Seminar reformasi 2019

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tgl 13 Nopember 2019, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Calvin dan Servetus (3)

 

David Schaff: § 147. The Theological System of Servetus. Calvin, in his Refutatio Errorum Mich. Serveti, Opera, vol. VIII. 501–644, presents the doctrines of Servetus from his writings, in thirty-eight articles, the response of Servetus, the refutation of the response, and then a full examination of his whole system. ... Before we proceed to the heresy trial, we must give a connected statement of the opinions of Servetus as expressed in his last and most elaborate work. To his contemporaries the Restitutio appeared to be a confused compound of Sabellian, Samosatenic, Arian, Apollinarian, and Pelagian heresies, mixed with Anabaptist errors and Neo-platonic, pantheistic speculations. The best judges - Calvin, Saisset, Trechsel, Baur, Dorner, Harnack - find the root of his system in pantheism. ... Far from being a sceptic or rationalist, he had very strong, positive convictions of the absolute truth of the Christian religion. He regarded the Bible as an infallible source of truth, and accepted the traditional canon without dispute. So far he agreed with evangelical Protestantism; but he differed from it, as well as from Romanism, in principle and aim. He claimed to stand above both parties as the restorer of primitive Christianity, which excludes the errors and combines the truths of the Catholic and Protestant creeds. ... Servetus, with the Bible as his guide, aimed at a more radical revolution than the Reformers. He started with a new doctrine of God and of Christ, and undermined the very foundations of the Catholic creed. The three most prominent negative features of his system are three denials: the denial of the orthodox dogma of the Trinity, as, set forth in the Nicene Creed; the denial of the orthodox Christology, as determined by the Oecumenical Council of Chalcedon; and the denial of infant baptism, as practised everywhere except by the Anabaptists. From these three sources he derived all the evils and corruptions of the Church. The first two denials were the basis of the theoretical revolution, the third was the basis of the practical revolution which he felt himself providentially called to effect by his anonymous book. Those three negations in connection with what appeared to be shocking blasphemy, though not intended as such, made him an object of horror to all orthodox Christians of his age, Protestants as well as Roman Catholic, and led to his double condemnation, first at Vienne, and then at Geneva. [= § 147. Sistim Theologia dari Servetus. Calvin, dalam bukunya ‘Refutatio Errorum Mich. Serveti, Opera, vol. VIII. 501–644’, menggambarkan doktrin-doktrin Servetus dari tulisan-tulisannya, dalam tiga puluh delapan artikel, tanggapan Servetus, bantahah dari tanggapan itu, dan lalu suatu pemeriksaan penuh dari seluruh sistimnya. ... Sebelum kita melanjutkan pada pengadilan kesesatan / bidat, kita harus memberikan suatu pernyataan yang berhubungan tentang pandangan-pandangan Servetus seperti yang dinyatakan dalam pekerjaan / tulisannya yang terakhir dan yang paling mendetail. Bagi orang-orang sejamannya ‘the Restitutio’ kelihatan sebagai suatu campuran yang membingungkan dari bidat-bidat Sabelianisme, Samosatenic (Adoptionisme), Arianisme, Appolinarianisme, dan Pelagianisme, dicampur dengan kesalahan-kesalahan Anabaptist dan spekulasi-spekulasi Neo-Platonik, Pantheisme. Hakim-hakim / penilai-penilai yang terbaik - Calvin, Saisset, Trechsel, Baur, Dorner, Harnack - menemukan akar dari sistimnya dalam Pantheisme. ... Sangat berbeda dengan seorang skeptik atau rationalist, ia mempunyai suatu keyakinan yang sangat kuat, positif tentang kebenaran mutlak dari agama Kristen. Ia menganggap Alkitab sebagai suatu sumber kebenaran yang tidak bisa salah, dan menerima kanon tradisional tanpa bantahan. Sejauh itu ia setuju dengan Protestantisme yang injili; tetapi ia berbeda darinya, maupun dari Romanisme (Katolik), dalam prinsip-prinsip dan tujuan. Ia mengclaim berdiri di atas kedua kelompok sebagai pemulih dari kekristenan yang primitif, yang mengeluarkan kesalahan-kesalahan dan mengkombinasikan kebenaran-kebenaran dari pengakuan iman Katolik dan Protestan. ... Servetus, dengan Alkitab sebagai pembimbingnya, mengarah pada suatu revolusi yang lebih radikal dari pada para tokoh Reformasi. Ia mulai dengan suatu doktrin baru tentang Allah dan tentang Kristus, dan melemahkan / merusak perlahan-lahan fondasi dasar dari pengakuan iman Katolik. Tiga ciri negatif yang paling menonjol dari sistimnya adalah tiga penyangkalan: penyangkalan tentang dogma yang ortodox dari / tentang Tritunggal, sebagaimana diajukan dalam Pengakuan Iman Nicea; penyangkalan tentang Kristologi yang ortodox, sebagaimana ditentukan oleh Sidang Gereja Oikumene Chalcedon; dan penyangkalan baptisan bayi, yang dipraktekkan dimana-mana kecuali oleh Anabaptist. Dari tiga sumber ini ia mendapatkan / menyimpulkan semua kejahatan-kejahatan dan kerusakan-kerusakan dari Gereja. Dua penyangkalan yang pertama adalah dasar dari revolusi teoretis, yang ketiga adalah dasar dari revolusi praktis yang ia rasakan dirinya sendiri dipanggil secara providensia untuk mencapainya oleh bukunya yang tanpa nama. Ketiga penyangkalan itu dalam hubungan dengan apa yang kelihatan sebagai penghujatan yang mengejutkan, sekalipun tidak dimaksudkan seperti itu, membuatnya sebagai obyek dari ketidak-senangan / kejijikan bagi semua orang-orang Kristen ortodox dari jamannya, Protestan maupun Katolik Roma, dan membimbing pada hukuman gandanya, pertama di Wina, dan lalu di Jenewa.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 736-738 (Libronix).

Catatan: jangan heran kalau melihat orang sesat ini kacau balau doktrinnya sehingga sukar didefinisikan. Karena itu juga tidak usah heran kalau pada pelajaran yang pertama kita melihat bahwa Rev. Thomas Smyth D. D. mengatakan bahwa Servetus menyangkal kemanusiaan Yesus. Saya kira kekacauan ajaran Servetus tidak jauh beda dengan Erastus. Itu sebabnya saya tidak jadi membahas ajaran Erastus tentang Tritunggal. Saya melihat tulisan / kotbahnya tentang Tritunggal betul-betul kacau balau sehingga menyebabkan pandangannya tidak jelas dan sangat sukar untuk dibahas.

 

David Schaff: 1. Christology. Servetus begins the ‘Restitution,’ as well as his first book against the Trinity, with the doctrine of Christ. He rises from the humanity of the historical Jesus of Nazareth to his Messiahship and Divine Sonship, and from this to his divinity. ... Jesus is, according to Servetus, begotten, not of the first person of God, but of the essence of the one undivided and indivisible God. ... To his last breath Servetus worshipped Jesus as the Son of the eternal God. But he did not admit him to be the eternal Son of God except in an ideal and pantheistic sense, ... Christ does not consist of, or in, two natures. He had no previous personal pre-existence as a second hypostasis: his personality dates from his conception and birth. But this man Jesus is, at the same time, consubstantial with God (ὁμοούσιος). As man and wife are one in the flesh of their son, so God and man are one in Christ. The flesh of Christ is heavenly and born of the very substance of God. By the deification of the flesh of Christ he materialized God, destroyed the real humanity of Christ, and lost himself in the maze of a pantheistic mysticism. [= 1. Kristologi. Servetus memulai ‘the Restitution’, maupun buku pertamanya menentang Tritunggal, dengan doktrin tentang Kristus. Ia naik / meningkat dari kemanusiaan Yesus dari Nazaret yang bersifat sejarah kepada Ke-Mesias-anNya dan Ke-Anak-anNya yang Ilahi, dan dari sini pada keilahianNya. ... Menurut Servetus, Yesus diperanakkan, bukan dari pribadi pertama dari Allah, tetapi dari hakekat dari satu Allah yang tak terpisah dan tak terbagi. ... Sampai pada nafasnya yang terakhir Servetus menyembah Yesus sebagai ‘Anak dari Allah yang kekal’. Tetapi ia tidak mengakuiNya sebagai ‘Anak yang kekal dari Allah’ kecuali dalam arti yang ideal dan Pantheistik, ... Kristus tidak terdiri dari, atau dalam, dua hakekat. Ia tidak mempunyai keberadaan pribadi sebelumnya sebagai seorang Pribadi yang kedua: kepribadianNya berasal mula dari pembuahan dan kelahiranNya. Tetapi manusia Yesus ini, pada saat yang sama mempunyai substansi / hakekat yang sama dengan Allah (HOMOOUSIOS). Seperti laki-laki dan perempuan adalah satu dalam daging dari anak mereka, demikianlah Allah dan manusia adalah satu dalam Kristus. Daging dari Kristus bersifat surgawi dan dilahirkan dari substansi / hakekat Allah. Dengan pendewaan dari daging Kristus ia menjadikan Allah bersifat materi, menghancurkan kemanusiaan yang nyata / benar dari Kristus, dan membuat dirinya sendiri hilang / menyesatkan dirinya sendiri dalam sistim yang komplex dari mistisisme pantheistik.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 739-741 (Libronix).

 

David Schaff: 2. Theology. The fundamental doctrine of Servetus was the absolute unity, simplicity, and indivisibility of the Divine being, in opposition to the tripersonality or threefold hypostasis of orthodoxy. In this respect he makes common cause with the Jews and Mohammedans, and approvingly quotes the Koran. He violently assails Athanasius, Hilary, Augustin, John of Damascus, Peter the Lombard, and other champions of the dogma of the Trinity. But he claims the ante-Nicene Fathers, especially Justin, Clement of Alexandria, Irenaeus, and Tertullian, for his view. He calls all Trinitarians ‘tritheists’ and ‘atheists.’ They have not one absolute God, but a three-parted, collective, composite God - that is, an unthinkable, impossible God, which is no God at all. They worship three idols of the demons, - a three-headed monster, like the Cerberus of the Greek mythology. One of their gods is unbegotten, the second is begotten, the third proceeding. One died, the other two did not die. Why is not the Spirit begotten, and the Son proceeding? By distinguishing the Trinity in the abstract from the three persons separately considered, they have even four gods. The Talmud and the Koran, he thinks, are right in opposing such nonsense and blasphemy. He examines in detail the various patristic and scholastic proof texts for the Trinity, as Gen. 18:2; Ex. 3:6; Ps. 2:7; 110:1; Isa. 7:14; John 1:1; 3:13; 8:58; 10:18; 14:10; Col. 1:15; 2:9; 1 Pet. 3:19; Heb. 1:2. Yet, after all, he taught himself a sort of trinity, but substitutes the terms ‘dispositions,’ ‘dispensations,’ ‘economies,’ for hypostases and persons. In other words, he believed, like Sabellius, in a trinity of revelation or manifestation, but not in a trinity of essence or substance. He even avowed, during the trial at Geneva, a trinity of persons and the eternal personality of Christ; but he understood the term, ‘person’ in the original sense of a mask used by players on the stage, not in the orthodox sense of a distinct hypostasis or real personality that had its own proper life in the Divine essence from eternity, and was manifested in time in the man Jesus. ... In the fifth book, Servetus discusses the doctrine of the Holy Spirit. He identifies him with the Word, from which he differs only in the form of existence. God is, figuratively speaking, the Father of the Spirit, as he is the Father of Wisdom and the Word. The Spirit is not a third metaphysical being, but the Spirit of God himself. ... We are deified or made partakers of the divine nature by Christ. [= 2. Theologia. Doktrin dasar dari Servetus adalah kesatuan mutlak, kesederhanaan, dan ketidak-bisa-dibagi-an dari keberadaan Ilahi, dalam pertentangan dengan tiga pribadi atau pribadi rangkap tiga dari ortodoxy. Dalam hal ini ia membuat hasil yang sama dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam, dan menganggap baik untuk mengutip Al-Quran. Ia menyerang secara ganas / kuat Athanasius, Agustinus, John dari Damaskus, Peter Lombard, dan pembela-pembela dari dogma Tritunggal. Tetapi ia mengclaim Bapa-bapa Gereja sebelum Nicea, khususnya Justin, Clement dari Alexandria, Ireneaeus, dan Tertullian, untuk pandangannya. Ia menyebut semua orang yang percaya Tritunggal sebagai ‘tritheist’ dan ‘atheist’. Mereka tidak mempunyai satu Allah yang mutlak, tetapi suatu Allah yang terbagi tiga, berkumpul, terdiri dari komponen-komponen - yaitu, suatu Allah yang tidak terpikirkan / terbayangkan, mustahil, yang bukan Allah sama sekali. Mereka menyembah tiga berhala dari setan-setan, - seorang monster berkepala tiga, seperti Cerberus dari mitologi Yunani. Satu dari allah-allah / dewa-dewa mereka tidak diperanakkan, yang kedua diperanakkan, yang ketiga keluar. Satu mati, yang dua tidak mati. Mengapa Roh tidak diperanakkan, dan Anak tidak keluar? Dengan membedakan Tritunggal dalam bentuk yang abstrak dari tiga pribadi yang dipertimbangkan secara terpisah mereka bahkan mempunyai empat allah. Talmud dan Al-Quran, ia pikir, adalah benar dalam menentang omong kosong dan penghujatan seperti itu. Ia memeriksa secara mendetail bermacam-macam text bukti untuk Tritunggal dari Bapa-bapa Gereja awal dan ahli-ahli theologia abad pertengahan / Katolik, seperti Kej 18:2; Kel 3:6; Maz 2:7; 110:1; Yes 7:14; Yoh 1:1; 3:13; 8:58; 10:18; 14:10; Kol 1:15; 2:9; 1Pet 3:19; Ibr 1:2. Tetapi sekalipun demikian, ia mengajar dirinya sendiri suatu jenis Tritunggal, tetapi menggantikan istilah-istilah ‘kecondongan-kecondongan’, ‘jaman-jaman’, ‘metode-metode’, untuk hypostases dan pribadi-pribadi. Dengan kata lain, ia percaya, seperti Sabellius, kepada suatu Tritunggal dari penyataan atau manifestasi, tetapi tidak kepada suatu Tritunggal dari hakekat atau substansi. Ia bahkan menyatakan, dalam pengadilan di Jenewa, suatu Tritunggal dari pribadi-pribadi dan kepribadian kekal dari Kristus; tetapi ia menganggap istilah ‘pribadi’ dalam arti orisinil dari sebuah topeng yang digunakan oleh pemain-pemain sandiwara di panggung, bukan dalam arti ortodox dari suatu hypostases yang berbeda (distinct) atau kepribadian yang nyata / sungguh-sungguh yang mempunyai kehidupannya sendiri yang benar dalam hakekat Ilahi dari kekekalan, dan dinyatakan dalam waktu dalam manusia Yesus. ... Dalam buku yang kelima, Servetus mendiskusikan doktrin tentang Roh Kudus. Ia menyamakan Dia dengan Firman, dari mana Ia berbeda hanya dalam bentuk keberadaan. Allah adalah, berbicara secara figuratif, Bapa dari Roh, seperti Ia adalah Bapa dari Hikmat dan Firman. Roh (Kudus) bukanlah makhluk / keberadaan (being) yang ketiga, tetapi Roh Allah sendiri. ... Kita dijadikan allah atau dijadikan pengambil-pengambil bagian dari hakekat ilahi oleh Kristus.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 741-745 (Libronix).

 

David Schaff: Servetus rejected also the doctrine of forensic justification by faith alone, as injurious to sanctification. He held that man is justified by faith and good works, and appealed to the second chapter of James and the obedience of Abraham. On this point he sympathized more with the Roman theory. [= Servetus juga menolak doktrin tentang Pembenaran (yang berhubungan dengan pengadilan) oleh iman saja, sebagai berbahaya / bersifat melukai bagi Pengudusan. Ia percaya bahwa manusia dibenarkan oleh iman dan perbuatan baik, dan naik banding pada pasal kedua dari Yakobus dan ketaatan Abraham. Tentang pokok ini ia lebih cocok dengan teori dari Roma (Katolik).] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 749 (Libronix).

 

David Schaff: As to the sacrament of Baptism, he taught, with the Catholic Church, baptismal regeneration, but rejected, with the Anabaptists, infant baptism. ... Servetus infers, no one is a fit subject for baptism before he has reached manhood. ... Servetus rejected Infant Baptism as irreconcilable with these views, and as absurd. He called it a doctrine of the devil, an invention of popery, and a total subversion of Christianity. He saw in it the second root of all the corruptions of the Church, as the dogma of the Trinity was the first root. By his passionate opposition to infant baptism he gave as much offence to Catholics and Protestants as by his opposition to the dogma of the Trinity. ... In the doctrine of the Lord’s Supper, Servetus differs from the Roman Catholic, the Lutheran, and the Zwinglian theories, and approaches, strange to say, the doctrine of his great antagonist, Calvin. ... He is most severe against the papal doctrine of transubstantiation or transelementation; because it turns bread into no-bread, and would make us believe that the body of Christ is eaten even by wild beasts, dogs, and mice. He calls this dogma a Satanic monstrosity and an invention of demons. [= Berkenaan dengan sakramen Baptisan, ia mengajar, bersama dengan Gereja Katolik, baptisan kelahiran baru, tetapi menolak, bersama orang-orang Anabaptis, Baptisan Bayi. ... Servetus menyimpulkan, tak seorangpun adalah seorang subyek yang cocok untuk Baptisan sebelum ia mencapai kedewasaan. ... Servetus menolak Baptisan Bayi sebagai tidak bisa diharmoniskan dengan pandangan-pandangan ini, dan sebagai menggelikan / konyol. Ia menyebutnya suatu doktrin dari setan, suatu penemuan dari Gereja Roma Katolik, dan suatu pembalikan total dari kekristenan. Ia melihat di dalamnya akar yang kedua dari semua kerusakan-kerusakan dari Gereja, seperti dogma Tritunggal adalah akar pertama. Oleh penentangannya yang bersemangat / emosionil terhadap Baptisan Bayi ia memberi kejengkelan sama banyaknya terhadap orang-orang Katolik dan Protestant seperti oleh penentangannya terhadap dogma Tritunggal. ... Dalam doktrin dari Perjamuan Kudus, Servetus berbeda dengan teori-teori Roma Katolik, Lutheran, dan Zwingli, dan mendekati, secara mengejutkan, doktrin dari musuh besarnya, Calvin. ... Ia paling keras terhadap doktrin dari Gereja Roma Katolik tentang transubstantiation atau transelementation; karena itu mengubah roti menjadi bukan roti, dan akan membuat kita percaya bahwa tubuh Kristus dimakan oleh binatang-binatang liar / buas, anjing-anjing dan tikus-tikus. Ia menyebut dogma ini sesuatu yang menakutkan yang berhubungan dengan Setan dan suatu penemuan dari setan-setan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 750-754 (Libronix).

 

David Schaff: “In the last moment he is heard to pray, in smoke and agony, with a loud voice: ‘Jesus Christ, thou Son of the eternal God, have mercy upon me!’. This was at once a confession of his faith and of his error. He could not be induced, says Farel, to confess that Christ was the eternal Son of God.” [= Pada saat terakhir terdengar ia berdoa, dalam asap dan penderitaan yang hebat, dengan suara keras: ‘Yesus Kristus, engkau Anak dari Allah yang kekal, kasihanilah aku!’. Ini sekaligus merupakan pengakuan imannya dan kesalahannya. Ia tidak bisa dibujuk, kata Farel, untuk mengaku bahwa Kristus adalah Anak yang kekal dari Allah.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 785 (Libronix).

 

David Schaff: “Servetus - theologian, philosopher, geographer, physician, scientist, and astrologer - was one of the most remarkable men in the history of heresy.” [= Servetus - ahli theologia, ahli filsafat, ahli ilmu bumi, dokter, ilmuwan, dan ahli nujum - adalah salah seorang yang paling hebat dalam sejarah bidat.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 786 (Libronix).

 

II) Perbandingan dan pertentangan Servetus dengan Calvin.

 

David Schaff: Calvin and Servetus - what a contrast! The best abused men of the sixteenth century, and yet direct antipodes of each other in spirit, doctrine, and aim: the reformer and the deformer; the champion of orthodoxy and the archheretic; the master architect of construction and the master architect of ruin, brought together in deadly conflict for rule or ruin. Both were men of brilliant genius and learning; both deadly foes of the Roman Antichrist; both enthusiasts for a restoration of primitive Christianity, but with opposite views of what Christianity is. [= Calvin dan Servetus - betul-betul suatu kontras! Orang-orang terbaik yang diperlakukan secara salah dari abad ke 16, tetapi saling bertentangan satu sama lain dalam roh / kecondongan, doktrin, dan tujuan: sang reformator dan sang perusak; sang juara / jago dari keortodoxan dan sang kepala orang sesat; sang arsitek ahli dari pembangunan dan sang arsitek ahli dari kehancuran, dibawa masuk bersama-sama dalam konflik yang mematikan untuk memerintah atau hancur. Keduanya adalah orang genius dan terpelajar yang brilian; keduanya adalah musuh-musuh mematikan dari sang anti Kristus Roma; keduanya adalah orang-orang yang bersemangat untuk suatu pemulihan dari kekristenan primitif, tetapi dengan pandangan-pandangan yang bertentangan tentang apa kekristenan itu.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, pasal 137, hal 687 (Libronix).

 

David Schaff: They were of the same age, equally precocious, equally bold and independent, and relied on purely intellectual and spiritual forces. The one, while a youth of twenty-seven, wrote one of the best systems of theology and vindications of the Christian faith; the other, when scarcely above the age of twenty, ventured on the attempt to uproot the fundamental doctrine of orthodox Christendom. Both died in the prime of manhood, the one a natural, the other a violent, death. Calvin’s works are in every theological library; the books of Servetus are among the greatest rareties. Calvin left behind him flourishing churches, and his influence is felt to this day in the whole Protestant world; Servetus passed away like a meteor, without a sect, without a pupil; yet he still eloquently denounces from his funeral pile the crime and folly of religious persecution, and has recently been idealized by a Protestant divine as a prophetic forerunner of modern christo-centric theology. [= Mereka mempunyai umur yang sama, secara sama lebih maju dalam perkembangan, secara sama berani dan tidak tergantung, dan bersandar pada semata-mata kekuatan-kekuatan intelektual dan rohani. Yang satu, pada waktu adalah seorang muda berusia 27 tahun, menulis salah satu dari sistim yang terbaik dari theologia dan pembelaan iman Kristen; yang lain, pada waktu berusia sedikit di atas 20 tahun, melakukan suatu usaha yang berbahaya untuk mencabut doktrin dasar dari dunia kristen ortodox. Keduanya mati pada usia terbaik mereka, yang satu mati secara alamiah, yang lain mati dalam suatu kematian yang ganas. Pekerjaan-pekerjaan / tulisan-tulisan Calvin ada dalam setiap perpustakaan theology; buku-buku Servetus ada di antara buku-buku yang paling jarang. Calvin meninggalkan di belakangnya gereja-gereja yang berkembang dengan baik, dan pengaruhnya dirasakan sampai jaman sekarang dalam seluruh dunia Protestan; Servetus meninggal seperti sebuah meteor, tanpa suatu sekte, tanpa seorang murid; tetapi ia secara fasih tetap mengecam dari timbunan penguburannya kejahatan dan kebodohan dari penganiayaan agamawi, dan baru-baru ini telah dianggap sebagai sesuatu yang ideal oleh seorang ahli theologia Protestan sebagai seorang pendahulu yang bersifat sebagai nabi dari theologia modern yang berpusatkan Kristus.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, pasal 137, hal 687-688 (Libronix).

Catatan: yang terakhir ini pastilah orang gila.

 

David Schaff: § 146. ‘The Restitution of Christianity.’ During his sojourn at Vienne, Servetus prepared his chief theological work under the title, ‘The Restitution of Christianity.’ He must have finished the greater part of it in manuscript as early as 1546, seven years before its publication in print; for in that year, as we have seen, he sent a copy to Calvin, which he tried to get back to make some corrections, but Calvin had sent it to Viret at Lausanne, where it was detained. It was afterwards used at the trial and ordered by the Council of Geneva to be burnt at the stake, together with the printed volume. The proud title indicates the pretentious and radical character of the book. It was chosen, probably, with reference to Calvin’s, ‘Institution of the Christian Religion.’ In opposition to the great Reformer he claimed to be a Restorer. The Hebrew motto on the title-page was taken from Dan. 12:1: ‘And at that time shall Michael stand up, the great prince;’ the Greek motto from Rev. 12:7: ‘And there was war in heaven,’ which is followed by the words, ‘Michael and his angels going forth to war with the dragon; and the dragon warred, and his angels; and they prevailed not, neither was their place found any more in heaven. And the great dragon was cast down, the old serpent, he that is called the Devil and Satan, the deceiver of the whole world.’ The identity of the Christian name of the author with the name of the archangel is significant. Servetus fancied that the great battle with Antichrist was near at hand or had already begun, and that he was one of Michael’s warriors, if not Michael himself. His ‘Restitution of Christianity’ was a manifesto of war. The woman in the twelfth chapter of Revelation he understood to be the true Church; her child, whom God saves, is the Christian faith; the great red dragon with seven heads and horns is the pope of Rome, the Antichrist predicted by Daniel, Paul, and John. At the time of Constantine and the Council of Nicaea, which divided the one God into three parts, the dragon began to drive the true Church into the wilderness, and retained his power for twelve hundred and sixty prophetic days or years; but now his reign is approaching to a close. He was fully conscious of a divine mission to overthrow the tyranny of the papal and Protestant Antichrist, and to restore Christianity to its primitive purity. ... He assured them that there were no errors in the book, and that, on the contrary, it was directed against the doctrines of Luther, Calvin, Melanchthon, and other heretics. [= § 146. ‘The Restitution of Christianity’ (Pengembalian / Pemulihan kekristenan). Selama ia tinggal sementara di Wina, Servetus menyiapkan pekerjaan / tulisan utamanya dengan judul ‘The Restitution of Christianity’. Ia pasti telah menyelesaikan sebagian besar darinya dalam naskah seawal 1546, tujuh tahun sebelum penerbitannya dalam cetakan; karena pada tahun itu, seperti telah kita lihat, ia mengirim satu salinan kepada Calvin, yang ia usahakan untuk mendapatkan kembali untuk membuat beberapa koreksi, tetapi Calvin telah mengirimkannya kepada Viret di Lausanne, dimana itu ditahan. Itu belakangan digunakan pada Sidang dan diperintahkan oleh Sidang Jenewa untuk dibakar di tiang hukuman mati, bersama-sama dengan buku-buku cetakannya. Judul yang sombong menunjukkan karakter yang sombong / menganggap diri sendiri penting dan radikal dari buku itu. Itu dipilih, mungkin, berhubungan dengan buku Calvin, ‘Institution of the Christian Religion’ (Pemulaian / Peneguhan dari Agama Kristen). Dalam pertentangan dengan tokoh Reformasi yang besar itu ia mengclaim sebagai seorang Pemulih. Motto dalam bahasa Ibrani pada halaman judul diambil dari Dan 12:1: ‘Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar itu’; motto dalam bahasa Yunani dari Wah 12:7: ‘Maka timbullah peperangan di sorga’, yang diikuti dengan kata-kata, ‘Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.’ Penyamaan nama Kristen dari sang pengarang dengan nama dari penghulu malaikat adalah penting. Servetus menganggap / mengkhayalkan bahwa pertempuran besar dengan Anti Kristus sudah dekat atau sudah dimulai, dan bahwa ia adalah salah satu dari pejuang-pejuang Mikhael, jika bukannya Mikhael sendiri. Buku ‘Restitution of Christianity’nya adalah suatu pernyataan perang. Perempuan dalam pasal ke 12 dari Wahyu ia mengerti sebagai Gereja yang benar; anaknya, yang Allah selamatkan, adalah iman Kristen; naga merah besar dengan tujuh kepala dan tanduk adalah Paus dari Roma, sang Anti Kristus yang diramalkan oleh Daniel, Paulus, dan Yohanes. Pada jaman Konstantin dan Sidang Gereja Nicea, yang membagi satu Allah menjadi tiga bagian, sang naga mulai mendorong / mendesak Gereja yang benar ke dalam padang gurun, dan mempertahankan kuasanya untuk 1260 hari atau tahun yang bersifat nubuat; tetapi sekarang pemerintahannya sedang mendekati suatu akhir. Ia sepenuhnya sadar tentang suatu missi ilahi untuk membalikkan / menghancurkan tirany dari Anti Kristus Katolik dan Protestan, dan memulihkan kekristenan pada kemurnian primitifnya. ... Ia meyakinkan mereka bahwa di sana tidak ada kesalahan-kesalahan dalam buku itu, dan bahwa, sebaliknya, itu ditujukan terhadap / menentang doktrin-doktrin dari Luther, Calvin, Melanchthon, dan bidat-bidat yang lain.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 732-735 (Libronix).

 

David Schaff: The premises and conclusions of the speculations of Servetus are pantheistic. He adopts the conception of God as the all-embracing substance. … The deity in the stone is stone, in gold it is gold, in the wood it is wood, according to the proper ideas of things. In a more excellent way the deity in man is man, in the spirit it is spirit.’ ‘God dwells in the Spirit, and God is Spirit. God dwells in the fire, and God is fire; God dwells in the light, and God is light; God dwells in the mind, and he is the mind itself.’ In one of his letters to Calvin he says: ‘Containing the essence of the universe in himself, God is everywhere, and in everything, and in such wise that he shows himself to us as fire, as a flower, as a stone.’ God is always in the process of becoming. Evil as well as good is comprised in his essence. He quotes Isa. 45:7: ‘I form the light, and create darkness; I make peace, and create evil; I am the Lord, that doeth all these things.’ The evil differs from the good only in the direction. When Calvin charged him with pantheism, Servetus restated his view in these words: ‘God is in all things by essence, presence, and power, and himself sustains all things.’ Calvin admitted this, but denied the inference that the substantial Deity is in all creatures, and, as the latter confessed before the judges, even in the pavement on which they stand, and in the devils. In his last reply to Calvin he tells him: ‘With Simon Magus you shut up God in a corner; I say, that he is all in all things; all beings are sustained in God.’ [= Logika dan kesimpulan dari spekulasi-spekulasi Servetus bersifat Pantheistik. Ia mengadopsi konsep / pengertian tentang Allah sebagai substansi yang mencakup segala sesuatu. ... Allah dalam batu adalah batu, dalam emas itu adalah emas, dalam kayu itu adalah kayu, sesuai dengan gagasan-gagasan yang benar / tepat tentang benda-benda. Dalam suatu cara yang lebih baik Allah dalam manusia adalah manusia, dalam roh itu adalah roh’. ‘Allah tinggal dalam Roh, dan Allah adalah Roh. Allah tinggal dalam api, dan Allah adalah api; Allah tinggal dalam terang, dan Allah adalah terang; Allah tinggal dalam pikiran, dan Ia adalah pikiran itu sendiri’. Dalam salah satu dari surat-suratnya kepada Calvin ia berkata: ‘Mempunyai hakekat dari alam semesta dalam diriNya sendiri, Allah ada dimana-mana, dan dalam segala sesuatu, dan sedemikian rupa sehingga Ia menunjukkan diriNya sendiri kepada kita sebagai api, sebagai suatu bunga, sebagai suatu batu’. Allah selalu ada dalam proses ‘menjadi (becoming)’. Kejahatan maupun kebaikan ada / tercakup dalam hakekatNya. Ia mengutip Yes 45:7: Aku membentuk terang, dan menciptakan gelap; Aku membuat damai, dan menciptakan bencana; Akulah Tuhan, yang melakukan semua hal-hal ini’ (KJV). Kejahatan berbeda dengan kebaikan hanya dalam arahnya. Pada waktu Calvin menuduh dia dengan pantheisme, Servetus menyatakan ulang pandangannya dengan kata-kata ini: ‘Allah ada dalam segala sesuatu oleh hakekat, kehadiran, dan kuasa, dan diriNya sendiri menopang segala sesuatu’. Calvin mengakui ini, tetapi menyangkal kesimpulan bahwa substansi Allah ada dalam semua makhluk ciptaanNya, dan, karena yang belakangan mengakui di hadapan hakim-hakim, bahkan dalam lantai di atas mana mereka berdiri, dan dalam setan-setan. Dalam jawaban terakhirnya kepada Calvin ia memberitahunya: ‘Dengan Simon Magus kamu mengurung Allah di suatu sudut; aku berkata, bahwa Ia adalah semua dalam segala sesuatu; semua makhluk-makhluk ditopang dalam Allah’.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 745-747 (Libronix).

 

David Schaff: 4. Anthropology and Soteriology. Servetus was called a Pelagian by Calvin. This is true only with some qualifications. He denied absolute predestination and the slavery of the human will, as taught first by all the Reformers. He admitted the fall of Adam in consequence of the temptation by the devil, and he admitted also hereditary sin (which Pelagius denied), but not hereditary guilt. Hereditary sin is only a disease for which the child is not responsible. (This was also the view of Zwingli.) There is no guilt without knowledge of good and evil. Actual transgression is not possible before the time of age and responsibility, that is, about the twentieth year. He infers this from such passages as Ex. 30:14; 38:26; Num. 14:29; 32:11; Deut. 1:39. ... In the fallen state man has still a free-will, reason, and conscience, which connect him with the divine grace. ... The doctrine of the slavery of the human will is a great fallacy (magna fallacia), and turns divine grace into a pure machine. It makes men idle, and neglect prayer, fasting, and almsgiving. God is free himself and gives freedom to every man, and his grace works freely in man. It is our impiety which turns the gift of freedom into slavery. The Reformers blaspheme God by their doctrine of total depravity and their depreciation of good works. All true philosophers and theologians teach that divinity is implanted in man, and that the soul is of the same essence with God. As to predestination, there is, strictly speaking, no before nor after in God, as he is not subject to time. But he is just and merciful to all his creatures, especially to the little flock of the elect. He condemns no one who does not condemn himself. [= 4. Anthropology dan Soteriology. Servetus disebut seorang Pelagian oleh Calvin. Ini hanya benar dengan beberapa persyaratan. Ia menyangkal predestinasi mutlak dan perbudakan dari kehendak manusia, sebagaimana mula-mula diajarkan oleh semua tokoh Reformasi. Ia mengakui kejatuhan Adam sebagai akibat dari pencobaan oleh setan, dan ia juga mengakui dosa turunan / warisan (yang disangkal oleh Pelagius), tetapi bukan kesalahan turunan / warisan. Dosa turunan / warisan hanyalah suatu penyakit untuk mana anak tidak bertanggung jawab. (Ini juga adalah pandangan dari Zwingli.) Di sana tidak ada kesalahan tanpa pengetahuan tentang baik dan jahat. Pelanggaran sungguh-sungguh tidak memungkinkan sebelum waktu dimana seseorang mulai bertanggung jawab, yaitu, sekitar tahun ke 20. Ia menyimpulkan ini dari text-text seperti Kel 30:14; 38:26; Bil 14:29; 32:11; Ul 1:39. ... Dalam keadaan setelah kejatuhan manusia tetap mempunyai kehendak bebas, akal, dan hati nurani, yang menghubungkan dia dengan kasih karunia ilahi. ... Doktrin tentang perbudakan dari kehendak bebas adalah suatu pandangan salah yang besar (MAGNA FALLACIA), dan menjadikan / mengubah kasih karunia ilahi menjadi sebuah mesin murni. Itu membuat manusia malas, dan mengabaikan doa, puasa, dan pemberian sedekah. Allah adalah bebas dalam diriNya sendiri dan memberikan kebebasan kepada setiap orang, dan kasih karuniaNya bekerja secara bebas dalam diri manusia. Adalah kejahatan kita yang mengubah karunia / pemberian kebebasan menjadi perbudakan. Para tokoh Reformasi menghujat Allah dengan doktrin mereka tentang total depravity / kebejatan total dan perendahan nilai yang mereka lakukan tentang perbuatan baik. Semua ahli filsafat dan ahli theologia yang benar mengajarkan bahwa keilahian ditanamkan dalam manusia, dan bahwa jiwa adalah dari hakekat yang sama dengan Allah. Berkenaan dengan predestinasi, berbicara secara ketat, di sana tidak ada sebelum atau sesudah di dalam Allah, karena Ia tidak tunduk pada waktu. Tetapi Ia adil dan penuh belas kasihan kepada semua makhluk-makhluk ciptaanNya, khususnya kepada kawanan kecil dari orang-orang pilihan. Ia tidak menghukum siapapun yang tidak menghukum dirinya sendiri.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 747-749 (Libronix).

Kel 30:14 - Setiap orang yang akan termasuk orang-orang yang terdaftar itu, yang berumur dua puluh tahun ke atas, haruslah mempersembahkan persembahan khusus itu kepada TUHAN..

Kel 38:26 - sebeka seorang, yaitu setengah syikal, ditimbang menurut syikal kudus, untuk setiap orang yang termasuk orang-orang yang terdaftar, yang berumur dua puluh tahun ke atas, sejumlah enam ratus tiga ribu lima ratus lima puluh orang..

Bil 14:29 - Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepadaKu..

Bil 32:11 - Bahwasanya orang-orang yang telah berjalan dari Mesir, yang berumur dua puluh tahun ke atas, tidak akan melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, oleh karena mereka tidak mengikut Aku dengan sepenuh hatinya,.

Ul 1:39 - Dan anak-anakmu yang kecil, yang kamu katakan akan menjadi rampasan, dan anak-anakmu yang sekarang ini yang belum mengetahui tentang yang baik dan yang jahat, merekalah yang akan masuk ke sana dan kepada merekalah Aku akan memberikannya, dan merekalah yang akan memilikinya..

 

David Schaff: In the doctrine of the Lord’s Supper, Servetus differs from the Roman Catholic, the Lutheran, and the Zwinglian theories, and approaches, strange to say, the doctrine of his great antagonist, Calvin. [= Dalam doktrin tentang Perjamuan Kudus, Servetus berbeda dengan teori-teori dari orang-orang Roma Katolik, Lutheran dan Zwingli, dan mendekati, aneh untuk dikatakan, doktrin dari musuh besarnya, Calvin.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 752 (Libronix).

 

David Schaff: Calvin felt himself called by Divine Providence to purify the Church of all corruptions, and to bring her back to the Christianity of Christ, and regarded Servetus as a servant of Antichrist, who aimed at the destruction of Christianity. Servetus was equally confident of a divine call, and even identified himself with the archangel Michael in his apocalyptic fight against the dragon of Rome and ‘the Simon Magus of Geneva.’ [= Calvin merasa dirinya sendiri dipanggil oleh Providensia Illahi untuk memurnikan Gereja dari semua kebusukan moral / kebejatan, dan untuk membawanya kembali pada kekristenan dari Kristus, dan menganggap Servetus sebagai seorang pelayan dari antikristus, yang bertujuan menghancurkan kekristenan. Servetus yakin secara sama tentang suatu panggilan ilahi, dan bahkan menyamakan dirinya sendiri dengan penghulu malaikat Mikhael dalam pertempuran akhir jamannya melawan naga Roma dan ‘Simon Magus dari Jenewa’.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, pasal 137, hal 688 (Libronix).

 

David Schaff: A mysterious force of attraction and repulsion brought these intellectual giants together in the drama of the Reformation. Servetus, as if inspired by a demoniac force, urged himself upon the attention of Calvin, regarding him as the pope of orthodox Protestantism, whom he was determined to convert or to dethrone. He challenged Calvin in Paris to a disputation on the Trinity when the latter had scarcely left the Roman Church, but failed to appear at the appointed place and hour. He bombarded him with letters from Vienne; and at last he heedlessly rushed into his power at Geneva, and into the flames which have immortalized his name. [= Suatu kekuatan misterius dari daya tarik dan kejijikan / ketidak-senangan membawa raksasa-raksasa intelektual ini dalam drama dari Reformasi. Servetus, seakan-akan diilhami oleh kekuatan setan, mendesak / mendorong dirinya sendiri pada perhatian dari Calvin, dan menganggapnya sebagai Paus dari ortodox Protestantisme, yang ia berketetapan untuk pertobatkan atau turunkan dari takhtanya. Ia menantang Calvin di Paris pada suatu perdebatan tentang Tritunggal pada waktu yang belakangan ini baru saja meninggalkan Gereja Roma, tetapi gagal untuk muncul pada tempat dan saat yang sudah ditetapkan. Ia membomi dia dengan surat-surat dari Wina; dan akhirnya ia secara ceroboh bergerak dengan cepat ke dalam kuasanya di Jenewa, dan ke dalam nyala api yang telah mengabadikan namanya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, pasal 137, hal 688-689 (Libronix).

Catatan kaki:

1.   See above, p. 324. Beza thus reports this incident: ‘Not long after Calvin returned [from Angoulême, in 1534] to Paris, as if called there by the hand of God himself; for the impious Servetus was even then disseminating his heretical poison against the sacred Trinity in that city. He professed to desire nothing more earnestly than to have an opportunity for entering into discussion with Calvin, who waited long for Servetus, the time and place for an interview having been appointed, with great danger to his own life, since he was at that time under the necessity of being concealed on account of the incensed rage of his adversaries. Calvin was disappointed in his expectations of meeting Servetus, who wanted courage to endure even the sight of his opponent.’” [= Lihat di atas, hal 324. Beza melaporkan demikian peristiwa ini: ‘Tidak lama setelah Calvin kembali (dari Angoulême, pada tahun 1534) ke Paris, seakan-akan dipanggil oleh tangan Allah sendiri; karena Servetus yang jahat pada saat itu bahkan sedang menyebar-luaskan racun kesesatannya terhadap / menentang Tritunggal yang Kudus di kota itu. Ia menyatakan tidak menginginkan apapun dengan lebih sungguh-sungguh dari pada mempunyai suatu kesempatan untuk masuk ke dalam diskusi dengan Calvin, yang menunggu lama untuk Servetus - saat dan tempat untuk suatu pertemuan formil telah ditetapkan - dengan bahaya yang besar bagi nyawanya sendiri, karena ia pada saat itu ada di bawah keharusan untuk bersembunyi karena kemarahan yang hebat dari musuh-musuhnya. Calvin kecewa dalam pengharapannya untuk bertemu dengan Servetus, yang tidak mempunyai keberanian untuk bertahan bahkan terhadap penglihatan dari lawannya’.].

2.   ‘If ever a poor fanatic thrust himself into the fire, it was Michael Servetus.’ Coleridge in his Table-Talk. [= Jika pernah ada seorang fanatik yang malang yang melemparkan dirinya sendiri ke dalam api, itu adalah Michael Servetus’. Coleridge dalam bukunya ‘Table-Talk’.].

 

David Schaff: Towards the close of the year 1534, he ventured on a visit to Paris. There he met, for the first time, the Spanish physician, Michael Servetus, who had recently published his heretical book ‘On the Errors of the Trinity’, and challenged him to a disputation. Calvin accepted the challenge at the risk of his safety, and waited for him in a house in the Rue Saint Antoine; but Servetus did not appear. Twenty years afterwards he reminded Servetus of this interview: ‘You know that at that time I was ready to do everything for you, and did not even count my life too dear that I might convert you from your errors.’ Would that he had succeeded at that time, or never seen the unfortunate heretic again. [= Sebelum akhir dari tahun 1534, ia membuka diri terhadap bahaya pada suatu kunjungan ke Paris. Di sana ia bertemu, untuk pertama kalinya, dokter Spanyol itu, Michael Servetus, yang baru-baru saja mempublikasikan buku sesatnya ‘Tentang Kesalahan-kesalahan tentang Tritunggal’, dan menantangnya pada suatu perdebatan. Calvin menerima tantangan itu dengan resiko keamanannya, dan menunggu dia di sebuah rumah di Rue Saint Antoine, tetapi Servetus tidak muncul. Dua puluh tahun setelahnya ia mengingatkan Servetus tentang pertemuan ini: ‘Kamu tahu bahwa pada saat itu aku siap untuk melakukan segala sesuatu untuk engkau, dan bahkan tidak menyayangkan nyawaku supaya aku bisa mempertobatkan kamu dari kesalahan-kesalahanmu’. Andaikata saja ia telah berhasil pada saat itu, atau tidak pernah melihat orang sesat sial itu lagi.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, pasal 76, hal 324 (Libronix).

 

David Schaff: In 1534 he was in Paris, and challenged the young Calvin to a disputation, but failed to appear at the appointed hour. [= Pada tahun 1534 ia berada di Paris, dan menantang Calvin yang masih muda pada suatu perdebatan, tetapi gagal untuk muncul pada saat yang ditetapkan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 720 (Libronix).

 

David Schaff: Seven years before the death of Servetus he had expressed his determination not to spare his life if he should come to Geneva. He wrote to Farel (Feb. 13, 1546): ‘Servetus lately wrote to me, and coupled with his letter a long volume of his delirious fancies, with the Thrasonic boast, that I should see something astonishing and unheard of. He offers to come hither, if it be agreeable to me. But I am unwilling to pledge my word for his safety; for if he does come, and my authority be of any avail, I shall never suffer him to depart alive.’ ... Servetus was a stranger in Geneva, and had committed no offence in that city. Calvin should have permitted him quietly to depart, or simply caused his expulsion from the territory of Geneva, as in the case of Bolsec. This would have been sufficient punishment. [= Tujuh tahun sebelum kematian Servetus ia telah menyatakan keputusannya untuk tidak menyayangkan nyawanya jika ia datang ke Jenewa. Ia menulis kepada Farel (13 Februari 1546): ‘Servetus akhir-akhir ini menulis kepada saya, dan menggabungkan dengan suratnya suatu volume yang panjang dari imaginasi-imaginasinya yang dikendalikan oleh emosi, dengan kebanggaan yang penuh dengan kesombongan, supaya aku melihat sesuatu yang mengherankan dan tidak pernah terdengar. Ia menawarkan untuk datang ke sini, jika itu memperkenan aku. Tetapi aku tidak mau untuk memberikan kata-kataku untuk menjamin keamanannya; karena jika ia memang datang, dan otoritasku ada gunanya, aku tidak akan membiarkan ia pergi hidup-hidup’. ... Servetus adalah seorang asing di Jenewa, dan belum melakukan pelanggaran di kota itu. Calvin seharusnya telah membiarkannya untuk pergi dengan tenang, atau sekedar menyebabkan pengusirannya dari daerah Jenewa, seperti dalam kasus dari Bolsec. Ini akan sudah merupakan hukuman yang cukup.] - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, pasal 137, hal 692 (Libronix).

 

Catatan: bagi saya, argumentasi David Schaff bahwa Servetus belum melakukan pelanggaran di Jenewa bagi saya merupakan argumentasi konyol dan bodoh. Dia sudah menyebarkan ajaran sesatnya di Basel, yang berjarak hanya sekitar 254 km dari Jenewa, dan dia dengan sangat rajin menyebarkan surat-surat sesatnya, yang disertai banyak hujatan, kepada banyak orang, termasuk Calvin sendiri, di Jenewa!

 

 

 

-bersambung-

 

SEminar

hari reformasi 2019

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tgl 30 Oktober 2019, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Calvin dan Servetus (1)

 

Pendahuluan.

 

Saya menulis dan mengkhotbahkan pelajaran ini karena adanya fitnahan-fitnahan terhadap Calvin berkenaan dengan penghukuman mati terhadap Servetus. Saya tahu sedikitnya dua orang, yaitu Guy Duty dan Suhento Liauw,  yang menulis fitnahan-fitnahan mereka berkenaan dengan Calvin dan penghukuman mati Servetus.

 

Bukan fanatisme terhadap Calvin yang membuat saya menulis dan mengkhotbahkan pelajaran ini. Alasan saya untuk menuliskan dan mengkhotbahkan pelajaran ini adalah:

 

1.            Menyatakan kebenaran.

Fitnah bukan kebenaran, tetapi suatu bentuk ketidak-benaran yang paling buruk dan kurang ajar, dan tidak bisa dibiarkan.

 

2.   Bagi saya, oleh kasih karunia Allah, Calvin adalah / menjadi seorang hamba Tuhan yang luar biasa hebatnya. Karyanya menjadi berkat yang luar biasa bagi saya sendiri, dan bagi banyak hamba-hamba Tuhan / orang-orang kristen, yang tidak membutakan mata mereka terhadap kebenaran. Kalau saya membiarkan fitnahan-fitnahan ini, dan orang-orang lalu percaya pada fitnahan-fitnahan ini, maka saya menganggap itu sebagai suatu kerugian yang luar biasa bagi gereja Tuhan!

 

Di bawah ini ada dua fitnahan yang saya berikan sebagai contoh saja, karena saya tahu bahwa pemfitnah-pemfitnah Calvin sebetulnya banyak sekali.

 

1)         Guy Duty.

Guy Duty, dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 24, berkata:

“Berbahaya sekali menentang Calvinisme pada waktu itu, seperti dialami oleh Servetus, seorang ahli theologia lain. Calvin dan rekan-rekannya di Jenewa membakarnya dengan terikat di tiang, sebagai seorang bidat.”.

 

Catatan: Buku aslinya berjudul “If Ye Continue” dan diterbitkan terjemahannya dengan izin resmi Penerbit Bukit Zaitun Surabaya. Pendeta / Gembala Sidang dari Gereja Bukit Zaitun adalah Pdt. Jusuf B. S. yang juga adalah seorang Arminian anti Calvin, yang boleh dikatakan tidak dia kenal apa-apa, baik orangnya maupun ajarannya. Saya menganggap Pdt. Jusuf B. S. bertanggung jawab terhadap penyebaran fitnah melalui buku ini!

 

2)            Suhento Liauw.

 

Tulisan Suhento Liauw tentang Calvin dan servetus

 

http://graphe-ministry.org/downloads/Pedangroh/Pedang_Roh_Edisi_47.pdf

 

Di link di atas ini ada tulisan berjudul “Kehidupan dan Tindakan John Calvin & Para Pengikutnya”. Dan dari tulisan ini saya mencuplik bagian di bawah ini (dari hal 10-11):


PENGUASA KOTA GENEVA. Dua orang temannya, Guillaume Farel dan Peter Viret, adalah orang yang berperan menempatkan Calvin hingga menjadi penguasa kota Geneva. Ketika Calvin tiba di Geneva, kota itu baru melepaskan dirinya dari kuk kekuasaan Roma pada Juli 1636. Dan kota Geneva menempati posisi yang sangat strategis karena sebagai perlintasan perdagangan. Penolakan penduduk kota Geneva terhadap Roma tidak berarti seluruh penduduknya adalah orang Kristen sejati, karena banyak diantaranya, bahkan mayoritasnya melakukan itu atas alasan politik belaka. Kota Geneva akhirnya menjadi kacau karena tidak lagi berada dibawah kontrol Roma, namun juga belum menemukan bentuknya yang mantap. Disaat seperti inilah teman Calvin memintanya datang untuk memimpin gereja di Geneva. Karena tadinya masyarakat sudah terbiasa dengan gereja-negara, maka sekalipun tidak dibawah Roma Katolik, mereka tetap menginginkan kondisi seperti semula. John Calvin masuk pada saat yang tepat untuk menggantikan kekosongan hati dan kondisi masyarakat.

 

Akhirnya Calvin menerapkan aturan yang sangat keras terhadap penduduk kota Geneva. Masyarakat dipaksa untuk mengikuti kebaktian minggu, yang tidak kebaktian akan dipenjarakan atau diusir dari kota Geneva. Seorang penata rambut dipenjarakan hanya karena telah menata rambut seorang pengantin yang dinilai oleh gereja agak spektakuler. Dua Ana-Baptis segera diusir dari kota Geneva tidak lama setelah Calvin mengambil alih kekuasaan kota Geneva hanya karena pandangan theologi mereka berbeda dari pandangan Calvin. Bahkan seseorang akan masuk penjara jika mengeluarkan bunyi pada saat sedang mengikuti kebaktian. Akhirnya banyak pemimpin kota yang tadinya mendukung usaha reform (pembaruan) Calvin menjadi kecewa. Namun mereka tidak bisa menyetop John Calvin lagi. Bahkan beberapa kali terjadi usaha pembunuhan terhadap Calvin.

 

Akhirnya John Calvin menjadi diktator kota Geneva. Hampir tidak ada hal yang tidak diatur oleh Calvin, bahkan berapa piring makanan seseorang boleh sekali makanpun ditetapkan. Pada tahun 1545 dua puluh orang dibakar hidup-hidup atas tuduhan melakukan sihir atau bertenung. Dari tahun 1542 hingga 1546 lima puluh delapan dieksekusi dan tujuh puluh enam orang diusir dari kota Geneva.

 

Seorang yang bernama Jacques Gruet, penentang ajaran Calvin ditangkap. Seluruh rumahnya digeledah dan hanya menemukan secarik kertas yang berisi tulisan yang mempertanyakan kemalangan nasib penduduk kota Geneva yang mau makan dan mau menaripun perlu diatur oleh Calvin. Sebulan penuh Gruet disiksa hingga akhirnya ia mengaku salah, dan kemudian ia dihukum mati dengan tuduhan menghujat firman Allah.

 

Michael Servetus adalah kasus yang sangat besar karena jelas ia adalah orang baik. Ia seorang yang belajar hukum dan pengobatan bahkan mengajar astrologi. Ia seorang yang sangat terpelajar dan berpikir dengan cerdas. Setelah mengkritik pengajaran Calvin melalui surat, dan suatu hari ia melewati kota Geneva. Ia berani mampir ke kota Geneva pasti karena ia tidak menyangka Calvin sekejam itu dan tega membunuh orang hanya karena mengkritiknya. Tetapi akhirnya Servetus ditangkap dan disidang. Tentu semuanya diatur oleh John Calvin karena Servetus tidak bersalah kepada siapapun selain mengirim surat yang berisi kritikan terhadap doktrin Calvin. Sangat tragis, Servetus diputuskan dibakar hidup-hidup, di Champel. Kata terakhir yang diserukan oleh Servetus ialah, ‘Oh Jesus, Son of the Eternal God, have pity on me.’”.

 

Catatan:

 

a)   Tahun 1636 itu pasti salah cetak.

 

b)   Satu hal yang harus sangat diperhatikan kalau membaca tulisan ini adalah bahwa penulisnya hanya menulis, menuduh, tetapi tidak memberikan secuil referensipun dari buku sejarah, atau buku lain, atau sumber-sumber apapun. Memang dalam majalah / buletin ini tak diberitahukan siapa penulis tulisan ini, tetapi editor dari majalah ini adalah Suhento Liauw. Jadi, dalam tulisan-tulisan di bawah, kalau saya merujuk pada tulisan ini, saya akan sebut tulisan itu sumbernya adalah Suhento Liauw. Seorang doktor yang bisa menulis tuduhan seperti itu tanpa referensi apapun, saya anggap hanya sebagai doktor abal-abal, dan juga sebagai seorang pemfitnah / penyebar hoax! Dan para pembaca yang menerima dan percaya begitu saja tulisan semacam ini, saya juga anggap sebagai orang-orang idiot. Nanti saya akan membahas tuduhan-tuduhan, atau lebih tepat fitnahan-fitnahan, yang diberikan oleh Suhento Liauw kepada Calvin ini. Tetapi kalau saya membantah, saya akan menyertakan referensi-referensinya dari buku-buku sejarah dan buku-buku lain, sumber-sumber internet seperti Wikipedia dan sebagainya.

 

c)            Tentang Jacques Gruet bisa kita baca dalam tulisan di Wikipedia dalam link ini: https://en.wikipedia.org/wiki/Jacques_Gruet

Saya tidak membahas ini secara detail, tetapi hanya memberikan tulisan singkat saja, untuk menunjukkan bahwa dalam detail kecil seperti ini saja Suhento Liauw sudah memfitnah Calvin. Kalau saudara membaca link Wikipedia yang saya berikan di atas, terlihat bahwa penangkapan dan penghukuman mati terhadap Jacques Gruet sama sekali tidak ada hubungannya dengan Calvin. Ia memang seorang penentang Calvin, tetapi Calvin tidak ada hubungannya dengan penangkapan dan penghukuman mati terhadap dia. Dia ditangkap dan dihukum mati karena ia melakukan pembunuhan dan rencana pembunuhan. Jadi, dengan memasukkan tulisan tentang orang ini, yang diputar-balikkan dan dimasukkan secara out of context, jelas sekali Suhento Liauw sudah menuliskan suatu fitnah / hoax.

 

d)   Kalau dari cuplikan yang saya berikan di atas saudara membaca sedikit lebih jauh lagi dalam tulisan Suhento Liauw itu, maka terlihat bahwa setelah membahas ‘kejahatan Calvin’, ia melanjutkan dengan membahas ‘kejahatan’ dari para pengikut Calvin. Dan dalam hal 11 dari tulisan itu saudara bisa melihat bahwa ia membicarakan seseorang yang bernama John Bunyan. Ia berkata sebagai berikut:

 

“Di seluruh Eropa, sejauh Calvinisme merambatkan pengajarannya, sejauh itu pula penganiayaan terhadap iman yang berbeda dengan gereja-negara. John Bunyan, pengarang novel terkenal The Pilgrim’s Progress dipenjarakan oleh gereja Inggris selama 12 tahun. Dan ia meninggal di penjara beberapa bulan sebelum Inggris dinyatakan sebagai negara yang bebas beragama, atau berkeyakinan.”.

 

Dengan tulisan seperti ini kelihatannya Suhento Liauw mau menunjukkan bahwa John Bunyan bukanlah orang Calvinist dan ia dianiaya karena itu dan mati karena itu.

 

Bahwa ini lagi-lagi merupakan fitnah yang luar biasa busuknya bisa terlihat pada waktu saudara membandingkan tulisan Suhento Liauw dengan cerita aslinya, yang dengan mudah bisa saudara dapatkan dengan mengetik kata-kata ‘John Bunyan’ di Google. Saya mendapatkan tulisan dari Wikipedia dalam link ini: https://en.wikipedia.org/wiki/John_Bunyan

 

Dari link di atas ini terlihat bahwa John Bunyan yang hidup lebih dari seabad setelah Calvin, adalah seorang Puritan, dan itu adalah Calvinist!! Ia memang dianiaya oleh Gereja Inggris, tetapi siapa Gereja Inggris itu? Itu adalah Gereja Anglikan. Ajarannya sama dengan Katolik, hanya mereka tidak mengakui Paus dari Katolik, tetapi mengakui raja / ratu Inggris sebagai Paus mereka. Mereka yang memenjarakan John Bunyan, karena ia adalah seorang Calvinist! Ia dipenjarakan selama 12 tahun mulai dari Januari 1661. Setelah keluar dari penjara pada tahun 1672, nanti ia dipenjarakan lagi selama sekitar 6 bulan, pada tahun 1676-1677. Lalu ia dibebaskan. Ia mati pada tanggal 31 Agustus 1688, bukan di dalam penjara, tetapi karena pada waktu ia mau mengunjungi temannya di London ia terkena badai yang menyebabkan ia jatuh sakit dan akhirnya mati.

 

Bagaimana cerita ini bisa diputar-balikkan oleh lidah seperti ular beludak dari Suhento Liauw, sehingga kelihatan bahwa John Bunyan mati karena penganiayaan para pengikut Calvin, betul-betul menunjukkan bahwa Suhento Liauw adalah pemfitnah yang luar biasa kurang ajarnya.

 

Satu dua detail merupakan fitnah, membuat saya percaya detail-detail yang lain, yang jauh lebih tidak masuk akal, juga merupakan fitnah-fitnah dari Suhento Liauw, yang menurut saya sebaiknya diberi gelar Doktor Pemfitnah, atau Doktor Penyebar Hoax.

 

Jadi saya abaikan detail-detail lain yang ia berikan dalam tulisannya, dan saya berkonsentrasi hanya dalam persoalan Servetus.

 

I) Servetus dan kesesatannya.

 

Kalau Guy Duty mengatakan bahwa kesalahan Servetus hanya ‘menentang Calvinisme’, dan Suhento Liauw mengatakan kesalahan Servetus hanya ‘mengkritik pengajaran Calvin’, ini saja sebetulnya sudah merupakan suatu fitnah, karena mereka mengecilkan kesalahan Servetus yang sebetulnya sangat besar, sehingga Calvin terlihat sangat jahat.

 

Servetus sebetulnya bukan hanya menentang atau mengkritik ajaran Calvin, apalagi ajaran khas dari Calvin seperti Predestinasi dsb, tetapi ia betul-betul adalah seorang yang sangat sesat / seorang bidat / seorang nabi palsu, dan di atas segala-galanya, ia adalah seorang penghujat yang luar biasa kurang ajarnya. Ia menentang doktrin-doktrin dasar baik dari Kristen Protestan maupun Katolik, karena ia sesat berkenaan dengan doktrin Allah Tritunggal dan juga keilahian Kristus, dan doktrin-doktrin lain. Itu akan saya buktikan dengan referensi dari banyak buku / sumber internet di bawah ini.

 

1)   Dari sumber Rev. Thomas Smyth D. D. dalam bukunya yang berjudul ‘Calvin and His Enemies’, Apendix 1 (AGES).

 

Rev. Thomas Smyth D. D.: Servetus, although opposed to the Trinity, was anything but a modern Unitarian. While the latter denies the divinity of Christ, he denied his humanity, and considered him the absolute God; thus he was one degree further removed from Unitarianism than the orthodox; otherwise, a thorough Pantheist, who asserted, even before his judges, that the bench on which he sat was God. [= Servetus, sekalipun menentang Tritunggal, adalah apapun kecuali seorang Unitarian modern. Sementara yang belakangan menyangkal keilahian Kristus, ia menyangkal kemanusiaanNya, dan menganggapNya Allah yang mutlak; jadi ia satu tingkat lebih jauh dari Unitarianisme dari pada ajaran Ortodox; dalam hal yang lain, seorang Pantheist sepenuhnya, yang menegaskan, bahkan di depan hakim-hakimnya, bahwa bangku pada mana ia duduk adalah Allah.] - ‘Calvin and His Enemies’, Apendix 1, hal 55-56 (AGES).

 

Catatan: Pantheisme adalah ajaran yang mengajarkan bahwa Allah adalah segala sesuatu, dan segala sesuatu adalah Allah.

 

2)   Dari sumber William Wileman dalam bukunya yang berjudul ‘John Calvin. His Life, His Teaching & His Influence’ (AGES).

 

William Wileman: In 1530 he published a book ‘On the Errors of the Trinity.’ His views need not be given here; one specimen will suffice to give an idea of them. He said that the doctrine of the Trinity was ‘a three-headed Cerberus, a dream of Augustine, and an invention of the devil.’ [= Pada tahun 1530 ia menerbitkan buku ‘Tentang Kesalahan-kesalahan dari Tritunggal’. Pandangan-pandangannya tidak perlu diberikan di sini; satu contoh cukup untuk memberikan suatu gagasan tentang mereka. Ia berkata bahwa doktrin dari Tritunggal adalah ‘seekor Cerberus berkepala tiga, sebuah mimpi dari Agustinus, dan suatu penemuan dari setan / iblis’.] - ‘John Calvin. His Life, His Teaching & His Influence’, hal 81 (AGES).

 

Catatan:

a)      Dalam mitology Yunani Cerberus adalah seekor anjing berkepala tiga penjaga dari Hades supaya orang mati yang masuk ke sana tidak bisa lolos. Kalau saudara mau tahu dengan lebih mendetail tentang Cerberus ini baca di link ini: https://en.wikipedia.org/wiki/Cerberus#Descriptions

 

b)      Dan dalam link ini saudara bisa melihat beberapa gambar dari Cerberus - https://www.google.com/search?sxsrf=ACYBGNQaCGR59hPcfkof63AHRHSrLshrPg:1572399700708&q=picture+of+Cerberus&tbm=isch&source=univ&client=firefox-b-d&sxsrf=ACYBGNQaCGR59hPcfkof63AHRHSrLshrPg:1572399700708&sa=X&ved=2ahUKEwi87Ous7cLlAhXGVisKHeveCAwQsAR6BAgGEAE&biw=811&bih=384

 

William Wileman: The book, however, on which his trial was based was his ‘Restitutio Christianismi.’ Only two copies of this are known to exist; and both are out of England. I have seen a copy of the reprint of 1790. Servetus sent the manuscript of this to Calvin for his perusal; and a lengthy correspondence took place between them, extending from 1546 to 1548. Of this Calvin says: ‘When he was at Lyons he sent me three questions to answer. He thought to entrap me. That my answer did not satisfy him I am not surprised.’ To Servetus himself he wrote: ‘I neither hate you nor despise you; nor do I wish to persecute you; but I would be as hard as iron when I behold you insulting sound doctrine with so great audacity.’ [= Tetapi buku pada mana pengadilannya didasarkan adalah bukunya yang berjudul ‘Restitutio Christianismi’. Hanya dua salinan dari buku ini yang diketahui ada; dan keduanya berada di luar Inggris. Saya pernah melihat sebuah salinan dari terbitan ulang dari tahun 1790. Servetus mengirim naskah dari buku ini kepada Calvin untuk pemeriksaan / pembelajarannya; dan surat-menyurat yang panjang terjadi di antara mereka, mulai tahun 1546 sampai 1548. Tentang hal ini Calvin berkata: ‘Pada waktu ia berada di Lyons ia mengirim aku tiga pertanyaan untuk dijawab. Ia berpikir untuk menjebak / memikat aku. Bahwa jawabanku tidak memuaskan dia aku tidak terkejut’. Kepada Servetus sendiri ia menulis: ‘Aku tidak membenci kamu ataupun merendahkan / menghina kamu; juga aku tidak ingin menganiaya kamu; tetapi aku akan menjadi sekeras besi pada waktu aku melihat kamu menghina ajaran / doktrin yang sehat dengan keberanian / kekurang-ajaran yang begitu besar’.] - ‘John Calvin. His Life, His Teaching & His Influence’, hal 81 (AGES).

 

William Wileman: The thirty-eight articles of accusation were drawn up by Calvin. Two examinations took place. At the second of these, Servetus persisted in one of his errors, namely, that all things, ‘even this footstool,’ are the substance of God. [= Tiga puluh delapan artikel tuduhan ditarik / disiapkan oleh Calvin. Dua pemeriksaan terjadi. Pada yang kedua dari pemeriksaan ini, Servetus berkeras dalam salah satu dari kesalahan-kesalahannya, yaitu, bahwa segala sesuatu, ‘bahkan bangku kayu ini’, adalah substansi / bahan dari Allah.] - ‘John Calvin. His Life, His Teaching & His Influence’, hal 82 (AGES).

Catatan: kata-katanya ini menunjukkan bahwa ia mempercayai Pantheisme, yaitu ajaran yang mempercayai bahwa Allah adalah segala sesuatu, dan segala sesuatu adalah Allah.

 

William Wileman: The main facts therefore may now be summarized thus: 1. That Servetus was guilty of blasphemy, of a kind and degree which is still punishable here in England by imprisonment. [= Karena itu fakta-fakta utama sekarang bisa diringkas seperti ini: 1. Bahwa Servetus bersalah tentang penghujatan, tentang suatu jenis dan tingkat yang sampai sekarang tetap bisa dihukum dengan pemenjaraan di sini di Inggris.] - ‘John Calvin. His Life, His Teaching & His Influence’, hal 83-84 (AGES).

 

3)   Dari sumber Wikipedia - https://en.m.wikipedia.org/wiki/Michael_Servetus

 

Wikipedia: Michael Servetus (/sərˈviːtəs/; Spanish: Miguel Serveto as real name, French: Michel Servet), also known as Miguel Servet, Miguel de Villanueva, Michel Servet, Revés, or Michel de Villeneuve (Villanueva de Sigena, Aragón, Spain, 29 September 1509 or 1511 – 27 October 1553), was a Spanish theologian, physician, cartographer, and Renaissance humanist. He was the first European to correctly describe the function of pulmonary circulation, as discussed in Christianismi Restitutio (1553). He was a polymath versed in many sciences: mathematics, astronomy and meteorology, geography, human anatomy, medicine and pharmacology, as well as jurisprudence, translation, poetry and the scholarly study of the Bible in its original languages. He is renowned in the history of several of these fields, particularly medicine..

Catatan: Bagian ini tidak saya terjemahkan, hanya saya berikan ringkasannya saja. Bagian ini menunjukkan bahwa Servetus mempunyai banyak nama. Perbedaan itu ada yang terjadi karena perbedaan bahasa, tetapi juga ada yang memang betul-betul berbeda (nama samaran). Juga bahwa ia bukan hanya mempelajari theologia dan bahasa-bahasa asli Alkitab, tetapi juga sangat banyak ilmu lain, seperti kedokteran (ia adalah seorang dokter), matematik, astronomy / ilmu perbintangan, ilmu tentang cuaca, ilmu bumi, ilmu tentang anatomi manusia, ilmu pengobatan. Dan ia berprestasi sangat bagus dalam ilmu-ilmu sekuler itu. Ini semua menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang luar biasa pandai.

 

Wikipedia: He participated in the Protestant Reformation, and later developed a heterodox view of the Trinity and Christology. After being condemned by Catholic authorities in France, he fled to Calvinist Geneva where he was burnt at the stake for heresy by order of the city’s governing council. [= Ia berpartisipasi dalam Reformasi Protestan, dan belakangan mengembangkan suatu pandangan yang unortodox / berbeda dengan pandangan-pandangan umum tentang Tritunggal dan Kristologi. Setelah dikecam / dijatuhi hukuman oleh otoritas / penguasa / hakim Katolik di Perancis, ia lari pada Jenewa yang Calvinist dimana ia dibakar pada tiang hukuman mati dengan pembakaran untuk kesesatan oleh perintah dari sidang pemerintah kota.].

 

Wikipedia: Quintana became Charles V’s confessor in 1530, and Servetus joined him in the imperial retinue as his page or secretary. Servetus travelled through Italy and Germany, and attended Charles’ coronation as Holy Roman Emperor in Bologna. He was outraged by the pomp and luxury displayed by the Pope and his retinue, and decided to follow the path of reformation. It is not known when Servetus left the imperial entourage, but in October 1530 he visited Johannes Oecolampadius in Basel, staying there for about ten months, and probably supporting himself as a proofreader for a local printer. By this time he was already spreading his theological beliefs. [= Quintana menjadi pastor kepada siapa Charles V mengaku dosa pada tahun 1530, dan Servetus bergabung dengan dia dalam kelompok pembantu kaisar sebagai pembantu atau sekretarisnya. Servetus berkeliling melalui Italia dan Jerman, dan menghadiri penobatan / pemakhkotaan Charles sebagai Kaisar Romawi yang Kudus di Bologna. Ia dibuat menjadi marah oleh kemegahan / pameran dan kemewahan yang ditunjukkan oleh Paus dan pembantu-pembantunya, dan memutuskan untuk mengikuti jalan dari Reformasi. Tidak diketahui kapan Servetus meninggalkan kelompok pembantu kaisar itu, tetapi pada bulan Oktober 1530 ia mengunjungi Johannes Oecolampadius di Basel, tinggal di sana untuk sekitar sepuluh bulan, dan mungkin mencukupi kebutuhannya sendiri sebagai seorang pembaca (untuk menemukan kesalahan) untuk suatu percetakan lokal. Pada saat ini ia sudah menyebarkan kepercayaan theologianya.].

 

Wikipedia: Two months later, in July 1531, Servetus published De Trinitatis Erroribus (On the Errors of the Trinity). The next year he published the work Dialogorum de Trinitate (Dialogues on the Trinity) and the supplementary work De Iustitia Regni Christi (On the Justice of Christ’s Reign) in the same volume. After the persecution of the Inquisition, Servetus assumed the name ‘Michel de Villeneuve’ while he was staying in France. [= Dua bulan kemudian, dalam bulan Juli 1531, Servetus menerbitkan De Trinitatis Erroribus (Tentang Kesalahan-kesalahan dari Tritunggal). Tahun berikutnya ia menerbitkan tulisan Dialogorum de Trinitate (Dialog tentang Tritunggal) dan tulisan tambahan (apendix) De Iustitia Regni Christi (Tentang Keadilan Pemerintahan Kristus) dalam volume / buku yang sama. Setelah penganiayaan dari Inquisisi / Pengadilan Katolik untuk menekan kesesatan, Servetus mengambil nama ‘Michel de Villeneuve’ pada waktu ia tinggal di Perancis.].

 

Wikipedia: In 1553 Michael Servetus published yet another religious work with further anti-trinitarian views. It was entitled Christianismi Restitutio (The Restoration of Christianity), a work that sharply rejected the idea of predestination as the idea that God condemned souls to Hell regardless of worth or merit. God, insisted Servetus, condemns no one who does not condemn himself through thought, word, or deed. [= Pada tahun 1553 Michael Servetus menerbitkan lagi sebuah tulisan agamawi yang lain dengan pandangan-pandangan anti Trinitarian yang lebih jauh lagi. Itu diberi judul Christianismi Restitutio (Pemulihan dari Kekristenan), suatu tulisan yang secara tajam menolak gagasan tentang predestinasi sebagai suatu gagasan bahwa Allah menghukum / memasukkan jiwa-jiwa ke neraka tanpa mempedulikan nilai / kwalitet atau jasa. Allah, Servetus berkeras, tidak menghukum siapapun yang tidak menghukum dirinya sendiri melalui pikiran, perkataan, atau perbuatan.].

 

Wikipedia: At his trial, Servetus was condemned on two counts, for spreading and preaching Nontrinitarianism, specifically, Modalistic Monarchianism, or Sabellianism, and anti-paedobaptism (anti-infant baptism). Of paedobaptism Servetus had said, ‘It is an invention of the devil, an infernal falsity for the destruction of all Christianity.’ [= Pada pengadilannya, Servetus dihukum atas dua tuduhan, untuk menyebarkan dan mengkhotbahkan Ajaran Non Trinitarian, secara khusus Modalistic Monarchianism, atau Sabellianisme, dan anti-paedobaptism (anti baptisan bayi). Tentang Baptisan Bayi Servetus telah berkata, ‘Itu adalah suatu penemuan dari setan, suatu kepalsuan / dusta dari neraka untuk kehancuran dari seluruh kekristenan.].

 

Wikipedia: Calvin believed Servetus deserved death on account of what he termed as his ‘execrable blasphemies’. ... of the man’s effrontery I will say nothing; but such was his madness that he did not hesitate to say that devils possessed divinity; yea, that many gods were in individual devils, inasmuch as a deity had been substantially communicated to those equally with wood and stone. [= Calvin percaya Servetus layak mati karena apa yang ia sebut ‘hujatan-hujatannya yang sangat buruk / menjengkelkan’. ... tentang keberanian / kekurang-ajarannya aku tak akan berkata apa-apa; tetapi demikianlah kegilaannya sehingga ia tidak ragu-ragu untuk mengatakan bahwa setan-setan mempunyai keilahian; ya, bahwa banyak allah-allah berada di dalam setan-setan secara individuil, sama seperti seorang allah telah secara substansi diberikan kepada mereka yang sama dengan kayu dan batu.].

 

Wikipedia: In his first two books (De trinitatis erroribus, and Dialogues on the Trinity plus the supplementary De Iustitia Regni Christi) Servetus rejected the classical conception of the Trinity, stating that it was not based on the Bible. ... Servetus hoped that the dismissal of the trinitarian dogma would make Christianity more appealing to believers in Judaism and Islam, which had preserved the unity of God in their teachings. According to Servetus, trinitarians had turned Christianity into a form of ‘tritheism’, or belief in three gods. Servetus affirmed that the divine Logos, the manifestation of God and not a separate divine Person, was incarnated in a human being, Jesus, when God’s spirit came into the womb of the Virgin Mary. Only from the moment of conception was the Son actually generated. Therefore, although the Logos from which He was formed was eternal, the Son was not Himself eternal. For this reason, Servetus always rejected calling Christ the ‘eternal Son of God’ but rather called him ‘the Son of the eternal God.’ [= Dalam kedua buku pertamanya (De trinitatis erroribus, dan Dialogues on the Trinity ditambah dengan tambahan / apendixnya De Iustitia Regni Christi) Servetus menolak pengertian / kepercayaan klasik tentang Tritunggal, dengan menyatakan bahwa itu tidak didasarkan pada Alkitab. ... Servetus berharap bahwa pembuangan dogma Trinitarian ini akan membuat kekristenan lebih menarik bagi orang-orang percaya dalam Yudaisme dan Islam, yang telah memelihara kesatuan Allah dalam ajaran-ajaran mereka. Menurut Servetus, orang-orang yang mempercayai Tritunggal telah mengubah kekristenan menjadi suatu bentuk ‘tritheisme’, atau kepercayaan kepada tiga allah. Servetus menegaskan bahwa Logos yang ilahi, manifestasi dari Allah dan bukan suatu Pribadi yang terpisah, diinkranasikan dalam seorang manusia, Yesus, pada waktu Roh Allah datang ke dalam kandungan Perawan Maria. Hanya dari saat pembuahanlah sang Anak betul-betul diperanakkan. Karena itu, sekalipun sang Logos dari mana Ia dibentuk adalah kekal, Anak itu sendiri tidaklah kekal. Untuk alasan ini, Servetus selalu menolak menyebut Kristus ‘Anak yang kekal dari Allah’ tetapi menyebutNya ‘Anak dari Allah yang kekal’.].

 

Wikipedia: Servetus asserted that the Father, Son and Holy Spirit were dispositions of God, and not separate and distinct beings.’ Wilbur promotes the idea that Servetus was a modalist. [= Servetus menegaskan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah kecondongan-kecondongan / watak-watak (?) dari Allah, dan bukan keberadaan-keberadaan yang terpisah dan berbeda’. Wilbur mengajukan / mengusulkan gagasan bahwa Servetus adalah seorang Modalist.].

Catatan: Modalisme = Sabelianisme.

 

Wikipedia: This theology, though original in some respects, has often been compared to Adoptionism, Arianism, and Sabellianism, all of which Trinitarians rejected in favour of the belief that God exists eternally in three distinct persons. Nevertheless, Servetus rejected these theologies in his books: Adoptionism, because it denied Jesus’s divinity; Arianism, because it multiplied the hypostases and established a rank; and Sabellianism, because it seemingly confused the Father with the Son, though Servetus himself does appear to have denied or diminished the distinctions between the Persons of the Godhead, rejecting the Trinitarian understanding of One God in Three Persons. [= Theologia ini, sekalipun orisinil dalam beberapa aspek, telah sering dibandingkan dengan Adoptionisme, Arianisme, dan Sabelianisme, semua yang ditolak oleh orang-orang yang mempercayai Tritunggal yang mendukung kepercayaan bahwa Allah berada secara kekal dalam tiga Pribadi yang berbeda (distinct). Tetapi Servetus menolak theologia-theologia ini dalam buku-bukunya: Adoptionisme, karena ajaran itu menyangkal keilahian Yesus; Arianisme, karena ajaran itu meningkatkan jumlah dari hypostases / hakekat dan meneguhkan suatu tingkatan; dan Sabelianisme, karena ajaran itu kelihatannya gagal untuk membedakan Bapa dengan Anak, sekalipun Servetus sendiri kelihatan telah menyangkal atau mengurangi perbedaan-perbedaan antara Pribadi-pribadi dari Allah, menolak pengertian Trinitarian tentang Satu Allah dalam Tiga Pribadi.].

 

Wikipedia: Servetus also had very unorthodox views on the end times. He believed that he was the Michael referenced in both Daniel and Revelation who would fight the Antichrist. Furthermore, he believed that all this would take place in his lifetime. This possibly explains his decision to visit Calvin in Geneva. Servetus could have thought that he was somehow bringing about the beginnings of the end times by facing those who argued and fought against him. [= Servetus juga mempunyai pandangan-pandangan yang sangat tidak ortodox tentang akhir jaman. Ia percaya bahwa ia adalah Mikhael yang direferensikan baik dalam kitab Daniel dan kitab Wahyu yang akan memerangi Sang Anti Kristus. Lebih jauh lagi, ia percaya bahwa semua ini akan terjadi pada masa hidupnya. Ini mungkin menjelaskan keputusannya untuk mengunjungi Calvin di Jenewa. Servetus bisa telah berpikir bahwa entah bagaimana ia sedang membawa permulaan dari akhir jaman dengan menghadapi mereka yang berargumentasi dan bertengkar dengannya.].

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

[email protected]

http://golgothaministry.org

Email : [email protected]