(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 12 Mei 2024, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
bukti-bukti bahwa
yesus adalah allah(19)
XV) Yesus ‘diidentikkan’ dengan Tuhan dan Allah.
1) Mark 5:19 - “Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: ‘Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan (TDB: ‘Yehuwa’) atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!’”.
Luk 8:39 - “‘Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu.’”.
Dari kedua ayat ini terlihat bahwa Yesus memerintahkan orang yang telah Ia sembuhkan dari kerasukan setan itu untuk menceritakan apa yang telah diperbuat oleh Tuhan / Allah atasnya.
Apa yang Yesus perintahkan itu sesuai dengan Maz 66:16 - “Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukanNya terhadap diriku.”.
Tetapi apa yang lalu terjadi?
Mark 5:20 - “Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.”.
Luk 8:39b - “Orang itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.”.
Orang itu ternyata menceritakan apa yang diperbuat oleh Yesus atasnya. Jelas bahwa Yesus dianggap sebagai ‘Tuhan’ (TDB: ‘Yehuwa’) dan ‘Allah’.
2) Kekristenan disebut sebagai ‘jalan Tuhan [= Yesus]’ dan juga sebagai ‘jalan Allah’.
Dalam tafsirannya tentang Kis 18:24-28, William Barclay berkata: “Christianity is here described as The Way of the Lord. One of the commonest titles in Acts is The Way (9:2; 19:9,23; 22:4; 24:14,22);” [= Kekristenan di sini digambarkan sebagai Jalan Tuhan. Salah satu gelar yang paling umum dalam Kisah Rasul adalah ‘Jalan’ (9:2; 19:9,23; 22:4; 24:14,22);] - hal 139.
Kis 13:10 - “dan berkata: ‘Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?”.
Kis 18:25-26 - “(25) Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. (26) Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah.”.
Saksi-Saksi Yehuwa lagi-lagi membengkokkan terjemahan Kitab Suci, karena dalam TDB kata ‘Tuhan’ dalam Kis 13:10 maupun Kis 18:25 diterjemahkan ‘Yehuwa’. Terjemahan TDB ini mustahil, dan kata ‘Tuhan’ dalam Kis 13:10 dan Kis 18:25 pasti menunjuk kepada Yesus, karena:
a) Dalam Kis 13:6-8, Paulus sedang memberitakan Injil (tentang Yesus) kepada gubernur, dan seorang tukang sihir berusaha menghalangi gubernur itu untuk percaya kepada Yesus. Lalu Paulus mengucapkan kata-kata dalam Kis 13:10 itu kepada tukang sihir itu.
b) Kis 18:25b mengatakan ‘ia mengajar tentang Yesus’.
c) Kekristenan bisa disebut ‘jalan Tuhan / Yesus’, mungkin ada hubungannya dengan kata-kata Yesus: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup’ (Yoh 14:6a).
Dengan demikian kata ‘Tuhan / Yesus’ dalam Kis 13:10 dan Kis 18:25 bisa diganti dengan kata ‘Allah’ dalam Kis 18:26, dan itu menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.
3) Hari kedatangan Yesus yang keduakalinya disebut ‘hari Tuhan [= Yesus]’ dan juga ‘hari Allah’.
Ada banyak ayat dalam Kitab Suci yang menyebut hari kedatangan Yesus yang keduakalinya sebagai ‘hari Tuhan’, dimana kata ‘Tuhan’ itu jelas menunjuk kepada Yesus:
a) Kis 2:20 - “Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan (TDB: ‘hari Yehuwa’), hari yang besar dan mulia itu.”.
b) 1Kor 1:8 - “Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan (TDB: ‘hari Tuan’) kita Yesus Kristus.”.
c) 1Kor 5:5 - “orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan (TDB: ‘hari Tuan’).”.
d) 2Kor 1:14 - “seperti yang telah kamu pahamkan sebagiannya dari kami, yaitu bahwa pada hari Tuhan (TDB: ‘hari Tuan’) Yesus kamu akan bermegah atas kami seperti kami juga akan bermegah atas kamu.”.
e) 1Tes 5:2 - “karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan (TDB: ‘hari Yehuwa’) datang seperti pencuri pada malam.”.
f) 2Tes 2:2 - “supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan (TDB: ‘hari Yehuwa’) telah tiba.”.
g) 2Pet 3:10 - “Tetapi hari Tuhan (TDB: ‘hari Yehuwa’) akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.”.
Perhatikan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa mengubah kata ‘hari Tuhan’ itu menjadi ‘hari Yehuwa’. Tetapi mereka tidak bisa mengubah semuanya, karena ada ayat-ayat dimana kata-kata ‘hari Tuhan’ itu diikuti / didahului dengan nama Yesus / Yesus Kristus, sehingga dalam ayat-ayat ini mereka terpaksa menterjemahkan dengan ‘hari Tuan’, seperti dalam 1Kor 1:8 1Kor 5:5 2Kor 1:14.
Sekarang perhatikan 2Pet 3:12 - “yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya.”.
KJV/RSV/NIV/NASB/NKJV/ASV: ‘the day of God’ [= hari Allah].
Jadi, kata ‘Tuhan’ yang dipakai dalam ayat-ayat di atas untuk menunjuk kepada Yesus, sekarang diganti dengan kata ‘Allah’. Dan ini menunjukkan bahwa Yesus memang adalah ‘Tuhan’ maupun ‘Allah’ sendiri.
Kurang ajarnya, dalam NWT / TDB Saksi-Saksi Yehuwa menterjemahkan 2Pet 3:12 ini sebagai ‘the day of Jehovah’ [= hari Yehuwa], padahal di sini digunakan kata Yunani TOU THEOU [= the God / sang Allah].
Tetapi ini tidak mengurangi kekuatan argumentasi kita. Karena dengan menggunakan terjemahan NWT / TDB maka Yesus, yang digambarkan sebagai ‘Tuan’ dalam ayat-ayat tertentu, digambarkan sebagai ‘Yehuwa’ dalam ayat-ayat yang lain. Jadi Yesus adalah Yehuwa!
Penutup.
Sebagai penutup dalam bagian tentang bukti-bukti keilahian Kristus ini, saya ingin memberikan beberapa pandangan / kutipan dari para penafsir / ahli theologia, tentang orang-orang yang menyangkal keilahian Yesus.
1. Hanya orang yang sengaja membutakan diri dan tidak mau melihat kebenaran, yang bisa menyangkal keilahian Kristus, yang begitu banyak dinyatakan dalam Kitab Suci.
Loraine Boettner: “In view of this great mass of evidence we are completely unable to understand how any fair-minded person can rise up and say, as do the Unitarians and Modernists, that Christ was not Deity, or that He did not claim Deity. In fact, we must go farther and say that such opposition appears to be based on nothing other than blind opposition and a determination not to accept that evidence no matter how clear and strong it may be.” [= Mengingat bukti yang begitu banyak kami sama sekali tidak bisa mengerti bagaimana seseorang yang mempunyai pikiran yang adil / fair bisa berdiri dan berkata, seperti yang dilakukan oleh penganut-penganut Unitarianisme dan Modernisme, bahwa Kristus bukanlah Allah, atau bahwa Ia tidak mengclaim keAllahan. Dalam faktanya, kita harus melanjutkan dan berkata bahwa oposisi seperti itu kelihatannya tidak didasarkan pada apapun selain oposisi yang buta dan suatu ketetapan hati untuk tidak menerima bukti tak peduli betapa jelas dan kuatnya bukti itu.] - ‘Studies in Theology’, hal 180.
William Barclay, dalam komentarnya tentang Yoh 3:7-13, berkata:
“There are two kinds of misunderstanding. There is the misunderstanding of the man who misunderstands because he has not yet reached a stage of knowledge and of experience at which he is able to grasp the truth. ... There is also the misunderstanding of the man who is unwilling to understand; there is a failure to see which comes from the refusal to see. A man can deliberately shut his mind to truth which he does not wish to accept.” [= Ada 2 macam kesalah-mengertian. Ada kesalah-mengertian dari orang yang salah mengerti karena ia belum mencapai tingkat pengetahuan dan pengalaman dimana ia bisa mengerti kebenaran. ... Ada juga kesalah-mengertian dari orang yang tidak mau mengerti; ada kegagalan untuk melihat yang datang dari penolakan untuk melihat. Seseorang bisa secara sengaja menutup pikirannya terhadap kebenaran yang tidak ingin ia terima.] - hal 130-131.
A. T. Robertson memberikan komentar tentang Yoh 3:9 dengan kata-kata yang serupa:
“There are none so dull as those who will not see. Preoccupation prevents insight. Literally one must often empty his mind to receive new truth.” [= Tidak ada orang yang begitu bodoh seperti mereka yang tidak mau melihat. Pikiran yang sudah terisi menghalangi pengertian. Secara hurufiah seseorang harus sering mengosongkan pikirannya untuk menerima kebenaran yang baru.] - hal 47.
2. Penyangkalan terhadap keilahian Kristus membuat seseorang tidak mungkin bisa mengerti Kitab Suci dengan baik / benar.
Loraine Boettner: “Any denial of the Deity of Christ, together with the implication that He was merely a great teacher or prophet, gives one viewpoint other than that from which the Scriptures are written and makes it impossible for him to comprehend the system of truth that is revealed in Scripture. Such denial throws one out of harmony with the great Source of wisdom and truth, which is God, and causes him to attempt to explain intellectually that which can only be discerned spiritually.” [= Penyangkalan apapun terhadap keAllahan Kristus, bersama-sama dengan pengertian bahwa Ia hanyalah semata-mata guru atau nabi yang agung, memberikan kepada seseorang sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang dari mana Kitab Suci ditulis, dan membuat mustahil baginya untuk mengerti sistim kebenaran yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Penyangkalan seperti itu melemparkan orang itu keluar dari keharmonisan dengan Sumber dari hikmat dan kebenaran, yang adalah Allah, dan menyebabkan dia berusaha untuk menjelaskan secara intelektual apa yang hanya bisa dilihat secara rohani.] - ‘Studies in Theology’, hal 180.
3. Penyangkalan terhadap keilahian Kristus membuat seseorang tidak bisa mengerti Kitab Suci, dan juga membuang dirinya sendiri dari persekutuan orang-orang yang ditebus.
Kurt Koch: “Christ is the key who unlocks the Holy Scriptures. Anyone who tries to exclude Him will not get to the heart of the Bible. Anyone who denies the divinity of Christ cuts himself off from the community of the redeemed.” [= Kristus adalah kunci yang membuka Kitab Suci yang Kudus. Siapapun yang berusaha untuk mengeluarkan / membuang Dia tidak akan mencapai hati / inti dari Alkitab. Siapapun yang menyangkal keilahian Kristus membuang / memotong dirinya sendiri dari masyarakat / himpunan orang-orang yang ditebus.] - ‘Occult ABC’, hal 109.
Dengan kata lain, orang yang menyangkal keilahian Kristus, tidak akan selamat, tetapi akan mati dalam dosanya.
Bdk. Yoh 8:23-24 - “(23) Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. (24) Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.’”.
Hanya ada dua macam kematian:
a. Mati dalam dosa / kesalahan.
Yeh 3:18-19 - “(18) Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! - dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. (19) Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.”.
Yeh 33:8-9 - “(8) Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! - dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. (9) Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.”.
b. Mati dalam Tuhan.
Wah 14:13 - “Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: ‘Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.’ ‘Sungguh,’ kata Roh, ‘supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.’”.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali