(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 13 September 2020, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Dan 1:11-16 - “(11) Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: (12) ‘Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; (13) sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.’ (14) Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. (15) Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. (16) Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka.”.
Saya berikan ulang kutipan kata-kata Calvin tentang Dan 1:15.
Calvin: “It is clear enough that there is no necessary virtue in bread to nourish us; for we are nourished by God’s secret blessing, as Moses says, ‘Man lives not by bread alone,’ (Deuteronomy 8:3,) implying that the bread itself does not impart strength to men, for the bread has no life in it; how then can it afford us life? As bread possesses no virtue by itself, we are nourished by the word of God; and because God has determined that our life shall be sustained by nourishment, he has breathed its virtue into the bread - but, meanwhile, we ought to consider our life sustained neither by bread nor any other food, but by the secret blessing of God. For Moses does not speak here of either doctrine or spiritual life, but says our bodily life is cherished by God’s favor, who has endued bread and other food with their peculiar properties. This, at least, is certain, - whatever food we feed on, we are nourished and sustained by God’s gratuitous power. But the example which Daniel here mentions was singular.” [= Adalah cukup jelas bahwa di sana tidak ada kebaikan yang perlu dalam roti untuk memelihara / menguatkan kita; karena kita dipelihara / dikuatkan oleh berkat rahasia Allah, seperti Musa katakan, ‘Manusia hidup bukan dari roti saja’, (Ul 8:3), yang menunjukkan secara tidak langsung bahwa roti itu sendiri tidak memberikan kekuatan kepada manusia, karena roti itu tidak mempunyai kehidupan di dalamnya; lalu bagaimana roti itu bisa memberikan kehidupan kepada kita? Karena roti tidak mempunyai kebaikan dalam dirinya sendiri, kita dipelihara / dikuatkan oleh firman Allah; dan karena Allah telah menentukan bahwa kehidupan kita akan ditopang oleh gizi, Ia telah menghembuskan kebaikannya ke dalam roti itu - tetapi pada saat yang sama, kita harus menganggap kehidupan kita ditopang bukan oleh roti atau oleh makanan lain apapun, tetapi oleh berkat rahasia dari Allah. Karena Musa di sini tidak berbicara atau tentang doktrin / ajaran atau kehidupan rohani, tetapi berkata bahwa kehidupan jasmani kita dikuatkan / diberi gizi oleh kebaikan Allah, yang telah menyediakan / memberikan roti dan makanan lain dengan sifat-sifat khas mereka. Ini, setidaknya, adalah pasti, - makanan apapun yang kita makan, kita diberi gizi dan ditopang / dipelihara oleh kuasa yang tak layak didapatkan dari Allah. Tetapi teladan yang Daniel sebutkan di sini adalah sesuatu yang luar biasa.].
Calvin menghubungkan cerita tentang Daniel ini dengan Ul 8:3. Mari kita melihat ayat itu.
Ul 8:2-4 - “(2) Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintahNya atau tidak. (3) Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. (4) Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.”.
Saya akan memberikan beberapa kutipan Calvin tentang Ul 8:3 itu.
Calvin (tentang Ul 8:3): “Inasmuch as they were sometimes made to suffer hunger in the wilderness, he proves the advantage of this discipline, because they thus learnt that the human race does not live by bread and wine alone, but by the secret power of God. For though all confess that it is through God’s goodness that the earth is fruitful, still their senses are so tied to the meat and drink, that they rise no higher, and do not acknowledge God as their Father and nourisher, but rather bind Him down to the outward means to which they are attached, as if His hand, of itself, and without instruments, could not effect or supply anything. Their perception, therefore, that the fruits of the earth are produced by God, is but a cold notion, which speedily vanishes, and does not cling to their memory.” [= Karena mereka kadang-kadang dibuat menderita kelaparan di padang gurun, Ia membuktikan manfaat dari disiplin ini, karena dengan demikian mereka belajar bahwa umat manusia tidak hidup oleh roti dan anggur saja, tetapi oleh berkat rahasia dari Allah. Karena sekalipun semua orang mengakui bahwa adalah melalui kebaikan Allah maka bumi itu subur / menghasilkan buah, tetap pengertian mereka begitu diikat pada makanan dan minuman, sehingga mereka tidak naik lebih tinggi, dan tidak mengakui Allah sebagai Bapa dan pemelihara / pemberi gizi / kekuatan, tetapi sebaliknya melekatkan Dia dengan cara-cara lahiriah pada mana mereka melekat / terikat, seakan-akan tangan / kuasaNya, dari diriNya sendiri, dan tanpa alat-alat, tidak bisa menghasilkan atau menyuplai apapun. Karena itu, pengertian mereka, bahwa buah-buah dari bumi dihasilkan oleh Allah, hanyalah merupakan suatu kepercayaan yang dingin, yang hilang dengan cepat, dan tidak melekat pada ingatan.] - hal 385 (AGES hal 300).
Calvin (tentang Ul 8:3): “the majority of mankind think of God as if banished afar off, and dwelling in inactivity as if He had resigned His office in heaven and earth; and hence it arises, that trusting in their present abundance, they implore not His favor, nay, that they pass it by as needless; and, when deprived of their accustomed supplies, they altogether despair, as if God’s hand alone were insufficient for their succor. Since, then, men do not sufficiently profit by the guidance and instruction of nature, but rather are blinded in their view of God’s works, it was desirable that in this miracle (of the manna) a standing and manifest proof should be given, that men do not only live upon God’s bounty, when they eat bread and drink wine, but even when all supplies fail them.” [= mayoritas dari umat manusia berpikir tentang Allah seakan-akan Ia dibuang jauh-jauh, dan tinggal dalam ketidak-aktifan seakan-akan Ia telah mengundurkan diri dari jabatanNya di surga / langit dan bumi; dan karena itu muncullah kepercayaan pada kelimpahan mereka saat ini, sehingga mereka tidak memohon kebaikanNya, tidak, sehingga mereka mengabaikannya sebagai tidak berguna; dan pada waktu suplai yang biasa dicabut / dihilangkan, mereka sama sekali putus asa, seakan-akan tangan / kuasa Allah saja tidak cukup untuk pertolongan mereka. Maka karena manusia tidak mendapat keuntungan secara cukup oleh bimbingan dan instruksi dari alam, tetapi sebaliknya dibutakan dalam pandangan mereka tentang pekerjaan, adalah sesuatu yang diinginkan bahwa dalam mujizat ini (tentang manna) suatu bukti yang menetap dan jelas harus diberikan, bahwa manusia tidak hidup hanya dari kemurahan hati Allah, pada waktu mereka makan roti dan minum anggur, tetapi bahkan pada waktu semua suplai meninggalkan mereka.] - hal 386 (AGES hal 301).
Calvin (tentang Ul 8:3): “Although there be some harshness in the words, yet the sense is clear, that men’s life consists not in their food, but that God’s inspiration suffices for their nourishment. And we must remember, that the eternal life of the soul is not here referred to, but that we are simply and solely taught that although bread and wine fail, our bodies may be sustained and invigorated by God’s will alone.” [= Sekalipun di sana ada ketajaman / kekasaran dalam kata-kata itu, tetapi artinya jelas, bahwa hidup manusia tidak terletak pada makanan mereka, tetapi bahwa pengaruh Allah cukup untuk pemeliharaan mereka. Dan kita harus ingat, bahwa kehidupan yang kekal dari jiwa bukanlah yang ditunjuk di sini, tetapi bahwa kita hanya dan semata-mata diajar bahwa sekalipun roti dan anggur gagal / tidak ada, tubuh kita bisa ditopang dan diberi kekuatan oleh kehendak Allah saja.] - hal 386 (AGES hal 301).
Sekarang, Ul 8:3 ini dikutip oleh Yesus pada waktu Iblis mencobaiNya untuk mengubah batu-batu menjadi roti.
Mat 4:1-4 - “(1) Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. (2) Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. (3) Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepadaNya: ‘Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.’ (4) Tetapi Yesus menjawab: ‘Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.’”.
Sikon Yesus tidak terlalu berbeda dengan bangsa Israel pada saat itu, yaitu berada di padang gurun, tanpa ada makanan. Dan sekalipun Ia memang sengaja berpuasa 40 hari 40 malam, tetapi pada saat itu Ia harus makan, kalau Ia tidak ingin membunuh diriNya sendiri. Pada saat itulah Iblis menggoda Dia untuk mengubah batu-batu menjadi roti. Mari kita membaca komentar Calvin berkenaan dengan pencobaan Iblis yang pertama ini.
Calvin (tentang Mat 4:4): “He quotes the statement, that men ‘do not live by bread alone,’ but by the secret blessing of God. Hence we conclude, that Satan made a direct attack on the faith of Christ, in the hope that, after destroying his faith, he would drive Christ to unlawful and wicked methods of procuring food. And certainly he presses us very hard, when he attempts to make us distrust God, and consult our own advantage in a way not authorized by his word. The meaning of the words, therefore, is: ‘When you see that you are forsaken by God, you are driven by necessity to attend to yourself. Provide then for yourself the food, with which God does not supply you.’ Now, though he holds out the divine power of Christ to turn the stones into loaves, yet the single object which he has in view, is to persuade Christ to depart from the word of God, and to follow the dictates of infidelity.” [= Ia mengutip pernyataan, bahwa manusia ‘tidak hidup dari roti saja’, tetapi dari / oleh berkat rahasia dari Allah. Jadi kami menyimpulkan bahwa Iblis membuat suatu serangan langsung pada iman dari Kristus, dengan harapan bahwa, setelah menghancurkan imanNya, ia akan mendorong / mengarahkan Kristus pada metode yang tidak sah dan jahat untuk mendapatkan makanan. Dan pastilah ia menekan kita dengan sangat keras, pada waktu ia berusaha membuat kita tidak mempercayai Allah, dan mempertimbangkan keuntungan kita sendiri dengan suatu cara / jalan yang tidak diizinkan oleh firmanNya. Karena itu, arti dari kata-kata itu adalah: ‘Pada waktu kamu melihat bahwa kamu ditinggalkan oleh Allah, kamu didorong / didesak oleh kebutuhan untuk mengurus dirimu sendiri. Maka sediakanlah untuk dirimu sendiri makanan, yang tidak Allah suplai untuk kamu’. Sekalipun Iblis mempertahankan kuasa ilahi Kristus untuk mengubah batu-batu menjadi roti, tetapi tujuan satu-satunya yang ia punyai adalah untuk membujuk Kristus untuk menyimpang / meninggalkan firman Allah, dan untuk mengikuti pengarahan / perintah dari ketidak-setiaan / ketidak-percayaan.].
Calvin (tentang Mat 4:4): “Christ’s reply, therefore, is appropriate: ‘Man shall not live by bread alone. You advise me to contrive some remedy, for obtaining relief in a different manner from what God permits. This would be to distrust God; and I have no reason to expect that he will support me in a different manner from what he has promised in his word. You, Satan, represent his favor as confined to bread: but Himself declares, that, though every kind of food were wanting, his blessing alone is sufficient for our nourishment.’ Such was the kind of temptation which Satan employed, the same kind with which he assails us daily.” [= Karena itu, jawaban Kristus adalah cocok: ‘Manusia hidup bukan dari roti saja. Kamu menasehatkan Aku untuk merencanakan / menemukan suatu obat, untuk mendapatkan pertolongan dengan suatu cara yang berbeda dari apa yang Allah izinkan. Ini merupakan suatu ketidakpercayaan kepada Allah; dan Aku tidak mempunyai alasan untuk mengharapkan bahwa Ia akan menopang Aku dengan suatu cara yang berbeda dengan apa yang telah Ia janjikan dalam firmanNya. Kamu, Iblis, menggambarkan kebaikanNya sebagai terbatas pada roti: tetapi Ia sendiri menyatakan, bahwa sekalipun setiap jenis makanan tidak ada, berkatNya saja cukup untuk makanan / sumber gizi kita’. Demikianlah jenis pencobaan yang Iblis gunakan, jenis yang sama dengan mana ia menyerang kita setiap hari / terus menerus.].
Calvin (tentang Mat 4:4): “God, who now employs bread for our support, will enable us, whenever he pleases, to live by other means.” [= Allah, yang sekarang menggunakan roti untuk menopang kita, akan memampukan kita, pada waktu Ia berkenan, untuk hidup oleh cara-cara / jalan-jalan yang lain.].
Calvin (tentang Mat 4:4): “The precise object of Christ’s reply is this: We ought to trust in God for food, and for the other necessaries of the present life, in such a manner, that none of us may overleap the boundaries which he has prescribed. But if Christ did not consider himself to be at liberty to change stones into bread, without the command of God, much less is it lawful for us to procure food by fraud, or robbery, or violence, or murder.” [= Tujuan yang persis dari jawaban Kristus adalah ini: Kita harus percaya kepada Allah untuk makanan, dan untuk kebutuhan-kebutuhan lain dari kehidupan sekarang ini, dengan cara sedemikian rupa, sehingga tak seorangpun dari kita boleh melewati / meloncati batasan-batasan yang telah Ia tetapkan. Tetapi jika Kristus tidak menganggap diriNya sendiri mempunyai kebebasan untuk mengubah batu-batu menjadi roti, tanpa perintah Allah, lebih-lebih itu merupakan sesuatu yang tidak sah bagi kita untuk mendapatkan makanan oleh penipuan, atau perampokan, atau kekerasan, atau pembunuhan.].
Sekarang apa arti dari kata-kata ‘segala yang diucapkan Tuhan’ (Ul 8:3) atau ‘setiap firman yang keluar dari mulut Allah’ (Mat 4:4)?
Sangat banyak / kebanyakan orang menafsirkan bahwa kata-kata ini menunjuk pada Firman Allah atau pengajaran Kitab Suci.
Kalau diambil arti ini, maka dalam Mat 4:4 jawaban Yesus itu maksudnya adalah: karena manusia terdiri dari tubuh dan jiwa / roh, maka manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi juga dari Firman Allah / pengajaran Kitab Suci.
Tetapi penafsiran ini tidak cocok dengan Ul 8:3 (dari mana Yesus mengutip kata-kata itu), yang lengkapnya berbunyi: “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN”.
Kalau kata-kata ‘segala yang diucapkan TUHAN’ itu diartikan pengajaran Kitab Suci, maka Ul 8:3 itu artinya menjadi seperti ini: di padang gurun dimana tidak ada makanan apapun, Tuhan memberi bangsa Israel manna, supaya mereka mengerti bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan. Ini sama sekali kacau dan tidak masuk akal.
Penafsiran itu juga tidak cocok dengan konteks Luk 4:3-4 / Mat 4:3-4. Setan menyuruh Yesus mengubah batu menjadi roti, dan Yesus menjawab: manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari pengajaran Kitab Suci. Jelas bahwa kalimatnya menjadi kacau / tidak masuk akal.
Calvin menafsirkan bahwa ‘segala yang diucapkan Tuhan’ dalam Ul 8:3, maupun ‘setiap firman yang keluar dari mulut Allah’ dalam Mat 4:4, bukan menunjuk pada ‘ajaran firman’, tetapi menunjuk pada ‘kehendak / rencana Allah’!
Jadi maksud Yesus adalah: sekalipun tidak ada roti / makanan, kalau Allah menghendaki bangsa Israel / Yesus hidup, maka bangsa Israel / Yesus akan hidup. Penafsiran ini jauh lebih cocok dengan Ul 8:3 dan konteks dari Mat 4:3-4!
Calvin (tentang Mat 4:4): “He reminds them that, when no bread could be obtained, God provided them with an extraordinary kind of nourishment in ‘manna, which they knew not, neither did their fathers know,’ (Deuteronomy 8:3;) and that this was intended as an evident proof, in all time coming, that the life of man is not confined to bread, but depends on the will and good-pleasure of God. ‘The word’ does not mean ‘doctrine,’ but the purpose which God has made known, with regard to preserving the order of nature and the lives of his creatures.” [= Ia mengingatkan mereka bahwa, pada waktu tidak ada roti yang bisa didapatkan, Allah menyediakan mereka dengan suatu jenis makanan / gizi yang luar biasa dalam ‘manna, yang tidak mereka kenal, dan juga tidak dikenal oleh nenek moyang mereka’, (Ul 8:3); dan bahwa ini dimaksudkan sebagai suatu bukti yang jelas, pada semua zaman yang akan datang, bahwa hidup manusia tidak dibatasi pada roti, tetapi tergantung pada kehendak dan kerelaan Allah. ‘Firman / perkataan’ tidak berarti ‘doktrin / pengajaran’, tetapi rencana yang Allah telah nyatakan, berkenaan dengan penjagaan / pemeliharaan hal-hal alamiah dan kehidupan dari makhluk-makhluk ciptaanNya.].
Apakah ada dasar ayat untuk mengartikan ‘firman / perkataan Allah’ dengan cara seperti ini?
Calvin (tentang Mat 4:4): “In like manner, the Apostle says, that he ‘upholdeth all things by his powerful word’ (Heb i. 3); that is, the whole world is preserved, and every part of it keeps its place, by the will and decree of Him, whose power, above and below, is everywhere diffused.” [= Dengan cara yang sama, sang rasul berkata bahwa Ia ‘menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan’ (Ibr 1:3); artinya, seluruh dunia / alam semesta dipelihara, dan setiap bagiannya dijaga pada tempatnya, oleh kehendak dan ketetapanNya, yang kuasaNya, di atas dan di bawah, tersebar dimana-mana.].
Ibr 1:3 - “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,”.
Kata-kata ‘bukan hidup dari roti saja’ menunjukkan bahwa Musa (maupun Yesus) bukannya sama sekali mengabaikan roti / makanan sebagai penopang hidup kita. Tetapi bagaimanapun, kuasa / kehendak Allah ada di tempat pertama, dan seandainya semua penopang yang lain disingkirkan, maka kehendak Allah cukup untuk menopang kehidupan kita.
Calvin mengatakan (hal 386-387) bahwa ini mengajar kita dua hal:
(a) Bersyukur kepada Allah tidak peduli dengan cara apapun / melalui siapapun Ia menyuplai pemeliharaan kita.
(b) Sekalipun alat-alat yang dunia untuk menopang kita ini gagal, kita tetap bisa mengharapkan kehidupan dari Dia sendiri saja / kehendakNya!
Pada waktu Musa menambahkan bahwa pakaian mereka tidak menjadi buruk dan sepatu mereka tetap utuh (Ul 8:4), tujuannya adalah supaya mereka bisa diyakinkan sepenuhnya bahwa apapun yang berkenaan dengan pemeliharaan kehidupan manusia dan kebutuhan harian manusia sepenuhnya ada dalam tangan / kuasa Allah (Calvin, hal 387).
Ul 8:4 - “Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.”.
Ul 29:5 - “Empat puluh tahun lamanya Aku memimpin kamu berjalan melalui padang gurun; pakaianmu tidak menjadi rusak di tubuhmu, dan kasutmu tidak menjadi rusak di kakimu.”.
Neh 9:21 - “Empat puluh tahun lamanya Engkau memberikan mereka makan di padang gurun. Mereka tidak berkekurangan, pakaian mereka tidak rusak, dan kaki mereka tidak bengkak.”.
Keil & Delitzsch (tentang Ul 8:4) menganggap bahwa sekalipun mereka punya ternak yang kulitnya bisa dibuat jadi pakaian dsb, tetapi kata-kata ini artinya lebih dari itu. Tuhan memang melakukan mujizat sehingga pakaian dan kasut / sandal mereka menjadi tahan lama dan tidak sobek atau rusak. Tetapi ia menganggap berlebihan kalau diartikan bahwa pertumbuhan fisik anak-anak mereka diikuti secara mujizat dengan pertumbuhan pakaian dan sepatu mereka seperti rumah siput bertambah besar mengikuti pertumbuhan siputnya.
Pada waktu Kristus tidak mau menuruti godaan Iblis untuk mengambil cara / jalan yang salah untuk mendapatkan makanan, maka inilah hasil akhirnya!
Mat 4:11 - “Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.”.
Pelayanan para malaikat ini pasti mencakup kebutuhan makanan bagi Yesus. Dia tidak mau menggunakan cara yang salah, dan Allah menggunakan para malaikat untuk mencukupi kebutuhanNya dalam hal makanan.
Jadi, kita sudah mempelajari 3 kasus:
Pertama: Kasus Daniel dan kawan-kawannya, yang karena mau mentaati Tuhan, hanya makan sayur dan air, tetapi dengan berkat Tuhan, mendapatkan kesehatan yang lebih baik dari orang-orang lain yang makan dan minum makanan dan anggur raja.
Kedua: Kasus bangsa Israel di padang gurun, yang sekalipun tidak ada makanan, dicukupi oleh Allah dengan manna.
Ketiga: Kasus Yesus di padang gurun, yang tak mau menuruti godaan Iblis untuk menggunakan cara yang salah untuk mendapatkan makanan, yang lalu dicukupi melalui pelayanan para malaikat.
Penerapan:
(1) Kalau dalam masa pandemi ini saudara kekurangan uang, tentu saudara boleh, dan bahkan harus, berusaha mencari sumber keuangan yang lain, SELAMA ITU ADALAH CARA YANG SAH! Kalau saudara menggunakan cara-cara yang tidak sah / bertentangan dengan firman, maka saudara sudah jatuh oleh pencobaan setan seperti yang ia berikan kepada Yesus!
(2) Pendeta-pendeta, yang sebetulnya benar, tetapi karena tidak ada pelayanan lalu kekurangan uang, dan lalu menjadi Youtuber.
Tidak salah menjadi Youtuber, selama mereka memberikan bahan-bahan yang bagus yang memang membangun iman dari orang-orang kristen.
Yang salah, adalah menjadi Youtuber yang seperti ini:
(a) Memilih topik-topik yang hanya bombastis dan yang mereka tahu akan ada banyak orang senang mendengarnya (sekalipun orang-orang itu sesungguhnya tidak dibangun olehnya), hanya dengan tujuan mendapatkan viewers / penonton sebanyak-banyaknya.
(b) Mengizinkan Youtube memasukkan iklan di tengah-tengah khotbah / pengajaran firman!
Kalau mereka sedang berkhotbah secara biasa, apakah mereka senang kalau ada interupsi? Apakah jemaat senang pada waktu khotbah berlangsung dalam kebaktian biasa lalu ada interupsi? Tentu tidak, bukan? Lalu, mengapa mengizinkan Youtube untuk memasukkan iklan di tengah-tengah khotbah, dan banyak iklan laginya??? Iklan di Youtube BISA DIATUR TEMPATNYA. KITA BISA MEMINTA IKLAN HANYA PADA AWAL, DAN TIDAK DI TENGAH-TENGAH KHOTBAH! Memang kita mendapat uang lebih sedikit dari Youtube, tetapi pantaskah kita memilih lebih banyak uang dengan mengorbankan firman Tuhan???
Kami sendiri kebobolan beberapa kali, dan tahu-tahu ada laporan seseorang bahwa video Youtube saya ada iklan di tengah-tengahnya. Saya cek, dan langsung lapor Chandra yang mengurus hal itu, dan iklan itu dihapus semua, kecuali pada bagian awal (yang tidak mengganggu khotbah). Hal itu terjadi beberapa kali, tetapi sekarang tidak ada lagi. Saya lebih memilih mendapat uang lebih sedikit, atau bahkan tidak mendapat uang sama sekali dari pada mengizinkan khotbah saya diinterupsi di tengah-tengah.
Jangankan acara firman, acara lain saja, seperti kalau saya menonton tinju atau acara lain apapun, kalau di tengah-tengah ada iklan, itu membuat saya jadi jengkel sehingga saya ganti acara lain. Bahkan begitu saya nonton suatu acara, kalau saya lihat banyak titik-titik kuning (yang menandakan iklan), saya batalkan untuk menonton acara itu.
(c) Membajak video orang lain. Saya betul-betul heran dengan jiwa / harga diri yang rendah dari orang-orang yang melakukan pembajakan seperti ini. Dan mereka mengaku diri sebagai Hamba Tuhan????
Pikirkan, apa bedanya pendeta-pendeta yang begitu mementingkan uang dari Youtube dengan para pendeta theologia kemakmuran yang menjadikan gereja sebagai bisnis??? Padahal mereka menyerang para pendeta dari theologia kemakmuran itu, tetapi sekarang mereka melakukan hal yang pada hakekatnya adalah sama. Mereka melakukan ‘pelayanan’ demi uang, dan dengan demikian mengorbankan pelayanan yang benar!
Pendeta manapun yang menjadi seorang Youtuber, harus memberikan kotbah / ajaran seolah-olah mereka tidak menerima uang dari Youtube!
Kalau mereka mengubah ajaran / topik yang mereka bahas (tanpa peduli topik itu bermanfaat atau tidak) supaya mendapat uang lebih banyak dari Youtube, maka mereka SUDAH MENJADI HAMBA UANG!
Kalau mereka tidak berani mengkhotbahkan suatu topik, karena mereka berpikir bahwa topik itu akan menyebabkan viewers / penonton Youtube mereka berkurang, lagi-lagi mereka sudah menjadi hamba uang!
Sir Roger L’Estrange: “He that serves God for money will serve the Devil for better wages.” [= Ia yang melayani Allah demi uang, akan / mau melayani Setan untuk upah yang lebih baik / tinggi.] - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 463.
Pulpit Commentary (tentang 2Raja 1:1-18): “Men who sacrifice everything for money soon find that they have lost things which money cannot buy.” [= Orang-orang yang mengorbankan segala sesuatu untuk uang akan segera mendapati bahwa mereka telah kehilangan hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.] - hal 9.
Rusian Proverb: “When money speaks the truth is silent.” [= Pada waktu uang berbicara, kebenaran diam.] - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 463.
Kutipan terakhir ini merupakan sesuatu yang sangat benar. Seorang pendeta bisa takut mengatakan kebenaran karena takut menyinggung gereja yang akan terserang oleh ajaran itu, dan kalau demikian mereka tidak akan diundang untuk berkhotbah di gereja itu. Itu juga akan menyebabkan jemaat dari gereja yang diserang itu akan memusuhi mereka, sehingga mereka tidak akan menonton video mereka di Youtube. Itu akan mengurangi penghasilan mereka, dan karena itu mereka memilih untuk diam!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali