(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 28 Juni 2020, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Dan 1:1-21 - “(1) Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. (2) Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya. (3) Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, (4) yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. (5) Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja. (6) Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. (7) Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego. (8) Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (9) Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; (10) tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: ‘Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.’ (11) Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: (12) ‘Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; (13) sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.’ (14) Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. (15) Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. (16) Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka. (17) Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. (18) Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja, bahwa mereka sekalian harus dibawa menghadap, maka dibawalah mereka oleh pemimpin pegawai istana itu ke hadapan Nebukadnezar. (19) Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja. (20) Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya. (21) Daniel ada di sana sampai tahun pertama pemerintahan Koresh.”.
Pendahuluan.
1) Penulis kitab ini adalah Daniel.
Gleason Archer, Jr.: “Despite the numerous objections which have been advanced by scholars who regard this as a prophecy written after the event, there is no good reason for denying the sixth-century Daniel the composition of the entire work.” [= Sekalipun ada banyak keberatan-keberatan yang diajukan oleh sarjana-sarjana yang menganggap ini sebagai suatu nubuat yang ditulis setelah peristiwa itu, tidak ada alasan yang baik untuk menyangkal Daniel dari abad ke enam (S. M.) sebagai pencipta / penyusun dari seluruh pekerjaan itu.] - ‘A Survey of Old Testament Introduction’, hal 423 (Libronix).
Gleason Archer, Jr.: “First of all, we have the clear testimony of the Lord Jesus Himself in the Olivet discourse. In Matt. 24:15, He refers to ‘the abomination of desolation, spoken of through (dia) Daniel the prophet.’ The phrase ‘abomination of desolation’ occurs three times in Daniel (9:27; 11:31; 12:11). If these words of Christ are reliably reported, we can only conclude that He believed the historic Daniel to be the personal author of the prophecies containing this phrase.” [= Pertama-tama dari semua, kita mempunyai kesaksian yang jelas dari Tuhan Yesus sendiri dalam pembicaraan di Bukit Zaitun. Dalam Mat 24:15, Ia merujuk pada ‘Penghancur yang menjijikkan, dibicarakan melalui (Yunani: DIA) nabi Daniel’. Ungkapan ‘Penghancur yang menjijikkan’ muncul 3 x dalam kitab Daniel (9:27; 11:31; 12:11). Jika kata-kata Kristus ini diceritakan secara bisa dipercaya, kita hanya bisa menyimpulkan bahwa Ia percaya Daniel yang bersifat sejarah sebagai pengarang pribadi dari nubuat-nubuat yang mengandung ungkapan ini.] - ‘A Survey of Old Testament Introduction’, hal 444 (Libronix).
Mat 24:15 - “‘Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel - para pembaca hendaklah memperhatikannya -”.
KJV: ‘the abomination of desolation’.
Dan 9:27 - “Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu.’”.
KJV: ‘and for the overspreading of abominations he shall make it desolate’.
Dan 11:31 - “Tentaranya akan muncul, mereka akan menajiskan tempat kudus, benteng itu, menghapuskan korban sehari-hari dan menegakkan kekejian yang membinasakan.”.
KJV/NASB: ‘the abomination that maketh desolate’.
Dan 12:11 - “Sejak dihentikan korban sehari-hari dan ditegakkan dewa-dewa kekejian yang membinasakan itu ada seribu dua ratus dan sembilan puluh hari.”.
KJV/NASB: ‘and the abomination that maketh desolate set up’.
Wikipedia: “‘Abomination of desolation’ is a phrase in the Book of Daniel, with ‘abomination’ describing the pagan offerings that replaced the twice-daily offering to Yahweh in the Jewish temple in the time of the Greek king Antiochus IV, or the altar on which such offerings were made, and ‘makes desolate’ (or ‘of desolation’) probably a reference to Antiochus himself as the bringer of desolation (horror) to Jerusalem.” [= ‘Abomination of desolation’ adalah suatu ungkapan dalam kitab Daniel, dengan ‘abomination’ menggambarkan korban-korban persembahan kafir yang menggantikan korban persembahan dua kali sehari kepada YAHWEH dalam Bait Suci Yahudi pada zaman dari raja Yunani Antiochus IV, atau mezbah pada mana korban-korban persembahan itu dibuat, dan ‘makes desolation’ (atau ‘of desolation’) mungkin merupakan suatu referensi kepada Antiochus sendiri sebagai pembawa dari desolation (horror) bagi Yerusalem.] - https://en.wikipedia.org/wiki/Abomination_of_desolation
Kalau dilihat dalam kamus (The Free Dictionary) maka:
a) ‘Abomination’ bisa berarti ‘kejijikan’, atau ‘penyebab kejijikan’ atau ‘seseorang / sesuatu yang menjijikkan’, atau ‘tindakan yang jahat’.
b) ‘Desolation’ bisa berarti ‘tindakan meninggalkan’ atau ‘keadaan ditinggalkan’ atau ‘kehancuran’.
c) ‘Horror’ bisa berarti ‘rasa takut’, ‘keadaan yang menakutkan’, atau ‘kejijikan’.
Barnes’ Notes: “Daniel, supposed commonly to be the same person as the author of this book, is twice mentioned by Ezekiel, once as deserving to be ranked with Noah and Job, and once as eminent for wisdom.” [= Daniel, yang pada umumnya dianggap sebagai orang yang sama dengan pengarang dari kitab ini, disebutkan dua kali oleh Yehezkiel, satu kali sebagai layak untuk disetingkatkan dengan Nuh dan Ayub, dan satu kali sebagai orang yang menonjol dalam hikmat.] - hal 1.
Catatan: sebetulnya 3 x, dan 2 x disetingkatkan dengan Nuh dan Ayub.
Yeh 14:13-14 - “(13) ‘Hai anak manusia, kalau sesuatu negeri berdosa kepadaKu dengan berobah setia dan Aku mengacungkan tanganKu melawannya dengan memusnahkan persediaan makanannya dan mendatangkan kelaparan atasnya dan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, (14) biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel dan Ayub, mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH.”.
Yeh 14:19-20 - “(19) Atau jikalau Aku mendatangkan sampar atas negeri itu dan Aku mencurahkan amarahKu atasnya sehingga darah mengalir dengan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang, (20) dan biarpun Nuh, Daniel dan Ayub berada di tengah-tengahnya, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak laki-laki maupun anak perempuan, melainkan mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka.”.
Yeh 28:3 - “Memang hikmatmu melebihi hikmat Daniel; tiada rahasia yang terlindung bagimu.”.
Gleason Archer, Jr. mengatakan nama Daniel berarti ‘God is judge’ [= Allah adalah hakim], atau ‘God is my judge’ [= Allah adalah hakimku].
Bdk. Kej 30:6 - “Berkatalah Rahel: ‘Allah telah memberikan keadilan kepadaku, juga telah didengarkanNya permohonanku dan diberikanNya kepadaku seorang anak laki-laki.’ Itulah sebabnya ia menamai anak itu Dan.”.
KJV: “God hath judged me” [= Allah telah menghakimi aku].
Kata / nama ‘Dan’ di sini artinya ‘judge’ [= hakim].
2) Saat penulisan kitab Daniel.
Gleason Archer, Jr.: “This represents a collection of his memoirs made at the end of a long and eventful career which included government service from the reign of Nebuchadnezzar in the 590s to the reign of Cyrus the Great in the 530s. The appearance of Persian technical terms indicates a final recension of these memoirs at a time when Persian terminology had already infiltrated into the vocabulary of Aramaic. The most likely date for the final edition of the book, therefore, would be about 530 b.c., nine years after the Persian conquest of Babylon.” [= Ini mewakili suatu kumpulan dari laporan-laporannya yang dibuat pada akhir dari suatu karir yang panjang dan penting yang mencakup pelayanan pemerintahan dari pemerintahan Nebukadnezar pada tahun 590an sampai pada pemerintahan Koresh yang Agung pada tahun 530an. Munculnya istilah-istilah tehnis Persia menunjukkan suatu revisi akhir dari laporan-laporan ini pada suatu waktu dimana terminologi Persia telah masuk ke dalam perbendaharaan kata dari bahasa Aramaik. Karena itu, saat yang paling memungkinkan untuk edisi terakhir dari kitab ini, adalah sekitar 530an S. M., 9 tahun setelah Persia mengalahkan Babilonia.] - ‘A Survey of Old Testament Introduction’, hal 423 (Libronix).
3) Isi kitab Daniel.
Matthew Henry: “II. Concerning this book. The first six chapters of it are historical, and are plain and easy; the last six are prophetical, and in them are many things dark, and hard to be understood, which yet would be more intelligible if we had a more complete history of the nations, and especially the Jewish nation, from Daniel’s time to the coming of the Messiah.” [= II. Berkenaan dengan kitab ini. Enam pasal yang pertama darinya bersifat sejarah, dan adalah jelas dan mudah; enam pasal yang terakhir adalah bersifat nubuatan, dan di dalam mereka ada banyak hal-hal yang gelap, dan sukar untuk dimengerti, dan akan lebih mudah dimengerti seandainya kita mempunyai suatu sejarah yang lengkap dari bangsa-bangsa itu, dan khususnya bangsa Yahudi, dari zaman Daniel sampai pada kedatangan dari sang Mesias.].
Barnes’ Notes: “The Book of Daniel is not properly a history either of the Jews or Babylonians, nor is it a biography of the writer himself. It is not continuous in its structure, nor does it appear to have been written at one time. Though the work, as we have seen, of one author, it is made up of portions, written evidently on different occasions, in two different languages, and having, to a considerable extent, different objects in view.” [= Kitab Daniel bukanlah suatu sejarah atau dari bangsa Yahudi atau dari bangsa Babilonia, juga itu bukanlah suatu biography dari sang penulis sendiri. Strukturnya tidaklah terus menerus / tanpa terputus-putus, juga itu tak kelihatan sebagai ditulis pada satu saat. Sekalipun pekerjaan itu, seperti telah kita lihat, merupakan hasil dari satu pengarang, itu dibentuk dari bagian-bagian yang jelas ditulis pada peristiwa-peristiwa yang berbeda, dalam dua bahasa yang berbeda, dan mempunyai tujuan-tujuan yang berbeda sampai tingkat yang besar / signifikan.] - hal 69.
Barnes’ Notes: “The book is not regular in its structure, but consists of an intermixture of history and prophecy, apparently composed as occasion demanded, and then united in a single volume. Yet it has a unity of authorship and design, as we have seen, and is evidently the production of a single individual.” [= Kitab ini tidak biasa dalam strukturnya, tetapi terdiri dari suatu campuran dari sejarah dan nubuat, kelihatannya disusun karena tuntutan keadaan, dan lalu dipersatukan dalam suatu volume tunggal. Tetapi kitab itu mempunyai suatu kesatuan pengarang dan rancangan, seperti telah kita lihat, dan pasti merupakan hasil dari seorang individu tunggal.] - hal 70.
Barnes’ Notes: “Though the author was a Jewish exile, and surrounded by his own countrymen as exiles, yet there is almost no reference to the past history of these people, or to the causes of their having been carried into captivity, and no description of their condition, struggles, and sufferings in their exile; and though written by one who resided through the greatest part of a very long life in a land of strangers, and having every opportunity of obtaining information, there is no distinct reference to their history, and no description of their manners and customs.” [= Sekalipun sang pengarang adalah seorang Yahudi dalam pembuangan, dan dikelilingi oleh orang-orang dari negaranya sendiri yang ada dalam pembuangan, tetapi di sana hampir tidak ada referensi pada sejarah masa lalu dari orang-orang / bangsa ini, atau pada penyebab dari dibawanya mereka pada pembuangan; dan sekalipun ditulis oleh orang yang tinggal selama bagian yang terbesar dari suatu kehidupan yang sangat lama di suatu negara dari orang-orang asing, dan mempunyai setiap kesempatan untuk mendapatkan informasi, di sana tidak ada referensi yang jelas pada sejarah mereka, dan tidak ada penggambaran tentang kebiasaan dan tradisi mereka.] - hal 69.
Barnes’ Notes: “And although his own career while there was eventful, yet the allusions to himself are very few; and of the largest portion of that long life in Babylon - probably embracing more than seventy years - we have no information whatever. In the book there are few or no allusions to the condition of the exiles there; but two of the native kings that reigned there during that long period are even mentioned; one of those - Nebuchadnezzar - only when Daniel interpreted two of his dreams, and when the colossal idol was set up on the plain of Dura; and the other - Belshazzar - only on the last day of his life.” [= Dan sekalipun karirnya sendiri pada waktu di sana adalah penting, tetapi referensi tidak langsung tentang dirinya sendiri sangat sedikit; dan dari bagian terbesar dari kehidupan yang lama di Babilonia - mungkin mencakup lebih dari 70 tahun - kita tidak mempunyai informasi apapun. Dalam kitab itu hanya sedikit atau tak ada referensi tidak langsung tentang keadaan dari orang-orang dalam pembuangan di sana; tetapi dua dari raja-raja bangsa asli yang memerintah di sana selama jangka waktu yang lama itu bahkan disebutkan; satu dari mereka - Nebukadnezar - hanya pada waktu Daniel menafsirkan dua dari mimpi-mimpinya, dan pada waktu patung berhala yang sangat besar dibangun / ditegakkan di dataran Dura; dan yang lain - Belsyashar - hanya pada hari terakhir dari hidupnya.] - hal 69-70.
Matthew Henry: “The fables of Susannah, and of Bel and the Dragon, in both which Daniel is made a party, are apocryphal stories, which we think we have no reason to give any credit to, they being never found in the Hebrew or Chaldee, but only in the Greek, nor ever admitted by the Jewish church.” [= Dongeng / dusta tentang Susana, dan tentang Bel dan sang Naga, dalam mana Daniel dibuat suatu kelompok, adalah cerita-cerita Apokripha, yang kami pikir kami tak punya alasan untuk memberi pengakuan / kepercayaan apapun kepadanya, karena mereka tidak pernah ditemukan dalam bahasa Ibrani atau bahasa Aramaik, tetapi hanya dalam bahasa Yunani, juga tidak pernah diterima oleh gereja Yahudi.].
Catatan: ini ada dalam Alkitab Katolik.
4) Bahasa dan gaya dari kitab Daniel.
Matthew Henry: “The first chapter, and the first three verses of the second chapter, are in Hebrew; thence to the eighth chapter is in the Chaldee dialect; and thence to the end is in Hebrew. Mr. Broughton observes that, as the Chaldeans were kind to Daniel, and gave cups of cold water to him when he requested it, rather than the king’s wine, God would not have them lose their reward, but made that language which they taught him to have honour in his writings through all the world, unto this day.” [= Pasal pertama, dan tiga ayat pertama dari pasal kedua, ada dalam bahasa Ibrani; dari sana sampai pasal kedelapan ada dalam dialek Aramaik; dan dari sana sampai akhir ada dalam bahasa Ibrani. Mr. Broughton memperhatikan / mengatakan bahwa, karena orang-orang Kasdim baik kepada Daniel, dan memberi cawan-cawan air dingin kepadanya pada waktu ia memintanya, dan bukannya anggur sang raja, Allah tidak mau mereka kehilangan pahala mereka, tetapi membuat bahasa itu yang mereka ajarkan kepadanya mendapat kehormatan dalam tulisan-tulisannya di seluruh dunia, sampai pada hari ini.].
Catatan: saya tidak yakin bahwa bagian terakhir ini merupakan tafsiran yang benar, tetapi kata-katanya bagus, jadi saya tetap berikan kata-kata Matthew Henry ini di sini.
Bdk. Mat 10:40-42 - “(40) Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. (41) Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. (42) Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.’”.
Barnes’ Notes: “III. The language and style of the book. (1) The language of the book of Daniel is nearly half Chaldee and half Hebrew. In Dan 1; 2:1-3, it is Hebrew; from Dan 2:4, to the end of Dan 7, it is Chaldee; and the remainder of the book is Hebrew. The book of Ezra also contains several chapters of Chaldee, exhibiting the same characteristics as the part of the book of Daniel written in that language.” [= III. Bahasa dan gaya dari kitab ini. (1) Bahasa dari kitab Daniel adalah setengah Aramaik dan setengah Ibrani. Dalam Dan 1; 2:1-3, bahasanya Ibrani; dari Dan 2:4 sampai akhir dari Dan 7, bahasanya Aramaik; dan sisa dari kitab itu ada dalam bahasa Ibrani. Kitab Ezra juga mengandung beberapa pasal dalam bahasa Aramaik, menunjukkan ciri-ciri yang sama seperti bagian dari kitab Daniel yang ditulis dalam bahasa itu.] - hal 75.
Barnes’ Notes: “That there were reasons why one portion of this book was written in Chaldee, and another in Hebrew, there can be no doubt, but it is now utterly impossible to ascertain what those reasons were. The use of one language or the other seems to be perfectly arbitrary. The portions written in Hebrew have no more relation to the Jews, and would have no more interest to them, than those written in Chaldee; and, on the other hand, the portions written in Chaldee have no special relation to the Chaldeans.” [= Bahwa disana ada alasan-alasan mengapa satu bagian dari kitab ini ditulis dalam bahasa Aramaik, dan yang lain dalam bahasa Ibrani, disana tak ada keraguan, tetapi sekarang adalah sama sekali mustahil untuk memastikan apa alasan-alasan itu. Penggunaan dari satu bahasa atau yang lain kelihatannya sepenuhnya didasarkan hanya pada pemilihan / kesenangan pribadi. Bagian-bagian yang ditulis dalam bahasa Ibrani tidak mempunyai hubungan lebih banyak kepada orang-orang Yahudi, dan tidak mempunyai lebih banyak kepentingan terhadap mereka; dan di sisi lain, bagian-bagian yang ditulis dalam bahasa Aramaik tidak mempunyai hubungan khusus dengan orang-orang Kasdim.] - hal 75.
Barnes’ Notes: “But while the reasons for this change must forever remain a secret, there are two obvious suggestions which have often been made in regard to it, ... as bearing on the question of the authorship of the book. (1) The first is, that this fact accords with the account which we have of the education of the author, as being instructed in both these languages - furnishing thus an undesigned proof of the authenticity of the book; and the other is, that this would not have occurred if the work was a forgery of a later age,” [= Tetapi sekalipun alasan-alasan dari perubahan ini harus tetap menjadi rahasia selama-lamanya, di sana ada dua usul yang jelas yang telah sering dibuat berkenaan dengannya, ... berkenaan dengan pertanyaan tentang siapa pengarang dari kitab ini. (1) Yang pertama adalah, bahwa fakta ini sesuai dengan cerita yang kita punyai tentang pendidikan dari sang pengarang, seperti diajar dalam kedua bahasa ini - dengan demikian menyediakan suatu bukti yang tidak dirancang tentang keotentikan kitab ini; dan yang lain adalah, bahwa ini tidak akan terjadi seandainya pekerjaan itu merupakan suatu pemalsuan dari zaman yang lebih belakangan.] - hal 75-76.
Pulpit Commentary: “To any one who begins reading the Book of Daniel in the original, the fact is soon patent that the reader has to do with two languages. The fourth verse of the second chapter introduces the reader to Aramaic - a language that differs as much from Hebrew as Italian does from French. Further reading reveals the additional fact that the use of Aramaic ceases without warning at the end of the seventh chapter.” [= Bagi setiap orang yang mulai membaca kitab Daniel dalam bahasa asli, faktanya segera jelas bahwa pembaca harus berurusan dengan dua bahasa. Ayat keempat dari pasal kedua memperkenalkan pembaca dengan bahasa Aramaik - suatu bahasa yang berbeda sama banyaknya dari bahasa Ibrani seperti bahasa Italia berbeda dari bahasa Perancis.] - ‘Introduction’, hal vii.
Catatan: setahu saya bahasa Ibrani dan bahasa Aramaik itu mirip sekali, tetapi perbedaannya tetap menyebabkan orang yang hanya tahu bahasa Ibrani dan tidak pernah belajar bahasa Aramaik, tidak mengertinya. Tetapi orang yang bisa bahasa Ibrani akan dengan mudah mempelajari bahasa Aramaik, dan demikian juga sebaliknya.
Bdk. 2Raja 18:26-28 - “(26) Lalu berkatalah Elyakim bin Hilkia, Sebna dan Yoah kepada juru minuman agung: ‘Silakan berbicara dalam bahasa Aram kepada hamba-hambamu ini, sebab kami mengerti; tetapi janganlah berbicara dengan kami dalam bahasa Yehuda sambil didengar oleh rakyat yang ada di atas tembok.’ (27) Tetapi juru minuman agung berkata kepada mereka: ‘Adakah tuanku mengutus aku untuk mengucapkan perkataan-perkataan ini hanya kepada tuanmu dan kepadamu saja? Bukankah juga kepada orang-orang yang duduk di atas tembok, yang memakan tahinya dan meminum air kencingnya bersama-sama dengan kamu?’ (28) Kemudian berdirilah juru minuman agung dan berserulah ia dengan suara nyaring dalam bahasa Yehuda. Ia berkata: ‘Dengarlah perkataan raja agung, raja Asyur!”.
Pulpit Commentary: “(2) Aramaic. The Aramaic portion of Daniel begins with the fourth verse of the second chapter, and continues to the end of the seventh. The dialect of Aramaic, in which this portion has come down to us, is what used to be called Chaldee.” [= (2) Bahasa Aramaik. Bagian Aramaik dari Daniel mulai dari ayat keempat dari pasal yang kedua, dan berlanjut sampai akhir dari pasal ketujuh. Dialek dari Aramaik, dalam mana bagian ini telah turun / sampai kepada kita, adalah yang biasanya disebut Kasdim.] - ‘Introduction’, hal xix.
Pulpit Commentary: “The question as to the Aramaic of Daniel is complicated by the action of copyists in changing, by insensible degrees, the language of a document. Any one copyist might make but little alteration, but generations of them would necessarily make much change. And as the tendency was always to make alterations in one direction, in course of time the difference between the original text and that of some centuries later would of necessity be very considerable.” [= Persoalan / problem berkenaan dengan bahasa Aramaik dari kitab Daniel diperumit oleh tindakan dari para penyalin dalam mengubah, dengan tingkat-tingkat yang sangat kecil, bahasa dari suatu dokumen. Penyalin yang manapun bisa membuat hanya sedikit perubahan, tetapi keturunan-keturunan mereka pasti membuat lebih banyak perubahan. Dan karena kecenderungannya selalu membuat perubahan dalam satu arah, dalam perjalanan waktu perbedaan antara text orisinil / asli dan text dari beberapa abad setelahnya pasti akan menjadi sangat signifikan / besar.] - ‘Introduction’, hal xix.
Pulpit Commentary: “We must glance at the history of the Aramaic tongue among the Jews. The medium of ordinary business alike in Nineveh and Babylon was Aramaic, ... The Jews were resident there for approximately fifty years, among a people who spoke a language differing but slightly from their own. They could learn Aramaic with as great ease and rapidity as Italians pick up French. At the same time, in the bosom of their families, the ancient tongue of Palestine would be spoken. When by the decree of Cyrus they were permitted to return to their own land, the Jews found that many settlers had pressed in upon the territory which they had previously occupied. All these settlers could speak Aramaic, whatever tongue they might use besides, and this would have compelled the Jews also to learn Aramaic. In all likelihood the Aramaizing process had gone on already in the territories of the northern tribes. When the Ninevite monarchs sent in colonists to inhabit the land that had been so laid waste by their campaigns, the only common language these colonists could have would be Aramaic. Moreover, the remnants of the people that were left in the land would also have to learn Aramaic in order to carry on intercourse with these incomers. The tendency to abandon Hebrew would gradually become irresistible; hence we find that the common people required to have the Law interpreted to them. In these circumstances it was but natural that the Hebrew that was still occasionally spoken should be very much Aramaized. But, on the other hand, it is almost necessary to hold that the Aramaic spoken by the Jews had a Hebrew colour given to it.” [= Kita harus melihat sepintas sejarah dari bahasa Aramaik di antara orang-orang Yahudi. Cara komunikasi dari bisnis / kesibukan biasa mirip di Niniwe dan Babilonia yaitu bahasa Aramaik, ... Orang-orang Yahudi tinggal di sana untuk kira-kira 50 tahun, di antara suatu bangsa yang berbicara dalam suatu bahasa yang berbeda sedikit dari bahasa mereka sendiri. Mereka bisa belajar bahasa Aramaik dengan sangat mudah dan cepat seperti orang-orang Italy mempelajari bahasa Perancis. Pada saat yang sama, dalam dada dari keluarga mereka, bahasa kuno dari Palestina digunakan untuk berbicara. Pada waktu oleh dekrit dari Koresh mereka diizinkan untuk kembali ke negara mereka sendiri, orang-orang Yahudi mendapati bahwa banyak orang-orang yang menetap di sana telah mendesak pada daerah yang sebelumnya mereka tempati. Semua orang yang menetap ini bisa berbicara dalam bahasa Aramaik, apapun bahasa yang mereka gunakan selain itu, dan ini memaksa orang-orang Yahudi untuk juga mempelajari bahasa Aramaik. Sangat mungkin proses peng-Aramaik-an ini telah berlangsung di daerah-daerah dari suku-suku Utara. Pada waktu raja-raja Niniwe mengirim kumpulan orang (penjajah) untuk tinggal di negara yang telah menjadi begitu rusak / hancur oleh pertempuran-pertempuran mereka, satu-satunya bahasa yang umum yang dipunyai oleh kumpulan orang ini adalah bahasa Aramaik. Selanjutnya, sisa dari bangsa (Israel) yang ditinggalkan di negara itu juga harus belajar bahasa Aramaik supaya bisa berkomunikasi dengan para pendatang ini. Kecenderungan untuk meninggalkan bahasa Ibrani secara bertahap menjadi tidak bisa ditolak; dan karena itu kita mendapati bahwa orang-orang biasa menuntut supaya hukum Taurat diterjemahkan bagi mereka. Dalam keadaan-keadaan ini adalah wajar bahwa bahasa Ibrani yang kadang-kadang masih digunakan dalam pembicaraan banyak di-Aramaik-kan. Tetapi di sisi lain, hampir pasti harus dipercaya bahwa bahasa Aramaik yang digunakan oleh orang-orang Yahudi mempunyai warna Ibrani yang diberikan kepadanya.] - ‘Introduction’, hal xix-xx.
Pulpit Commentary: “While the modifications which the spoken language underwent were great, to some extent, this would be liable to affect works that were repeatedly copied. The books that, like the Law, the Prophets, and the Psalms, were used in the regular synagogue service, would be protected from any great change by the familiarity of the audience with the words. Daniel was not so protected, hence it would be greatly exposed to modification and interpolation. When we compare the Massoretic text with the translation which has come down to us in the Codex Chisianus, we find extraordinary differences. Not unfrequently have these differences been referred to, and the Septuagint version of Daniel has on account of them been denounced as unfaithful. It seems a somewhat hasty conclusion to come to, that this translation, which in regard to other books is fairly faithful, should in regard to this book and - with the exception of Ezra - this book alone, be so very unfaithful. Like Daniel, Ezra was not regularly read in the synagogue: there was, therefore, the possibility of variation. Do the phenomena before us fit this latter supposition? Were the differences between the Septuagint and the Massoretic due to variations in the text from which the latter ultimately sprang? It so happens that we can prove this by having other versions that date before the fixation of the Massoretic text, and we find that there is precisely the gradual variation exhibited that we might expect. Theodotion’s, which appears to have been a revision of a translation made probably in Asia Minor, is, after the Septuagint, the earliest of these. The object Theodotion avowedly had was to make the Greek agree as nearly as possible with the Hebrew original as he had it. Hence his version may be held as accurately representing the Hebrew text current in his day. His date cannot be fixed with anything like absolute certainty, but it appears to have been about the middle of the second century. The Peshitta is nearly contemporary, but a shade later. Last of all comes the Vulgate in Jerome’s revision. Of these the last is in closest agreement with the Massoretic text, the Peshitta next, Theodotion further removed, though none of them is nearly so wide of the Massoretic as is the Septuagint.” [= Sementara modifikasi-modifikasi yang dialami oleh bahasa yang diucapkan adalah besar, sampai taraf / tingkat tertentu, ini bertanggung jawab untuk mempengaruhi pekerjaan-pekerjaan yang disalin berulang-ulang. Kitab-kitab yang, seperti Taurat, nabi-nabi, dan Mazmur, digunakan dalam kebaktian sinagog yang biasa / tetap, dilindungi dari perubahan besar apapun oleh keakraban dari para pendengar dengan kata-kata itu. Kitab Daniel tidak begitu dilindungi, karena itu kitab itu sangat terbuka terhadap modifikasi dan penyisipan / perubahan. Pada waktu kami membandingkan Text Masoretic dengan terjemahan yang telah sampai kepada kami dalam Codex Chisianus, kami mendapati perbedaan-perbedaan yang menyolok / tidak biasa. Tidak jarang perbedaan-perbedaan ini ditunjukkan / disebutkan, dan karena itu terjemahan Septuaginta dari kitab Daniel dikecam sebagai tidak akurat. Kelihatannya merupakan suatu kesimpulan yang agak tergesa-gesa untuk diambil, bahwa terjemahan ini (Septuaginta), yang berkenaan dengan kitab-kitab lain cukup akurat, berkenaan dengan kitab ini - dengan kitab Ezra sebagai perkecualian - kitab ini saja, adalah begitu sangat tidak akurat. Seperti kitab Daniel, kitab Ezra tidak dibacakan di sinagog secara tetap: karena itu di sana ada kemungkinan perbedaan. Apakah fenomena di depan kita sesuai dengan anggapan yang belakangan ini? Apakah perbedaan-perbedaan antara Septuaginta dan text Masoretik disebabkan oleh variasi-variasi / perbedaan-perbedaan dalam text dari mana yang belakangan ini akhirnya muncul? Kebetulan kami bisa membuktikan ini dengan mempunyai versi-versi / terjemahan-terjemahan yang lain yang ada sebelum penetapan dari text Masoretik, dan kami mendapati bahwa disana ditunjukkan secara persis ada perubahan bertahap yang kami harapkan. Terjemahan Theodotion, yang kelihatannya merupakan suatu revisi dari suatu terjemahan yang dibuat mungkin di Asia Kecil, adalah yang paling awal setelah Septuaginta. Tujuan yang diakui dari Theodotion adalah untuk membuat terjemahan Yunaninya sesuai sedekat yang dimungkinkan dengan text asli bahasa Ibrani sebagaimana ia mempunyainya. Karena itu terjemahannya bisa dipegang sebagai mewakili secara akurat text bahasa Ibrani yang ada pada jamannya. Tanggal / saatnya tidak bisa ditentukan dengan pasti, tetapi kelihatannya di sekitar pertengahan abad kedua. Peshitta hampir sejaman, tetapi sedikit belakangan. Terakhir dari semua datang Vulgate dalam revisi Jerome. Tentang semua ini yang terakhir ada dalam kesesuaian yang terdekat dengan text Masoretik, lalu Peshitta, Theodotion agak jauh lagi, sekalipun tak ada yang manapun dari mereka yang sebegitu jauh dari text Masoretik seperti Septuaginta.] - ‘Introduction’, hal xx-xxi.
Catatan:
1. Codex Chisianus: “The Septuagint’s version of Daniel survives today in the form of a single text, known as the Codex Chisianus, which is preserved in the Vatican.” [= Terjemahan Septuaginta dari kitab Daniel yang tetap ada hari ini / sekarang dalam bentuk satu text tunggal, dikenal sebagai Codex Chisianus, yang dijaga / dipelihara di Vatikan.] - https://books.google.co.id/books?id=_lfSnZiVLpsC&pg=PA107&lpg=PA107&dq=codex+chisianus&source=bl&ots=3XyFnsiERW&sig=ACfU3U2uW7tmo3pMuKKyKF5EXSHm1cYUzg&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjo-Lql-ZvqAhXlQ3wKHWq1BGUQ6AEwAnoECAgQAQ#v=onepage&q=codex%20chisianus&f=false
2. Theodotion: - https://en.wikipedia.org/wiki/Theodotion
3. Masoretic: “The Masoretic Text ... is the authoritative Hebrew and Aramaic text of the 24 books of Tanakh in Rabbinic Judaism. The Masoretic Text defines the Jewish canon and its precise letter-text, with its vocalization and accentuation known as the Masorah.” [= Text Masoretik ... adalah text Ibrani dan Aramaik yang resmi / berotoritas dari 24 kitab Perjanjian Lama dalam Rabi-rabi Yudaisme. Text Masoretik menyatakan kanon Yahudi dan text hurufnya yang persis, dengan bunyinya dan penekanan pembacaannya dikenal sebagai Masorah.] - https://www.google.com/search?client=firefox-b-d&sxsrf=ALeKk03QX5jHQoyj4FucvSF4pvhPa0DbHg:1593056287936&q=masoretic&sa=X&ved=2ahUKEwiA65iRhZzqAhX37nMBHaT0APAQ7xYoAHoECBEQJw&biw=811&bih=384
4. Peshitta: “The consensus within biblical scholarship, though not universal, is that the Old Testament of the Peshitta was translated into Syriac from Hebrew, probably in the 2nd century AD, and that the New Testament of the Peshitta was translated from the Greek.” [= Persetujuan dalam sarjana-sarjana Alkitabiah, sekalipun tidak bersifat universal, adalah bahwa Perjanjian Lama dari Peshitta diterjemahkan ke dalam bahasa Syria dari bahasa Ibrani, mungkin pada abad ke 2 M., dan bahwa Perjanjian Baru dari Peshitta diterjemahkan dari bahasa Yunani.] - https://en.wikipedia.org/wiki/Peshitta
Pulpit Commentary: “The conclusion we come to with regard to the Aramaic of Daniel is that, taking all the facts into consideration, the Aramaic is early, but how early it is impossible to say.” [= Kesimpulan yang kami dapatkan berkenaan dengan bahasa Aramaik dari kitab Daniel adalah bahwa, dengan mempertimbangkan semua fakta, bahasa Aramaiknya adalah bahasa Aramaik pada saat awal, tetapi berapa awalnya adalah mustahil untuk mengatakan.] - ‘Introduction’, hal xxiii.
Pulpit Commentary: “But the date of the Aramaic is not the only question on which critics of Daniel are at issue. There are two dialects of Aramaic - a Western, formerly called Chaldee, now sometimes called Palestinian; and an Eastern, still called incorrectly Syriac. ... it is indubitable that Biblical Aramaic, as we see it now, has a predominant Western character.” [= Tetapi saat dari bahasa Aramaik bukanlah satu-satunya persoalan yang dipersoalkan / diperdebatkan oleh pengkritik-pengkritik kitab Daniel. Di sana ada dua dialek dari bahasa Aramaik - bahasa Aramaik Barat, dulu disebut bahasa Kasdim, sekarang kadang-kadang disebut bahasa Palestina; dan bahasa Aramaik Timur, tetap disebut secara salah sebagai bahasa Syria. ... adalah pasti bahwa bahasa Aramaik Alkitab, seperti yang kita lihat sekarang, mempunyai suatu karakter bahasa Aramaik Barat yang berkuasa.] - ‘Introduction’, hal xxiii.
5) Terjemahan-terjemahan kuno dari kitab Daniel.
Barnes’ Notes: “THE ANCIENT VERSIONS OF THE BOOK OF DANIEL. (1) Of these, the oldest, of course, is the Septuagint. ... The translation of Daniel was among the least faithful, and was the most erroneous, of the whole collection; and, indeed, it was so imperfect that its use in the church was early superseded by the version of Theodotion - the version which is now found in the editions of the Septuagint.” [= terjemahan-terjemahan kuno dari kitab daniel. (1) Dari terjemahan-terjemahan ini, yang paling tua, tentu saja adalah Septuaginta. ... Penterjemahan kitab Daniel ada di antara yang paling tidak bisa dipercaya, dan merupakan yang paling banyak salahnya, dari seluruh koleksi; dan memang, itu begitu tidak sempurna sehingga penggunaannya dalam gereja sejak awal digantikan oleh terjemahan dari Theodotion - terjemahan yang sekarang ditemukan dalam edisi-edisi dari Septuaginta.] - hal 82.
Barnes’ Notes: “From this cause it happened that the translation of Daniel by the Septuagint went into entire disuse, and was for a long time supposed to have been destroyed. It has, however, been recovered and published, though it has not been substituted in the editions of the Septuagint in the place of the version by Theodotion.” [= Karena alasan ini maka terjemahan dari kitab Daniel oleh Septuaginta sama sekali tidak dipakai, dan untuk suatu waktu yang lama dianggap telah dihancurkan. Tetapi itu telah ditemukan kembali dan dipublikasikan, sekalipun itu tidak digantikan dalam edisi-edisi dari Septuaginta di tempat dari terjemahan oleh Theodotion.] - hal 82.
6) Kitab Daniel tidak disenangi oleh orang-orang Yahudi, dan apa alasannya.
Matthew Henry: “He began betimes to be famous, and continued long so. Some of the Jewish rabbin are loth to acknowledge him to be a prophet of the higher form, and therefore rank his book among the Hagiographa, not among the prophecies, and would not have their disciples pay much regard to it. One reason they pretend is because he did not live such a mean mortified life as Jeremiah and some other of the prophets did, but lived like a prince, and was a prime-minister of state; whereas we find him persecuted as other prophets were (ch. vi.), and mortifying himself as other prophets did, when he ate no pleasant bread (ch. 10:3), and fainting sick when he was under the power of the Spirit of prophecy, ch. 8:27.” [= Ia mulai dengan cepat menjadi terkenal, dan berlanjut lama seperti itu. Beberapa / sebagian dari rabi-rabi Yahudi segan / tidak mau untuk mengakuinya sebagai seorang nabi dari jenis yang lebih tinggi, dan karena itu menggolongkan kitabnya di antara Hagiographa, bukan di antara nubuat-nubuat / kitab-kitab nubuat, dan tidak mau murid-murid mereka terlalu menghormatinya. Satu alasan yang mereka berikan secara pura-pura adalah karena ia tidak hidup dalam suatu kehidupan miskin yang menyangkal diri seperti Yeremia dan beberapa nabi-nabi lain lakukan, tetapi hidup seperti seorang pangeran, dan adalah seorang perdana menteri dari negara; padahal kita mendapati ia dianiaya seperti nabi-nabi lain (psl 6), dan menyangkal dirinya sendiri seperti nabi-nabi lain lakukan, pada waktu ia tidak makan roti / makanan yang menyenangkan (pasal 10:3), dan pingsan / jatuh sakit pada waktu ia ada di bawah kuasa dari Roh nubuat, psl 8:27.].
Catatan: Hagiographa = “the books of the Bible comprising the last of the three major divisions of the Hebrew scriptures, other than the Law and the Prophets. The books of the Hagiographa are: Ruth, Psalms, Job, Proverbs, Ecclesiastes, Song of Solomon, Lamentations, Daniel, Esther, Ezra, Nehemiah, and Chronicles.” [= kitab-kitab dari Alkitab yang mencakup / berisikan yang terakhir dari tiga bagian besar dari Kitab Suci bahasa Ibrani, selain dari Taurat dan nabi-nabi. Kitab-kitab dari Hagiographa adalah: Rut, Mazmur, Ayub, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Ratapan, Daniel, Ester, Ezra, Nehemia dan Tawarikh.] - https://www.google.com/search?client=firefox-b-d&q=Hagiographa
Dan 10:2-3 - “(2) Pada waktu itu aku, Daniel, berkabung tiga minggu penuh: (3) makanan yang sedap tidak kumakan, daging dan anggur tidak masuk ke dalam mulutku dan aku tidak berurap sampai berlalu tiga minggu penuh.”.
Dan 8:27 - “Maka aku, Daniel, lelah dan jatuh sakit beberapa hari lamanya; kemudian bangunlah aku dan melakukan pula urusan raja. Dan aku tercengang-cengang tentang penglihatan itu, tetapi tidak memahaminya.”.
Matthew Henry: “Another reason they pretend is because he wrote his book in a heathen country, and there had his visions, and not in the land of Israel; but, for the same reason, Ezekiel also must be expunged out of the roll of prophets.” [= Alasan yang lain yang mereka berikan secara pura-pura adalah karena ia menulis kitabnya di suatu negara kafir, dan di sana ia mendapatkan penglihatan-penglihatannya, dan bukan di tanah Israel; tetapi, untuk alasan yang sama, Yehezkiel juga harus dihapuskan dari daftar nabi-nabi.].
Matthew Henry: “But the true reason is that he speaks so plainly of the time of the Messiah’s coming that the Jews cannot avoid the conviction of it and therefore do not care to hear of it.” [= Tetapi alasan yang benar adalah bahwa ia berbicara dengan begitu jelas tentang saat dari kedatangan Mesias sehingga orang-orang Yahudi tidak bisa menghindari keyakinan / kepercayaan tentang hal itu dan karena itu tidak ingin / senang mendengarnya.].
Catatan: banyak nabi-nabi lain bicara / menubuatkan Yesus / Mesias, seperti Musa, Yesaya, Daud, Mikha dan sebagainya. Tetapi Daniel menubuatkan saat kedatangan dari sang Mesias (Dan 9:25-27), dan itu membuat mereka tidak bisa menghindarkan kesimpulan bahwa Yesus adalah Mesias. Suatu hal yang bisa kita dapatkan dari sini adalah bahwa setan dan anak-anaknya tidak senang kepada orang yang memberitakan Injil. Dan makin jelas Injil yang diberitakan oleh seseorang, makin tidak senang mereka kepada orang itu.
Matthew Henry: “But Josephus calls him one of the greatest of the prophets, nay, the angel Gabriel calls him a man greatly beloved. He lived long an active life in the courts and councils of some of the greatest monarchs the world ever had, Nebuchadnezzar, Cyrus, Darius; for we mistake of (if???) we confine the privilege of an intercourse with heaven to speculative men, or those that spend their time in contemplation; no, who was more intimately acquainted with the mind of God than Daniel, a courtier, a statesman, and a man of business? The Spirit, as the wind, blows where it lists.” [= Tetapi Josephus menyebutnya salah satu dari nabi-nabi terbesar, dan lebih lagi, malaikat Gabriel menyebut dia seseorang yang ‘sangat dikasihi’. Ia menjalani suatu kehidupan aktif yang lama dalam istana-istana dan kumpulan penasehat dari beberapa dari raja-raja terbesar yang pernah dipunyai oleh dunia, Nebukadnezar, Koresh, Darius; karena kita salah jika kita membatasi hak dari suatu komunikasi dengan surga pada orang-orang yang spekulatif / teoretis, atau mereka yang menghabiskan waktu mereka dalam perenungan; tidak, siapa yang lebih akrab dengan pikiran Allah dari pada Daniel, seorang pegawai istana, seorang pemimpin yang dihormati, dan seorang yang aktif / sibuk? Roh, seperti angin, bertiup kemana Ia berkenan.].
Dan 9:21-23 - “(21) sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel, dia yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari. (22) Lalu ia mengajari aku dan berbicara dengan aku: ‘Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti. (23) Ketika engkau mulai menyampaikan permohonan keluarlah suatu firman, maka aku datang untuk memberitahukannya kepadamu, sebab engkau sangat dikasihi. Jadi camkanlah firman itu dan perhatikanlah penglihatan itu!”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali