dengan suatu kata ‘jika’: ‘jika sekiranya mungkin’ (Mat 26:39); ‘jika cawan ini tidak mungkin berlalu dari Aku, kecuali Aku meminumnya’ (ay 42). Beban sesungguhnya dari doaNya adalah: ‘Tetapi bukan kehendakKu, tetapi kehendakMu’ (Mark 14:36). Demikian juga Mat 26:39,42, ‘jadilah kehendakMu’, dan doa Yesus ini dikabulkan sepenuhnya dan secara tepat.].
Saya lebih setuju dengan tafsiran Lenski dari pada Calvin (jelas saya tidak mendewakan Calvin!!!). Kata ‘jika’ dan khususnya kata-kata ‘jadilah kehendakMu’ harus dipertimbangkan!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali