DISKUSI PENULISAN KITAB PERJANJIAN BARU:
IBRANI, ARAMAIK ATAU GREEK?
TANGGAPAN ATAS EMAIL YOHANES TGL 21 MEI-2JUNI 2008
[SERI IV]
Shalom Alaika,
Sebelumnya
saya minta maaf atas keterlambatan tanggapan atas email Anda. Komputer saya
kembali mengalami kerusakan dan musti disambi mengerjakan tugas-tugas lainnya
yang berkaitan dengan tulis menulis. Untuk memudahkan pembahasan, saya membuat
klasifikasi pembahasan dalam beberapa kategori pembahasan. Tujuan klasifikasi
ini dimaksudkan untuk memudahkan pembahasan dan fokus pada masing-masing kateori
bahasan serta mengabaikan komentar-komentar elementer yang kurang perlu.
Ibaratnya hendak memisahkan pasir dan kerikil dari sungai, demikianlah yang saya
lakukan. Membuang komentar yang kurang perlu dan fokus pada isue-isue penting
dalam diskusi kita. Untuk menjaga obyektifitas, saya mengutip pernyataan Anda
sesuai tanggal pernyataan Anda dibuat, meski terkadang tidak sepenuhnya dikutip.
Pemenggalan bukan untuk mengurangi konteks argumentasi melainkan sekedar
efektifitas saja. Kita mulai dengan summayry yang Anda buat sbb: SUMMARY
YOHANES [28 Mei 2008]: Barangkali istilah yang lebih tepat adalah summary
ketimbang konklusi, contoh: Teguh: Naskah Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa
Ibrani. Yohannes: Naskah Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Konklusi:
Tidak ada.
I.
MENGENAI
KATA “GHOLGOTA”, “GABATHA”, “BETHESDA” DAN HEBRAIDI DIALEKTON:
ARAMAIK ATAU IBRANI?
Yohanes [21 Mei 2008]:
Saya sama sekali tidak menulis tentang yang diduga Aramaik,
bahkan saya tulis dengan tegas bahwa kata-kata seperti TALITA KUMI, EFATA,
ABBA, RHAKA, dan sebagainya, adalah kata-kata Aram, bukan
dugaan
Yohanes [21 Mei 2008]:
Lebih lanjut tentang HEBRAISTI, mengapa tidak Anda bahas Yohanes 5:2;
19:13 dan 17, 20? Apakah kata-kata seperti BÊTHESDA, GABBATHA,
dan GOLGOTHA dan dalam ayat itu merupakan kata Ibrani? Tulisan R.H.
Charles itu cukup menarik karena menulis tentang they are supposed to use
the Syriac tongue, bukan the Hebrew tongue!
Yohanes [21 Mei 2008]:]
Uniknya, New International Version menerjemahkan kata HEBRAISTI menjadi Aramaic.
When Pilate heard this, he brought Jesus out and sat down on the judge's seat at
a place known as the Stone Pavement (which in Aramaic is Gabbatha). (John 19:13,
NIV)
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008) :
Mengenai
kalimat “yang diduga Aramaik” saya maksudkan bukan menyalin secara keliru
kalimat Anda, melainkan saya menyatakan bahwa apa yang Anda yakini sebagai
Aramaik saya anggap sebagai dugaan. Mengenai kata-kata (yang menurut saya di
duga kebanyakan sarjana sebagai bahasa Aramaik) seperti “Gholgota”,
“Gabata”, “Betesda”, “Talita”, “Efata”, “Abba”, “Raka”,
saya mengajak kita kembali kepada istilah “Hebraidi
Dialekton”. Karena kata ini disusul kemudian dengan nama-nama (meskipun
tidak selalu demikian) yang menurut saya di duga kebanyakan sarjana sebagai
bahasa Aramaik.
GHOLGOTA
(Yoh 19:17): Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke
tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota (~Ebrai?sti. Golgoqa)
GABATA
(Yoh 19:13): Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia
menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang
bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata (Ebrai?sti. de. Gabbaqa
)
BETESDA
(Yoh 5:2) : Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada
sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Bethzatha (Ebrai?sti. Bhqzaqa,
); ada lima serambinya
TALITA
(Mrk 5:41): Lalu dipegang-Nya tangan anak itu,
kata-Nya: "Talita kumi," (Taliqa koum) yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu,
bangunlah!"
EFATA
(Mrk 7:34): Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata
kepadanya: "Efata!"(Effaqa),
artinya: Terbukalah!
ABBA
(Mrk 14:36): Kata-Nya: "Ya Abba (Abba), ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu,
ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki,
melainkan apa yang Engkau kehendaki."
RAKA
(Mat 5:22): Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap
saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Raka (raka,()harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: More (Mwre,)! harus diserahkan ke dalam neraka yang
menyala-nyala.
Anda
selalu merujuk pada huruf “alaf” (a
) atau “alfa” (a)
sebagai status emphatic pada nomina, yang khas Aramaik. Sebagaimana saya
tegaskan bahwa tidak disangkali ada sejumlah kata dan nama yang disinyalir
Aramaik (contoh: BARtimi {Mrk 10:46}, BARnaba {Kis 1:23}, BARsuma {Kis 13:6},
Abba (Mrk 14:36), Talita (Mrk 5:41). Namun penggunaan kata-kata tersebut TIDAK
MEMBUKTIKAN bahwa Yahshua (Yesus) bercakap-cakap SEPENUHHNYA dalam bahasa
Aramaik. Kita harus jujur pada teks bahwa kata-kata tersebut disebut dengan
‘HEBRAISTI/HEBRAIDI DIALEKTON”. Persoalannya apa yang dimaksud dengan
“Hebraidi Dialekton?” Sekalipun NIV dan beberapa sarjana menduga bahwa kata
tersebut Aramaik, namun akhir-akhir ini berbagai penelitian mengarah pada
kesimpulan J.M. Grintz dalam Journal of Biblical Literatur, 1960, yang
dikutip D. Bivin dan R. Blizzard sbb:
“Penyelidikan
atas tulisan Yosephus [ahli sejarah bangsa Yahudi Abad I Ms, red] menunjukkan
tanpa keraguan bahwa kapan saja Yosephus menyebut “glota Ebraion”
[lidah Ibrani] dan “Ebraion dialekton” [dialek Ibrani, dia selalu
memaksudkan artinya, “bahasa Ibrani” dan bukan bahasa lain”
(Understanding the Difficult Word of Jesus, 2001, p.42)
Kata
“Hebraidi Dialekton” muncul juga
dalam kitab-kitab Apokrif pra Mesias seperti Sirakh 1:22 (
auvta. evn
e`autoi/j Ebrai?sti. lego,mena kai. o[tan metacqh/| eivj e`te,ran
glw/ssan [For what was originally expressed in Hebrew does not have exactly the
same sense when translated into another language
New Revised Standard Version]) dan 4 Makabe 12:7 (o` de. th/j mhtro.j th/| Ebrai<di fwnh/| protreyame,nhj auvto,n
w`j evrou/men meta. mikro.n u[steron [But when his mother had
exhorted him in the Hebrew language, as we shall tell a little later,
Revised Standard Version])
Dengan
dasar pemahaman di atas kita seharusnya jujur pada teks bahwa kata Kata “Hebraidi
Dialekton” tiada lain adalah bahasa Ibrani. Bahkan ketika Rasul Paul
menenangkan orang-orang Yahudi, dia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani,
“Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di
tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana
sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani,
katanya:… (th/| ~Ebrai<di diale,ktw|
le,gwn Kis 21:40). Bahkan Peshita Aramaik pun menggunakan kata “Ebrayt” (tyarb[). Mengatakan kata “Hebraidi Dialekton” sebagai “Aramaik”
jelas terlalu memaksakan asumsi pada teks. Jika memang benar Aramaik, seharusnya
dipergunakan kata “Suristi Dialekton”.
Maka kata-kata “Gabata”, “Betesda”, “Gholgota”, seharusnya dipahami
dalam konteks kata sebelumnya yaitu “Hebraidi
Dialekton” alias bahasa Ibrani. Persoalannya adalah, jika memang kata-kata
yang disinggung di atas adalah Ibrani, mengapa diakhiri dengan huruf “alfa (a)?” (Contoh: Gabbaqa , Golgoqa). Mengikuti pandangan Penner dalam Douglas Hamp (Discovering Language of Jesus, 2005) diperoleh keterangan sbb:
“Gramar Yunani dari Blass-Debrunner-Funk, menjelaskan
bahwa akhiran-akhiran alfa dapat ditambahkan pada kata-kata
semitik pinjaman untuk menolong pelafalan [pengucapan], sebagaimana
terjadi atas bentuk sabbata. Bahasa Yunani tidak menyukai kata-kata yang
berakhir dengan satu konsonan [huruf mati] penghenti seperti ‘Tau’. Alfa
adalah bunyi alami yang ditambahkannya, untuk menjaga kata itu agar tidak
berakhiran konsonan”
Dari penjelasan di atas, huruf akhir
“alfa” (a) BELUM TENTU setara dengan ungkapan
Aramaik yang menggunakan huruf akhir “alaf”
(a ). Menurut rumusan bahasa Aramaik, akhiran
huruf “alaf” (a
) ini berperan sebagai artikel definit atau kata sandang penentu (yang artinya
ini, itu) yang dituliskan pada akhir sebuah kata (Contoh: Kata “shamaya”
aymv {aymv} yang artinya “langit itu” dalam Matius 26:4).
Sekalipun kata/nama yang disinyalir
sebagai Aramaik tersebut mengandung huruf akhir “alaf” sebagaimana di bawah
ini, namun pembacaan dalam Peshitta, berbeda dengan naskah Yunani.
Flwgg (atlwgg):
GGOLTA Fpypg (atpypg):
GPYPTA adsx-tyb (adsx-tyb): BET KHSDA Fyljd (atyljd): DTLYTA Xtpta (tpta): ETPT aba (aba): ABA aqr (aqr): RQA Golgoqa : GOLGOTA Gabbaqa : GABBATHA Bhqzaqa, : BETHZATA Taliqa : TALITHA Effaqa : EPHPHATHA Abba : ABBA raka, : RAKA
Mengapa berbeda pembacaan? Pertama,
kita melihat bahwa naskah Yunani tidak melakukan transliterasi nama atau kata
melainkan melakukan translasi bunyi (Band. Ggolta menjadi Golgota, Bet Khasda
menjadi Bethzata). Kedua, huruf-huruf
Yunani tidak memiliki huruf yang setara dalam bahasa Ibrani seperti “heh” (h), “khet” (x), “shin” (v), “yod” (y). Sehingga alam beberapa kasus, kata
yang mengandung unsur “khet” (x), biasanya hilang
atau diganti dengan kata yang setara (Contoh: ~x,l,-tybe {Bet Lekhem} menjadi Bhqle,em (Bethleem). Atas
dasar ini, kita tidak bisa secara tergesa-gesa menyimpulkan bahwa penulisan
kata/nama tersebut Aramaik. Apalagi huruf “alfa” di akhir kata Yunani
(menjaga agar tidak berakhir dengan konsonan) TIDAK SETARA penggunaannya dengan
huruf “alaf” dalam Aramaik (sebagai kata sandang). Untuk menghilangkan
keraguan apakah kata atau nama tersebut Aramaik atau Ibrani, harus kembali
kepada pengertian kata “Hebraidi/Hebraisti
Dialekton” yang artinya benar-benar memang Ibrani dan bukan Aramaik. Namun
demikian bukan sama sekali kata Aramaik atau percakapan dalam bahasa Aramaik
sama sekali tidak berfungsi saat Yahshua bercakap-cakap, namun bahasa itu tidak
dominan. Apalagi jika merujuk pada kesaksian Yohanes 19:19-20, tertera tiga
bahasa penting saat itu sbb: Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya:
"(Yahshua), orang Nazaret, Raja orang Yahudi." Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu,
sebab tempat di mana (Yahshua) disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu
tertulis dalam bahasa Ibrani (Ebrai?sti, : Hebraisti), bahasa Latin (~Rwmai?sti, :
Rhomaisti) dan bahasa
Yunani (Ellhnisti,
: Hellenisti). TIDAK
ADA kata-kata yang menyebutkan SURISTI atau BAHASA ARAM. Maka dapat disimpulkan
bahwa bahasa ibu yang berlaku pada waktu itu adalah Ibrani yang mengalami
asimilasi bahasa dengan bahasa Aramaik.
Mengenai Surat Aristeas, jangan Anda
memotong kalimat dari konteksnya. Frasa, “They
are suppsosed to use the Syriac tongue…” jangan dilepaskan dari kalimat
berikutnya, (sehingga mengesankan orang-orang Yahudi sedang berbicara
Aramaik)“…but this not the case; their
language is quite different”.
Pengutipan karya Prof. Drs. H. Kristian
Sugiyarto, MSc.,Pd.D., sah-sah saja, sekalipun dia sedang terlibat diskusi
dengannya. Tidak ada kaidah yang melarang atau mengharuskan bahwa orang yang
berdiskusi dengan lawannya, sumber-sumber kajiannya tidak dapat dikutip.
Pengutipan karya beliau didasarkan kajiannya yang memiliki bobot akademis.
Tanggapan Budi Asali:
Pembicaraan di atas ini tidak penting. Tak ada
gunanya mempersoalkan Yesus berbicara dalam bahasa apa. Yang penting,
dituliskannya kata-kata Yesus dalam Kitab Suci adalah menggunakan bahasa
Yunani.
II.
MENGUJI
VALIDITAS PERNYATAAN BAHWA KITAB PERJANJIAN BARU DITULIS DALAM BAHASA YUNANI
Yohanes [23 Mei 2008]:
Kalo ingin penegasan, Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.
Ini adalah pendapat saya.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008)
Tidak
dapat ditolak bahwa salinan Perjanjian Baru yang jumlahnya 5000-an naskah telah
sampai kepada kita sebagai naskah primer sumber penerjemahan Kitab Suci dalam
berbagai bahasa. Bahkan angka tahun yang mendekati tahun 150 Ms, semakin
membuktikan eksistensi dan originalitas Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani.
Namun kita harus mempertimbangkan data-data induktif yang berasal dari Kitab
Suci mauupun sumber-sumber di luar Kitab Suci sebagai berikut:
·
Bahasa yang dipergunakan pada zaman
Yahshua adalah Ibrani (beberapa dengan Aramaik), Latin dan Yunani (Yoh 19:19)
Tanggapan Budi Asali:
Ibrani sudah berubah menjadi Aram gara-gara
pembuangan. Dan penjajahan Romawi menambahkan bahasa Yunani pada kebiasaan
mereka dalam berbicara. Sangat sedikit orang yang masih bisa berbicara bahasa
Ibrani.
·
Secara genealogis antropologis,
Yahshua lahir dari suku Yahuda (Ibr 7:14), maka bahasa ibu Yahshua adalah
Ibrani. Aspek-aspek kemanusiaan Yahshua yang Yahudi terekspresi dalam gaya hidup
dan perilakunya termasuk bahasanya(baca tulisan saya YAHSHUA, YAHUDI, YUDAISME,
www.messianic-indonesia.com)
Tanggapan Budi Asali:
Ini argumentasi apa? Sama sekali tidak punya
kekuatan. Kebangsaan tidak membuktikan bahasa yang digunakan adalah bahasa
bangsanya. Saya orang Cina, punya nama Cina, bapa dan ibu Cina, tetapi tidak
bisa bahasa Cina. Itu juga bisa terjadi pada siapapun, termasuk Yesus!
·
Rekaman pembicaraan antara Yahshua
dan orang-orang yang bertemu serta bercakap-cakap dengannya, selalu disertai
terjemahan Yunaninya dalam (Contoh: Elwi elwi lama, sabacqani o[ evstin meqermhneuo,menon
~O qeo,j mou Îo` qeo,j mouÐ eivj ti, evgkate,lipe,j me {Eloi-Eloi lama sabakhthani ho estin
methermeneuomenon, ho Theos mou [ho Theos mou] eis ti egkatelipes me, Mat 27:46
kai. krath,saj th/j ceiro.j tou/ paidi,ou le,gei auvth/| Taliqa
koum o[ evstin meqermhneuo,menon To.
kora,sion soi. le,gw e;geire {Kai kratesas tes cheiras tou paidiou legei aute Talita koum, ho estin methermeneuomenon to korasion soi lego
egeiro, Mrk 5:41. Cat: kata meqermhneuo,menon {methermeneuomenon} bermakna YANG ARTINYA,
sebagai bentuk penjelasan kepada pembaca bukan Yahudi)
Tanggapan Budi Asali:
Justru adanya kata-kata Aram atau Ibrani yang
tahu-tahu masuk ke dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Perjanjian Baru
ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi kadang-kadang ada kata-kata Ibrani atau
Aram, yang lalu diberi terjemahannya dalam bahasa Yunani. Kalau Perjanjian
Baru dalam Ibrani atau Aram, maka kata-kata Aram / Ibrani itu tidak mungkin
bisa dberi terjemahan!
·
David Alan Black yang berjudul, NEW
TESTAMENT SEMITISM (The Bible Translator 39/2, April 1988, pp. 215-223),
memberikan penelitian ringkas mengenai banyak hal yang berkaitan dengan
Semitisme dalam Kitab Perjanjian Baru Yunani (The Semitic Style of the New Testament, Michael D. Marlowe, www.bible-researcher.com)
Ø
Casus Pendens. Meskipun casus pendens [istilah teknis umum dalam tata
bahasa yang diambil dari bahasa latin untuk menerjemahkan “kasus yang
menggantung”] diberlakukan dalam bahasa Yunani Klasik, namun susunannya lebih
banyak muncul dalam bahasa Ibrani dan Aramaik dibandingkan bahasa koine. Contoh
nyata muncul dalam Matius 6:4, “kai ho pater sou ho blepon en to krypto
autos adoposei soi”. Kalimat ini mengekspresikan idiom Ibrani sebagai,
“Dan Bapamu yang melihat di tempat tersembunyi, maka Dia akan memberimu
upah”. Cara tersebut merupakan cara rumit yang tidak biasa dilakukan dari
sebuah kalimat, “Dan Bapamu yang melihat di tempat tersembunyi akan memberimu
upah” [GNB, NIV, NEB]. Meskipun susunan tersebut tidak dapat dijelaskan
sebagai satu-satunya yang bercorak Semitik, namun kemunculannya yang berlebihan
[prepoderance] dalam perkataan Yahshua, mendukung pandangan bahwa ini merupakan
hasil terjemahan naskah Yunani belaka.
Ø
Koordinasi Anak Kalimat [Coordination
of clauses]. Dalam bahasa Yunani klasik, kalimat
biasanya terdiri dari salah satu kata kerja pokok dan kata kerja lainnya
dibawahnya dalam bentuk anak kalimat keterangan atau jenis lainnya. Di sisi
lain, bahasa Ibrani cenderung meletakkan kata kerja satu demi satu,
menggabungkan mereka bersama dalam kata penghubung sederhana [bahasa Ibrani, “waw”,
“dan”]. Ini yang dikenal dengan sebutan parataxis, dari kata paratasso,
“saya meletakkan satu persatu”. Dalam bahasa Yunani koine, susunan demikian
tidak lazim. Dan hal ini telah terlebih dahulu dijelaskan kemunculannya yang
kerap dalam Kitab Perjanjian Baru. Namun kemunculan secara tetap kata “dan”
[Yunani, “kai”] dalam Kitab Besorah/Injil merupakan pemaksaan yang
berlebihan [overstraining] dalam tulisan bahasa Yunani. Dalam
Besorah/Injil, jenis demikian merupakan karakteristik menonjol dalam Markus,
yang merupakan contoh tunggal dari panjangnya kalimat dalam bahasa Yunani dengan
kata penghubung bersusun [subordinating participles] [Band. Mark
5:25-27]. Contoh khas gaya markus dapat ditemukan dalam Markus 10:33-34 sbb: “kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke
Yerusalem dan [kai] Putra Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala
dan [kai] ahli-ahli Torah dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan
[kai] mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak
mengenal Tuhan, dan [kai] Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan [kai]
dibunuh, dan [kai] sesudah tiga hari Ia akan bangkit." Di sini kita
melihat gaya bahasa Yunani yang khas, mungkin, barangkali, telah di subordinasi
oleh salah satu atau lebih anak kalimat dengan menggunakan kata penghubung atau
anak kalimat penghubung [relative clauses]. Beberapa terjemahan seperti
KJV dan RSV mencerminkan corak Semitik dan memunculkan corak yang janggal [stylistically
awkward] tersebut dalam bahasa Inggris. Namun terjemahan bahasa Inggris
lainnya yang mengakui idiom-idiom Semitik tersebut, melakukan restrukturisasi
terhadap pelanggaran tata bahasa [restructure the gramar slaightly] untuk
menghasilkan terjemahan yang lebih diterima dalam bahasa Inggris [band.
Terjemahan GNB, NIV, JB, NEB]. [Cat: Persoalan parataxis sebagai indikasi
latar belakang Semitik, dibicarakan secara panjang lebar dalam artikel J.B.
Lightfoot mengenai Corak Khas Besorah/Injil Yokhanan {Style of John’ Gospel}
dalam situs ini, www.bible-researcher.com]
Ø
Penggunaan Kata Ganti Yang Berlebihan
[Redundant pronouns]. Kata ganti
penghubung [relatif pronoun] dalam bahasa Ibrani, tidak dapat berubah
bentuk [indeclinable] dan tanpa jenis kelamin [genderless],
sehingga memerlukan kata ganti orang dalam anak kalimat yang diikutinya. Hal ini
mempengaruhi sejumlah bagian dalam Kitab Perjanjian baru yang mana merupakan
kata ganti yang tidak diperlukan yaang muncul setelah adanya kata penghubung,
sebagaimana dalam Markus 7:25 yang secara literal dibaca, “seorang ibu yang
dia sendiri [autou], yang anak perempuan miliknya [autes]
kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di
depan kaki-Nya.” Susunan demikian mungkin saja dalam bahasa Yunani namun bukan
asli Yunani, sebagaimana aslinya dalam bahasa Ibrani dan Aramaik.
Ø
Pengganti Untuk Kata Ganti Tidak Tentu
[Subtitutes for the indefinite pronoun]. Penggunaan kata “eis” ,“seorang” dan “anthrophos”,
“seorang manusia”, “seorang pribadi”, sebagai pengganti bagi kata ganti
tidak tentu [indefinite pronoun] “tis”, “orang yang
pasti”, “seseorang yang jelas”, yang pararel dengan bahasa Yunani koine,
namun asal-usulnya dalam Kitab Perjanjian Baru, sama sekali Semitik. Contoh
penggunaan “eis” sebagai kata ganti tidak tentu [indefinite
pronoun] dibagi dalam dua bagian:
§
Dimana “eis” berfungsi
sebagai kata sifat [adjective], sebagaimana dalam Matius 8:19, “seorang
Ahli Kitab Suci” [Greek: eis grammateus]
§
Dimana “eis” berfungsi
sepenuhnya sebagai kata ganti, umumnya diikuti oleh konstruksi milik [genitive
construction] atau partitive “ek”, sebagaimana nampak dalam
Markus 5:22, “kepala rumah ibadat” [Greek: eis toun archisunagougoun].
Penggunaan kata “anthropos”, “orang laki-laki” dengan cara
seperti ini [seperti bahasa Ibrani “ish” dan Aramaik “barnash”]
sangat banyak ditemukan dalam ucapan-ucapan Yahshua dan banyak contoh-contoh
yang berasal dari Besorah/Injil Markus [Band. Mark 1:23; 3:1; 4:26;
5:2; 10:7; 10:9; 12:1]
Ø
Penggunaan Kata Depan Secara Berlebihan
[Redundant use of the preposition] Ciri-ciri karakteristik [a characteristic feature]
penggunaan bahas semitik adalah pengulangan kata depan [repetition of a
preposition] sebelum setiap rangkaian kata benda yang mempengaruhinya.
Susunan demikian tidak dapat ditolerir dalam kalimat bahasa Yunani. Pengulangan
yang bersifat Semitik, muncul tidak kurang sekitar tujuh kali dalam Kitab Markus
[Contoh: Mrk 3:7-8; 6:56; 11:1, kata “pros” dan “apo”].
Penting untuk diketahui dalam mana terjemahan-terjemahan berbahasa Inggris yang
berbeda, menyajikan penggunaan kata depan secara berulang kali, Beberapa
pengulangan kata depan berualng kali muncul dalam rangkaian, sebagaimana dalam
Markus 3:7-8 [Band. KJV dan RSV]; sementara terjemahan lainnya hanya mengawali
dengan kata depan, tindakan yang lebih dikarenakan mematuhi idiom Inggris [Band.
NIV, JB, NEB].
Tanggapan Budi Asali:
a) Tak ada yang aneh
kalau bahasa Yunani yang digunakan oleh penulis-penulis Perjanjian Baru berbau
bahasa Ibrani, karena memang bahasa Yunani yang digunakan pada saat itu adalah
Hebraic Greek atau Jewish Greek.
Mungkin
ini sama seperti kalau orang Indonesia menggunakan bahasa Inggris, maka
Inggrisnya adalah Inggris Jowo! Dan kalau orang Amerika menggunakan bahasa
Inggris, maka bahasanya adalah American English, yang seringkali berbeda dengan
British English.
The
International Standard Bible Encyclopedia dengan topik ‘language of the New
Testament’):
“it was Hebraic Greek, a special variety, if not dialect, of
Biblical Greek. ... Winer (Winer-Thayer, 20) had long ago seen that the
vernacular koine was ‘the special foundation of the diction of the New
Testament,’ though he still admitted ‘a Jewish-Greek, which native
Greeks did not entirely understand’ (p. 27)” [= itu adalah bahasa
Yunani yang bersifat Ibrani, suatu jenis khusus, jika bukannya suatu dialek,
dari bahasa Yunani Alkitab. ... Winer (Winner-Thayer, 20) sejak lama telah
melihat bahwa bahasa Koine daerah adalah ‘fondasi khusus dari gaya menulis
Perjanjian Baru’, sekalipun ia tetap mengakui ‘suatu bahasa Yunani yang
bersifat Yahudi, yang orang-orang asli Yunani tidak sepenuhnya mengerti’
(hal 27)] - dari PC Study Bible 5.
Contoh:
1. Dari kata-kata
Kristian Sugiyarto (ini wong Jowo / orang Jawa yang menggunakan bahasa
Inggris!).
a.
Kutipan pertama.
Kristian
Sugiyarto: “Saya memang bersikeras bahwa Nama Yahweh itu tidak bisa diganti,
dan sebaliknya Anda juga bersikeras bahwa Nama Yahweh bisa diganti. Sama-sama
keras kan! ... Menurut pemahaman umum, pribadi yang berhak memberi / mengganti
nama adalah pribadi yang mempunyai authority. ... Mereka yang memberi atau
mengganti nama ini mempunyai wewenang terhadap oknum yang diberi / diganti nama.
Anda (dan kelompok sejenis) bertindak justru mengganti nama Yahweh menjadi LORD,
GOD, TUHAN, ALLAH, dst. When and how did you get the such authority to do so?
... Menurut saya ini adalah tindakan sangat-sangat lancang”.
b.
Kutipan kedua.
Kristian
Sugiyarto: “Ketika Yahshua (Yesus) pada hari Sabat di Sinagoge
membaca Kitab Yes.61:1-2 sebagaimana dikisahkan pada Luk. 4:18-19, kitab
berbahasa apa yang dibaca oleh Yesus? Ibrani bukan? Kedua ayat ini menulis
Adonai YHWH 1 kali dan YHWH 2 kali; jika YHWH dibaca Adonai apakah akan ada yang
terbaca Adonai Adonai?. Selain itu berarti nama ini ‘no meaning in term of
nothing to do with the name of the Son Yahshua’. Thus, Yahshua should read
Yahweh (instead of Adonai), sebab pada saat itulah Ia memproklamasikan bahwa
diri-Nya diurapi oleh Yahweh sebagai Mesias (ay 21)”.
Kristian
Sugiyarto ini punya gelar Ph. D., jadi mestinya bisa berbahasa Inggris. Tetapi
perhatikan kedua bagian yang saya garis-bawahi. Itu bahasa Inggris apa? Inggris
Jowo? Dalam kutipan pertama, menurut saya, kata ‘the’ atau kata ‘such’
pada bagian yang saya garis-bawahi, harus dibuang, karena kalau keduanya
digunakan kalimatnya jadi aneh. Dan pada kutipan kedua, saya tidak tahu
bagaimana harus membetulkan kata-kata bahasa Inggris yang kacau tersebut.
Tetapi
biarpun bahasa Inggrisnya aneh, itu tetap bahasa Inggris, bukan? Ia bukannya
menulis dalam bahasa Indonesia / Jawa, yang lalu diterjemahkan ke Inggris! Jadi,
kesimpulannya, ‘aneh’ tak berarti itu mesti diterjemahkan dari bahasa lain.
2.
Dari John Owen.
Ada
seorang ahli theologia Reformed yang berasal dari Inggris, namanya John Owen
(1616-1683). Ia adalah orang yang jenius, masuk College / perguruan tinggi pada
usia 12 tahun! Sebagai orang Inggris, maka bahasa aslinya / bahasa ibunya adalah
bahasa Inggris. Tetapi pada jamannya bahasa theologia banyak menggunakan bahasa
Latin. Dan John Owen mempelajari bahasa Latin sedemikian rupa, sehingga ia tidak
lagi berpikir dalam bahasa Inggris, tetapi dalam bahasa Latin. Tetapi pada waktu
ia menuliskan buku-bukunya, ia menulis dalam bahasa Inggris. Apa yang terjadi?
Segala macam keanehan, khususnya dalam hal pengalimatan, sehingga orang
Amerikapun sukar mengerti bukunya, bukan hanya karena theologianya yang sangat
mendalam, tetapi khususnya karena bahasanya, yang adalah bahasa Inggris yang
berbau Latin.
3.
Dari bahasa Inggris yang digunakan oleh orang-orang Amerika (USA).
Orang-orang
Amerika tak terlalu peduli gramatika, sehingga mereka sering sekali menggunakan
kata-kata / ungkapan yang sangat salah kalau ditinjau dari sudut gramatika
bahasa Inggris. Misalnya:
a. Kalau saudara melihat
di film-film, mereka sering berkata ‘Long time no see’ (= lama tak
jumpa). Ini bahasa Inggris apa?
b. Mereka sering berkata ‘He
don’t ...’, padahal anak yang baru belajar bahasa Inggrispun tahu kalau
seharusnya ‘He doesn’t ...’.
c. Mereka sering
menggunakan double negatives, seperti ‘I didn’t see nothing’,
padahal lagi-lagi orang yang baru belajar bahasa Inggris pasti tahu bahwa
seharusnya adalah ‘I didn’t see anything’.
Contoh-contoh
ini menunjukkan penggunaan bahasa Inggris yang salah, yang mungkin sekali tak
bakal dijumpai dalam kalangan orang-orang yang betul-betul menggunakan British
English di negara Inggris sendiri. Tetapi apakah karena ada kesalahan /
keanehan, itu lalu tidak bisa dianggap sebagai bahasa Inggris dan harus dianggap
sebagai terjemahan dari bahasa lain? Tentu saja tidak, itulah American English!
Jadi,
apakah aneh kalau orang-orang Yahudi yang menggunakan bahasa Yunani itu lalu
menggunakan bahasa Yunani yang aneh? Itulah Hebraic Greek, atau bahasa Yunani
yang berbau Ibrani / Aram. Mungkin mereka berpikir dalam bahasa Ibrani / Aram
tetapi menulis dalam bahasa Yunani sehingga muncul keanehan2 seperti itu. Itu
tidak membuktikan bahwa itu ditulis dalam bahasa Ibrani / Aram, yang lalu
dterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.
·
Saya sarankan Anda membaca tulisan
Christopher Lancaster, WAS THE NEW
TESTAMENT REALLY WRITTEN IN GREEK? A Concose Compendium of the Many Internal and
External Evidences of Aramaic Peshitta Primacy (www.watch.pair.com/peshitta.html).
Sekalipun saya tidak menyetujui bahwa Yahshua bercakap-cakap sepenuhnya dalam
bahasa Aramaik menggantikan Ibrani, namun setidaknya pengkajian sumber Peshitta
Aramaik menyatakan bahwa ada banyak perbedaan dengan naskah Yunani, sehingga
Christopher Lancaster menyimpulkan bahwa naskah Perjanjian Baru pada mulanya
bukan ditulis dari bahasa Yunani. Berikut kutipan pengantar Christopher
Lancaster:
“There
are many Christians who believe that the New Testament was written in Aramaic,
particulary in the East (Christianity is after all, an Eastern religion). But
they have been a rather silent minority. It is time to raise our voices, and
present the evidence. …This book will show you many errors and contradictions
in the Greek text, which are solved by the Aramaic. It will show you variants in
the many Greek manuscript families that are explained by the Peshitta. It will
show you how scribbal errors in the Greek translations have led to confused
beliefs, compared to crystal-clear teaching in Aramaic”
Tanggapan Budi Asali:
Lagi-lagi argumentasi yang lucu. Teguh Hindarto
ini mau membuktikan bahasa asli Perjanjian Baru itu bahasa apa? Apakah ia mau
membuktikan bahwa bahasa asli Perjanjian Baru adalah ‘bahasa Ibrani’ atau
‘asal bukan bahasa Yunani’?
Tentang
tuduhan adanya kekeliruan dalam Perjanjian Baru Yunani ini ada beberapa hal
yang perlu ditekankan:
1.
Saya tak mengclaim bahwa manuscripts Perjanjian Baru Yunani yang
manapun sebagai ‘inerrant’ (= tak ada salahnya). Yang betul-betul inerrant
hanya autographnya (= Kitab Suci asli yang langsung ditulis oleh
penulis-penulis Kitab Suci), dan itu sudah tidak ada lagi.
2.
Versi yang lebih benar belum tentu adalah bahasa aslinya.
Kalau
ada 2 versi, apakah versi yang kelihatannya lebih benar, selalu adalah versi
bahasa aslinya? Kalau ya, bagaimana dengan contoh-contoh di bawah ini:
a.
2Raja 8:25-26 - “(25) Dalam tahun kedua belas zaman Yoram, anak
Ahab raja Israel, Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, menjadi raja. (26) Ia
berumur dua puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun
lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri raja
Israel”.
2Taw
22:2 - “Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi
raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya,
cucu Omri”.
Tetapi
dalam terjemahan NIV keduanya dituliskan ‘twenty-two
years’ (= dua puluh dua tahun)! Tetapi pada 2Taw 22:2 versi NIV
diberi catatan kaki sebagai berikut: ‘Some Septuagint manuscripts and
Syriac (see also 2 Kings 8:26); Hebrew forty-two’ [= Beberapa versi
Septuaginta dan Syria / Aram (lihat juga 2Raja 8:26); Ibrani: empat puluh
dua].
Jelas
bahwa terjemahan Kitab Suci Indonesia yang diambil dari bahasa Ibrani pasti
salah, karena terjadi kontradiksi! Padahal yang salah ini diambil dari
manuscripts Ibrani, yang menuliskan ’42 tahun’. NIV lebih benar, karena
untuk kedua text NIV menuliskan ’22 tahun’, tetapi ini justru diambil dari
beberapa manuscripts Septuaginta dan Syria / Aram!
Apakah
dengan demikian kita harus menyimpulkan bahwa Yunani atau Syria / Aram, atau
bahkan Inggris, merupakan bahasa asli dari Perjanjian Lama, karena mereka
memberikan yang lebih benar?
b.
Dalam 2Sam 24:13 dikatakan bahwa hukuman kelaparan yang ditawarkan
untuk Daud adalah ‘tiga tahun’, tetapi dalam KJV/NASB dikatakan ‘seven
years’ (= tujuh tahun). Sedangkan dalam ayat paralelnya, yaitu dalam
1Taw 21:11-12 semuanya mengatakan ‘tiga tahun’.
1Taw
21:11-12 - “(11) Kemudian datanglah Gad kepada Daud, lalu berkatalah ia
kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Haruslah engkau memilih: (12) tiga
tahun kelaparan atau tiga bulan lamanya melarikan diri dari hadapan
lawanmu, sedang pedang musuhmu menyusul engkau, atau tiga hari pedang TUHAN,
yakni penyakit sampar, ada di negeri ini, dan malaikat TUHAN mendatangkan
kemusnahan di seluruh daerah orang Israel. Maka sekarang, timbanglah jawab apa
yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.’”.
KJV: ‘three years’ (= tiga tahun).
2Sam 24:13
- “Kemudian datanglah Gad kepada Daud, memberitahukan kepadanya dengan
berkata kepadanya: ‘Akan datangkah menimpa engkau tiga tahun
kelaparan di negerimu? Atau maukah engkau melarikan diri tiga bulan lamanya
dari hadapan lawanmu, sedang mereka itu mengejar engkau? Atau, akan adakah
tiga hari penyakit sampar di negerimu? Maka sekarang, pikirkanlah dan
timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.’”.
KJV: ‘seven years’ (= tujuh tahun).
Tetapi
NIV/RSV, yang dalam 2Sam 24:13 mengatakan ‘tiga tahun’,
memberikan catatan kaki bahwa yang dalam 2Sam 24:13 ini diambil
dari LXX / Septuaginta, sedangkan manuscripts Ibraninya mengatakan ‘tujuh
tahun’. Jadi, dalam Ibraninya ada kontradiksi, sedangkan dalam LXX /
Septuaginta tidak. Apakah ini menunjukkan bahwa Yunani adalah bahasa asli dari
Perjanjian Lama?
c.
1Sam 6:19 - “Dan Ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena
mereka melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari
rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka dengan
dahsyatnya”.
KJV:
‘fifty thousand and three score and ten men’ (= lima puluh ribu
tujuh puluh orang).
NASB: ‘50.070 men’ (= 50.070 orang).
Dalam
NIV dikatakan 70 orang, sama seperti dalam Kitab Suci Indonesia, tetapi
catatan kaki NIV mengatakan bahwa bilangan 70 ini diambil dari sedikit
manuscripts Ibrani, sedangkan mayoritas manuscripts Ibrani dan LXX menyebutkan
50.070 orang (lima puluh ribu tujuh puluh)!
Adam
Clarke mengatakan bahwa jumlah 50.070 ini mustahil, karena tidak mungkin desa
sekecil Bet-Semes mempunyai penduduk sebanyak itu. Dan lebih tidak mungkin
lagi kalau orang sebanyak itu bisa semuanya melihat ke dalam tabut perjanjian.
Adam
Clarke juga mengatakan bahwa 3 manuscript Ibrani yang menyebutkan ’70
orang’ adalah manuscripts hasil abad 12, yang jelas tidak bisa dianggap
sebagai manuscripts tua.
Sekarang,
kalau bilangan ‘70’ itu masuk akal, sedangkan bilangan dari manuscript
Ibrani yang menyebutkan ‘50.070’ jelas tak masuk akal, apakah dengan ini
kita harus mengatakan bahwa bahasa asli dari Perjanjian Lama adalah Indonesia
atau Inggris?
d.
Kej 4:8 - “Kata Kain kepada Habel, adiknya: ‘Marilah kita
pergi ke padang.’ Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel,
adiknya itu, lalu membunuh dia”.
KJV: ‘And Cain talked with Abel his brother:
and it came to pass, when they were in the field, that Cain rose up against
Abel his brother, and slew him’ (= Dan Kain berbicara dengan
Habel saudaranya; dan terjadilah, pada saat mereka ada di padang, Kain bangkit
terhadap Habel saudaranya, dan membunuhnya).
NASB: ‘And Cain told Abel his brother. And
it came about when they were in the field, that Cain rose up against Abel his
brother and killed him’ (= Dan Kain memberitahu Habel saudaranya. Dan terjadilah
pada waktu mereka ada di padang, bahwa Kain bangkit terhadap Habel saudaranya
dan membunuhnya).
RSV: ‘Cain said to Abel his brother, ‘Let us go
out to the field.’ And when they were in the field, Cain rose up against his
brother Abel, and killed him’ (= Kain berkata kepada Habel saudaranya,
‘Marilah kita keluar ke padang’. Dan pada waktu mereka ada di padang, Kain
bangkit terhadap saudaranya Habel, dan membunuhnya).
NIV: ‘Now Cain said to his brother Abel,
‘Let’s go out to the field.’ And while they were in the field, Cain
attacked his brother Abel and killed him’ (= Kain berkata kepada saudaranya Habel, ‘Marilah kita
keluar ke padang.’ Dan sementara mereka ada di padang, Kain menyerang
saudaranya Habel dan membunuhnya).
Perhatikan
bahwa KJV dan NASB tidak mempunyai kata-kata itu, tetapi Kitab Suci Indonesia,
RSV, dan NIV mempunyainya.
Dan
NIV memberikan footnote tentang kata-kata itu yang berbunyi sebagai berikut: “Samaritan
Pentateuch, Septuagint, Vulgate and Syriac; Masoretic Text does not have
‘Let’s go out to the field.’” [= Pentateuch Samaria, Septuaginta,
Vulgate dan Aram; Text Masoretic (Ibrani) tidak mempunyai kata-kata ‘Marilah
kita keluar ke padang’.]
RSV
juga memberikan catatan kaki yang bunyinya senada dengan catatan kaki dari
NIV.
Sekalipun
pasti ada pro dan kontra berkenaan dengan penambahan ini, tetapi Adam Clarke
dan Jamieson, Fausset & Brown menyetujui penambahan itu, dan menganggapnya
ada dalam text aslinya, tetapi hilang dalam penyalinan. Alasan mereka adalah
sebagai berikut:
Kata-kata
‘Cain talked with Abel his brother’ (= Kain berbicara dengan Habel
saudaranya) dalam terjemahan KJV sebetulnya salah. Mengapa? Karena kata Ibrani
yang diterjemahkan ‘talk with’ (= berbicara dengan) seharusnya
terjemahan hurufiahnya adalah ‘said’ (= berkata). Kalau
diterjemahkan ‘talked with’ (= berbicara dengan), maka memang tak
perlu kata-kata Kain dituliskan. Jadi, kalimat itu tetap masuk akal sekalipun
kata-kata tersebut tak ditambahkan. Tetapi kalau diterjemahkan ‘said’
(= berkata), maka tanpa penambahan kata-kata yang diucapkan oleh Kain, kalimat
itu menjadi tidak masuk akal.
Selain
itu, Adam Clarke mengatakan bahwa dalam Alkitab Ibrani edisi yang terbaik
dalam bagian ini diberi spasi kosong, dengan suatu tanda yang menunjuk pada
catatan tepi, yang mekan bahwa di sini ada suatu kekurangan dalam text itu.
Juga,
penambahan itu tidak ada dalam semua manuscripts Ibrani, bahkan yang paling
kuno, tetapi penambahan itu, sekalipun agak berbeda-beda, ada dalam boleh
dikatakan semua versi-versi kuno seperti Text Samaria, Aram, Vulgate, LXX /
Septuaginta, Targum Babilonia, dan Coptic Mesir.
Adam
Clarke (tentang Kej 4:8): “‘Cain talked with Abel his
brother.’ wayo'mer Qayin,
‘and Cain said,’ etc.; not ‘talked,’ for this construction the word
cannot bear without great violence to analogy and grammatical accuracy. But
why should it be thus translated? Because our translators could not find that
anything was spoken on the occasion, and therefore they ventured to intimate
that there was a conversation, indefinitely. In the most correct editions of
the Hebrew Bible there is a small space left here in the text, and a circular
mark which refers to a note in the margin, intimating that there is a hiatus
or deficiency in the verse. Now this deficiency is supplied in the principal
ancient versions, and in the Samaritan text. In this the supplied words are,
‘LET US WALK OUT INTO THE FIELD.’ The Syriac has, ‘Let us go to the
desert.’ The Vulgate has: Egrediamur
foras, ‘Let us walk out.’ The Septuagint has: Dielthoomen
eis to pedion, ‘Let us go out into the field.’ The two Chaldee
Targums have the same reading; so has the Coptic version. This addition is
completely lost from every MS. of the Pentateuch now known, and yet it is
sufficiently evident from the Samaritan text the Samaritan version, the
Syriac, Septuagint and Vulgate, that it was in the most authentic copies of
the Hebrew before and some time since the Christian era. The words may
therefore be safely considered as a part of the sacred text, and with them the
whole passage reads clear and consistently: ‘And Cain said unto Abel his
brother, Let us go out into the field: and it came to pass, when they were in
the field, that Cain rose up,’ etc”.
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kej 4:8): “‘And Cain talked with Abel his brother.’
The original word does not signify, in strict propriety, ‘talked,’ but
‘said;’ ... others have supposed a hiatus or gap in the text, which the
Septuagint, the Samaritan, the Syriac, and other versions fill up with the
words ‘Let us go into the field.’ These authorities show that the words
were once in the original text, although, as has been remarked, they are not
found in the most ancient Hebrew copies - as, for instance, in that one which
Origen consulted”.
Catatan:
kedua kutipan di atas ini tidak saya terjemahkan, karena sudah saya berikan
intinya di atas.
e.
Kel 2:18: “Ketika mereka sampai kepada Rehuel, ayah mereka, berkatalah ia:
‘Mengapa selekas itu kamu pulang hari ini?’”.
Bil 10:29 - “Lalu berkatalah Musa kepada Hobab anak Rehuel orang Midian,
mertua Musa: ‘Kami berangkat
ke tempat yang dimaksud TUHAN ketika Ia berfirman: Aku akan memberikannya
kepadamu. Sebab itu ikutlah bersama-sama dengan kami, maka kami akan berbuat
baik kepadamu, sebab TUHAN telah menjanjikan yang baik tentang Israel.’”.
KJV: ‘And
Moses said unto Hobab, the son of Raguel the Midianite, Moses’
father in law, …’ (=
Dan Musa berkata kepada Hobab, anak Raguel orang Midian itu, mertua
Musa, …).
Jadi, nama mertua Musa itu Rehuel
(seperti dalam Kel 2:18) atau Raguel (seperti dalam Bil 10:29 versi KJV)?
Jamieson, Fausset & Brown
(tentang Kel 2:18): “‘Reuel
their father’ - or Raguel (Num. 10:29) (Septuagint, Ragoueel, in both places)”
[= Ayat 18. ‘Rehuel, ayah mereka’ atau Raguel (Bil 10:29) (Septuaginta,
Raguel, di kedua tempat].
Apakah di sini kita harus menyimpulkan bahwa Kitab Suci
Indonesia atau LXX / Septuaginta lebih benar dari Kitab Suci Ibraninya, karena
dalam Kitab Suci Indonesia maupun LXX / Septuaginta perbedaan itu dihapuskan?
Jadi
jelas, bahwa kalau suatu versi lebih benar dari yang lain, bisa saja itu
terjadi karena versi itu membetulkan apa yang dianggap salah dalam versi yang
salah itu. Jadi, kasusnya adalah sebagai berikut: Perjanjian Baru asli ada
dalam bahasa Yunani, dan ini lalu disalin dan menghasilkan banyak sekali
manuscripts Yunani. Salinan sudah tidak inerrant (= tidak ada
salahnya), dan karena itu ada kesalahan. Pada waktu ada orang-orang tertentu
menterjemahkan manuscripts Yunani itu ke bahasa Ibrani, maka mereka lalu
membetulkan apa yang mereka anggap sebagai kesalahan itu. Dengan demikian,
seandainya versi Ibrani dari Perjanjian Baru memang lebih benar, itu tetap
tidak membuktikan bahwa bahasa Ibrani adalah bahasa asli dari Perjanjian
Baru.Juga seandainya versi Yunani dari Perjanjian Baru memang salah, hal itu
tetap tak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa Yunani bukanlah bahasa
asli dari Perjanjian Baru!
3. Dalam menghadapi
bagian-bagian Kitab Suci yang kelihatannya kontradiksi, atau dalam usaha untuk
mengharmoniskan bagian-bagian tersebut, ada 2 hal yang penting untuk diingat:
a.
John Murray: “Oftentimes,
though we may not be able to demonstrate the harmony of Scripture, we are
able to show that there is no necessary contradiction” (= Seringkali, sekalipun kita tidak bisa
menunjukkan keharmonisan Kitab Suci, kita bisa menunjukkan bahwa di sana
tidak harus terjadi kontradiksi) - ‘Collected Writings of John
Murray’, vol I, hal 10.
b.
E. J. Young: “When
therefore we meet difficulties in the Bible let us reserve judgment. If any
explanation is not at hand, let us freely acknowledge that we do not know all
things, that we do not know the solution. Rather than hastily to proclaim the
presence of an error is it not the part of wisdom to acknowledge our
ignorance?”
(= Karena itu pada waktu kita menjumpai problem dalam Alkitab baiklah kita
menahan diri dari penghakiman. Jika tidak ada penjelasan yang tersedia,
baiklah kita dengan bebas mengakui bahwa kita tidak mengetahui segala sesuatu,
bahwa kita tidak mengetahui penyelesaiannya. Dari pada dengan tergesa-gesa
menyatakan adanya kesalahan, tidakkah merupakan bagian dari hikmat untuk
mengakui ketidak-tahuan kita?) - ‘Thy
Word Is Truth’, hal 182.
4.
Ada satu hal penting yang ingin saya tambahkan berkenaan dengan
orang-orang yang mengatakan bahwa Alkitab ada salahnya, yaitu bahwa anggapan
awal pada saat kita mau mempelajari Kitab Suci merupakan segala sesuatu yang
sangat penting, dan menentukan ke arah mana kita akan pergi!
William G. T. Shedd: “One or the other view of the Scriptures must be adopted; either
that they were originally inerrant and infallible, or that they were
originally errant and fallible. The first view is that of the church in all
ages: the last is that of the rationalist in all ages. He who adopts the first
view, will naturally bend all his efforts to eliminate the errors of copyists
and harmonize discrepancies, and thereby bring the existing manuscripts nearer
to the original autographs. By this process, the errors and discrepancies
gradually diminish, and belief in the infallibility of Scripture is
strengthened. He who adopts the second view, will naturally bend all his
efforts to perpetuate the mistakes of scribes, and exaggerate and establish
discrepancies. By this process, the errors and discrepancies gradually
increase, and disbelief in the infallibility of Scripture is strengthened” (= Salah satu dari pandangan-pandangan
tentang Kitab Suci ini harus diterima; atau Kitab Suci orisinilnya itu tidak
bersalah, atau Kitab Suci orisinilnya itu bersalah. Pandangan pertama adalah
pandangan dari gereja dalam segala jaman: pandangan yang terakhir adalah
pandangan dari para rasionalis dalam segala jaman. Ia yang menerima pandangan
pertama, secara alamiah akan berusaha untuk menyingkirkan kesalahan-kesalahan
dari para penyalin dan mengharmoniskan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian, dan
dengan itu membawa manuscript itu lebih dekat kepada autograph yang orisinil.
Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian
berkurang secara bertahap, dan kepercayaan terhadap ketidakbersalahan Kitab
Suci dikuatkan. Ia yang menerima pandangan yang kedua, secara alamiah akan
berusaha untuk mengabadikan / menghidupkan terus-menerus kesalahan-kesalahan
dari ahli-ahli Taurat / para penyalin, dan melebih-lebihkan dan meneguhkan
ketidaksesuaian-ketidaksesuaian itu. Melalui proses ini, kesalahan-kesalahan
dan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian bertambah secara bertahap, dan
ketidak-percayaan kepada ketidakbersalahan Kitab Suci dikuatkan) - ‘Calvinism:
Pure and Mixed’, hal 137.
E. J. Young: “It is perfectly true that if we begin with the assumption that
God exists and that the Bible is His Word, we shall wish to be guided in all
our study by what the Scripture says. It is equally true that if we reject
this foundational presupposition of Christianity we shall arrive at results
which are hostile to supernatural Christianity. If one begins with the
presuppo-sitions of unbelief, he will end with unbelief’s conclusions. If at
the start we have denied that the Bible is God’s Word of if we have, whether
consciously or not, modified the claims of the Scriptures, we shall come to a
position which is consonant with our starting point. He who begins with the
assumption that the words of the Scriptures contain error will never, if he is
consistent, come to the point of view that the Scripture is the infallible
Word of the one living and eternal God. He will rather conclude with a
position that is consonant with his starting point. If one begins with man, he
will end with man. All who study the Bible must be influenced by their
foundational presuppositions”
(= Adalah sesuatu yang benar bahwa jika kita mulai dengan anggapan bahwa Allah
ada dan bahwa Alkitab adalah FirmanNya, kita akan ingin untuk dipimpin dalam
seluruh pelajaran kita oleh apa yang Kitab Suci katakan. Juga adalah sesuatu
yang sama benarnya bahwa jika kita menolak anggapan dasar dari kekristenan
ini, maka kita akan sampai pada hasil yang bermusuhan terhadap kekristenan
yang bersifat supranatural. Jika seseorang mulai dengan anggapan dari orang
yang tidak percaya, ia akan berakhir dengan kesimpulan dari orang yang tidak
percaya. Jika sejak awal kita telah menolak bahwa Alkitab adalah Firman Allah,
atau jika kita, secara sadar atau tidak, mengubah claim / tuntutan dari Kitab
Suci, kita akan sampai pada suatu posisi yang sesuai dengan titik awal kita.
Ia yang mulai dengan anggapan bahwa kata-kata dari Kitab Suci mengandung
kesalahan tidak akan pernah, jika ia konsisten, sampai pada pandangan bahwa
Kitab Suci adalah Firman yang tak bersalah dari Allah yang hidup dan kekal.
Sebaliknya ia akan menyimpulkan dengan suatu posisi yang sesuai dengan titik
awalnya. Jika seseorang mulai dengan manusia, ia akan berakhir dengan manusia.
Semua yang mempelajari Alkitab pasti dipengaruhi oleh anggapan dasarnya) - ‘Thy Word
Is Truth’, hal 187.
Memang
dalam kedua kutipan di atas ini, yang dipersoalkan adalah orang-orang Liberal
yang menganggap Kitab Suci ada salahnya. Tetapi ini juga bisa diterapkan
kepada orang-orang dari kelompok Yahweh-isme seperti Pdt. Yakub Sulistyo dan
Kristian Sugiyarto. Kalau mereka datang kepada Perjanjian Baru Yunani, dengan
suatu kepercayaan bahwa itu adalah terjemahan dari Perjanjian Baru Ibrani,
maka mereka akan mempunyai kecenderungan untuk mencari-cari, dan bahkan
membesar-besarkan, kesalahan dari Perjanjian Baru Yunani.
Tidakkah
mereka sadar bahwa Perjanjian Lama sendiri, dalam bahasa Ibraninya sekalipun,
mempunyai banyak sekali bagian-bagian yang kontradiksi satu sama lain? Saya
kira mereka tahu hal itu, hanya saja mereka tak meng’expose’nya,
atau bahkan menyembunyikannya! Mengapa fakta ini tidak membuat mereka
beranggapan bahwa Ibrani bukan bahasa asli dari Perjanjian Lama, seperti yang
mereka lakukan terhadap Perjanjian Baru dengan bahasa Yunaninya?
·
Pengutipan sumber di atas
(Christopher Lancaster) bukan dimaksudkan saya ambivalen dan kontradiktf dengan
pandangan sebelumnya (bahwa Yahshua berbahasa tutur Ibrani) namun sekedar
memberi ruang kritis dalam diskusi akademis mengenai kewibawaan naskah Peshitta
yang tidak sebagaimana dugaan kebanyakan sarjana, sebagai terjemahan dari naskah
Perjanjian Baru Yunani, sebaliknya justru naskah Yunani (setidaknya menurut
penelitian Christopher) menyalin dan di sana sini menyalahpahami maksud teks
Peshitta sehingga terjadi scribbal errors. Bagi kepentingan akademis, nampaknya
kita harus mencari benang merah relasi antara bahasa Ibrani dan Aramaik dalam
penulisan Kitab Perjanjian Baru sebelum pada akhirnya dipublikasikan dalam
naskah Yunani. Yang menarik mengenai “relasi” bahasa-bahasa tersebut, Talmud
Yerusalem menyatakan sbb: “Empat bahasa adalah berharga: Yunani untuk
nyanyian, Latin untuk perang, Aramaik untuk penguburan dan Ibrani untuk
percakapan” [Tractate Sotah 7:2, 30a). Selanjutnya dalam Sifre, Deuteronomy 46
dikatakan “itulah posisi Aramaik, di dalam kubur; akan tetapi bahasa Ibrani
memiliki posisi yang tinggi untuk bertutur kata dan ibadah. Jadi, bagi seorang
ayah Yahudi, tidak berbicara kepada anak lelakinya dalam bahasa Ibrani mulai
dari anak itu belajar berjalan dan tidak mengajarkan Torah, adalah seolah-olah
ia telah menguburnya” (S. Safrai dan M. Stern, The
Jewish People in the First Century {Philadelphia, Fortress Press, 1976} Vol
2, p.1034)
Tanggapan Budi Asali:
Terus terang saja, saya tak percaya pada
sumber-sumber dari kalangan Yahweh-isme yang sering mendapatkan bahan dari
PDSEUDO-SCHOLARS, alias ahli-ahli Alkitab yang palsu! Sumber-sumber yang saya
dapatkan dari Scholars yang sejati, dan bahkan dari sumber-sumber sekuler yang
berkwalitas, seperti Encyclopedia Britannica, Encyclopedia Encarta, dsb,
sangat berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sumber-sumber mereka.
Bagaimana bapa mengajar anak bahasa Ibrani
kalau ia sendiri setelah pulang dari pembuangan tak lagi bisa berbicara dalam
bahasa itu?
·
Brian Knowles, dalam WHICH
LANGUAGE DID JESUS SPEAK-ARAMAIC OR HEBREW?”(http://www.godward.org/Hebrew%20Roots/did%20jesus%20speak%20hebrew.htm)
menjelaskan sbb:
Prof.
David Flusser (Sarjana Yahudi Ortodox dari Universitas Yerusalem), menekuni
kehidupan para rabi abad pertama dan termasuk di dalamnya adalah (Yahshua).
Dalam bukunya “Jewish Sources in Early Christianity”, Flusser menyatakan
teori yang umum bahwa Markus menulis pertama kalinya dalam bahasa Yunani. Bahasa
tutur orang Yahudi pada waktu itu adalah Ibrani, Aramaik dan untuk tingkatan
tertentu dalam bahasa Yunani. Hingga akhir-akhir ini dipercayai oleh banyak
sarjana bahwa bahasa tutur para murid (Yahshua) adalah Aramaik. Memang mungkin
sekali bahwa (Yahshua) benar-bena menggunakan bahasa Aramaik dari waktu ke
waktu, TETAPI selama periode itu, IBRANI ADALAH BAHASA HARIAN MAUPUN BAHASA
STUDI. Injil markus berisi sedikit kata-kata Aramaik, dan inilah yang
mendistorsikan para sarjana” (p.11)
‘Saat
ini, setelah setelah penemuan DSS Ibrani Ben Sira (Ecclesiasticus) dan
surat-surat bar Khokba dan studi lebih lanjut bahasa naskah-nasah kuno Yahudi,
TELAH DITERIMA PANDANGAN BAHWA SEBAGIAN BESAR RAKYAT (YAHUDI) LANCAR DALAM
BERBAHASA IBRANI….perumpamaan-perumpamaan dalam Literatur
Rabinik…disampaikan dalam bahasa Ibrani di dalam semua periode. Tidak ada
dasar untuk berasumsi bahwa (Yahshua) tidak berbicara dalam bahasa Ibrani; dan
ketika kita diberi tahu bahwa Paul berbicara dalam bahasa Ibrani (Kis 21:40),
kita harus menerima informasi ini seperti yang dinyatakannya” (p.1)
“Ada
perkataan (Yahshua) yang dapat diterjemahkan baik dengan Ibrani maupun Aramaik;
tetapi ada beberapa yang hanya dapat diterjemahkan ke dalam Ibrani dan tidak ada
satupun yang hanya dapat diterjemahkan ke dalam Aramaik. Oleh karena itu
seseorang dapat mendemonstrasikan asal-usul Injil Ibrani dengan menerjemahkan
balik (Injil Yunani) ke dalam bahasa Ibrani (Flusser p.11)
Tanggapan Budi Asali:
Lagi-lagi ini tidak penting! Tidak penting
Yesus bicara dalam bahasa apa. Yang penting Perjanjian Baru dituliskan dalam
bahasa apa! Apakah pada waktu menyusun khotbah Teguh Hindarto menganalisa /
mengexposisi kata-kata yang dalam faktanya diucapkan Yesus (yang tidak
diketahui dengan pasti apa), atau ia menganalisa / mengexposisi text Yunani
yang memang pasti ada?
·
Kristian Sugiyarto memberikan ulasan
sbb:, “Dalam penelitiannya, DR. Robert Lindsey berhubungan sangat dekat dengan
Prof. Flusser. Ia mulai ambisinya yang kuat dalam proyek penerjemahan PB Yunani
ke dalam bahasa Ibrani untuk mengidentifikasi asal-usulnya. Cerita silsilah
(Yahshua) pada awal Kitab Matius menunjukkan hasil yang mencengankan, bahwa
Matius membangun ceritanya dengan tipikal pola Ibrani, meskipun naskah yang kita
miliki adalah dalam bahasa Yunani. Lindsey melanjutkan terjemahannya terus ke
dalam bahasa Ibrani ternyata dihasilkan struktur kata-kalimat Ibrani yang
sempurna seperti naskah Ibrani. Ketika membandingkan antara Kitab Markus dengan
Kitab Matius dan Lukas, ia mulai menyadari adanya sesuatu yang menghantui
terjadi. Sintak bahasa Yunani yang digunakan (PB Yunani) ternyata bukanlah
bahasa Yunani yang baik, tetapi sintak ucapannya itu sempurna untuk Ibrani. Ini
suatu misteri yang perlu dicari penyelesaiannya. Akhirnya disimpulkan bahwa di
dalam Kitab PB Yunani yang kita percayai ‘asli’ sesungguhnya terdapat teks
Ibrani” (IBRANI, BAHASA TUTUR YESUS:
Runtuhnya Mitos Aamaik, unpublished, hal 63).
Tanggapan Budi Asali:
Jangan terlalu cepat ‘jump to the
conclusion’ (= loncat pada suatu kesimpulan). Kemungkinan alternatif, yaitu
digunakannya bahasa Yunani yang berbau Ibrani (Hebraic Greek), yang sudah saya
jelaskan di atas, itu yang lebih benar!
Juga ia menyebut Injil Lukas. Itu sama sekali
tidak mungkin, karena Lukas adalah satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang
bukan orang Yahudi tetapi orang Yunani. Ini
terlihat dari Kol 4:10-14 - “(10) Salam kepada kamu dari Aristarkhus,
temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan Barnabas - tentang dia
kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu - (11)
dan dari Yesus, yang dinamai Yustus. Hanya ketiga orang ini dari
antara mereka yang bersunat yang menjadi temanku sekerja untuk Kerajaan
Allah; mereka itu telah menjadi penghibur bagiku. (12) Salam dari Epafras
kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu
bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai
orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang
dikehendaki Allah. (13) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang dia, bahwa
ia sangat bersusah payah untuk kamu dan untuk mereka yang di Laodikia dan
Hierapolis. (14) Salam kepadamu dari tabib
Lukas yang kekasih dan dari Demas”.
Dalam
text di atas ini Paulus mengatakan hanya 3 orang, yaitu Aristarkhus, Markus,
dan Yesus / Yustus, yang adalah orang-orang bersunat (= orang-orang Yahudi)
yang menyertai dia. Jadi jelas bahwa 3 yang terakhir, yaitu Epafras, Lukas,
dan Demas, bukanlah orang-orang bersunat. Jadi, Lukas jelas bukan orang
Yahudi!
Juga
Lukas menulis kepada Theofilus (Luk 1:1 Kis
1:1), yang bisa dipastikan adalah seorang Yunani, karena namanya merupakan
nama Yunani. Bagaimana mungkin Lukas, yang bukan orang Yahudi, bisa menulis
kitabnya kepada seorang Yunani, dalam bahasa Ibrani?
Luk 1:1
- “Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu
berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita”.
Kis 1:1
- “Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang
segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus”.
III.
KATA
“IOUDAISTI” DAN “HEBRAISTI:, BERBEDA?
Yohanes [23 Mei 2008]:
Saya dapat saja membalikkan pertanyaan Anda kepada Anda semula, mengapa
Perjanjian Baru tidak menulis dengan IOUDAISTI, tetapi untuk apa
pertanyaan itu saya balikkan? IOUDAISTI
dan HEBRAISTI itu berbeda. BETESDA adalah HEBRAISTI,
sedangkan IOUDAISTI menyebutkannya dengan BEYT KHESED. GOLGOTA
adalah HEBRAISTI, sedangkan IOUDAISTI menyebutnya GULGOLET.
HEBRAISTI adalah bahasa Aram yang digunakan di Israel
saat itu, sama halnya dengan bahasa Melayu yang digunakan di Indonesia dikatakan
sebagai bahasa Indonesia. Saya pun tidak
berspekulasi dengan menulis tentang membedakan dua bahasa. Silakan Anda kaji
konteks 2 Raja-raja 18:26 di atas, mengapa Elyakim menggunakan SURISTI
dan IOUDAISTI
TANGGAPAN TEGUH (TGL 10 JULI 2008)
Saya tidak tahu darimana Anda menerima sumber dan membuat teori baru bahwa
HEBRAISTI BUKAN IOUDAISTI, dengan membuat perbandingan telanjang (tanpa mengkaji
lebih jauh susunan kata Yunaninya) antara BETESDA
(padahal dalam naskah Yunaninya “Bethzata”) sebagai bahasa HEBRAISTI,
dan BET KHESED sebagai bahasa IOUDAISTI. Lalu membandingkan GOLGOTHA sebagai
bahasa HEBRAISTI dan GULGOLET sebagai bahasa IOUDAISTI. Telah diterangkan pada
bagian pertama bahwa penyalin naskah Yunani tidak melakukan transliterasi
melainkan melakukan translasi bunyi. Namun translasi bunyi menjadi tidak
sempurna karena huruf-huruf Yunani tidak memiliki huruf-huruf tertentu yang
dimiliki huruf Yunani seperti“heh” (h), “khet” (x), “shin” (v), “yod” (y), sehingga kata/nama dalam tulisan
Yunani tersebut tidak begitu saja dipahami sebagai Aramaik melainkan harus
diurai, dianalisis sampai ke akar kata asal, yaitu HEBRAISTI atau IBRANI.
Mempertentangkan antara HEBRAISTI dan IOUDAISTI tidak bisa diterima secara
akademis. Bahkan Yosefus sendiri membedakan antara HEBRAISTI dengan SURISTI
bukan IOUDAISTI sbb:
JOE Ant
10:8
When Rabshakeh had made this speech in the Hebrew tongue (e`brai?sti. le,gonta {Hebraisti legonta}), (for he was skilful in that language,)
Eliakim was afraid lest the multitude that heard him should be disturbed; so he
desired him to speak in the Syrian tongue (suristi. fra,zein {Suristi grazein}).
But the general, understanding what he meant, and perceiving the fear that he
was in, he made his answer with a greater and a louder voice, but in the Hebrew
tongue (e`brai?sti. le,gein {Hebraisti legein}),
and said, that ``since they all heard what were the king's commands, they would
consult their own advantage in delivering up themselves to us;
Tanggapan Budi Asali:
Saya kira ini tidak penting, dan saya tak perlu
menanggapi.
IV.
NASKAH
DU TILLET: TERJEMAHAN DARI MATIUS BAHASA YUNANI ATAU SALINAN MATIUS DARI BAHASA
IBRANI?
Yohanes [26 Mei 2008]:
Wah, rupanya dugaan belaka toh? Apakah dugaan dapat dijadikan bukti? Di situs Torah
Resource.com
-- yang sering Anda kutip -- tersedia manuskrip Du Tillet yang sudah ditulis
dalam aksara Ibrani dan diparalelkan dengan naskah Yunani, ternyata engga beda
jauh. Bandingkan saja Matius 1:1 ini:
|
TB-LAI |
Inilah
silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. |
|
TR |
BIBLOS
GENESEÔS IÊSOU KHRISTOU HUIOU DABID HUIOU ABRAAM |
|
DU
TILLET |
|
|
|
|
|
HBHK |
ZEH
SÊFER TÔLEDÔT HAMÂSYÎAKH YEHÔSYUA' BEN-DÂVID BEN-'AVRÂHÂM |
Perbedaannya:
Du Tillet memulai dengan demonstratif pronomina 'ELEH, inilah,
kemudian tidak mencantumkan Yesus sebagai Mesias. Ayat berikutnya pun hampir
mirip dengan HBHK (HaBrit HaKhadasya) yang diterjemahkan dari naskah
Yunani, bandingkan pula dengan Matius 1:2 di bawah ini:
|
TB-LAI |
Abraham
memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan
Yehuda dan saudara-saudaranya, |
|
TR |
ABRAAM
EGENNÊSEN TON ISAAK ISAAK DE EGENNÊSEN TON IAKÔB IAKÔB DE EGENNÊSEN
TON IOUDAN KAI TOUS ADELPHOUS AUTOU |
|
DU
TILLET |
|
|
|
|
|
HBHK |
'AVRÂHÂM
HÔLÎD ET-YITSKHÂQ VEYITSKHÂG HÔLÎD ET-YA'AQÔV VEYA'AQÔV
HÔLÎD ET-YEHÛDÂH VE 'ET-'AKHÂV |
Perbedaannya:
Du Tillet kurang menggunakan konjungsi VÂV seperti yang biasa dilakukan
oleh naskah Ibrani.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Mengenai historitas
dan validitas naskah DU TILLET, akan saya berikan informasi dan beberapa kajian
sekitar DU TILLET sbb (www.torahresources.com):
A Brief History of the du Tillet Matthew
Compiled by Tim Hegg
© 2004 Torahresource.com
As is the case with many
medieval manuscripts, the history of the du Tillet is shrouded in mystery. The
exact date of the manuscript, as well as its provenance, is not known, though it
is presumed to be a 14th Century manuscript originating in Italy. Its name is
derived from that of Bishop Jean du Tillet, bishop of Saint-Brieuc, who, in
1553, travelled to Rome where he obtained the manuscript. In the preface of the
publication he writes that it was the Gospel of Matthew in Hebrew, which I would
not presume to suggest Matthew wrote by divine inspiration in his own language .
. . but yet I can affirm is clearly not in the rabbinic style, and is written in
a pure form of the language that in no way resembles the writings of
post-Christian Judaism (Pinchas Lapide, Hebrew
in the Church (Eerdmans, 1984), p. 58.)
The exact way in which the
Bishop obtained the manuscript is not described, though Jean Mercier, in the
preface to the Latin translation that accompanied the 1555 publication of the du
Tillet Matthew, speaks of the “Hebrew Matthew recently wrested from the Roman
Jews.” (Ibid., p. 216, n. 26.) Schonfield suggests that the du Tillet
manuscript almost certainly came from one of the books confiscated from the
Roman Jews by papal decree in 1553 (H. J. Schonfield, An Old Hebrew Text of St. Matthew’s Gospel (Edinburgh, 1927), pp. 3–6, noted in William Horbury,“The Hebrew Matthew
and Hebrew Study” in Horbury, ed., Hebrew Study from
Ezra to Ben-Yehuda (T&T Clark, 1999), p. 125.
)
Since it was one of the
polemical works used to combat Christian evangelism of the Jews, this suggestion
seems highly likely. However, Lapide notes that the royal sanction for
publication (written in French) which comes at the end of the book, is dated
January 29, 1552, about a year before the bishop’s supposed journey to Rome to
obtain the manuscript. The du Tillet appeared in print in 1555, accompanied by
the Latin translation of Jean Mercier, and published by the firm of Martin Le
Jeune. It was dedicated to the Cardinal of Lorraine, Charles de Guise. It had
the long title, “Gospel of Matthew until this day hidden with the Jews and
concealed in caves and now brought out by the latter from within the chambers
and darkness to light again.” As noted, the du Tillet was a polemical tool of
the Jewish community, noted clearly by the fact that following the text of
Matthew, there were added some twenty-three “Jewish objections to the
Gospel.” Bishop du Tillet explained that he included these polemical questions
in his publication “to demonstrate the waywardness of the Jews,” noting that
“any Christian will find it very easy to answer them.”(Horbury, Ibid., p.
126.). The du Tillet Matthew should not be confused with other Hebrew Matthews
that were published during the middle ages. For instance, Sebastian Münster
published a Hebrew version of Matthew in 1537 which he titled ה".. ַחיִ.ָ.ַה , “The Torah of the
Messiah.” In his preface, Münster states that he used a “tattered” MS,
and supplemented or altered its defective text. What is exactly meant by this
notice has been debated. Some think the manuscript included many lacunae which Münster
supplied from other texts (Latin or Greek, George Howard, The Gospel of Matthew according to a Primitive Hebrew Text (Mercer Press, 1987), p. 161.
).
Horbury suggests that the
manuscript he used was interspersed with polemical comments, which he extracted
in order to make the Matthew text contiguous (Ibid., p. 124.) Since, however, Münster
did not mark his editorial work, use of the Münster Matthew for text-critical
purposes is dubious. Another Hebrew Matthew is contained in the “Even Bohan”
( ןֶבֶא ןַח.. , “The
Touchstone”), authored by Shem-Tob ben Issac ben Shaprut (sometimes called Ibn
Shaprut). It is a polemical work comprising 12 sections or books (though an
additional five sections were added later). It was originally written by Shaprut
in 1380, and revised several times through subsequent years. Of the original
books the first deals with the principles of the Jewish faith, the next nine
deal with various passages in the Bible that were disputed by Jews and
Christians, the eleventh discusses certain haggadic sections in the Talmud used
by Christians or proselytes to Christianity, and the twelfth contains the entire
Gospel of Matthew in Hebrew along with polemical comments by Shem Tob
interspersed throughout the text (Howard, Ibid., p. ix. ). When Jean du Tillet
published his Hebrew Matthew in 1555, he made it clear that his text was far
superior to that of Münster’s, which he characterized as “barbarous and
inept.”(Horsbury, Ibid., p. 126.). In typical anti-semitic jargon, he writes:
I can assert that [this text] is for the most part removed from rabbinical
parlance, and is written with that purity of speech which nothing written after
the desolation of that nation enjoys (Ibid.). It is not certain whether the
manuscript itself is the product of Christian or Jewish scribes, nor whether it
is a translation from another version (Vulgate, Greek, Syriac) or combination of
versions. Lapide is certain that it is a translation from a common Vorlage used also by the Münster
Matthew (Lapide, Op. cit., p. 62.)
Howard, and Alexander Marx
before him, argue for the independence of the Shem-Tob Matthew from either the
source of Münster or du Tillet, though Howard notes that there are some unique
or almost unique readings shared by the Shem-Tob and du Tillet (Howard, Op.
cit., 162ff.) Howard’s conclusion was that the Du Tillet was a revision of a
previous Hebrew Matthew, attempting to bring it into line with current Greek and
Latin texts (George Howard, “The Textual Nature of an Old Hebrew Version of
Matthew,” JBL 105/1(1986), 63.)
Publications of the du Tillet
subsequent to its initial publication in 1555 include that of Adolf Herbst in
1879 (A. Herbst, Des Schemtob ben Schaphrut
hebraeische Übersetzung des Evangeliums Matthaei nach den Drucken des S. Münster
und J. du Tillet-Mercier neu herausgegeben (Göttingen,
1879). Herbst erroneously considered the text as basically a reproduction of the
Shem-Tob. Herbst’s text is that used by Trimm in his publication {see next
note}) and Hugh J. Schonfield in 1927 (Schonfield, An Old Hebrew Text of St. Matthew’s Gospel (Edinburgh, 1927).)
The du Tillet manuscript
itself resides in the Bibliotheque Nationale in Paris catalogued under Hebrew
Mss. No. 132. Lapide notes that the unpointed Hebrew text comprises 69
pages,(Lapide, Op. cit., p. 59) though the copy contained in Trimm’s
publication (James Trimm, B’sorot Mattai (H/ANTRI, 1990). Trimm’s
current publication (1999) does not contain facsimile of the manuscript itself,
but only that of Herbst’s Hebrew pages.) shows 74 pages. Thus, the du Tillet
remains before us as an historical document of Matthew’s Gospel. We are
therefore offered the opportunity to study it and find in its pages the valuable
information it may contain in terms of the text of the Gospel, and perhaps even
its connection to a very early strata of the textual transmission of the
biblical text itself.
Terlepas dari
beberapa kontroversi mengenai eksistensi dan validitas naskah DU TILLET
(perhatikan yang saya beri warna biru), namun mari kita mempertimbangkan
beberapa karakteristik khas dari naskah DU TILLET.
DR. Scott James Trimm
dalam TEXTUAL CRITICSM OF THE SEMITIC NEW
TESTAMENT (http://www.nazarene.net/hantri/FreeBook/textcom.pdf)
memberikan beberapa ulasan mengenai sejumlah kasus perbedaan antara naskah DU
TILLET dan Matius Yunani dikarenakan adanya (scribbal error) kesalahan
penyalinan dari naskah Ibrani. Dalam banyak kasus, bacaan DU TILLET nampaknya
asli dibandingkan naskah Yunani yang menampilkan scribbal error (kesalahan
penyalinan). Beberapa contoh kasus sbb:
·
Mat 4:12
DU TILLET,
“Yokhanan telah dipenjarakan” (rwsa)
Naskah Yunani,
“Yohanes telah ditangkap (rsm)
·
Mat 4:24
DU TILLET, “Maka
tersiarlah berita tentang Dia ke seluruh orang (m[h)
Naskah Yunani,
“Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria” (mra)
(sangat jelas bahwa
ini merupakan kekeliruan penyalinan mengenai artikulasi)
·
Mat 8:21
DU TILLET, “Dan
seorang muridnya (wydymltm dxaw) = Shem Tov
Naskah Yunani, “Dan
murid-Nya yang lain, (wydymltm
rxaw) berkata kepada-Nya:
"Tu(h)an, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku."
·
Mat 11:28
DU TILLET, Dan Aku
akan memuaskanmu” (mk[ybfa)
Naskah Yunani,
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan
memberi kelegaan (tbf?) kepadamu.”
·
Mat 14:20
DU TILLET, “Dan
mereka menyingkirkan” (wrafnw)
Naskah Yunani, “Dan
mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan (wrafnw)
potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh”
·
Mat 17:12
DU TILLET,
“Demikian pula Anak Manusia akan menerima (lbqy) dan menanggung
kengerian
Naskah Yunani,
“Demikian juga Anak Manusia akan menderita (lbsy) dan menanggung
kengerian."
·
Mat 18:16
DU TILLET, ‘bawalah
seorang saksi (d[) satu atau dua orang
Naskah Yunani,
“Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi (dw[) supaya
atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
(Cat: Bandingkan
dengan Ulangan 19:15)
·
Mat 18:21
DU TILLET,
‘Kemudian Kefa memanggilnya Dia” (arq)
Naskah Yunani,
“Kemudian datanglah (brq) Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tu(h)an,
sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap
aku? Sampai tujuh kali?"
·
Mat 22:34
DU TILLET,
‘“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang
Saduki itu bungkam, bersidanglah (wdswn) mereka
Naskah Yunani,
“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang
Saduki itu bungkam, berkumpullah (wd[wn) mereka
·
Mat 24:12
DU TILLET, ‘“Dan
karena makin bertambahnya penyesatan ([fp)
Naskah Yunani, “Dan
karena makin bertambahnya kedurhakaan, ([fr)
Demikian kajian James
Trimm. Cara Anda menarik simpulan hanya berdasarkan membandingkan Matius 1:1,
jelas kurang valid. Namun jika Anda jujur, DU TILET tidak sama mengungkapkan
nama Yahshua. Jika naskah Greek menggunakan nama VIhsou/ (Iesou) maka DU TILLET menggunakan ושי (Yeshu). Bahkan kata pembuka dimulai dengan הלא (Eleh) sementara naskah Yunani langsung
menggunakan kata benda Bi,bloj (Biblos). Yang menarik, dalam daftar
silsilah, DU TILLET memasukkan nama AVNER, sehingga tepat keseluruhannya ada 14
keturunan X 3 (lihat daftar silsilah)
Tanggapan Budi Asali:
Sama seperti di atas, kalau DuTillet berbeda
dengan naskah Yunani, apa sebabnya DuTillet yang dianmggap benar? Dan kalaupun
memang DuTillet yang benar, itu bisa terjadi karena Duillet membe4narkan apa
yang dianggap salah dari naskah Yunani, dari mana DuTillet diterjemahkan!
Jadi, ini tak punya kekuatan argument sama sekali.
Juga baik Sem Tob maupun DuTillet hanya
mencakup Injil Matius saja, dan keduanya tiodak mempunyai nama Yahweh!
Seandainya Matius memang bahasa aslinya adalah
Ibrani, tetapi Lukas bahasa aslinya adalah Yunani. Itu adalah argumentasi yang
lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pengubahan Yahweh menjadi KURIOS /
Lord / Tuhan merupakan sesuatu
yang benar, karena ada otoritas ilahi dari Roh Kudus yang mengilhami Lukas!
V.
PENGGUNAAN
KATA YUNANI “KAI” DALAM NASKAH PERJANJIAN BARU YUNANI: CORAK KHAS SEMITIK
ATAU CORAK UMUM TIAP BAHASA?
Jika
Plato, Aristoteles, dan filsuf Yunani lainnya
menggunakan kata KAI berulang kali, apakah lantas tulisan mereka pun Anda
anggap sebagai khas semitik?
Lukas
1:57-66
57.
TÊ
DE ELISABET EPLÊSTHÊ HO KHRONOS TOU TEKEIN AUTÊN KAI EGENNÊSEN HUION
58.
KAI
ÊKOUSAN HOI PERIOIKOI KAI HOI SUGGENEIS AUTÊS HOTI EMEGALUNEN KURIOS TO ELEOS
AUTOU MET AUTÊS KAI SUNEKHAIRON AUTÊ
59.
KAI
EGENETO EN TÊ OGDOÊ HÊMERA ÊLTHON PERITEMEIN TO PAIDION KAI EKALOUN AUTO EPI
TÔ ONOMATI TOU PATROS AUTOU ZAKHARIAN
60.
KAI
APOKRITHEISA HÊ MÊTÊR AUTOU EIPEN OUKHI ALLA KLÊTHÊSETAI IÔANNÊS
61.
KAI
EIPON PROS AUTÊN HOTI OUDEIS ESTIN EN TÊ SUGGENEIA SOU HOS KALEITAI TÔ
ONOMATI TOUTÔ
62.
ENENEUON
DE TÔ PATRI AUTOU TO TI AN THELOI KALEISTHAI AUTON
63.
KAI
AITÊSAS PINAKIDION EGRAPSEN LEGÔN IÔANNÊS ESTIN TO ONOMA AUTOU KAI
ETHAUMASAN PANTES
64.
ANEÔKHTHÊ
DE TO STOMA AUTOU PARAKHRÊMA KAI HÊ GLÔSSA AUTOU KAI ELALEI EULOGÔN TON
THEON
65.
KAI
EGENETO EPI PANTAS PHOBOS TOUS PERIOIKOUNTAS AUTOUS KAI EN HOLÊ TÊ OREINÊ TÊS
IOUDAIAS DIELALEITO PANTA TA RHÊMATA TAUTA
66.
KAI
ETHENTO PANTES HOI AKOUSANTES EN TÊ KARDIA AUTÔN LEGONTES TI ARA TO PAIDION
TOUTO ESTAI KAI KHEIR KURIOU ÊN MET AUTOU
Ayat
57, 62, dan 64 ternyata tidak menggunakan kata KAI sebagaimana mestinya
yang digunakan oleh gaya bahasa Semitik.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Mengenai konjugasi kai. (kai) dalam
bahasa Yunani, menarik untuk dikaji secara mendalam. Kembali Mengutip pandangan Alan Black yang
mengulas karakteristik konjugasi KAI, sbb:
Koordinasi Anak Kalimat [Coordination of clauses]. Dalam
bahasa Yunani klasik, kalimat biasanya terdiri dari salah satu kata kerja pokok
dan kata kerja lainnya dibawahnya dalam bentuk anak kalimat keterangan atau
jenis lainnya. Di sisi lain, bahasa Ibrani cenderung meletakkan kata kerja satu
demi satu, menggabungkan mereka bersama dalam kata penghubung sederhana [bahasa
Ibrani, “waw”, “dan”]. Ini yang dikenal dengan sebutan parataxis,
dari kata paratasso, “saya meletakkan satu persatu”. Dalam bahasa
Yunani koine, susunan demikian tidak lazim. Dan hal ini telah terlebih dahulu
dijelaskan kemunculannya yang kerap dalam Kitab Perjanjian Baru. Namun
kemunculan secara tetap kata “dan” [Yunani, “kai”] dalam Kitab
Besorah/Injil merupakan pemaksaan yang berlebihan [overstraining] dalam
tulisan bahasa Yunani. Dalam Besorah/Injil, jenis demikian merupakan
karakteristik menonjol dalam Markus, yang merupakan contoh tunggal dari
panjangnya kalimat dalam bahasa Yunani dengan kata penghubung bersusun [subordinating
participles] [Band. Mark 5:25-27]. Contoh khas gaya markus dapat ditemukan
dalam Markus 10:33-34 sbb: “kata-Nya:
"Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan [kai] Putra Manusia akan
diserahkan kepada imam-imam kepala dan [kai] ahli-ahli Torah dan mereka
akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan [kai] mereka akan menyerahkan Dia
kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan, dan [kai] Ia akan
diolok-olokkan, diludahi, disesah dan [kai] dibunuh, dan [kai]
sesudah tiga hari Ia akan bangkit." Di sini kita melihat gaya bahasa Yunani
yang khas, mungkin, barangkali, telah di subordinasi oleh salah satu atau lebih
anak kalimat dengan menggunakan kata penghubung atau anak kalimat penghubung [relative
clauses]. Beberapa terjemahan seperti KJV dan RSV mencerminkan corak Semitik
dan memunculkan corak yang janggal [stylistically awkward] tersebut dalam
bahasa Inggris. Namun terjemahan bahasa Inggris lainnya yang mengakui
idiom-idiom Semitik tersebut, melakukan restrukturisasi terhadap pelanggaran
tata bahasa [restructure the gramar
slaightly] untuk menghasilkan terjemahan yang lebih diterima dalam bahasa
Inggris [band. Terjemahan GNB, NIV, JB, NEB]. [Cat: Persoalan parataxis
sebagai indikasi latar belakang Semitik, dibicarakan secara panjang lebar dalam
artikel J.B. Lightfoot mengenai Corak Khas Besorah/Injil Yokhanan {Style of
John’ Gospel} dalam situs ini, www.bible-researcher.com
Berdasarkan keterangan di atas, mari kita menguji dalam
Kitab TaNaKh, dimana kasus parataxis sering muncul. Contoh: Kejadian 8: 1-
(menurut terjemahan yang saya lakukan secara literal dari naskah Masoretik
dengan membuang seluruh catatan kaki yang saya buat) sarat dengan penggunaan
kata sambung “WE” (w) atau “DAN” sebagai karakteristik semitik.
Sebanyak
72% keseluruhan ayat-ayat Torah (Kejadian-Ulangan) dimulai dengan kata
‘WAW’. Ragam prosentasi dalam keseluruhan TaNakh, muncul dari Kitab Ruth
sebanyak 91% dan yang paling kecil dalam Kidung Agung sebanyak 1%. Jika di
totalkan dari Kejadian hingga Tawarikh akan diperoleh 76% sebagaimana
ditunjukkan dalam tabel berikut (Op.Cit. Christopher Lancaster, WAS THE NEW TESTAMENT REALLY WRITTEN IN
GREEK?, P. 201):
KISAH
SEJARAH : Torah
(72%, 4162 ayat dari 5848 ayat, di mulai dengan waw),
Yah(u)shua (76%), Hakim-hakim (89%), Ruth (91%), Samuel
(86%), Raja-raja (82%), Tawarikh (74%) 76% KARYA
PUISTIS : Mazmur
(14%), Amsal (12%), Pengkhotbah (19%), Kidung Agung (1%),
Ratapan (4%) 09,9% NABI-NABI
: YeshaYahu,
YermiYahu, Yekhezkiel, Daniel dll 43%
Konjugasi “WAW” kebanyakan muncul dalam kisah-kisah kesejarahan dalam
Kitab TaNaKh. Dari Kejadian hingga 2 Tawarikh, hanya kitab Ulangan yang memiliki
jumlah konjugasi “WAW” tidak kurang dari 65%. Karena jumlah keseluruhan dari
kita-kitab sejarah tersebut dapat menjacapi angkan 80%.
Konjugasi “WAW” pun muncul sebagai suat kecenderungan (proclitic) dalam
bagian Kitab Daniel dan Ezra yang mengandung bagian-bagian berbahasa Aramaik sbb
(Ibid., Christopher Lancaster, p. 202):
Persentase
“waw” Persentase
“dyn” dan “adyn” Persentasi
konjugasi lainnya Ezra
4:8-6:18, 7:12-28 47% 13% 60% Daniel
2:4-7:28 30% 21% 51%
Penerjemahan
“WAW” dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani, lebih rumit (a bit more complicated) di bandingkan ke dalam bahasa Inggris dan
Indonesia (biasanya diterjemahkan secara beragam, “and”, “then”, “and
then”, “but”, “yet”, kebanyakan dengan “and”. Dalam bahasa
Indonesia bisa secara beragam diterjemahkan “dan”, “maka”,
“selanjutnya”, “serta”). Beberapa bentuk variasi penerjemahan “WAW”
ke dalam bahasa Yunani biasanya menggunakan dua kata konjungtif ‘KAI” (kai) dan ‘DE’ (de).
Konjugasi ‘KAI” (kai) lebih umum dipakai dan muncul dalam
Septuaginta (TaNaKh dalam bahasa Yunani) al., Kejadian 1:3-2:3, 2:5,7-9, 13-16,
dll. Konjugasi ‘DE’ (de) muncul dalam Septuaginta al.,
Kejadian 1:2, 4:5, dll.
Selain
bentuk konjugasi ‘KAI” (kai) dan ‘DE’ (de)
yang muncul sebanyak 95-98% untuk menerjemahkan “WAW”, ada bentuk lainnya
yaitu ‘TOTE” (tote) dan “EPEITA” (epeita).
Apakah perbedaan ‘KAI” (kai) dan ‘DE’ (de)?
E.W. Bullinger dalam A CRITICAL LEXICON
AND CONCORDANCE TO THE ENGLISH AND GREEK NEW TESTAMENT sbb:
·
‘KAI” (kai), “kata penghubung yang
menggabungkan, menyatukan sesuatu dalam satu susunan yang ketat”
·
DE’ (de), “kata penghubung yang bersifat
menentang atau berkebalikan”
·
‘KAI” (kai), “menghubungkan pemikiran”
sementara DE’ (de), “memperkenalkan”. ‘KAI” (kai),
menghubungkan sesuatu dengan lancar sementara DE’ (de),
menyela ketika dikaitkan bersama-sama.
Jika
memang bentuk konjugasi “WAW” (dan “DE”, “TOTE”, “EPEITA”)
merupakan bentuk konjugasi umum dalam semua bahasa termasuk bahasa Yunani, mari
kita perbandingkan dengan beberapa tulisan Yunani kuno beriku (Ibid.,
Christopher Lancaster, Ibid., p.203):
Karya Jumlah kalimat Frekwensi kalimat yang diawali dengan “KAI” Frekwensi kalimat yang diawali dengan “DE’ Total “Kai” dan “De” Permulaan
Kehidupan (Plutarch) 133 11
(8,3%) 60
(45%) 71
(53,4%) Konstitusi
Athena 90 8
(8,9%) 36
(40%) 44
(49%) Aristides
(Plutarch) 224 19
(8,5%) 79
(35,3%) 98
(44%) Theseus
(Plutarch) 248
20
(8,1%) 118
(47,6%) 138
(55,7%) Kimon
(Plutarch) 168 11
(6,5%) 98
(58,3%) 109
(64,8%) Sejarah
(Herodotus) 2241 96
(4,3%) 1168
(52,1%) 1264
(56,4%) RATA-RATA 7,4% 46,4% 53,9%
Dari
pengelompokan tersebut kita dapat membandingkan bahwa konjugasi “KAI” dalam
karya Yunani kuno muncul sebanyak 53,9%
dibandingkan dengan konjugasi “WAW” dalam beberapa bagian kitab TaNaKh yang
berjumlah 76%. Yang menarik,
konjugasi “DE” (46%) lebih dominan muncul dibandingkan “WAW” (7%),
dimana konjugasi “WAW” justru banyak dipakai dalam Septuaginta untuk
menerjemahkan “WAW”. Beberapa contoh perlu disajikan untuk meyakinkan bahwa
struktur bahasa Yunani umum, lebih dominan menggunakan konjugasi “DE”
dibandingkan “KAI” (Ibid., Christopher Lancaster, p.204):
Karya Jumlah Kalimat Frekwensi kalimat yang diawali dengan “KAI” Frekwensi kalimat yang diawali dengan “DE’ Total “Kai” dan “De Apology
(Plato) 263 31
(11,8%) 59
(22,4%) 90
(34,2%) Symposium
(Plato) 642 85
(13,2%) 150
(23,4%) 235
(36,6%)
Ketika
TaNaKh diterjemahkan dalam Septuaginta, dominasi konjugasi yang dominan justru
berbanding terbalik. Konjugasi “KAI” (untuk menerjemahkan “WAW”) justru
lebih banyak dibandikan konjugasi “DE”. Perhatikan tabel berikut (Ibid.,
Christopher Lancaster, p.204):
|
Kitab |
Frekwensi kalimat yang diawali dengan ‘WAW” |
Frekwensi kalimat yang diawali dengan ‘KAI” |
Frekwensi kalimat yang diawali dengan ‘DE’ |
|
Torah
(Pentateukh) |
71% |
74% |
26% |
|
Yah(u)shua,
Hakim, Ruth, Shemuel, Raja, Tawarikh |
81% |
98% |
2% |
|
YeshaYahu,
Yekhezkiel, dll |
45% |
+/-94% |
+/-6% |
|
Mazmur,
Kidung Agung, Pengkhotbah, Amsal, Ratapan |
10% |
+/-75% |
+/-25% |
Dengan
latar belakang data-data di atas, maka ketika konjugasi “WAW” muncul secara
dominan dalam Kitab Perjanjian Baru versi Yunani, fenomena itu BUKAN KELAZIMAN
melainkan KEKHASAN SEMITISME yang terbungkus baju Yunani. Perhatikan tabel
berikut (Ibid., Christopher Lancaster, p.206):
Kitab Jumlah Ayat Frekwensi “KAI” Frekwensi “DE” Total Markus 678 391
(58%) 146
(22%) 537
(80%) Matius 1071 339
(32%) 285
(26,6%) 614
(59%) Lukas 1151 406
(35%) 356
(31%) 752
(66%) Yohanes 879 138
(14%) 141
(14%) 230
(28%) Wahyu 404
280
(69%) 007
(1,7%) 287
(71%) Kisah
rasul 1007 169
(17%) 431
(43%) 600
(60%)
Data-data
di atas tidak dapat menghindarkan Anda dari pilihan dan pengakuan bahwa
frekwensi konjugasi “WAW” dalam bentuk terjemahan Yunani ‘KAI”merupakan
SPIRIT SEMITIK.
Tanggapan Budi Asali:
Perdebatan ini hanyut ke arah yang tak ada
gunanya. Yang penting membuktikan bahasa asli dari Perjanjian Baru, bahkan
dari salah satu kitab dari Perjanjian Baru, yang mengandung ayat Perjanjian
Lama yang mengandung Yahweh, dan lalu dalam pengutipan diubah menjadi KURIOS.
Satu saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa pengubahan Yahweh menjadi KURIOS
/ Lord / Tuhan adalah sah. Dan itu sudah dipenuhi secara meyakinkan dalam
Injil Lukas. Jadi, untuk apa membicarakan sampah seperti di atas ini?
VI.
MENGENAI
KOMENTAR ARTIKEL “BAHASA PERJANJIAN BARU”
Yohannes: [28 Mei 2008]
Secara terpisah, saya pernah mengirimkan artikel berjudul "Bahasa
Perjanjian Baru" sebanyak lima seri, bagaimana komentar Anda?
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Saya
tidak menarus serius terhadap artikel And tersebut karena itu sudah menadi
paradigma umum dalam dunia akademik teologi bahwa penulisan Kitab Perjanjian
Baru dalam bahasa Yunani. Kesimpulan ini diperoleh karena mereka mendasarkan
pada BUKTI FAKTUAL pada naskah Yunani yang berjumlah sekitar 5000-an yang
tersebar dalam bentuk manuskrip, dan potongan papirus serta serpihan perkamen.
Namun dengan mempertimbangkan tiga hal yaitu :
·
EKSPRESI SEMITISME dalam naskah Perjanjian Baru berbahasa
Yunani
·
EKSISTENSI NASKAH INJIL & KITAB PERJANJIAN BARU
SEMITIK dari periode Abad Pertengahan semisal DU TILLET, SHEM TOV, MUNSTER,
CRAWFORD
·
EKSISTENSI NASKAH PESHITTA ARAMAIK yang secara gramatikal
tidak sama dengan naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani
Dengan
mempertimbangkan tiga hal tersebut, PATUTLAH kita melakukan DUGAAN bahwa pada
mulanya Besorah/Injil serta keseluruhan Kitab Perjanjian Baru tidak dituliskan
dalam bahasa Yunani melainkan Ibrani yang berasimilasi dengan sejumlah kosa kata
Aramaik. Kata DUGAAN jangan diartikan sama sekali tiada bukti empiris. Karena,
“the absence of evidence is not evidence of absence”. Anda tidak dapat
melemahkan dugaan saya dengan “argumentum e silentio”. Mengenai keyakinan
saya sebelum menemukan bukti Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani, persis
seperti adegan DR. Rushel yang menjabarkan teori “Peleburan Dingin” dalam
film “THE SAINT”. Ketika ditanya oleh para pakar lain, “Bagaimana Anda
begitu yakin bahwa teori itu akan terbukti benar jika Anda sendiri belum dapat
membuktikannya?” maka DR Rushel yang cantik menjawan dengan penuh gairah di
matanya, “Saya dapat merasakannya, bahwa teori itu dapat dibuktikan, seperti
air yang mengalir dari lautan menuju pantai”. Inilah sikap saya ketika
memberikan pernyataan bahwa saya tidak yakin bahwa naskah Perjanjian baru
ditulis dalam bahasa Yunani” (Teguh Hindarto, MTh., Tanggapan Atas Artikel:
Mengapa harus Yahweh?”, Majalah Rohani HIKMAT No 107 September 2007, Po. Box
122 Kebumen 54300, Jateng, hal 5-6 {www.messianic-indonesia.com}). Bukanklah
dalam bagian sebelumnya saya telah memberikan kajian secara mendalam ketika
menguji validitas pernyataan Anda bahwa Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam
bahasa Yunani?
Tanggapan Budi Asali:
Dalam debat terbuka antara saya dan Pendeta
Esra versus Teguh Hindarto dan Kristian Sugiyarto, mereka berdua mengakui bahwa bahasa asli Perjanjian Baru adalah
bahasa Yunani. Kalau tak percaya, lihat VCD / DVD nya! Mengapa sekarang
Teguh Hindarto ngotot (baca ‘dengan tegar tengkuk’) ‘balik kucing’ dan
mempertahankan bahwa bahasa asli Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani? Saya
kira Teguh Hindarto adalah penipu / pendusta dan adalah orang yang tidak tulus
sama sekali dalam mencari kebenaran!!! Sebaliknya, dengan segala macam cara,
halal atau tidak, berusaha mempertahankan apa yang ia tahu tidak benar! Saya
minta Teguh Hindarto untuk bertobat! Atau Tuhan akan buang anda ke
dalam neraka karena kesesatan dan penyesatan yang anda lakukan!
VII.
TANGGAPAN
ATAS ARTIKEL “HEBREWLANGUAGE”
Yohanes [28 Mei 2008]:
Kali ini saya kutip satu referensi dari salah satu literatur Yahudi: Hebrew
was not used as a spoken language for roughly 2300 years. However the Jews
have always devoted much effort to maintaining high standards of literacy among
themselves, the main purpose being to let any Jew read the Hebrew
Bible and the accompanying religious works in the original. It is
interesting to note that the languages that the Jews adopted from their adopted
nations, namely Ladino and Yiddish were not directly connected to Hebrew (the
former being based on Spanish and Arabic borrowings, latter being a remote
dialect of Middle High German), however, both were written from right to left
using the Hebrew script. Hebrew was also used as a language of communication
among Jews from different countries, particularly for the purpose of
international trade. The revival of Hebrew as a mother tongue was initiated by
the efforts of Eliezer Ben-Yehuda (1922-1858). Ben-Yehuda, previously an ardent
revolutionary in Tsarist Russia, had joined the Jewish national movement and
emigrated to pre-State Israel in 1881. Motivated
by the surrounding ideals of renovation and rejection of the diaspora lifestyle,
Ben-Yehuda set out to develop tools for vernacularizing the literary language
for everyday communication. Bagaimana tanggapan Anda atas pendapat orang Yahudi
itu sendiri yang saya tandai dengan huruf tebal? Dua ribu tiga ratus tahun
sebelum masa kini berarti jauh sebelum era Yesus Kristus ada di dunia ini. http://www.hebrewla nguage.biz/ hebrew/history. asp & http://www.hebrewbi bles.com/ hebrew.html
Situs di atas adalah situs dari kalangan Yahudi sendiri.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Mengenai
pernyataan seorang Yahudi dari HEBREWLANGUAGE, saya anggap sebagai salah satu
paradigma yang masih dipegang oleh kebanyakan para sarjana yang akhir-akhir ini
sedang mengalami peninjauan ulang. Kajian-kajian DR. David Bivin, Shamuel
Safrai, dalam www.jerusalemperspective.com
bukan hanya oleh orang-orang non Yahudi melainkan orang-orang Yahudi.
VIII.
MENGENAI
NASKAH PERJANJIAN BARU YUNANI DALAM DEAD SEA SROLL
Yohanes [29 Mei 2008]:
Penemuan naskah laut mati tidak membuktikan bahwa Yesus Kristus berbicara dalam
bahasa Ibrani. Di samping naskah berbahasa Ibrani, naskah berbahasa Aram pun
ditemukan di sana. Penulisan Perjanjian Damaskus pun demikian. Ahli Taurat dan
orang Farisi di era Yesus Kristus dapat saja menulis dalam bahasa Ibrani, namun
mereka menggunakan bahasa Aram sebagai percakapan sehari-hari. Penulisan dan
pembicaraan itu berbeda. Sekedar tambahan, salah satu fragmen dengan kode 7Q5
yang ditemukan bersama-sama dengan dokumen Laut Mati lainnya adalah naskah
Perjanjian Baru dari Injil Markus pasal 6 ayat 52-53 dan ditulis dalam ...
bahasa Yunani!
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Konteks
pengutipan penemuan naskah Laut Mati, untuk memetakan dan menelusuri kebudayaan
dan bahasa tulis serta percakapan pada peralihan Abad sebelum dan sesudah
kelahiran Mesias. Dari 600-an manuskrip, dihasilkan rasio penggunaan bahasa
Ibrani dan Aramaik sbb:
“If
we compare the total number of pages in these ten sectarian scrolls, we again
find a nine-to-one ratio of Hebrew to Aramaic (179 pages in the nine Hebrew
scrolls to 22 pages of Aramaic in the Genesis Apocryphon, David Bivin & Roy
Blizard, UNDERSTANDING THE DIFFICULT WORDS OF JESUS, 2001, P.29)
Perbandingan
rasio penggunaan bahasa Ibrani dibandingkan Aramaik, signifikan dengan upaya
membuktikan dalam bahasa apakah Yahshua berkomunikasi. Bahasa Ibrani terbukti
bukan bahasa mati melainkan bahasa yang tetap hidup, berkeksistensi dan
dipergunakan baik dalam percakapan sehari-hari, pengajaran maupun tulisan, di
samping juga bahasa Aramaik. Mengenai temuan gulungan 7Q5 di gua 7 yang
merupakan fragmen dari Markus 6:52-53 dalam bahasa Yunani, dengan 20 huruf
Yunani, tidak membuktikan bahwa bahasa percakapan Yahshua adalah dalam bahasa
Yunani. Meskipun Robert Jones dalam THE DEAD SEA SCROLLS AND CHRISTIANITY
(www.sundayschollministries.com) mengatakan sbb:
“Jose
O’ Calaghan, a Spanish Jesuit believes that some fragment from Cave 7 are from
the Gospel of Mark. The theory is just (barely) possible. Cave 7 was unique
because all 18/19 fragments found were in GREEK (most of the other scrolls are
in Hebrew or Aramaic). Greek was of course, the language of the early
Christians but it was also the language of Hellenized Jews”
Namun
“Early Christians” di sini harus
dipahami sebagai orang-orang non Yahudi yang kelak menerima Mesias, tentu saja
menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa percakapan (Apalagi eksistensi bahasa
Yunani, Latin, Ibrani, menjadi bahasa umum pada zaman itu, Yohanes 19:20) dan
kelak dalam penerjemahan ucapan-ucapan Mesias sehingga menjadi Kitab Perjanjian
Baru versi Greek.
Tanggapan Budi Asali:
Selalu membicarakan dengan bahasa apa Yesus
bicara (dalam faktanya). Ini tak ada gunanya! Dengan bahasa apapun Ia bicara,
penulisannya dalam Perjanjian Baru dilakukan dalam bahasa Yunani. Ini yang
penting!
IX.
EKSEGESE
NEHEMIA 13:24
Yohannes: [OLD]:
Saya kutip satu ayat, tolong berikan pendapat Anda atas bagian yang saya tandai
dengan huruf tebal: Sebagian dari anak-anak mereka berbicara bahasa Asdod atau
bahasa bangsa lain itu dan tidak tahu berbicara bahasa Yahudi. (Nehemia 13:24,
TB-LAI) Teguh [OLD]: Anda seolah-olah
hendak mengatakan bahwa orang Yahudi sudah melupakan bahasa Yahudi/Ibrani,
dengan mengutip ayat yang lepas dari konteksnya. Padahal kalimat dalam ayat 24,
tidak dapat dilepaskan dengan konteks dalam ayat 23 yang mengatakan: "Pada
masa itu juga kulihat bahwa beberapa orang Yahudi memperisteri
perempuan-perempuan Asdod, perempuan-perempuan Amon atau perempuan-perempuan
Moab". Akibat orang Yahudi memperistri bangsa-bangsa yang tidak mengenal
Yahweh, keturunan mereka ada yang tidak bisa berbahasa Yahudi/Ibrani. Tapi ayat
ini TIDAK MENDUKUNG asumsi bahwa bahasa Aramaik menggantikan bahasa Ibrani.
Bahkan pada ayat 1 dikatakan bahwa Kitab Torah tetap dibacakan dalam bahasa
Ibrani sbb: "Pada masa itu bagian-bagian dari pada kitab Musa dibacakan
dengan didengar oleh rakyat. Didapati tertulis dalam kitab itu, bahwa orang Amon
dan orang Moab tidak boleh masuk jemaah Tuhan untuk selamanya". Yohannes
[29 Mei 2008]: Saya minta pendapat Anda, koq Anda lantas menuding bahwa saya
menyatakan orang Yahudi sudah melupakan bahasa ibu? Ayat di atas menunjukkan
suatu kemungkinan bahwa bahasa Ibrani dapat saja menghilang dari peredaran atas
alasan tertentu.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Mengenai
eksegesa Nehemia 13:24 yang mengatakan, “Sebagian (ycix] {KHATSI)
dari anak-anak mereka berbicara bahasa Asdod atau bahasa bangsa lain itu dan tidak
tahu berbicara bahasa Yahudi” sudah jelas sebagaimana yang telah saya
uraian sebelumnya. Bahwa pembacaan ayat 24, tidak dapat dilepaskan dari
pembacaan ayat 23 yang mengatakan, “Pada masa itu juga kulihat bahwa orang
orang Yahudi memperisteri perempuan-perempuan Asdod, perempuan-perempuan
Amon atau perempuan-perempuan Moab.” Ayat ini TIDAK MEMBUKTIKAN bahwa bahasa
Aramaik atau bahasa asing menggantikan peranan bahasa Ibrani. Sebaliknya,
terjadi asimilasi budaya dan bahasa sehingga menyebabkan BEBERAPA(ycix] {KHATSI)
bukan SEMUA (lk' {KAL}),
orang Yahudi tidak mengerti berkata-kata dalam bahasa Yahudi.
Tanggapan Budi Asali:
No comment! Saya bosan dengan ketololan seperti
ini!
X.
MENGENAI
KATA “GAVAHTA” [YEKHZ 31:10] DAN “GABATA” [YOKH 19:3]: IBRANI ATAU
ARAMAIK?
Yohannes: [OLD]:
GABATA Kata Aramaik, seperti yang ditulis oleh Yosefus dalam War, V.II.1. Kata
GABAT berarti tempat yang tinggi, atau tempat yang diangkat, yaitu suatu area
datar yang diangkat dan terletak di dekat Bait Allah. Aksara 'ALAF di belakang
kata GABAT merujuk kepada status emphatic (penekanan) pada nomina. Akar kata
yang sama GÎMÊL-BÊT, GAV atau GAB, dalam bahasa Ibrani digunakan untuk bulu
mata, lingkar, perisai, bajak, punggung, yang lebih mirip dengan makna tempat
yang tinggi adalah dalam Yehezkiel 16:39 (VEHARSÛ GABÊKH, dan mereka akan
meruntuhkan tempatmu yang tinggi), dan 43:13 (VEZEH GAV HAMIZBÊAKH, inilah
tinggi mezbah itu). Uniknya, New International Version menerjemahkan kata
HEBRAISTI menjadi Aramaic. When Pilate heard this, he brought Jesus out and sat
down on the judge's seat at a place known as the Stone Pavement (which in
Aramaic is Gabbatha). (John 19:13, NIV) Teguh
[OLD]: Kata "Gabata" yang Anda dan kebanyakan orang duga sebagai
bahasa Aramaik, ternyata muncul dalam Yekhezkiel 31:10 dalam frasa, "ya'an
asher gabahta beqomah wayiten tsammarto el beyn 'avotim". Yohannes
[30 Mei 2008]: Ini namanya asbun alias asal bunyi, mirip kasus QÛMÎ
seperti yang dikutip oleh Kristian H. Sugiarto dalam ungkapan TALITA KUMI tanpa
mengkaji bahwa kata TALITA itu sendiri bukan kata Ibrani. Sama halnya dengan
mengatakan bahwa kata seronok adalah kata Melayu yang digunakan khusus di
Malaysia padahal dalam KUBI pun terdapat kata itu yang berarti bahwa kata itu
merupakan kata dalam bahasa Indonesia. Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan
ALLAH: Oleh karena ia tumbuh tinggi dan puncaknya menjulang sampai ke langit dan
ia menjadi sombong karena ketinggiannya, (Yehezkiel 31:10, TB-LAI) LÂKHÊN
(oleh sebab itu) KOH (demikian) 'ÂMAR (firman) 'ADONÂY (Tuhan) YEHOVIH (Allah)
YA'AN (oleh karena) 'ASYER (yang) GÂVAHTÂ (engkau meninggikan) BEQÔMÂH (pada
tempat tinggi) VAYITÊN (dan ia meletakkan) TSAMARTÔ (puncaknya) 'EL-BÊYN
(antara) 'AVÔTÎM (tali-tali tebal) VERÂM (dan ia meninggikan) LEVÂVÔ
(hatinya) BEGOVHÔ (pada ketinggiannya) GÂVAHTÂ dan GABATA itu beda, yang
pertama berjenis verba Ibrani dari akar kata GÂVAH atau GÂBAH, sedangkan yang
terakhir adalah nomina Aramaik dari akar kata GAB. Teguh
[OLD]: Kata "gabahta" merupakan bentuk kata kerja qal perfect
orang kedua maskulin tunggal yang bermakna "engkau telah ditinggikan"
, dari akar kata "gabah" yang bermakna "tinggi" atau
"agung". Yohannes [30 Mei 2008]:
Saya lengkapi, QÂL perfek dari kata GÂVAH, bukan GAB.
GÂVAH
Ia
meninggikan
GÂVEHÛ Mereka
meninggikan
GÂVEHÂH
Ia meninggikan (feminin)
GÂVAHTÂ
Engkau meninggikan
GÂVAHTEM Kalian meninggikan
GÂVAHAT
Engkau meninggikan (feminin)
GÂVAHTEN Kalian meninggikan (feminin)
GÂVAHTÎ
Aku meninggikan
GÂVAHNÛ Kami/kita
meninggikan
XI.
MENGENAI
KATA “GPYTA” DALAM PESHITA ARAMAIK
Yohanes [2 Juni 2008]:
Mengapa Pesyita Aramaik menulis GEPÎPTA, bukan GABATA, seyogianya ditanyakan
kepada penyusun Pesyita karena rasul Yohanes tidak menulis Pesyita melainkan
menulisnya dalam bahasa Yunani. Ada tulisan menarik tentang hal ini dari John
Gill, sebagai berikut:
in
the place that is called the pavement, but in the Hebrew, Gabbatha. This place,
in the Greek tongue, was called Lithostrotos; or the pavement of stones, as the
Syriac version renders it: it is thought to be the room Gazith, in which the
sanhedrim sat in the temple when they tried capital causes [Glossary in Talmud
Babilonia, Avoda Zara, fol. 8. 2]; and it was so called, because it was paved
with smooth, square, hewn stones: "it was in the north part; half of it was
holy, and half of it common; and it had two doors, one for that part which was
holy, and another for that which was common; and in that half which was common
the sanhedrim sat" [Talmud Babilonia, Yoma, fol. 25. 1. Maimon. Hilch. Beth
Habbechira, c. 5. sect. 17. Bartenora in Misn. Middot, c. 5. sect. 3]
So
that into this part of it, and by this door, Pilate, though a Gentile, might
enter. This place, in the language of the Jews, who at this time spoke Syriac,
was Gabbatha, front its height, as it should seem; though the Syriac and Persic
versions read Gaphiphtha, which signifies a fence, or an enclosure. Mention is
made in the Talmud Babilonia, Sabbat, fol. 115. 1, of the upper Gab in the
mountain of the house; but whether the same with this Gabbaths, and whether this
is the same with the chamber Gazith, is not certain. The Septuagint use the same
word as John here does, and call by the same name the pavement of the temple on
which the Israelites felt and worshipped God.
And
when all the children of Israel saw how the fire came down, and the glory of the
LORD upon the house, they bowed themselves with their faces to the ground upon
the pavement, and worshipped, and praised the LORD, saying, For he is good; for
his mercy endureth for ever. (2Chronicles 7:3, KJV)
Mengenai
kata Yunani “Gabbaqa” (Gabbatha) yang Anda yakini
sebagai Aramaik, silahkan melihat kembali penjelasan saya pada bagian pertama.
Akhiran “ALFA” belum tentu semakna dengan ciri Aramaik yang pada kata benda
selalu diakhiri huruf “ALAF” sebagai definite article. Jika berasal dari
bahasa Aramaik, seharusnya mengikuti petunjuk Peshita Aramaik yang menuliskan Fpypg (atpypg): GPYPTA. Jika Anda meyakini itu adalah
bahasa Aramaik, seharusnya bukan GABATHA melainkan GPYPTA? Sebagaimana kita
ketahui bahwa huruf Yunani tidak memiliki huruf “HEH” sebagaimana dalam
bahasa Ibrani, sehingga kata “GAVAHTTA” (T'h.b;ÞG")
ditransalikan bunyinya menjadi GABATA (Gabbaqa). Bahkan kata
GABATA (Gabbaqa) telah didahului dengan kata (~Ebrai?sti. {Hebraisti}). Maka jelaslah bahwa yang dimaksud benar-benar bahasa Ibrani bukan
Aramaik.
XII.
MENGENAI
KATA YUNANI “IDOU”
Yohannes [3 Juni 2008]:
Kata IDOU, lihatlah, sesungguhnya adalah kata biasa yang digunakan oleh banyak
bahasa terutama bahasa-bahasa yang berasal dari Fenisia, bukan hanya bahasa
Ibrani. Bahasa Arab pun menggunakannya seperti dalam frasa INNA LILLAAHI ...
Alasan Anda tidak dapat diterima sama sekali.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Sebagaimana kojugasi “KAI” yang
merupakan khas semitisme dalam Kitab Perjanjian Baru naskah Yunani, demikianpula
kata “IDOU” (ivdou) ketika muncul dalam naskah Perjanjian
Baru Yunani (sebanyak 199 kali, Bible Work Seri 6) bukan corak umum bahasa
Yunani melainkan menerjemahkan corak khas bertutur Ibrani ketika menyebut
“HINEH” (hNEhi). Saya kutipkan mengenai makna kata
“HINEH” dari THEOLOGICAL WORD OF OLD TESTAMENT (BIBLE WORK SERI 6) sbb:
(510a)
hNEhi (hinneh) behold, lo, see. (ASV
and RSV "if.") An interjection demanding attention, "look!"
"see!" it occurs over a thousand times.
Sementara mengenai kata “IDOU” saya
kutipkan dari FRIBERG LEXICON (BIBLE WORK SERI 6):
13979 ivdou, strictly,
the second-person singular aorist middle imperative of
ei=don (see, perceive, look at) is ivdou/; but with an acute accent
(ivdou,) when used as a demonstrative particle to
prompt attention, followed by the nominative case to designate what is being
pointed out; pay attention, (you) see, look; (1) to arouse attention listen!
(LU 22.10); (2) to introduce something new and extraordinary indeed!
(you) see! (MT 1.20); (3) to emphasize the size, degree, amount, or
importance of something in the context indeed (LU 13.16); (4) to call for
close consideration listen! remember! consider! (MT 10.16); (5) to make
prominent a noun that is without a finite verb, like behold!; here or
there is, here or there comes (MT 12.10; 25.6)
XIII.
MENGENAI
ANTIQUITES 20:11:2
Teguh [OLD]:
Menurut keterangan Yosephus dalam Antiquites 20:11:2 diperoleh informasi sbb:
" I have also taken a great deal of pains to obtain the learning of the
Greeks and understanding the element of the Greek language although I have so
long accustomed myself to speak our own language, that I can't pronounce Greek
with sufficient extantness; for our nation does not encorage those that learn
the languages of many nations". Jika ada larangan berbahasa Greek di
Yerusalem, apakah Paul akan lebih fasih berbahasa Greek dibandingkan Yosephus
yang juga terbata-bata mengucapkan bahasa Greek? Yohannes [3 Juni 2008]: Tulisan Flavius Yosefus yang populer itu
yaitu Antiquitates Judaicae ditulis dalam bahasa Yunani. Frasa for our nation
does not encourage those that learn the languages of many nations itu bukanlah
menyangkut larangan menggunakan bahasa Yunani tetapi tidak disarankan agar orang
Yahudi mempelajari aneka ragam bahasa. Encourage itu berarti memberikan
semangat, to inspire with courage, spirit, or hope; courage itu sendiri berarti
kekuatan mental dan/atau moral.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Pengertian yang terkandung dalam
pernyataan Yosefus tetap menyiratkan suatu keengganan kalau tidak disebut
sebagai penolakan terhadap penggunaan bahasa Yunani. Bahkan pada frasa
sebelumnya Yosefus sendiri mengatakan, “…THAT I CAN’T PRONOUNCES GREEK
WITH SUFFICIENT EXTANTNESS”. Sarjana sekelas Yosefus saja tidak mahir
berbahasa Yunani, maka sulit untuk menalar Yokhanan, Matius dan rasul-rasul
Yahudi lainnya untuk mahir bercakap-cakap bahkan menuliskan Injilnya dalam
bahasa Yunani.
XIV.
MATIUS,
MARKUS, LUKAS, BUTA BAHASA IBRANI?
Yohanes [3 Juni 2008]:
Paulus berasal dari kalangan Farisi, dididik oleh Gamaliel, tentu saja Paulus
menguasai bahasa Ibrani, namun bagaimana dengan Matius, Markus, Lukas, Yohanes,
Petrus, Yakobus, dan Yudas? Nama-nama yang saya tulis itu bukanlah orang
terpelajar (bandingkan dengan Kisah Para Rasul 4:13).
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Saya tidak mengerti apa alasan Anda
mengatakan bahwa Matius, Markus, Yokhanan, Kefa, Ya’akov yang orang Yahudi
khoq dikatakan tidak mampu berbahasa Ibrani? Bukankah itu bahasa ibu mereka?
Tidak dibutuhkan keterpelajaran bagi mereka untuk memahami bahasa Ibrani. Itu
sudah alamiah bagi mereka.
XV.
DALAM
BAHASA APA PAULUS MENULISKAN SURATNYA?
Yohannes: [OLD]
Sulit diterima, tidak ada rujukan dalam Perjanjian Baru bahwa surat-surat Paulus
itu diterjemahkan, yang paling jelas adalah Paulus menulis surat itu dengan
tangannya sendiri. Pengen tanya, jika Paulus menulis surat ketika berada dalam
penjara, apakah Paulus memiliki sekretaris pribadi yang menerjemahkan suratnya?
Teguh: Kita hidup di Abad XXI
yang sama-sama sedang merekonstruksi kondisi Paul dan bagaimana cara dia
menuliskan surat-suratnya pada waktu itu. Saya pikir bukan sesuatu yang tidak
lazim jika seorang rasul seperti Paul untuk memiliki seorang sekretaris atau
penerjemah, sebagaimana YirmiYah memiliki juru tulis Baruk. Kesimpulan yang saya
buat dikarenakan secara eksplisit Kitab Perjanjian Baru naskah Greek tidak
pernah melaporkan dia menggunakan "Hellenis Dialekton" melainkan
"Hebraidi Dialekton". Maka logikanya, Paul menuliskan dengan tangannya
sendiri bahasa yang familiar bagi dia yaitu Ibrani yang kemudian diterjemahkan
untuk jemaat non Yahudi. Yohannes [27 Mei 2008]: Anda memaksa agar Paulus tunduk pada aturan
abad modern ini yaitu bahwa ia mutlak harus memiliki sekretaris. Situasi yang
dialami Paulus berbeda dengan Yeremia.
Teguh [OLD]:
Saya tidak menampik bahwa Rasul Paul tentu saja bisa berbahasa Greek sepatah dua
patah kata [Kis 21:37-38], namun melihat latar belakang pendidikan Torah, latar
belakang karakter bangsanya, maka disangsikan Paul fasih berbahasa dan
menuliskan keseluruhan suratnya dalam bahasa Greek. Mengapa tidak mungkin jika
Paul menuliskan suratnya dalam bahasa Ibrani kemudian ada penerjemah yang
menuliskan dalam bahasa Greek kemudian Paul menyalinnya dalam bahasa Greek,
sehingga dia mengatakan "surat ini kutulis dengan tanganku sendiri?" Yohannes
[3 Juni 2008]: Sudah ditanggapi di atas bahwa sebagai seorang Farisi, tentu
saja Paulus menguasai bahasa Ibrani. Tentang Paulus menulis surat dalam bahasa
Ibrani, saya lantas membayangkan bagaimana Paulus menulis kata YHVH di situ
karena menurut aturan orang Farisi, menulis empat huruf sakral itu harus
menggunakan empat batang pena! Emangnya Paulus mengganti-ganti pena yang
digunakannya? Saya yakin Anda fasih berbahasa Indonesia dan menulis dalam aksara
Latin, namun saya tidak yakin Anda pun menguasai bahasa yang digunakan oleh
kerajaan Nusantara tempo doeloe...Alkitab pun mencatat bahwa Paulus senantiasa
bersaksi kepada orang-orang Yunani, apakah lantas Dia bersaksi dalam bahasa
Ibrani? Bakal bengong tuh orang-orang Yunani! Paulus bukan menguasai bahasa
Yunani hanya satu atau dua kata saja, tetapi ia fasih berbicara dalam bahasa
Yunani. Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang
berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia. (Kisah Para Rasul
9:29, TB-LAI) Ada rujukan menarik tentang orang Yahudi berbahasa Yunani ini
dalam Talmud Hieros Sota: R. Levi bar Chajethah went to Caesarea, and heard them
reading Shema, (hear O Israel), in the Hellenistic language; he sought to hinder
them; R. Rose heard of it, and was angry; and said, he that knows not to read in
the Hebrew language, must he not read at all? yea, he may read in whatsoever
language he understands.
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Argumentasi saya mengenai surat Rasul
Paul sudah sangat jelas dengan disertai penjelasan latar belakang keagamaan,
pendidikan dan karakteristik suratnya. Namun Anda masih teap juga skeptis bahwa
Paul berbicara dalam bahasa Yunani dan menuliskan langsung dalam bahasa Yunani.
Sejak semula telah saya katakan bahwa Paul tentu saja bisa berbahasa Yunani
meski tidak fasih. Indikasi ini dapat kita lihat dalam percakapan yang terekam
dalam Kisah Rasul 21:37 (pro.j se, o` de.
e;fh ~Ellhnisti. ginw,skeij). namun kembali kita diberi penegasan bahwa dia berbicara secara fasih
dalam bahasa Ibrani (th/| ~Ebrai<di
diale,ktw|) sebagaimana
terekam dalam Kisah Rasul 21:40.
Mengenai pernyataan Anda bahwa saya
memaksakan situasi Abad XXI kepada Abad I zaman Paul, sungguh tidak berdasar.
Justru cara Anda mengkontradiksikan bahwa Yeremiah yang hidup beratus tahun
sebelum Paul, sudah memiliki Sekretaris, tidak bisa diterapkan pada Paul, sangat
tidak masuk akal. Apa dasar epistemologis mengatakan bahwa situasi yang dialami
Yeremiah tidak bisa dialami Paul?
Bahkan Bart D. Ehrman dalam bukunya
MISQUOTING JESUS yang kontroversial, mengatakan demikian:
“Yang pertama harus kita ketahui adalah bahwa tampaknya
surat itu, sebagaimana surat Paulus lainnya, TIDAK DITULIS OLEH TANGANNYA
SENDIRI tetapi didiktekan kepada SEORANG JURU TULIS SEKRETARIS. Bukti untuk hal
itu terdapat di bagian akhir surat, dimana Paulus menambahkan sebuah catatan
yang ia tulis sendiri, sehingga penerima surat akan tahu bahwa dialah yang
bertanggung jawab atas surat itu (suatu teknik yang biasa digunakan untuk
surat-surat yang didiktekan pada zaman dahulu). Catatan itu mengatakan, “Lihatlah,
bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri”
(Gal 6:11). Dengan kata lain, tulisan tangan Paulus lebih besar dan kemungkinan
tampak kurang profesional dibandingkan tulisan tangan sang penyalin yang
kepadanya Paulus mendiktekan surat itu”
Bagaimana komentar Anda?
Tanggapan Budi Asali:
Saya beri tambahan di sini kata-kata Kristian
Sugiyarto.
Kristian
Sugiyarto: “Kis. 21:40
menyatakan bahwa Saulus berbicara dengan bahasa Ibrani, minimal mulai dari
ps.22:1-21 yang memuat pertemuan/pertobatan Saulus pada Yahshua (Yesus), dan
hal ini diulangi lagi dengan tegas bahwa teguran Yahshua pun dengan bahasa
Ibrani (Kis.26:14). Jadi dari Sorga Yahshua pun memilih berbahasa Ibrani
bukannya Aramaik apalagi Yunani; tentulah hal ini dilakukan karena Saulus
(juga para rasul yang lain) adalah Ibrani tulen dan bukan mustahil Saulus
tidak fasih berbahasa Yunani. ”.
a)
Kata-kata dari Kristian Sugiyarto yang mengatakan bahwa Paulus mungkin
tidak fasih berbahasa Yunani itu hanya dia dasarkan pada:
1. Kis 21:40
yang menunjukkan bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani.
Kis 21:40 - “Sesudah Paulus diperbolehkan oleh
kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan
tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana sudah tenang, mulailah ia
berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, katanya”.
Bdk. Kis 22:2 - “Ketika orang banyak itu mendengar ia
berbicara dalam bahasa Ibrani, makin tenanglah mereka”.
2.
Kis 26:14 yang mengatakan bahwa Yesus berbicara kepada Paulus
dalam bahasa Ibrani.
Kis 26:14 - “Kami semua rebah ke tanah dan aku
mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani:
Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah
rangsang”.
Saya menjawab argumentasi Kristian Sugiyarto ini dengan suatu
pertanyaan: kalau ada seseorang berbicara kepada saya dalam bahasa Indonesia,
dan kalau ada orang yang mendengar saya berbicara dalam bahasa Indonesia,
apakah kedua hal itu membuktikan bahwa saya tidak bisa bahasa Inggris?
Saya kira dari illustrasi saya ini sudah sangat jelas bahwa
argumentasi Kristian Sugiyarto adalah argumentasi yang sangat tidak berdasar.
Ayat-ayat yang ia gunakan hanya membuktikan bahwa Paulus bisa berbahasa
Ibrani, tetapi sama sekali tidak membuktikan bahwa ia tidak bisa berbahasa
Yunani.
b)
Kristian Sugiyarto memotong ayat dari kontextnya.
Dalam menggunakan Kis 21:40 dan Kis 22:2, Kristian Sugiyarto
memotong ayat-ayat tersebut dari kontextnya. Dengan kata lain, ia menafsirkan
ayat-ayat itu tanpa mempedulikan kontextnya. Untuk bisa melihat ini marilah
kita melihat 2-3 ayat sebelum text yang digunakan oleh Kristian Sugiyarto.
Kis 21:37-38 - “(37)
Ketika Paulus hendak dibawa masuk ke markas, ia berkata kepada kepala pasukan
itu: ‘Bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?’ Jawabnya: ‘Tahukah
engkau bahasa Yunani? (38) Jadi engkau bukan orang Mesir itu, yang
baru-baru ini menimbulkan pemberontakan dan melarikan empat ribu orang
pengacau bersenjata ke padang gurun?’”.
Kepala pasukan itu adalah orang Romawi, bukan orang Yahudi,
dan karena itu tidak mungkin Paulus berbicara kepadanya dalam bahasa Ibrani.
Dan dari kata-kata ‘Tahukah engkau bahasa Yunani?’ dalam Kis 21:37b itu, jelas terlihat bahwa pada saat itu
Paulus memang berbicara kepadanya dalam bahasa Yunani. Itu menyebabkan dia
kaget, karena dia tadinya mengira Paulus adalah orang Mesir (Kis 21:38).
Albert Barnes menganggap bahwa kata-kata ‘orang Mesir’ ini berarti
‘orang Yahudi dari Mesir’.
Albert Barnes: “‘Canst thou speak Greek?’
... The Greek language was what was then almost universally spoken, and it is
not improbable that it was the native tongue of the chief captain. ... The
language which the Jews spoke was the Syro-Chaldaic; and as he took Paul to be
an Egyptian Jew (Acts 21:38), he supposed, from that circumstance also, that
he was not able to speak the Greek language” [= ‘Tahukah / bisakah
engkau berbicara bahasa Yunani?’ ... Bahasa Yunani adalah bahasa yang
digunakan hampir secara universal, dan adalah mungkin bahwa itu adalah bahasa
ibu dari kapten kepala ini. ... Bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi
adalah Syro-Chaldaic; dan karena tadinya ia mengira Paulus adalah seorang
Yahudi dari Mesir (Kis 21:38), ia menduga, dari keadaan itu juga, bahwa ia
tidak bisa berbicara dalam bahasa Yunani].
Perhatikan bahwa text ini hanya 2-3 ayat sebelum Kis 21:40,
yang digunakan oleh Kristian Sugiyarto di atas. Jelas bahwa penafsirannya
memotong ayat dari kontextnya! Seandainya ia membaca seluruh kontext, tidak
mungkin ia bisa menyimpulkan bahwa Kis 21:40 menunjukkan bahwa Paulus tak
bisa berbahasa Yunani!
Bahkan sebetulnya, Kis 21:40 itu sendiri, yang tahu-tahu
secara explicit menyebutkan bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani, jelas
secara implicit menunjukkan bahwa tadinya ia tidak berbicara dalam bahasa
Ibrani. Lalu dalam bahasa apa? Jelas dalam bahasa Yunani (Kis 21:37)!
Teguh
Hindarto memang memperhatikan Kis 21:37-38, tetapi entah dari mana ia
menyimpulkan bahwa itu hanya menunjukkan bahwa Paulus hanya bisa berbicara
sepatah dua patah bahasa Yunani! Dari mana gerangan kesimpulan gila ini?
Juga
pada saat dikatakan bahwa Paulus berbicara dalam bahasa Ibrani, boleh
dikatakan semua penafsir mengatakan bahwa yang disebut ‘bahasa Ibrani’
pada saat itu adalah ‘bahasa Aram’ atau campuran Chaldee (Kasdim) dan
Aram.
Adam
Clarke (tentang Kis 21:40): “What was called then the
Hebrew, namely, the Chaldaeo-Syriac” (= Apa yang disebut bahasa Ibrani
pada saat itu, artinya, Chaldee-Aram).
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kis 21:40): “‘He spake unto them in the Hebrew tongue.’
- the Syro-Chaldaic, the vernacular tongue of the Palestine Jews since the
captivity” (= ‘Ia berbicara kepada mkrk dalam bahasa Ibrani’. -
Aram-Chaldee, bahasa rakyatdr orang-orang Yahudi di Palestina sejak
pembuangan).
Albert Barnes (tentang Kis 21:40): “‘In the Hebrew tongue.’ The language which
was spoken by the Jews, which was then a mixture of the Chaldee and Syriac,
called Syro-Chaldaic” (= ‘Dalam bahasa Ibrani’. Bahasa yang
digunakan oleh orang-orang Yahudi, yang pada saat itu merupakan campuran dari
bahasa Chaldee / Kasdim dan Aram, disebut Syro-Chaldaic).
Wycliffe
Bible Commentary (tentang Kis 21:39-40):
“When Paul had captured the attention of the mob, he began to speak to
them in the native Aramaic dialect, which was the common Jewish language of
both Palestine and western Asia” (= Pada waktu Paulus telah menangkap
perhatian dari orang banyak, ia mulai berbicara kepada mereka dalam dialek
Aram pribumi, yang merupakan bahasa umum orang-orang Yahudi baik di Palestina
maupun Asia Barat).
A. T. Robertson (tentang Kis 21:40): “‘In
the Hebrew language.’ ... The Aramaean which the people in Jerusalem knew
better than the Greek. Paul could use either tongue at will” (= ‘Dalam
bahasa Ibrani’. ... Bahasa Aram yang dikenal dengan lebih baik dari pada
bahasa Yunani oleh orang-orang di Yerusalem. Paulus bisa menggunakan bahasa
yang manapun dari kedua bahasa itu semaunya).
Vincent:
“‘Tongue.’ dialektoo.
Literally, ‘dialect:’ the language spoken by the Palestinian Jews - a
mixture of Syriac and Chaldaic” (= ‘Bahasa’ DIALEKTOO. Secara
hurufiah, ‘dialek’: bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi
Palestina - suatu campuran dari Aram dan Chaldee / Kasdim).
c)
Bahwa Paulus bisa berbahasa Yunani, terbukti dari banyak hal, seperti:
1. Paulus
berasal dari kota yang bernama Tarsus (Kis 9:11
21:39 22:3).
Dimana dan bagaimana kota Tarsus itu, dan khususnya bahasa apa
yang digunakan di sana?
Gary Mink (internet): “He was born in Tarsus, a city in
the Roman province of Cilicia. Cilicia was part of Asia, which had been
conquered by Alexander the Great about 300 years before Paul was born. The
whole area was thoroughly Greek, both in culture and in language. The Romans
took control of it about 100 B.C. Paul was born a Roman citizen and probably
knew Greek from childhood. Regardless of when he learned it, he was fluent in
it” (= Ia dilahirkan di Tarsus, suatu kota di propinsi Romawi
dari Kilikia. Kilikia adalah bagian dari Asia, yang telah dtaklukkan oleh
Alexander yang Agung sekitar 300 tahun sebelum Paulus dilahirkan. Seluruh
daerah itu sepenuhnya bersifat Yunani, baik dalam kebudayaan maupun bahasa.
Orang-orang Romawi menguasainya pada sekitar tahun 100 SM. Paulus dilahirkan
sebagai seorang warga negara Romawi dan mungkin mengenal bahasa Yunani sejak
masa kanak-kanak. Tanpa menghiraukan tentang kapan ia mempelajarinya, ia fasih
dalam bahasa itu).
Nelson’s Bible Dictionary: “TARSUS ... the birthplace of the apostle Paul (Acts
21:39, 22:3), formerly known as Saul of Tarsus (Acts 9:11). Tarsus was the
chief city of CILICIA, a province of southeast Asia Minor (modern Turkey;
...). ... During the Seleucid period, however, Tarsus became a free city
(about 170 B. C.), and was open to Greek culture and education. By the
time of the Romans, Tarsus competed with ATHENS and ALEXANDRIA as the learning
center of the world” [= TARSUS ... tempat kelahiran dari rasul Paulus
(Kis 21:39, 22:3), yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus dari Tarsus (Kis
9:11). Tarsus adalah kota utama dari Kilikia, sebuah propinsi dari Asia Kecil
sebelah tenggara (pada jaman modern itu adalah Turki; ...). ... Tetapi selama
masa Seleucid, Tarsus menjadi suatu kota yang bebas (sekitar tahun 170 SM),
dan terbuka bagi kebudayaan dan pendidikan Yunani. Pada jaman Romawi, Tarsus
bersaing dengan Athena dan Alexandria sebagai pusat pendidikan dunia].
The International Standard Bible Encyclopedia: “TARSUS. 1. Situation: The chief city of Cilicia,
the southeastern portion of Asia Minor. ... 4. Tarsus under Greek Sway:
Alexander’s overthrow of the Persian power brought about a strong
Hellenic reaction in Southeastern Asia Minor and must have strengthened the
Greek element in Tarsus, but more than a century and a half were to elapse
before the city attained that civic autonomy which was the ideal and the
boast of the Greek polis. ... From this time Tarsus is a city of
Hellenic constitution, and its coins no longer bear Aramaic but Greek
legends” (= ).
The International Standard Bible Encyclopedia: “PAUL, THE APOSTLE, PART IV-1. 1. The City of
Tarsus: Geography plays an important part in any life. ... Paul grew up in a
great city and spent his life in the great cities of the Roman empire. ... He
was not merely a resident, but a ‘citizen’ of this distinguished city.
This fact shows that Paul’s family had not just emigrated from Judaea to
Tarsus a few years before his birth, but had been planted in Tarsus as part of
a colony with full municipal rights (Ramsay, St. Paul the Traveller, 31 f).
Tarsus was the capital of Cilicia, then a part of the province of Syria, ...
Ramsay (ib, 117 ff) from Gen 10:4 f holds that the early inhabitants were
Greeks mingled with Orientals. East and West flowed together here. It was a
Roman town also with a Jewish colony (ibid., 169 ff), constituting a city
tribe to which Paul’s family belonged. So then Tarsus was a typical city of
the Greek-Roman civilization” (= )
Encyclopedia
Britannica 2007 dengan topik ‘Paul, the apostle, saint’:
“Like
many of the Jews there Paul inherited Roman citizenship, probably granted by
the Romans as a reward for mercenary service in the previous century. This
fact explains his two names. He used his Jewish name, Saul, within the Jewish
community and his Roman surname, Paul, when speaking Greek. Though he had a
strict Jewish upbringing, he also grew up with a good command of idiomatic
Greek and the experience of a cosmopolitan city, which fitted him for
his special vocation to bring the gospel to the Gentiles (non-Jews)”
(= ).
Jadi, asal usul Paulus dari kota yang bernama Tarsus, yang
bukan terletak di Palestina / Kanaan, tetapi di Kilikia (Kis 21:39
22:3), dan dipenuhi oleh kebudayaan Yunani. Lalu mungkinkah ia ternyata
tidak bisa berbahasa Yunani?
2.
Paulus adalah rasul bagi orang-orang non Yahudi (Kis 9:15
Kis 22:21 Kis 26:17
Gal 1:16 Gal 2:7-9).
Mengingat bahwa Yunani merupakan bahasa ‘seluruh dunia’
pada saat itu (mungkin seperti bahasa Inggris pada jaman ini), maka kalau
Paulus dijadikan rasul orang-orang non Yahudi, adalah tidak masuk akal kalau
ia tidak bisa bahasa Yunani!
3.
Paulus banyak memberitakan Injil dan mempertobatkan orang-orang non
Yahudi / orang Yunani.
Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
·
Kis 9:28-29 - “(28) Dan
Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian
mengajar dalam nama Tuhan. (29) Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan
orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha
membunuh dia”.
·
Kis 14:1 -
“Di Ikoniumpun kedua rasul itu (Paulus dan Barnabas) masuk ke
rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah
besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya”.
·
Kis 17:4,12 - “(4)
Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus
dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah,
dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka. ... (12) Banyak di antara
mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan
terkemuka dan laki-laki Yunani”.
·
Kis 18:4 - “Dan setiap
hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan
orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani”.
·
Kis 19:8-10 - “(8)
Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan
berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan
Allah. (9) Tetapi ada beberapa orang yang tegar hatinya. Mereka tidak mau
diyakinkan, malahan mengumpat Jalan Tuhan di depan orang banyak. Karena itu
Paulus meninggalkan mereka dan memisahkan murid-muridnya dari mereka, dan
setiap hari berbicara di ruang kuliah Tiranus. (10) Hal ini dilakukannya dua
tahun lamanya, sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang
Yahudi maupun orang Yunani”.
·
Kis 20:2,3,21 - “(2) Ia
menjelajah daerah itu dan dengan banyak nasihat menguatkan hati
saudara-saudara di situ. Lalu tibalah ia di tanah Yunani. (3) Sesudah
tiga bulan lamanya tinggal di situ ia hendak berlayar ke Siria. Tetapi pada
waktu itu orang-orang Yahudi bermaksud membunuh dia. Karena itu ia memutuskan
untuk kembali melalui Makedonia. ... (21) aku senantiasa bersaksi kepada
orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat
kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus”.
Kalau Paulus tidak bisa berbahasa Yunani, lalu dengan bahasa
apa ia memberitakan Injil kepada orang-orang non Yahudi / orang-orang Yunani
itu? Dengan bahasa Roh?
4.
Dalam Kis 17:16-34 Paulus berada di Atena, suatu kota di Yunani.
Mula-mula, ia memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi di kota itu (ay
17), tetapi setelah itu, khususnya mulain ay 22, ia berkhotbah pada para
penyembah dari ‘Allah yang tidak dikenal’, yang jelas tidak mungkin
adalah orang-orang Yahudi, dan pasti adalah orang-orang Yunani. Dengan bahasa
apa ia memberitakan Injil, kalau bukan dalam bahasa Yunani?
5.
Paulus memberitakan Injil dalam penjara kepada tentara-tentara Romawi.
Fil
1:12-13 - “(12) Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa
apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, (13)
sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku
dipenjarakan karena Kristus”.
Kis
16:27-32 - “(27) Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan
melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh
diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri.
(28) Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: ‘Jangan celakakan
dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!’ (29) Kepala penjara itu
menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia
di depan Paulus dan Silas. (30) Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata:
‘Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?’ (31) Jawab
mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat,
engkau dan seisi rumahmu.’ (32) Lalu mereka memberitakan firman Tuhan
kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya”.
Ini
hanyalah sedikit contoh dari banyak kasus dimana Paulus berbicara kepada
orang-orang non Yahudi. Bagaimana ia melakukan semua itu kalau ia tidak bisa
berbahasa Yunani?
6.
Dalam Kis 26, Paulus memberikan pembelaan dan sekaligus kesaksian
di hadapan Agrippa, dan banyak orang-orang lain, yang semuanya jelas bukan
orang-orang Yahudi. Karena itu, tidak mungkin ia menggunakan bahasa Ibrani. Ia
pasti berbicara dalam bahasa Yunani.
7.
Surat-surat Paulus ditujukan kepada gereja-gereja dari kota-kota non
Yahudi (Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Tesalonika) dan juga
kepada pribadi-pribadi non Yahudi (seperti Timotius, Titus, dan Filemon).
Adalah
lucu kalau ia menulis surat kepada orang-orang non Yahudi ini dalam bahasa
Ibrani! Ia pasti bisa berbahasa Yunani, dan ia pasti menulis surat-suratnya
dalam bahasa Yunani.
d)
Kata-kata F. F. Bruce tentang Paulus.
F. F. Bruce: “Judea, and even Jerusalem, formed part of the Hellenistic
world. Greek was spoken alongside Aramaic (and possibly Hebrew) in the holy
city itself and, as we have seen, Hellenistic Jews had their synagogues there
in which the scriptures were read and worship was conducted in Greek. The
pagan influences of Hellenism were kept at bay from the circle in which Paul
received his education, but even the sages knew Greek and were capable of
giving their pupils prophylactic courses in Greek languange and culture.
Simeon the son of Gamaliel is said to have had many pupils who studied ‘the
wisdom of the Greeks’ alongside as many others who studied the Torah, and it
need not be doubted that Gamaliel the elder also had such pupils. It is quite
probable that Paul acquired the rudiments of Greek in Gamaliel’s school. But
from his return to Tarsus throughout the rest of his active life he was
exposed to the Greek way of life in one city after another, for he no longer
led a cloistered existence, but lived for the most part as a Gentile among
Gentiles in order to win Gentiles for the gospel. The knowledge of Greek
literature and thought that his letters attest was part of the common stock of
educated people in the Hellenistic world of that day; it bespeaks no formal
instruction received from Greek teachers” [= Yudea, dan bahkan
Yerusalem, membentuk bagian dari dunia yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan
bahasa Yunani. Yunani digunakan sebagai bahasa percakapan bersama-sama dengan
Aram (dan mungkin Ibrani) di kota kudus itu sendiri, dan seperti yang
telah kita lihat, orang-orang Yahudi yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan
bahasa Yunani, mempunyai sinagog-sinagog di sana, dimana Kitab Suci
dibacakan dan ibadah diadakan dalam bahasa Yunani. Pengaruh-pengaruh
kafir dari pengaruh kebudayaan dan bahasa Yunani dipertahankan dari lingkungan
dimana Paulus menerima pendidikannya, tetapi bahkan guru-guru / orang-orang
bijak mengerti bahasa Yunani dan bisa memberikan murid-murid mereka pelajaran
pencegahan / perlindungan dalam bahasa dan kebudayaan Yunani. Simeon anak
dari Gamaliel dikatakan mempunyai banyak murid yang belajar ‘hikmat dari
orang-orang Yunani’ bersama-sama dengan banyak orang-orang lain yang
mempelajari Taurat, dan tidak perlu diragukan bahwa Gamaliel yang lebih tua
juga mempunyai murid-murid seperti itu. Adalah cukup memungkinkan bahwa
Paulus menerima dasar-dasar dari bahasa Yunani di sekolah Gamaliel. Tetapi
dari kembalinya ia ke Tarsus dalam sepanjang sisa kehidupan aktifnya ia
terbuka terhadap gaya hidup Yunani dari satu kota ke kota lain, karena ia
tidak lagi menjalani kehidupan yang menyendiri, tetapi hidup pada umumnya
sebagai seorang non Yahudi di antara orang-orang non Yahudi untuk memenangkan
orang-orang non Yahudi bagi Injil. Pengetahuan tentang literatur dan
pemikiran Yunani yang ditunjukkan oleh surat-suratnya merupakan bagian dari
kelompok umum dari orang-orang berpendidikan dalam dunia Yunani pada jaman
itu; itu memperlihatkan pendidikan tidak formal yang diterima dari guru-guru
Yunani] - hal 126-127.
Bdk. 1Kor 9:19-22 - “(19) Sungguhpun
aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua
orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. (20)
Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku
memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum
Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun
aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan
mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. (21) Bagi orang-orang yang tidak
hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di
bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena
aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang
tidak hidup di bawah hukum Taurat. (22) Bagi orang-orang yang lemah aku
menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang
lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku
sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka”.
XVI.
SERUAN
DI KAYU SALIB
Yohannes: [2 Juni 2008]:
Saya memiliki satu permintaan buat Anda, kalo Anda engga keberatan. Dapatkah
Anda mengutip Matius 27:46 dari versi Du Tillet? Kira-kira jam tiga berserulah
Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya:
Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46, TB-LAI).
Teguh [OLD]: Baiklah, saya akan memenuhi permintaan Anda. Berikut kutipan Matius
27:46 versi DU TILET. [insert atau
baca dalam font BWEHEBB]. Saya kirimkan bagi Anda juga teks DU TILLET untuk
dikaji. Yohannes [OLD]: Saya kurang tahu apakah Anda kurang tepat menulis,
apakah Du Tillet sendiri yang keliru, atau penyalin lapis berikutnya yang kurang
teliti. Coba Anda perhatikan kata yang terakhir itu ditulis dengan SYÎN-KÂF-HÊ'-TÂV-NÛN-YÔD
sehingga bakal terbaca SYAKHAHTANÎ bukan SABAKHTANI sebagaimana yang diucapkan
oleh Yesus Kristus. Kata SYÂKHÂH itu berarti pagi, bukan meninggalkan. Saya
salin kembali Matius 27:46 dari naskah Du Tillet yang baru saya peroleh di
internet, huruf KÂF itu saya ganti menjadi BÊT, agak mirip memang, namun BÊT
memiliki garis datar pendek di sebelah kanan bawah, tidak melengkung seperti KÂF.
ÛVASYÂ'ÂH (dan pada jam) TESYÎ'ÎT (sembilan) QÂRÂ' (Dia berseru) YESYÛ
(Yesus) BEQÔL (dengan suara) GÂDÔL (nyaring) VAYO'MER (dan Dia berkata) 'ÊLÎ
(Allahku) 'ÊLÎ (Allahku) LÂMÂH (mengapa) SYEVÂHTÂNÎ' [?]. Meskipun huruf
KÂF diganti menjadi BÊT, kata SYEVÂHTANI itu pun tidak berarti engkau
meninggalkan aku karena SYÎN-BÊT-HÊ' berarti sebaliknya, menangkap, menahan
(menawan). Kata yang tepat adalah SYEVAQTÂNÎ' yaitu menggunakan QÔF dan bukan
HÊ' pada aksara yang ketiga. SYEVAQTÂNÎ adalah kata Aram, dari kata SYEVAQ,
meninggalkan. Kelihatannya versi Du Tillet ini patut dipertanyakan karena keliru
menulis SYEVAHTÂNI, engkau menahanku. Di atas kayu salib, Yesus Kristus
mengutip Mazmur 22:2 di bawah ini, memang berbeda, apalagi jika dibandingkan
dengan naskah Du Tillet. Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku
berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. (Mazmur 22:2, TB-LAI)
'ÊLÎ 'ÊLÎ LÂMÂH 'AZAVTÂNÎ RÂKHÔQ MÎSYÛ'ÂTÎ DIVRÊY SYA'AGÂTÎ
TANGGAPAN TEGUH (10 JULI 2008):
Saya belum mengerti dengan arah diskusi Anda ketika meminta saya mengutipkan
Matius 27:46 dari naskah DU TILLET. Apakah karena Anda hendak membuktikan bahwa
sesungguhnya teriakan Mesias di kayu salib adalah seruan berbahasa Aramaik?
Kalau kata ‘SHABAKTHANI” (sabacqani) dijadikan satu-satunya alasan bahwa Mesias mengucapkan bahasa Aramaik,
mengapa pula Peshitta Aramaik menuliskan seruan tersebut demikian:
Yntqbv anml Lya Lya
(yntqbv anml lya lya)
Tentu Anda tidak akan meminta saya untuk menanyakan pada penulis Peshita
Aramaik lagi khoq tidak menuliskan seperti yang tertulis dalam naskah Yunani
khan? Naskah Peshitta Aramaik tidak menggunakan ‘LAMA” (hm'äl) melainkan “LEMANA” (anml). Naskah Aramaik tidak menggunakan “ELI” (yliaeâ) melainan “EYL” (Lya). Bahkan TARGUM ARAMAIK Mazmur 22:1 pun
menuliskan demikian:
yntqbv hm
lwjm yhla yla yhla yla
Tidak
ditemukan kata “LEMANA” (sebaliknya METUL MAH), tidak pula kata “EYL”
(sebaliknya ELI ELAHAY). Oleh karenanya, saya memberikan dua pendekatan terhadap
seruan Mesias di kayu salib: Pertama, Mesias memang benar-benar mengutip Mazmur 22:1 dalam bahasa Ibrani yang
berbunyi:
ynIT"+b.z:[]
hm'äl' yliaeâ yliäae
(ELI-ELI
LAMA AZAVTANI)
Namun
oleh penulis Peshitta Aramaik disalin dalam bunyi Aramaik sehingga diterjemahkan
demikian:
yntqbv anml
lya lya
(EYL
EYL LEMANA SHABAQTANI)
Kemudian penyalin Matius berbahasa Yunani menuliskan:
elwi elwi lema sabacqani
(ELOI ELOI LEMA SABACHTHANI)
Kedua, dimungkinkan Mesias berseru dalam bahasa
Ibrani yang telah mengalami asimilasi dengan bahasa Aramaik. Terbukti kata
“LEMA” adalah bahasa Ibrani (Mzm 22:1) sementara kata “SABACHTHANI”
merupakan Aramaik. Namun dugaan ini perlu didalami lagi dengan melibatkan
penelusuran filologis.
Mengenai pembacaan DU TILLET yang berbeda dengan naskah Aramaik dan Yunani
yaitu menggunakan kata “SHKKHTNY”, bagi saya secara akademis memerlukan
pengkajian yang lebih mendalam. Ini merupakan varian bacaan yang perlu didalami
kebenarannya dan mengapa digunakan kata tersebut.
ינתחכש המל
ילא ילא
Jika “SHKKHTNY”, diartikan “MENAHAN”, ‘MENAWAN”, berarti secara
akademis teks ini apat dibaca demikian: “TUHANKU-TUHANKU, MENGAPA ENGKAU
MENAHANKU?” (maksudnya menahan di kayu salib). Bukankah sejak semula pada
penjelasan keempat saya sudah menyampaikan karakteristik khas DU TILLET yang
dalam beberapa hal tidak sepakat dengan naskah Yunani? Berarti perbedaan ini pun
perlu dipahami dari sudut pandang tersebut.
Tanggapan
Budi Asali:
Saya
akan fokuskan pada bahasa asli dari Perjanjian Baru. Ada banyak bukti, tetapi
saya berikan hanya sedikit saja, sebagai berikut:
1)
Banyak / semua sumber mengatakan demikian.
Gary Mink (internet): “THE WORLD BOOK ENCYCLOPEDIA: The
original language of the New Testament is the common vernacular Greek that was
widely used at the time of Jesus. COMPTON’S ENCYCLOPEDIA:
All of the books [of the New Testament] were originally written in Greek. NEW
CATHOLIC ENCYCLOPEDIA: They
[New Testament writings] were all written originally in Greek. THE
ENCYCLOPEDIA AMERICANA: In this language [Koine Greek] the
New Testament was written, and thousands upon thousands of papyri,
contemporary with the New Testament, and discovered only in the last few
decades, have contributed to give us a clear conception of this wide spread
lingua franca, that was found wherever Greeks and Greek civilization
penetrated”.
Catatan:
Gary Mink sebetulnya memberikan lebih banyak lagi Encyclopedia yang menyatakan
hal ini, tetapi saya memberikan di sini hanya sebagian saja.
Encyclopedia
Britannica 2007 dengan topik ‘Koine (Greek language)’:
“the
fairly uniform Hellenistic Greek spoken and written from the 4th century
Bc until the time of the Byzantine emperor Justinian (mid-6th century
AD) in Greece, Macedonia, and the parts of Africa and the Middle East that had
come under the influence or control of Greeks or of Hellenized rulers. Based
chiefly on the Attic
dialect, the Koine superseded the other ancient Greek dialects by the 2nd
century AD. Koine is the language of the Greek translation of the Old
Testament (the Septuagint), of the New Testament, and of the writings of
the historian Polybius and the philosopher Epictetus. It forms the basis of
Modern Greek”.
Halley’s Bible
Handbook: “Ancient translations. The Old Testament was
written in Hebrew. The New Testament was written in Greek. A Greek
translation of the Old Testament called ‘The Septuagint,’ made in the 3rd
century BC, was in common use in Jesus’ day. Greek was the language in
general use throughout the Roman world” (= ) - hal 753-754.
Microsoft
Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘Bible, The New Testament’):
“For a time, some Christian scholars treated the Greek of the New
Testament as a special kind of religious language, providentially given as
a proper vehicle for the Christian faith. It is now clear from
extrabiblical writings of the period that the language of the New Testament is
koine, or common Greek, that which was used in homes and marketplaces”
(=).
Microsoft
Encarta Reference Library 2003 (dengan topik ‘Bible, The New Testament’):
“Extant Greek manuscripts of the New Testament - complete,
partial, or fragmentary - now number about 5000. None of these, however, is an
autograph, an original from the writer. Probably the oldest is a fragment
of the Gospel of John dated about AD 120-40. The similarities among these
manuscripts is most remarkable when one considers differences of time and
place of origin as well as the methods and materials of writing.
Dissimilarities, however, involve omissions, additions, terminology, and
different ordering of words. Comparing, evaluating, and dating the
manuscripts, placing them in family groups, and developing criteria for
ascertaining the text that most likely corresponds to what the authors wrote
are the tasks of critics. They are aided in their judgments by thousands of
scriptural citations in the writings of the early Fathers of the Church and by
a number of early translations of the Bible into other languages. The fruit
of the labor of text critics is an edition of the Greek New Testament that
offers not only what is judged to be the best text but also includes notes
indicating variant readings among the major manuscripts. The more
significant of these variants usually appear in English translations as
footnotes citing what other ancient authorities say (see, for example, Mark
16:9-20; John 7:53-8:11; Acts 8:37). Critical editions of the Greek New
Testament have appeared with some regularity since the work of the Dutch
scholar Desiderius Erasmus in the 16th century”
(=).
Microsoft
Encarta Reference Library 2003 (dengan
topik ‘Bible, the New Testament’): “Early
Versions. Because the New Testament was written in Greek, the story of
the transmission of the text and the establishing of the canon sometimes
neglects the early versions, some of which are older than the oldest extant
Greek text. The rapid spread of Christianity beyond the regions where Greek
prevailed necessitated translations into Syriac, Old Latin, Coptic, Gothic,
Armenian, Georgian, Ethiopic, and Arabic. Syriac and Latin versions
existed as early as the 2nd century, and Coptic translations began to appear
in the 3rd century. These early versions were in no sense official
translations but arose to meet regional needs in worship, preaching, and
teaching. The translations were, therefore, trapped in local dialects and
often included only selected portions of the New Testament. During the 4th and
5th centuries efforts were made to replace these regional versions with more
standardized and widely accepted translations. Pope Damasus I in 382
commissioned St. Jerome to produce a Latin Bible; known as the Vulgate,
it replaces various Old Latin texts. In the 5th century, the Syriac
Peshitta replaced the Syriac versions that had been in popular use up to
that time. As is usually the case, the old versions slowly and painfully gave
way to the new”
(=).
Catatan:
perhatikan bahwa dalam early versions itu tak ada yang bahasa Ibrani!
Microsoft
Encarta Reference Library 2003 (dengan
topik ‘Bible, the New Testament’): “Translations of the
Reformation Period. In 1525 the English reformer William Tyndale translated
the New Testament from the Greek text, copies of which were printed in
Germany and smuggled into England. Tyndale’s translation of the Old
Testament from the Hebrew text was only partly completed. His simple prose
and popular idiom established a style in English translation that was
continued in the Authorized Version of 1611 (the King James Version) and
eventually in the Revised Standard Version of 1946-52”
(=).
Microsoft
Encarta Reference Library 2003 (dengan
topik ‘koine’): “The
early Christian writers who transcribed and compiled the New Testament made
use of a variety of the Koine (Greek for ‘common’), the court and
literary language of Hellenistic Greece”
(=).
2)
Yesus menyebut diriNya dengan istilah Alpha dan Omega, yang merupakan
huruf Yunani yang pertama dan terakhir, dalam abjad Yunani. Mengapa tak
menggunakan Alif dan Tau (huruf pertama dan terakhir dalam abjad Ibrani),
kalau bahasa aslinya adalah bahasa Ibrani dan bukan Yunani?
Wah
1:8 - “‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada
dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”.
Wah
21:6 - “FirmanNya lagi kepadaku: ‘Semuanya telah terjadi. Aku adalah
Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi
minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan”.
Wah
22:13 - “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang
Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.’”.
3)
Ayat-ayat yang memberikan terjemahan / penjelasan arti dalam bahasa
Yunani semuanya menjadi kacau / tidak masuk akal, seandainya bahasa asli
Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani.
Misalnya:
a)
Yoh 1:38,41,42 - “(38) Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia
melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: ‘Apakah yang
kamu cari?’ Kata mereka kepadaNya: ‘Rabi (artinya: Guru), di
manakah Engkau tinggal?’ ... (41) Andreas mula-mula bertemu dengan Simon,
saudaranya, dan ia berkata kepadanya: ‘Kami telah menemukan Mesias
(artinya: Kristus).’ (42) Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang
dia dan berkata: ‘Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas
(artinya: Petrus).’”.
b)
Mat 1:23 - “‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung
dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’
- yang berarti: Allah menyertai kita”.
Bandingkan
Mat 1:23 ini dengan Yes 7:14 - “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan
memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda
mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan
Dia Imanuel”.
Dalam
Mat 1:23 ada arti untuk kata / nama ‘Imanuel’ itu, sedangkan dalam
Yes 7:14 tidak ada. Mengapa? Karena Yesaya menulis dalam bahasa Ibrani kepada
orang-orang Yahudi, yang mengerti artinya. Matius menulis dalam bahasa Yunani
kepada orang-orang yang tidak mengerti bahasa Ibrani, dan karena itu ia harus
memberikan arti dari kata ‘Imanuel’ itu!
c)
Kis 1:19 - “Hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem,
sehingga tanah itu mereka sebut dalam bahasa mereka sendiri ‘Hakal-Dama’,
artinya Tanah Darah”.
Gary
Mink (internet): “we find Aramaic and Hebrew words in the Greek New
Testament. This all the more confirms to us that the book was written in
Greek. For if it had been written in Aramaic or Hebrew then translated into
Greek, the Aramaic and Hebrew words simply would have been translated along
with the rest of the book. The New Testament writers put these words and
expressions in the New Testament. Then they translated these words for their
readers” (= kita menemukan kata-kata Aram dan Ibrani dalam Perjanjian
Baru bahasa Yunani. Ini makin meneguhkan kita bahwa buku itu ditulis dalam
bahasa Yunani. Karena seandainya itu ditulis dalam bahasa Aram atau Ibrani dan
lalu diterjemahkan ke Yunani, maka kata-kata Aram dan Ibrani itu akan sudah
diterjemahkan bersama dengan sisa dari buku itu. Penulis-penulis Perjanjian
Baru meletakkan kata-kata dan ungkapan-ungkapan ini dalam Perjanjian Baru.
Lalu mereka menterjemahkan kata-kata ini bagi pembaca-pembaca mereka).
Kalau
mereka menjawab dengan mengatakan bahwa dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa
Ibrani, sebetulnya arti / terjemahannya tidak ada, dan penterjemah ke bahasa
Yunani menambahi arti / terjemahannya, maka saya jawab: mengapa tak semua kata
Ibrani diberi arti? Misalnya: kata ‘Haleluyah’ dan kata ‘Amin’
dalam Wah 19:1,3,4,6, dan juga kata ‘Hosana’ dalam Mat 21:9,15
Mark 11:9-10 Yoh 12:13.
Wah 19:1,3,4,6
- “(1) Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring
dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: ‘Haleluya!
Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, ... (3) Dan
untuk kedua kalinya mereka berkata: ‘Haleluya! Ya, asapnya naik
sampai selama-lamanya.’ (4) Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat
makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan
mereka berkata: ‘Amin, Haleluya.’ ... Lalu aku mendengar
seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti
deru guruh yang hebat, katanya: ‘Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita,
Yang Mahakuasa, telah menjadi raja”.
Mengapa
penterjemah Yunani itu tidak menambahi kata-kata ‘artinya Puji Tuhan /
Yahweh’???
Mat 21:9,15
- “(9) Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang
mengikutiNya dari belakang berseru, katanya: ‘Hosana bagi Anak Daud,
diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang
mahatinggi!’ ... (15) Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat
melihat mujizat-mujizat yang dibuatNya itu dan anak-anak yang berseru dalam
Bait Allah: ‘Hosana bagi Anak Daud!’ hati mereka sangat jengkel”.
Mark
11:9-10 - “(9) Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang
mengikuti dari belakang berseru: ‘Hosana! Diberkatilah Dia yang
datang dalam nama Tuhan, (10) diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan
bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!”.
Yoh
12:13 - “mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia
sambil berseru-seru: ‘Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama
Tuhan, Raja Israel!’”.
Kata
‘Hosana’ adalah kata bahasa Ibrani, dan mempunyai arti ‘save now’
(= selamatkanlah sekarang)
Wycliffe
Bible Commentary: “‘Hosanna.’ A Hebrew expression meaning ‘Save
now’” (= ‘Hosanna’. Suatu ungkapan Ibrani yang berarti
‘Selamatkanlah sekarang’).
Unger’s
Bible Dictionary: “HOSANNA (Gk. hosannah, from Heb. hoshi`ana',
‘save now’)” [= HOSANNA (Yunani hosannah,
dari Ibrani hoshiana,
‘selamatkanlah sekarang’].
Mengapa
kata ‘Hosana’ ini tak diterjemahkan?
Kelihatannya,
kata-kata bahasa Ibrani yang sudah menjadi Yunani (diyunanikan) tidak diberi
terjemahan. Tetapi kata-kata Ibrani yang bahasa Yunaninya berbeda, diberi
arti.
Kalau
mereka mengatakan: karena kata-kata ‘Haleluyah’ dan ‘Hosana’ itu
populer, maka kata-kata itu tidak diberi terjemahan, maka saya bertanya:
apakah kata-kata itu lebih populer dari kata ‘Mesias’? Kata ‘Mesias’
begitu populer, dan tidak mungkin ada orang Yahudi yang tak tahu arti kata
itu, tetapi kata itu tetap diberi terjemahannya dalam bahasa Yunani (Yoh
1:41).
Dengan
cara yang sama, jelas bahwa bahasa asli Perjanjian Baru bukan Aram, karena
adanya istilah-istilah bahasa Aram, yang diterjemahkan ke Yunani, seperti:
·
Mark 5:41 - “Lalu dipegangNya tangan anak itu,
kataNya: ‘Talita kum,’ yang berarti: ‘Hai anak, Aku berkata kepadamu,
bangunlah!’”.
·
Yoh 20:16 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Maria!’
Maria berpaling dan berkata kepadaNya dalam bahasa Ibrani: ‘Rabuni!’,
artinya Guru”.
Catatan:
ayat ini juga menunjukkan bahwa kalau dikatakan ‘bahasa Ibrani’
kadang-kadang maksudnya adalah ‘bahasa Aram’. Kata ‘Rabuni’ adalah
bahasa Aram, kata Ibraninya adalah ‘Rabi’ (Yoh 1:38).
·
Ro 8:15 - “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan
yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang
menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”.
·
Yoh 19:13 - “Ketika Pilatus mendengar perkataan
itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di
tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata”.
·
1Kor 16:22 - “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan,
terkutuklah ia. Maranata!”.
Catatan:
Yoh 19:13 menyebutkan ‘bahasa Ibrani’ tetapi Bambang Noorsena
mengatakan bahwa itu adalah kata bahasa Aram.
Bambang Noorsena: “Contoh-contoh
kata-kata Aram yang dipelihara itu, antara lain: Talita Kum (Markus 5:41),
Gabbata (Yohanes 19:13), Maranatha (1 Korintus 16:23)”.
Catatan: 1Kor 16:23 itu salah,
seharusnya 1Kor 16:22.
Juga
bandingkan dengan Mat 27:46 - “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus
dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: AllahKu,
AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Atau Mark 15:34 - “Dan
pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eloi, Eloi, lama
sabakhtani?’, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan
Aku?”.
Matius
menuliskan kata-kata Yesus ini dalam bahasa campuran Ibrani dan Aram, dan
Markus menuliskannya dalam bahasa Aram.
Pdt. Yakub Sulistyo mengatakan bahwa pada
waktu Yesus mengucapkan kata-kata ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’
dalam Mat 27:46, Ia mengucapkan kata-kata itu murni dalam bahasa Ibrani!
Pdt. Yakub Sulistyo: “Saat Yeshua tergantung di kayu salib, Dalam Kitab
Mattai / Matius 27:46 Yeshua berseru dengan berteriak ‘Eli Eli Lama
Sabakhtani’, kalimat tersebut adalah kalimat murni bahasa Ibrani”.
Ini menunjukkan bahwa, atau ia tidak mengerti
bahasa Ibrani, atau ia berdusta! Yang betul-betul bahasa Ibrani adalah
kata-kata yang ada dalam Maz 22:2 - ‘Eli, Eli, lama azavtani’.
Maz
22:2 - ‘Eli, Eli, lama azavtani?’
(Ibrani)
Mat 27:46
- ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’
(Ibrani)
(Aramaic)
Mark 15:34
- ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani?’
(Aramaic)
Barnes’
Notes (tentang Mat 27:46): “‘Eli, Eli ...’. This
language is not pure Hebrew nor Syriac, but a mixture of both, called commonly
‘Syro-Chaldaic.’ This was probably the language which the Saviour commonly
spoke. The words are taken from Ps. 22:1” (= ‘Eli, Eli ...’. Bahasa
ini bukanlah Ibrani murni ataupun Aramaic / Syria murni, tetapi suatu
percampuran dari keduanya, biasanya disebut ‘Syro-Chaldaic’. Ini mungkin
merupakan bahasa yang biasanya digunakan oleh sang Juruselamat. Kata-kata itu
diambil dari Maz 22:2).
Dalam
Maz 22:2, tidak diberi terjemahan, karena memang Maz 22:2 ini ada dalam bahasa
Ibrani dan ditujukan kepada orang-orang yang mengerti bahasa Ibrani!
Mengapa
dalam Matius dan Markus mula-mula ditulis dalam Aram / Ibrani, lalu
diterjemahkan?
4)
Adanya petunjuk bahwa kitab-kitab tertentu ditujukan kepada pembaca
yang bukan orang Yahudi.
Kitab-kitab
tertentu mengandung ayat-ayat yang memberi penjelasan tentang istilah-istilah
Ibrani, dan ini tidak akan diberikan seandainya pembacanya adalah orang-orang
Yahudi yang bisa berbahasa Ibrani.
Misalnya:
Mark
14:12 - “Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada
waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepadaNya:
‘Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan
Paskah bagiMu?’”.
Yoh
6:4 - “Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat”.
Semua
orang Yahudi tahu bahwa pada Paskah adalah hari raya orang Yahudi, dan bahwa
pada hari Paskah ada penyembelihan domba Paskah. Untuk apa menjelaskan hal-hal
ini kepada orang-orang yang sudah tahu? Jadi jelas bahwa kitab-kitab ini
ditujukan kepada orang-orang non Yahudi. Dan kalau memang demikian, mungkinkah
kitab-kitab tersebut ditulis dalam bahasa Ibrani?
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali