Pelayanan
Elia
oleh:
Pdt. Budi Asali MDiv.
II
RAJA-RAJA 1:7-18
I. Ahazia mengenali orang itu
sebagai Elia.
Dari penggambaran para utusannya
tentang orang itu, Ahazia tahu bahwa itu adalah Elia (ay 7-8).
Ay 8: ‘pakaian bulu’.
KJV: ‘He
was a hairy man’ (= Ia adalah seorang
yang berbulu).
Ada 2 hal yang perlu dijelaskan:
Keil & Delitzsch: "This does not mean a
man with a luxuriant growth of hair, but refers to the hairy dress, i.e. the
garment made of sheep-skin or goat-skin or coarse camel-hair, ... the rough
garment denoting the severity of the divine judgments upon the effeminate
nation, which revelled in luxuriance and worldly lust. And this was also in
keeping with ‘the leather girdle,’ ... whereas the ordinary girdle was of
cotton or linen, and often very costly"
(= Ini tidak berarti seseorang dengan banyak bulu, tetapi menunjuk pada pakaian
berbulu, yaitu pakaian yang dibuat dari kulit domba atau kulit kambing atau bulu
unta yang kasar, ... pakaian yang kasar menunjukkan kerasnya penghakiman
ilahi terhadap bangsa yang seperti perempuan, yang gemar akan kemewahan dan
nafsu duniawi. Dan ini juga sesuai dengan ‘ikat pinggang kulit’, ...
sedangkan ikat pinggang biasa adalah dari katun atau lenan, dan seringkali
sangat mahal) - hal 286.
Catatan:
saya sangat meragukan penafsiran dari bagian yang saya garis-bawahi. Tetapi
penekanan saya dalam kutipan ini hanyalah bahwa Elia bukanlah manusia berbulu,
dan pakaian bulu maupun ikat pinggang kulit yang ia pakai bukanlah pakaian yang
mewah.
Fred
H. Wight: "There
were and are today two kinds of girdles. One, a common variety, is of leather,
usually six inches broad and furnished with clasps. This was the kind of girdle
worn by Elijah (2Kings 1:8), and by John the Baptist (Matt. 3:4). The other, a
more valuable variety, is of linen (See Jer. 13:1), or sometimes of silk or
embroidered material" [= Dulu dan
sekarang ada dua macam ikat pinggang. Pertama, jenis yang umum, adalah dari
kulit, biasanya lebarnya 6 inci dan dilengkapi dengan jepitan / gesper. Ini
adalah jenis ikat pinggang yang dipakai oleh Elia (2Raja 1:8), dan oleh Yohanes
Pembaptis (Mat 3:4). Yang lain adalah jenis yang lebih berharga / mahal, terbuat
dari lenan (lihat Yer 13:1), atau kadang-kadang dari sutera atau bahan sulaman] - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 93.
Hal
lain yang mendukung pandangan bahwa pakaian Elia ini bukanlah pakaian mewah,
adalah bahwa Yohanes Pembaptis berpakaian seperti dia (Mat 3:4), dan pakaian
Yohanes Pembaptis jelas bukanlah pakaian indah atau mewah. Ini terlihat dari
kata-kata Yesus kepada orang banyak tentang Yohanes Pembaptis: "Untuk
apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian
kemari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus?
Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja.
Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, ..."
(Luk 7:24b-26a).
II. Ahazia
mengirim pasukan kepada Elia (ay 9-15).
1. Jelas bahwa tujuan pengiriman pasukan itu adalah untuk menangkap
atau membunuh Elia (bdk. ay 15 - ‘janganlah
takut kepadanya’, yang
secara implicit menunjukkan bahwa pengiriman tentara itu bermaksud jelek
terhadap Elia).
a. Ditinjau dari sudut Ahazia, ini lagi-lagi menunjukkan betapa
bejatnya Ahazia. Pada waktu Elia memberitakan hukuman mati bagi Ahab, Ahab
bertobat (1Raja 21:17-29). Tetapi pada waktu Elia memberitakan hukuman mati bagi
Ahazia, Ahazia malah mengirim pasukan untuk menangkap / membunuh Elia.
Pulpit
Commentary: "He
has defied God when in health; now he defies him from a bed of sickness"
(= Ia telah menentang Allah pada waktu ia sehat; sekarang ia menentangNya dari
ranjang kesakitan) - hal
9.
Pulpit
Commentary: "Even
on his death-bed he shows no such compunction as occasionally visited his father
Ahab (1Kings 21:27)" [= Bahkan di atas
ranjang kematiannya ia tidak menunjukkan penyesalan seperti yang kadang-kadang
mengunjungi ayahnya, Ahab (1Raja 21:27)] -
hal 13.
b.
Ditinjau dari sudut Elia, bahaya mengancamnya karena ia memberitakan kebenaran
dari Tuhan.
Pulpit
Commentary: "It
was not the first time Elijah’s life had been threatened by royal sinners.
When a man is fearless in rebuking sin, he must expect the hatred of impenitent
sinners. Smooth words may win a fleeting popularity, but the friendship of this
world is enmity against God" (= Ini
bukan pertama kalinya nyawa Elia diancam oleh raja yang berdosa. Pada waktu
seseorang tidak mempunyai rasa takut dalam menegur dosa, ia harus mengharapkan
kebencian dari orang berdosa yang tidak bertobat. Kata-kata yang sopan / ramah
mungkin bisa memenangkan kepopuleran yang singkat / cepat berlalu, tetapi
persahabatan dengan dunia ini adalah permusuhan terhadap Allah)
- hal 9.
Bandingkan
dengan kata-kata Paulus dalam Gal 4:16 - "Apakah
dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?".
Contoh:
beberapa minggu yang lalu dalam khotbah saya menyinggung kesesatan Pdt. Yohanes
Bambang dari GKI dalam bukunya ‘Tuhan ajarlah aku’. Ternyata dalam kebaktian
saat itu ada seorang dari GKI yang baru pertama kali datang di sini, dan ia lalu
menanyakan kepada seorang jemaat: ‘Apa salahnya Yohanes Bambang?’. Jemaat
itu, yang mengetahui bahwa si penanya adalah orang GKI, lalu menjawab: ‘O,
bukunya Yohanes Bambang itu salah sedikit’. Saya lalu menegur jemaat
itu dan mengatakan bahwa kalau buku itu salahnya banyak, tetapi demi kesopanan /
supaya orang itu tidak tersinggung, kita lalu mengatakan bahwa buku itu salahnya
sedikit, maka kita tidak mengatakan kebenaran, dan kita menyesatkan orang itu.
Memang kalau kita menyatakan kebenaran, ada kemungkinan orangnya marah, tetapi
itulah resikonya mengatakan kebenaran!
2. Menghadapi perwira pertama dan kedua dengan 100 anak buahnya,
Elia minta api turun dari langit membakar kedua perwira dan 100 anak buahnya itu
(ay 9-12).
a. Josephus dan para penafsir pada umumnya menganggap bahwa ‘api
dari langit’ (ay 10,12a) atau ‘api Allah’ (ay 12b) ini adalah sambaran
petir. Ini hanya dugaan, dan kalaupun ini benar, ini tetap merupakan suatu
mujijat, karena bagaimana seseorang bisa mendatangkan petir hanya dengan
kata-katanya, lebih-lebih mengarahkan petir itu sehingga menyambar perwira dan
ke 50 anak buahnya?
b.
Kecaman terhadap Elia atas tindakannya di sini.
Luk 9:54 (KJV): ‘And when
his disciples James and John saw this, they said, Lord, wilt thou that we
command fire to come down from heaven, and consume them, even as Elias did?’
(= Dan pada waktu murid-muridNya, Yakobus dan Yohanes, melihat hal ini, mereka
berkata: Tuhan, apakah Engkau mau bahwa kami memerintahkan api turun dari
langit, dan membakar mereka, seperti yang dilakukan Elia?).
Catatan:
Kata-kata yang saya garis-bawahi itu hanya ada dalam manuscript-manuscript
tertentu, dan pada umumnya dianggap sebagai suatu penambahan, karena kalimat itu
tidak ada dalam manuscript-manuscript yang kuno yang yang lebih dipercaya.
Tetapi sekalipun kata-kata itu sebetulnya tidak ada, hampir bisa dipastikan
bahwa Yohanes dan Yakobus ingin menurunkan api dari langit, karena mereka
teringat akan peristiwa Elia ini, dan ingin menirunya. Perlu juga diperhatikan
bahwa mereka baru melihat pemuliaan terhadap Yesus di atas gunung, dimana Musa
dan Elia muncul dan bercakap-cakap dengan Yesus (Luk 9:28-36). Peristiwa ini
membuat mereka ingat akan Elia dan hal-hal yang pernah dilakukannya, termasuk
penurunan api dari langit dalam 2Raja 1 ini.
Terhadap pertanyaan Yakobus dan Yohanes dalam Luk 9:54 itu, maka
sikap Yesus dinyatakan dalam Luk 9:55 yang mengatakan: "Akan
tetapi Ia berpaling dan menegor mereka".
Ketidak-setujuan Yesus terhadap keinginan para murid untuk menurunkan api ini
dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa Yesus mengecam Elia.
Pulpit Commentary mencatat kata-kata Archbishop Trench yang
mengomentari Luk 9:54 itu dengan kata-kata sebagai berikut:
"‘It
was,’ remarks Archbishop Trench, ‘as if he had said, Ye are mistaking and
confounding the different standing-points of the old and new covenants, taking
your stand upon the old - that of an avenging righteousness, when you should
rejoice to take it upon the new - that of a forgiving love’"
(= ‘Itu adalah’, kata Uskup Trench, ‘seakan-akan Ia (Yesus)
telah mengatakan: Engkau (para murid) salah dan mencampur-adukkan
kedudukan yang berbeda dari Perjanjian Lama dan Baru, mengambil pandangan dari
Perjanjian Lama - yaitu tentang kebenaran yang membalas dendam, pada waktu
engkau seharusnya dengan sukacita mengambil pandangan dari Perjanjian Baru -
yaitu tentang kasih yang mengampuni)
- hal 7.
Keil & Delitzsch: "This sin is
punished, and that not by the prophet, but by the Lord Himself, who fulfilled
the word of His servant. What Elijah here did was an act of holy zeal for the
honour of the Lord, in the spirit of the old covenant, under which God
destroyed the insolent despisers of His name with fire and sword, to manifest
the energy of His holy majesty by the side of the dead idols of the heathen. But
this act cannot be transferred to the times of the new covenant, as is
clearly shown in Luke 9:54-55, where Christ does not blame Elijah for what
he did, but admonishes His disciples, who overlooked the difference between the
economy of the law and that of the gospel, and in their carnal zeal wanted to
imitate what Elijah had done in divine zeal for the honour of the Lord, which
had been injured in his own person" (=
Dosa ini dihukum, dan itu bukan oleh sang nabi tetapi oleh Tuhan sendiri, yang
menggenapi firman / perkataan pelayanNya. Apa yang dilakukan Elia di sini adalah
suatu tindakan yang muncul dari semangat yang kudus untuk kehormatan Tuhan, dalam
roh / semangat dari Perjanjian Lama, di bawah mana Allah menghancurkan orang
kurang ajar yang menghina namaNya dengan api dan pedang, untuk menyatakan
kekuatan dari keagunganNya yang kudus di sisi berhala-berhala yang mati dari
orang kafir. Tetapi tindakan ini tidak bisa ditransfer ke jaman Perjanjian
Baru, seperti yang ditunjukkan secara jelas dalam Luk 9:54-55, dimana
Kristus bukannya menyalahkan Elia atas apa yang telah ia lakukan, tetapi
memperingatkan murid-muridNya, yang mengabaikan perbedaan antara pengaturan dari
Hukum Taurat dan pengaturan dari Injil, dan dalam semangat mereka yang bersifat
daging ingin meniru apa yang telah dilakukan Elia dalam semangat ilahi untuk
kehormatan Tuhan, yang telah dilukai / diserang di dalam dirinya)
- hal 287.
Barnes’ Notes:
"Elijah was not Jesus Christ, able
to reconcile mercy with truth, ... In Elijah the spirit of the Law was embodied
in its full severity. His zeal was fierce; he was not shocked by blood; he had
no softness and no relenting. He did not permanently profit by the warning at
Horeb (1K. 19:12 note). He continued the uncompromising avenger of sin, the
wielder of the terrors of the Lord, such exactly as he had shown himself at
Carmel. He is consequently, no pattern for Christian men (Luke 9:55); ... But
what he did, when he did it, was not sinful. It was but executing strict, stern
justice. Elijah asked that fire should fall - God made it fall; and, by so
doing, both vindicated His own honour, and justified the prayer of His
prophet" [= Elia bukanlah Yesus
Kristus, yang bisa mendamaikan belas kasihan dengan kebenaran, ... Dalam diri
Elia roh / semangat dari hukum Taurat diwujudkan dengan kekerasan sepenuhnya.
Semangatnya ganas; ia tidak terguncang oleh darah; ia tidak mempunyai kelembutan
dan kelunakan. Ia tidak secara permanen mendapatkan pelajaran oleh peringatan di
Horeb (catatan 1Raja 19:12). Ia melanjutkan pembalasan yang tak kenal kompromi
terhadap dosa, ia menggunakan rasa takut / kengerian dari Tuhan, persis seperti
yang telah ia tunjukkan sendiri di Karmel. Maka dari itu, ia bukanlah teladan
untuk orang Kristen (Luk 9:55); ... Tetapi apa yang ia lakukan, pada saat ia
melakukannya, bukanlah dosa. Itu hanya merupakan pelaksanaan yang ketat dan
keras dari keadilan. Elia meminta supaya api turun - Allah membuat api tu-run;
dan dengan melakukan hal itu, Ia mempertahankan kehormatan-Nya sendiri, dan
membenarkan doa dari nabiNya]
- hal 227.
Catatan:
c. Saya tidak setuju bahwa Elia harus dikecam / disalahkan dengan
alasan apapun juga. Mengapa?
1. Hukuman terhadap 2 perwira dan anak buahnya ini tidak terlalu
keras, karena mereka memang adalah orang brengsek.
·
Sekalipun bawahan yang
harus tunduk pada perintah atasan, tetapi tentu saja harus ada persyaratan,
yaitu selama perintah atasan itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan. Tetapi
dalam hal ini mereka tahu bahwa Ahazia adalah seorang penyembah berhala yang
jahat, dan bahwa Elia adalah nabi Tuhan / Yahweh, tetapi mereka tetap mentaati
Ahazia untuk menangkap Elia. Ini jelas merupakan penyerangan terhadap Tuhan /
Yahweh sendiri.
Penerapan: ini jelas menunjukkan bahwa kalau saudara mau berbuat dosa karena
diperintah atasan, saudara tetap berdosa (bdk. Kis 5:29 - "Kita
harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia").
o
Kalaupun mereka takut
untuk tidak mentaati perintah Ahazia, sebetulnya mereka bisa melakukannya dengan
sopan dan hormat seperti perwira yang ketiga (ay 13-14). Tetapi mereka tidak
bertindak seperti itu, bahkan mereka bertindak kasar dan tidak sopan terhadap
Elia, dengan cara memerintah seorang nabi Tuhan seenaknya sendiri. Disamping
itu, mungkin sekali perintah ‘turunlah’ itu diucapkan dengan nada membentak.
o
Tentang perwira kedua,
jelas bahwa ia lebih bejat dan lebih kurang ajar dari perwira pertama. Mengapa?
Karena bukan saja ia tidak disadarkan dan tidak dibuat menjadi takut oleh
hukuman yang menimpa perwira pertama dengan ke 50 anak buahnya, tetapi juga
karena kalau perwira pertama hanya mengatakan ‘turunlah’ (ay 9), maka
perwira kedua mengatakan ‘segeralah turun’ (ay 11).
o
Kitab Suci tidak
menceritakan bagaimana kehidupan kedua perwira dan ke 100 anak buahnya sebelum
saat ini, tetapi bisa dipastikan bahwa kehidupan mereka sangat berdosa. Dan
kesempatan ini dipakai oleh Tuhan untuk membasmi mereka, sebagai hukuman bukan
hanya atas kekurang-ajaran mereka terhadap Elia, tetapi juga atas semua dosa
mereka selama hidupnya.
2. Tentang hubungan dengan Luk 9:54-55, perlu diperhatikan bahwa
murid-murid dalam Luk 9:51-56 itu ingin menurunkan api sebagai perwujudan
kebencian / balas dendam, juga mungkin dilandasi rasa sentimen terhadap orang
Samaria, yang memang sangat bermusuhan dengan orang Yahudi (bdk. Yoh 4:9b).
Motivasi para murid itu berbeda dengan motivasi Elia dalam 2Raja 1:9-12, yang
betul-betul ingin menjaga atau mempertahankan kehormatan Tuhan. Jadi Yesus
menegur mereka bukan karena Yesus menyalahkan tindakan Elia, tetapi karena
motivasi para murid berbeda dengan motivasi Elia.
Matthew Poole: "Christ doth not
condemn this fact of Elias, but only reproves his disciples for their perverse
imitation of it from another spirit and principle, and in a more unseasonable
time, Luke 9:54,55" (= Kristus
tidak menyalahkan fakta Elia ini, tetapi hanya mencela murid-muridNya untuk
peniruan mereka yang jahat terhadap hal itu dengan roh dan prinsip / dasar yang
berbeda, dan pada waktu yang lebih tidak pada tempatnya, Luke 9:54,55)
- hal 716.
Catatan:
saya tidak terlalu jelas dengan apa yang ia maksudkan dengan bagian yang saya
garis-bawahi.
Adam
Clarke: "Some
have blamed the prophet for destroying these men, by bringing down fire from
heaven upon them. But they do not consider that it was no more possible for
Elijah to bring down fire from heaven, than for them to do it. God alone could
send the fire; and as he is just and good, he would not have destroyed these men
had there not been a sufficient cause to justify the act. ... No entreaty of
Elijah could have induced God to have performed an act that was wrong in itself.
... God led him simply to announce on these occasions what he himself had
determined to do" (= Sebagian orang
menyalahkan sang nabi karena menghancurkan orang-orang ini dengan menurunkan api
dari langit kepada mereka. Tetapi mereka tidak mempertimbangkan bahwa sama tidak
mungkinnya bagi Elia maupun bagi mereka untuk melakukan hal itu. Hanya Allah
yang bisa mengirimkan api itu; dan karena Ia itu adil / benar dan baik, maka Ia
tidak akan menghancurkan orang-orang ini seandainya di sana tidak ada alasan
yang cukup untuk membenarkan tindakan itu. ... Tidak ada permohonan dari Elia
yang bisa menyebabkan / membujuk Allah untuk melakukan suatu tindakan yang
salah. ... Allah hanya memimpinnya untuk mengumumkan pada peristiwa-peristiwa
ini apa yang Ia sendiri telah tentukan untuk dilakukan) - hal 482.
Adam Clarke juga membela Elia dengan mengatakan bahwa terjemahan
hurufiah dari ay 10,12 tidak mempunyai kata ‘biarlah’ (KJV/RSV/NASB: ‘let’;
NIV: ‘may’). Jadi seharusnya adalah: "Kalau
benar aku abdi Allah, api akan turun dari langit memakan engkau habis
dengan ke 50 anak buahmu".
Adam
Clarke: "This
is the literal meaning of the original; and by it we see that Elijah’s words
were only declarative, and not imprecatory"
(= Ini adalah arti hurufiah dari kata bahasa aslinya; dan dari hal ini kita
melihat bahwa kata-kata Elia hanya merupakan pernyataan, dan bukan suatu doa
untuk mendatangkan kutukan / bencana)
- hal 482.
Tetapi
salah satu penafsir dari Pulpit Commentary menentang pandangan Adam Clarke ini.
Ia berpendapat bahwa Elia memang meminta api turun dari langit, dan bahwa Tuhan
mengabulkan permintaan itu menunjukkan bahwa Elia tidak bersalah.
Pulpit
Commentary: "The
LXX render, KATABESETAI PUR - ‘fire will come down;’ and so some moderns,
who are anxious to clear the prophet of the charge of cruelty and
bloodthirstiness which have been brought against sin. But there is no need of
altering the translation. Elijah undoubtedly ‘commanded fire to come down from
heaven’ (Luke 9:54), or, in other words, prayed to God that it might come
down, and in answer to his prayer the fire fell. ... He had no power of himself
to do either good or harm. He could but pray to Jehovah, and Jehovah, in his
wisdom and perfect goodness, would either grant or refuse his prayer. If he
granted it, the punishment inflicted would not be Elijah’s work, but his. To
tax Elijah with cruelty is to involve God in the charge. God regarded it as a
fitting time for making a signal example, and, so regarding it, he inspired a
spirit of indignation in the breast of his prophet, who thereupon made the
prayer which he saw fit to answer" (=
LXX / Septuaginta menterjemahkan KATABESETAI PUR - ‘api akan turun’; dan
dengan demikian beberapa orang modern, yang sangat ingin untuk membersihkan sang
nabi dari tuduhan kekejaman dan kehausan akan darah yang telah dibawanya
terhadap dosa. Tetapi tidak diperlukan suatu perubahan terjemahan. Tidak
diragukan bahwa Elia ‘memerintahkan api turun dari langit’ (Luk 9:54), atau
dengan kata lain, berdoa kepada Allah supaya api turun, dan sebagai jawaban
terhadap doanya api turun. ... Ia tidak mempunyai kuasa dari dirinya sendiri
untuk melakukan yang baik ataupun yang buruk. Ia hanya bisa berdoa kepada
Yehovah, dan Yehovah, dalam hikmat dan kebaikanNya yang sempurna, akan
mengabulkan atau menolak doanya. Jika Ia mengabulkannya, hukuman yang
diberikan bukanlah pekerjaan Elia, tetapi pekerjaanNya. Menuduh Elia dengan
kekejaman berarti melibatkan Allah dalam tuduhan itu. Allah menganggapnya
sebagai saat yang tepat untuk membuat contoh tanda, dan karena Ia beranggapan
demikian, Ia mengilhamkan roh kemarahan dalam dada dari nabiNya, yang lalu
menaikkan doa yang Ia anggap cocok untuk dijawab)
- hal 3.
Pulpit Commentary: "These hundred men,
messengers from the king, were struck down by Elijah at the command of God.
There was no personal vengeance in the act. Elijah was used as the organ of
Heaven" (= 100 orang ini, utusan dari
sang raja, dirobohkan oleh Elia atas perintah Allah. Dalam tindakan itu tidak
ada pembalasan dendam pribadi. Elia dipakai sebagai alat dari surga)
- hal 13.
3. Orang-orang yang mengatakan bahwa Elia bertindak dengan semangat
keras dari Perjanjian Lama, dan bahwa tindakannya salah kalau ditinjau dari
sudut Perjanjian Baru, agaknya melupakan adanya tindakan-tindakan keras dalam
Perjanjian Baru, seperti:
o
yang dilakukan oleh
Petrus (atau oleh Allah melalui Petrus) terhadap Ananias dan Safira (Kis
5:1-11).
o
yang dilakukan oleh
Allah terhadap Herodes (Kis 12:20-23).
o
yang dilakukan oleh
Paulus (atau oleh Allah melalui Paulus) terhadap Elimas / Baryesus (Kis
13:6-11).
d. Pengabulan doa Elia yang meminta api turun dari langit ini
menunjukkan pertolongan dan perlindungan Tuhan kepada nabi / anakNya. Karena itu
orang kristen / hamba Tuhan, asal dirinya tidak salah, tidak perlu takut
menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar. Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah
ini:
2Raja 6:16 - "Jawabnya:
‘Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai
mereka’" (Catatan:
jika ingin lebih jelas baca 2Raja 6:15-18).
Maz
34:8 - "Malaikat TUHAN berkemah di
sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka".
Ro 8:31b - "Jika Allah di
pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?".
3. Perwira ketiga dengan 50 anak buahnya (ay 13-15).
Jelas
bahwa perwira ketiga ini sudah mendengar tentang nasib dari ke 2 perwira yang
terdahulu dengan anak buahnya, dan karena itu ia datang kepada Elia dengan
hormat dan dengan merendahkan diri.
Sikap
hormat dan merendahkan diri dari perwira ketiga ini menyebabkan Elia tidak
meminta api turun dari langit lagi, dan Tuhan memerintahkan Elia untuk tidak
takut, dan pergi bersama perwira ketiga itu menghadap raja. Ini menunjukkan:
a. Tuhan menghendaki orang menghormati hambaNya.
Peristiwa
ini, dan juga peristiwa penghukuman mati kedua perwira terdahulu dengan 100 anak
buahnya, menunjukkan bahwa Tuhan menghendaki hormat kepada hambaNya. Sikap tidak
hormat kepada hamba Tuhan identik dengan sikap tidak hormat kepada Tuhan (bdk.
Bil 12:1-10, khususnya ay 8nya; Luk 10:16).
b.
Selama ini, termasuk dalam meminta api turun dari langit tadi, Elia memang
bertindak sesuai dengan pimpinan dari Tuhan.
Adam
Clarke: "This
is an additional proof that Elijah was then acting under particular
inspirations: he had neither will nor design of his own. He waited to know the
counsel, declare the will, and obey the command, of God"
(= Ini merupakan bukti tambahan bahwa pada saat itu Elia bertindak di bawah
ilham-ilham khusus: ia tidak mempunyai kehendak atau rencana dari dirinya
sendiri. Ia menunggu untuk mengetahui rencana, menyatakan kehendak, dan mentaati
perintah, dari Allah) -
hal 482.
III. Elia
menemui Ahazia.
1. Elia menuruti perintah Tuhan, dan ia ikut bersama dengan perwira
yang ketiga itu untuk menemui Ahazia.
Ada
penafsir yang mengatakan bahwa mungkin sekali Elia ikut dan menghadap ini dalam
keadaan diborgol. Saya berpendapat bahwa ini adalah penafsiran bodoh yang sama
sekali tidak sesuai dengan kontex, dimana terlihat dengan jelas dalam seluruh
kontex ini bahwa Tuhan menjaga martabat / kewibawaan dari hambaNya (Catatan:
dalam kontex lain, bisa saja seorang hamba Tuhan diborgol).
Juga
kata ‘menghadap’ yang digunakan oleh Kitab Suci Indonesia rasanya agak
terlalu meninggikan Ahazia dan merendahkan Elia. Terjemahan sebenarnya adalah:
‘Dan ia bangun dan pergi dengannya kepada raja’.
Memang
sebetulnya kedudukan hamba Tuhan adalah sangat tinggi di hadapan Tuhan, lebih
tinggi dari seorang raja.
Untuk
menggambarkan tingginya kedudukan seorang pengkhotbah, ada orang yang
mengatakan:
2. Elia dan Ahazia.
a. Perbandingan Elia dan Ahazia.
Ada
penafsir yang membandingkan Ahazia, yang adalah raja duniawi, tetapi dalam
keadaan sakit, takut mati, hidup dalam kegelapan berhala, dengan Elia, yang
sekalipun miskin (terlihat dari pakaian sederhana yang ia pakai - ay 8), tetapi
saleh, mendapat firman dari Tuhan dan dengan wibawa yang luar biasa
menyampaikannya kepada Ahazia (ay 3,4,6,16).
Pulpit
Commentary: "Which
is the better, do you think - a throne or a godly character? Fools only prefer
the former; the man of sense, thoughtfulness, and reflection would say the
latter" (= Menurutmu yang mana yang
lebih baik, sebuah takhta atau karakter / sifat yang saleh? Hanya orang tolol
memilih yang pertama; orang yang mempunyai akal yang sehat, penuh pertimbangan
dan pemikiran akan memilih yang terakhir)
- hal 12.
b.
Elia menyampaikan secara langsung kepada Ahazia Firman Tuhan yang tadi sudah
disampaikannya kepada para utusan Ahazia (ay 16).
c.
Saya berpendapat bahwa ay 17 (kematian Ahazia) tidak terjadi segera setelah Elia
mengucapkan Firman Tuhan itu, karena memang tidak dikatakan bahwa Ahazia
langsung mati setelah mendengar Firman Tuhan.
Kalau memang demikian, berarti setelah Elia menyampaikan Firman
Tuhan, Ahazia membiarkannya pergi. Ini aneh; bukankah tadinya ia mengirim utusan
untuk menangkap Elia? Mengapa sekarang membiarkannya pergi? Memang hati raja
seperti batang air dalam tangan Tuhan dan Ia mengalirkannya kemana Ia mau (Amsal
21:1). Kata-kata Tuhan kepada Elia dalam ay 15 secara implicit menunjukkan bahwa
Tuhan akan menjaga Elia, dan karena itu di sini Tuhan mengatur sehingga Ahazia
tidak menangkap atau membunuh Elia, mungkin dengan memberikan rasa takut karena
mengingat kematian kedua perwiranya dengan 100 anak buahnya.
3. Ahazia mati sesuai dengan nubuat Elia, dan ia digantikan oleh
Yoram, adiknya (ay 17).
Catatan: ada
problem tentang kapan Yoram ini menjadi raja. Kalau kita melihat 1Raja 22:52
2Raja 1:17 2Raja 3:1 2Raja 8:16 maka kelihatannya ada kontradiksi-kontradiksi.
Tetapi ini tidak akan saya bahas di sini, tetapi dalam seri ‘ELISA’, dalam
pembahasan 2Raja 3:1-dst.
Penutup.
Semua orang berdosa harus
memikirkan bahwa lambat atau cepat mereka semua akan mati seperti Ahazia ini.
Bagaimana mempertanggungjawabkan dosa-dosanya, kalau tidak mempunyai Yesus
sebagai Juruselamat?
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali