kebaktian online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 19 Juli 2020, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

daniel 1:1-21(4)

 

Dan 1:1-21 - “(1) Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. (2) Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya. (3) Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, (4) yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. (5) Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja. (6) Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. (7) Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego. (8) Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (9) Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; (10) tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: ‘Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.’ (11) Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: (12) ‘Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; (13) sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.’ (14) Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. (15) Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. (16) Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka. (17) Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. (18) Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja, bahwa mereka sekalian harus dibawa menghadap, maka dibawalah mereka oleh pemimpin pegawai istana itu ke hadapan Nebukadnezar. (19) Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja. (20) Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya. (21) Daniel ada di sana sampai tahun pertama pemerintahan Koresh..

 

2)   Daniel: kehidupannya, dan pembuangannya.

 

Ay 3-6: (3) Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, (4) yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. (5) Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja. (6) Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya..

 

a)         Daniel dan kehidupannya.

 

Barnes’ Notes: all that is known of Daniel is substantially as follows: He was descended from one of the highest families in Judah, if not one of royal blood ... His birthplace was probably Jerusalem (compare Dan 9:24), though it is not absolutely certain that this passage would demonstrate it.[= semua yang diketahui tentang Daniel pada pokoknya adalah sebagai berikut: Ia diturunkan dari salah satu dari keluarga-keluarga yang tertinggi di Yehuda, jika bukannya satu dari keturunan / keluarga raja ... Tempat lahirnya mungkin adalah Yerusalem (bdk. Dan 9:24), sekalipun tidaklah pasti secara mutlak bahwa text ini menunjukkan hal itu.] - hal 1.

 

Dan 9:24 - Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus..

 

Keil & Delitzsch: If Daniel was a youth (יֶלֶד, 1:4, 10) of from fifteen to eighteen years of age at the time of his being carried captive into Chaldea, and died in the faith of the divine promise soon after the last revelation made to him in the third year (Dan. 10:1) of king Cyrus, then he must have reached the advanced age of at least ninety years.[= Jika Daniel adalah seorang pemuda / remaja (YELED, 1:4,10) dari usia 15 sampai 18 tahun pada saat ia dibawa dalam pembuangan ke Kasdim, dan mati dalam iman tentang janji ilahi segera setelah wahyu terakhir dibuat kepadanya dalam tahun ke 3 (Dan 10:1) dari raja Koresh, maka ia pasti telah mencapai usia tua dari setidaknya 90 tahun.] - ‘Introduction’, hal 3.

 

Dan 1:4,10 - “(4) yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. ... (10) tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: ‘Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.’”.

 

Dan 10:1 - Pada tahun ketiga pemerintahan Koresh, raja orang Persia, suatu firman dinyatakan kepada Daniel yang diberi nama Beltsazar; firman itu benar dan mengenai kesusahan yang besar. Maka dicamkannyalah firman itu dan diperhatikannyalah penglihatan itu.”.

 

Barnes’ Notes: His age at that time it is impossible to determine with accuracy, but it is not improbable that it was somewhere about twelve or fifteen years. In Dan 1:4, he and his three friends are called ‘children’ (יְלָדִ֣ים). ‘This word properly denotes the period from the age of childhood up to manhood, and might be translated boys, lads, or youth’ - (Prof. Stuart on Daniel, p. 373). Ignatius (Ep. ad Magn.) says that Daniel was twelve years of age when he went into exile; Chrysostom says that he was eighteen (Opp, vi., p. 423); ... These are, of course, mere conjectures, or traditions, but they are probably not far from the truth. Such was the age at which persons would be most likely to be selected for the training here referred to.” [= Usianya pada saat itu mustahil untuk ditentukan dengan akurat, tetapi bukannya tidak mungkin bahwa itu adalah di sekitar 12 dan 15 tahun. Dalam Dan 1:4, ia dan 3 teman-temannya disebut ‘anak-anak’ (YELADIM). "Kata ini sebenarnya menunjuk masa dari usia kanak-kanak sampai dewasa, dan bisa diterjemahkan ‘anak-anak’, ‘orang-orang muda’, atau ‘pemuda / remaja’" - (Prof. Stuart tentang Daniel, hal 373). Ignatius (Ep. ad Magn.) mengatakan bahwa Daniel berusia 12 tahun pada waktu ia pergi ke dalam pembuangan; Chrysostom mengatakan bahwa ia berusia 18 tahun (Opp, vi., hal 423); ... Semua ini, tentu saja, hanya semata-mata tebakan-tebakan, atau tradisi-tradisi, tetapi semua ini mungkin tidak jauh dari kebenaran. Usia seperti itulah pada mana orang-orang paling memungkinkan untuk dipilih untuk pelatihan yang ditunjukkan di sini.] - hal 2.

Catatan: YELADIM adalah bentuk plural / jamak dari YELED.

 

Daniel bisa sangat saleh pada usia yang sangat muda dan dalam kerajaan yang sangat bejat, betul-betul merupakan sesuatu yang luar biasa!

 

Hampir pasti orang tua Daniel mentaati perintah Tuhan yang menyuruh mereka untuk selalu mengajar anak-anak mereka firman Tuhan.

 

Kel 12:21-27 - “(21) Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: ‘Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak domba Paskah. (22) Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi. (23) Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi. (24) Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu. (25) Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankanNya, maka kamu harus pelihara ibadah ini. (26) Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini? (27) maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.’ Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah.”.

 

Ul 6:6-9 - “(6) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, (7) haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (8) Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, (9) dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”.

 

Ul 6:20-25 - “(20) Apabila di kemudian hari anakmu bertanya kepadamu: Apakah peringatan, ketetapan dan peraturan itu, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN Allah kita? (21) maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat. (22) TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, yang besar dan yang mencelakakan, terhadap Mesir, terhadap Firaun dan seisi rumahnya, di depan mata kita; (23) tetapi kita dibawaNya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawaNya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikanNya dengan sumpah kepada nenek moyang kita. (24) TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini. (25) Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkanNya kepada kita.’”.

 

Ul 11:18-21 - “(18) Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. (19) Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; (20) engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu, (21) supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi.”.

 

Ul 32:45-46 - “(45) Setelah Musa selesai menyampaikan segala perkataan itu kepada seluruh orang Israel, (46) berkatalah ia kepada mereka: ‘Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini.”.

 

Yos 4:4-7 - “(4) Lalu Yosua memanggil kedua belas orang yang ditetapkannya dari orang Israel itu, seorang dari tiap-tiap suku, (5) dan Yosua berkata kepada mereka: ‘Menyeberanglah di depan tabut TUHAN, Allahmu, ke tengah-tengah sungai Yordan, dan angkatlah masing-masing sebuah batu ke atas bahumu, menurut bilangan suku orang Israel, (6) supaya ini menjadi tanda di tengah-tengah kamu. Jika anak-anakmu bertanya di kemudian hari: Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu? (7) maka haruslah kamu katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan tabut perjanjian TUHAN; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya.’”.

 

Yos 4:20-24 - “(20) Kedua belas batu yang diambil dari sungai Yordan itu ditegakkan oleh Yosua di Gilgal. (21) Dan berkatalah ia kepada orang Israel, demikian: ‘Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya: Apakah arti batu-batu ini? (22) maka haruslah kamu beritahukan kepada anak-anakmu, begini: Israel telah menyeberangi sungai Yordan ini di tanah yang kering! - (23) sebab TUHAN, Allahmu, telah mengeringkan di depan kamu air sungai Yordan, sampai kamu dapat menyeberang seperti yang telah dilakukan TUHAN, Allahmu, dengan Laut Teberau, yang telah dikeringkanNya di depan kita, sampai kita dapat menyeberang, (24) supaya semua bangsa di bumi tahu, bahwa kuat tangan TUHAN, dan supaya mereka selalu takut kepada TUHAN, Allahmu.’”.

 

Ayat-ayat ini harus diperhatikan oleh para orang tua, khususnya pada saat ada wabah seperti sekarang ini dimana Sekolah Minggu tidak bisa dijalankan. Coba pikirkan, apa yang saudara ajarkan kepada anak-anak saudara? Kebanyakan orang tua kristen hanya beri anak-anak mereka HP supaya mereka tidak merepotkan!

 

b)         Daniel termasuk dalam kelompok orang dalam pembuangan pertama ini.

 

Tetapi, Daniel yang saleh ini justru termasuk dalam orang-orang yang masuk ke dalam pembuangan pertama ke Babilonia!

 

Calvin: “I assume, then, that Daniel was among the first fruits of the captivity; and this is an instance of God’s judgments being so incomprehensible by us. For had there been any integrity in the whole people, surely Daniel was a remarkable example of it for Ezekiel includes him among the three just men by whom most probably God would be appeased. (Ezekiel 14:14.) Such, then, was the excellence of Daniel’s virtues, that he was like a celestial angel among mortals; and yet he was led into exile, and lived as the slave of the king of Babylon. Others, again, who had provoked God’s wrath in so many ways, remained quiet in their nests: the Lord did not deprive them of their country and of that inheritance which was a sign and pledge of their adoption.” [= Jadi saya menganggap bahwa Daniel ada di antara buah-buah pertama dari pembuangan; dan ini merupakan salah satu contoh dari penghakiman Allah yang begitu tidak bisa kita mengerti. Karena kalau di sana ada kelurusan / integritas apapun dalam seluruh bangsa itu, pasti Daniel adalah suatu contoh yang menyolok darinya karena Yehezkiel mencakup dia di antara tiga orang benar oleh siapa Allah paling memungkinkan ditenangkan / diredakan kemarahanNya (Yeh 14:14). Jadi demikianlah keunggulan dari kebaikan Daniel, sehingga ia seperti seorang malaikat surgawi di antara orang-orang yang fana; tetapi ia dibawa ke dalam pembuangan, dan hidup sebagai budak dari raja Babilonia. Sebaliknya, orang-orang lain yang telah memprovokasi murka Allah dengan begitu banyak cara, tinggal tenang di sarang / rumah mereka: Tuhan tidak menyingkirkan mereka dari negara mereka dan dari warisan itu, yang merupakan suatu tanda dan jaminan dari pengadopsian mereka.] - hal 85.

 

Yeh 14:13-14,19-20 - “(13) ‘Hai anak manusia, kalau sesuatu negeri berdosa kepadaKu dengan berobah setia dan Aku mengacungkan tanganKu melawannya dengan memusnahkan persediaan makanannya dan mendatangkan kelaparan atasnya dan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, (14) biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel dan Ayub, mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH. (15) Atau jikalau Aku membuat binatang buas berkeliaran di negeri itu, yang memunahkan penduduknya, sehingga negeri itu menjadi sunyi sepi, dan tidak seorangpun berani melintasinya karena binatang buas itu, (16) dan biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang tadi, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak-anak lelaki maupun anak-anak perempuan; hanya mereka sendiri akan diselamatkan, tetapi negeri itu akan menjadi sunyi sepi. (17) Atau jikalau Aku membawa pedang atas negeri itu dan Aku berfirman: Hai pedang, jelajahilah negeri itu!, dan Aku melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, (18) dan biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang tadi, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak-anak lelaki maupun anak-anak perempuan, tetapi hanya mereka sendiri akan diselamatkan. (19) Atau jikalau Aku mendatangkan sampar atas negeri itu dan Aku mencurahkan amarahKu atasnya sehingga darah mengalir dengan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, (20) dan biarpun Nuh, Daniel dan Ayub berada di tengah-tengahnya, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak laki-laki maupun anak perempuan, melainkan mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka.”.

 

Calvin: Hence, let us learn to admire God’s judgments, which surpass all our perceptions; ... As I have already said, there was an angelic holiness in Daniel, although so ignominiously exiled and brought up among the kings eunuchs. When this happened to so holy a man, who from his childhood was entirely devoted to piety, how great is God’s indulgence in sparing us? What have we deserved? Which of us will dare to compare himself with Daniel? Nay, we are unworthy, according to the ancient proverb, to loosen the tie of his shoes. [= Jadi, marilah kita mempelajari untuk mengagumi penghakiman Allah, yang melampaui semua pengertian kita; ... Seperti yang telah saya katakan, di sana ada kekudusan yang menyerupai malaikat dalam diri Daniel, sekalipun dibuang dengan begitu memalukan dan dibesarkan / dinaikkan di antara sida-sida raja. Pada waktu ini terjadi kepada seorang yang begitu kudus, yang dari masa kanak-kanak sepenuhnya dibaktikan pada kesalehan, betapa besar toleransi Allah dalam menahan / menyimpan kita? Apa yang layak kita dapatkan? Yang mana dari kita berani untuk membandingkan dirinya sendiri dengan Daniel? Tidak, kita tidak layak, sesuai dengan pepatah kuno, untuk melepaskan ikatan sepatunya.] - hal 85.

 

The Bible Exposition Commentary: A dedicated remnant (Dan 1:3-4a). Even a cursory reading of the Old Testament reveals that the majority of God’s people have not always followed the Lord and kept His commandments. It has always been the ‘faithful remnant’ within the Jewish nation that has come through the trials and judgments to maintain the divine covenant and make a new beginning. The Prophet Isaiah named one of his sons ‘Shear-jashub,’ which means ‘a remnant shall return’ (Isa 7:3). The same principle applies to the church today, for not everybody who professes faith in Jesus Christ is truly a child of God (Matt 7:21-23). In His messages to the seven churches of Asia Minor, our Lord always had a special word for ‘the overcomers,’ the faithful remnant in each congregation who sought to obey the Lord (Rev 2:7,11,17,24-28; 3:4-5,12,21). Daniel and his three friends were a part of the faithful Jewish remnant in Babylon, placed there by the Lord to accomplish His purposes.[= Suatu sisa yang berdedikasi (Dan 1:3-4a). Bahkan suatu pembacaan secara cepat dari Perjanjian Lama menyatakan bahwa mayoritas dari umat Allah tidak selalu mengikuti Tuhan dan mentaati hukum-hukum / perintah-perintahNya. Selalu ada ‘sisa yang setia’ di dalam bangsa Yahudi yang telah datang melalui ujian-ujian dan penghakiman-penghakiman untuk memelihara perjanjian ilahi dan membuat suatu permulaan yang baru. Nabi Yesaya menamakan salah satu anak-anak laki-lakinya ‘SYEAR-YASYUB’, yang berarti ‘suatu sisa akan kembali’ (Yes 7:3). Prinsip yang sama berlaku pada gereja zaman sekarang, karena tidak setiap orang yang mengaku beriman kepada Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh seorang anak Allah (Mat 7:21-23). Dalam pesan-pesanNya kepada 7 gereja-gereja di Asia Kecil, Tuhan kita selalu mempunyai suatu firman khusus bagi ‘para pemenang’, sisa yang setia dalam setiap jemaat yang berusaha untuk mentaati Tuhan (Wah 2:7,11,17,24-28; 3:4-5,12,21). Daniel dan 3 sahabatnya merupakan sebagian dari sisa Yahudi yang setia di Babilonia, ditempatkan di sana oleh Tuhan untuk mencapai tujuan-tujuan / rencana-rencanaNya.].

 

Pulpit Commentary: “Jehoiakim had been professedly a king, but was, in truth, a slave. Daniel and his companions, though led into exile as captives, had within them kingly qualities, which could not be degraded by strangers.” [= Yoyakim telah dinyatakan sebagai seorang raja, tetapi dalam faktanya ia adalah seorang hamba / budak. Daniel dan kawan-kawannya, sekalipun dibawa ke dalam pembuangan sebagai tawanan / orang-orang buangan, mempunyai di dalam diri mereka kwalitas dari seorang raja, yang tidak bisa direndahkan oleh orang-orang asing.].

 

3)   Daniel dan kawan-kawannya harus dilatih / diajar untuk bisa bekerja pada raja.

 

Ay 3-5: “(3) Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, (4) yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. (5) Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.”.

Catatan: ‘pelabur’ = ‘makanan’ (KBBI).

 

a)         Nebukadnezar adalah seorang raja yang maju pikirannya.

Dia bukan orang yang fanatik dalam urusan agamanya, kebangsaannya dan sebagainya. Ia mau menggunakan orang-orang yang memang berkwalitas, sekalipun orang itu mempunyai agama dan kebangsaan yang berbeda dengannya.

 

Bandingkan dengan kasus Ahok di Indonesia. Kalau saudara adalah seorang pendeta, yang ingin mencari orang-orang untuk melayani Tuhan dalam gereja saudara, jangan tiru kasus Ahok. Tirulah Nebukadnezar!!

 

The Biblical Illustrator: He desired to gain the advantage of outside talent; the long siege had taught him the stubbornness, gifts, and availability of the Jewish character.[= Ia ingin untuk mendapatkan keuntungan dari talenta / bakat dari luar; pengepungan yang lama telah mengajar dia sikap keras kepala, karunia-karunia dan keadaan memenuhi syarat dari karakter Yahudi.].

 

Pulpit Commentary: “1. It was a policy characterized by far-seeing wisdom. Already the Chaldeans had risen out of a state of barbarism, and had begun to appreciate knowledge and intellectual skill. They had learnt to observe with accuracy the motions of the stars. They had attained to considerable skill in architecture and sculpture. They knew something of the science of government. The king was a foremost man in the march of intellect. He knew that, in many respects, the Hebrews excelled his own countrymen. In agriculture, in instrumental music, in historical composition, especially in possessing the gift of prophecy, the Hebrews held the palm. Conscious that the triumphs of peaceful science were nobler and more enduring than martial victories, Nebuchadnezzar sought to strengthen and embellish his reign with all the learning and talent which he could secure.” [= 1. Itu merupakan suatu politik yang bercirikan hikmat yang melihat jauh ke depan. Orang-orang / bangsa Kasdim telah keluar / bangkit dari suatu keadaan keterbelakangan / kebodohan, dan telah mulai menghargai pengetahuan dan keahlian intelektual. Mereka telah belajar untuk mengamati / mempelajari dengan akurat pergerakan dari bintang-bintang. Mereka telah mencapai keahlian yang besar dalam arsitek dan pemahatan. Mereka tahu sesuatu tentang ilmu pemerintahan. Rajanya adalah seorang yang melebihi orang-orang lain dalam barisan orang-orang intelek. Ia tahu bahwa, dalam banyak hal, orang-orang Ibrani melampaui orang-orang sebangsanya. Dalam pertanian, dalam musik instrumen, dalam penyusunan sejarah, dan khususnya dalam kepemilikan dari karunia nubuat, orang-orang Ibrani menguasainya. Sadar bahwa kemenangan-kemenangan dari ilmu pengetahuan yang bersifat damai adalah lebih mulia dan lebih bertahan dari pada kemenangan-kemenangan yang bersifat peperangan, Nebukadnezar berusaha untuk memperkuat dan memperindah pemerintahannya dengan semua pembelajaran dan talenta / bakat yang bisa ia dapatkan.].

 

b)   Orang yang diserahi tugas untuk mengajar Daniel dan kawan-kawannya adalah Aspenas, kepala istana Nebukadnezar (ay 3).

Ay 3: Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan,.

KJV: the master of his eunuchs [= pimpinan dari sida-sidanya].

RSV: his chief eunuch [= kepala sida-sida].

NIV: chief of his court officials [= kepala dari pejabat-pejabat istananya].

NASB: the chief of his officials [= kepala dari pejabat-pejabatnya].

 

Terjemahan ‘sida-sida’ dalam KJV/RSV ini menyebabkan ada orang-orang yang beranggapan bahwa Daniel dan kawan-kawannya juga menjadi sida-sida (dikebiri). Tetapi sebetulnya tidak ada keharusan menafsirkan / menterjemahkan seperti ini.

 

Keil & Delitzsch: סָרִיס (SARIS) frequently, with a departure from its fundamental meaning, designates only a courtier, chamberlain, attendant on the king, as in Gen. 37:36.[= SARIS sering kali, dengan suatu penyimpangan dari arti utamanya, hanya berarti / menunjukkan seorang pegawai istana, pejabat istana, pelayan raja, seperti dalam Kej 37:36.].

 

Kej 37:36 - “Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja.”.

KJV: “And the Midianites sold him into Egypt unto Potiphar, an officer of Pharaoh's, and captain of the guard.” [= Dan orang-orang Midian menjual dia ke Mesir kepada Potifar, seorang pejabat dari Firaun dan kapten / komandan dari penjaga.].

 

Kata ‘officer’ / ‘pegawai istana’ dalam Kej 37:36 ini menggunakan kata Ibrani yang sama, yaitu SARIS. Dalam ayat ini kata ini menunjuk kepada Potifar, yang jelas-jelas bukan seorang sida-sida, karena ia mempunyai istri.

 

The Bible Exposition Commentary: Because Ashpenaz is called ‘master of the eunuchs,’ some have concluded that the four Jewish boys were made eunuchs: but that is probably an erroneous conclusion. Originally, the term ‘eunuch’ (Heb., ‎saris‎) referred to a servant who had been castrated so he could serve the royal harem; but the title gradually came to be applied to any important court official. The word is applied to Potiphar and he was married (Gen 37:36). The Jewish law forbade castration (Deut 23:1), so it’s difficult to believe that these four faithful Hebrew men who resisted Babylonian customs in every other way would have submitted to it.[= Karena Aspenas disebut ‘tuan dari sida-sida’, sebagian / beberapa orang telah menyimpulkan bahwa keempat anak-anak laki-laki Yahudi itu dijadikan sida-sida: tetapi itu mungkin merupakan suatu kesimpulan yang salah. Mula-mula istilah ‘sida-sida’ (Ibrani: SARIS) menunjuk kepada seorang pelayan yang telah dikebiri sehingga ia bisa melayani harem raja; tetapi gelar itu secara bertahap diterapkan kepada pejabat penting manapun dari istana. Kata itu diterapkan kepada Potifar dan ia menikah (Kej 37:36). Hukum Taurat Yahudi melarang pengebirian (Ul 23:1), sehingga sukar untuk percaya bahwa keempat anak laki-laki Ibrani, yang setia yang menentang tradisi / kebiasaan Babilonia dalam setiap cara yang lain, mau tunduk kepadanya.].

 

Ul 23:1 - ‘Orang yang hancur buah pelirnya atau yang terpotong kemaluannya, janganlah masuk jemaah TUHAN..

 

c)         Daniel dan kawan-kawannya adalah orang-orang yang sangat pintar.

 

The Bible Exposition Commentary: These young men were superior in every way, ‘the brightest and the best,’ prepared by God for a strategic ministry far from home. They were handsome, healthy, intelligent, and talented. They belonged to the tribe of Judah (Dan 1:6) and were of royal birth (v. 3). In every sense, they were the very best the Jews had to offer. [= Orang-orang muda ini superior dalam segala hal, ‘yang paling gemilang dan terbaik’, dipersiapkan oleh Allah untuk suatu pelayanan strategis jauh dari rumah. Mereka tampan, sehat, pandai dan berbakat. Mereka termasuk dalam suku Yehuda (Dan 1:6) dan dilahirkan dalam keluarga kerajaan (ay 3). Dalam semua arti, mereka adalah yang terbaik yang orang-orang Yahudi bisa tawarkan.].

 

Jadi, dari fakta dalam kitab Daniel ini dimana Tuhan memakai 4 orang ini, menunjukkan bahwa Tuhan tidak selalu memilih orang bodoh!

 

Bdk. 1Kor 1:25-29 - “(25) Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. (26) Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. (27) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, (28) dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, (29) supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah..

 

Kis 4:13 - Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus..

 

Hati-hati dengan ayat-ayat di atas ini, karena kita juga harus melihat Tuhan memakai Paulus, yang jelas adalah orang yang pandai dan terpelajar. Dan juga Daniel dan kawan-kawan adalah orang-orang terbaik yang bisa didapatkan. Dan Tuhan memakai mereka!

 

Barnes’ Notes: ‘And cunning in knowledge.’ ... It is always used in a good sense, meaning intelligent, skillful, experienced, well-instructed. Compare Gen 25:27; Ex 26:1; 28:15; 38:23; 1 Sam 16:16; 1 Chron 25:7; Ps 137:5; Isa 3:3.[= ‘Dan pandai dalam pengetahuan’. ... Itu selalu digunakan dalam suatu arti yang baik, berarti pandai, ahli, berpengalaman, diajar dengan baik. Bandingkan dengan Kej 25:27; Kel 26:1; 28:15; 38:23; 1Sam 16:16; 1Taw 25:7; Maz 137:5; Yes 3:3.].

 

d)         Sebelum mereka bekerja pada raja mereka harus diajar dulu.

Ay 3-5: “(3) Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, (4) yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. (5) Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.”.

 

Mereka sudah adalah orang pandai dan punya banyak pengetahuan (ay 4a), tetapi raja memerintahkan mereka untuk diajar lagi, sebelum mereka bisa bekerja pada raja (ay 4b-5).

 

Tetapi anehnya orang yang mau bekerja / melayani Raja di atas segala raja, banyak yang tidak pernah belajar!!! Dalam kenyataannya, dalam dunia kristen, ada banyak orang bodoh / tak terpelajar yang tidak mau belajar, tetapi mau melayani Tuhan!  Bahkan belajar bahasa Inggrispun mereka tidak mau. Orang-orang seperti ini sering menggunakan rasul-rasul yang bukan orang terpelajar, tetapi toh bisa dipakai oleh Tuhan. Tetapi, ada beberapa perbedaan yang penting antara rasul-rasul yang adalah orang-orang yang tidak terpelajar, dengan orang-orang zaman sekarang yang tidak mau belajar itu.

 

1.   Rasul-rasul itu hidup di Palestina pada zaman itu, sehingga mereka mengerti / tahu tentang kebudayaan / kebiasaan orang-orang di sana pada zaman Alkitab, sedangkan kita tidak.

 

2.   Rasul-rasul itu, sebagai orang-orang Yahudi, diajar firman Tuhan (Perjanjian Lama) dari kecil, sehingga mereka punya pengetahuan yang sangat berbeda dengan kita pada zaman sekarang.

 

3.   Rasul-rasul itu mengerti bahasa asli Alkitab, karena itu mereka gunakan sehari-hari, sedangkan kita tidak.

 

4.   Rasul-rasul itu ikut Yesus selama 3,5 tahun, dan melihat sendiri kesucian hidup Yesus, mujizat-mujizat Yesus, dan mendapat pengajaran langsung dari Yesus sendiri. Ini lebih hebat dari sekolah theologia manapun.

 

Selain itu, perhatikan komentar Calvin berkenaan dengan Yesus yang memilih orang-orang bodoh / tak terpelajar sebagai rasul-rasul.

 

Calvin (tentang Luk 5:10): “When our Lord chose persons of this description it was not because he preferred ignorance to learning: as some fanatics do, who are delighted with their ignorance, and fancy that, in proportion as they hate literature, they approach the nearer to the apostles.” [= Pada waktu Tuhan kita memilih orang-orang seperti ini, itu bukanlah karena Ia lebih senang orang bodoh dari pada yang terpelajar, seperti beberapa orang fanatik, yang senang dengan kebodohan mereka, dan berkhayal bahwa makin mereka membenci literatur makin mereka mirip dengan rasul-rasul.].

 

Calvin (tentang Luk 5:10): Again, though he chose unlearned and ignorant persons, he did not leave them in that condition; and, therefore, what he did ought not to be held by us to be an example, as if we were now to ordain pastors, who were afterwards to be trained to the discharge of their office. [= Selanjutnya / lebih lagi, sekalipun Ia memilih orang-orang yang tidak terpelajar dan bodoh, Ia tidak membiarkan mereka dalam keadaan itu; dan karena itu, apa yang Ia lakukan tidak boleh kita pegang sebagai suatu teladan, seakan-akan sekarang kita harus mentahbiskan pendeta-pendeta, yang belakangan akan dilatih untuk melaksanakan tugas mereka.].

 

Jadi, tidak masalah dengan orang-orang yang bodoh / tak terpelajar, asal mereka mau belajar, maka Tuhan tetap bisa memakai mereka. Maukah saudara sungguh-sungguh melayani Tuhan? Dan apakah kemauan itu saudara buktikan dengan juga mau belajar dengan sungguh-sungguh?

 

Saya akhiri khotbah ini dengan 2 buah kutipan.

 

John Stott: “‘None will ever be a good minister of the Word of God unless he is first of all a scholar.’ (Calvin). Spurgeon had the same conviction. ‘He who has ceased to learn has ceased to teach. He who no longer sows in the study will no more reap in the pulpit.’” [= ‘Tak seorangpun akan pernah menjadi seorang pelayan Firman Allah yang baik kecuali ia pertama-tama menjadi seorang murid / pelajar’. (Calvin). Spurgeon mempunyai keyakinan yang sama. ‘Ia yang telah berhenti untuk belajar telah berhenti untuk mengajar. Ia yang tidak lagi menabur dalam belajar tidak lagi akan menuai di mimbar’.] - ‘Between Two Worlds’, hal 180.

 

The Biblical Illustrator (tentang 2Pet 1:15): “They are dangerous teachers, that never were learners. While they will not be scholars of truth, they become masters of error.” [= Mereka adalah guru-guru / pengajar-pengajar yang berbahaya, yang tidak pernah menjadi pelajar-pelajar. Pada waktu mereka tidak mau menjadi pelajar-pelajar dari kebenaran, mereka menjadi guru-guru / sarjana-sarjana dari kesalahan.].

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali