Pelayanan
Elia
oleh:
Pdt. Budi Asali MDiv.
I
RAJA-RAJA 22:1-54 (3)
I. Tetap berperang sekalipun
dilarang (ay 29).
Yosafat tetap maju berperang
sekalipun nabi Tuhan sudah melarangnya (ay 29). Mengapa? Ada banyak kemungkinan
alasan yaitu:
1. Karena tadi ia sudah berjanji kepada Ahab untuk ikut berperang
(ay 4), sehingga sekarang ia malu untuk menarik kembali kata-katanya.
Kalau
ini alasannya, maka sebetulnya ia harus lebih mau menjilat ludahnya sendiri dari
pada menentang Tuhan.
2.
Hubungannya dengan Ahab (2Taw 18:1 - besan) menyebabkan ia tidak bisa membiarkan
Ahab pada waktu Ahab memerlukan bantuannya.
Kalau
ini alasannya, maka ia sebetulnya harus mengutamakan Tuhan di atas siapapun
juga. Bdk. Mat 10:37.
3. Ia
takut dianggap sebagai pengecut kalau batal berperang karena adanya nubuat
Mikha.
Ini
jelas adalah alasan tolol, karena ia lebih senang dianggap berani terhadap
Tuhan.
4. Ia
juga takut terhadap ancaman dari Syria / Aram. Jadi, mumpung sekarang ada teman
untuk bersama-sama memerangi mereka, maka ia melakukannya.
Kalau
ini alasannya, maka itu berarti ia sudah bersandar kepada manusia, bukan kepada
Tuhan. Ia seharusnya belajar dari kata-kata Yonatan dalam 1Sam 14:6.
5.
Semua orang termasuk anak buahnya lebih setuju pada suara nabi-nabi palsu yang
banyak dari pada pada suara Mikha.
Sebetulnya
bukan saja ia tidak boleh ikut-ikutan pada orang banyak, tetapi juga bahwa dalam
hal ini akal sehat bisa menentukan siapa di antara 400 nabi-nabi itu dan Mikha
yang harus dicurigai sebagai nabi palsu.
Pulpit
Commentary: "Ahab’s
prophets were interested in their testimony. They enjoyed the patronage of the
king, and they said what they knew would gratify him. Their testimony,
therefore, is open to suspicion. ... Micaiah, on the contrary, had nothing to
gain, but everything to lose, in taking his course. He knew the temper of the
king. ... He had already suffered for his faithfulness, for he seems to have
been brought from the custody of Amon, in whose prison he had probably lain for
three years. By flattering Ahab he might now obtain release, but by taking an
opposite course he could only expect to go back to jail. ... Should the king of
Israel now ‘return in peace’ what may Micaiah expect? ... Nothing but the
consciousness that he was uttering the truth of God could account for the son of
Imlah deliberately encountering all this. ... Suspicion, therefore, as to the
honesty of Micaiah is out of the question"
(= Nabi-nabi Ahab mendapat keuntungan dari kesaksian mereka. Mereka menikmati
perlindungan / dukungan dari raja, dan mereka mengatakan apa yang mereka ketahui
akan memuaskan / menyenangkannya. Karena itu, kesaksian mereka terbuka terhadap
kecurigaan. ... Sebaliknya, Mikha tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, tetapi
kehilangan segala-galanya, pada waktu menempuh jalannya. Ia mengenal watak sang
raja. ... Ia telah menderita untuk kesetiaannya, karena ia kelihatannya dibawa
dari tahanan Amon, dalam penjara siapa ia mungkin telah berada selama 3 tahun.
Dengan menjilat Ahab mungkin sekarang ia bisa mendapatkan pembebasan, tetapi
dengan mengambil jalan yang bertentangan ia hanya bisa mengharapkan untuk
kembali ke penjara. ... Seandainya raja Israel kembali dengan selamat, apa yang
diharapkan oleh Mikha? ... Tidak ada suatu apapun, kecuali bahwa ia sedang
mengucapkan kebenaran Allah, bisa menerangkan mengapa Mikha bin Yimla secara
sengaja melakukan konfrontasi ini. ... Karena itu, berkenaan dengan kejujuran
Mikha, sama sekali tidak mungkin ada kecurigaan) - hal 549.
Selalu
ada banyak alasan untuk tidak mentaati Firman Tuhan, tetapi berapapun banyaknya
alasan untuk tidak taat, ketidaktaatan pada Firman Tuhan tetap adalah dosa.
Tidak
ada gunanya ingin tahu kehendak Tuhan (ay 5,7), kalau toh dilanggar / tidak
ditaati. Banyak orang seperti ini, dimana mereka mau belajar Firman Tuhan /
mencari kehendak Tuhan, tetapi tidak mau melaksanakannya.
II. Perang
melawan Aram (ay 30-33).
1. Ahab menyamar (ay 30).
a. Alasan menyamar.
Beberapa penafsir mengatakan bahwa rupanya Ahab mendengar rencana
dari raja Aram dalam ay 31, sehingga ia maju ke medan perang dengan menyamar.
Tetapi
Keil & Delitzsch (hal 279) mengatakan bahwa Ahab tidak tahu akan rencana
raja Aram itu. Pulpit Commentary juga menganggap bahwa tidak mungkin ada
mata-mata Israel yang bisa mengetahui perintah dalam ay 31 itu dan juga tidak
mungkin ada pengkhianat di kalangan Aram yang mau menyampaikan berita itu kepada
Ahab. Ahab menyamar, karena nubuat Mikha membuatnya takut. Jadi, sekalipun
kata-katanya dalam ay 27 (’sampai aku pulang dengan selamat’) menunjukkan
ketidakpercayaannya terhadap nubuat Mikha, bagaimanapun juga hatinya merasa
was-was, dan ini menyebabkan ia menyamar.
Penerapan:
Ini perlu kita camkan dan manfaatkan pada waktu kita menghadapi orang yang
menyatakan ketidakpercayaannya / ketidakpeduliannya terhadap Tuhan / Firman
Tuhan. Jangan terlalu percaya akan ketidakpercayaannya / ketidakpeduliannya
terhadap Tuhan / Firman Tuhan, dan teruslah memberitakan Injil kepadanya.
Mungkin
sebetulnya Ahab ingin absen saja dari peperangan, dan hanya menyuruh tentaranya
dan Yosafat untuk berperang. Tetapi ia tidak bisa tidak ikut perang, kalau ia
tidak ingin dianggap sebagai pengecut. Apalagi peperangan ini terjadi atas
inisiatifnya sendiri (ay 3-4). Juga perlu diingat bahwa sejak semula Israel
menghendaki raja supaya raja itu bisa memimpin dalam perang (1Sam 8:20).
b.
Cara penyamaran (ay 30).
Ahab
menyamar, dalam arti ia tidak memakai pakaian kebesaran / pakaian raja, dan ia
berkata kepada Yosafat: ‘tetapi engkau,
pakailah pakaian kebesaranmu’ (ay 30).
Dalam
LXX / Septuaginta: ‘pakailah pakaian kebesaranku’.
Tetapi
ini merupakan permintaan yang sangat tidak masuk akal, dan lebih tidak masuk
akal lagi kalau Yosafat mau menuruti permintaan itu. Perlu diperhatikan bahwa ay
10 menunjukkan bahwa raja Yosafat mempunyai pakaian kebesarannya sendiri.
Pulpit
Commentary: "by
his disguise Ahab, unwittingly, helped the prophecy. ... Suppose Ahab had been
in Jehoshaphat’s place, and had fallen into the hands of the captains, what
would have become of the words of Elijah?"
[= oleh penyamarannya, tanpa disadarinya Ahab membantu nubuat itu. ... Andaikata
Ahab ada di tempat Yosafat, dan ia jatuh ke tangan para kapten / panglima
(Aram), apa yang akan terjadi dengan nubuat Elia?]
- hal 552.
Penjelasan:
penafsir ini menganggap bahwa kata-kata ‘di tempat’ dalam 1Raja 21:19
menunjuk pada ‘Samaria’. Kalau Ahab jatuh ke tangan para panglima Aram,
pasti ia tidak akan mati di Samaria, tetapi mungkin di Aram / Syria. Dan ini
berarti nubuat Elia jadi salah / tak tergenapi.
2. Instruksi raja Aram (ay 31).
Maksudnya
dalam perang itu Ahab haruslah dijadikan tujuan utama serangan mereka. Mungkin
kekalahannya dahulu membuatnya mendendam terhadap Ahab. Segala ‘kebaikan /
kemurahan hati’ Ahab kepadanya sama sekali tidak diingatnya.
Matthew
Poole: "this
he ordered either in policy, truly supposing this to be the best way to put an
end to the war; or with design to take him prisoner, that thereby he might wipe
out the stain of his own captivity, and recover the honour and advantage which
then he lost; or rather by the power and providence of God, which disposeth the
hearts of kings as he pleaseth, and inclined them to this course, that they
might, though ignorantly, accomplish his word and counsel"
(= ini diperintahkannya atau sebagai suatu kebijaksanaan / siasat, dimana ia
betul-betul menganggap bahwa ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri
peperangan; atau dengan rencana untuk menjadikannya tawanan, sehingga dengan itu
ia bisa menghapus noda dari penawanan terhadap dirinya sendiri, dan memulihkan
kehormatan dan keunggulan yang hilang darinya pada saat itu; atau lebih mungkin
oleh kuasa dan providensia Allah, yang mengatur / mencondongkan hati dari
raja-raja sekehendakNya, dan mencondongkan mereka pada jalan ini, supaya mereka,
sekalipun tanpa sepengetahuan mereka, bisa mengerjakan firman dan rencanaNya)
- hal 714.
Saya tidak setuju dengan kemungkinan ketiga yang diberikan oleh
Poole, karena Ahab akhirnya mati bukan karena perintah raja Aram dalam ay 31
ini, tetapi karena seseorang yang memanah secara sembarangan (ay 34).
3.
Yosafat hampir jadi korban (ay 32-33).
Karena
Yosafat memakai pakaian kebesaran, maka tentara Aram mengira bahwa ia adalah
Ahab, dan mereka menyerang dia. Teriakan Yosafat, yang rupanya merupakan
teriakan kepada Allah / doa menyebabkan Allah menolongnya dengan membuat tentara
Aram menyadari bahwa itu bukanlah Ahab sehingga mereka undur dari padanya (2Taw
18:31).
III.
Penggenapan nubuat / Firman Tuhan.
1. Ay 34:
Mula-mula
kelihatannya Ahab sukses dengan taktik penyamarannya itu. Tetapi lalu terjadi ay
34 yang menghancurkan kesuksesannya itu.
Ada
tradisi yang mengatakan bahwa pemanah ini adalah Naaman (bdk. 2Raja 5:1-dst),
tetapi ini adalah anggapan yang tidak berdasar.
Ay 34:
‘menembak dengan sembarangan’.
KJV/RSV:
‘drew a bow at a venture’
(= menarik busurnya secara untung-untungan).
NIV/NASB:
‘drew his bow at random’
(= menarik busurnya secara sembarangan).
Catatan:
Kata bentuk jamaknya muncul dalam 2Sam 15:11 dan dalam Kitab Suci Indonesia
diterjemahkan ‘tanpa curiga’.
NIV: ‘quite
innocently’ (= dengan tak bersalah).
NASB: ‘innocently’
(= dengan tak bersalah).
KJV/RSV:
‘in their simplicity’
(= dalam kesederhanaan mereka).
Pulpit
Commentary: "An
unknown, unconscious archer. The arrow that pierced Ahab’s corselet was shot
‘in simplicity,’ without deliberate aim, with no thought of striking the
king. It was an unseen Hand that guided that chance shaft to its destination. It
was truly ‘the arrow of the Lord’s vengeance.’"
(= Seorang pemanah yang tak dikenal, dan yang tak menyadari tindakannya. Panah
yang menusuk pakaian perang Ahab ditembakkan ‘dalam kesederhanaan’, tanpa
tujuan yang disengaja, dan tanpa pikiran untuk menyerang sang raja. Adalah
Tangan yang tak kelihatan yang memimpin panah kebetulan itu pada tujuannya. Itu
betul-betul merupakan ‘panah pemba-lasan Tuhan’)
- hal 545.
Pulpit
Commentary: "how
useless are disguises when the providence of Omniscience is concerned! Ahab
might hide himself from the Syrians, but he could not hide himself from God.
Neither could he hide himself from angels and devils, who are instruments of
Divine Providence, ever influencing men, and even natural laws, or forces of
nature" (= betapa tidak bergunanya
penyamaran pada waktu providensia dari Yang Mahatahu yang dipersoalkan! Ahab
bisa menyembunyikan dirinya dari orang Aram, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan
dirinya dari Allah. Ia juga tidak bisa menyembunyikan dirinya dari malaikat dan
setan, yang merupakan alat-alat dari Providensia Ilahi, yang selalu mempengaruhi
manusia, dan bahkan hukum-hukum alam, atau kuasa / kekuatan alam)
- hal 552.
Pulpit Commentary: "The chance shot. The
success of Ahab’s device only served to make the blow come more plainly from
the hand of God. Ben-hadad’s purpose could be baffled, but not His. There is
no escape from God" (= Tembakan
kebetulan. Sukses dari muslihat Ahab hanya berfungsi untuk membuat kelihatan
dengan lebih jelas bahwa serangan itu datang dari tangan Allah. Tujuan / rencana
Benhadad bisa digagalkan / dihalangi, tetapi tidak tujuan / rencanaNya. Tidak
ada jalan untuk lolos dari Allah) - hal 557.
Ini menunjukkan bahwa tidak ada ‘kebetulan’. Semua yang
kelihatannya merupakan kebetulan, diatur oleh Allah.
Ay 34: ‘sambungan baju zirah’.
Di
bagian depan ada 2 tempat yang memungkinkan yaitu: dada atas dekat dengan leher,
atau perut. Kalau tempat pertama yang terkena, mungkin sekali ia akan langsung
mati. Bahwa ia masih bisa berbicara (ay 34b), menunjukkan bahwa rupanya ia
terkena panah di perut.
2. Ay
35-38:
a. Ay 35a: Pertempuran yang makin seru menyebabkan permintaan Ahab
untuk keluar dari medan perang dalam ay 34b tidak bisa dituruti. Saya percaya
bahwa ini juga merupakan pengaturan dari Allah, supaya Ahab tidak bisa mendapat
pertolongan, dan mati di medan perang itu.
b. Ay
35b: Ahab ditopang untuk tetap berdiri supaya tentaranya tidak kecil hati.
c. Ay
36-37: rupanya ini adalah teriakan untuk menghentikan perang, karena Ahab sudah
mati.
Dalam
1Raja 20 Israel menang melawan Aram. Dalam 1Raja 22 Israel yang dibantu oleh
Yehuda / Yosafat kalah melawan Aram! Jelas bahwa faktor Tuhanlah yang menentukan
menang atau kalah.
d. Ay
35-38:
Pulpit
Commentary: "The
prophecies of Elijah and Micaiah seem to be in conflict. The one speaks of the
dogs licking the blood of Ahab at ‘Samaria;’ the other of Ahab falling at
‘Ramoth-Gilead.’ Who but God could so order events that there should be no
conflict here?" (= Nubuat-nubuat dari
Elia dan Mikha kelihatannya bertentangan. Yang satu berkata tentang anjing yang
menjilat darah Ahab di ‘Samaria’; yang lain tentang Ahab jatuh di
‘Ramot-Gilead’. Siapa kecuali Allah bisa mengatur kejadian-kejadian sehingga
tidak ada pertentangan di sini?)
- hal 553.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah: apakah Ramot-Gilead, yang
termasuk wilayah Manasye, tidak termasuk pada ‘Samaria’?
e. Ay
38: ‘sedang perempuan-perempuan sundal mandi di tempat itu’.
KJV: ‘and
they washed his armour’ (= dan mereka
mencuci senjatanya).
Footnote
NIV: ‘and cleaned the weapons’
(= dan membersihkan senjata).
Pulpit
Commentary menolak terjemahan ini dengan alasan bahwa kata Ibraninya selalu
diterjemahkan ‘perempuan sundal’ dalam Perjanjian Lama.
f. Ay 38 akhir: ‘sesuai dengan firman TUHAN yang telah
diucapkanNya’.
Ini
kelihatannya tidak menunjukkan bahwa ini adalah hukuman yang baru, setelah yang
lama dibatalkan. Kelihatannya ini adalah hukuman yang lama, yang diucapkan
dengan perantaraan Elia dalam 21:19. Lalu mengapa tempat kejadian tidak sesuai
dengan 21:19? Ada bermacam-macam jawaban:
1. Matthew Poole (hal 711) mengatakan bahwa kata Ibrani yang
diterjemahkan ‘di tempat’ [NIV: ‘in
the place where’ (= ‘di tempat
dimana’)] dalam 1Raja
21:19, bisa diterjemahkan:
o
‘instead of this that’
(= bukannya ini tetapi itu),
yang justru menunjukkan bahwa itu akan terjadi di tempat lain.
o
‘because that’
(= karena), yang tidak menunjukkan tempat, tetapi penyebab dari terjadinya
hal itu.
2. Ada penafsir yang beranggapan bahwa darah Nabot juga dijilati
anjing di telaga Samaria. Jadi dengan terjadinya ay 38 ini tergenapilah nubuat
Elia dalam 21:19.
Keberatan:
Matthew Poole (hal 710) mengatakan bahwa Yizreel termasuk wilayah Isakhar,
sedangkan telaga Samaria termasuk wilayah Efraim. Bagaimana mungkin darah Nabot
dijilati anjing di telaga Samaria, yang termasuk wilayah Efraim, sedangkan ia
dibunuh di Yizreel, yang termasuk wilayah Isakhar?
Jawab:
Ahab mati di Ramot-Gilead, yang termasuk wilayah Manasye, tetapi darahnya bisa
dijilati anjing di telaga Samaria, yang termasuk wilayah Efraim. Kalau hal
seperti ini bisa terjadi pada diri Ahab, mengapa tidak bisa terjadi pada diri
Nabot?
3. ‘Di tempat’ (21:19) maksudnya ‘Samaria’ (Matthew Poole
hal 710). Ini memang memungkinkan, karena kontex dari 21:19 memang adalah
Samaria (perhatikan 21:18).
4. Nubuat Elia itu digenapi khususnya dalam diri anak Ahab yang
bernama Yoram (2Raja 9:24-26), yang darahnya bisa dikatakan sebagai darah Ahab
(Matthew Poole hal 710-711).
2Raja
9:24-26 - "Tetapi Yehu menarik busurnya
dengan sepenuh kekuatannya, lalu memanah Yoram di antara kedua bahunya, sehingga
anak panah itu menembus jantungnya, maka rebahlah ia di dalam keretanya.
Kemudian berkatalah Yehu kepada Bidkar, perwiranya: ‘Angkat dan lemparkanlah
mayatnya ke kebun Nabot, orang Yizreel itu, sebab ketahuilah, bahwa pada waktu
aku dan engkau berdampingan menunggang kuda mengikuti Ahab, ayahnya, maka TUHAN
telah mengucapkan terhadap dia hukuman ini: Sesungguhnya, Aku telah melihat
darah Nabot dan darah anak-anaknya tadi malam, demikianlah firman TUHAN, maka
Aku akan membalaskannya kepadamu di kebun ini, demikianlah firman TUHAN. Oleh
sebab itu angkat dan lemparkanlah mayatnya ke kebun ini sesuai dengan firman
TUHAN".
Keberatan: 1Raja 21:19 - ‘darahmu’.
KJV: ‘thy
blood, even thine’ (= darahmu, bahkan
darahmu).
NASB:
‘your blood, even yours’
(= darahmu, bahkan darahmu).
NIV: ‘your
blood - yes, yours!’ (= darahmu - ya,
darahmu).
Lit: ‘your
blood, also you’ (= darahmu, juga engkau).
Bagian
ini kelihatannya menekankan bahwa yang dimaksud oleh nubuat Elia itu betul-betul
adalah darah Ahab sendiri, bukan darah anak Ahab.
Jawab:
mula-mula memang begitulah hukuman itu, tetapi karena pertobatan Ahab maka
hukuman itu ‘ditransfer’ kepada anaknya. Ini tidak berarti bahwa anaknya
dihukum karena dosa ayahnya (bdk. Yeh 18:20). Anaknya juga jahat (2Raja 3:2-3),
dan layak mendapatkan hukuman itu.
Keberatan:
tetapi 22:38 ini mengatakan bahwa nubuat Elia itu digenapi dengan kematian Ahab
sendiri.
Jawab:
ini digenapi hanya sebagian dalam diri Ahab, karena sebetulnya bagian nubuat
yang berhubungan dengan Ahab sudah dibatalkan karena pertobatan Ahab, tetapi
karena dosa Ahab dalam 1Raja 22 maka hukuman itu diberlakukan lagi, tetapi
tempatnya berbeda.
Pulpit
Commentary: "The
dogs licked Ahab’s blood (ch. 21:19), not in Jezreel, indeed, because the
judgment then pronounced was that of the overthrow of the dynasty. This was
delayed on account of Ahab’s repentance, and happened, as predicted, ‘in his
son’s days’ (ch. 21:29). But the personal part of the prediction, ‘The
dogs shall lick thy blood, even thine,’ was not revoked"
[= Anjing-anjing menjilati darah Ahab (pasal 21:19), memang bukan di Yizreel,
karena penghakiman yang diucapkan pada saat itu adalah kejatuhan dari dinasti.
Ini ditunda karena pertobatan Ahab, dan terjadi seperti diramalkan, ‘dalam
zaman anaknya’ (pasal 21:29). Tetapi bagian pribadi dari ramalan itu,
‘Anjing-anjing akan menjilati darahmu, bahkan darahmu’ tidak dicabut /
ditarik kembali] - hal
557-558.
5.
Gabungan dari point 3 dan point 4 di atas.
Pulpit
Commentary: "But
were not the words of Elijah ‘In the place where the dogs licked the blood of
Naboth’ (viz., Jezreel) ‘shall dogs lick thy blood, even thine’? But the
context there, the vineyard of Naboth is said to be in Samaria (see ch.
21:18,19), because Jezreel, like Bethel, was one of the ‘cities of
Samaria’ (see ch. 13:32). In the very vineyard of Naboth did the blood of Ahab
flow from the veins of his son (see 2Kings 9:25,26)"
[= Tetapi bukankah kata-kata Elia ‘di tempat dimana anjing menjilat darah
Nabot’ (yaitu Yizreel) ‘anjing akan menjilat darahmu, bahkan darahmu’?
Tetapi kontex di sana, kebun anggur Nabot dikatakan ada di Samaria (lihat
pasal 21:18,19), karena Yizreel, seperti Betel, adalah salah satu dari
‘kota-kota Samaria’ (lihat pasal 13:32). Persis di kebun anggur Nabot darah
Ahab mengalir dari pembuluh darah anaknya (lihat 2Raja 9:25,26)]
- hal 553.
Saya
setuju dengan penafsiran no 4.
g. Kematian Ahab menggenapi 3 nubuat, yaitu nubuat oleh nabi dalam
20:42, nubuat Elia dalam 21:19, dan nubuat Mikha dalam 22:17,19-23.
IV. Kematian
dan prestasi duniawi Ahab (ay 38-39).
1. Ay 39: ‘istana gading dan segala kota yang didirikannya’.
Barnes’
Notes: "the
fact is important as indicating the general prosperity of the country in his
time, ... Prosperity, it is plain, may for a while co-exist with causes - such
as, the decay of religion - which are sapping the vital power of a nation, and
leading it surely, if slowly, to destruction"
[= fakta ini penting karena menunjukkan kemakmuran secara umum dari negara itu
pada jamannya, ... Adalah jelas bahwa kemakmuran untuk sementara bisa ada
bersama-sama dengan penyebab-penyebab yang melemahkan kekuatan vital dari bangsa
(seperti pembusukan agama), dan membawanya secara pasti, sekalipun secara
lambat, kepada kehancuran]
- hal 224.
Ini berlaku bukan hanya untuk suatu negara / bangsa tetapi juga
untuk gereja, keluarga, individu! Karena itu suatu gereja / keluarga / individu
bisa saja bobrok dalam kerohanian, tetapi makmur dalam keuangan!
2. Ay
38-39.
Menghubungkan
ay 38 dengan ay 39, Pulpit Commentary memberikan komentar sebagai berikut: "And
this ignominious death - in what sharp contrast it stands with the indolent,
luxurious, sensual life! ‘The ivory house that he made,’ what an irony we
may see in those words! ... The cities he built, the victories he won, how poor
and empty do these exploits seem as we stand by the pool of Samaria, and see the
livid, blood-stained corpse dragged from the chariot"
(= Dan kematian yang memalukan ini, sangat kontras dengan kehidupan yang malas,
mewah, dan menuruti hawa nafsu! ‘Rumah / istana gading yang dibuatnya’ -
kita bisa melihat dalam kata-kata ini suatu ironi / ejekan! ... Kota-kota yang
didirikannya, kemenangan-kemenangan yang dimenangkannya, alangkah miskin dan
kosong kelihatannya hal-hal yang luar biasa ini pada waktu kita berdiri di dekat
telaga Samaria, dan melihat mayat yang berwarna biru kehitam-hitaman dan
berlumuran darah ini ditarik / diseret dari kereta)
- hal 546.
Saya berpendapat bahwa yang ditekankan seharusnya bukanlah sekedar
‘kematian yang mengerikan dari Ahab’, tetapi ‘kematian yang mengerikan
dari Ahab sebagai hukuman dari Tuhan’. Perlu diingat bahwa:
a. Kematian yang mengerikan belum tentu merupakan hukuman Tuhan.
b. Kematian yang tenang tetap bisa merupakan hukuman Tuhan.
Orang
kaya yang bodoh dalam Luk 12:16-21 dan juga orang kaya dalam Luk 16:19-31
kelihatannya mengalami kematian biasa (tidak mengerikan), tetapi itu tetap
merupakan hukuman Tuhan.
Jadi,
dalam kasus Ahab, yang ditekankan adalah ‘kematian yang mengerikan sebagai
hukuman Tuhan’. Apa artinya semua prestasi duniawi, kekayaan, dsb, kalau
akhirnya ia mengalami kematian yang mengerikan sebagai hukuman Tuhan, dan lalu
masuk ke neraka?
Karena
itu:
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali