(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 2 Agustus 2020, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Dan 1:1-21 - “(1) Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. (2) Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya. (3) Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, (4) yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. (5) Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja. (6) Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. (7) Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego. (8) Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (9) Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; (10) tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: ‘Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.’ (11) Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: (12) ‘Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; (13) sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.’ (14) Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. (15) Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. (16) Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka. (17) Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. (18) Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja, bahwa mereka sekalian harus dibawa menghadap, maka dibawalah mereka oleh pemimpin pegawai istana itu ke hadapan Nebukadnezar. (19) Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja. (20) Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya. (21) Daniel ada di sana sampai tahun pertama pemerintahan Koresh.”.
4) Penggantian nama mereka.
Ay 6-7: “(6) Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. (7) Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego.”.
Jadi ini nama-nama lama dan nama-nama baru mereka.
Daniel - Beltsazar
Hananya - Sadrakh
Misael - Mesakh
Azarya - Abednego
The Bible Exposition Commentary: “The name Daniel means ‘God is my judge,’ but it was changed to Belteshazzar or ‘Bel protect his life.’ Hananiah means ‘the Lord shows grace,’ but his new name Shadrach, means ‘command of Aku’ (the moon-god). Mishael means ‘Who is like God?’ and the new name, ‘Meshach,’ means ‘Who is as Aku is?’ Azariah means ‘The Lord is my help,’ but ‘Abednego’ means ‘Servant of Nebo (Nego).’ The name of the true and living God was replaced by the names of the false gods of Babylon; but would we expect unbelievers to do anything else?” [= Nama Daniel berarti ‘Allah adalah hakimku’, tetapi itu diganti menjadi Beltsazar atau ‘Bel melindungi nyawa / hidupnya’. Hananya berarti ‘Tuhan menunjukkan kasih karunia’, tetapi namanya yang baru Sadrakh, berarti ‘perintah dari Aku’ (dewa bulan). Misael berarti ‘Siapa yang seperti Allah?’ dan nama yang baru Mesakh berarti ‘Siapa yang seperti Aku?’. Azarya berarti ‘Tuhan adalah pertolonganku’, tetapi Abednego berarti ‘pelayan dari Nebo (Nego)’. Nama / sebutan dari Allah yang benar dan hidup digantikan oleh nama-nama dari dewa-dewa palsu Babilonia; tetapi apakah kita mengharapkan orang-orang yang tidak percaya melakukan apapun yang lain?].
Keil & Delitzsch: “Daniel, i.e., God will judge, received the name Belteshazzar, formed from Bel, the name of the chief god of the Babylonians. Its meaning has not yet been determined. Hananiah, i.e., the Lord is gracious, received the name Shadrach, the origin of which is wholly unknown; Mishael, i.e., who is what the Lord is, was called Meshach, a name yet undeciphered; and Azariah, i.e., the Lord helps, had his name changed into Abednego, i.e., slave, servant of Nego or Nebo, the name of the second god of the Babylonians (Isa. 46:1)” [= Daniel, artinya ‘Allah akan menghakimi’, menerima nama Beltsazar, dibentuk dari Bel, nama dari dewa utama Babilonia. Artinya belum dipastikan. Hananya, artinya ‘Tuhan adalah penuh kasih karunia’, menerima nama Sadrakh, asal usulnya sepenuhnya tak diketahui; Misael, artinya ‘Siapa yang adalah apa adanya Tuhan’, disebut / dipanggil Mesakh, suatu nama yang belum diartikan / ditafsirkan; dan Azarya, artinya ‘Tuhan menolong’, namanya diganti menjadi Abednego, artinya ‘budak, pelayan dari Nego atau Nebo, nama dari dewa kedua dari Babilonia (Yes 46:1)].
Yes 46:1 - “Dewa Bel sudah ditundukkan, dewa Nebo sudah direbahkan, patung-patungnya sudah diangkut di atas binatang, di atas hewan; yang pernah kamu arak, sekarang telah dimuatkan sebagai beban pada binatang yang lelah,”.
Matthew Henry: “The prince of the eunuchs changed the names of Daniel and his fellows, partly to show his authority over them and their subjection to him, and partly in token of their being naturalized and made Chaldeans. Their Hebrew names, which they received at their circumcision, had something of God, or Jah, in them: Daniel - God is my Judge; Hananiah - The grace of the Lord; Mishael - He that is the strong God; Azariah - The Lord is a help. To make them forget the God of their fathers, the guide of their youth, they give them names that savour of the Chaldean idolatry. Belteshazzar signifies the keeper of the hidden treasures of Bel; Shadrach - The inspiration of the sun, which the Chaldeans worshipped; Meshach - Of the goddess Shach, under which name Venus was worshipped; Abed-nego, The servant of the shining fire, which they worshipped also.” [= Pemimpin pegawai istana mengubah nama-nama dari Daniel dan kawan-kawannya, sebagian untuk menunjukkan otoritas atas mereka dan ketundukan mereka kepadanya, dan sebagian sebagai tanda dari penaturalisasian mereka dan membuat mereka orang-orang Kasdim. Nama-nama Ibrani mereka, yang mereka terima pada saat penyunatan mereka, mempunyai sesuatu dari Allah, atau Yah, dalam nama-nama itu: Daniel - Allah adalah hakimku; Hananya - kasih karunia dari Tuhan; Misael - Ia yang adalah Allah yang kuat; Azarya - Tuhan adalah suatu pertolongan. Untuk membuat mereka melupakan Allah dari nenek moyang mereka, pembimbing dari masa muda mereka, mereka memberi mereka nama-nama yang berbau penyembahan berhala Kasdim. Beltsazar berarti penjaga dari harta tersembunyi dari Bel; Sadrakh - Ilham dari matahari, yang disembah orang-orang Kasdim; Mesakh - dari / tentang dewi Shach, di bawah nama siapa Venus disembah; Abednego, Pelayan dari api yang bersinar, yang mereka sembah juga.].
Arti nama-nama mereka sangat tidak pasti, dan para penafsir memberikan arti yang berbeda-beda, khususnya untuk nama-nama baru mereka. Jadi, saya tak mempedulikan hal itu. Jadi yang ingin saya tekankan berkenaan dengan perubahan nama-nama itu, hanyalah tujuan perubahan nama-nama itu.
Keil & Delitzsch: “Daniel and his friends received genuine heathen names in exchange for their own significant names, which were associated with that of the true God. The names given to them were formed partly from the names of Babylonish idols, in order that thereby they might become wholly naturalized, and become estranged at once from the religion and the country of their fathers.” [= Daniel dan kawan-kawannya menerima nama-nama kafir yang asli / sungguh-sungguh sebagai ganti dari nama-nama mereka sendiri yang penting / mempunyai arti, yang berhubungan dengan nama / sebutan dari Allah yang benar. Nama-nama yang diberikan kepada mereka dibentuk sebagian dari nama-nama berhala-berhala Babilonia, supaya dengan itu mereka bisa dinaturalisasikan sepenuhnya, dan segera diisolasi / dijauhkan dari agama dan negara dari nenek moyang mereka.].
Calvin: “it was the king’s plan to draw away those boys that they should have nothing in common with the elect people, but degenerate to the manners of the Chaldeans.” [= merupakan rencana raja untuk menarik anak-anak itu sehingga mereka tidak mempunyai persamaan dengan bangsa pilihan, tetapi memburuk pada tradisi / kebiasaan orang-orang Kasdim.].
5) Kehormatan dan ujian.
Ay 5a: “Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya.”.
KJV: “And the king appointed them a daily provision of the king’s meat, and of the wine which he drank:” [= Dan raja menetapkan bagi mereka persediaan makanan harian dari makanan raja, dan dari anggur yang ia minum:].
a) Di satu sisi ini merupakan suatu kehormatan bagi Daniel dan kawan-kawannya.
Adam Clarke: “‘A daily provision.’ ... The kings of Persia, (who succeeded the kings of Babylon, on whose empire they had seized,) were accustomed to order the food left at their own tables to be delivered to their courtiers.” [= ‘Suatu penyediaan makanan harian’. ... Raja-raja Persia (yang menggantikan raja-raja Babilonia, yang kekaisarannya mereka rebut), terbiasa untuk memerintahkan makanan yang tersisa di meja mereka sendiri untuk diberikan kepada pelayan-pelayan / pegawai-pegawai istana mereka.].
Matthew Henry: “He provided for them three years, not only necessaries, but dainties for their encouragement in their studies. ... With a liberal education there should be a liberal maintenance.” [= Ia menyediakan makanan untuk mereka selama 3 tahun, bukan hanya hal-hal yang dibutuhkan, tetapi makanan-makanan yang enak sebagai dorongan dalam pembelajaran-pembelajaran mereka. ... Bersama dengan suatu pendidikan yang royal disana harus ada suatu pemeliharaan yang royal.].
Bandingkan dengan gereja / STT yang memberikan kehidupan yang melarat untuk pendeta / calon pendeta!
Calvin menganggap bahwa pemberian makanan raja ini tujuannya adalah untuk ‘menyogok’ mereka sehingga jadi tunduk kepada raja. Kalau ini benar, maka terlihat bahwa kalau tadi setan menyerang mereka dengan penderitaan, sekarang setan menyerang mereka dengan kesenangan / kemewahan!
Tetapi Albert Barnes tidak setuju dengan tafsiran Calvin ini, dan menurut dia tujuannya adalah membuat mereka sehat, dan mempunyai perawakan yang baik, dan ia menggunakan ay 15 sebagai dasar. Saya kira akan lebih jelas kalau ay 8-16 dijadikan dasar.
Ay 8-16: “(8) Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (9) Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; (10) tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: ‘Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.’ (11) Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: (12) ‘Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; (13) sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.’ (14) Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. (15) Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. (16) Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka.”.
Memang dari text ini terlihat bahwa tujuan pemberian makan raja tersebut adalah supaya mereka lebih sehat dan mempunyai perawakan yang lebih baik, sehingga setelah melewati 10 hari ujian, dan mereka tampak lebih baik, maka penjenang itu setuju untuk menggantikan makanan raja dengan sayur dan air untuk Daniel dan kawan-kawannya.
b) Tetapi di sisi lain, ini juga merupakan suatu ujian, karena sebagai orang-orang Yahudi mereka dilarang untuk memakan makanan itu. Ini akan saya jelaskan lebih terperinci belakangan.
6) Daniel menolak makanan dan anggur dari raja.
Ay 8: “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.”.
1. Ada hal-hal yang tidak ditolak oleh Daniel dan kawan-kawannya.
a. Daniel dan kawan-kawan tidak menolak pengajaran yang diberikan kepada mereka.
The Biblical Illustrator: “Daniel’s Education: - From the beginning of next chapter, it appears, that astrology was a principal branch of learning among the Chaldeans. As Daniel was afterwards appointed master of the magicians, we see no reason to doubt that he was taught this, and the other occult sciences of Babylon. We are warranted, from Daniel’s tenderness of conscience, to conclude that he neither believed in astrology, nor practised it; but we see no sin in his becoming acquainted with it, just as we see no sin in a Christian being taught the mythology of Greece and Rome, or in a missionary studying the superstitious of the Hindoos.” [= Pendidikan Daniel: - Dari permulaan dari pasal yang selanjutnya (pasal 2), kelihatannya astrology merupakan suatu cabang utama dari pengetahuan di antara orang-orang Kasdim. Karena Daniel belakangan ditetapkan / diangkat sebagai kepala dari ahli-ahli sihir itu, kami tidak melihat alasan untuk meragukan bahwa ia diajar tentang hal ini, dan ilmu-ilmu okultisme yang lain dari Babilonia. Kami dibenarkan, dari kelembutan hati nurani Daniel, untuk menyimpulkan bahwa ia tidak percaya pada astrology, ataupun mempraktekkannya; tetapi kami tidak melihat sebagai dosa dalam pengenalannya terhadapnya, sama seperti kami tidak melihat sebagai dosa dalam seorang Kristen untuk diajar mitologi Yunani dan Romawi, atau dalam seorang misionaris yang mempelajari hal-hal yang bersifat takhyul dari orang-orang beragama Hindu.].
Catatan: kita harus membedakan astronomy dan astrology karena sekalipun dulu dua kata ini dianggap sama, belakangan mereka dibedakan. Astronomy itu adalah ilmu perbintangan, dan itu betul-betul ilmu pengetahuan. Tetapi astrology adalah ilmu meramal berdasarkan posisi bintang (Horoscope), dan itu jelas merupakan sesuatu yang dilarang dalam Alkitab.
Yes 47:12-15 - “(12) Bertahan sajalah dengan segala manteramu dan sihirmu yang banyak itu, yang telah kaurepotkan dari sejak kecilmu; mungkin engkau sanggup mendatangkan bantuan, mungkin engkau dapat menimbulkan ketakutan. (13) Engkau telah payah karena banyaknya nasihat! Biarlah tampil dan menyelamatkan engkau orang-orang yang meneliti segala penjuru langit, yang menilik bintang-bintang dan yang pada setiap bulan baru memberitahukan apa yang akan terjadi atasmu! (14) Sesungguhnya, mereka sebagai jerami yang dibakar api; mereka tidak dapat melepaskan nyawanya dari kuasa nyala api; api itu bukan bara api untuk memanaskan diri, bukan api untuk berdiang! (15) Demikianlah faedahnya bagimu dari tukang-tukang jampi itu, yang telah kaurepotkan dari sejak kecilmu; masing-masing mereka terhuyung-huyung ke segala jurusan, tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau.”.
Catatan: bagian yang saya garis-bawahi dan beri warna biru itu diterjemahkan ‘astrologers’ oleh KJV/NIV/NASB/ASV/NKJV.
Matthew Henry, Jamieson, Fausset & Brown, Albert Barnes menganggap bahwa text Yes 47 ini memang membicarakan orang-orang yang meramal berdasarkan astrology.
Matthew Henry: “[2.] The care which he took concerning them. First, For their education. He ordered that they should be taught the learning and tongue of the Chaldeans. They are supposed to be wise and knowing young men, and yet they must be further taught. ‘Give instructions to a wise man and he will increase in learning.’ Note, Those that would do good in the world when they grow up must learn when they are young. That is the learning age; if that time be lost, it will hardly be redeemed. It does not appear that Nebuchadnezzar designed they should learn the unlawful arts that were used among the Chaldeans, magic and divination; if he did, Daniel and his fellows would not defile themselves with them. Nay, we do not find that he ordered them to be taught the religion of the Chaldeans, by which it appears that he was at this time no bigot; if men were skilful and faithful, and fit for his business, it was not material to him what religion they were of, provided they had but some religion. They must be trained up in the language and laws of the country, in history, philosophy, and mathematics, in the arts of husbandry, war, and navigation, in such learning as might qualify them to serve their generation. Note, It is real service to the public to provide for the good education of the youth.” [= (2.) Perhatiannya berkenaan dengan mereka. Pertama, untuk pendidikan mereka. Ia memerintahkan supaya mereka diajar pelajaran dan bahasa orang-orang Kasdim. Mereka dianggap sebagai orang bijaksana dan punya pengetahuan, tetapi mereka harus diajar lebih jauh. ‘Berilah pelajaran kepada seorang bijak dan ia akan bertambah dalam pengetahuan’. Perhatikan, Mereka yang mau melakukan yang baik dalam dunia pada waktu mereka dewasa harus belajar pada waktu mereka muda. Itu adalah masa pembelajaran; jika masa itu hilang, itu tidak akan bisa ditebus. Kelihatannya Nebukadnezar tidak merancang mereka untuk mempelajari keahlian yang tidak sah yang digunakan di antara orang-orang Kasdim, magic dan ilmu meramal; seandainya ia melakukannya, Daniel dan kawan-kawannya tidak akan mencemarkan diri mereka dengan hal-hal itu. Tidak, kita tidak mendapati bahwa ia memerintahkan mereka untuk diajar agama dari orang-orang Kasdim, dari mana terlihat bahwa pada saat ini ia bukanlah seorang fanatik; jika orang-orang memang ahli dan setia, dan cocok untuk urusannya, tak jadi soal baginya apa agama mereka, asal mereka mempunyai agama. Mereka harus dilatih / diajar dalam bahasa dan hukum-hukum dari negara itu, dalam sejarah, filsafat, dan matematik, dalam keahlian tentang pertanian, perang, dan navigasi, dalam pembelajaran sedemikian rupa yang bisa membuat mereka memenuhi syarat untuk melayani angkatan mereka. Perhatikan, Merupakan suatu pelayanan yang sungguh-sungguh kepada umum / masyarakat untuk menyediakan pendidikan yang baik bagi orang-orang muda.].
Amsal 9:9 - “berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.”.
The Biblical Illustrator: “1. Observe carefully what Daniel did not do. He did not decline the chance given him for conspicuous service. He only avoided the embarrassing conditions attached to it. He was willing to be useful, if so splendid an opportunity was offered him; but he would not peril his convictions, nor sacrifice his principles. No young man has any right to refuse an opening in life that is advantageous; he must just accept the gift which in the providence of God comes to him, and then consecrate it to the service of God and his fellow-men.” [= 1. Perhatikan dengan teliti apa yang Daniel tidak lakukan. Ia tidak menolak kesempatan yang diberikan kepadanya untuk pelayanan nyata / jelas. Ia hanya menghindari sikon yang memalukan yang dilekatkan kepada hal itu. Ia mau untuk menjadi berguna, jika kesempatan yang begitu bagus ditawarkan kepadanya; tetapi ia tidak mau membahayakan keyakinan-keyakinannya, ataupun mengorbankan prinsip-prinsipnya. Tak ada orang muda mempunyai hak apapun untuk menolak suatu pembukaan dalam kehidupan yang berguna; ia harus menerima pemberian yang dalam Providensia Allah datang kepadanya, dan lalu membaktikannya pada pelayanan bagi Allah dan sesama manusianya.].
Bdk. Yer 29:7 - “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”.
b. Daniel dan kawan-kawan tidak menolak penggantian nama mereka.
Sebetulnya tentu saja penggantian nama ini merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Bayangkan kalau seorang Kristen yang namanya Yohanes atau Petrus, harus menggantinya menjadi Muhammad atau Syiwa! Tetapi bagaimanapun, itu bukan sesuatu yang melanggar hukum agama yang ia anut.
2. Tetapi Daniel dan kawan-kawan menolak makanan dan anggur dari raja.
a. Mengapa makan raja dan anggur raja itu dianggap menajiskan?
Adam Clarke: “‘But Daniel purposed in his heart that he would not defile himself.’ ... The chief reasons why Daniel would not eat meat from the royal table were probably these three: 1. Because they ate unclean beasts, which were forbidden by the Jewish law. 2. Because they ate, as did the heathens in general, beasts which had been strangled, or not properly blooded. 3. Because the animals that were eaten were first offered as victims to their gods.” [= ‘Tetapi Daniel berketetapan dalam hatinya bahwa ia tidak akan mencemarkan dirinya sendiri’. ... Alasan-alasan utama mengapa Daniel tidak mau makan makanan dari meja raja mungkin adalah tiga alasan ini: 1. Karena mereka makan binatang-binatang yang haram / najis, yang dilarang oleh hukum Taurat Yahudi. 2. Karena mereka makan, seperti yang dilakukan orang-orang kafir pada umumnya, binatang-binatang yang dijerat, dan darahnya tidak dikeluarkan secara benar. 3. Karena binatang-binatang yang dimakan itu pertama-tama dipersembahkan sebagai korban-korban kepada dewa-dewa mereka.].
Catatan: tentang point 1, daftar binatang yang dilarang untuk dimakan oleh bangsa Israel / orang-orang Yahudi ada dalam Im 11.
Im 11:1-47 - “(1) Lalu TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun, kata-Nya kepada mereka: (2) ‘Katakanlah kepada orang Israel, begini: Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat yang ada di atas bumi: (3) setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan. (4) Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu. (5) Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu. (6) Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu. (7) Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. (8) Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu. (9) Inilah yang boleh kamu makan dari segala yang hidup di dalam air: segala yang bersirip dan bersisik di dalam air, di dalam lautan, dan di dalam sungai, itulah semuanya yang boleh kamu makan. (10) Tetapi segala yang tidak bersirip atau bersisik di dalam lautan dan di dalam sungai, dari segala yang berkeriapan di dalam air dan dari segala makhluk hidup yang ada di dalam air, semuanya itu kejijikan bagimu. (11) Sesungguhnya haruslah semuanya itu kejijikan bagimu; dagingnya janganlah kamu makan, dan bangkainya haruslah kamu jijikkan. (12) Segala yang tidak bersirip dan tidak bersisik di dalam air, adalah kejijikan bagimu. (13) Inilah yang harus kamu jijikkan dari burung-burung, janganlah dimakan, karena semuanya itu adalah kejijikan: burung rajawali, ering janggut dan elang laut; (14) elang merah dan elang hitam menurut jenisnya; (15) setiap burung gagak menurut jenisnya; (16) burung unta, burung hantu, camar dan elang sikap menurut jenisnya; (17) burung pungguk, burung dendang air dan burung hantu besar; (18) burung hantu putih, burung undan, burung ering; (19) burung ranggung, bangau menurut jenisnya, meragai dan kelelawar. (20) Segala binatang yang merayap dan bersayap dan berjalan dengan keempat kakinya adalah kejijikan bagimu. (21) Tetapi inilah yang boleh kamu makan dari segala binatang yang merayap dan bersayap dan yang berjalan dengan keempat kakinya, yaitu yang mempunyai paha di sebelah atas kakinya untuk melompat di atas tanah. (22) Inilah yang boleh kamu makan dari antaranya: belalang-belalang menurut jenisnya, yaitu belalang-belalang gambar menurut jenisnya, belalang-belalang kunyit menurut jenisnya, dan belalang-belalang padi menurut jenisnya. (23) Selainnya segala binatang yang merayap dan bersayap dan yang berkaki empat adalah kejijikan bagimu. (24) Semua yang berikut akan menajiskan kamu - setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam, (25) dan setiap orang yang ada membawa dari bangkainya haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam-, (26) yakni segala binatang yang berkuku belah, tetapi tidak bersela panjang, dan yang tidak memamah biak; haram semuanya itu bagimu dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis. (27) Demikian juga segala yang berjalan dengan telapak kakinya di antara segala binatang yang berjalan dengan keempat kakinya, semuanya itu haram bagimu; setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam. (28) Dan siapa yang membawa bangkainya, haruslah mencuci pakaiannya dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. Haram semuanya itu bagimu. (29) Inilah yang haram bagimu di antara segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi: tikus buta, tikus, dan katak menurut jenisnya (30) dan landak, biawak, dan bengkarung, siput dan bunglon. (31) Itulah semuanya yang haram bagimu di antara segala binatang yang mengeriap. Setiap orang yang kena kepada binatang-binatang itu sesudah binatang-binatang itu mati, menjadi najis sampai matahari terbenam. (32) Dan segala sesuatu menjadi najis, kalau seekor yang mati dari binatang-binatang itu jatuh ke atasnya: perkakas kayu apa saja atau pakaian atau kulit atau karung, setiap barang yang dipergunakan untuk sesuatu apapun, haruslah dimasukkan ke dalam air dan menjadi najis sampai matahari terbenam, kemudian menjadi tahir pula. (33) Kalau seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke dalam sesuatu belanga tanah, maka segala yang ada di dalamnya menjadi najis dan belanga itu harus kamu pecahkan. (34) Dalam hal itu segala makanan yang boleh dimakan, kalau kena air dari belanga itu, menjadi najis, dan segala minuman yang boleh diminum dalam belanga seperti itu, menjadi najis. (35) Kalau bangkai seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke atas sesuatu benda, itu menjadi najis; pembakaran roti dan anglo haruslah diremukkan, karena semuanya itu najis dan haruslah najis juga bagimu; (36) tetapi mata air atau sumur yang memuat air, tetap tahir, sedangkan siapa yang kena kepada bangkai binatang-binatang itu menjadi najis. (37) Apabila bangkai seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke atas benih apapun yang akan ditaburkan, maka benih itu tetap tahir. (38) Tetapi apabila benih itu telah dibubuhi air, lalu ke atasnya jatuh bangkai seekor dari binatang-binatang itu, maka najislah benih itu bagimu. (39) Apabila mati salah seekor binatang yang menjadi makanan bagimu, maka siapa yang kena kepada bangkainya menjadi najis sampai matahari terbenam. (40) Dan siapa yang makan dari bangkainya itu, haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam; demikian juga siapa yang membawa bangkainya haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. (41) Segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi, adalah kejijikan, janganlah dimakan. (42) Segala yang merayap dengan perutnya dan segala yang berjalan dengan keempat kakinya, atau segala yang berkaki banyak, semua yang termasuk binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi, janganlah kamu makan, karena semuanya itu adalah kejijikan. (43) Janganlah kamu membuat dirimu jijik oleh setiap binatang yang merayap dan berkeriapan dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu, sehingga kamu menjadi najis karenanya. (44) Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. (45) Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus. (46) Itulah hukum tentang binatang berkaki empat, burung-burung dan segala makhluk hidup yang bergerak di dalam air dan segala makhluk yang mengeriap di atas bumi, (47) yakni untuk membedakan antara yang najis dengan yang tahir, antara binatang yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh dimakan.’”.
The Biblical Illustrator: “Remember that the food which was allowed to Israel was to be killed in a certain way. The blood must be effectually drained from the flesh, for he that ate the blood defiled himself thereby. Now, the Babylonians did not kill their beasts in that way, and the eating of flesh which had not been killed according to the law would have defiled Daniel.” [= Ingat bahwa makanan yang diijinkan bagi Israel harus dibunuh dengan suatu cara tertentu. Darah harus dikeluarkan sampai habis dari daging, karena ia yang memakan darah menajiskan dirinya sendiri dengan hal itu. Orang-orang Babilonia tidak membunuh binatang-binatang mereka dengan cara itu, dan memakan daging yang tidak dibunuh sesuai dengan hukum Taurat akan mencemarkan Daniel.].
Im 17:10-14 - “(10) ‘Setiap orang dari bangsa Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka, yang makan darah apapun juga Aku sendiri akan menentang dia dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya. (11) Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa. (12) Itulah sebabnya Aku berfirman kepada orang Israel: Seorangpun di antaramu janganlah makan darah. Demikian juga orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu tidak boleh makan darah. (13) Setiap orang dari orang Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, yang menangkap dalam perburuan seekor binatang atau burung yang boleh dimakan, haruslah mencurahkan darahnya, lalu menimbunnya dengan tanah. (14) Karena darah itulah nyawa segala makhluk. Sebab itu Aku telah berfirman kepada orang Israel: Darah makhluk apapun janganlah kamu makan, karena darah itulah nyawa segala makhluk: setiap orang yang memakannya haruslah dilenyapkan.”.
Kel 22:31 - “Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagiKu: daging ternak yang diterkam di padang oleh binatang buas, janganlah kamu makan, tetapi haruslah kamu lemparkan kepada anjing.’”.
Ul 12:21-24 - “(21) Apabila tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk menegakkan namaNya di sana, terlalu jauh dari tempatmu, maka engkau boleh menyembelih dari lembu sapimu dan kambing dombamu yang diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang kuperintahkan kepadamu, dan memakan dagingnya di tempatmu sesuka hatimu. (22) Tetapi engkau harus memakan dagingnya, seperti memakan daging kijang atau daging rusa; baik orang najis maupun orang tahir boleh memakannya. (23) Tetapi jagalah baik-baik, supaya jangan engkau memakan darahnya, sebab darah ialah nyawa, maka janganlah engkau memakan nyawa bersama-sama dengan daging. (24) Janganlah engkau memakannya; engkau harus mencurahkannya ke bumi seperti air.”.
Ul 14:21 - “Janganlah kamu memakan bangkai apapun, tetapi boleh kauberikan kepada pendatang yang di dalam tempatmu untuk dimakan, atau boleh kaujual kepada orang asing; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam air susu induknya.’”.
The Bible Exposition Commentary: “It was important to the Jews that they eat only animals approved by God and prepared in such a way that the blood was drained from the flesh, for eating blood was strictly prohibited (Lev 11; 17:10-16). But even more, the king’s food would first be offered to idols, and no faithful Jew would eat such defiled food. The early church faced this same problem.” [= Adalah penting bagi orang-orang Yahudi bahwa mereka hanya makan binatang-binatang yang disetujui oleh Allah dan dipersiapkan dengan cara sedemikian rupa sehingga darahnya dikeluarkan sampai habis dari daging, karena memakan darah dilarang secara ketat / keras (Im 11; 17:16). Tetapi lebih lagi, makanan raja pertama-tama dipersembahkan kepada berhala-berhala, dan tak ada orang Yahudi yang setia / beriman memakan makanan tercemar / najis seperti itu. Gereja mula-mula menghadapi problem yang sama ini.].
Im 17:10-16 - “(10) ‘Setiap orang dari bangsa Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka, yang makan darah apapun juga Aku sendiri akan menentang dia dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya. (11) Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa. (12) Itulah sebabnya Aku berfirman kepada orang Israel: Seorangpun di antaramu janganlah makan darah. Demikian juga orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu tidak boleh makan darah. (13) Setiap orang dari orang Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, yang menangkap dalam perburuan seekor binatang atau burung yang boleh dimakan, haruslah mencurahkan darahnya, lalu menimbunnya dengan tanah. (14) Karena darah itulah nyawa segala makhluk. Sebab itu Aku telah berfirman kepada orang Israel: Darah makhluk apapun janganlah kamu makan, karena darah itulah nyawa segala makhluk: setiap orang yang memakannya haruslah dilenyapkan. (15) Dan setiap orang yang makan bangkai atau sisa mangsa binatang buas, baik ia orang Israel asli maupun orang asing, haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam, barulah ia menjadi tahir. (16) Tetapi jikalau ia tidak mencuci pakaiannya dan tidak membasuh tubuhnya, ia akan menanggung kesalahannya sendiri.’”.
Larangan makan binatang-binatang dalam Im 11, dan juga larangan makan darah, merupakan hukum-hukum yang termasuk dalam Ceremonial Law [= hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan].
Ini masih berlaku pada saat itu bagi Daniel dan kawan-kawannya, tetapi tidak berlaku bagi kita pada zaman sekarang karena semua Ceremonial Law berhenti berlaku sejak kematian Kristus (Ef 2:15).
Ef 2:15 - “sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,”.
Tetapi bagaimana dengan makan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala? Apakah orang Kristen dalam zaman Perjanjian Baru (setelah kematian Kristus) boleh makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala atau tidak, bisa dibaca dalam 1Kor 8:1-13 dan 1Kor 10:19-33.
1Kor 8:1-13 - “(1) Tentang daging persembahan berhala kita tahu: ‘kita semua mempunyai pengetahuan.’ Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. (2) Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu ‘pengetahuan’, maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. (3) Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah. (4) Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ‘tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.’ (5) Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’, baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak ‘allah’ dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - (6) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. (7) Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya. (8) ‘Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan.’ (9) Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah. (10) Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai ‘pengetahuan’, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala? (11) Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena ‘pengetahuan’ mu. (12) Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus. (13) Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.”.
1Kor 10:19-33 - “(19) Apakah yang kumaksudkan dengan perkataan itu? Bahwa persembahan berhala adalah sesuatu? Atau bahwa berhala adalah sesuatu? (20) Bukan! Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat. (21) Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat. (22) Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia? (23) ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. (24) Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain. (25) Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. (26) Karena: ‘bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.’ (27) Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. (28) Tetapi kalau seorang berkata kepadamu: ‘Itu persembahan berhala!’ janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani. (29) Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata: ‘Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain? (30) Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang berkata jahat tentang aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?’ (31) Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (32) Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. (33) Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.”.
Intinya adalah ini:
(1) Kita dilarang makan kalau itu dalam acara agama kafir, penyembahan berhala dan sebagainya. Ikut acara itu saja jelas sudah merupakan suatu dosa.
(2) Kalau kita diberi makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala tanpa mengetahuinya, kita boleh makan.
(3) Tetapi kalau kita diberi dan diberi tahu bahwa itu adalah makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala, maka kita tak boleh memakannya.
(4) Sebetulnya tujuan larangan makan ini bukan karena makanan itu bisa menajiskan kita. Tetapi supaya kita tidak menjatuhkan (menjadi batu sandungan) orang-orang yang lemah imannya / tak beriman.
Penerapan: kalau pada masa wabah covid 19 ini saudara menjadi miskin, sehingga harus makan makanan yang lebih rendah dari biasanya, dan tahu-tahu ada orang yang memberi saudara makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala, bagaimana sikap saudara? Beranilah menolak, karena kalau saudara bisa menahan diri dan tetap menolak, maka itu merupakan pengutamaan Tuhan dan kerajaanNya, dan Tuhan berjanji akan mencukupi kebutuhan saudara (Mat 6:33).
Mat 6:33 - “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali