Pelayanan
Elia
oleh:
Pdt. Budi Asali MDiv.
II
RAJA-RAJA 2:1-18
I. Menjelang kenaikan Elia ke
surga.
1. Ay 1: ‘Menjelang saatnya
TUHAN hendak menaikkan Elia ke sorga dalam angin badai’.
a. Cara dan saat Elia (dan juga semua orang lain) meninggalkan
dunia ini, ditetapkan oleh Tuhan.
Pulpit
Commentary: "The
time is of God. ... There are no accidental deaths, no premature graves. ... The
manner is of God. ... We are not crea-tures of chance"
(= Waktunya adalah dari Allah. ... Tidak ada kematian yang bersifat kebetulan,
tidak ada kubur yang bersifat prematur / terlalu pagi. ... Caranya adalah dari
Allah. ... Kita bukanlah makhluk kebetulan) - hal 32.
b.
‘angin badai’.
KJV/RSVNIV/NASB:
‘whirlwind’
(= angin puting beliung / tornado).
Kata
Ibraninya adalah SEARAH, dan Pulpit Commentary mengatakan ini
bukannya menunjuk pada angin puting beliung tetapi menunjuk pada badai atau
gangguan atmosfir. Kata ini digunakan dalam Ayub 38:1 40:6 Yes 40:24 41:16 Yer
23:19 30:23 Zakh 9:14.
2. Rupanya kenaikan Elia ke surga ini sudah diberitahukan lebih
dulu, baik kepada Elia, Elisa maupun rombongan nabi di Betel dan Yerikho (ay
3,5,10).
3.
Elia mau meninggalkan dunia ini (bukan mati), tetapi ia tetap tenang.
Pulpit
Commentary: "Many
hundred years after this, when John Knox - the Elijah of Scotland - was on his
death-bed, he said to those who stood around him, ‘Oh, serve the Lord in fear,
and death shall not be terrible unto you!’ Something like this was Elijah’s
experience. He had been faithful to God’s cause and commands during his life,
and now he was not afraid that God would forsake him at its close"
(= Ratusan tahun setelah ini, ketika John Knox, Elia dari Skotlandia, ada di
ranjang kematiannya, ia berkata kepada mereka yang berdiri di sekelilingnya,
‘O, layanilah Tuhan dengan rasa takut, dan kematian tidak akan merupakan hal
yang mengerikan bagimu!’ Sesuatu yang mirip dengan inilah yang merupakan
pengalaman Elia. Ia telah setia pada perkara dan perintah Allah selama hidupnya,
dan sekarang ia tidak takut bahwa Allah akan meninggalkannya pada akhir
hidupnya) - hal 27.
4.
Elia berusaha untuk meninggalkan Elisa (ay 2,4,6).
Atau
ini dimaksudkan untuk betul-betul mendapatkan kesendirian, atau untuk mengetest
kesetiaan Elisa. Keil & Delitzsch mengatakan bahwa ini dilakukan bukan untuk
mengetest kesetiaan Elisa, tetapi karena kerendahan hati Elia, yang tidak ingin
pemuliaannya dilihat orang lain, kecuali itu betul-betul kehendak Tuhan. Saya
condong pada pandangan pertama atau kedua atau gabungan dari kedua pandangan
itu, tetapi saya tidak setuju dengan pandangan ketiga.
3 x
Elia berusaha melakukan hal ini, dan 3 x Elisa menolak untuk ditinggalkan (ay
2,4,6). Dalam keadaan normal seorang pelayan harus menuruti majikannya, tetapi
pada saat ini, Elisa, yang tahu bahwa itu adalah saat-saat terakhir ia bisa
bersama tuannya (ay 3b,5b), menolak untuk ditinggalkan.
5.
Elisa tidak mau membicarakan persoalan kenaikan Elia ke surga (ay 3,5).
Mengapa?
a. Pulpit Commentary: "Talking
of trouble makes it double" (=
Membicarakan kesukaran membuatnya dobel) - hal 29.
Tentu
ini tidak bisa dimutlakkan untuk semua problem. Problem antara suami - istri
atau pendeta - majelis atau orang tua - anak, harus dibicarakan, untuk bisa
dibereskan. Tetapi dalam problem-problem tertentu memang apa yang dikatakan
Pulpit Commentary itu benar.
Tetapi
saya meragukan bahwa ini merupakan alasan mengapa Elisa tidak mau membicarakan
hal itu.
b. Pulpit
Commentary: "There is time to
speak, and time to be silent (Eccles. 3:7), and this was the hour for silence.
Speech would jar on the solemnity of the occasion"
[= Ada waktu untuk berbicara, dan ada waktu untuk berdiam diri (Pengkh. 3:7),
dan ini adalah waktu untuk berdiam diri. Ucapan akan mengejutkan kekhidmatan
dari peristiwa itu] - hal 36.
Penerapan:
ada orang terlambat datang dalam kebaktian, lalu saling menyapa, bersalaman,
omong-omong, dsb. Sekalipun bersekutu dengan sesama saudara seiman, ramah satu
dengan yang lain, merupakan hal yang baik, tetapi kalau itu dilakukan pada saat
kebaktian sudah berjalan, itu sangat tidak pada tempatnya!
Pulpit
Commentary: "The
deeper experience of life are to be meditated upon rather than much spoken
about. The tongue has great power over the heart. The effects of many a solemn
hour have been dissipated by unseasonable talk about them"
(= Pengalaman yang lebih dalam dari kehidupan harus lebih direnungkan dari pada
dibicarakan. Lidah mempunyai kuasa yang besar terhadap hati. Pengaruh dari
banyak saat-saat yang khidmat telah hilang / dibuang oleh pembicaraan yang tidak
pada waktunya tentang mereka)
- hal 36.
6. Tawaran Elia dan permintaan Elisa (ay 9-10).
a. ‘roh Elia’.
Kata
‘roh’ di sini, dan juga dalam ay 15, tentu tidak bisa betul-betul diartikan
sebagai ‘roh’, karena pada saat Elia naik ke surga, tentu rohnya juga naik
ke surga sehingga tidak mungkin diberikan kepada Elisa. Lalu apa artinya
‘roh’ di sini?
Pulpit
Commentary: "The
spirit of Elijah was a spirit of fidelity to duty, a spirit of faithfulness in
rebuking sin, a spirit of fearlessness and courage in the presence of opposition
and danger, and at the same time also a spirit of tenderness and love. Such a
spirit every Christian worker should seek to possess. ... We need more men with
the spirit of Elijah, who will be faithful to God and conscience at any cost,
who will rebuke sin in high places and in any place - the sins of the royalty
and rank as well as the sins of the poor"
(= Roh Elia adalah roh kesetiaan terhadap tanggung jawab, roh kesetiaan dalam
mencela dosa, roh yang tidak takut dan berani di hadapan oposisi dan bahaya, dan
pada saat yang sama juga roh kelembutan dan kasih. Setiap pekerja Kristen harus
berusaha memiliki roh seperti itu. ... Kita membutuhkan lebih banyak orang
dengan roh Elia, yang setia kepada Allah dan hati nurani berapapun ongkosnya /
pengorbanannya, yang mencela dosa di tempat yang tinggi dan di semua tempat,
dosa-dosa dari raja / keluarga raja dan orang berpangkat tinggi maupun dosa-dosa
dari orang miskin) - hal
28.
Sekalipun hal-hal ini juga tercakup dalam ‘roh Elia’, tetapi
jelas bahwa kuasa melakukan mujijat (dan mungkin bernubuat) juga termasuk di
dalamnya. Ini terlihat dari ay 14 dimana Elisa membuktikan hal itu dengan
melakukan mujijat. Juga ay 15 menunjukkan bahwa ketika para nabi melihat Elisa,
mereka memberikan pengakuan bahwa ‘roh Elia telah hinggap pada Elisa’.
Mengapa? Karena rupanya mereka melihat, atau setidaknya menduga, terjadinya
mujijat dalam ay 14 itu.
b.
‘2 bagian dari roh Elia’.
Keil & Delitzsch: "the ministry
of Elisha, when compared with that of Elijah, has all the appearance of being
subordinate to it" (= pelayanan Elisa,
pada waktu dibandingkan dengan pelayanan Elia, kelihatannya lebih rendah)
- hal 293.
Bahwa
Elia lebih besar dari Elisa, juga terlihat dari fakta bahwa yang muncul bersama
Yesus pada waktu pemuliaan di gunung adalah Musa dan Elia, bukan Elisa (Mat
17:3-4).
Matthew Poole setuju bahwa arti permintaan ini bukannya Elisa minta
kuasa lebih hebat dari Elia, tetapi minta warisan anak sulung, tetapi Poole
berkata sebagai berikut: "though
Elisha desired no more, yet God gave him more than he desired or expected; and
he seems to have had a greater portion of the prophetical and miraculous gifts
of God’s Spirit than Elijah had" (=
sekalipun Elisa tidak menginginkan lebih, tetapi Allah memberinya lebih dari
yang ia inginkan atau harapkan; dan ia kelihatannya mempunyai bagian yang lebih
besar dari karunia-karunia nubuat dan mujijat dari yang dimiliki Elia)
- hal 717.
Saya
lebih setuju dengan Keil & Delitzsch bahwa Elisa tetap tidak bisa melampaui
Elia.
Daily Bible Commentary, vol I:
"a ‘double portion’ of
Elijah’s spirit - i.e., not a greater power than that possessed by Elijah but
the portion conferred on the eldest son who succeeded to his father’s position
(Deut. 21:17)" [= suatu ‘bagian
dobel’ dari roh Elia, yaitu, bukan suatu kuasa yang lebih besar dari yang
dimiliki Elia, tetapi bagian yang diberikan kepada anak tertua yang menggantikan
posisi ayahnya (Ul 21:17)] - hal 322.
c. Permintaan ini tidak menunjukkan ketamakan, karena tamak atau
tidaknya tergantung dari motivasi Elisa. Kalau ia meminta hal itu demi kemuliaan
Tuhan, maka tentu itu bukan ketamakan.
Barnes’
Notes: "Like
Solomon, Elisha asks for no worldly advantage, but for spiritual power to
discharge his office aright" (=
Seperti Salomo, Elisa tidak meminta keuntungan duniawi, tetapi meminta kuasa
untuk melaksanakan jabatan / tanggung jawabnya dengan benar)
- hal 229.
Bahkan
kalau seseorang meminta ‘hal duniawi’ seperti mobil, asalkan motivasinya
untuk kemuliaan Tuhan, maka itu bukan ketamakan.
d.
Berani meminta, seperti yang dilakukan oleh Elisa, merupakan sesuatu yang
penting! Karena kalau kita tidak meminta, kita tidak mendapat (Yak 4:2b)!
Pulpit
Commentary: "There
is a holy boldness in seeking a blessing - the spirit of Jacob, ‘I will not
let thee go except thou bless me’ (Gen. 32:26), which never fails of its
reward" [= Di sini ada keberanian yang
kudus dalam mencari berkat; roh / semangat Yakub: ‘Aku tidak akan membiarkan
engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku’ (Kej 32:26), yang tidak pernah
gagal menerima upahnya] -
hal 36.
Penerapan:
Butuh tambahan guru sekolah minggu, pengkhotbah untuk kebaktian remaja, pengurus
dsb? Mari kita minta kepada Tuhan! Bdk. Mat 9:37-38 - "Maka
kataNya kepada murid-muridNya: ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.
Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan
pekerja-pekerja untuk tuaian itu’.".
e.
Jawaban Elia (ay 10).
Ini
disebut sukar, karena ini tidak tergantung kepada Elia, tetapi tergantung kepada
Tuhan. Karena itu Elia lalu mengatakan bahwa kalau Elisa bisa melihatnya
terangkat ke surga, maka Elisa akan mendapatkan apa yang ia minta. Secara implicit
ini menunjukkan bahwa pengangkatan Elia dengan kuda dan kereta berapi dalam ay
11-12 itu sebetulnya tidak terlihat oleh mata biasa. Ini sama seperti pasukan
malaikat yang mengawal Elisa dalam 2Raja 6:16-17, yang baru bisa dilihat oleh
bujang Elisa setelah Elisa berdoa untuk hal itu.
II. Kenaikan
Elia ke surga.
1. Elia naik ke surga (ay 11).
a. Kereta berapi dan kuda berapi.
Pulpit Commentary: "There was an actual
appearance to Elisha’s vision of fiery chariot and horse. It is wholly against
the text to explain this, as Bahr does, by mere figure of speech"
(= Elia betul-betul melihat kereta dan kuda berapi. Merupakan hal yang
sepenuhnya bertentangan dengan text untuk menjelaskan ini, seperti yang
dilakukan oleh Bahr, sebagai semata-mata suatu kiasan)
- hal 37.
Pulpit Commentary: "Material fire is, of
course, not to be thought of" (= Tentu
saja yang dipikirkan bukanlah api yang bersifat materi)
- hal 21.
‘The New Bible Commentary: Revised’:
"note that it is not stated that
Elijah was taken up in the chariot of fire. The chariot of fire separated Elijah
and Elisha, and Elijah went up by a whirlwind"
(= perhatikan bahwa tidak disebutkan bahwa Elia diangkat dalam kereta dari api.
Kereta dari api itu memisahkan Elia dan Elisa, dan Elia naik oleh angin puting
beliung) - hal 349.
Saya tidak terlalu yakin dengan kata-kata ini, karena kalau
demikian apa fungsinya kereta dan kuda berapi itu? Bisa saja Elia memang naik
kereta berapi itu dan semuanya lalu diangkat oleh angin badai tersebut.
Bandingkan dengan tulisan Ir. Herlianto, M. Th. tentang larangan
kremasi, yang alasannya adalah: kita tidak tahu kerugian apa yang akan terjadi
pada roh orang itu.
"dalam
pembakaran demikian kita membuka kemungkinan ikut terbakarnya roh / jiwa
disamping tubuh, sebab kita tidak tahu berapa lama roh / jiwa manusia masih
mempunyai keterkaitan dengan tubuh jasmani setelah seseorang dinyatakan
meninggal secara klinis, dan apa yang dirasakan roh / jiwa saat terbakar!"
- hal 2, kolom 1.
"proses
pembakaran jenazah akan berdampak kemungkinan ikut terbakarnya roh / jiwa yang
mungkin masih punya keterikatan dengan tubuh jasmani itu. Kita jangan
berspekulasi mengenai kemungkinan apa yang bisa terjadi dengan roh / jiwa pada
saat kita membakar tubuh jasmaninya dengan sengaja"
- hal 3, kolom 1.
"Ada
kemungkinan bahwa roh / jiwa tidak langsung melepaskan keterkaitannya dengan
tubuh setelah seseorang dinyatakan mati tetapi membutuhkan waktu beberapa hari,
bila demikian pembakaran jenazah dapat berdampak serius terhadap roh / jiwa yang
masih punya keterikatan dengan tubuh"
- hal 4, kolom 2.
Saya
berpendapat bahwa orang ini kacau dalam pengertiannya tentang penebusan Kristus.
Karena kalau tidak, seharusnya ia tahu bahwa pada saat orang kristen mati,
penebusan Kristus menyebabkan ia tidak mungkin menderita lagi. Pada saat masih
hidup memang ada penderitaan, sebagai serangan setan, ujian Tuhan, hajaran /
didikan Tuhan, dsb. Tetapi setelah mati, semua itu tidak ada lagi, sehingga
tidak mungkin lagi ada penderitaan bagi orang percaya.
b. Elia, sama seperti Henokh (Kej 5:24 Ibr 11:5), tidak mengalami
kematian, tetapi diangkat dengan tubuh jasmaninya ke surga.
Perhatikan bahwa baik ay 1 maupun ay 11 menyatakan bahwa Elia naik
ke surga, bukan ke tempat penantian.
Pulpit
Commentary: "It
is recorded that he went up into heaven. There is no word of an intermediate
state" (= Di sini dicatat bahwa ia
naik ke surga. Tidak ada suatu katapun tentang keadaan diantara kehidupan dan
surga) - hal 29.
Naiknya
Elia ke surga menurut saya merupakan bukti tentang tidak adanya tempat
penantian. Kalau ada tempat penantian, apakah Elia sendirian masuk surga?
c. Dengan tubuh apa Elia ada di surga?
Keil & Delitzsch: "Elijah did not
die, but was received into heaven by being ‘changed’ (1Cor. 15:51,52;
1Thess. 4:15 sqq.)" [= Elia tidak
mati, tetapi diterima di surga dengan diubahkan (1Kor 15:51,52; 1Tes 4:15-dst.)]
- hal 295.
Tetapi
ini rasanya tidak mungkin, karena bagaimana ia bisa mempunyai tubuh kebangkitan
sebelum Kristus memilikinya? Kristus yang pertama mempunyai tubuh kebangkitan,
dan orang-orang lain baru memilikinya pada saat Kristus datang keduakalinya.
1Kor
15:20-23 - "Tetapi yang benar ialah,
bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung
dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena
satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu
orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan
Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan
Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah
sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milikNya pada waktu kedatanganNya".
Saya tidak tahu jawaban terhadap pertanyaan ini.
2. Elisa melihat peristiwa itu (ay 12a).
Ini
berarti bahwa tanda yang tadi dikatakan oleh Elia (ay 10), terjadi.
3.
Sikap Elisa (ay 12).
a. Ia berteriak: ‘Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan
orang-orangnya yang berkuda!’ (ay 12a).
Pada jaman itu orang muda sering menyebut nabi yang sudah tua
dengan sebutan ‘bapa’ (2Raja 6:21 13:14), tetapi Elisa menyebut Elia di sini
dengan sebutan ‘bapa’ mungkin lebih dari sekedar penghormatan, tetapi karena
dengan ia bisa melihat terangkatnya Elia ke surga, itu berarti permintaannya
terhadap 2 bagian roh Elia dikabulkan, dan ia menjadi anak sulung Elia (Pulpit
Commentary).
Pulpit Commentary mengatakan bahwa kata-kata ini maksudnya adalah
sebagai berikut: Kereta dan kuda merupakan alat pertahanan Israel yang terbaik.
Dengan kehilangan Elia, kami kehilangan pelindung yang besar, kekuatan dari
Israel.
Bandingkan dengan 2Raja 13:14 dimana ungkapan yang persis sama
diucapkan oleh Yoas, raja Israel, pada saat Elisa mau mati.
b. Ia menyobek pakaiannya (ay 12b).
Ay
12b: penyobekan pakaian ini dilakukan untuk menunjukkan kesedihan (bdk. Kej
37:29,34 2Sam 13:19 Ayub 1:20 Ayub 2:12). Ini umum dalam jaman Perjanjian Lama
yang selalu menunjukkan apa yang ada dalam hati melalui tindakan lahiriah.
Jangan
tiru ini pada jaman ini, apalagi pada masa krismon.
III. Setelah
kenaikan Elia ke surga.
1. Elisa meniru apa yang Elia lakukan pada ay 8 (ay 13-14).
Mungkin
ini ia lakukan untuk mencoba apakah ia betul-betul mendapatkan warisan 2 bagian
roh Elia. Dan ternyata ia berhasil melakukan mujijat itu!
2. Rombongan nabi menyadari bahwa Elisa telah menjadi pengganti /
pewaris Elia, dan mereka sujud kepadanya (ay 15).
Dalam
jaman Perjanjian Baru, setelah Yesus mengucapkan Mat 4:10, maka kita dilarang
menyembah manusia, siapapun dia adanya.
3.
Rombongan nabi itu ingin mencari Elia atau mayatnya (ay 16-18).
a. Orang sukar menerima kebijaksanaan Tuhan dalam memanggil pulang
orang yang hebat.
Pulpit
Commentary: "So
the human heart is ever reluctant to submit to God’s purposes. Because we
cannot see the meaning of some good man’s removal, we think it was ill-timed.
Yet God’s work does not depend upon the human instruments whom he uses"
[= Demikianlah hati manusia selalu segan untuk tunduk pada tujuan / rencana
Allah. Karena kita tidak bisa melihat arti / maksud dari penyingkiran (kematian)
dari orang yang baik, maka kita berpikir bahwa saatnya tidak tepat. Tetapi
pekerjaan Allah tidak tergantung pada alat-alat manusia yang Ia gunakan]
- hal 30.
b. Elisa melarang, tetapi mereka mendesak, sehingga ia akhirnya
membiarkan mereka melakukan hal itu, yang tentu saja berakhir dengan kegagalan
(ay 16b-18).
KJV/RSV: ‘till he was
ashamed’ (= sampai ia merasa malu).
NASB:
‘until he was ashamed’
(= sampai ia merasa malu).
NIV: ‘until
he was too ashamed to refuse’ (= sampai
ia merasa terlalu malu untuk menolak).
Mungkin
maksudnya Elisa tidak mau mereka merasa bahwa ia mengabaikan tuannya (Elia),
atau bahwa secara diam-diam ia senang kehilangan tuannya karena dengan demikian
ia bisa menggantikan tuannya. Karena itu akhirnya Elisa mengijinkan mereka
pergi.
Perlu dicamkan bahwa lambat atau cepat akan terbukti bahwa segala
usaha kita yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, akan berakhir dengan
kesia-siaan (baca kitab Pengkhotbah!). Karena itu sesuaikan semua usaha saudara,
baik usaha jasmani maupun rohani, dengan Firman / kehendak Tuhan!
c. Ay 16-18 ini fungsinya untuk menunjukkan bahwa Elia bukannya
mengalami kematian / penguburan yang rahasia, tetapi betul-betul diangkat ke
surga dengan tubuh jasmaninya tanpa melewati kematian.
Betul-betul aneh bahwa dengan adanya text seperti ini, masih ada
orang yang menganggap bahwa Elia mengalami kematian.
‘The New Bible Commentary: Revised’:
"We are not specifically told that
Elijah did not die, and his appearance with Moses on the Mount of
Transfiguration certainly carries no such implication, since Moses according to
Scripture had died and his body had been taken by the Lord (Dt. 34:6) or his
angel (Jude 9)" [= Kita tidak
diberitahu secara tegas bahwa Elia tidak mati, dan pemunculannya dengan Musa di
gunung pemuliaan / perubahan rupa jelas tidak memberikan kesan seperti itu,
karena menurut Kitab Suci Musa mati dan tubuhnya diambil / dibawa oleh Tuhan (Ul
34:6) atau oleh malaikatNya (Yudas 9)]
- hal 349.
Tanggapan saya:
Pulpit Commentary: "We must hold,
however, that Elijah was really taken in the body to heaven. Bahr’s
supposition that he was simply whirled away, and disappeared from earth, perhaps
undergoing some secret death and burial as Moses did (for this seems to be his
idea), is too much akin to the error of the disciples who sent out fifty strong
men to seek for him among the hills (vers. 16,17). It was not Elisha’s view,
and has no support in the narrative"
[= Bagaimanapun kita harus mempertahankan bahwa Elia betul-betul diangkat dalam
tubuhnya ke surga. Anggapan Bahr bahwa ia hanya diangkat oleh angin puting
beliung ke atas, dan menghilang dari bumi, dan mungkin mengalami kematian dan
penguburan yang rahasia seperti yang dialami oleh Musa (karena kelihatannya
inilah gagasannya), terlalu mirip dengan kesalahan dari para murid / nabi yang
mengirim 50 orang yang kuat untuk mencarinya di antara bukit-bukit (ay 16,17).
Itu bukanlah pandangan Elisa, dan tidak mempunyai dukungan dalam cerita ini]
- hal 37-38.
IV. Apa makna
kenaikan Elia ke surga?
Pulpit Commentary:
"Besides being a signal honour put
upon a great servant of God, and a striking Old Testament anticipation of the
ascension of Christ, it gave to the Israelites, in midtime of their history, a
powerful confirmation of the fact of immortality. ‘The impression made by the
history of Enoch, that ‘God took him,’ is marked by the repetition of the
word as to the ascension of Elijah’ (Pusey). It is noteworthy, also, that the
immortality typified by these cases is an immortality in the body"
[= Disamping merupakan tanda kehormatan yang diberikan pada seorang pelayan yang
agung dari Allah, dan suatu antisipasi yang menyolok dari Perjanjian Lama
tentang kenaikan Kristus ke surga, itu memberikan kepada Israel, di
tengah-tengah sejarah mereka, suatu penegasan yang sangat kuat tentang fakta
dari keabadian / ketidakbisa-binasaan. ‘Kesan yang dibuat oleh sejarah Henokh,
bahwa ‘Allah mengambilnya’, ditandai oleh pengulangan kata berkenaan dengan
kenaikan Elia ke surga’ (Pusey). Juga patut diperhatikan bahwa keabadian yang
digambarkan oleh kasus-kasus ini adalah keabadian dalam tubuh] - hal 38.
Jadi menurut Pulpit Commentary
ini ada 3 makna dari kenaikan Elia ke surga:
1. Ini merupakan suatu penghormatan bagi hamba Tuhan yang hebat
ini.
Saya
meragukan hal ini, karena ada banyak hamba Tuhan lain yang juga hebat, seperti
Abraham, Musa dsb, tetapi tidak mengalami kenaikan ke surga dengan tubuh
jasmaninya.
2. Ini
merupakan suatu bayangan (TYPE) dari kenaikan Kristus ke surga.
3. Ini
menunjukkan keabadian manusia. Setelah kehidupan yang sekarang ini, kita hanya
pindah tempat, karena ada kehidupan yang akan datang.
Karena itu, kalau saudara tidak ingin menyesal, hiduplah bukan
untuk hidup yang sekarang ini yang hanya bersifat sementara, tetapi hiduplah
untuk hidup yang akan datang yang bersifat kekal.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali