SEminar reformasi 2020

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tgl 4 Maret 2020, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Calvin dan Servetus (5)

 

a)         Persidangan pertama di Jenewa.

 

David Schaff: § 151. The First Act of the Trial at Geneva. Servetus was confined near the Church of St. Pierre, in the ancient residence of the bishops of Geneva, which had been turned into a prison. His personal property consisted of ninety-seven crowns, a chain of gold weighing about twenty crowns, and six gold rings (a large turquoise, a white sapphire, a diamond, a ruby, a large emerald of Peru, and a signet ring of coralline). These valuables were surrendered to Pierre Tissot, and after the process given to the hospital. The prisoner was allowed to have paper and ink, and such books as could be procured at Geneva or Lyons at his own expense. Calvin lent him Ignatius, Polycarp, Tertullian, and Irenaeus. But he was denied the benefit of counsel, according to the ordinances of 1543. This is contrary to the law of equity and is one of the worst features of the trial. He was not subjected to the usual torture. [= § 151. Persidangan pertama di Jenewa. Servetus ditahan dekat Gereja Santo Pierre, dalam tempat tinggal kuno dari uskup-uskup Jenewa, yang telah dimasukkan ke dalam penjara. Milik pribadinya terdiri dari 97 crown, sebuah rantai emas dengan berat sekitar 20 crown, dan 6 cincin emas (sebuah batu pirus yang besar, sebuah safir putih, sebuah berlian, sebuah batu rubi / batu delima, sebuah jamrud besar dari Peru, dan sebuah cincin cap / segel dari coralline). Barang-barang berharga ini diserahkan kepada Pierre Tissot, dan setelah proses itu semua itu diberikan kepada rumah sakit. Orang tahanan ini diijinkan mempunyai kertas dan tinta, dan buku-buku yang bisa didapatkan di Jenewa atau Lyons atas biayanya sendiri. Calvin meminjamkan dia Ignatius, Polycarp, Tertullian, dan Irenaeus. Tetapi ia tidak diijinkan untuk mendapatkan seorang pengacara, sesuai dengan hukum dari tahun 1543 (catatan: jadi hukum ini sudah keluar 10 tahun sebelum saat ini). Ini bertentangan dengan hukum keadilan dan merupakan salah satu ciri terburuk dari pengadilan itu. Ia tidak mengalami siksaan yang biasa (terjadi).] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 768 (Libronix).

Catatan: yang warna hijau lagi-lagi merupakan pandangan dari David Schaff sendiri. Kalau ini sesuai dengan hukum di sana pada saat itu, ini tidak bisa disalahkan. Juga, Servetus sendiri adalah seorang ahli hukum, sehingga ia bisa menjadi pengacara untuk dirinya sendiri.

 

David Schaff: The laws of Geneva demanded that the accuser should become a prisoner with the accused, in order that in the event of the charge proving false, the former might undergo punishment in the place of the accused. The person employed for this purpose was Nicolas de la Fontaine, a Frenchman, a theological student, and Calvin’s private secretary. The accused as well as the accuser were foreigners. Another law obliged the Little Council to examine every prisoner within twenty-four hours after his arrest. The advocate or ‘Speaker’ of Nicolas de la Fontaine in the trial was Germain Colladon, likewise a Frenchman and an able lawyer, who had fled for his religion, and aided Calvin in framing a new constitution for Geneva. [= Hukum dari Jenewa menuntut / mengharuskan bahwa si penuduh harus menjadi seorang tahanan bersama dengan si tertuduh, supaya bahwa dalam kasus tuduhan itu terbukti palsu, yang terdahulu bisa mengalami hukuman di tempat dari si tertuduh. Orang yang dipekerjakan / digunakan adalah Nicolas de la Fontaine, seorang Perancis, seorang pelajar / mahasiswa theologia, dan sekretaris pribadi Calvin. Si tertuduh maupun si penuduh adalah orang-orang asing. Suatu hukum yang lain mewajibkan the Little Council untuk memeriksa setiap orang tahanan dalam 24 jam setelah penahanan / penangkapannya. Pengacara atau ‘pembicara’ dari Nicolas de la Fontaine dalam pengadilan adalah Germain Colladon, juga seorang Perancis dan seorang pengacara / ahli hukum yang handal, yang telah lari untuk agamanya, dan membantu Calvin dalam membentuk suatu konstitusi yang baru untuk Jenewa.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 768-769 (Libronix).

 

David Schaff: The trial began on the 15th of August and continued, with interruptions, for more than two months. It was conducted in French and took place in the Bishop’s Palace, according to the forms prescribed by law, in the presence of the Little Council, the herald of the city, the Lord-Lieutenant, and several citizens, who had a right to sit in criminal processes, but did not take part in the judgment. Among these was Berthelier, the bitter enemy of Calvin. [= Pengadilan mulai pada tanggal 15 Agustus (1553) dan berlanjut, dengan interupsi-interupsi, selama lebih dari 2 bulan. Itu diadakan dalam bahasa Perancis dan terjadi di Istana Uskup, sesuai dengan bentuk-bentuk yang ditetapkan sebagai peraturan oleh hukum, dalam kehadiran dari Little Council, pejabat kota, wakil dari pimpinan daerah, dan beberapa warga negara, yang mempunyai hak untuk duduk dalam proses-proses kriminil, tetapi tidak mengambil bagian dalam penghakiman. Di antara orang-orang ini adalah Berthelier, sang musuh yang pahit dari Calvin.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 769 (Libronix).

 

David Schaff: Servetus answered the preliminary questions as to his name, age, and previous history more truthfully than he had done before the Catholic tribunal, and incidentally accused Calvin of having caused the prosecution at Vienne. It is not owing to Calvin, he said, that he was not burnt alive there. [= Servetus menjawab pertanyaan-pertanyaan pendahuluan berkenaan dengan namanya, umurnya, dan sejarah sebelumnya dengan lebih benar dari pada yang telah ia lakukan di hadapan pengadilan Katolik, dan terpisah dari pokok utama, menuduh Calvin sebagai telah menyebabkan penuntutan di Wina. Bukan karena Calvin, katanya, bahwa ia tidak dibakar hidup-hidup di sana.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 769 (Libronix).

 

David Schaff: The deed of accusation, as lodged by Nicholas de la Fontaine, consisted of thirty-eight articles which were drawn up by Calvin (as he himself informs us), and were fortified by references to the books of Servetus, which were produced in evidence, especially the ‘Restitution of Christianity,’ both the manuscript copy, which Servetus had sent to Calvin in advance, and a printed copy. [= Tindakan penuduhan, seperti yang diberikan oleh Nicholas de la Fontaine, terdiri dari 38 artikel yang disusun oleh Calvin (seperti ia sendiri memberi informasi kepada kami), dan diperkuat oleh referensi-referensi pada buku-buku dari Servetus, yang dihasilkan sebagai bukti sah, khususnya ‘the Restitution of Christianity’, baik copy manuscript, yang Servetus kirim kepada Calvin sebelumnya, dan suatu copy cetakan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 769 (Libronix).

 

David Schaff: The principal charges were, that be had published heretical opinions and blasphemies concerning the Trinity, the person of Christ, and infant baptism. He gave evasive or orthodox-sounding answers. He confessed to believe in the trinity of persons, but understood the word ‘person’ in a different sense from that used by modern writers, and appealed to the first teachers of the Church and the disciples of the apostles. He denied at first that he had called the Trinity three devils and Cerberus; but he had done so repeatedly and confessed it afterwards. He professed to believe that Jesus Christ was the Son of God according to his divinity and humanity; that the flesh of Christ came from heaven and of the substance of God; but as to the matter it came from the Virgin Mary. He denied the view imputed to him that the soul was mortal. He admitted that he had called infant baptism ‘a diabolical invention and infernal falsehood destructive of Christianity.’ This was a dangerous admission; for the Anabaptists were suspected of seditious and revolutionary opinions. [= Tuduhan-tuduhan utama adalah, bahwa ia telah mempublikasikan pandangan-pandangan bidat / sesat dan penghujatan-penghujatan berkenaan dengan Tritunggal, pribadi Kristus, dan baptisan bayi. Ia memberikan jawaban-jawaban yang bersifat menghindar atau kedengaran seperti ajaran ortodox. Ia mengaku percaya kepada Tritunggal dari pribadi-pribadi, tetapi menganggap kata ‘pribadi’ dalam suatu arti yang berbeda dari yang digunakan oleh penulis-penulis modern, dan naik banding pada guru-guru / pengajar-pengajar pertama / awal dari Gereja dan murid-murid dari rasul-rasul. Ia mula-mula menyangkal bahwa ia telah menyebut Tritunggal 3 setan dan Cerberus; tetapi ia telah melakukannya berulang-ulang dan belakangan mengakuinya. Ia mengaku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah menurut keilahian dan kemanusiaanNya; bahwa daging Kristus datang dari surga dan dari zat Allah; tetapi berkenaan dengan bahannya itu datang dari Perawan Maria. Ia menyangkal pandangan yang diperhitungkan kepadanya bahwa jiwa itu bisa mati. Ia mengakui bahwa ia telah menyebut baptisan bayi ‘suatu penemuan yang bersifat setan dan kepalsuan / penipuan yang menjijikkan / berhubungan dengan neraka yang bersifat menghancurkan kekristenan’. Ini merupakan suatu pengakuan yang berbahaya; karena kelompok Anabaptis dicurigai tentang pandangan-pandangan yang bersifat memberontak dan bersifat revolusi / perubahan yang besar.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 769-770 (Libronix).

 

David Schaff: He was also charged with having, ‘in the person of M. Calvin, defamed the doctrines of the gospel and of the Church of Geneva.’ To this he replied that in what he had formerly written against Calvin, in his own defence, he had not intended to injure him, but to show him his errors and faults, which he was ready to prove by Scripture and good reasons before a full congregation. This was a bold challenge. Calvin was willing to accept it, but the Council declined, fearing to lose the control of the affair by submitting it to the tribunal of public opinion. The friends of Servetus would have run the risk of seeing him defeated in public debate. That charge, however, which seemed to betray personal ill-feeling of Calvin, was afterwards very properly omitted. [= Ia juga dituduh dengan telah ‘dalam diri dari M. Calvin, menjelekkan doktrin-doktrin dari injil dan dari Gereja Jenewa’. Terhadap ini ia menjawab bahwa dalam apa yang sebelumnya telah ia tulis terhadap Calvin, dalam pembelaannya sendiri, ia tidak bermaksud untuk merusak dia, tetapi menunjukkan kepadanya kesesatan-kesesatan dan kesalahan-kesalahannya, yang ia siap untuk membuktikan dengan Kitab Suci dan alasan-alasan / argumentasi-argumentasi yang baik di hadapan seluruh jemaat. Ini merupakan suatu tantangan yang berani. Calvin mau menerima tantangan itu, tetapi Council menolak, karena takut kehilangan kontrol dari urusan itu dengan menyerahkannya kepada penghakiman dari pandangan umum. Sahabat-sahabat Servetus mau menempuh resiko untuk melihat dia dikalahkan dalam debat umum. Tetapi tuduhan itu, yang kelihatannya menunjukkan perasaan buruk secara pribadi dari Calvin, belakangan secara tepat dihapuskan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 770-771 (Libronix).

Catatan: Calvin mau / berani debat terbuka dalam suatu sidang pengadilan!!! Mengapa orang-orang yang mengaku Calvinist / Reformed jaman ini banyak yang tidak berani debat??? Alasan kasih, tidak mau gegeran, gak level, dan sebagainya. Alasan sebetulnya adalah mereka pengecut! Mereka tidak mempunyai jiwa dari Calvin!!

 

David Schaff: On the following day, the 16th of August, Berthelier, then smarting under the sentence of excommunication by the Consistory, openly came to the defence of Servetus, and had a stormy encounter with Colladon, which is omitted in the official record, but indicated by blanks and the abrupt termination: ‘Here they proceeded no further, but adjourned till to-morrow at mid-day.’ On Thursday, the 17th of August, Calvin himself appeared before the Council as the real accuser, and again on the 21st of August. He also conferred with his antagonist in writing. Servetus was not a match for Calvin either in learning or argument; but he showed great skill and some force. [= Pada hari berikutnya, pada tanggal 16 Agustus, Berthelier, yang pada waktu itu menderita hukuman pengucilan oleh Badan Pemerintah gereja lokal, secara terbuka datang untuk membela Servetus, dan pernah bertemu dalam suatu pertemuan yang penuh emosi dengan Colladon, yang dihapuskan dari catatan resmi, tetapi ditunjukkan oleh bagian yang kosong dan tindakan mengakhiri yang tiba-tiba: ‘Di sini mereka tidak melanjutkan lebih jauh, tetapi ditunda sampai besok pada tengah hari’. Pada hari Kamis, tanggal 17 Agustus, Calvin sendiri muncul di depan Sidang sebagai penuduh yang sesungguhnya, dan lagi pada tanggal 21 Agustus. Ia juga berdiskusi dengan lawannya dalam tulisan. Servetus bukanlah tandingan Calvin baik dalam pembelajaran atau argumentasi; tetapi ia menunjukkan keahlian yang besar dan kekuatan yang mengesankan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 771 (Libronix).

Catatan: yang ‘gak level’pun dilayani oleh Calvin!

 

David Schaff: He contemptuously repelled the frivolous charge that, in his Ptolemy, he had contradicted the authority of Moses, by describing Palestine as an unfruitful country (which it was then, and is now). He wiped his mouth and said, ‘Let us go on; there is nothing wrong there.’ The charge of having, in his notes on the Latin Bible, explained the servant of God in the fifty-third chapter of Isaiah, as meaning King Cyrus, instead of the Saviour, he disposed of by distinguishing two senses of prophecy - the literal and historical sense which referred to Cyrus, and the mystical and principal sense which referred to Christ. He quoted Nicolaus de Lyra; but Calvin showed him the error, and asserts that he audaciously quoted books which he had never examined. [= Ia secara mengejek menolak tuduhan yang remeh bahwa, dalam Ptolemy-nya, ia telah menentang otoritas Musa, dengan menggambarkan Palestina sebagai suatu negara yang tandus (yang adalah pada saat itu, dan sekarang). Ia menggosok / membersihkan mulutnya dan berkata, ‘Marilah kita melanjutkan; di sana tak ada yang salah’. Tuduhan, dalam Alkitab bahasa Latinnya, tentang penjelasan hamba Allah dalam Yes 53, sebagai berarti Raja Koresh, alih-alih dari sang Juruselamat, ia akhiri / buang dengan membedakan dua arti dari nubuat - arti hurufiah dan yang bersifat sejarah yang menunjuk kepada Koresh, dan arti mistik dan utama, yang menunjuk kepada Kristus. Ia mengutip Nicolaus de Lyra; tetapi Calvin menunjukkan dia kesalahannya, dan menegaskan bahwa ia secara berani mengutip buku-buku yang tidak pernah ia pelajari.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 771 (Libronix).

Catatan: bagi saya tindakan / kata-kata menentang Alkitab secara frontal, bahkan pada bagian yang kelihatan remeh tentang apakah Kanaan / Palestina itu subur atau tandus, sebetulnya bukan merupakan sesuatu yang remeh, karena ini menunjukkan suatu sikap merendahkan Alkitab / firman Tuhan!

 

David Schaff: As to his calling the Trinity ‘a Cerberus’ and ‘a dream of Augustin,’ and the Trinitarians ‘atheists,’ he said that he did not mean the true Trinity, which he believed himself, but the false trinity of his opponents; and that the oldest teachers before the Council of Nicaea did not teach that trinity, and did not use the word. Among them he quoted Ignatius, Polycarp, Clement of Rome, Irenaeus, Tertullian, and Clement of Alexandria. Calvin refuted his assertion by quotations from Justin Martyr, Tertullian, and Origen. On this occasion he charges him, unjustly, with total ignorance of Greek, because he was embarrassed by a Greek quotation from Justin Martyr, and called for a Latin version. [= Berkenaan dengan tindakannya menyebut Tritunggal ‘suatu Cerberus’ dan ‘suatu mimpi dari Agustinus’, dan orang-orang yang menganut doktrin Tritunggal sebagai ‘atheis’, ia berkata bahwa ia tidak memaksudkan Tritunggal yang benar, yang ia sendiri percayai, tetapi tritunggal palsu dari lawan-lawannya; dan bahwa guru-guru tertua / terkuno sebelum Sidang Gereja Nicea tidak mengajarkan tritunggal itu, dan tidak menggunakan kata itu. Di antara mereka, ia mengutip Ignatius, Polycarp, Clement dari Rome, Irenaeus, Tertullian, dan Clement dari Alexandria. Calvin membantah penegasannya dengan kutipan-kutipan dari Justin Martyr, Tertullian, dan Origen. Pada kejadian ini ia menuduhnya, secara tidak benar, dengan ketidak-tahuan total tentang bahasa Yunani, karena ia dipermalukan oleh suatu kutipan bahasa Yunani dari Justin Martyr, dan meminta / menuntut suatu versi bahasa Latin.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 771-772 (Libronix).

 

David Schaff: In discussing the relation of the divine substance to that of the creatures, Servetus declared that ‘all creatures are of the substance of God, and that God is in all things.’ Calvin asked him: ‘How, unhappy man, if any one strike the pavement with his foot and say that he tramples on thy God, wouldst thou not be horrified at having the Majesty of heaven subjected to such indignity?’ To this Servet replied: ‘I have no doubt that this bench, and this buffet, and all you can show me, are of the substance of God.’ When it was objected that in his view God must be substantially even in the devil, he burst out into a laugh, and rejoined: ‘Can you doubt this? I hold this for a general maxim, that all things are part and parcel of God, and that the nature of things is his substantial Spirit.’ [= Dalam mendiskusikan hubungan dari zat / hakekat Ilahi dengan hakekat dari makhluk-makhluk ciptaan, Servetus menyatakan bahwa ‘semua makhluk-makhluk ciptaan adalah dari zat / hakekat Allah, dan bahwa Allah ada dalam segala sesuatu’. Calvin bertanya kepadanya: ‘Bagaimana, orang menyedihkan, jika siapapun memukul permukaan yang keras dengan kakinya dan mengatakan bahwa ia menginjak-injak Allahmu, apakah engkau tidak merasa terkejut / takut pada saat Raja dari surga ditundukkan pada suatu perendahan seperti itu?’ Terhadap hal ini Servetus menjawab: ‘Aku tidak mempunyai keraguan bahwa bangku ini, dan lemari ini, dan semua yang kamu bisa tunjukkan kepadaku, adalah dari zat / hakekat Allah’. Pada waktu diajukan keberatan bahwa dalam pandangannya Allah harus berada secara benar / sungguh-sungguh bahkan di dalam setan, ia tertawa terbahak-bahak, dan menjawab: ‘Bisakah kamu ragukan hal ini? Saya memegang / mempercayai ini sebagai suatu prinsip dasar yang bersifat umum, bahwa segala sesuatu adalah bagian dan bagian hakiki dari Allah, dan bahwa hakekat dari benda-benda adalah RohNya yang benar / hakiki’.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 772 (Libronix).

 

David Schaff: The result of this first act of the trial was unfavorable to the prisoner, but not decisive. Calvin used the freedom of the pulpit to counteract the efforts of the Libertine party in favor of Servetus. [= Hasil dari persidangan pertama adalah tidak menguntungkan bagi orang tahanan itu, tetapi tidak bersifat menentukan / meyakinkan. Calvin menggunakan kebebasan mimbar untuk menentang / mengkritik usaha-usaha dari Partai Libertine untuk mendukung Servetus.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 772 (Libronix).

Catatan: tidak ada yang salah dalam menggunakan mimbar gereja untuk mengecam sesuatu yang salah dalam persidangan ataupun dalam suatu konfrontasi.

 

 

 

-bersambung-


 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

[email protected]

http://golgothaministry.org

Email : [email protected]