(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 9 Agustus 2020, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Dan 1:1-21 - “(1) Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. (2) Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya. (3) Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, (4) yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. (5) Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja. (6) Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. (7) Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego. (8) Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (9) Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; (10) tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: ‘Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.’ (11) Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: (12) ‘Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; (13) sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.’ (14) Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. (15) Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. (16) Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka. (17) Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. (18) Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja, bahwa mereka sekalian harus dibawa menghadap, maka dibawalah mereka oleh pemimpin pegawai istana itu ke hadapan Nebukadnezar. (19) Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja. (20) Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya. (21) Daniel ada di sana sampai tahun pertama pemerintahan Koresh.”.
b. Sebetulnya sudah dinubuatkan oleh nabi-nabi bahwa dalam pembuangan, baik orang Israel, maupun orang Yehuda / Yahudi akan memakan makanan yang najis.
Barnes’ Notes: “It was represented by the prophets, as one part of the evils of a captivity in a foreign land, that the people would be under a necessity of eating what was regarded as unclean.” [= Telah digambarkan oleh nabi-nabi, sebagai salah satu dari kejahatan-kejahatan / bencana-bencana dari suatu pembuangan di suatu negara asing, bahwa bangsa itu akan berada di bawah suatu keharusan / kebutuhan untuk memakan apa yang dianggap sebagai najis.].
Dan Barnes lalu memberikan 2 ayat ini:
Yeh 4:13 - “Selanjutnya TUHAN berfirman: ‘Aku akan membuang orang Israel ke tengah-tengah bangsa-bangsa dan demikianlah mereka akan memakan rotinya najis di sana.’”.
Hos 9:3 - “Mereka tidak akan tetap diam di tanah TUHAN, tetapi Efraim harus kembali ke Mesir, dan di Asyur mereka akan memakan makanan najis.”.
c. Juga sebetulnya ada alasan-alasan bagi Daniel dan kawan-kawannya untuk membenarkan diri dalam memakan makanan raja dan minuman raja itu.
(1) Nubuat-nubuat nabi-nabi di atas bisa dijadikan alasan.
(2) Mereka bisa menganggap bahwa pemberian makanan dan minuman itu adalah Providensia Allah yang harus mereka turuti / ikuti.
Matthew Henry: “Note, When God’s people are in Babylon they have need to take special care that they ‘partake not in her sins.’ Providence seemed to lay this meat before them; being captives they must eat what they could get and must not disoblige their masters; yet, if the command be against it, they must abide by that.” [= Perhatikan, pada waktu umat Allah ada di Babilonia mereka harus sangat berhati-hati supaya mereka ‘tidak ambil bagian dalam dosa-dosanya’. Providensia kelihatannya meletakkan makanan ini di depan mereka; dan sebagai tawanan mereka harus makan apa yang bisa mereka dapatkan dan tidak boleh menolak / menjengkelkan tuan-tuan mereka; tetapi jika hukum / perintah (Allah) bertentangan dengannya, mereka harus menyesuaikan dengan hukum itu.].
(3) Raja Nebukadnezar bermaksud baik dengan memberikan makanan dan minumannya kepada mereka.
The Biblical Illustrator: “The king, with that lavish and somewhat indelicate kindness so often associated with despotic power, doubtless meant them well. He had not, it is true, consulted their feelings in tearing them away from the land of their birth, but in his rough way he desired to treat them kindly.” [= Sang Raja dengan kebaikan yang murah hati / royal dan agak tak mempertimbangkan perasaan orang lain begitu sering dihubungkan dengan kuasa dari raja yang lalim, tak diragukan bermaksud baik bagi mereka. Memang benar, ia tidak mempertimbangkan perasaan mereka dalam memisahkan mereka dari negara kelahiran mereka, tetapi dengan caranya yang kasar ia ingin memperlakukan mereka dengan baik.].
(4) Lebih baik mengikuti arus dan tetap aman dari pada menentang arus dan mendapat bahaya / bencana.
The Biblical Illustrator: “One of the favourite texts in the unwritten and unholy Bible of the world is, ‘When you are in Rome you must do as Rome does.’ Few of us dare to be singular. And yet to be right we must often be singular, not in phraseology, or tone, or look, or garb, but in character and conduct. What would some of us have said if we had been placed in the circumstances described in the text? On the one hand, there was food of the daintiest, wine of the richest; on the other, danger of displeasing the king, and perhaps being cast into an Oriental dungeon. Would it have been a thing to be wondered at if Daniel had reasoned thus; ‘What does it matter? The notions of our father are antiquated. Moses was well enough in his day, but that day is a long time since. Other times, other manners. It’s our policy now to please the king.’ He would have had his meat and drink, but he would have lost his God, turned his back upon his early faith, forgotten his country, become a Babylonian idolater, and his life, unwritten and unsung, would have sunk into the oblivion which his time-serving cowardice deserved.” [= Salah satu dari text-text favorit dalam Alkitab yang tidak kudus dan tidak tertulis dari dunia adalah, ‘Pada waktu engkau berada di Roma kamu harus melakukan seperti yang Roma lakukan’. Sedikit dari kita berani untuk unik / sendirian / berbeda dengan yang lain. Tetapi untuk menjadi benar kita sering harus unik / sendirian / berbeda dengan yang lain, bukan dalam gaya, atau nada, atau penampilan, atau cara berpakaian, tetapi dalam karakter dan tingkah laku. Apa yang beberapa dari kita akan katakan seandainya kita ditempatkan dalam keadaan-keadaan yang digambarkan dalam text itu? Di satu sisi, di sana ada makanan yang enak, anggur dari orang-orang yang paling kaya; di sisi lain, bahaya karena tidak menyenangkan raja, dan mungkin dilemparkan ke dalam penjara gelap / bawah tanah Timur. Apakah akan merupakan sesuatu yang mengherankan seandainya Daniel berargumentasi demikian, ‘Apa problemnya? Pandangan-pandangan / kepercayaan-kepercayaan dari nenek moyang kita sudah kuno. Musa memang cukup benar pada zamannya, tetapi zaman itu sudah lama berlalu. Beda zaman, beda kebiasaan-kebiasaan / cara-cara yang benar dalam bertindak. Adalah politik kita sekarang untuk menyenangkan sang raja’. Ia mendapatkan makanan dan minumannya, tetapi ia akan kehilangan Allahnya, membelakangi imannya yang mula-mula, melupakan negaranya, menjadi seorang penyembah berhala Babilonia, dan hidupnya, tak tertulis dan tak dinyanyikan, tenggelam ke dalam keadaan dilupakan sepenuhnya yang layak didapatkan oleh kepengecutannya yang bersifat oportunist.].
d. Tetapi Daniel dan kawan-kawannya berketetapan untuk tidak menajiskan diri mereka dengan makanan dan minuman raja.
Kita harus membedakan apa yang prinsip dan apa yang bukan prinsip. Kalau bukan prinsip tak perlu dipermasalahkan. Kalau prinsip harus dipermasalahkan.
Matthew Henry: “Daniel was still firm to his religion. They had changed his name, but they could not change his nature.” [= Daniel tetap teguh pada agamanya. Mereka telah mengubah namanya, tetapi mereka tidak bisa mengubah karakter dasarnya.].
The Bible Exposition Commentary: “A heart that loves the Lord, trusts the Lord, and therefore obeys the Lord has no difficulty making the right choices and trusting God to take care of the consequences. It has well been said that faith is not believing in spite of evidence - that’s superstition, but obeying in spite of consequences. When they had to choose between God’s Word and the king’s food, they chose the Word of God (Ps 119:103; Deut 8:3).” [= Suatu hati yang mengasihi Tuhan, percaya kepada Tuhan, dan karena itu mentaati Tuhan, tidak mempunyai kesukaran untuk membuat pilihan-pilihan yang benar dan mempercayai Allah untuk menangani konsekwensi-konsekwensinya. Telah dikatakan dengan benar bahwa iman bukanlah percaya tanpa bukti - itu adalah takhyul, tetapi mentaati tak peduli apa konsekwensi-konsekwensinya. Pada waktu mereka harus memilih antara Firman Allah dan makanan raja, mereka memilih Firman Allah (Maz 119:103; Ul 8:3).].
Maz 119:103 - “Betapa manisnya janjiMu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.”.
Ul 8:3 - “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.”.
Catatan: saya tidak setuju dengan penggunaan Ul 8:3 ini karena penafsirannya bukan seperti itu.
e. Kontras antara Daniel dan kawan-kawannya dengan raja dan para bangsawan yang ada di Yehuda.
Matthew Henry: “by the account Jeremiah gives of the princes and great men now at Jerusalem it appears that they were very corrupt and wicked, and defiled themselves with things offered to idols, while these young gentlemen that were in captivity would not defile themselves, no, not with their portion of the king’s meat. How much better is it with those that retain their integrity in the depths of affliction than with those that retain their iniquity in the heights of prosperity!” [= dengan cerita yang Yeremia berikan tentang pangeran-pangeran / raja-raja dan orang-orang besar / berkedudukan tinggi yang sekarang berada di Yerusalem, kelihatan bahwa mereka sangat rusak dan jahat, dan mencemarkan diri mereka sendiri dengan hal-hal yang dipersembahkan kepada berhala-berhala, sedangkan orang-orang muda ini yang ada dalam pembuangan tidak mau mencemarkan diri mereka sendiri, tidak, tidak dengan bagian mereka dari makanan raja. Alangkah lebih baiknya bersama dengan mereka yang mempertahankan integritas mereka dalam kedalaman penderitaan dari pada bersama mereka yang mempertahankan kejahatan mereka dalam ketinggian kemakmuran!].
Catatan: sayang sekali Matthew Henry tidak memberikan ayat dari Yeremia yang menceritakan hal itu. Tetapi mengingat bahwa Yehuda pada saat itu jatuh ke dalam penyembahan berhala, maka kata-kata Matthew Henry itu pasti benar.
Penerapan: apakah saudara lebih senang bergaul dengan ‘orang gede’ yang jahat, atau dengan ‘orang kecil’ yang saleh?
f. Penolakan Daniel dan kawan-kawannya menunjukkan bahwa mereka berbeda dengan anak-anak sebaya mereka pada umumnya.
The Biblical Illustrator: “As they were princes they were chosen to be pages of the king of Babylon. They were to be fed for three years with all the royal dainties. Most boys would have blest their good fortune, and taken their fill of all that was going in the palace. But these Jewish boys refused the king’s meat and wine, lest they should eat anything forbidden by their religion. ... Like them, you should religiously think about what you eat and drink.” [= Karena mereka adalah pangeran-pangeran, mereka dipilih untuk menjadi pelayan-pelayan dari raja Babilonia. Mereka harus diberi makan selama tiga tahun dengan semua makanan enak raja. Kebanyakan anak laki-laki sudah berterimakasih akan nasib baik mereka, dan memuaskan diri mereka dengan apa yang sedang terjadi di istana. Tetapi anak-anak laki-laki Yahudi ini menolak makanan dan anggur raja, supaya jangan mereka memakan apapun yang dilarang oleh agama mereka. ... Seperti mereka, kamu harus berpikir secara agamawi tentang apa yang kamu makan dan minum.].
Ro 16:18 - “Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya.”.
Fil 3:19 - “Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.”.
1Kor 10:31 - “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”.
3. Bagaimana mungkin Daniel dan kawan-kawannya berani / mampu menolak makanan dan anggur dari raja?
The Biblical Illustrator: “Daniel had been brought up in the Mosaic institutions, and therefore he had been trained to abjure all meat that had been offered to idols, and all drink that had been laid on the altar of forbidden gods. He was a religious man from home! He was a man who took the commandments into captivity with him! Alas! there are some of us who can throw off our old selves, and do in Rome as the Romans do with a vengeance. Daniel, driven into captivity, took his religion with him. When we are thrown into difficult circumstances, do we take our religious faith with us? When we go to other countries, do we take the old home training? Do we repeat the commandments as they were thundered from Sinai, and do we re-pronounce the oath we took when we gave ourselves to the Saviour, as He hung upon the cross, and welcomed us to His love, and kingdom, and service? That is a poor religion which can be put off like a garment we are tired of for the time being, and can be put on again to serve occasion.” [= Daniel telah dibesarkan dalam tradisi yang berhubungan dengan hukum-hukum Musa, dan karena itu ia telah diajar untuk menolak semua makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala-berhala, dan semua minuman yang telah diletakkan pada mezbah dari dewa-dewa yang terlarang. Ia adalah seorang yang religius dari rumah! Ia adalah seseorang yang membawa hukum-hukum ke dalam pembuangan bersamanya! Astaga! di sana ada beberapa dari kita yang bisa membuang diri kita yang lama, dan melakukan di Roma seperti yang orang-orang Roma lakukan dengan sepenuhnya. Pada waktu kita dilemparkan ke dalam keadaan yang sukar, apakah kita membawa iman agamawi kita bersama kita? Pada waktu kita pergi ke negara yang lain, apakah kita membawa ajaran di rumah yang lama? Apakah kita mengulang hukum-hukum sebagaimana hukum-hukum itu diucapkan dengan keras dari Sinai, dan apakah kita mengucapkan ulang janji yang kita berikan pada waktu kita menyerahkan diri kita kepada sang Juruselamat, pada waktu Ia tergantung di salib, dan menerima kita kepada kasih, dan kerajaan dan pelayananNya? Itu merupakan suatu agama yang buruk yang bisa ditanggalkan seperti pakaian pada saat kita bosan, dan bisa dikenakan lagi pada waktu keadaannya cocok.].
Penerapan: pentingnya pendidikan rohani dari orang tua kepada anak-anak sejak usia dini.
Bdk. 2Tim 3:14-15 - “(14) Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. (15) Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.”.
The Biblical Illustrator: “He was religiously trained. Those old Jews made thorough and honest work of this part of their duty. Here our golden text comes in with all its power: ‘Wherewithal shall a young man cleanse his way? by taking heed thereto according to Thy word.’” [= Ia dilatih / dididik secara religius. Orang-orang Yahudi kuno melakukan pekerjaan yang menyeluruh / sempurna dan jujur dari bagian kewajiban mereka ini. Di sini text emas kita masuk dengan semua kekuatannya: ‘Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firmanMu.’ (Maz 119:9)].
The Bible Exposition Commentary: “A discerning test (Dan 1:8-16). How can God’s people resist the pressures that can ‘squeeze’ them into conformity with the world? According to Rom 12:1-2, ‘conformers’ are people whose lives are controlled by pressure from without, but ‘transformers’ are people whose lives are controlled by power from within.” [= Suatu ujian yang membedakan (Dan 1:8-16). Bagaimana umat Allah bisa menahan tekanan-tekanan yang bisa meremas / menekan mereka ke dalam penyesuaian dengan dunia? Menurut Ro 12:1-2, ‘orang-orang yang menyesuaikan diri’ adalah orang-orang yang hidupnya dikendalikan oleh tekanan dari luar, tetapi ‘orang-orang yang mengubah / mempertobatkan’ adalah orang-orang yang hidupnya dikendalikan oleh kuasa dari dalam.].
Ro 12:1-2 - “(1) Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”.
Barnes’ Notes: “It was only extraordinary grace which could have kept these youths in the paths of their early training, and in the faithful service of that God to whom they had been early consecrated, amidst the temptations by which they were now surrounded in a foreign land, and the influences which were employed to alienate them from the God of their fathers.” [= Hanyalah kasih karunia yang luar biasa yang bisa telah menjaga pemuda-pemuda ini dalam jalan-jalan dari pelatihan awal mereka, dan dalam pelayanan yang setia dari Allah itu kepada siapa mereka sejak awal telah dibaktikan, di tengah-tengah pencobaan-pencobaan dengan mana mereka sekarang dikelilingi di suatu negara asing, dan pengaruh-pengaruh yang digunakan untuk menjauhkan mereka dari Allah dari nenek moyang mereka.].
Kalau Arminian menekankan free will / kehendak bebas, maka Reformed menekankan kasih karunia! Tanpa kasih karunia Allah kita pasti jatuh!
4. Proses penolakan sampai berhasil.
Ay 8-16: “(8) Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (9) Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; (10) tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: ‘Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.’ (11) Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: (12) ‘Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; (13) sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.’ (14) Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. (15) Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. (16) Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka.”.
a. Daniel melaksanakan ketetapan hatinya dengan meminta kepada pemimpin pegawai istana.
Ay 8: “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.”.
b. Tuhan ikut bekerja.
Ay 9: “Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu;”.
Tuhan yang membuat pemimpin pegawai itu sayang kepada Daniel! Mengapa tidak ditulis kalau pemimpin pegawai itu menggunakan free will-nya untuk memutuskan untuk bersikap baik kepada Daniel? Hendaklah orang-orang Arminian menjawabnya!
Bdk. Amsal 21:1 - “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini.”.
Adam Clarke tidak memberikan komentar tentang ayat ini. Tentang Amsal 21:1 ada tafsirannya, tetapi rasanya ia membengkokkan ayat itu.
Calvin: “the king of Babylon would immediately have been angry, had he known this. ... This, therefore, is the reason why Daniel here relates his being in favor with that prefect. For, as we shall see in the next verse, the prefect simply denied his request. ... though he was not willing to acquiesce in the prayers of Daniel, he showed a singular kindness in not taking him before the king, since courtiers are ready for any accusation for the sake of obtaining favor.” [= raja Babilonia akan sudah marah seandainya ia mengetahui hal ini. ... Karena itu, inilah alasan mengapa Daniel di sini menceritakan kebaikan pemimpin pegawai istana. Karena, seperti akan kita lihat dalam ayat selanjutnya, pemimpin pegawai istana itu hanya menolak permohonannya. ... sekalipun ia tidak mau menyetujui permohonan Daniel, ia menunjukkan suatu kebaikan yang luar biasa dengan tidak membawa dia ke hadapan sang raja, karena pegawai-pegawai istana siap untuk tuduhan apapun demi mendapatkan keuntungan / kesenangan dari raja.].
Apakah tidak bisa pemimpin pegawai istana itu tetap memberitahu raja Nebukadnezar tentang penolakan Daniel dan kawan-kawannya terhadap makanan dan anggur raja, lalu Tuhan mengarahkan hati dan pikiran Nebukadnezar sehingga ia tidak marah? Tentu bisa kalau Tuhan mau. Tetapi di sini Ia memilih untuk mengarahkan hati dan pikiran dari pemimpin pegawai istana itu untuk menyayangi Daniel!
Calvin: “we must notice the form of speech here used; - God placed him in favor and pity before that prefect. He might have used the usual phrase, merely saying he was favorably treated; but, as he found a barbarian so humane and merciful, he ascribes this benefit to God.” [= kita harus memperhatikan bentuk ucapan yang digunakan di sini; - Allah meletakkan dia dalam kesenangan / kebaikan dan belas kasihan di hadapan pemimpin pegawai istana itu. Ia bisa telah menggunakan ungkapan yang biasa, sekedar mengatakan ia diperlakukan dengan baik; tetapi karena ia mendapati seorang barbar begitu baik dan penuh belas kasihan, ia menganggap manfaat ini berasal dari Allah.].
Calvin: “The result is this, - Daniel obtained favor with the prefect, since God bent the heart of a man, otherwise unsoftened, to clemency and humanity. His object in this narrative is to urge us to greater earnestness in duty, if we have to undergo any difficulties when God calls us.” [= Hasil / akibatnya adalah ini, - Daniel mendapatkan kebaikan pemimpin pegawai istana, karena Allah membengkokkan hati manusia, yang kalau tidak dibengkokkan adalah keras, pada belas kasihan / kelembutan dan kebaikan. Tujuannya dalam cerita ini adalah untuk mendesak kita pada kesungguhan yang lebih besar pada kewajiban, jika kita harus mengalami kesukaran-kesukaran apapun pada waktu Allah memanggil kita.].
Calvin: “It often happens that we cannot discharge everything which God requires and exacts without imminent danger to our lives. Sloth and softness naturally creep over us, and induce us to reject the cross. Daniel, therefore, gives us courage to obey God and his commands, and here states his favor with the prefect, since God granted his servant favor while faithfully performing his duty. Hence let us learn to cast our care upon God when worldly terror oppresses us, or when men forbid us with threats to obey God’s commands. Here let us acknowledge the power of God’s hand to turn the hearts of those who rage against us, and to flee us from all danger. This, then, is the reason why Daniel says the prefect was kind to him.” [= Sering terjadi bahwa kita tidak bisa melaksanakan segala sesuatu yang Allah wajibkan dan tuntut tanpa bahaya yang mengancam kehidupan kita. Penghindaran dan penyerahan secara alamiah merangkak masuk ke dalam kita, dan membujuk kita untuk menolak salib. Karena itu, Daniel memberi kita keberanian untuk mentaati Allah dan perintah-perintahNya, dan di sini menyatakan kebaikan pemimpin pegawai istana, karena Allah menganugerahkan pelayanNya kebaikan pada waktu ia dengan setia melaksanakan kewajibannya. Karena itu marilah kita belajar untuk menyerahkan kekuatiran kita kepada Allah pada waktu rasa takut duniawi menekan kita, atau pada waktu orang-orang melarang kita untuk mentaati perintah-perintah Allah dengan ancaman-ancaman. Di sini hendaklah kita mengakui kuasa dari tangan Allah untuk membengkokkan hati dari mereka yang marah terhadap kita, dan untuk melepaskan kita dari semua bahaya. Jadi, inilah alasan mengapa Daniel mengatakan pemimpin pegawai istana itu baik kepadanya.].
Calvin: “Meanwhile, we gather the general doctrine from this passage, that men’s hearts are divinely governed, while it shows us how God softens their iron hardness, and turns the wolf into the lamb. For when he brought his people out of Egypt, he gave them favor with the Egyptians, so that they carried with them their most precious vessels. It is clear enough that the Egyptians were hostile towards the Israelites. Why then did they so freely offer them the most valuable of their household goods? Only because the Lord inspired their hearts with new affections.” [= Sementara itu / pada saat yang sama, kita menyimpulkan doktrin / ajaran umum dari text ini, bahwa hati manusia dikendalikan oleh Allah, pada waktu itu menunjukkan kita bagaimana Allah melunakkan kekerasan mereka yang seperti besi, dan mengubah serigala menjadi domba. Karena pada waktu ia membawa umatNya keluar dari Mesir, ia membuat orang-orang Mesir baik kepada mereka, sehingga mereka membawa bersama mereka alat-alat / bejana-bejana mereka yang paling berharga. Adalah cukup jelas bahwa orang-orang Mesir bersikap bermusuhan terhadap orang-orang Israel. Lalu mengapa mereka dengan begitu murah hati / royal memberikan kepada mereka barang-barang rumah tangga mereka yang paling berharga? Hanya karena Tuhan menggerakkan hati mereka dengan perasaan-perasaan lembut / kasih yang baru.].
Calvin: “So, again, the Lord can exasperate our friends, and cause them afterwards to rise up in hostility against us. Let us perceive, then, that on both sides the will is in God’s power, either to bend the hearts of men to humanity, or to harden those which were naturally tender.” [= Demikian juga Tuhan bisa membuat marah sahabat-sahabat kita, dan menyebabkan mereka belakangan untuk bangkit dalam permusuhan terhadap kita. Jadi, hendaklah mengerti bahwa pada kedua sisi kehendak itu ada dalam kuasa Allah, atau untuk membengkokkan hati manusia pada kebaikan, atau untuk mengeraskan mereka yang secara alamiah adalah lembut.].
Calvin: “It is true, indeed, that every one has a peculiar disposition from his birth: some are ferocious, warlike, and sanguinary; others are mild, humane, and tractable. This variety springs from God’s secret ordination; but God not only forms every one’s disposition at his birth, but every day and every moment, if it seems good to him, changes every one’s affections. He also blinds men’s minds, and rouses them again from their stupor. For we sometimes see the rudest men endued with much acuteness, and show a singular contrivance in action, and others who excel in foresight, are at fault when they have need of judgment and discretion. We must consider the minds and hearts of men to be so governed by God’s secret instinct, that he changes their affections just as he pleases.” [= Memang benar, bahwa setiap orang mempunyai suatu kecondongan yang khas dari lahirnya: sebagian buas / ganas, cenderung untuk berperang, dan haus darah; orang-orang lain lembut, baik / penuh belas kasihan, dan mudah dikendalikan. Variasi ini muncul dari penentuan rahasia dari Allah; tetapi Allah bukan hanya membentuk kecondongan setiap orang pada kelahirannya, tetapi setiap hari dan setiap saat, jika itu kelihatan baik baginya, mengubah perasaan-perasaan setiap orang. Ia juga membutakan pikiran-pikiran orang, dan membangunkan mereka kembali dari ketidak-sadaran / ketumpulan mental mereka. Karena kadang-kadang kita melihat orang-orang yang paling tidak beradab diberi dengan banyak kepandaian / ketajaman, dan menunjukkan suatu rencana / keahlian yang unik / luar biasa dalam tindakan, dan orang-orang lain yang melampaui / lebih unggul dalam kemampuan untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, bersalah pada waktu mereka membutuhkan penilaian dan kebijaksanaan. Kita harus menganggap / percaya bahwa pikiran dan hati manusia dikendalikan sedemikian rupa oleh naluri rahasia Allah, bahwa Ia mengubah perasaan-perasaan mereka persis seperti yang Ia inginkan / senangi.].
Calvin: “Hence there is no reason why we should so greatly fear our enemies, although they vomit forth their rage with open mouth, and are overflowing with cruelty; for they can be turned aside by the Lord. And thus let us learn from the example of Daniel to go on fearlessly in our course, and not to turn aside, even if the whole world should oppose us; since God can easily and readily remove all impediments and we shall find those who were formerly most cruel, become humane when the Lord wishes to spare us. We now understand the sense of the words of this verse, as well as the Prophet’s intention.” [= Karena itu di sana tidak ada alasan mengapa kita harus begitu sangat takut kepada musuh-musuh kita, sekalipun mereka memuntahkan keluar kemarahan mereka dengan mulut terbuka, dan sedang meluap-luap dengan kekejaman; karena mereka bisa dibelokkan oleh Tuhan. Dan karena itu mari kita belajar dari teladan Daniel untuk berjalan terus tanpa rasa takut dalam jalan kita, dan tidak menyimpang, bahkan jika seluruh dunia menentang kita; karena Allah bisa dengan mudah dan dengan sukarela mengingkirkan semua halangan dan kita akan mendapati bahwa mereka yang tadinya paling kejam, menjadi baik / penuh belas kasihan pada waktu Tuhan ingin menjaga kita dari bahaya. Sekarang kita mengerti arti dari kata-kata dari ayat ini, maupun maksud dari sang nabi.].
John Calvin: “Solomon’s statement that the heart of a king is turned about hither and thither at God’s pleasure (Proverbs 21:1) certainly extends to all the human race, and carries as much weight as if he had said: ‘Whatever we conceive of in our minds is directed to his own end by God’s secret inspiration.’” [= Pernyataan Salomo bahwa hati dari seorang raja dibelokkan kesana kemari sesuai kesenangan / perkenan Allah (Amsal 21:1) pasti meluas / mencakup pada semua umat manusia, dan membawa / mempunyai kekuatan yang sama seakan-akan ia telah berkata: ‘Apapun yang kita mengerti / bentuk dalam pikiran kita diarahkan pada tujuannya sendiri oleh bimbingan / kontrol rahasia Allah’.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, Book I, Chapter 18, No 2.
Bandingkan dengan ayat-ayat ini:
Maz 106:46 - “DiberiNya mereka mendapat rahmat dari pihak semua orang yang menawan mereka.”.
Kel 11:1-3 - “(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Aku akan mendatangkan satu tulah lagi atas Firaun dan atas Mesir, sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi dari sini; apabila ia membiarkan kamu pergi, ia akan benar-benar mengusir kamu dari sini. (2) Baiklah katakan kepada bangsa itu, supaya setiap laki-laki meminta barang-barang emas dan perak kepada tetangganya dan setiap perempuan kepada tetangganya pula.’ (3) Lalu TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu; lagipula Musa adalah seorang yang sangat terpandang di tanah Mesir, di mata pegawai-pegawai Firaun dan di mata rakyat.”.
Kel 12:35-36 - “(35) Orang Israel melakukan juga seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain. (36) Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu.”.
Ezra 1:1-5 - “(1) Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini: (2) ‘Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagiNya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. (3) Siapa di antara kamu termasuk umatNya, Allahnya menyertainya! Biarlah ia berangkat pulang ke Yerusalem, yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah TUHAN. Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem. (4) Dan setiap orang yang tertinggal, di manapun ia ada sebagai pendatang, harus disokong oleh penduduk setempat dengan perak dan emas, harta benda dan ternak, di samping persembahan sukarela bagi rumah Allah yang ada di Yerusalem.’ (5) Maka berkemaslah kepala-kepala kaum keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta para imam dan orang-orang Lewi, yakni setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem.”.
Maz 105:24-25 - “(24) TUHAN membuat umatNya sangat subur, dan menjadikannya lebih kuat dari pada para lawannya; (25) diubahNya hati mereka untuk membenci umatNya, untuk memperdayakan hamba-hambaNya.”.
Matthew Henry: “Note, We cannot better improve our interest in any with whom we have found favour than by making use of them to keep us from sin.” [= Perhatikan, Kita tidak bisa memperbaiki dengan lebih baik urusan kita dalam hal apapun dengan siapa yang baik kepada kita dari pada dengan menggunakan mereka untuk mencegah kita dari dosa.].
Penerapan: biasanya kalau ada orang yang baik kepada kita, kita menggunakannya untuk mendapatkan keuntungan duniawi, seperti uang, makanan dan sebagainya. Tetapi Matthew Henry mengatakan bahwa yang terbaik adalah kita menggunakan kebaikan mereka dengan menggunakannya untuk mencegah kita dari dosa!!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali