Eksposisi Surat
Paulus kepada Jemaat di Efesus
oleh
: Pdt. Budi Asali M.Div.
Ef 1:1-2 - “(1)
Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus
di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. (2) Kasih karunia dan
damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai
kamu”.
A)
“Dari Paulus”
(ay 1).
Ini
berarti bahwa surat Efesus ditulis oleh Paulus. Tetapi itu bukan berarti bahwa
surat Efesus adalah hasil karya Paulus sendiri. Kalau surat itu hasil
karya Paulus sendiri, maka surat itu bukan Firman Allah.
“Dari
Paulus”
berarti Paulus yang menulis / mengarang, tetapi pada saat itu Paulus dikuasai
oleh Roh Kudus sepenuhnya, sehingga apa yang ditulisnya adalah benar-benar
Firman Allah. Allah memang menggunakan seluruh pikiran, kepribadian, kepandaian,
dan bakat-bakat Paulus, tetapi Allah juga menguasainya sedemikian rupa sehingga
ia betul-betul menuliskan Firman Allah sesuai kehendak Allah tanpa kesalahan
sedikitpun.
Adanya
‘faktor manusia’ dalam penulisan Kitab Suci tidak menyebabkan Kitab Suci
mengandung kesalahan.
B)
“Rasul Kristus Yesus”
(ay 1).
Kata
‘rasul’
diterjemahkan dari kata bahasa Yunani APOSTOLOS.
1)
Kata APOSTOLOS mempunyai 3 arti dalam Perjanjian Baru:
a)
Utusan (utusan biasa / sekedar utusan).
Arti
ini dipakai dalam Yoh 13:16 2Kor 8:23
Fil 2:25.
b)
Misionaris yang diutus oleh gereja untuk mengabarkan Injil.
Arti
ini dipakai dalam Kis 14:4,13 bdk. Kis 13:2-3 Ro 16:7.
c)
Rasul, yaitu orang yang:
·
Dipilih secara pribadi oleh Yesus Kristus sendiri.
·
Diutus dengan otoritas penuh untuk mengajar dalam
namaNya.
·
Mengikut Tuhan Yesus selama 3 tahun pelayananNya.
·
Saksi mata kebangkitan Kristus (pernah melihat
Yesus).
·
Mendapat pengertian Injil secara langsung dari
Kristus.
(Kis
1:21-22 Kis 2:32
Kis 3:15 Kis 13:31).
Paulus
memang tidak mengikut Yesus selama 3 tahun pelayanan Yesus, tetapi Paulus tetap
termasuk golongan rasul, karena ia melihat Yesus dan mendapat pengertian Injil
secara langsung dari Yesus waktu perjalanannya ke Damaskus (Kis 26:16 1Kor 9:1
Gal 1:11-12).
Dalam
arti yang sempit ini, maka pada jaman ini tidak ada lagi rasul.
2)
Paulus tidak selalu menyebut dirinya sebagai rasul dalam ke tiga belas
suratnya. Ia menyebut dirinya:
·
7 x sebagai rasul.
·
2 x sebagai hamba dan rasul.
·
1 x sebagai hamba.
·
1 x sebagai orang hukuman.
·
2 x tanpa predikat.
Paulus
menggunakan sebutan rasul bukan untuk kesombongan, tetapi agar tulisannya
mempunyai wibawa / otoritas dan diterima oleh jemaat.
C)
“Oleh kehendak Allah”
(ay 1).
Ini
menunjukkan bahwa:
1)
Panggilan menjadi rasul datang dari Allah.
Jadi,
Paulus menjadi rasul bukan atas kehendaknya sendiri ataupun kehendak orang lain
(ay 1)
Bdk.
Gal 1:15-17 - “(15) Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku
sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya, (16) berkenan
menyatakan AnakNya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara
bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada
manusia; (17) juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah
menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ
kembali lagi ke Damsyik”.
Penerapan:
·
Seseorang menjadi hamba Tuhan, juga tidak boleh
karena kemauan sendiri ataupun dorongan orang lain, tetapi harus karena
panggilan Tuhan.
·
Dalam pelayanan yang lainpun, kita tidak boleh
melayani:
*
sekedar karena keinginan kita sendiri.
*
karena dorongan / desakan orang lain.
Tetapi
celakanya, jaman sekarang ini kebanyakan orang kristen melayani justru karena
didesak orang lain.
Illustrasi:
ada satu kapal yang merapat di pelabuhan, dan lalu antara kapal itu dan daratan
diberi sepotong papan, melalui mana orang-orang dari kapal turun ke darat. Ada
seorang ibu yang turun ke darat dengan menggendong anaknya yang masih kecil, dan
tiba-tiba anaknya jatuh ke air. Ibu itu berteriak minta tolong, dan orang-orang
pada berkerumun untuk melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba seseorang terjun ke
air dan ia lalu menolong anak kecil itu. Setelah penolong itu naik ke darat,
iapun dikerumuni banyak orang yang mengagumi keberaniannya dan kerelaannya untuk
berkorban. Lalu ada satu orang yang lalu menanyainya: ‘Mengapa kamu
mau terjun untuk menolong anak itu?’. Saudara tahu apa jawabnya?
Mendengar pertanyaan itu, dengan marah penolong itu memandang ke sekelilingnya
dan berteriak: ‘Siapa yang tadi mendorong saya?’.
Jadi, ia terjun bukan karena kemauannya sendiri, tetapi didorong orang. Setelah
terjun ke air, maka sekalian ia menolong anak kecil itu.
Ada
banyak orang kristen ‘melayani’ Tuhan karena alasan seperti ini, yaitu
karena ‘didorong’ orang lain.
2)
Jabatan rasul diberikan karena kasih karunia Allah, berdasarkan
kedaulatanNya, bukan karena orang itu lebih baik dari orang lain.
Ro 1:5
- “Dengan perantaraanNya kami menerima kasih karunia dan jabatan
rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada
namaNya”.
Ef 3:7-8
- “(7) Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian
kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan
kuasaNya. (8) Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah
dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan
Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu”.
Penerapan:
Sebetulnya semua panggilan pelayanan adalah kasih karunia. Seseorang dipanggil
menjadi hamba Tuhan, guru agama, guru sekolah minggu, majelis, pengurus komisi,
dsb, juga karena kasih karunia Allah. Tetapi apakah saudara menganggap bahwa
jabatan / pelayanan saudara itu adalah kasih karunia Allah, atau saudara
menganggapnya sebagai beban?
A)
“Orang-orang kudus / saint” (ay 1).
Dalam
gereja Roma Katolik, istilah ‘saint’
/ orang kudus / orang suci digunakan untuk orang-orang yang mereka anggap bisa
hidup melampaui standard Allah. Tetapi dalam kristen, istilah ini menunjuk
kepada orang yang percaya kepada Yesus.
Arti
‘kudus’:
1)
Terpisah dari / berbeda dengan.
Misalnya:
·
hari Sabat disebut sebagai hari yang kudus (Kej 2:3).
·
bangsa Israel disebut sebagai bangsa yang kudus (Im 20:24,26).
·
orang Kristen disebut sebagai orang kudus (Ef 1:1
1Pet 2:9).
Juga
kalau kita melihat Yoh 17:9,20, maka kita akan melihat bahwa Tuhan Yesus
membedakan orang kristen dan orang dunia.
2)
Diperuntukkan bagi Allah.
·
hari Sabat digunakan untuk berbakti.
·
bangsa Israel adalah bangsa milik Allah (Im 20:26).
·
orang Kristen juga menjadi milik Allah (1Pet 2:9).
3)
Suci.
Orang
kristen / orang yang percaya kepada Yesus disebut suci, bukan karena hidupnya
suci tetapi karena ia sudah disucikan oleh Yesus (Yoh 17:19). Sebaliknya,
Kitab Suci menyebut orang yang tidak beriman kepada Yesus sebagai najis (Tit 1:15).
Penerapan:
Kita harus berusaha hidup sesuai dengan ketiga arti dari sebutan kudus ini.
·
Berbeda dengan / terpisah dari.
Kita
harus hidup berbeda dengan dunia.
Bdk.
Ro 12:2 - “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,
tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan
manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang
sempurna”.
Ini
tidak berarti bahwa kita harus hidup secara nyentrik / berbeda dengan dunia
dalam segala hal! Kita harus hidup berbeda dengan dunia hanya dalam hal dosa,
seperti dusta, zinah, ngaret, menggelapkan pajak, dsb.
·
Diperuntukkan bagi Allah.
Kita
harus mempersembahkan hidup kita bagi Allah. Kita harus hidup dan melayani
sedemikian rupa sehingga kehidupan dan pelayanan kita menyenangkan Allah dan
memuliakan Allah.
Renungkan:
apakah saudara hidup bagi Allah?
Bdk.
2Kor 5:15 - “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya
mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia,
yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”.
·
Suci.
Kita
harus berusaha hidup suci dan membuang semua dosa yang kita ketahui.
B)
“Orang-orang percaya”
(ay 1).
1)
Dalam ay 1 ini, istilah ‘orang kudus’
digandengkan dengan ‘orang-orang percaya’. John Calvin mengomentari ini
dengan berkata:
“No
man, therefore, is a believer who is not also a saint; and, on the other hand,
no man is a saint who is not a believer” (= Karena
itu, tidak ada orang percaya yang bukan orang kudus / suci, dan dilain pihak,
tidak ada orang kudus / suci yang bukan orang percaya).
2)
NIV/NASB menterjemahkan bagian ini dengan istilah ‘faithful’
(= setia).
Memang
kata Yunani ‘PISTOS’ bisa diterjemahkan sebagai ‘percaya’ /
‘beriman’ seperti dalam terjemahan Kitab Suci bahasa Indonesia, dan bisa
juga diterjemahkan sebagai ‘setia’ / ‘dapat dipercaya’ seperti dalam
terjemahan NIV dan NASB.
Ini
menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara ‘iman’ dan ‘kesetiaan’.
Orang yang sungguh-sungguh beriman pasti akan terus ikut Yesus dengan setia;
sebaliknya, kalau ia murtad, maka itu menunjukan bahwa ia tidak sungguh-sungguh
beriman.
1Yoh 2:18-19
- “(18) Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan
seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah
bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah
waktu yang terakhir. (19) Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka
tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh
termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal
itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh
termasuk pada kita”.
Karena
itu, maka Calvinisme / Reformed percaya bahwa keselamatan tidak bisa hilang.
Orang yang murtad, bukan kehilangan keselamatannya, karena ia memang tidak
pernah selamat.
C)
“Dalam Kristus Yesus”
(ay 1).
Artinya
bersatu dengan Kristus.
Karena
Kristus adalah Kepala dan Gereja adalah tubuhNya, maka orang yang bersatu dengan
Kristus mesti bersatu dengan Gereja.
Penerapan:
·
Orang yang mengatakan bahwa ia percaya kepada
Yesus, tetapi tidak mau:
*
dibaptis.
*
pergi ke gereja.
*
bersekutu dengan orang kristen yang lain.
menunjukkan
bahwa sebetulnya ia belum percaya.
·
Ini menunjukkan pentingnya persekutuan dengan
sesama saudara seiman. Bukan saja saudara harus mau bersekutu dengan saudara
seiman yang lain, tetapi lebih dari itu saudara harus berusaha menolong saudara
seiman yang lain, khususnya yang adalah orang baru di gereja, untuk bisa
bersekutu.
Illustrasi:
ada orang yang pergi ke gereja, tetapi terus tidak dianggap / tidak disapa oleh
orang kristen yang lain. Suatu kali ia ikut kebaktian dengan memakai topi
Mexico. Orang yang dibelakangnya lalu menegur dia karena topinya itu menutupi
pandangan orang itu. Ia lalu berkata: ‘Puji Tuhan. Ini
pertamakalinya ada orang yang bicara dengan aku di gereja ini’.
Janganlah
bersikap acuh terhadap orang baru sehingga memaksa orang baru itu memakai topi
Mexico di gereja saudara.
D)
“Di Efesus” (ay 1).
1)
Bagian ini diperdebatkan, karena ada manuscript yang menggunakan kata “di
Efesus”,
dan ada yang tidak.
2)
Efesus adalah kota orang kafir dan tempat penyembahan berhala (bdk. Kis 19:21-40).
E)
“Dalam Kristus Yesus di Efesus”.
Orang
kristen / percaya adalah orang yang ada ‘dalam Kristus Yesus’,
tetapi juga ‘di Efesus’
/ di dunia. Kita adalah warga negara dari 2 kerajaan, yaitu surga dan dunia, dan
karena itu:
·
Kita tidak boleh hanya hidup mengejar Kristus dan
menarik diri dari dunia / mengucilkan diri.
Dalam
sejarah, ada seorang kristen yang bernama Simeon Stylites, yang mati pada tahun
459 M. Ia diberi gelar ‘the pillar
saint’, karena selama 36 tahun hidup di atas sebuah pillar.
·
Kita tidak boleh hidup terus untuk dunia dan
melupakan Kristus.
·
Kita tidak boleh membagi / memisahkan hidup kita
menjadi 2 bagian: duniawi dan surgawi / rohani dan jasmani. Misalnya:
*
pergi ke gereja atau melakukan pelayanan adalah hal
rohani, sedangkan bekerja, sekolah adalah hal duniawi.
*
Menjadi hamba Tuhan adalah rohani, sedangkan
menjadi dokter, insinyur dsb adalah hal duniawi.
Pemisahan
seperti ini dilakukan oleh gereja Roma Katolik, tetapi Calvin mendobrak hal ini
dan mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah rohani.
A)
“Kasih karunia”.
Ini
adalah kemurahan / kebaikan yang tidak layak diterima seperti:
·
kematian Kristus bagi kita.
·
kita dikasihi, diampuni, diangkat menjadi anak,
dipercaya untuk melayani, dll.
B)
“Damai sejahtera”.
Ini
menunjuk pada:
·
damai dengan Allah.
·
damai dengan sesama manusia.
·
damai dalam hati.
Dan
ini adalah berkat rohani yang keluar akibat adanya kasih karunia.
C)
“Dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan kita Yesus Kristus”.
Ini menunjukkan bahwa sumber kasih karunia dan damai adalah Allah Bapa dan Tuhan Yesus.
Augustine
(400 M):
“You have made us for yourself, O Lord, and our heart is restless
until it rests in you” (= Engkau telah membuat
kami untuk diriMu sendiri, ya Tuhan, dan hati kami selalu gelisah sampai hati
kami beristirahat di dalam Engkau).
Kalau
saudara adalah orang yang ingin membuang kegelisahan / kekuatiran, atau mencari
damai / sukacita / kebahagiaan yang sejati, tetapi saudara mencarinya melalui
kekayaan, kesibukan, teman, hobby, hiburan dsb, maka ingatlah dan renungkan
kata-kata Augustine ini!
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali