(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 7 April 2024, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
bukti-bukti bahwa
yesus adalah allah(14d)
7) Kehormatan ilahi diberikan kepada Yesus.
Kitab Suci menunjukkan bahwa kehormatan ilahi diberikan kepada Yesus, seperti:
a) Penghormatan.
Kita diperintahkan untuk menghormati Yesus sama seperti kita menghormati Bapa.
Yoh 5:23 - “supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.”.
b) Kepercayaan; kita diperintahkan untuk percaya kepada Allah dan kepada Yesus.
Yoh 14:1 - “‘Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu.”.
c) Pengharapan; kita diperintahkan untuk berharap kepada Yesus.
1Kor 15:19 - “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.”.
Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
Ro 15:12 - “Dan selanjutnya kata Yesaya: ‘Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepadaNyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan.’”.
2Kor 1:10 - “Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepadaNya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi,”.
Kol 1:27 - “Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!”.
1Tim 1:1 -
“Dari
Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan
Kristus Yesus, dasar pengharapan kita,”.
1Yoh 3:2-3 - “(2) Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diriNya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya. (3) Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.”.
Padahal firman Tuhan juga berkata bahwa kita tidak boleh berharap kepada manusia (Yes 31:1 Yer 17:5-8).
Yes 31:1 - “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.”.
Yer 17:5-8 - “(5) Beginilah firman TUHAN: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! (6) Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. (7) Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! (8) Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”.
Jadi jelaslah bahwa Yesus bukanlah hanya semata-mata manusia biasa, tetapi juga adalah Allah sendiri.
d) Penyejajaran diriNya dengan pribadi-pribadi lain dari Allah Tritunggal.
Dalam Perjanjian Baru kita melihat ketiga pribadi Allah itu disebut dalam satu bagian Kitab Suci.
1. Mat 3:16-17 - “(16) Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasNya, (17) lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: ‘Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.’”.
2. Mat 28:19 - “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,”.
3. 1Kor 12:4-6 - “(4) Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. (5) Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. (6) Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.”.
4. 2Kor 13:13 - “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.”.
5. Ef 4:4-6 - “(4) satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, (5) satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, (6) satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.”.
6. 1Pet 1:2a - “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya.”.
7. Wah 1:4-5 - “(4) Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhtaNya, (5) dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darahNya”.
Catatan: satu hal yang perlu diperhatikan dalam ayat-ayat di atas ini adalah bahwa urut-urutannya tidak selalu Bapa sebagai yang pertama, Anak / Yesus sebagai yang kedua, dan Roh Kudus sebagai yang ketiga. Urut-urutan dibolak-balik, dan ini menunjukkan kesetaraan Mereka. Kalau Bapa memang lebih tinggi dari Anak, maka adalah mustahil bahwa Yesus kadang-kadang ditulis lebih dulu dari Bapa, dan kalau Roh Kudus hanya sekedar merupakan ‘tenaga aktif Allah’, maka juga merupakan sesuatu yang mustahil bahwa ‘tenaga aktif Allah’ itu ditulis lebih dulu dari Allahnya sendiri.
Untuk ini ada komentar / serangan dari Saksi Yehuwa dalam buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’:
a. “Apakah ayat-ayat ini menyatakan bahwa Allah, Kristus, dan roh kudus membentuk suatu Keilahian Tritunggal, bahwa ketiganya sama dalam bentuk, kekuasaan, dan kekekalan? Tidak, tidak demikian, sama halnya menyebutkan tiga orang, seperti Amir, Budi dan Bambang, tidak berarti bahwa mereka tiga dalam satu.” (hal 23).
b. “Ketika Yesus dibaptis, Allah, Yesus, dan roh kudus juga disebutkan dalam konteks yang sama. Yesus ‘melihat roh Allah seperti burung merpati turun ke atasNya’ (Matius 3:16). Tetapi, ini tidak berarti bahwa ketiganya adalah satu. Abraham, Ishak, dan Yakub banyak kali disebutkan bersama-sama, tetapi hal itu tidak membuat mereka menjadi satu. Petrus, Yakobus dan Yohanes disebutkan bersama-sama, tetapi itu tidak membuat mereka menjadi satu juga.” (hal 23).
Dan dalam buku mereka yang lain mereka juga mengatakan: “Bandingkan 1Timotius 5:21, yang menyebut Allah, Kristus dan malaikat-malaikat bersama-sama.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 403.
1Tim 5:21 - “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihanNya kupesankan dengan sungguh kepadamu: camkanlah petunjuk ini tanpa prasangka dan bertindaklah dalam segala sesuatu tanpa memihak.”.
Kita bisa menjawab serangan ini dengan berkata:
1. Memang adanya tiga nama yang disebutkan bersama-sama tidak membuktikan bahwa mereka itu satu. Bahkan tidak selalu membuktikan / menunjukkan bahwa mereka setingkat.
Apakah tiga orang yang disebutkan bersama-sama itu setingkat / setara dan merupakan satu kesatuan atau tidak, itu tergantung dari kontexnya. Dan karena itu harus dipertanyakan: dalam situasi dan keadaan apa ketiga pribadi itu disebutkan bersama-sama? Misalnya: presiden Jokowi berbicara dengan si A dan si B. Maka belum tentu si A dan si B juga adalah presiden.
Tetapi dalam kasus-kasus tertentu, 3 nama yang diletakkan berjajar bisa menunjukkan bahwa mereka setingkat. Misalnya kalau dikatakan ada konperensi tingkat tinggi 3 negara, maka kalau negara yang satu mengirimkan kepala negara, maka pasti kedua negara yang lain juga demikian. Kalau negara yang satu mengirim menteri luar negeri, maka pasti kedua negara yang lain juga demikian.
Dalam ayat-ayat di atas, Bapa, Anak, dan Roh Kudus disebutkan dalam kontext yang sakral, seperti formula baptisan (Mat 28:19), berkat kepada gereja Korintus (2Kor 13:13), baptisan Yesus (Mat 3:16-17), dsb. Karena itu ayat-ayat itu bisa dipakai sebagai dasar untuk menunjukkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu setingkat.
Kalau ketiga nama itu tidak setingkat, itu sama mustahilnya seperti suatu Konperensi Tingkat Tinggi, yang dihadiri oleh Presiden Amerika, Presiden China, dan seorang Lurah dari Indonesia!
2. Dalam Mat 28:19 dikatakan ‘dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus’.
Sesuatu yang menarik adalah: sekalipun di sini disebutkan 3 buah nama, tetapi kata ‘nama’ itu ada dalam bentuk tunggal, bukan bentuk jamak! Dalam bahasa Inggris diterjemahkan name (bentuk tunggal), bukan names (bentuk jamak). Karena itu ayat ini bukan hanya menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu setingkat, tetapi juga menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu adalah satu!
B. B. Warfield: “He commands them to baptize their converts ‘in the name of the Father and of the Son and of the Holy Ghost.’ The precise form of the formula must be carefully observed. It does not read: ‘In the names’ (plural) - as if there were three beings enumerated, each with its distinguishing name. Nor yet: ‘In the name of the Father, Son and Holy Ghost,’ as if there were one person, going by a threefold name. It reads: ‘In the name (singular) of the Father, and of the (article repeated) Son, and of the (article repeated) Holy Ghost,’ carefully distinguishing three persons, though uniting them all under one name.” [= Ia memerintahkan mereka untuk membaptiskan petobat-petobat mereka ‘dalam nama dari sang Bapa dan dari sang Anak dan dari sang Roh Kudus’. Bentuk yang tepat dari formula baptisan ini harus diperhatikan dengan teliti. Formula itu tidak berbunyi: ‘Dalam nama-nama’ (jamak) - seakan-akan ada 3 makhluk (beings) yang disebutkan satu per satu, masing-masing dengan nama yang khusus / membedakan. Juga tidak: ‘Dalam nama dari sang Bapa, Anak, dan Roh Kudus’, seakan-akan hanya ada satu pribadi, yang dikenal dengan tiga nama. Formula itu berbunyi: ‘Dalam nama (tunggal) dari sang Bapa, dan dari sang (kata sandang diulangi) Anak, dan dari sang (kata sandang diulangi) Roh Kudus’, dengan hati-hati membedakan tiga pribadi, sekalipun mempersatukan mereka semua di bawah satu nama.] - ‘The Person and Work of Christ’, hal 66.
3. Komentar tentang 2Kor 13:13 - “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.”.
Barnes’ Notes (tentang 2Kor 13:13): “In regard to this closing verse of the Epistle, we may make the following remarks: (1) It is a prayer; and if it is a prayer addressed to God, it is no less so to the Lord Jesus and to the Holy Spirit. If so, it is right to offer worship to the Lord Jesus and to the Holy Spirit. (2) there is a distinction in the divine nature; or there is the existence of what is usually termed three persons in the Godhead. If not, why are they mentioned in this manner? If the Lord Jesus is not divine and equal with the Father, why is he mentioned in this connection? How strange it would be for Paul, an inspired man, to pray in the same breath, ‘the grace of a man or an angel’ and ‘the love of God’ be with you! And if the ‘Holy Spirit’ be merely an influence of God or an attribute of God, how strange to pray that the ‘love of God’ and the participation or fellowship of an ‘influence of God,’ or an ‘attribute of God’ might be with them!(3) the Holy Spirit is a person, or has a distinct personality. He is not an attribute of God, nor a mere divine influence. How could prayer be addressed to an attribute, or an influence? But here, nothing can be plainer than that there were favors which the Holy Spirit, as an intelligent and conscious agent, was expected to bestow. And nothing can be plainer than that they were favors in some sense distinct from those which were conferred by the Lord Jesus, and by the Father. Here is a distinction of some kind as real as that between the Lord Jesus and the Father; here are favors expected from him distinct from those conferred by the Father and the Son; and there is, therefore, here all the proof that there can be, that there is in some respects a distinction between the persons here referred to and that the Holy Spirit is an intelligent, conscious agent. (4) the Lord Jesus is not inferior to the Father, that is, he has an equality with God. If he were not equal, how could he be mentioned, as he here is, as bestowing favors like God, and especially why is he mentioned first? Would Paul, in invoking blessings, mention the name of a mere man or an angel before that of the eternal God? (5) the passage, therefore, furnishes a proof of the doctrine of the Trinity that has not yet been answered, and, it is believed, cannot be. On the supposition that there are three persons in the adorable Trinity, united in essence and yet distinct in some respects, all is plain and clear. But on the supposition that, the Lord Jesus is a mere man, an angel, or an archangel, and that the Holy Spirit is an attribute, or an influence from God, how unintelligible, confused, strange does all become! That Paul, in the solemn close of the Epistle, should at the same time invoke blessings from a mere creature, and from God, and from an attribute, surpasses belief. But that he should invoke blessings from him who was the equal with the Father, and from the Father himself, and from the Sacred Spirit sustaining the same rank, and in like manner imparting important blessings, is in accordance with all that we should expect, and makes all harmonious and appropriate.” [= Berkenaan dengan ayat penutup dari surat ini (2Kor), kami bisa membuat komentar-komentar sebagai berikut: (1) Itu adalah suatu doa; dan jika itu adalah suatu doa yang ditujukan kepada Allah, itu juga adalah suatu doa yang ditujukan kepada Tuhan Yesus dan kepada Roh Kudus. Jika demikian, adalah benar untuk memberikan penyembahan kepada Tuhan Yesus dan Roh Kudus. (2) Ada suatu perbedaan dalam hakekat ilahi; atau, ada keberadaan dari apa yang biasanya disebut dengan istilah tiga pribadi dalam Allah. Jika tidak, mengapa mereka disebutkan dengan cara ini? Jika Tuhan Yesus bukan ilahi dan tidak setara dengan Bapa, mengapa Ia disebutkan dengan cara ini? Alangkah anehnya bagi Paulus, seorang yang diilhami, berdoa dalam satu helaan nafas, ‘kasih karunia dari seorang manusia atau malaikat’ dan ‘kasih Allah’ menyertai kamu sekalian! Dan jika ‘Roh Kudus’ hanya semata-mata suatu pengaruh dari Allah atau suatu sifat dari Allah, alangkah anehnya untuk berdoa supaya ‘kasih Allah’ dan persekutuan dari suatu ‘pengaruh dari Allah’, atau suatu ‘sifat dari Allah’ menyertai mereka! (3) Roh Kudus adalah seorang pribadi, atau mempunyai kepribadian yang berbeda. Ia bukanlah suatu sifat dari Allah, atau semata-mata suatu pengaruh ilahi. Bagaimana suatu doa bisa ditujukan kepada suatu sifat, atau suatu pengaruh? Tetapi di sini, tidak ada yang bisa lebih jelas bahwa ada kebaikan-kebaikan yang diharapkan untuk diberikan oleh Roh Kudus, sebagai Agen yang berakal dan sadar. Dan tidak ada yang bisa lebih jelas dari pada bahwa itu adalah kebaikan-kebaikan, yang dalam arti tertentu, berbeda dari kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh Tuhan Yesus, dan oleh Bapa. Di sini ada suatu perbedaan tertentu yang sama nyatanya dengan perbedaan antara Tuhan Yesus dan Bapa; di sini ada kebaikan-kebaikan yang diharapkan dari Dia, berbeda dengan kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh Bapa dan Anak; dan karena itu, di sini ada semua bukti yang dimungkinkan, bahwa dalam hal tertentu ada perbedaan antara pribadi-pribadi yang dibicarakan di sini, dan bahwa Roh Kudus adalah seorang Agen yang berakal dan sadar. (4) Tuhan Yesus tidaklah lebih rendah dari Bapa, artinya, Ia mempunyai kesetaraan dengan Bapa. Jika Ia tidak setara, bagaimana Ia bisa disebutkan, seperti Ia disebutkan di sini, sebagai memberikan kebaikan-kebaikan seperti Allah, dan khususnya mengapa Ia disebutkan pertama? Akankah Paulus, dalam memintakan berkat, menyebut nama dari semata-mata seorang manusia atau seorang malaikat sebelum nama dari Allah yang kekal? (5) Karena itu, text ini menyediakan / memberikan suatu bukti tentang doktrin dari Tritunggal yang belum pernah dijawab, dan dipercaya bahwa ini tidak bisa dijawab. Pada anggapan bahwa ada tiga pribadi dalam Tritunggal yang diagungkan / dipuja, bersatu dalam hakekat tetapi berbeda dalam beberapa hal, semua itu jelas. Tetapi pada anggapan bahwa Tuhan Yesus adalah semata-mata seorang manusia, atau seorang penghulu malaikat, dan bahwa Roh Kudus adalah suatu sifat, atau suatu pengaruh dari Allah, betapa menjadi tak bisa dimengerti, membingungkan, dan anehnya semua ini! Bahwa Paulus, dalam penutup yang khidmat dari Surat ini, pada saat yang sama memintakan berkat dari semata-mata seorang makhluk ciptaan, dan dari Allah, dan dari suatu sifat, tidak bisa dimengerti. Tetapi bahwa ia memintakan berkat dari Dia, yang setara dengan Bapa, dan dari Bapa itu sendiri, dan dari Roh yang Kudus / Keramat, yang menegaskan tingkat / pangkat yang sama, dan dengan cara yang sama memberikan berkat-berkat yang penting, sesuai dengan apa yang harus kita harapkan, dan membuat semua harmonis dan cocok.].
Charles Hodge (tentang 2Kor 13:13): “The distinct personality and the divinity of the Son, the Father, and the Holy Spirit, to each of whom prayer is addressed, is here taken for granted. And therefore this passage is a clear recognition of the doctrine of the Trinity, which is the fundamental doctrine of Christianity.” [= Kepribadian dan keilahian yang berbeda dari sang Anak, sang Bapa, dan sang Roh Kudus, kepada masing-masing dari siapa doa itu ditujukan, dianggap pasti. Dan karena itu, text ini merupakan suatu pengakuan yang jelas tentang doktrin dari Tritunggal, yang merupakan doktrin dasar dari Kekristenan.] - hal 690.
e) Kemuliaan.
Mat 25:31 - “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya.”.
Yoh 8:54 - “Jawab Yesus: ‘Jikalau Aku memuliakan diriKu sendiri, maka kemuliaanKu itu sedikitpun tidak ada artinya. BapaKulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami,”.
Yoh 11:4 - “Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: ‘Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.’”.
Ayat di atas ini menunjukkan bahwa ‘memuliakan Allah’ sama dengan ‘memuliakan Anak’.
Yoh 13:31-32 - “(31) Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: ‘Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. (32) Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diriNya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.”.
Yoh 16:14 - “Ia (Roh Kudus) akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari padaKu.”.
Yoh 17:1,5 - “(1) Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: ‘Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah AnakMu, supaya AnakMu mempermuliakan Engkau. ... (5) Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadiratMu sebelum dunia ada.”.
Kata ‘di hadiratMu’ kurang tepat terjemahannya; seharusnya adalah ‘with thee’ [= bersama Engkau] seperti dalam KJV.
Kis 3:13a - “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan HambaNya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, ...”.
2Tim 4:18 - “Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam KerajaanNya di sorga. BagiNyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin”.
Catatan: kata ‘Tuhan’ dalam 2Tim 4:18 ini oleh TDB diterjemahkan sebagai ‘Tuan’ sehingga jelas menunjukkan bahwa mereka sendiri menganggap bahwa yang dibicarakan di sini adalah Yesus, bukan Bapa.
Ibr 5:5 - “Demikian pula Kristus tidak memuliakan diriNya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepadaNya: ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini’”.
Ibr 13:21 - “kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendakNya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepadaNya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”.
1Pet 1:21 - “Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakanNya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.”.
2Pet 1:17 - “Kami menyaksikan, bagaimana Ia (Yesus) menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepadaNya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: ‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.’”.
Saksi-Saksi Yehuwa sendiri mengatakan: “Kristus adalah Raja dari Allah, yang Allah tempatkan di atas takhta kekuasaan-Nya;” - ‘Saksi-Saksi Yehuwa Pemberita Kerajaan Allah’, hal 157.
Kalau Yesus bukan Allah, maka pemuliaan Yesus ini merupakan sesuatu yang aneh, karena Yes 42:8 dan Yes 48:11 menyatakan bahwa Allah (Bapa) tidak akan memberikan kemuliaanNya kepada yang lain.
Yes 42:8 - “Aku ini TUHAN (YAHWEH), itulah namaKu; Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain atau kemasyhuranKu kepada patung.”.
Yes 48:11 - “Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan namaKu akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain!’”.
Ajaran Saksi Yehuwa yang menganggap bahwa Yesus betul-betul terpisah secara total dari Bapa, bertentangan dengan kedua ayat di atas ini; tetapi kekristenan yang benar, yang mempercayai bahwa Yesus itu satu dengan BapaNya, tidak bertentangan dengan kedua text di atas ini.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali