KEBAKTIAN online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 14 April 2024, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

bukti-bukti bahwa

yesus adalah allah(15)

 

8) KesatuanNya dengan Bapa.

 

Kesatuan Yesus dengan Bapa, yang dinyatakan oleh ayat-ayat seperti Yoh 10:30 dan Yoh 14:7-11, jelas menunjukkan keilahian Yesus.

 

Yoh 14:7-11 - Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal BapaKu. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.’ Kata Filipus kepadaNya: ‘Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaanNya. Percayalah kepadaKu, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.”.

 

Yoh 10:30 - “Aku dan Bapa adalah satu.’”.

 

Ada beberapa hal yang ingin saya jelaskan berkenaan dengan Yoh 10:30 ini.

 

a)   Satu dalam hal apa?

 

Barnes’ Notes: “The word translated ‘one’ is not in the masculine, but in the neuter gender. It expresses union, but not the precise nature of the union.” [= Kata yang diterjemahkan ‘satu’ bukan dalam jenis kelamin laki-laki, tetapi netral. Itu menyatakan persatuan, tetapi tidak menunjukkan sifat yang tepat dari persatuan itu.] - hal 317.

 

Jadi, para penafsir lalu menebak-nebak. Yesus dan Bapa itu satu dalam hal apa? Ada penafsir-penafsir yang beranggapan bahwa ‘satu’ di sini bukanlah satu dalam hal hakekat, tetapi hanya dalam hal tujuan, rencana, pemikiran, kehendak, atau kuasa.

Salah satu dari penafsir-penafsir itu adalah Calvin, yang berkata: “The ancients made a wrong use of this passage to prove that Christ is (HOMOOUSIOS) of the same essence with the Father. For Christ does not argue about the unity of substance, but about the agreement which he has with the Father, so that whatever is done by Christ will be confirmed by the power of his Father.” [= Orang-orang kuno menggunakan bagian ini secara salah untuk membuktikan bahwa Kristus adalah (HOMOOUSIOS) dari zat / hakekat yang sama dengan Bapa. Karena Kristus tidak berargumentasi mengenai kesatuan zat, tetapi tentang persetujuan / permufakatan yang ia miliki dengan Bapa, sehingga apapun yang dilakukan oleh Kristus akan diteguhkan oleh kuasa BapaNya.] - hal 417.

 

Kata-kata / penafsiran Calvin ini dipakai oleh Saksi-Saksi Yehuwa, yang dalam bukunya yang berjudul ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 24, berkata: “Mengenai Yohanes 10:30, John Calvin (seorang penganut Tritunggal) mengatakan dalam buku Commentary on the Gospel According to John: ‘Orang-orang zaman dulu menyalahgunakan ayat ini untuk membuktikan bahwa Kristus adalah ... dari zat yang sama dengan sang Bapa. Karena di sini Kristus tidak berbicara mengenai persatuan dalam zat, tetapi mengenai kesepakatan antara dia dengan sang Bapa.’”.

 

Saksi-Saksi Yehuwa menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ‘satu’ dalam Yoh 10:30 adalah bahwa Yesus dan Bapa itu satu dalam tujuan dan pikiran. Ini terlihat dari kutipan di bawah ini, yang saya ambil dari buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’, hal 24, yang berbunyi sebagai berikut: “Ayat itu, dalam Yohanes 10:30, sering dikutip untuk mendukung Tritunggal, meskipun pribadi ketiga tidak disebutkan di sana. Tetapi Yesus sendiri menunjukkan apa yang ia maksud dengan menjadi ‘satu’ dengan Bapa. Dalam Yohanes 17:21,22, ia berdoa kepada Allah agar murid-muridnya ‘semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, ... supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.’ Apakah Yesus berdoa agar semua murid-muridnya menjadi satu kesatuan tunggal? Tidak, Yesus jelas berdoa agar mereka dipersatukan dalam pikiran dan tujuan, seperti halnya dia dan Allah.”. Hal yang serupa juga mereka katakan dalam buku ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 412.

 

Berbeda dengan Calvin, kebanyakan penafsir beranggapan bahwa ‘satu’ di sini adalah dalam hal hakekat, atau, setidaknya mencakup kesatuan hakekat. Yang pasti, kesatuan itu lebih dari sekedar kesatuan kehendak / tujuan.

 

A. H. Strong mengutip kata-kata Meyer: “Oneness of essence, though not contained in the words themselves, is, by the necessities of the argument, presupposed in them.” [= Kesatuan hakekat, sekalipun tidak ada dalam kata-kata itu sendiri, dianggap ada di dalam kata-kata itu, oleh keharusan argumentasi.] - ‘Systematic Theology’, hal 313.

 

B. B. Warfield: “‘I and the Father are’ (plurality of persons) ‘one’ (neuter singular, and accordingly singleness of being), the Jews naturally understood Him to be making Himself, the person then speaking to them, God” [= ‘Aku dan Bapa adalah’ (kejamakan pribadi-pribadi) ‘satu’ (netral, tunggal, dan karena itu ketunggalan keberadaan), orang-orang Yahudi tentu saja menganggapNya menjadikan diriNya sendiri, pribadi yang saat itu sedang berbicara kepada mereka, sebagai Allah] - ‘The Person and Work of Christ’, hal 60.

 

Leon Morris (NICNT): “‘One’ is neuter, ‘one thing’ and not ‘one person’. Identity is not asserted. but essential unity is. ... It may be true that this ought not to be understood as a metaphysical statement, but it is also true that it means more than that Jesus’ will was one with the Father’s.” [= Kata ‘satu’ mempunyai jenis kelamin netral, ‘satu hal / benda’ dan bukan ‘satu pribadi’. Identitas tidak ditegaskan, tetapi kesatuan hakiki ditegaskan. ... Sekalipun mungkin benar bahwa ini tidak boleh dimengerti sebagai pernyataan yang bersifat metafisik, tetapi juga adalah benar bahwa itu berarti lebih dari sekedar bahwa kehendak Yesus adalah satu dengan kehendak Bapa.] - hal 522-523.

 

Catatan:

 

1.   ‘metafisik’ artinya ‘melampaui yang bersifat fisik / materi’.

 

2.   Yesus hanya mengatakan ‘satu’ tetapi tidak mengatakan ‘satu’ dalam hal apa. Dan kata ‘satu’ itu dalam bahasa Yunani menggunakan jenis kelamin netral. Leon Morris mengatakan ‘one thing’ [= satu hal / benda], mungkin karena ia memikirkan kata Yunani RHEMA [= kata, firman, hal, benda], yang memang mempunyai jenis kelamin netral.

 

3.   Kata benda lain yang berjenis kelamin netral yang memungkinkan adalah kata Yunani πνεῦμα / PNEUMA [= roh], tetapi sampai saat ini saya belum pernah menemukan ahli theologia yang mengatakan bahwa Allah Tritunggal itu satu Roh. Pengakuan Iman Athanasius memang mengatakan bahwa sekalipun Bapa itu adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, tetapi hanya ada satu Allah. Juga dikatakan bahwa sekalipun Bapa itu Tuhan, Anak itu Tuhan, dan Roh Kudus itu Tuhan, tetapi hanya ada satu Tuhan. Tetapi tidak ada kata-kata ‘Bapa itu Roh, Anak itu Roh, dan Roh Kudus itu Roh, tetapi kita hanya mempunyai satu Roh’.

 

Pulpit Commentary: “The Lord is conscious of his own Personality as distinct from that of the Father, and yet he asserts a fundamental unity. ... the ἕν (HEN), the one reality, if it does not express actual unity in essence, involves it. ... If he merely meant to imply moral and spiritual union with the Father, or completeness of revelation of the Divine mind, why should the utterance have provoked such fierce resentment?” [= Tuhan (Yesus) sadar bahwa kePribadianNya sendiri berbeda (distinct) dari kePribadian Bapa, sekalipun demikian Ia menegaskan suatu kesatuan yang bersifat dasari. ... kata ἕν (HEN), satu realita, jika itu tidak menyatakan kesatuan yang sungguh-sungguh dalam hakekat, mencakup hal itu. ... Jika Ia semata-mata memaksudkan persatuan moral dan rohani dengan Bapa, atau kelengkapan tentang penyataan dari pikiran Ilahi, mengapa ucapan itu menyebabkan kemarahan yang begitu hebat?] - hal 50.

 

William Hendriksen: “However, inasmuch as in other passages it is clearly taught that the oneness is a matter not only of outward operation but also (and basically) of inner essence, it is clear that also here nothing less than this can have been meant.” [= Bagaimanapun, karena dalam bagian-bagian lain dengan jelas diajarkan bahwa kesatuannya bukan hanya dalam operasi luar saja tetapi juga (dan secara dasari) dalam hal hakekat di dalam, maka jelaslah bahwa di sini yang dimaksudkan tidak kurang dari itu.] - hal 126.

 

A. T. Robertson: “‘One’ (HEN). Neuter, not masculine (HEIS). Not one person (cf. HEIS in Gal. 3:28), but one essence or nature.” [= ‘Satu’ (HEN). Jenis kelamin Netral, bukan laki-laki (HEIS). Bukan satu pribadi (bdk. HEIS dalam Gal 3:28), tetapi satu hakekat.] - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol V, hal 186.

Catatan:

1.   Kata ‘nature’ di sini harus diartikan sebagai ‘essence’, yaitu ‘hakekat’.

2.   Yang menjadi problem adalah bahwa kata Yunani OUSIA atau PHUSIS, yang artinya ‘hakekat’ adalah kata-kata benda yang berjenis kelamin perempuan.

 

Adam Clarke: “he says, speaking then as God over all, I and the Father, ἐγὼ καὶ ὁ πατὴρ ἕν ἐσμεν  (EGO KAI HO PATER HEN ESMEN / I and the Father are one) - the Creator of all things, the Judge of all men, the Father of the spirits of all flesh - are one, one in nature, one in all the attributes of Godhead, and one in all the operations of those attributes: and so it is evident the Jews understood him” [= Ia berkata, berbicara pada saat itu sebagai Allah yang ada di atas segala sesuatu, ἐγὼ καὶ ὁ πατὴρ ἕν ἐσμεν (EGO KAI HO PATER HEN ESMEN / AKu dan Bapa adalah satu) - sang Pencipta dari segala sesuatu, sang Hakim dari semua manusia, Bapa dari roh-roh dari semua daging - adalah satu, satu dalam hakekat, satu dalam semua sifat-sifat dari keAllahan, dan satu dalam semua operasi dari sifat-sifat itu: dan jelas bahwa demikianlah orang-orang Yahudi mengerti Dia] - hal 595.

 

Ada beberapa hal yang secara jelas menunjukkan bahwa kesatuan yang Yesus maksudkan jelas menunjukkan bahwa Ia adalah Allah, yaitu:

 

1.   Kata-kata Yesus ini menyebabkan orang-orang Yahudi mau merajam Dia (ay 31).

 

Kalau Yesus sekedar memaksudkan kesatuan kehendak, pikiran, atau kesatuan tujuan (seperti yang ditafsirkan oleh Saksi Yehuwa), maka tidak mungkin orang-orang Yahudi itu menjadi marah sehingga mau merajam Yesus. Ini argumentasi yang sangat kuat untuk menunjukkan bahwa Yesus tidak mungkin sekedar memaksudkan kesatuan maksud, tujuan, pikiran, dan sebagainya! Dalam arti apapun Ia memaksudkan kesatuan itu, kesatuan itu pasti menunjukkan bahwa Ia adalah Allah.

 

Sebetulnya, ditinjau dari sudut bahasa Yunani, ‘kesatuan kehendak’ merupakan sesuatu yang memungkinkan karena kata Yunani THELEMA [= kehendak] mempunyai jenis kelamin netral. Demikian juga ‘kesatuan pikiran / cara berpikir’ merupakan sesuatu yang memungkinkan, karena kata Yunani PHRONEMA [= cara berpikir, pikiran] juga mempunyai jenis kelamin netral. Tetapi ditinjau dari reaksi orang-orang Yahudi ini, penafsiran-penafsiran ini sama sekali tidak memungkinkan.

 

2.   Waktu Yesus bertanya mengapa mereka mau merajamNya (ay 32), mereka menjawab: ‘karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja (dalam pandangan mereka) menyamakan diriMu dengan Allah (ay 33). Kata-kata yang saya garis bawahi ini terjemahan hurufiahnya adalah ‘membuat diriMu sendiri Allah’.

 

Perlu diketahui bahwa dalam Injil Yohanes, Yesus pernah 3 x mau dirajam, dan semua terjadi karena pengakuan Yesus sebagai Allah (Yoh 5:17-18  8:58-59  10:30-33).

 

Yoh 5:17-18 - (17) Tetapi Ia berkata kepada mereka: BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga. (18) Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah..

 

Yoh 8:58-59 - (58) Kata Yesus kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. (59) Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah..

 

Yoh 10:30-33 - (30) Aku dan Bapa adalah satu. (31) Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. (32) Kata Yesus kepada mereka: ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari BapaKu yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?’ (33) Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.’.

 

Jadi orang-orang Yahudi itu mengerti bahwa pengakuan Yesus bahwa diriNya satu dengan Bapa / Allah ini berarti bahwa Yesus menganggap diriNya sebagai Allah (ay 33), tetapi mereka tidak mempercayai hal itu, dan kata-kata itu mereka anggap sebagai penghujatan / penyesatan.

Dengan demikian dalam pandangan mereka Yesus adalah penghujat / nabi palsu, yang harus dihukum mati sesuai dengan Im 24:16 / Ul 13:5.

 

Im 24:16 - Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati..

 

Ul 13:5 - Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan - dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu..

 

Karena itulah maka orang-orang Yahudi itu lalu mengambil batu untuk merajam Yesus.

 

Dalam tafsirannya tentang ay 33 ini Adam Clarke berkata: “When Christ said before, ver. 30, ‘I and the Father are one’, had the Jews understood him ... as only saying he had a unity of sentiments with the Father, they would not have attempted to treat him for this as a blasphemer; because in this sense Abraham, Isaac, Moses, David, and all the prophets, were one with God. But what irritated them so much was that they understood him as speaking of a unity of nature. Therefore they say here, ‘thou makest thyself God’; which word they understood, not in a figurative, metaphorical, or improper sense, but in the most literal meaning of the term.” [= Pada waktu Kristus berkata sebelumnya, ay 30, ‘Aku dan Bapa adalah satu’, seandainya orang-orang Yahudi mengerti Dia ... sebagai hanya mengatakan bahwa Ia mempunyai kesatuan perasaan dengan Bapa, mereka tidak akan berusaha untuk memperlakukanNya sebagai seorang penghujat karena hal ini, karena dalam arti ini Abraham, Ishak, Musa, Daud, dan semua nabi-nabi, adalah satu dengan Allah. Tetapi apa yang begitu menjengkelkan mereka adalah bahwa mereka mengerti Dia sebagai berbicara tentang kesatuan hakekat. Karena itu mereka berkata di sini, ‘Engkau membuat diriMu sendiri Allah’; kata-kata mana mereka mengerti, bukan dalam arti kiasan atau simbolis, atau arti yang tidak benar, tetapi dalam arti yang paling hurufiah dari istilah itu.] - hal 596.

 

3.   Yesus menjawab mereka dalam ay 34-38, dan dalam jawaban ini sama sekali tidak terlihat bahwa Yesus menyangkal tuduhan bahwa Ia menyamakan diri dengan Allah. Bahkan Yesus tetap mempertahankan kesatuanNya dengan Bapa tersebut.

 

Ay 34-38: (34) Kata Yesus kepada mereka: Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? (35) Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah - sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan -, (36) masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusNya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? (37) Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan BapaKu, janganlah percaya kepadaKu, (38) tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.’.

 

4.   Andaikatapun kita menganggap bahwa kesatuan dalam ay 30 ini adalah dalam hal kuasa, karena ay 28-29 berbicara tentang kuasa untuk menjaga domba, maka penafsiran ini tetap menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Mengapa? Karena kalau Ia bisa satu dengan Bapa dalam hal kuasa, itu menunjukkan bahwa Ia juga maha kuasa sama seperti Bapa, dan itu jelas menunjukkan bahwa Ia adalah Allah. Tetapi problem dengan penafsiran tentang ‘kesatuan kuasa’ ini adalah bahwa kata DUNAMIS maupun EXOUSIA, yang keduanya berarti ‘kuasa’ / ‘kekuatan’, sama-sama mempunyai jenis kelamin perempuan.

 

b)   Ay 30 ini merupakan ayat yang penting dalam menghadapi 2 ajaran sesat dalam hal doktrin Allah Tritunggal, yaitu Arianisme dan Sabelianisme.

 

Dalam bahasa Yunani ay 30 berbunyi sebagai berikut:

EGO   KAI   HO PATER   HEN       ESMEN

   I      and    the Father     one         we are

Aku    dan        Bapa        satu     kami adalah

 

Perhatikan bahwa sekalipun ada kata HEN (one / satu), tetapi digunakan bentuk jamak ESMEN (we are / kami adalah).

 

William Hendriksen: “It has been well said that ἕν (HEN) frees us from the charybdis of Arianism (which denies the unity of essence), and ἐσμεν (ESMEN) from the scylla of Sabellianism (which denies the diversity of the persons).” [= Telah dikatakan dengan baik / benar bahwa ἕν (HEN) membebaskan kita dari bahaya Arianisme (yang menyangkal kesatuan hakekat), dan ἐσμεν (ESMEN) dari bahaya Sabelianisme (yang menyangkal perbedaan pribadi-pribadi).] - hal 126.

 

Catatan:

 

1.   Charybdis adalah nama pusaran air di pantai Sicilia, di depan batu karang yang bernama Scylla. Ini menimbulkan kiasan / ungkapan ‘between Scylla and Charybdis’ [= di antara Scylla dan Charybdis], yang artinya ‘faced with a choice of two dangers’ [= dihadapkan pada pemilihan terhadap dua bahaya], yaitu batu karang di satu sisi, dan pusaran air di sisi yang lain. William Hendriksen menganalogikan dengan persoalan ini: bahaya yang satu adalah Arianisme, dan bahaya yang lainnya adalah Sabellianisme.

 

2.   Sabelianisme adalah ajaran yang menyangkal adanya lebih dari satu pribadi dalam Allah Tritunggal. Mereka mengakui bahwa Allah Tritunggal mempunyai 3 perwujudan, bukan 3 pribadi. Karena itu kata Yunani ESMEN (we are / kami adalah) dalam Yoh 10:30 ini penting untuk menghadapi ajaran ini. Kata ESMEN ini dengan jelas menunjukkan adanya lebih dari satu pribadi.

 

W. G. T. Shedd mengutip kata-kata Athanasius: “Had the Father and the Son not been two persons, the Son would not have said, ‘I and the Father are one,’ but ‘am one.’” [= Seandainya Bapa dan Anak bukan dua pribadi, Anak tidak akan berkata ‘I and the Father are one’, tetapi am one’.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol 1, hal 281.

 

W. G. T. Shedd: “Similarly Augustine (Trinity, V. ix) remarks that the Sabellians must read the text thus: ‘I and my Father is one,’ instead of ‘are one.’” [= Dengan cara yang hampir sama Agustinus (Trinity, V. ix) berkata bahwa para pengikut Sabellianisme pasti membaca text itu demikian: ‘I and my Father is one’, dan bukannya are one’.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol 1, hal 281.

 

3.   Arianisme (yang nantinya berreinkarnasi dalam bentuk Saksi Yehuwa) adalah ajaran yang menyangkal keilahian Yesus. Karena itu, kata Yunani HEN (one / satu) ini penting untuk menghadapi ajaran ini, karena kata ini menunjukkan kesatuan antara Yesus dengan Bapa, dan dengan demikian menunjukkan keilahian Yesus.

 

c)   Apakah kesatuan dalam Yoh 10:30 sama dengan kesatuan dalam Yoh 17:21-22?

 

Yoh 17:20-23 - “(20) Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka; (21) supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. (22) Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepadaKu, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: (23) Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”.

 

Kita tidak bisa menafsirkan bahwa kesatuan di antara orang-orang kristen adalah sama dalam segala hal / betul-betul sama dengan kesatuan antara Bapa dan Anak (bdk. ay 22b). Mengapa? Karena kata ‘sama seperti’, yang muncul 2 x, yaitu dalam Yoh 17:21,22 dalam bahasa Yunaninya adalah καθὼς (KATHOS), artinya bukanlah ‘sama dengan’, tetapi ‘as’ [= seperti], dan kata ‘seperti’ jelas tidak menunjukkan kesamaan yang mutlak atau kesamaan dalam segala hal! Dalam TDB kata itu diterjemahkan ‘sebagaimana’, mungkin dengan tujuan untuk membuat kesatuan antara Bapa dan Yesus itu betul-betul sama dengan kesatuan antara orang-orang percaya.

 

Perhatikan juga bahwa dalam Yoh 17:23b, kata-kata ‘sama seperti’ itu muncul lagi, dan itu menggunakan kata Yunani yang sama, yaitu καθὼς (KATHOS).

 

Yoh 17:23b - “bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”.

 

Sekarang, pikirkan: apakah mungkin Bapa mengasihi kita (orang-orang kristen) dengan kasih yang betul-betul sama dengan kasih yang ada pada Dia terhadap Anak? Ini jelas tidak mungkin. Jadi terlihat bahwa kata Yunani καθὼς (KATHOS), artinya memang bukannya ‘betul-betul sama’, tetapi hanya ‘seperti’.

 

Di sini saya menambahkan beberapa komentar dari para penafsir tentang hal ini:

 

1.   Leon Morris (NICNT): “This does not mean that the unity between the Father and the Son is the same as that between believers and God. But it does mean that there is an analogy.” [= Ini tidak berarti bahwa kesatuan antara Bapa dan Anak sama dengan kesatuan antara orang-orang percaya dan Allah. Tetapi itu berarti bahwa ada persamaannya.] - hal 734.

 

2.   Leon Morris (NICNT): “This time Jesus prays that they may be one just as the Father and the Son are one. The bond which unites believers is to be of the very closest.” [= Kali ini Yesus berdoa supaya mereka menjadi satu sama seperti Bapa dan Anak adalah satu. Ikatan yang mempersatukan orang-orang percaya adalah ikatan yang paling erat.] - hal 735.

 

3.    Barnes’ Notes: This does not affirm that the union between Christians should be in all respects like that between the Father and the Son, but only in the points in which they are capable of being compared. It is not the union of nature which is referred to, but the union of plan, of counsel, of purpose, of purpose seeking the same objects, and manifesting attachment to the same things, and a desire to promote the same ends. [= Ini tidak menegaskan bahwa kesatuan antara orang-orang kristen harus dalam segala hal seperti kesatuan antara Bapa dan Anak, tetapi hanya dalam hal-hal dalam mana mereka bisa dibandingkan. Bukan kesatuan hakekat yang dimaksudkan, tetapi kesatuan rencana dan tujuan, tujuan yang sama, dan menunjukkan keterikatan pada hal-hal yang sama, dan suatu keinginan untuk memajukan tujuan yang sama.] - hal 347.

 

4.   William Hendriksen: “The unity for which Jesus is praying is not merely outward. He guards against this very common misinterpretation. He asks that the oneness of all believers resemble that which exists eternally between the Father and the Son. In both cases the unity is of a definitely spiritual nature. To be sure, Father, Son, and Holy Spirit are one in essence; believers, on the other hand, are one in mind, effort, and purpose. ... These two kinds of unity are not the same. Nevertheless, there is a resemblance.” [= Kesatuan untuk mana Yesus berdoa bukanlah semata-mata kesatuan lahiriah. Ia menjaga terhadap penyalah-tafsiran yang sangat umum ini. Ia meminta supaya kesatuan dari orang-orang percaya menyerupai kesatuan yang ada secara kekal antara Bapa dan Anak. Dalam kedua kasus kesatuannya jelas bersifat rohani. Memang Bapa, Anak, dan Roh Kudus, satu dalam hakekat; sedangkan orang-orang percaya, satu dalam pikiran, usaha dan tujuan. ... Kedua jenis kesatuan ini tidak sama. Tetapi di sana ada kemiripan.] - hal 364.

 

5.   F. F.  Bruce: “The unity for which he prays is a unity of love; it is, in fact, their participation in the unity of love which subsists eternally between the Father and the Son. ... Earlier, the Evangelist has observed that Jesus, by his death, would ‘gather into one the dispersed children of God’ (John 11:52). It is this same unity for which Jesus now prays, and his language makes it plain that it is a unity of love - a unity which has its root within the soul but is manifested in outward action.” [= Kesatuan untuk mana Ia berdoa adalah kesatuan kasih; dan dalam faktanya itu merupakan partisipasi mereka dalam kesatuan yang ada secara kekal antara Bapa dan Anak. ... Sebelumnya, sang Penginjil (rasul Yohanes) telah menyebutkan bahwa Yesus, oleh kematianNya, akan ‘mengumpulkan menjadi satu anak-anak Allah yang tercerai berai’ (Yoh 11:52). Adalah kesatuan yang sama ini untuk mana Yesus sekarang berdoa, dan bahasaNya membuat jelas bahwa itu adalah kesatuan kasih - suatu kesatuan yang mempunyai akarnya dalam jiwa tetapi yang dinyatakan dalam tindakan lahiriah / luar.] - hal 335.

 

Yoh 11:51-52 - (52) Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, (52) dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai..

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali