KEBAKTIAN online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 21 April 2024, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

bukti-bukti bahwa

yesus adalah allah(16)

 

IX) Kol 2:9.

 

Kol 2:9 - “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan”.

Kol 2:9 (TDB): “karena dalam dialah seluruh kepenuhan sifat ilahi itu berdiam secara jasmani”.

NWT: ‘divine quality’ [= kwalitet ilahi].

KJV: ‘Godhead’ [= keAllahan].

RSV/NIV/NASB: ‘Deity’ [= Keilahian].

Yunani: θεότητος (THEOTETOS).

 

Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan: “Menurut Greek-English Lexicon, oleh Liddell dan Scott, THEOTES (bentuk nominatif, asal dari kata THEOTETOS) berarti ‘keilahian, sifat ilahi.’ (Oxford, 1968, h. 792) Benar-benar ‘ilahi,’ atau ‘bersifat ilahi,’ tidak membuat Yesus Anak Allah yang setara atau sama kekalnya dengan Bapa, sama dengan kenyataan bahwa semua manusia memiliki ‘kemanusiaan’ atau ‘sifat manusia’ tidak membuat mereka semua sama atau seumur.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 408-409.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Bagian yang saya garis bawahi itu hanya bisa diterima kalau Allahnya ada banyak. Disamping itu, sekalipun semua manusia yang mempunyai ‘kemanusiaan’ memang tidak seumur, tetapi di hadapan Allah mereka semua setingkat. Berkenaan dengan Allah, karena Allah hanya satu / hakekatNya hanya satu, maka kalau Yesus ‘benar-benar ilahi’, Ia pasti setara dan seumur dengan Allah (Bapa).

 

2)   Mari kita soroti kata ‘keAllahan’ [yang diterjemahkan sifat ilahi’ oleh TDB; dan ‘divine quality {= kwalitet ilahi} oleh NWT].

Saksi Yehuwa melakukan penterjemahan yang salah (sengaja disalahkan?) terhadap Lexiconnya Liddel & Scott itu. ‘Kebetulan’ saya mempunyai Lexicon Greek-English karya Liddell & Scott, hanya saja punya saya adalah edisi yang lebih baru, yaitu dari tahun 1978. Saya mencari kata θεότης (THEOTES) itu dan saya mendapati bahwa kata itu berasal dari kata THEOS [= Allah], dan artinya adalah ‘divinity’ atau ‘divine nature’. Kata ‘divinity’ memang artinya adalah ‘keilahian’, tetapi bagaimana dengan kata-kata ‘divine nature’? Memang istilah ‘divine nature’ sering diterjemahkan sifat ilahi’, tetapi ini jelas merupakan terjemahan yang salah! Terjemahan yang benar adalah hakekat ilahi’.

 

Menurut ‘Webster’s New World Dictionary of the American Language’ (College Edition) kata ‘nature’ mempunyai 10 arti dan yang nomer 1 adalah: “The essential character of a thing; quality or qualities that make something what it is; essence [= Sifat-sifat yang hakiki dari suatu benda; kwalitas yang membuat sesuatu itu dirinya; hakekat].

 

Dalam Theologia / Kristologi, saya berpendapat bahwa istilah ‘nature’ itu harus diterjemahkan ‘hakekat’, bukan ‘sifat’!

 

William G. T. Shedd, seorang ahli Theologia Reformed pada abad 19, mengatakan: “When we  speak of a human nature, a real substance having physical, rational, moral and spiritual properties is meant.” [= Pada waktu kita berbicara tentang human nature, maka yang dimaksud adalah suatu zat yang nyata yang memiliki sifat-sifat fisik, rasio, moral dan rohani.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 289.

 

Charles Hodge juga mengatakan hal yang serupa, yang terlihat dari kutipan-kutipan ini:

a)   “By ‘nature’, in this connection is meant substance. In Greek the corresponding words are PHUSIS and OUSIA; in Latin, NATURA and SUBSTANTIA.” [= Yang dimaksud dengan ‘nature’ dalam persoalan ini adalah zat / bahan / hakekat. Dalam bahasa Yunani kata yang cocok / sama ialah PHUSIS dan OUSIA; dalam Latin NATURA dan SUBSTANTIA.] - ‘System­atic Theology’, vol II, hal 387.

b)   “... we are taught that the elements combined in the consti­tution of his person, namely, humanity and divinity, are two distinct natures, or substances.” [= ... kita diajar bahwa elemen-elemen yang disatukan / digabungkan dalam pembentukan pribadiNya, yaitu kemanusiaan dan keilahian, adalah dua natures atau zat / bahan / hakekat yang berbeda.] - ‘System­atic Theology’, vol II, hal 388.

c)   “... the elements united or combined in his person are two distinct substances, humanity and divinity; that He has in his constitution the same essence or substance which constitutes us men, and the same substance which makes God infi­nite, eternal, and immutable in all his perfections.” [= elemen-elemen yang disatukan atau digabungkan dalam pribadi­Nya adalah dua zat / bahan yang berbeda, kemanu­siaan dan keilahian; sehingga dalam pembentukanNya Ia mempunyai hakekat atau zat / bahan yang sama yang membentuk kita menjadi manusia, dan zat / bahan yang sama yang membuat Allah itu tidak terbatas, kekal, dan tetap / tidak berubah dalam semua kesempurnaanNya.] - ‘System­atic Theology’, vol II, hal 389.

d)   “That in his person two natures, the divine and the human, are inseparably united; and the word nature in this connec­tion means substance.” [= Bahwa dalam pribadiNya dua natures, ilahi dan manusiawi, dipersatukan secara tak terpisahkan; dan dalam hal ini kata nature berarti zat / bahan / hakekat.] - ‘System­atic Theology’, vol II, hal 391.

 

William Hendriksen juga mempunyai pandangan yang sama dengan saya. Dalam tafsirannya tentang Kol 2:9, William Hendriksen mengatakan:

 

1.   “When the apostle thus describes Christ he has in mind the latter’s ‘deity’, not just his ‘divinity’. He is referring to the Son’s complete equality of essence with the Father and the Holy Spirit, his ‘consubstantiality’, not his ‘similarity.’” [= Pada waktu sang rasul menggambarkan Kristus demikian, ia memikirkan keAllahanNya, bukan sekedar ‘sifat ilahi’Nya, Ia menunjuk pada kesamaan hakekat yang sempurna dari Anak dengan Bapa dan Roh Kudus, ‘kepemilikan hakekat yang sama’ dari Dia, bukan ‘kemiripan’Nya.] - hal 111.

 

2.   θεότης used here in Col. 2:9 (nowhere else in the New Testament) means deity; θειότης used in Rom. 1:20 (and there alone in the New Testament) indicates divinity.” [= θεότης (THEOTES) yang digunakan di sini dalam Kol 2:9 (tidak ada di tempat lain dalam Perjanjian Baru) berarti keilahian; θειότης (THEIOTES) yang digunakan dalam Ro 1:20 (dan hanya di sana dalam Perjanjian Baru) menunjukkan sifat ilahi.] - hal 111 (footnote).

Catatan: dalam kamus, kata-kata ‘deity’ dan ‘divinity’ dicampur-adukkan / diartikan secara sama. Tetapi kelihatannya William Hendriksen menganggap bahwa kata ‘deity’ betul-betul menunjukkan Yesus sebagai Allah, sedangkan kata ‘divinity’ menunjukkan bahwa Yesus hanya mempunyai sifat-sifat ilahi.

 

3.   ὁμοούσιος, as the Nicene Creed declared, means ‘of the same substance or essence’, the Son being consubstantial with the Father, while the weaker ὁμοιούσιος, preferred by the Arians, means similar in substance or essence. Though the difference seems trivial - only one letter! - it is actually nothing less than that between declaring that Jesus is God and saying that he is man, a very divine man, to be sure, but man nevertheless. Was not the slogan of these heretics, ‘There was a time when he was not’?” [= ὁμοούσιος (HOMOOUSIOS), seperti dinyatakan oleh Pengakuan Iman Nicea, berarti ‘dari zat atau hakekat yang sama’, Anak mempunyai hakekat yang sama dengan Bapa, sementara kata yang lebih lemah ὁμοιούσιος (HOMOIOUSIOS), lebih dipilih oleh para pengikut Arianisme, berarti mirip dalam zat atau hakekat. Sekalipun perbedaannya kelihatannya remeh - hanya satu huruf! - itu sebetulnya tidak kurang dari perbedaan antara menyatakan bahwa Yesus adalah Allah dan mengatakan bahwa Ia adalah manusia, jelas seorang manusia yang baik / sangat agung / seperti allah, tetapi bagaimanapun adalah manusia. Bukankah slogan dari bidat itu adalah ‘Ada saat dimana Ia tidak ada’?] - hal 111 (footnote).

 

Dengan demikian Kol 2:9 ini menunjukkan bahwa dalam diri Yesus berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan hakekat ilahi.

 

3)   Sekarang kita soroti kata ‘secara jasmaniah’.

Kata Yunani yang dipakai adalah SOMATIKOS [= bodily {= secara tubuh / jasmaniah}].

 

William Hendriksen: “They interpret the adverb to mean ‘in a concentrated, as it were visible and tangible form.’ ... the entire essence and glory of God is concentrated in Christ as in a body. It is in that sense that it can be said that this fulness of the godhead is embodied, given concrete expression, fully realized, in him. This is but another way of saying that from everlasting to everlasting he is ‘the image of the invisible God’ (see on Col. 1:15).” [= Mereka menafsirkan kata keterangan itu sebagai berarti ‘dalam suatu bentuk yang dikonsentrasikan, seakan-akan bisa dilihat dan nyata’. ... seluruh hakekat dan kemuliaan Allah dikonsentrasikan dalam Kristus seakan-akan dalam suatu tubuh. Dalam arti itulah bisa dikatakan bahwa kepenuhan dari keAllahan ini diwujudkan, diberi pernyataan yang konkrit / nyata, dinyatakan sepenuhnya, dalam Dia. Ini adalah cara lain untuk mengatakan bahwa dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Ia adalah ‘gambar dari Allah yang tidak kelihatan’ (lihat tentang Kol 1:15).] - hal 112.

 

Semua ini jelas menunjukkan bahwa Yesus betul-betul adalah Allah!

 

X) Daud menyebut Yesus, yang adalah keturunannya, sebagai ‘Tuhan’.

 

Mat 22:41-46 - “(41) Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kataNya: (42) ‘Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?’ Kata mereka kepadaNya: ‘Anak Daud.’ (43) KataNya kepada mereka: ‘Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: (44) Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kananKu, sampai musuh-musuhMu Kutaruh di bawah kakiMu. (45) Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?’ (46) Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabNya, dan sejak hari itu tidak ada seorangpun juga yang berani menanyakan sesuatu kepadaNya.”.

 

Tujuan Yesus dengan pembicaraan ini ialah: supaya mereka sadar / mengerti bahwa sekalipun Yesus / Mesias adalah anak / keturunan Daud, yang menunjukkan bahwa Ia adalah manu­sia, tetapi Ia juga disebut Tuan (Inggris: Lord / Tuhan) oleh Daud (ay 44a  Maz 110:1), yang menunjukkan bahwa Ia juga adalah Allah sendiri!

 

Text yang dimaksudkan oleh Yesus adalah Maz 110:1 - [Mazmur Daud.] Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.’”.

 

Catatan: dalam Maz 110:1, RSV menterjemahkan ‘lord’ [= tuhan / tuan], tetapi KJV/NIV/NASB menterjemahkan ‘Lord’ [= Tuhan]. Sedangkan dalam Mat 22:43,44,45, KJV/RSV/NIV/NASB semua menterjemahkan ‘Lord’ [= Tuhan].

 

Jelas bahwa terjemahan yang benar adalah ‘Lord’ [= Tuhan], karena dalam Mat 22:41-46 itu jelas bahwa Yesus sedang berusaha untuk membuktikan keilahianNya kepada orang-orang Yahudi.

 

H. P. Liddon: “David’s Son is David’s Lord. ... David describes his great descendant Messiah as his ‘Lord’ (Psa. 110:1). ... He is David’s descendant; the Pharisees knew that truth. But He is also David’s Lord. How could He both if He was merely human? The belief of Christendom can alone answer the question which our Lord addressed to the Pharisees. The Son of David is David’s Lord because He is God; the Lord of David is David’s Son because He is God incarnate.” [= ‘Anak dari Daud’ adalah ‘Tuhan dari Daud’. ... Daud menggambarkan keturunannya yang agung, Mesias, sebagai ‘Tuhan’nya (Maz 110:1). ... Ia adalah keturunan dari Daud; orang-orang Farisi mengetahui kebenaran itu. Tetapi Ia juga adalah ‘Tuhan dari Daud’. Bagaimana Ia bisa adalah keduanya jika Ia hanya manusia semata-mata? Hanya kepercayaan dari orang-orang kristen yang bisa menjawab pertanyaan yang ditujukan oleh Tuhan kita kepada orang-orang Farisi. ‘Anak dari Daud’ adalah ‘Tuhan dari Daud’ karena Ia adalah Allah; ‘Tuhan dari Daud’ adalah ‘Anak dari Daud’ karena Ia adalah Allah yang berinkarnasi / menjadi manusia.] - ‘The Divinity of the Lord and Saviour Jesus Christ’, hal 43.

 

XI) Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Allah / Anak Allah, dan Ia rela mati untuk pengakuan itu (Mat 26:63-66  Yoh 19:7).

 

Mat 26:63-66 - (63) Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepadaNya: Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak. (64) Jawab Yesus: ‘Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.’ (65) Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: ‘Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujatNya. (66) Bagaimana pendapat kamu?’ Mereka menjawab dan berkata: ‘Ia harus dihukum mati!’.

 

Yoh 19:7 - Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: ‘Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diriNya sebagai Anak Allah.’.

 

Ini dikatakan oleh orang-orang Yahudi itu untuk menunjukkan bahwa mereka menginginkan kematian Yesus bukan karena benci, tetapi karena hukum mereka menuntut hal itu. Hukumnya memang benar, karena dalam Perjanjian Lama penghujat Allah harus dihukum mati (Im 24:16).

 

Im 24:16 - Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati..

 

Tetapi mereka menerapkannya secara salah, karena pada waktu Kristus mengaku sebagai Anak Allah, itu bukan merupakan penghujatan tetapi merupakan pengakuan yang benar!

 

William Hendriksen: “It was true ... that Jesus had again and again declared himself to be God’s Son, his only begotten Son, his Son in a very unique sense. ... This was either the most horrible blasphemy, or else it was the most glorious truth.” [= Memang benar ... bahwa Yesus berulangkali menyatakan diriNya sendiri sebagai Anak Allah, satu-satunya Anak yang diperanakkanNya, AnakNya dalam arti yang sangat unik. ... Hal ini, atau merupakan penghujatan yang paling mengerikan, atau merupakan kebenaran yang paling mulia.] - hal 417.

 

Calvin: “We see, then, how they drew a false conclusion from a true principle, for they reason badly. This example warns us to distinguish carefully between a general doctrine and the application of it;” [= Jadi kita melihat bagaimana mereka menarik kesimpulan yang salah dari suatu prinsip yang benar, karena mereka berpikir secara buruk / jelek. Contoh ini memperingatkan kita untuk membedakan secara hati-hati antara suatu doktrin / ajaran yang umum dan penerapannya;] - hal 216.

 

Di depan sudah saya jelaskan bahwa pengakuan Yesus sebagai Anak Allah sama dengan pengakuan sebagai Allah.

 

Memang kalau seseorang mengaku bahwa dirinya adalah Allah / Anak Allah, itu tidak / belum berarti bahwa ia memang betul-betul adalah Allah. Tetapi Yesus bukan hanya mengaku bahwa diriNya adalah Allah / Anak Allah, tetapi Ia juga rela mati demi penga­kuan tersebut! Ini jelas menunjukkan bahwa Ia betul-betul adalah Anak Allah.

 

Ada seorang penulis buku yang menggunakan hal ini untuk membuktikan keilahian Yesus dengan cara sebagai berikut:

 

 

                                            Yesus = Allah / Anak Allah

 


 

                Tidak benar                                                   Benar

 

 

 

Tahu                                             Tidak tahu

 

 

 

 

Pendusta                                  Orang gila                  Allah / Anak Allah

dan tolol

 

Keterangan:

Yesus mengaku sebagai Allah / Anak Allah, dan ia mau mati untuk pengakuan itu. Ada 2 kemungkinan tentang pengakuan itu, yaitu: TIDAK BENAR atau BENAR. Kalau pengakuan itu TIDAK BENAR, maka ada 2 kemungkinan lagi: Yesus TAHU bahwa pengakuanNya tidak benar, atau Yesus TIDAK TAHU bahwa pengakuanNya tidak benar. Kalau Yesus tahu bahwa pengakuannya tidak benar, maka Ia pasti adalah seorang PENDUSTA, bahkan ORANG TOLOL (karena Ia mau mati untuk suatu dusta). Kalau Yesus tidak tahu bahwa pengakuanNya tidak benar, maka Ia pasti adalah ORANG GILA, karena hanya orang gila yang tidak mengerti apa yang Ia sendiri katakan. Kalau pengakuan Yesus tersebut adalah BENAR, maka Yesus adalah ALLAH / ANAK ALLAH.

 

Jadi sekarang hanya ada beberapa pilihan untuk saudara:

 

a)   Yesus adalah seorang pendusta / orang tolol.

Kitab Suci jelas tidak pernah menunjukkan Yesus sebagai pendusta, karena kata-kataNya selalu benar. Kitab Suci juga tidak menunjukkan Yesus sebagai orang tolol, karena Kitab Suci justru menunjukkan bahwa Ia selalu bisa menjawab pertanyaan tokoh-tokoh agama Yahudi dengan jitu, dan mengalahkan mereka dalam setiap perdebatan.

 

b)   Yesus adalah orang gila.

Ini lagi-lagi tidak mungkin karena kalau Ia adalah orang gila, Ia tidak akan diikuti oleh begitu banyak orang. Dan juga kalau Ia memang adalah orang gila, Ia tidak akan dihukum mati karena menghujat Allah. Para tokoh Yahudi itu pasti tidak akan menggubris kata-kata dari orang gila.

 

c)   Yesus betul-betul adalah Anak Allah / Allah sendiri.

 

Yang mana dari ketiga pilihan di atas ini yang saudara pilih? Ingat, saudara tidak punya pilihan lain! Kalau saudara tidak mau mempercayai Yesus sebagai Allah, maka saudara harus mempercayai Dia sebagai pendusta, orang tolol, atau orang gila!

 

C. S. Lewis berkata: “A man who was merely a man and said the sort of things Jesus said wouldn’t be a great moral teacher. He’d either be a lunatic ... or else he’d be the Devil of Hell. You must make your choice. Either this man was, and is, the Son of God, or else a madman or something worse.” [= Seseorang yang adalah semata-mata seorang manusia dan mengucapkan hal-hal seperti yang Yesus kata­kan, bukanlah seorang guru moral yang agung. Atau Ia adalah seorang gila ... atau Ia adalah Setan / Iblis dari Neraka. Kamu harus menentukan pilihanmu. Atau Orang ini adalah Allah, baik dulu maupun sekarang, atau Ia adalah orang gila atau sesuatu yang lebih jelek lagi.].

 

XII) Setan mengakui bahwa Yesus adalah Allah / Anak Allah dan setan tunduk kepada Yesus (Mat 8:28-32).

 

Mat 8:28-32 - (28) Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu. (29) Dan mereka itupun berteriak, katanya: ‘Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’ (30) Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. (31) Maka setan-setan itu meminta kepadaNya, katanya: ‘Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.’ (32) Yesus berkata kepada mereka: ‘Pergilah!’ Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air.. Bdk. Mark 5:6-13.

 

Sekalipun setan sendiri percaya bahwa Yesus adalah Allah / Anak Allah, tetapi ia bisa mendustai manusia sedemikian rupa sehingga manusia tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah / Anak Allah.

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali