Pelayanan
Elia
oleh:
Pdt. Budi Asali MDiv.
I
RAJA-RAJA 22:1-54 (2)
I. Yosafat minta petunjuk
Tuhan.
1. Sebelum berperang Yosafat minta petunjuk Tuhan lebih dulu (ay
5).
Ini
bagusnya Yosafat; ia masih menginginkan petunjuk Tuhan. Tetapi kesalahannya
adalah bahwa ia sudah menyanggupi untuk ikut berperang (ay 4), dan baru sesudah
itu ia menanyakan kehendak Tuhan.
2.
Ahab lalu mengumpulkan 400 nabi-nabinya (ay 6).
Ada
yang mengatakan bahwa 400 nabi di sini adalah nabi-nabi Asyera (bdk. 1Raja
18:19), yang tidak ikut hadir dalam pertemuan dengan Elia di gunung Karmel,
sehingga tidak ikut dibasmi.
Tetapi Keil & Delitzsch (hal 274) menganggap bahwa nabi-nabi
ini bukan nabi-nabi Baal maupun Asyera. Alasannya:
Tetapi mereka jelas juga bukan nabi-nabi Tuhan yang asli.
Perhatikan bahwa dalam ay 23 Mikha berbicara kepada Ahab dan menyebut nabi-nabi
itu sebagai ‘semua nabimu’.
Ini adalah nabi-nabi Tuhan yang menyembahNya melalui patung sapi jantan (bdk. ay
11), dan bernubuat tanpa panggilan dari Allah.
Pulpit
Commentary memperjelas dengan mengatakan bahwa ini adalah imam-imam dari
bukit-bukit pengorbanan di Betel dan Dan, penerus dari mereka yang diangkat
sebagai imam oleh Yerobeam (1Raja 12:25-33, khususnya perhatikan 1Raja
12:28-29,31,32b).
3.
Nubuat dari nabi-nabi palsu itu (ay 6b-12).
a. Waktu Ahab bertanya kepada mereka, nabi-nabi palsu itu menjawab
/ bernubuat: ‘Majulah! Tuhan (ADONAI)
akan menyerahkannya ke dalam tangan raja’
(ay 6).
Ini adalah:
Memang salah satu ciri nabi palsu adalah: nubuat / ajarannya
menyenangkan orang (Yer 23:16-17 Yer 8:10b-11 2Tim 4:3-4).
Clarke mengomentari kata-kata ‘Tuhan
/ TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja’
(ay 6,12), dan berkata bahwa
sebetulnya kata ‘nya’
itu tidak ada dalam bahasa aslinya.
Jadi kata-kata dalam ay 6,12 itu bisa berarti:
o
Tuhan / TUHAN akan
menyerahkan Ramot-Gilead ke dalam tangan raja Israel.
o
Tuhan / TUHAN akan
menyerahkan Israel ke dalam tangan raja Aram.
Catatan:
terjemahan hurufiah dari ay 12 adalah: ‘Majulah
ke Ramot-Gilead, dan menanglah! TUHAN akan menyerahkan ke dalam tangan raja’.
Jadi nubuat inipun tak menjamin apa-apa.
Clarke
mengatakan bahwa arti ganda ini sengaja dilakukan supaya apapun yang terjadi
nubuat itu tetap benar, dan kewibawaan nabi-nabi palsu itu tetap terjaga
(Catatan: tetapi perlu juga dilihat bahwa dalam ay 11 nanti Zedekia tidak
memberikan nubuat dengan arti ganda seperti itu).
Adam
Clarke: "When
prophecies and oracles were not delivered in this dubious way, they were
generally couched in such intricate and dark terms that the assistance of the
oracle was necessary to explain the oracle, and then it was ignotum per
ignotius, a dark saying paraphrased by one yet more obscure"
(= Pada waktu nubuat dan sabda Allah tidak diberikan dengan cara yang meragukan
ini, biasanya mereka dituliskan dalam istilah-istilah yang ruwet /
berbelit-belit dan kabur sehingga dibutuhkan bantuan untuk menjelaskan sabda
Allah itu, dan lalu itu menjadi ignotum per ignotius, suatu kalimat yang kabur
diungkapkan dengan kata-kata lain yang lebih kabur lagi) - hal 475-476.
Saya berpendapat bahwa kata-kata Clarke ini harus sangat
diperhatikan, karena memang kebanyakan nabi palsu melakukan hal-hal yang ia
katakan ini. Seorang pengkhotbah / pengajar seharusnya mengajarkan sedemikian
rupa sehingga tidak ada arti ganda, dan ajarannya bisa dimengerti dengan jelas
dan tidak mungkin disalah-mengerti. Tetapi pada waktu seorang nabi palsu
mengajarkan ajaran sesatnya, biasanya ia berlaku sebaliknya. Tujuannya supaya
kalau diserang, ia bisa berkelit, dan menga-takan bahwa itu bukan maksudnya.
Tanggapan Yosafat terhadap nubuat nabi-nabi palsu dalam ay 6b:
Yosafat minta seorang nabi TUHAN / YAHWEH (ay 7).
Rupanya Yosafat menyadari atau setidaknya mencurigai bahwa
orang-orang ini bukan nabi Tuhan, dan ia lalu menanyakan apakah ada nabi TUHAN.
Ada yang mengatakan bahwa kecurigaan Yosafat itu disebabkan karena nabi-nabi itu
hanya menyebut Adonai, bukan Yahweh (ay 6). Juga karena mereka tidak menggunakan
kata-kata yang biasanya digunakan nabi-nabi yaitu ‘Demikianlah firman TUHAN
(YAHWEH)’.
Penerapan:
Orang
kristen seharusnya juga belajar tentang ciri-ciri pemberitaan firman dari nabi
asli dan nabi palsu. Misalnya untuk jaman sekarang:
Dan kalau seorang kristen tahu bahwa seorang nabi tertentu adalah
nabi palsu, maka kalau ia adalah orang kristen yang nggenah mestinya ia tidak
mau mendengarkan nabi palsu itu (kecuali kalau mendengarkan untuk menyerang).
Karena itu jangan berbakti di gereja yang saudara tahu pengkhotbahnya adalah
nabi palsu.
Banyak orang kristen yang tidak peduli di gereja yang bagaimana ia
berbakti, karena yang penting ia berbakti kepada Tuhan. Perlu saudara pikirkan:
kalau pemberitaan firmannya sesat, itu berarti setan yang berbicara dalam
kebaktian itu. Apakah itu dianggap sebagai kebaktian oleh Tuhan?
Ada
juga orang kristen yang mengatakan bahwa kalau mendengar khotbah, ia akan
membuang yang salah, dan hanya menerima yang benar. Seakan-akan merupakan hal
yang mudah untuk memisahkan racun yang sudah dicampurkan ke dalam makanan!
b.
Bernubuat demi Yahweh (ay 11-12)!
Ada
beberapa hal yang bisa diperhatikan dari bagian ini:
Penerapan:
o
Sikap yang flexible
belum tentu baik! Hati-hatilah dengan pendeta / pengkhotbah yang bersikap
seperti bunglon. Dalam kalangan Kharismatik ia menekankan bahasa roh dan
kesembuhan / mujijat; dalam kalangan Liberal ia merendahkan Kitab Suci; dalam
kalangan Injili ia menekankan ketidak-bersalahan Kitab Suci dan Yesus sebagai
satu-satunya Juruselamat.
o
Jangan terlalu cepat
percaya kepada nabi jaman sekarang sekalipun mereka berdoa, mengusir setan,
melakukan mujijat, menyembuhkan orang, demi nama Yesus. Bdk. Mat 7:22-23
Kis 19:13.
Ia menjadi lembu / banteng dan menubuatkan suatu dusta!
Barnes’
Notes: "The
horn in Scripture is the favourite symbol of power; and pushing with the horn is
a common metaphor for attacking and conquering enemies"
(= Tanduk dalam Kitab Suci merupakan simbol yang favorit tentang kuasa /
kekuatan; dan mendorong dengan tanduk merupakan kiasan yang umum untuk menyerang
dan mengalahkan musuh) -
hal 221.
c. Apakah para nabi palsu itu sendiri percaya pada nubuat mereka?
Barnes’
Notes: "He
may have believed his own words; for the ‘lying spirit’ (v. 22) may have
seemed to him a messenger from Jehovah"
[= Ia (Zedekia) mungkin percaya pada
kata-katanya sendiri; karena ‘roh dusta’ (ay 22) bisa kelihatan olehnya
sebagai utusan dari Yehovah]
- hal 221.
Tetapi
apakah para nabi palsu itu memang yakin akan nubuat mereka? Ada 2 hal yang
meragukan hal ini:
Jawab:
o
ini bisa menunjukkan
bahwa mereka sepakat karena sama-sama ditipu oleh setan / diilhami oleh
pemikiran yang sama dari setan.
o
Disamping itu
perhatikan terjemahan KJV yang memberikan terjemahan hurufiah tentang ay 13 ini.
KJV: ‘the words of the
prophets declare good unto the king with one mouth’
(= kata-kata dari nabi-nabi menyatakan kebaikan bagi raja dengan satu mulut).
Jadi,
ini tidak / belum menunjukkan adanya suatu kesepakatan, tetapi hanya menunjukkan
bahwa kata-kata mereka itu sama.
Jawab:
orang bisa berdusta secara sadar / sengaja maupun secara tidak sadar / tidak
sengaja.
Bahkan kalau kata-kata Clarke di atas itu benar (tentang nubuat
yang berarti ganda), itu tidak menunjukkan bahwa nabi-nabi palsu itu sendiri
yang sengaja memberi arti ganda. Mungkin kelihaian setanlah yang mengilhami
mereka dengan nubuat yang berarti ganda itu.
Jadi ada kemungkinan bahwa para nabi palsu itu betul-betul yakin
akan kebenaran nubuat mereka. Penjelasan tentang ay 25 (lihat point II, 4, c di
bawah) akan lebih mendukung pandangan ini.
II. Mikha bin
Yimla dan nubuatnya.
1. Jawaban Ahab (ay 8).
a. Mikha bin Yimla. Mengapa bukan Elia? Mungkin karena Elia selalu
sembunyi dan sukar dicari.
b.
Kata-kata Ahab ini menyebabkan ada penafsir yang berpendapat bahwa nabi yang
menegur Ahab dalam 1Raja 20:35-43 adalah nabi Mikha ini. Teguran itulah yang
menyebabkan Ahab membenci nabi itu.
c.
Ahab membenci Mikha (ay 8b).
Pulpit Commentary: "Continued
faithfulness, if it may not win, must be repelled and hated. ‘Woe unto you
when all men speak well of you; for so,’ &c."
(= Kesetiaan yang terus menerus, jika itu tidak memenangkan, pasti ditolak dan
dibenci) - hal 557.
Pulpit
Commentary: "‘I
hate him.’ Whom did Ahab hate? Micaiah, the faithful prophet of the Lord ....
Why does Ahab hate Micaiah? ‘For he doth not prophesy good concerning me, but
evil.’ Because he does not falsify the truth of God to flatter me. Because he
does not play the devil to please me, as these four hundred do!"
(= ‘Aku membencinya’. Siapa yang dibenci oleh Ahab? Mikha, nabi yang setia
dari Tuhan. ... Mengapa Ahab membenci Mikha? ‘Sebab tidak pernah ia
menubuat-kan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka’. Karena ia tidak
memalsukan kebenaran Allah untuk menjilat aku. Karena ia tidak melakukan
permainan setan untuk menyenangkan aku, seperti yang dilakukan oleh 400 orang
ini) - hal 547.
Bandingkan dengan Pdt. Bambang Noorsena yang selalu membanggakan
dirinya karena katanya ia diterima oleh orang-orang / tokoh-tokoh Islam (bdk.
Luk 6:22-23,26). Saya hampir yakin bahwa andaikata ia hidup dan melayani pada
jaman Ahab, ia juga akan diterima oleh Ahab! Ini bukanlah sesuatu yang
membanggakan, tetapi menyedihkan!
2. Penekanan terhadap Mikha (ay 13-14).
a. Mikha disuruh menubuatkan seperti nubuat para nabi palsu (ay
13).
b.
Nabi Mikha menolak perintah itu (ay 14).
Ia
hanya memberitahu apa yang betul-betul datang dari Tuhan. Pengkhotbah tidak
boleh membiarkan diri untuk didikte untuk mengatakan apa yang tidak benar!
Penerapan:
dalam kebanyakan gereja terdapat salah satu dari 2 extrim ini:
3. Nubuat dari nabi Mikha.
a. Nubuat ejekan dari Mikha.
Terhadap
pertanyaan Ahab dalam ay 15a, Mikha menjawab dengan ‘nubuat’ dalam ay 15b.
Perhatikan bahwa kata-kata ini sama dengan nubuat para nabi palsu dalam ay 12.
Jelas bahwa nabi Mikha mengatakan ini dengan sinis sebagai suatu irony /
ejekan. Ini menunjukkan keberanian yang luar biasa dari Mikha, yang sama sekali
tidak takut kepada Ahab.
Adam
Clarke: "This
was a strong irony; ... These were the precise words of the false prophets, (see
ver. 6 and 12,) and were spoken by Micaiah in such a tone and manner as at once
showed to Ahab that he did not believe them; hence the king adjures him, ver.
16, that he would speak to him nothing but truth"
[= Ini adalah ironi / ejekan yang kuat; ... Ini persis merupakan kata-kata dari
nabi-nabi palsu itu, (lihat ay 6 dan 12), dan diucapkan oleh Mikha dengan nada
dan cara sedemikian rupa sehingga segera menunjukkan kepada Ahab bahwa ia (Mikha)
tidak mempercayai kata-kata itu; karena itu raja mendesaknya, ay 16, supaya ia
mengatakan kebenaran kepadanya]
- hal 475.
Pulpit
Commentary: "There
was an exquisite propriety in this. The question was insincere; the reply was
ironical ... No doubt Micaiah’s mocking tone showed that his words were
ironical" (= Ada kesesuaian yang
sangat indah di sini. Pertanyaan itu tidak tulus; jawabannya bersifat ironi /
ejekan ... Tidak diragukan lagi bahwa nada mengejek dari Mikha menunjukkan bahwa
kata-katanya bersifat ironi / mengejek)
- hal 534.
Barnes’
Notes: "Micaiah
speaks the exact words of the 400 in so mocking and ironical a tone, that the
king cannot mistake his meaning, or regard his answer as serious. The king’s
rejoinder implies that this mocking manner was familiar to Micaiah, who had used
it in some former dealings with the Israelite monarch"
(= Mikha mengucapkan secara persis kata-kata dari 400 orang itu dengan nada yang
begitu mengejek dan bersifat ironi, sehingga raja tidak bisa salah tentang arti
yang ia maksudkan, atau menganggap jawabannya sebagai sesuatu yang serius.
Jawaban raja secara tak langsung menunjukkan bahwa cara mengejek ini sudah lazim
bagi Mikha, yang telah menggunakannya pada beberapa urusan sebelumnya dengan
raja Israel) - hal 221.
Tetapi
Pulpit Commentary mengatakan bahwa kata-kata Ahab dalam ay 16 ini sebetulnya
diucapkan demi Yosafat; jadi belum tentu kata-kata ini benar (bahwa ia
sudah berkali-kali menyuruh Mikha mengatakan kebenaran). Kata-kata ini hanya
bertujuan mendiskreditkan Mikha dalam pandangan Yosafat.
b.
Setelah didesak oleh Ahab dalam ay 16, maka Mikha memberikan nubuat yang serius
/ sungguh-sungguh (ay 17).
Ada 2 penafsiran tentang bagian ini:
o
janganlah maju
berperang, pulang saja ke rumah masing-masing.
o
ini adalah suatu
nubuat yang digenapi dalam ay 36 (Matthew Poole).
Ahab lalu mengomentari nubuat itu kepada Yosafat (ay 18). Kata-kata
Ahab menunjukkan bahwa rupanya ia beranggapan bahwa nabi Mikha mengatakan hal
itu hanya karena Mikha membencinya, dan itu bukanlah nubuat dari Tuhan.
c.
Mikha melanjutkan nubuatnya (ay 19-23).
Roh
dusta ini jelas adalah setan. Kalau ada keberatan mengapa setan bisa hadir di
depan takhta Allah, maka jawabnya adalah: itu juga terjadi dalam Ayub 1:6 2:1.
Ay 19-23 ini kelihatannya aneh, tetapi coba bandingkan dengan
ayat-ayat di bawah ini:
Kata-kata yang saya garisbawahi itu diterjemahkan berbeda oleh NIV,
yang menterjemahkannya sebagai berikut: ‘I
the LORD will answer him myself in keeping with his great idolatry’
(= Aku TUHAN sendiri akan menjawabnya sesuai dengan penyembahan
berhalanya yang hebat / besar).
Barnes’
Notes menafsirkan bagian ini dengan berkata: "I
will give him an answer as delusive as the idols which he serves"
(= Aku akan memberinya jawaban yang sama menyesatkan / menipunya dengan
berhala-berhala yang ia sembah / layani)
- ‘Ezekiel’, hal 334.
Contoh:
orang yang menyembah Maria dan patungnya lalu mendapatkan ‘mujijat’ dimana
patung Maria mengeluarkan air mata darah, atau penglihatan tentang Maria, yang
menyatakan dirinya tanpa dosa.
Ayat ini terletak dalam suatu kontex dimana Allah mengancam Israel.
Ia berkata bahwa kalau ada orang yang pergi kepada seorang nabi palsu dan
menanyakan petunjuk kepada nabi itu, maka Allah sendiri akan menjawab orang itu
(Yeh 14:7). Lalu dalam Yeh 14:9 dikatakan bahwa pada waktu nabi palsu itu
memberi petunjuk, yang tentunya merupakan petunjuk yang sesat, maka Tuhan
yang menggoda nabi palsu itu.
Beberapa kutipan tentang penafsiran ay 19-23 ini:
Peringatan: karena itu tuluslah dalam mencari kebenaran / belajar
Firman Tuhan!
4. Penganiayaan terhadap Mikha dan jawaban Mikha terhadap hal itu
(ay 24-28).
a. Zedekia menampar Mikha (ay 24).
Rupanya
Zedekia yakin bahwa nubuatnya datang dari Tuhan, tetapi tindakannya menampar
Mikha justru menunjukkan sebaliknya.
b.
Zedekia berkata: ‘Mana boleh Roh
TUHAN pindah dari padaku untuk berbicara kepadamu?’
(ay 24b).
RSV:
‘How did the spirit of the LORD go
from me to speak to you?’ (= Bagaimana
Roh TUHAN pergi dari aku untuk berbicara kepadamu?).
NASB:
‘How did the spirit of the LORD
pass from me to speak to you?’ (=
Bagaimana Roh TUHAN pindah dari aku untuk berbicara kepadamu?).
NIV: ‘Which
way did the spirit from the LORD go when he went from me to speak to you?’
(= Jalan mana yang ditempuh Roh TUHAN pada waktu Ia pergi dari aku untuk
berbicara kepadamu?).
KJV: ‘Which
way went the spirit of the LORD from me to speak unto thee?’
(= Jalan mana yang dilalui Roh TUHAN dari aku untuk berbicara kepadamu?).
Mungkin
terjemahan KJV/NIV yang benar.
c.
Jawaban Mikha terhadap Zedekia (ay 25).
Mikha
tidak menjawab pertanyaan Zedekia dalam ay 24b, tetapi bernubuat tentang
persoalan utama yang ada di antara mereka berdua, yaitu: yang mana dari mereka
yang betul-betul adalah nabi Tuhan. Nubuatnya menunjukkan bahwa Zedekia akan
lari bersembunyi untuk menghindari kemarahan Izebel karena nubuatnya salah. Pada
saat itu Zedekia akan tahu apakah ia atau Mikha yang adalah nabi Tuhan. Dari
sini kelihatannya Zedekia memang tidak tahu bahwa nubuatnya salah.
Dalam Kitab Suci tidak diceritakan penggenapan nubuat Mikha ini.
d. Ahab memerintahkan untuk mengembalikan Mikha ke penjara (ay
26-27).
Kata ‘kembali’ menunjukkan bahwa tadi ia sudah dipenjara, dan
sekarang dikembalikan ke penjara. Karena itu tadi Ahab bisa menyuruh menjemput
Mikha dengan segera (ay 9).
Barnes’ Notes: "The phrase seems to
designate a state office, rather than relationship to the sovereign"
(= Ungkapan ini kelihatannya menunjukkan suatu jabatan, dan bukannya hubungan
dengan raja) - hal 223. Bdk. 2Taw 28:7.
Tetapi Pulpit Commentary (hal 536) mengatakan bahwa adalah mungkin
ini betul-betul adalah anak Ahab.
KJV: ‘feed him with bread
of affliction, and with water of affliction’
(= beri dia makan roti penderitaan, dan air penderitaan).
RSV: ‘feed
him with scant fare of bread and water’
(= beri dia makanan sedikit dari roti dan air).
NIV: ‘give
him nothing but bread and water’ (=
jangan beri dia apa-apa kecuali roti dan air).
NASB:
‘feed him sparingly with bread and
water’ (= beri dia makan sedikit dengan
roti dan air).
Ini menunjukkan ketidakpercayaan Ahab pada nubuat Mikha, yang
mengatakan bahwa ia akan mati dalam perang.
Ahab
adalah seperti orang yang digambarkan dalam Ul 29:18-20, yang berbunyi sebagai
berikut: "Sebab itu janganlah di
antaramu ada laki-laki atau perempuan, kaum keluarga atau suku yang hatinya pada
hari ini berpaling meninggalkan TUHAN, Allah kita, untuk pergi berbakti kepada
allah bangsa-bangsa itu; janganlah di antaramu ada akar yang menghasilkan racun
atau ipuh. Tetapi apabila seseorang pada waktu mendengar perkataan sumpah
serapah ini menyangka dirinya tetap diberkati, dengan berkata: Aku akan selamat,
walaupun aku berlaku degil - dengan demikian dilenyapkannya baik tanah yang
kegenangan maupun yang kekeringan - maka TUHAN tidak akan mau mengampuni orang
itu, tetapi murka dan cemburu TUHAN akan menyala atasnya pada waktu itu; segenap
sumpah serapah yang tertulis dalam kitab ini akan menghinggapi dia, dan TUHAN
akan menghapuskan namanya dari kolong langit".
e. Jawaban Mikha terhadap Ahab (ay 28).
Ini
menunjukkan keyakinan Mikha bahwa nubuatnya itu pasti terjadi dan Ahab tidak
mungkin pulang dengan selamat.
Penutup.
Baik Ahab maupun Yosafat akhirnya
tetap memutuskan untuk maju berperang, mengabaikan nubuat dari Mikha. Mungkinkah
ini disebabkan karena Yosafat lebih memperhatikan kata-kata nabi palsu yang
berjumlah 400 orang itu dari pada kata-kata Mikha yang hanya seorang diri?
Pulpit Commentary:
"Here were ‘four hundred’ who
prophesied professedly in the name of the Lord. Against this number Micaiah the
son of Imlah stands alone; yet the truth of God is with him against the
multitude. ‘Truth is not always to be determined by the poll. ... This
instance does not stand alone. The majority was in the wrong side against Noah.
Elijah was in the minority on Carmel, but he was right. Jesus had the whole
Jewish Church against Him, though He was Truth itself"
(= Di sini ada empat ratus yang bernubuat dalam nama Tuhan. Terhadap bilangan
ini Mikha bin Yimla berdiri sendirian; tetapi kebenaran Allah ada padanya
menentang orang banyak itu. ‘Kebenaran tidak selalu ditentukan oleh jumlah
suara. ... Contoh ini tidak berdiri sendirian. Mayoritas manusia ada pada sisi
yang salah menentang Nuh. Elia termasuk golongan minoritas di Karmel, tetapi ia
benar. Yesus mendapatkan seluruh Gereja Yahudi menentangNya, sekalipun Ia adalah
kebenaran itu sendiri) -
hal 548.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali