Eksposisi Surat
Paulus kepada Jemaat di Efesus
oleh
: Pdt. Budi Asali M.Div.
A)
Ada dinding pemisah antara orang Yahudi dan orang kafir / non Yahudi.
Orang
kafir disebut sebagai ‘orang yang tidak bersunat’. ‘Sunat’ adalah tanda
lahiriah, namun artinya terlalu dibesar-besarkan oleh orang Yahudi. Kata-kata
Paulus dalam ay 11 menunjukkan bahwa ia tidak mementingkan sunat lahiriah. Yang
ia pentingkan adalah ‘sunat hati’ (Ro 2:28,29
Fil 3:2-3 Kol 2:11-13).
Juga
dikatakan bahwa orang kafir itu, yang tidak termasuk kewargaan Israel, tidak
mendapat bagian dalam ketentuan yang dijanjikan (ay 12).
Tebalnya
dinding pemisah ini bisa terlihat dari:
1)
Orang kafir disebut anjing oleh orang Yahudi (bdk. Mat 15:26).
2)
Kata-kata William Barclay dalam tafsirannya tentang surat Efesus:
·
Orang Yahudi punya kejijikan yang sangat besar
terhadap orang kafir.
·
Mereka berkata bahwa orang kafir diciptakan oleh
Allah untuk menjadi bahan bakar neraka.
·
Allah hanya mencintai Israel dari semua bangsa yang
diciptakanNya.
·
Orang Yahudi tidak diperbolehkan membantu seorang
ibu kafir yang akan melahirkan karena hal itu hanya membawa orang kafir lain
masuk ke dalam dunia.
·
Kalau seorang Yahudi menikah dengan orang kafir,
maka keluarganya mengadakan upacara penguburan, karena kontak semacam itu
dengan orang kafir dianggap sama dengan kematian.
·
Orang Yahudi yang masuk ke dalam rumah orang kafir,
menjadi najis.
3)
Adanya tembok pemisah dalam Bait Allah yang memisahkan tempat ibadah
untuk orang Yahudi dan tempat beribadah untuk orang kafir (yang telah
diyahudikan). Tembok itu tingginya 3 hasta (135 cm), dan bertuliskan: “Pelanggar
akan dihukum mati”.
Bdk. Kis 21:27-31 - “(27)
Ketika masa tujuh hari itu sudah hampir berakhir, orang-orang Yahudi yang datang
dari Asia, melihat Paulus di dalam Bait Allah, lalu mereka menghasut rakyat dan
menangkap dia, (28) sambil berteriak: ‘Hai orang-orang Israel, tolong! Inilah
orang yang di mana-mana mengajar semua orang untuk menentang bangsa kita dan
menentang hukum Taurat dan tempat ini! Dan sekarang ia membawa orang-orang
Yunani pula ke dalam Bait Allah dan menajiskan tempat suci ini!’ (29)
Sebab mereka telah melihat Trofimus dari Efesus sebelumnya bersama-sama dengan
Paulus di kota, dan mereka menyangka, bahwa Paulus telah membawa dia ke dalam
Bait Allah. (30) Maka gemparlah seluruh kota, dan rakyat datang berkerumun, lalu
menangkap Paulus dan menyeretnya keluar dari Bait Allah dan seketika itu juga
semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup. (31) Sementara mereka merencanakan
untuk membunuh dia, sampailah kabar kepada kepala pasukan, bahwa seluruh
Yerusalem gempar”.
B)
Ada dinding pemisah antara orang kafir dengan Allah.
1)
Orang kafir disebut ‘tanpa Kristus’, ‘tanpa pengharapan’,
‘tanpa Allah’ (ay 12).
Memang
‘tanpa Kristus’ = ‘tanpa Allah’ (1Yoh 2:23) dan karena itu jelas adalah
‘tanpa pengharapan’.
2)
Orang kafir disebut ‘jauh’ (ay 13,17), sedangkan orang Yahudi disebut
‘dekat’ (ay 17). Istilah ‘jauh’ dan ‘dekat’ sering digunakan
dalam PL (Ul 4:7 Maz 148:14
Yes 49:1 Yes 57:19).
Israel
disebut ‘dekat’ karena Tuhan memberikan hukum-hukumNya kepada mereka (Maz
147:19-20). ‘Dekat’ dalam ay 17 berbeda dengan ‘dekat’ dalam ay 13.
Sekalipun Israel disebut ‘dekat’, tetapi tetap ada dinding pemisah antara
mereka dengan Allah. (ingat tabir pemisah antara ruang suci dengan ruang maha
suci dalam Bait Allah).
Tetapi
orang kafir mempunyai dinding pemisah yang lebih tebal lagi, dan karena itu
mereka disebut ‘jauh’.
Paulus
menyuruh mereka mengingat keadaan mereka
dahulu (ay 11-12). Ini penting supaya mereka tetap rendah hati dan tetap ingat
kasih Allah kepada mereka.
A)
Mati.
Kata-kata
‘darah’ (ay 13), ‘matiNya sebagai manusia’ (ay 15), ‘disalib’ (ay
16), semuanya menunjuk pada kematian Kristus.
Kematian
ini mempunyai akibat:
1)
Batalnya hukum Taurat (ay 15).
Apakah
ay 15 ini bertentangan dengan Mat 5:17-18? Tidak! Ef 2:15
menunjuk pada ‘ceremonial law’ (hukum-hukum yang berhubungan
dengan ibadah / kebaktian, seperti: korban bakaran, sunat, makanan najis,
dsb), sedangkan Mat 5:17,18 menunjuk pada ‘moral law’ (hukum-hukum yang
berhubungan dengan kehidupan moral, seperti 10 hukum Tuhan).
2)
Robohnya dinding pemisah antara Yahudi dan kafir (ay 14).
3)
Robohnya dinding pemisah antara Allah
dan manusia (ay 13 - hanya untuk kafir; ay 16,18 - untuk Yahudi dan
kafir).
4)
Yahudi dan kafir diciptakan menjadi ‘satu manusia baru’ (ay 15b).
‘Satu manusia baru’ ini berarti ‘semua orang Kristen ditinjau sebagai
suatu kesatuan’.
Allah
dekat
dekat
jauh
jauh
“The
Closer we come to God, the closer we come to each other” (= Makin
dekat kita datang kepada Allah, makin dekat kita datang satu dengan yang lain).
Keterangan:
Dosa
memisahkan manusia dengan Allah dan dengan sesamanya. Tetapi ketika kita percaya
kepada Kristus, dosa kita dibereskan, maka dinding pemisah antara kita dengan
Allah hancur. Kita menjadi ‘dekat’ (ay 13) dengan Allah. Kalau dua orang
manusia percaya kepada Kristus, maka bukan hanya dinding pemisah antara mereka
dengan Allah yang dihancurkan, tetapi juga dinding pemisah antara mereka berdua.
Mereka mendekat kepada Allah, maka mereka menjadi dekat satu dengan yang lain.
Makin dekat hubungan kedua orang itu dengan Allah, makin dekat hubungan mereka
satu sama lain.
Penerapan:
Mengapa orang kristen sering bertengkar satu dengan yang lain? Karena mereka
kurang dekat dengan Allah. Makin dekat mereka dengan Allah, makin dekat mereka
satu dengan yang lain. Ini berlaku juga untuk hubungan suami-istri. Makin dekat
mereka berdua dengan Allah, makin dekat hubungan mereka satu dengan yang lain.
B)
Memberitakan damai (ay 17).
Ini
jelas tidak ditujukan pada pelayanan Yesus selama tiga setengah tahun, karena
waktu itu Ia hanya memberitakan Injil / Firman Tuhan kepada orang Yahudi /
Israel (Mat 15:24). Jadi pemberitaan damai di sini (yang ditujukan kepada
orang Yahudi dan kafir (ay 17), ditujukan kepada pelayanan Tuhan Yesus
melalui rasul-rasul dan orang-orang kristen yang lain (bdk. 2Kor 5:18-21).
Penerapan:
jelas bahwa pemberitaan Injil adalah tugas kita. Sudahkah / maukah saudara
memberitakan Injil?
Gereja
/ orang-orang kristen (baik Yahudi maupun kafir) digambarkan sebagai:
A)
Warga kerajaan Allah (ay 19a: ‘kawan sewarga’).
B)
Keluarga Allah (ay 19).
C)
Bait Allah, tempat kediaman Allah (ay 20-22).
1)
Dasar / fondasi (ay 20):
a)
‘rasul-rasul’ dan ‘nabi-nabi’.
Ini
bukan ditujukan kepada pribadinya / orangnya; juga tidak pada jabatannya, tetapi
pada ajarannya, yaitu PL + PB (seluruh Alkitab).
b)
Kristus sebagai batu penjuru.
Gereja
yang benar harus berdasar pada Kristus dan Firman Tuhan (Alkitab).
2)
Bangunan (ay 21-22).
Dalam
1Kor 3:16 dan 1Kor 6:19, ‘setiap orang Kristen’ disebut sebagai Bait
Allah. Tetapi, dalam Ef 2:21-22 ini, ‘seluruh orang Kristen’
digambarkan sebagai Bait Allah. Jadi setiap orang kristen adalah setiap batu
yang menyusun Bait Allah.
Kalau
dahulu orang-orang kafir beribadah dalam
Bait Allah secara terpisah (dipisahkan oleh dinding pemisah), maka sekarang
bukan saja tidak ada dinding pemisah, bahkan mereka menjadi batu-batu penyusun
Bait Allah.
Jelas
sekali bahwa Kristus yang sudah menghancurkan dinding pemisah itu, tidak
menghendaki adanya dinding pemisah. Tetapi seringkali orang kisten membangun
kembali dinding pemisah itu (bdk. apa yang dilakukan Petrus dalam Gal 2:11-14.
Bandingkan juga dengan Kis 15).
Dinding
pemisah dalam gereja sering terjadi karena:
·
perbedaan bangsa / suku bangsa.
·
perbedaan status ekonomi, kaya dengan miskin.
·
perbedaan kedudukan, misalnya majikan dan pelayan /
budak.
·
perbedaan aliran / merk gereja.
·
perbedaan usia, tua dengan muda.
·
perbedaan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan.
Kita
harus selalu berusaha menghancurkan dinding pemisah itu, karena di dalam Kristus
kita adalah satu!
Dalam
diri Tuhan Yesus, semua batasan / tembok pemisah telah dihancurkan! Semua yang
ada di dalam Kristus adalah satu.
1Kor 12:13
- “Sebab dalam satu Roh kita
semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka,
telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh”.
Gal 3:28
- “Dalam hal ini tidak ada orang
Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada
laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus
Yesus”.
Ef 2:14-19
- “Karena Dialah damai sejahtera
kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok
pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah
membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk
menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu
mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu
tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai
sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam
satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang
asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan
anggota-anggota keluarga Allah”.
Kol
3:11 - “dalam hal ini tiada lagi
orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang
Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua
dan di dalam segala sesuatu”.
Penerapan:
Dalam Kristus tidak boleh ada batasan antara:
·
laki-laki dan perempuan.
Ini
tentu tidak boleh diartikan bahwa kita boleh melakukan free
sex! Ini juga tidak boleh diartikan bahwa dalam keluarga, istri punya
kedudukan yang setingkat dengan suami!
Artinya
adalah: baik laki-laki maupun perempuan, kalau percaya kepada Yesus, sama-sama
diampuni, sama-sama menjadi anak Allah, boleh berbakti bersama-sama dalam
gereja, dan juga boleh sama-sama melayani Tuhan!
·
bangsa / suku bangsa yang satu dengan yang lain.
Kita
tidak boleh menganak-emaskan bangsa / suku bangsa kita sendiri, dan
menganak-tirikan / menolak / merendahkan bangsa / suku bangsa tertentu dalam
gereja. Adanya gereja yang boleh dikatakan menjadi ‘milik’ dari bangsa /
suku bangsa tertentu, seperti GKJW, HKBP, GPIB, GKT, GKA, dsb, sebetulnya tidak
salah, selama mereka tidak menolak orang dari bangsa / suku yang lain yang mau
berbakti di gereja mereka. Tetapi ada gereja suku semacam itu yang dalam
kebaktiannya menggunakan bahasa sukunya, tanpa diterjemahkan. Menurut
saya ini salah, karena orang dari suku lain tidak akan bisa berbakti di sana,
dan karena itu ini sama saja dengan mendirikan tembok pemisah.
·
orang jahat dan orang baik.
Ingat
bahwa sebetulnya di hadapan Allah kita semua adalah orang bejat yang penuh dosa.
Jadi jangan merendahkan orang kristen yang berasal dari latar belakang yang
gelap (seperti pelacur, penjahat, dsb). Kalau mereka ada di dalam Kristus,
mereka harus kita anggap dan perlakukan sebagai saudara kita!
·
orang tua dengan muda. Ini memang tidak berarti bahwa orang muda boleh
bersikap tidak sopan terhadap orang tua. Ini juga tidak berarti bahwa seorang
kakek yang berusia 80 tahun diharuskan bergaul dengan remaja yang berusia 16
tahun dalam gereja. Tetapi bagaimanapun kita harus menyadari bahwa baik tua
maupun muda adalah satu dalam Kristus. Jangan sampai orang tua menganggap rendah
yang muda karena belum banyak makan asam garam, dan sebaliknya orang yang muda
jangan menghina yang tua karena kolot dsb.
·
orang kaya dengan orang miskin.
Gereja
tidak boleh bersikap ramah terhadap orang kaya, tetapi acuh tak acuh terhadap
yang miskin (bdk. Yak 2:1-4)! Orang kristen yang kaya tidak boleh merasa
terhina kalau harus duduk di sebelah orang yang miskin dalam gereja. Jangan lupa
bahwa Yesus dan rasul-rasul juga miskin! Sebaliknya, orang yang miskin juga
tidak boleh merasa rendah diri dalam bergaul dengan orang yang kaya.
·
majikan dengan pelayan / pegawai. Ini tidak boleh diartikan bahwa pelayan
/ pegawai boleh kurang ajar kepada majikan / tidak mentaati majikan. Dalam
pekerjaan, mereka harus menghormati dan mentaati majikan, tetapi dalam gereja,
mereka setingkat!
·
persekutuan yang satu dengan yang lain, atau gereja yang
satu dengan yang lain (bdk. Ro 15:25-26
1Kor 16:1-3). Adalah aneh, kalau ada gereja tertentu yang tidak mau
memberikan surat atestasi ke gereja tertentu yang lain, dengan alasan tidak
ada hubungan dengan gereja itu! Lebih-lebih pendeta / gereja yang melarang
jemaatnya untuk pergi ke gereja lain, padahal gereja lain itu tidak mereka
anggap sebagai gereja yang sesat! Bagaimana gereja-gereja tersebut bisa
mengucapkan kata-kata ‘Gereja yang Kudus dan Am’ dalam 12 Pengakuan Iman
Rasuli, tetapi tetap bersikap seperti itu adalah sesuatu yang tidak bisa
dimengerti!
·
komisi yang satu dengan yang lain dalam gereja. Setiap anggota komisi /
departemen dalam gereja harus sadar bahwa mereka berjuang bagi Tuhan, dan bukan
bagi komisi / departemen masing-masing! Karena itu jangan lalu tidak mau tahu
dengan komisi / departemen yang lain.
Batasan
yang tetap dan bahkan harus ada adalah batasan antara orang yang ada di dalam
Kristus dengan orang yang ada di luar Kristus:
¨
2Kor 6:14 memberikan larangan menikah antara orang yang percaya
(kepada Kristus) dengan orang yang
tidak percaya (kepada Kristus).
¨
Ef 5:5-7 (bdk. 1Kor 5:9-13) menunjukkan bahwa kita tidak boleh
sembarangan bergaul dengan orang yang tidak percaya. Kita boleh bergaul untuk
memberitakan Injil kepada mereka dan kita harus mempengaruhi mereka, bukan
dipengaruhi oleh mereka.
¨
gereja yang sesat, nabi palsu, orang kristen KTP adalah orang yang di luar
Kristus. Karena itu, orang kristen yang sejati tidak boleh menganggap dirinya
satu dengan mereka.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali