Pelayanan
Elia
oleh:
Pdt. Budi Asali MDiv.
I
RAJA-RAJA 18:1-40
I. Tuhan menyuruh Elia
menghadap Ahab.
1. Tuhan menyuruh Elia menghadap Ahab, karena Ia hendak memberi
hujan (ay 1).
a. Ini terjadi pada tahun yang ke tiga.
‘Tahun
yang ke tiga’ berarti maximum 3 tahun. Ini tidak bertentangan dengan Yak 5:17
dan Luk 4:25 yang mengatakan 3 1/2 tahun, karena ‘tahun yang ke tiga’ dalam
1Raja 18:1 ini adalah lamanya Elia di Sarfat, tetapi tidak mencakup saat Elia
ada di tepi Sungai Kerit. Jadi, 3 1/2 tahun adalah jumlah waktu Elia berada di
tepi Sungai Kerit dan di Sarfat.
b.
Mengapa Tuhan mau memberi hujan, padahal Ahab dan Israel belum bertobat?
Ini
baru pemberitahuan! Kalau saudara perhatikan cerita ini selan-jutnya, Tuhan baru
betul-betul memberi hujan setelah Israel bertobat (ay 39-45).
Bagaimana kalau setelah diberitakan ternyata Israelnya tidak
bertobat? Tidak mungkin! Karena Tuhan tahu, bahkan sudah menentukan, bahwa
pertobatan itu akan terjadi, maka Tuhan memberitahukan hujan itu terlebih
dahulu. Ingat juga bahwa pertobatan adalah pekerjaan Tuhan (ay 37b).
c. Elia taat pada perintah Tuhan, dan melalui pertemuan dengan
Obaja, akhirnya Elia bertemu dengan Ahab (ay 2,7-17).
Sekalipun
dalam pertemuan dengan Obaja, Obaja menceritakan bahwa Ahab mencari Elia
dimana-mana (ay 10), Elia tetap tidak takut untuk bertemu dengan Ahab. Selain
merupakan suatu keberanian yang luar biasa, ini juga merupakan suatu ketundukan
yang luar biasa kepada Tuhan.
2. Pertemuan Elia dengan Ahab (ay 17-19).
a. Pada waktu Ahab bertemu dengan Elia, ia menyalahkan Elia (ay
17), tetapi Elia bukan diam saja, tetapi menangkis tuduhan dan melemparkannya
kepada Ahab dan keluarganya (ay 18). Dosa merekalah yang mencelakakan Israel!
b.
Elia lalu menyuruh Ahab mengumpulkan seluruh Israel dan nabi-nabi Baal dan
Asyera di gunung Karmel (ay 19), dan Ahab mentaatinya (ay 20).
Mengapa
Ahab mau menuruti kata-kata Elia? Karena situasi saat itu sudah sangat gawat
gara-gara kekeringan dan kelaparan, dan disamping itu juga karena Tuhan bekerja
dalam hatinya (bdk. Amsal 21:1). Tetapi kelihatannya yang dikumpulkan oleh Ahab
hanya seluruh Israel dan nabi-nabi Baal saja (perhatikan bahwa ay 21,22,25,26,40
hanya menyebut ‘Baal’ tetapi tidak menyebut ‘Asyera’).
Adam
Clarke mengatakan bahwa raja dan pelayan-pelayannya menyembah dewa Baal dan
mempunyai nabi-nabi sendiri, sedangkan ratu dan pelayan-pelayannya menyembah
dewi Asyera dan mempunyai nabi-nabinya sendiri. Yang mendapat makan dari meja
Izebel adalah nabi-nabi Asyera (ay 19). Karena itu, sekalipun Elia menyuruh Ahab
membawa nabi-nabi Baal dan Asyera, tetapi, yang dibawa oleh Ahab dan lalu
bertanding dengan Elia di gunung Karmel hanya nabi-nabi Baal.
II.
Pertandingan Elia vs nabi-nabi Baal.
1. Elia berbicara kepada rakyat Israel (ay 21-24a).
a. Ay 21: "Lalu Elia
mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: ‘Berapa lama lagi kamu
berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia,
dan kalau Baal, ikutilah dia’".
Beberapa
hal yang perlu disoroti:
Ini menunjukkan bahwa Israel saat itu terombang-ambing antara
Yahweh dan Baal, dan mungkin menggabungkan keduanya dalam ibadah mereka. Tetapi
Elia menentang syncretisme
(= kepercayaan kepada lebih dari satu agama)
semacam ini. Karena itu jangan menggabungkan Yesus dengan suhu, Gunung Kawi,
klenteng, berhala, Maria, magic, agama lain, dsb! Ingat bahwa Allah kita adalah
Allah yang cemburu (Kel 20:3-5)!
b. Ay 22: nabi-nabi Baal berjumlah 450 orang, nabi TUHAN hanya
Elia.
c. Ay 23-24a: Elia mengajak bertanding untuk mendatangkan api.
‘The International Standard Bible Encyclopedia’, vol I:
"His character as the storm-god is
expressed on a sculptured stele. In his left hand he is seen grasping a
thunderbolt ..." (= karakternya
sebagai dewa badai dinyatakan dalam sebuah monumen patung / pahatan. Di tangan
kirinya ia terlihat memegang sebuah petir ...)
- hal 377.
Pulpit Commentary: "... it must be
remembered that Baal claimed to be the Sun-god and Lord of the elements and
forces of nature" (= ... perlu diingat
bahwa Baal diklaim sebagai dewa matahari dan Tuhan dari elemen-elemen dan
kekuatan-kekuatan alam) - hal 422.
Pulpit Commentary: "Baal was the
fire-god. ... His name designated him as the lord or ruler. It comes from the
verb (lahmed-ahyin-beth) to own or possess, to be master of"
[= Baal adalah dewa api. ... Namanya menunjukkan dia sebagai tuhan atau penguasa
/ pemerintah. Itu datang dari kata kerja (lahmed-ayin-beth) ‘memiliki’ atau
‘mempunyai’, ‘menjadi tuan dari’]
- hal 444.
Catatan:
lahmed - ayin - beth adalah 3 huruf dalam abjad Ibrani yang membentuk kata
‘Baal’ (dibaca dari kanan ke kiri).
Barnes’
Notes: "The
Baal-worshippers were no doubt in the habit of attributing thunder and lightning
to their god - the great Nature-power - and thus had no excuse for declining
Elijah’s challenge" (= Tidak
diragukan lagi bahwa para penyembah Baal itu mempunyai kebiasaan untuk
menghubungkan guruh dan petir dengan dewa mereka - kuasa-alam yang besar - dan
dengan demikian tidak punya alasan untuk menolak tantangan Elia).
2. Pertandingan mendatangkan api.
Rakyat
menyetujui usul Elia itu (ay 24b) dan pertandingan dilaksanakan.
a. Nabi-nabi Baal mendapat giliran lebih dulu (ay 25-29).
Pulpit Commentary: "They thought they
would be heard for their much speaking"
(= Mereka mengira bahwa mereka akan didengar karena banyaknya kata-kata mereka)
- hal 423.
NIV: ‘perhaps he is deep
in thought’ (= mungkin ia sedang
merenung).
KJV: ‘he
is talking’ (= ia sedang berbicara).
Barnes’
Notes: "He
is ‘talking,’ or ‘meditating;’ the word used has both senses, for the
Hebrews regarded ‘meditation’ as ‘talking with oneself;’"
(= Ia sedang ‘berbicara’ atau ‘bermeditasi’; kata yang digunakan itu
mempunyai kedua arti, karena orang Ibrani menganggap ‘meditasi’ sebagai
‘berbicara dengan dirinya sendiri’).
o
Barnes’ Notes:
"The heathen gods, as we know from
the Greek and Latin classics, ate and drank, went on journeys, slept, conversed,
quarrelled, fought" (= Dewa-dewa
kafir, seperti yang kita ketahui dari sastra Yunani dan Latin, makan dan minum,
bepergian, tidur, bercakap-cakap, bertengkar, berkelahi).
Ini lagi-lagi mirip dengan Kharismatik!
o
Pulpit Commentary:
"It is perfectly clear that their
faith in Baal was sincere and profound"
(= Jelas bahwa iman mereka kepada Baal adalah tulus dan mendalam)
- hal 423.
o
Orang-orang sesat ini
berdoa dengan tekun; adalah memalukan kalau kita tidak demikian.
NIV: ‘they continued their
frantic prophesying’ (= mereka
melanjutkan nubuat mereka yang kegila-gilaan).
Lit: ‘and
they prophesied’ (= dan mereka bernubuat).
Adam
Clarke mengatakan bahwa ‘bernubuat’ di sini tidak bisa diartikan bernubuat
karena tidak sesuai dengan kontex. Harus diartikan berdoa / meminta sesuatu.
Pulpit Commentary: "Satan, if permitted,
could have brought fire down (see Job 1:12,16; Rev. 13:13,14); but God
restrained him" [= Setan, jika
diijinkan, bisa menurunkan api (lihat Ayub 1:12,16; Wah 13:13,14); tetapi Allah
mengekang dia] - hal 446.
Di
sini Allah mengekang, tetapi tidak selalu Allah melakukan hal itu. Kalau Ia
tidak mengekang, maka setan bisa menurunkan api dari langit! Karena itu jangan
terlalu cepat percaya kepada seorang hamba Tuhan / nabi, hanya karena ia bisa
melakukan mujijat. Saudara harus mengecheck ajarannya (bdk. Ul 13:1-5).
b. Elia mendatangkan api (ay 30-38).
Pulpit Commentary: "Elijah would not use
the altar used by the priests of Baal. (1) The service of Jehovah must be pure.
It must not be contaminated by the remotest connection with idolatrous
abominations. ... (2) In repairing the disused altar of Jehovah, Elijah showed
that his way was no new religion, but that of the fathers of the nation"
[= Elia tidak mau memakai mezbah yang telah dipakai oleh nabi-nabi Baal. (1)
Pelayanan / kebaktian Yehovah harus murni. Itu tidak boleh dikotori oleh
hubungan yang terjauh dengan penyembahan berhala yang menjijikkan. ... (2)
Dengan memperbaiki mezbah Yehovah yang sudah tidak dipakai, Elia menunjukkan
bahwa jalannya bukanlah agama baru, tetapi agama nenek moyang bangsa itu]
- hal 446.
o
Elia menggunakan 12
batu (ay 31). Mengapa?
Matthew Poole: "to teach the people
that though the tribes were divided as to their civil government, they ought all
to be united in the worship of the same God, and in the same religion"
(= mengajar orang-orang bahwa sekalipun suku-suku itu telah terpecah berkenaan
dengan pemerintahannya, mereka semua harus bersatu dalam penyembahan terhadap
Allah yang sama, dan dalam agama yang sama).
o
ia membangun mezbah
itu ‘demi nama TUHAN’ (ay 32). Tentu bukan berarti ia mengucapkan kata-kata
itu pada waktu membangun mezbah. Tetapi artinya: ia membangun mezbah itu untuk
digunakan bagi Tuhan.
III.
Pertobatan Israel (ay 39-40).
1. Israel bertobat (ay 39).
2.
Elia memerintahkan untuk menghukum mati semua nabi-nabi Baal (ay 40).
a. Ini bukan sekedar hukuman bagi nabi-nabi palsu itu, tetapi juga
untuk membuktikan pertobatan bangsa Israel itu dengan ketaatan.
b.
Hukuman mati terhadap nabi-nabi palsu itu sesuai dengan Kel 22:20 Ul 13:1-18 Ul
17:2-7. Tetapi ingat bahwa pada jaman ini hukum ini, yang termasuk dalam civil
law, sudah tidak berlaku lagi.
c.
Ahab tidak melarang penghukuman mati terhadap nabi-nabinya! Rupanya iapun
bertobat!
d. Charles
Haddon Spurgeon:
"Take the prophets of Baal; let not one of them escape,’ is a voice
which our cathedrals and parish churches might be the better for hearing. Unholy
compromises are the fashion of the day; an infusion of honest blood is needed,
greatly needed. Men are growing utterly careless as to religious truth, because
they see the servants of God and the votaries of Baal associated in the same
church and worshipping at the same altars. Sincere loyalty to God brooks not
this confederacy with idolaters. Errors were suffered to remain in the national
church for peace sake, and now they have become dominant, and threaten to
destroy the lovers of the truth! It is now clear that every error of doctrines
or ordinance is as mischievous as a prophet of Baal, and should not be endured.
The world is wide, and men are only responsible to God for their beliefs; but
the church should not, within her borders, suffer falsehood to propagate itself.
Christians have no right to associate themselves with any church which errs in
its teaching. If we see that gross error is rampant in a church, and we join it
in membership, we are partakers of its sins, and we shall have to share in its
punishment in the day of visitation. It is utterly false that it does not matter
to what church we belong. It matters to every man who has a conscience and loves
his God. I dare not associate in church fellowship with Ritualists and
Rationalists; loyal subjects will not join the society of traitors" (=
‘Tangkaplah nabi-nabi Baal itu, jangan biarkan seorangpun lolos’ adalah
suara yang harus didengar dengan lebih baik di gereja-gereja kita.
Kompromi-kompromi yang najis / tidak kudus merupakan mode jaman ini; suatu
pemasukan darah yang jujur dibutuhkan, sangat dibutuhkan. Manusia menjadi sama
sekali tidak peduli berkenaan dengan kebenaran agama, karena mereka melihat
hamba-hamba Allah dan penggemar-penggemar Baal bergabung dalam gereja yang sama,
dan berbakti di altar yang sama. Kesetiaan yang tulus / sungguh-sungguh kepada
Allah tidak membolehkan / membiarkan persekutuan dengan penyembah berhala ini.
Kesalahan dibiarkan ada dalam gereja nasional demi perdamaian, dan sekarang
kesalahan-kesalahan itu menjadi dominan, dan mengancam untuk menghancurkan
pecinta-pecinta kebenaran! Jelaslah sekarang bahwa setiap kesalahan doktrin atau
peraturan adalah sama jahatnya dengan seorang nabi Baal, dan tidak boleh
dibiarkan. Dunia ini luas, dan manusia hanya bertanggung jawab kepada Allah
untuk kepercayaan mereka; tetapi gereja tidak boleh membiarkan kesalahan
berkembang biak dalam daerahnya. Orang-orang kristen tidak mempunyai hak untuk
menggabungkan diri mereka sendiri dengan gereja apapun yang salah pengajarannya.
Jika kita melihat bahwa suatu kesalahan yang besar merajalela dalam sebuah
gereja, dan kita menggabungkan diri dengan gereja itu dalam keanggotaan, kita
ikut ambil bagian dalam dosanya, dan kita juga akan ikut ambil bagian dalam
hukumannya, pada hari Allah melawat kita. Adalah sesuatu yang sangat salah bahwa
tidak jadi soal kita termasuk gereja apa. Itu penting bagi setiap orang yang
mempunyai suara hati dan mencintai Allahnya. Saya tidak berani bergaul dalam
persekutuan gereja dengan Ritualists dan Rationalists; warganegara yang setia
tidak akan bergabung dalam perkumpulan pengkhianat)
- ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol XV, hal 124.
e.
Spurgeon juga menerapkan hal ini dalam pengudusan. Kita harus membasmi semua
dosa!
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali