Seminar
Pembahasan ajaran
Pdt. Erastus Sabdono
(Rungkut Megah Raya, blok D
no 16)
Rabu,
tanggal 20 Pebruari 2019, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Corpus Delicti (10)
f)
Sekarang kita akan melihat sebagian dari satu ayat dari Wah 12 secara
khusus.
Wah 12:4a
- “Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan
melemparkannya ke atas bumi.”.
ES
menganggap ini menunjuk pada kejatuhan Iblis, dan dalam kejatuhannya ia menyeret
1/3 malaikat-malaikat bersama dengan dia.
Sekarang
akan saya berikan tafsiran-tafsiran dari para penafsir tentang Wah 12:4 ini,
apakah mereka setuju dengan ES bahwa ayat ini menunjuk pada pemberontakan Iblis
yang mengikut-sertakan sepertiga dari para malaikat.
Ternyata
ada banyak penafsir yang setuju dengan ES, tetapi juga ada banyak yang menentang
penafsiran ES. Saya akan mulai dengan para penafsir yang menentang penafsiran
ES.
1. Penafsir-penafsir yang tidak
setuju dengan ES.
Jamieson,
Fausset & Brown: “His
dragging down the stars with his tail (lashed back and forward in fury), implies
his persuading to apostatize, and become earthy, those angels and once
eminent human teachers
who formerly were heavenly (cf. Rev 12:1; Isa 14:12; Rev 1:20).” [= Penyeretannya terhadap bintang-bintang dengan
ekornya (dikibaskan ke belakang dan ke depan dalam kemarahan), secara implicit
menunjuk pada bujukannya untuk murtad, dan menjadi duniawi, malaikat-malaikat
itu dan yang pernah merupakan pengajar-pengajar /
guru-guru manusia yang
dulunya surgawi (Bdk. Wah 12:1; Yes 14:12; Wah 1:20).].
Wah 12:1
- “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan
berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari
dua belas bintang di atas kepalanya.”.
Catatan:
saya tak mengerti mengapa ia memberikan ayat ini sebagai ayat referensi.
Yes
14:12 - “‘Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar,
engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!”.
Wah 1:20
- “Dan rahasia
ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kananKu dan ketujuh kaki dian
emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh
jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.’”.
Leon
Morris (tentang ay 4):
“The dragon’s ‘tail’ now dragged ‘a third of the
stars out of the sky’ and threw them to
the earth (cf. Dan. 8:10). As with a number of the trumpets, ‘a third’ will denote a significant minority (8:7, 8, 9, etc.). This perhaps means
that the activities of the evil one in other spheres have repercussions here on
earth; many think there is a reference to fallen angels. But all this is
apparently no more than a preliminary flexing of his muscles. His primary
interest is in devouring the child about to be born. Satan was hostile to Jesus
from the very beginning (cf. Herod’s attempt to slay the Christ child, Mt.
2:13ff.).” [= ‘Ekor’ sang naga sekarang
menyeret ‘sepertiga dari bintang-bintang dari langit’ dan melemparkan mereka
ke bumi (bdk. Dan 8:10). Seperti dengan jumlah dari sangkakala, ‘sepertiga’
berarti suatu jumlah minoritas yang signifikan (8:7,8,9, dsb.). Ini
mungkin berarti bahwa aktivitas-aktivitas dari si jahat dalam ruang lingkup yang
lain mempunyai pengaruh tidak langsung di sini di bumi; banyak
orang beranggapan bahwa ini adalah suatu referensi pada malaikat-malaikat yang
jatuh. Tetapi
semua ini jelas adalah tidak lebih dari suatu penekukan pendahuluan dari
otot-ototnya. Iblis bermusuhan
dengan Yesus dari sangat awal (bdk. usaha Herodes untuk membunuh bayi Kristus,
Mat 2:13-dst.).]
- Libronix.
Dan 8:10 -
“Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari
bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan
diinjak-injaknya.”.
Wah
8:7,8,9 - “(7)
Lalu malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan
terjadilah hujan es, dan api, bercampur darah; dan semuanya itu dilemparkan ke
bumi; maka terbakarlah sepertiga dari
bumi dan sepertiga dari pohon-pohon dan
hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau. (8) Lalu malaikat yang kedua meniup
sangkakalanya dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api,
dilemparkan ke dalam laut. Dan sepertiga
dari laut itu menjadi darah, (9) dan matilah sepertiga
dari segala makhluk yang bernyawa di dalam laut dan binasalah sepertiga
dari semua kapal.”.
George
Eldon Ladd (tentang ay 4):
“There
is no need to see in these words anything more than the fearful appearance of
this monster. There is no hint in this symbolism of a primeval war in heaven in
which Satan was cast out of heaven down to the earth. Dan. 8:10 has a similar
vision in which the ‘little horn’ reached to heaven and cast some of the
stars to the earth, but there they are called the ‘hosts of heaven.’ The
dragon is such a colossal creature that with one sweep of his tail he can brush
a third of the stars out of their natural position.” [= Di
sana tidak ada kebutuhan untuk melihat dalam kata-kata ini apapun yang lebih
dari pada penampilan yang menakutkan dari monster ini. Di
sana tidak ada petunjuk dalam simbolisme ini tentang suatu peperangan yang
terjadi pada sangat awal di surga dalam mana Iblis dilemparkan keluar dari surga
ke bumi. Dan 8:10 mempunyai suatu penglihatan yang mirip dalam
mana ‘tanduk kecil’ mencapai surga dan
melemparkan sebagian bintang-bintang ke bumi, tetapi di sana mereka disebut ‘bala
tentara langit / surga’. Naga itu adalah seekor makhluk ciptaan yang sangat
besar sehingga dengan satu sapuan dari ekornya ia bisa menyingkirkan sepertiga
dari bintang-bintang keluar dari posisi alamiah mereka.]
- hal 169.
Dan 8:9-10
- “(9)
Maka dari salah satu tanduk itu muncul suatu
tanduk kecil, yang menjadi sangat besar ke arah selatan, ke arah
timur dan ke arah Tanah Permai. (10)
Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari
bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan
diinjak-injaknya.”.
John
Wesley:
“‘The
third part’ - A very large number. ‘Of the stars of heaven’ -
The Christians and their teachers, who before sat in heavenly places with Christ
Jesus. ‘And
casteth them to the earth’ - Utterly deprives them of all those
heavenly blessings.” [= ‘Sepertiga bagian’ -
Suatu jumlah yang sangat besar. ‘Dari
bintang-bintang di surga’ - Orang-orang Kristen dan pengajar-pengajar /
guru-guru mereka,
yang sebelumnya duduk di tempat-tempat surgawi bersama Kristus Yesus. ‘Dan
melemparkan mereka ke bumi’ - Merampas / menyingkirkan sama sekali dari mereka
semua berkat-berkat surgawi itu.] - Libronix.
Geoffrey
B. Wilson: “The
power of the dragon was such that the sweep of his tail was able to drag away a
third of the stars of heaven and cast them to the earth (Dan. 8:10). This
dramatic figure has the introductory funtion of illustrating the destructive
power of the dragon,”
[= Kuasa dari sang naga adalah sedemikian rupa
sehingga sapuan ekornya mampu menyeret sepertiga bintang-bintang dari surga /
langit dan melemparkan mereka ke bumi (Dan 8:10). Gambaran yang
dramatis ini mempunyai fungsi yang bersifat memperkenalkan untuk
menjelaskan kuasa yang bersifat menghancurkan dari sang naga,]
- hal 104.
Dan
8:10 - “Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari
bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan
diinjak-injaknya.”.
Barclay:
“The image
of the dragon sweeping the stars from the sky with its tail comes from the
picture in Daniel of the little horn which cast the stars to the ground and
trampled on them (Daniel 8:10).”
[= Gambaran dari sang naga menyapu bintang-bintang dari langit dengan ekornya
datang dari gambaran dalam Daniel tentang tanduk kecil yang melemparkan
bintang-bintang ke tanah dan menginjak-injak mereka (Dan 8:10).].
Catatan:
memang tidak jelas dengan apa yang Barclay maksudkan. Tetapi kalau kita melihat
seluruh tafsiran Barclay tentang Wah 12:3-4, kelihatannya ia sama sekali tidak
mengarah pada kejatuhan awal dari Iblis.
Barclay
(tentang Wah 12:3-4): “Here we have
the picture of the great, flame-coloured dragon. In our study of the past
history of the tradition of the antichrist, we saw that the people of the
middle east regarded creation in the light of the struggle between the dragon
of chaos and the creating God of order. In the Temple of Marduk - the creating
god - in Babylon, there was a great image of a ‘red-gleaming serpent’ who
stood for the defeated dragon of chaos. There can be little doubt that that is
where John got his picture. This dragon appears in many forms in the Old
Testament. It appears as Rahab. ‘Was it
not you who cut Rahab in pieces, who pierced the dragon?’ (Isaiah 51:9). It
appears as the leviathan. ‘You broke the heads of the dragons in the waters. You crushed the heads
of Leviathan’ (Psalm 74:13–14). In the day of the Lord, God with his cruel
and great and strong sword will punish the leviathan (Isaiah 27:1). It appears
in the dramatic picture of the behemoth in Job
40:15–24. The dragon which is the arch-enemy of God is a common and terrible
figure in the thought of the middle east. It is the connection of the dragon
and the sea which explains the rivers of water which the dragon pours out to
overcome the woman (verse 15). The dragon has seven heads and ten horns. This
signifies its mighty power. It has seven royal diadems. This signifies its
complete power over the kingdoms of this world as opposed to the kingdom of
God. The image of the dragon sweeping the stars from
the sky with its tail comes from the picture in Daniel of the little horn
which cast the stars to the ground and trampled on them (Daniel 8:10).
The picture of the dragon waiting to devour the child comes from Jeremiah, in
which it is said of Nebuchadnezzar that ‘he has swallowed me like a
monster’ (Jeremiah 51:34). H. B. Swete finds in this picture the symbolism
of an eternal truth about the human situation. In the human situation, as
Christian history sees it, there are two figures who occupy the centre of the
scene. There is humanity, men and women, fallen and always under the attack of
the powers of evil but always struggling towards the birth of a higher life.
And there is the power of evil, always watching for its opportunity to
frustrate every attempt to achieve higher things. That struggle had its
culmination on the cross.”
[= ].
Catatan:
Saya memberikan seluruh komentar Barclay tentang ay 3-4 untuk menunjukkan
bahwa ia sama sekali tak menyinggung kejatuhan awal dari Iblis. Tetapi saya
tak memberikan terjemahannya.
Matthew
Henry:
“As drawing with his tail ‘a third
part of the stars in heaven, and casting them down to the earth,’ turning the
ministers and professors of the Christian religion out of their places and
privileges and making them as weak and useless as he could.” [= Sebagai menyeret dengan ekornya ‘sepertiga
bagian dari bintang-bintang di surga, dan melemparkan mereka ke bawah ke
bumi’, membelokkan (menyesatkan) pendeta-pendeta /
pelayan-pelayan dan pengaku-pengaku dari agama Kristen keluar dari tempat-tempat
dan hak-hak mereka dan membuat mereka selemah dan setidak-berguna
mungkin seperti yang bisa ia lakukan.].
Adam
Clarke:
“The
stars therefore which the dragon draws with his tail must represent the whole
body of pagan priests, who were the stars or lights of the pagan world. But in
what sense can it be said that the pagan Roman Empire, which ruled over the
whole known world, only draws a third part of the stars of heaven? The answer
is: The religious world in the time of John was divided into three grand
branches, namely, the Christian world, the Jewish world, and pagan world.
Consequently, as a dragon, a fabulous animal, is an emblem of a civil power
supporting a religion founded in fable; it necessarily follows that the stars or
ministers of the Jews and Christians cannot be numbered among those which he
draws with his tail, as they were not the advocates of his idolatry, but were
ministers of a religion founded by the God of heaven, and consequently formed no
part of the pagan world, though they were in subjection in secular matters to
the pagan Roman Empire. The tail of the dragon therefore draweth after him the
whole pagan world.” [=
Karena itu bintang-bintang yang sang naga seret
dengan ekornya pasti mewakili seluruh tubuh dari imam-imam kafir,
yang adalah bintang-bintang atau terang-terang dari dunia kafir. Tetapi dalam
arti apa bisa dikatakan bahwa Kekaisaran Roma kafir, yang memerintah atas
seluruh dunia yang dikenal, hanya menarik sepertiga bagian dari bintang-bintang
dari langit? Jawabannya adalah: Dunia agama pada jaman Yohanes dibagi menjadi
tiga cabang besar, yaitu dunia Kristen, dunia Yahudi, dan dunia kafir. Sebagai
akibatnya / karena itu, sebagai seekor naga, seekor binatang yang bersifat
dongeng, adalah suatu gambaran dari suatu kuasa sipil yang mendukung suatu agama
yang didasarkan pada dongeng; karena itu pastilah bahwa bintang-bintang atau
pelayan-pelayan / pendeta-pendeta dari orang-orang Yahudi dan orang-orang
Kristen tidak bisa dihitung di antara mereka yang ia seret dengan ekornya,
karena mereka bukanlah pendukung-pendukung dari penyembahan berhalanya, tetapi
merupakan pelayan-pelayan / pendeta-pendeta dari suatu agama yang didirikan oleh
Allah dari surga, dan karena itu tidak membentuk suatu bagian dari dunia kafir,
sekalipun mereka tunduk dalam hal-hal sekuler kepada Kekaisaran Romawi kafir. Karena
itu ekor dari sang naga menyeret di belakangnya seluruh dunia kafir.].
Barnes’
Notes:
“The
main idea here undoubtedly is that of power, and the object of John is to show
that the power of the dragon was as if it extended to the stars, and as if it
dragged down a third part of them to the earth, or swept them away with its
tail, leaving two-thirds unaffected. A power that would sweep them all away
would be universal; a power that would sweep away one-third only would represent
a dominion of that extent only. ... Suppose, then, that the dragon here was
designed to represent the Roman pagan power; suppose that it referred to that
power about to engage in the work of persecution, and at a time when the church
was about to be greatly enlarged, and to fill the world; suppose that it
referred to a time when but one-third part of the Roman world was subject to
pagan influence, and the remaining two-thirds were, for some cause, safe from
this influence - all the conditions here referred to would be fulfilled.” [=
Gagasan utama di sini tak diragukan adalah tentang kuasa, dan tujuan
dari Yohanes adalah untuk menunjukkan bahwa kuasa dari sang naga adalah
seakan-akan itu meluas pada bintang-bintang, dan seakan-akan itu
menyeret sepertiga dari mereka ke bumi, atau menyapu habis mereka dengan
ekornya, meninggalkan duapertiga tanpa terpengaruh. Suatu
kuasa yang menyapu mereka semua bersifat universal; suatu kuasa yang menyapu
hanya sepertiga mewakili suatu penguasaan dari tingkat itu saja. ...
Maka, anggaplah bahwa sang naga di sini dirancang untuk mewakili kuasa kafir
Romawi; anggaplah bahwa itu menunjuk pada kuasa itu yang akan terlibat dalam
pekerjaan penganiayaan, dan pada suatu masa / jaman dimana gereja akan membesar
secara hebat, dan memenuhi dunia; anggaplah bahwa itu
menunjuk pada suatu waktu pada waktu hanya sepertiga bagian dari dunia Romawi
yang tunduk pada pengaruh kafir, dan sisanya yang duapertiga, karena
sebab tertentu, aman dari pengaruh ini - maka semua kondisi yang ditunjuk di
sini digenapi.].
Bible
Knowledge Commentary: “The
casting down of ‘a third of the stars out of the sky’ seemed to imply
satanic power which extended to the heavens and the earth. Satan was seen here
to extend his power over those who opposed him spiritually or politically.”
[= Pelemparan ke bawah dari ‘sepertiga dari bintang-bintang di surga’
kelihatannya menunjukkan secara implicit kuasa Iblis
yang meluas sampai ke surga dan bumi. Iblis dilihat di sini meluaskan
kuasanya atas mereka yang menentang dia secara rohani atau secara politik.].
Pulpit
Commentary: “(4) Enormous power of ‘mischief.’
‘And his tail drew (draweth) the third part of the stars of heaven, and did
cast them to the earth.’ There are stars in the moral firmament of the human
soul, stars of social love, of reverent piety, of moral intuition, of spiritual
insight, of infinite worship. These stars Satan sweeps away, and leaves us to
grope our way in nocturnal gloom. Where are these stars seen in the political
management of England to-day? Truly we are walking in darkness and have no
light.” [=
(4) Kuasa
yang sangat besar dari ‘penyesatan’. ‘Dan ekornya menyeret
sepertiga bagian dari bintang-bintang dari surga, dan melemparkan mereka ke
bumi’. Di sana ada bintang-bintang dalam cakrawala moral dari jiwa manusia,
bintang-bintang dari kasih yang bersifat sosial, dari kesalehan yang bersifat
takut / hormat, dari intuisi moral, dari pengertian rohani, dari penyembahan
yang tak terbatas. Bintang-bintang ini disapu oleh Iblis, dan meninggalkan kita untuk
meraba-raba jalan kita dalam kegelapan malam.
Dimana bintang-bintang ini dalam pengaturan politik dari Inggris jaman sekarang?
Sesungguhnya kita sedang berjalan dalam kegelapan dan tidak mempunyai terang.]
- hal 326.
2.
Penafsir-penafsir yang setuju dengan ES.
Dalam
hal ini ada cukup banyak penafsir yang berpandangan sama dengan ES.
Wiersbe:
“Verse 4
relates to Isa 14:12ff, when Satan revolted against God and drew some of the
angels down with him. See Job 38:7 and Jude.”
[= Ayat 4 berhubungan dengan Yes 14:12-dst, pada waktu Iblis memberontak
terhadap Allah dan menarik sebagian dari malaikat-malaikat jatuh bersama dia.
Lihat Ayub 38:7 dan Yudas.].
Catatan:
ia bahkan juga setuju dengan ES bahwa Yes 14:12 menunjuk pada kejatuhan Iblis.
Lagi-lagi dalam hal ini ada banyak penafsir yang setuju dengan ES.
Ayub 38:7-
“pada waktu bintang-bintang
fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah
bersorak-sorai?”.
Yudas
6 - “Dan bahwa Ia
menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada
batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka,
dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari
besar,”.
Jewish
New Testament Commentary: “Stars. Possibly natural
stars (6:13, 8:12; Mt 24:29), but more likely ‘his angels’ (v. 7; compare
1:20, 9:1), who rebelled with Satan against God (see 2 Ke 2:4N).” [= Bintang-bintang. Mungkin bintang-bintang alamiah
(6:13, 8:12; Mat 24:29), tetapi lebih memungkinkan ‘malaikat-malaikatnya’
(ay 7; bandingkan 1:20, 9:1), yang memberontak bersama Iblis terhadap Allah
(lihat 2Pet 2:4).].
Catatan:
Ke = Kefa. Ini cara Penafsir Yahudi ini menyebut Petrus. Jadi 2 Ke = 2Petrus.
Wah
6:13 - “Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke
atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah,
apabila ia digoncang angin yang kencang.”.
Wah 8:12
- “Lalu malaikat yang keempat meniup sangkakalanya dan terpukullah
sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan dan sepertiga dari bintang-bintang, sehingga sepertiga dari padanya
menjadi gelap dan sepertiga dari siang hari tidak terang dan demikian juga malam
hari.”.
Mat 24:29
- “‘Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan
bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan
berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.”.
Wah
12:7 - “Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya
berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu
oleh malaikat-malaikatnya,”.
Wah 1:20 -
“Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kananKu dan
ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu
ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh
jemaat.’”.
Catatan:
ayat ini rasanya tidak cocok.
Wah 9:1
- “Lalu
malaikat yang kelima meniup sangkakalanya, dan aku melihat sebuah
bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberikan
anak kunci lobang jurang maut.”.
2Pet 2:4
- “Sebab
jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi
melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam
gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman;”.
Seiss’
Apocalypse: “Vitringa hit the truth
much more successfully, when he spoke here of the angels. These are truly ‘the
stars of the heaven.’ When God brought the world into being, we are told that
‘the morning stars sang together, and all the sons of God shouted for joy’
(Job 38:4-7). These were the angelic hosts. They are fitly called stars by
reason of their beauty and glory; and they are preeminently ‘the stars of the
heaven,’ as they pertain to heaven, and are the sublimest ornaments of the
celestial world. Satan himself was once one of these stars, as we saw in Rev
9:1. Isaiah (Isa 14:12) alludes to this, where the exclamation is, ‘How art
thou fallen from heaven, O Lucifer (literally, day-star), son of the morning!’
Has there then been any calamity among the angelic hosts to answer the
description before us? The Scriptures distinctly tell us that there has. Jude 6
speaks of ‘angels which kept not their first estate (their principality), but
left their own habitation.’ Peter refers to ‘the angels that sinned,’ whom
‘God spared not’ (2 Peter 2:4). ... Satan, one of the brightest and
mightiest among them, was the cause and author of it all. ... How many were thus
involved is not told us. The text says that the terrible apostasy embraced
‘the third of the stars of the heaven.’ Many take this as significant only
of a large proportion, without regard to any exact number. And so the meaning
may be. But the statement itself is definite, and will bear the interpretation
that just one-third of all the angelic host fell through that Satanic rebellion.” [= Vitringa mencapai
kebenaran dengan jauh lebih sukses, pada waktu ia berbicara di sini tentang
malaikat-malaikat. Mereka
sungguh-sungguh adalah ‘bintang-bintang dari surga’.
Pada waktu Allah menciptakan dunia, kita diberitahu bahwa ‘bintang-bintang
fajar menyanyi bersama-sama, dan semua anak-anak Allah berteriak dengan
sukacita’ (Ayub 38:4-7). Mereka ini adalah pasukan malaikat. Mereka secara
tepat disebut bintang-bintang karena keindahan dan kemuliaan mereka; dan mereka
secara menyolok adalah ‘bintang-bintang dari surga’, karena mereka tempatnya
di surga, dan merupakan hiasan-hiasan yang paling agung / mulia dari dunia
surgawi / langit. Iblis sendiri adalah salah
satu dari bintang-bintang ini, seperti kita lihat dalam Wah 9:1.
Yesaya (Yes 14:12) membuat referensi secara
tak langsung pada hal ini, pada waktu teriakannya adalah, ‘Betapa engkau telah
jatuh dari surga, Ya Lucifer (secara hurufiah, bintang pagi), Putra Fajar!’
Apakah di sana pernah ada bencana apapun di antara pasukan malaikat untuk
menyesuaikan dengan penggambaran di depan kita? Kitab Suci secara pasti
memberitahu kita bahwa memang pernah. Yudas 6 berbicara tentang
‘malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka,
tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka’. Petrus menunjuk kepada
‘malaikat-malaikat yang berbuat dosa’ yang ‘Allah tidak menyayangkan’
(2Pet 2:4). ... Iblis, salah satu dari yang paling terang dan paling kuat di
antara mereka, adalah penyebab dan pencipta dari semua ini. ...
Berapa banyak malaikat-malaikat yang terlibat kita tak diberitahu. Textnya
mengatakan bahwa kemurtadan yang mengerikan mencakup ‘sepertiga dari
bintang-bintang dari surga’. Banyak orang yang mengartikan ini
hanya sebagai menunjukkan suatu bagian yang besar, tanpa mempersoalkan bilangan
yang pasti apapun. Dan demikianlah mungkin artinya. Tetapi
pernyataannya sendiri adalah pasti, dan akan mendukung penafsiran bahwa hanya
sepertiga dari semua pasukan malaikat jatuh melalui pemberontakan Iblis itu.].
Wah 9:1
- “Lalu malaikat yang kelima meniup sangkakalanya, dan aku melihat sebuah
bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberikan
anak kunci lobang jurang maut.”.
Catatan:
sangat banyak tafsiran yang bermacam-macam tentang siapa yang dimaksud dengan ‘sebuah bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi’
ini. Jadi, sangat belum tentu kalau ini menunjuk kepada Iblis.
Yudas
6 - “Dan bahwa Ia
menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada
batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka,
dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari
besar,”.
2Pet 2:4
- “Sebab
jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat
yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan
dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan
mereka sampai hari penghakiman;”.
Lenski:
“this
dragon monster, Satan, threw down a third of God’s stars, the angels, Jude 6:
‘the angels which kept not their first estate but left their own
habitation.’ That Satan drew other angels with him, he being the chief rebel,
is the accepted fact. The fact that they lost their heavenly places is expressed
by saying that Satan threw them on the earth. When stars fall, this is said to
occur ‘to the earth.’ As for the tail, not only is the dragon always
conceived as having a tremendous tail, here one that is so mighty as to sweep so
many stars from the sky, but the hellish tail is the instrument of lying power
(9:10; compare Isa. 9:15, ‘the prophet that teacheth lies, he is the tail’).
Thus we here have a description of Satan’s power manifested in the most
terrible thing he has done.”
[= monster naga
ini, Iblis, melempar ke bawah sepertiga dari bintang-bintang Allah,
malaikat-malaikat, Yudas 6: ‘malaikat-malaikat yang
tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat
kediaman mereka’. Bahwa Iblis menarik
malaikat-malaikat lain bersamanya, ia sebagai kepala pemberontak, merupakan
fakta yang diterima. Fakta bahwa
mereka kehilangan tempat-tempat surgawi dinyatakan dengan mengatakan bahwa Iblis
melemparkan mereka ke bumi. Pada waktu bintang-bintang jatuh, ini dikatakan
terjadi ‘ke bumi’. Sedangkan tentang ekor, bukan
hanya naga itu selalu mempunyai suatu ekor yang menakutkan / sangat besar, di
sini suatu ekor yang begitu kuat sehingga menyapu begitu banyak bintang dari
langit, tetapi ekor yang sangat jahat adalah alat dari kuasa untuk berdusta
(9:10; bandingkan Yes 9:14, ‘nabi yang mengajarkan dusta, itulah ekor’). Jadi
di sini kita mempunyai suatu penggambaran tentang kuasa Iblis yang dinyatakan
dalam hal yang paling mengerikan yang telah ia lakukan.].
Yes
9:14 - “Tua-tua dan orang yang terpandang, itulah kepala, dan nabi yang
mengajarkan dusta, itulah ekor.”.
Herman
Hoeksema:
“What
may be meant by his drawing of the stars of heaven with his tail? This seems to
be plain in itself. The stars in this connection must, of course, not be taken
in the literal sense, no more than the entire portion. In this connection the
inference is plain that they indicate the fellow angels of the devil. In Job the
angels are called the morning-stars. And indeed this application is very
appropriate for these spiritual inhabitants of the sphere of eternal light. And
the devil himself has been such a morning-star, - perhaps, as we have said
before, the greatest and most glorious among them all. And although the passage
in Isaiah 14:12 cannot literally be applied to Satan, yet the language in which
this metaphor against the king of Babylon is used, is such that the latter is
evidently a type of the devil. And therefore also the devil may fittingly be
called Lucifer, the day or morning-star. This morning-star, as we know, rebelled
against God Almighty. But he was not alone. He instigated a general rebellion in
the heaven of heavens. He seduced others
of his fellow angels to rise with him and exalt themselves against the Most
High. And it is this feature that is pictured of the devil most probably in the
fourth verse of this chapter. He dragged the third part, that is, in this sense,
a great many, yet not a majority, of his fellow angels with him in his fall from
heaven. And they together with him were cast down from their exalted place.”
[= Apa yang bisa dimaksudkan dengan dia menarik bintang-bintang di surga dengan
ekornya? Ini kelihatannya jelas dalam dirinya sendiri. Bintang-bintang dalam
hubungan ini harus, tentu saja, tidak diartikan dalam arti hurufiah, sama
seperti seluruh bagian ini. Dalam hubungan ini kesimpulannya adalah jelas bahwa
mereka menunjuk kepada sesama malaikat-malaikat dari Iblis. Dalam Ayub
malaikat-malaikat disebut bintang-bintang pagi. Dan memang penerapan ini sangat
cocok / tepat untuk penghuni-penghuni rohani dari lingkungan / ruang lingkup
dari terang yang kekal ini. Dan Iblis sendiri adalah suatu bintang pagi seperti
itu, - mungkin, seperti telah kami katakan sebelumnya, yang terbesar dan paling
mulia di antara mereka semua. Dan sekalipun text
dalam Yes 14:12 tidak bisa secara hurufiah diterapkan kepada Iblis, tetapi
bahasa dalam mana kiasan terhadap raja Babel ini digunakan, adalah sedemikian
rupa sehingga yang belakangan ini jelas merupakan suatu TYPE dari Iblis.
Dan karena itu juga Iblis bisa secara cocok
disebut Lucifer, bintang pagi. Bintang pagi ini, seperti kita tahu,
memberontak terhadap Allah Yang Mahakuasa. Tetapi ia tidak sendirian. Ia
menghasut suatu pemberontakan umum di surga dari
surga. Ia menggoda sesama malaikatnya yang lain untuk bangkit
bersamanya dan meninggikan diri mereka sendiri terhadap Yang Maha Tinggi. Dan
adalah ciri / hal yang menonjol ini yang paling memungkinkan digambarkan tentang
Iblis dalam ayat keempat dari pasal ini. Ia menarik sepertiga bagian, yaitu,
dalam arti ini, suatu bagian yang besar, tetapi bukan mayoritas, dari sesama
malaikatnya bersamanya dalam kejatuhannya dari surga. Dan mereka
bersama-sama dengan dia dilemparkan ke bawah dari tempat tinggi mereka.]
- ‘Behold He Cometh!’, hal 417.
Catatan:
saya betul-betul tidak mengerti bagaimana penafsir sekaliber Herman Hoeksema
bisa menganggap bahwa raja Babel dalam Yes 14:12 merupakan TYPE dari Iblis. TYPE
selalu menunjuk ke depan, tak pernah ke belakang!!! Bagaimanapun bahasa yang
digunakan dalam ayat itu, kita tidak bisa / tidak boleh menafsirkan ayat itu
dengan menabrak rumus Hermeneutics!
William
Hendriksen: “When Satan fell, he dragged
along with him in his ruin ‘one-third of the stars of heaven’, that is, a
vast number of evil spirits (cf. Job 38:7; 2Pet. 2:4; Jude 6).”
[= Pada waktu Iblis jatuh, ia menyeret bersamanya dalam kehancurannya
‘sepertiga dari bintang-bintang dari surga’, yaitu / artinya, suatu jumlah
yang besar dari roh-roh jahat (bdk. Ayub 38:7; 2Pet 2:4; Yudas 6).]
- ‘More Than Conquerors’, hal 136.
The
Bible
Exposition Commentary:
“The dragon was cast out of
heaven (Rev 12:9), and he took with him a third of the angels (Rev 12:7,9).
They are spoken of as ‘stars’ in Rev 12:4 (see also Dan 8:10). This
is evidently a reference to the fall of Satan (Isa 14:12-15), when he and his
hosts revolted against God.
However,
the casting out described in Rev 12:7-10 is yet future.” [= Naga itu dilemparkan keluar dari surga (Wah
12:9), dan ia membawa dengannya sepertiga dari malaikat-malaikat (Wah 12:7,9).
Mereka dibicarakan sebagai ‘bintang-bintang’ dalam Wah 12:4 (lihat juga
Dan 8:10). Ini jelas merupakan suatu referensi
pada kejatuhan Iblis (Yes 14:12-15), pada waktu ia dan pasukannya memberontak
terhadap / menentang Allah. Tetapi,
pelemparan keluar yang digambarkan dalam Wah 12:7-10 masih akan datang.].
Pulpit
Commentary: “In describing the vast
power of the devil, St. John seems to
allude
to the tremendous result of his rebellious conduct in heaven, in effecting the
fall of other angels with himself (Jude 6). The
seer does not here interrupt his narrative to explain the point, but returns
to it after ver. 6, and there describes briefly the origin and cause of the
enmity of the devil towards God. The ‘third
part’
(as in ch. 8:7, et
seq.)
signifies a considerable number, but not the larger part.” [=
Dalam menggambarkan kuasa yang sangat besar dari
Iblis, Santo Yohanes kelihatannya membuat
referensi secara singkat / tak langsung pada hasil yang sangat besar /
hebat dari tingkah laku yang bersifat memberontak di surga, dalam
menghasilkan kejatuhan dari malaikat-malaikat yang lain bersamanya (Yudas 6). Si pelihat di sini tidak menginterupsi ceritanya untuk menjelaskan point
itu, tetapi kembali kepadanya setelah ay 6, dan di
sana menggambarkan secara singkat asal usul dan penyebab dari permusuhan dari
Iblis terhadap Allah. ‘Sepertiga bagian’ (seperti dalam psl 8:7
dst.) menunjukkan suatu jumlah yang besar, tetapi bukan bagian yang lebih
besar.]
- hal 311.
Sesuatu
yang harus sangat diperhatikan adalah: sekalipun para penafsir ini percaya bahwa
ay 4 menunjuk pada pemberontakan awal dari Iblis, yang menyeret bersamanya
sepertiga dari para malaikat, tetapi mereka menganggap bahwa di
sini Yohanes hanya menyinggung kejatuhan Iblis secara sepintas lalu. Ini
secara khusus ditunjukkan oleh 2 kutipan terakhir dari deretan kutipan di atas
ini. Dan
dalam seluruh sisa dari Wah 12, Yohanes sama sekali tidak berurusan dengan
kejatuhan awal dari Iblis.
Ini sudah saya tunjukkan pada pelajaran-pelajaran yang lalu dimana saya sudah
memberikan tafsiran-tafsiran para penafsir tentang siapa yang dimaksud dengan
naga, perempuan, dan anak laki-laki itu, dan kapan perang dalam Wah 12:7-9 itu
terjadi.
Jadi,
kalaupun ay 4 ini diartikan menunjuk pada kejatuhan Iblis dan
malaikat-malaikatnya, tetap itu tidak ada gunanya untuk mendukung ajaran ES,
bahwa perang dalam Wah 12:7-9 ini menunjuk pada perang pada pemberontakan awal
dari Iblis.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali