KEBAKTIAN online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 10 Maret 2024, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

bukti-bukti bahwa

yesus adalah allah(14a)

 

5)  Yesus mempunyai sifat-sifat ilahi.

 

Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus mempunyai sifat-sifat ilahi, seperti:

 

a)   Kekal (Yes 9:5  Mikha 5:1b  Yoh 1:1  Yoh 8:58  Yoh 10:10  Yoh 17:5  Ibr 1:11-12  Wah 1:8,17-18  Wah 2:8  Wah 22:13).

 

1.   Yes 9:5 - “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”.

 

a.   Terjemahan dari bagian ini.

Merupakan sesuatu yang aneh bahwa hampir semua Kitab Suci Inggris, kecuali YLT, juga menterjemahkan ‘Bapa yang kekal’, karena sebetulnya terjemahan yang benar / hurufiah bukan ‘Bapa yang kekal’, tetapi ‘Bapa dari kekekalan’.

 

YLT: “Father of eternity” [= Bapa dari kekekalan].

 

Barnes’ Notes: “Literally, it is the Father of eternity” [= Secara hurufiah, ini adalah (sang) Bapa dari kekekalan] - hal 193.

 

Matthew Henry: “He is the everlasting Father, or the Father of eternity;” [= Ia adalah sang Bapa yang kekal, atau sang Bapa dari kekekalan;].

 

Adam Clarke: “‘The everlasting Father.’ ‘The Father of the everlasting age.’ Or ‎Abiy ‎ad‎, the Father of eternity.” [= ‘Bapa yang kekal’. ‘Bapa dari jaman yang kekal’. Atau ABIY AD, Bapa dari kekekalan.].

 

Jamieson, Fausset & Brown: “the ‘everlasting Father’ ...  - literally, ‘The Father of eternity’ (AD).” [= sang ‘Bapa yang kekal’ ... - secara hurufiah, ‘Bapa dari kekekalan’ (AD),].

 

Kata Ibrani yang digunakan adalah  אֲבִיעַ֖ד (AVI AD; dibaca dari kanan ke kiri).

 

Kata pertama, yaitu AVI, merupakan suatu kata benda dalam bentuk yang disebut ‘the construct state’. Kalau mau tahu apa yang disebut dengan ‘the construct state’ bacalah kata-kata Menahem Mansoor di bawah ini.

 

Menahem Mansoor: “In each of these Hebrew pairs, two words are closely connected. In English the preposition ‘of’ (or sometimes ‘with’ or ‘for’) is used. The first of these two closely connected Hebrew words is said to be in the construct state. ... In the expression שֵׁם הָאָב (SHEM HAAV - dibaca dari kanan ke kiri), the first word שֵׁם (SHEM) is translated ‘the name of’, thus שֵׁם (SHEM) already implies the definite article ‘the’. It is obvious, therefore, that a noun in the construct state never takes the definite article.” [= Dalam setiap dari pasangan kata-kata benda Ibrani ini, dua kata dihubungkan secara dekat. Dalam bahasa Inggris kata depan ‘dari’ (atau kadang-kadang ‘dengan’ atau ‘untuk’) digunakan. Yang pertama dari dua kata Ibrani yang dihubungkan secara dekat itu dikatakan berada dalam bentuk ‘construct state’. ... Dalam ungkapan שֵׁם הָאָב (SHEM HAAV - dibaca dari kanan ke kiri), kata pertama שֵׁם (SHEM) diterjemahkan ‘sang nama dari’, jadi שֵׁם (SHEM) sudah menyatakan secara tak langsung kata sandang tertentu ‘sang’. Karena itu jelaslah bahwa suatu kata benda dalam the construct state tidak pernah mempunyai kata sandang tertentu.] - ‘Biblical Hebrew Step By Step’, vol I, hal 175.

 

Sekarang kita kembali pada text yang sedang kita bahas, yaitu Yes 9:5. Dua kata yang dihubungkan secara dekat itu adalah  אֲבִיעַ֖ד  (AVI AD; dibaca dari kanan ke kiri). Kata pertama yaitu AVI, berasal dari kata AV, yang berarti ‘bapa’. AVI merupakan bentuk dari AV dalam ‘the construct state’, dan karena itu harus diterjemahkan sebagai ‘the father of’ [= sang bapa dari].

 

Bahwa kata AVI memang merupakan bentuk ‘the construct state’ dari kata AV (= bapa), terlihat dalam banyak ayat, dimana kata AVI memang digunakan seperti itu, misalnya dalam Kej 9:18, dimana kata AVI KENAAN diterjemahkan the father of Canaan’ [= sang bapa dari orang-orang Kanaan].

 

Kata kedua adalah AD, dan tentang kata ini Albert Barnes mengatakan: “The word rendered ‘everlasting, עַ֖ד  (AD), properly denotes ‘eternity,’” [= Kata yang diterjemahkan ‘kekal’, עַ֖ד  (AD), secara tepat menunjukkan ‘kekekalan’,] - hal 193.

 

Kalau diterjemahkan ‘kekal’ maka kata itu adalah kata sifat, dan kalau diterjemahkan ‘kekekalan’ maka kata itu adalah kata benda. Karena kata pertama (AVI) ada dalam bentuk ‘construct state’ maka jelas bahwa kata kedua (AD) harus adalah kata benda. Jadi, terjemahannya yang benar bukanlah ‘Bapa yang kekal’, tetapi ‘Bapa dari kekekalan’.

 

b.   Ini jelas merupakan suatu nubuat tentang Yesus, dan di sini Ia disebut dengan istilah ‘Bapa dari kekekalan’. Apa arti istilah ini?

 

(1) Barnes’ Notes: “The term ‘Father’ is not applied to the Messiah here with any reference to the distinction in the divine nature, for that word is uniformly, in the Scriptures, applied to the first, not to the second person of the Trinity.” [= Istilah ‘Bapa’ tidak diterapkan pada Mesias di sini dengan merujuk pada perbedaan dalam hakekat ilahi, karena dalam Kitab Suci kata tersebut secara seragam diterapkan kepada pribadi pertama, bukan pada pribadi kedua, dari Tritunggal.] - hal 193.

 

(2) The Bible Exposition Commentary: “‘Everlasting Father’ does not suggest that the Son is also the Father, for each Person in the Godhead is distinct. ‘Father of eternity’ is a better translation. Among the Jews, the word ‘father’ means ‘originator’ or ‘source.’ For example, Satan is the ‘father (originator) of lies’ (NIV John 8:44, NIV).” [= ‘Bapa yang kekal’ tidak menunjukkan / berarti bahwa Anak juga adalah Bapa, karena setiap Pribadi dalam Allah adalah berbeda. ‘Bapa dari kekekalan’ merupakan suatu terjemahan yang lebih baik. Di antara orang-orang Yahudi, kata ‘bapa’ berarti ‘pemulai’ atau ‘sumber’. Sebagai contoh, Iblis adalah ‘bapa (pemulai) dari dusta-dusta (NIV Yoh 8:44, NIV).].

 

(3) Calvin mengartikan bahwa kata ‘Bapa’ di sini artinya adalah ‘author’ [= pencipta atau sumber]. Jadi, Yes 9:5 ini menyatakan Yesus sebagai pencipta / sumber dari kekekalan.

 

Bandingkan dengan:

 

(a) Yoh 8:44 - “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”.

 

(b) Ibr 12:9 - “Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?”.

 

Dalam kedua ayat di atas ini, kelihatannya istilah ‘bapa’ harus diartikan sebagai ‘pencipta / sumber’.

 

(4) Charles Haddon Spurgeon: “It is the manner of the Easterns to call a man the father of a quality for which he is remarkable. To this day, among the Arabs, a wise man is called ‘the father of wisdom;’ a very foolish man ‘the father of folly.’ The predominant quality in the man is ascribed to him as though it were his child, and he the father of it. Now, the Messiah is here called in the Hebrew ‘the father of eternity,’ by which is meant that he is pre-eminently the possessor of eternity as an attribute. Just as the idiom, ‘the father of wisdom,’ implies that a man is pre-eminently wise, so the term, ‘Father of eternity,’ implies that Jesus is pre-eminently eternal; that to him, beyond and above all others, eternity may be ascribed. ... not only is eternity ascribed to Christ, but he is here declared to be parent of it. Imagination cannot grasp this, for eternity is a thing beyond us; yet if eternity should seem to be a thing which can have no parent, be it remembered that Jesus is so surely and essentially eternal, that he is here pictured as the source and Father of eternity. Jesus is not the child of eternity, but the Father of it. Eternity did not bring him forth from its mighty bowels, but he brought forth eternity.” [= Merupakan kebiasaan orang Timur untuk menyebut seseorang sebagai bapa dari kwalitet yang luar biasa / lain dari yang lain dalam dirinya. Sampai saat ini, di antara orang Arab, seorang yang bijaksana disebut ‘bapa dari hikmat’; seorang yang sangat bodoh disebut ‘bapa dari kebodohan’. Kwalitet yang utama / menonjol dalam seseorang dianggap berasal dari dia seakan-akan itu adalah anaknya, dan ia adalah bapa dari kwalitet itu. Sekarang, Mesias di sini disebut dalam bahasa Ibrani ‘bapa dari kekekalan’ dengan mana dimaksudkan bahwa ia memiliki sifat kekal. Sama seperti ungkapan ‘bapa dari hikmat’ menunjukkan bahwa orang itu bijaksana, demikian pula istilah ‘Bapa dari kekekalan’ menunjukkan bahwa Yesus itu kekal; sehingga di atas semua yang lain, kekekalan dianggap berasal dari dia. ... bukan hanya kekekalan dianggap berasal dari Kristus, tetapi di sini Ia dinyatakan sebagai orang tua dari kekekalan. Imaginasi tidak dapat mengertinya, karena kekekalan merupakan sesuatu yang melampaui kita; tetapi jika kekekalan kelihatannya adalah hal yang tidak bisa mempunyai orang tua, haruslah diingat bahwa Yesus begitu kekal secara pasti dan hakiki, sehingga di sini Ia digambarkan sebagai sumber dan Bapa dari kekekalan. Yesus bukanlah anak dari kekekalan, tetapi Bapa dari kekekalan. Kekekalan tidak melahirkannya, tetapi Ia melahirkan kekekalan.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol II, ‘The Messiah’, hal 134-135.

 

(5) Barnes’ Notes: “it may be used in accordance with a custom in Hebrew and in Arabic, where he who possesses a thing is called the father of it. Thus ‘the father of strength’ means strong; ‘the father of knowledge’, intelligent; ‘the father of glory’, glorious; ‘the father of goodness’, good; ‘the father of peace’, peaceful. According to this, the meaning of the phrase, ‘the Father of eternity’ is properly eternal.” [= ini mungkin dipakai sesuai dengan kebiasaan dalam bahasa Ibrani dan Arab, dimana ia yang memiliki sesuatu disebut bapa dari sesuatu itu. Jadi, ‘bapa dari kekuatan’ berarti kuat; ‘bapa dari pengetahuan’ berarti pandai; ‘bapa dari kemuliaan’ berarti mulia; ‘bapa dari kebaikan’ berarti baik; ‘bapa dari damai’ berarti cinta damai. Menurut ini, arti dari ungkapan ‘Bapa dari kekekalan’ adalah kekal.] - hal 193.

 

(6) Barnes’ Notes: “He is not merely represented as everlasting, but he is introduced, by a strong figure, as even ‘the Father of eternity’, as if even everlasting duration owed itself to his paternity.” [= Ia tidak semata-mata digambarkan sebagai kekal, tetapi ia diperkenalkan dengan suatu penggambaran yang kuat bahkan sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, seakan-akan bahkan kekekalan berhutang dirinya sendiri kepada kebapaanNya.] - hal 193.

 

2.   Mikha 5:1 - “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”.

 

Mikha 5:1b, yang jelas merupakan suatu nubuat tentang Kristus, mengatakan ‘yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.’.

 

3.   Yoh 1:1 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu sudah ada ‘pada mulanya’.

 

Yoh 1:1 - Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah..

 

4.   Yoh 8:58 mengatakan bahwa Yesus (telah) ada sebelum Abraham, padahal Abraham hidup lebih dari 2000 tahun sebelum Kristus lahir.

 

Yoh 8:58 - Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.’.

KJV: “Before Abraham was, I am.” [= Sebelum Abraham ada, Aku ada.].

 

5.   Yoh 10:10, dan banyak ayat Kitab Suci yang lain, mengatakan bahwa Yesus ‘datang’.

 

Yoh 10:10 - Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan..

 

Ini menunjuk pada saat kelahiran Yesus. Tidak dikatakan ‘dilahirkan’ tetapi ‘datang’, karena ‘datang’ menunjukkan bahwa Ia sudah ada sebelum saat itu.

 

6.   Yoh 17:5 - “Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadiratMu sebelum dunia ada.”.

Pada bagian yang saya garis bawahi, terjemahan Kitab Suci Indonesia agak kurang tepat.

KJV: ‘with thee’ [= bersama Engkau].

TDB: ‘di sisimu sendiri’.

Jadi, Yoh 17:5 ini menunjukkan bahwa Yesus memiliki kemuliaan bersama Allah sebelum dunia ada, dan itu jelas menunjukkan kekekalan dari Yesus.

 

7.   Ibr 1:11-12 - “(11) Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; (12) seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan.’”.

 

a.   Bahwa bagian ini menunjuk kepada Yesus adalah sesuatu yang jelas, karena Ibr 1:10-12 merupakan sambungan dari Ibr 1:8-9 (dihubung­kan oleh kata ‘dan’ pada awal Ibr 1:10), dan Ibr 1:8 berkata tentang (kepada) Anak’.

 

b.   Sekarang, perhatikan kata-kata yang saya garis bawahi dari Ibr 1:11-12 itu. Ini jelas menunjukkan kekekalan dari Anak / Yesus. Tetapi kalau dalam ayat-ayat di atas Yesus digambarkan kekal ke belakang (tidak ada saat dimana Ia tidak / belum ada), maka dalam text ini Yesus digambarkan kekal ke depan.

 

8.         Kitab Wahyu sangat menekankan kekekalan dari Yesus. Misalnya:

 

a.   Wah 1:7-8,17-18 - “(7) Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin. (8) ‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’ ... (17) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kakiNya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kananNya di atasku, lalu berkata: ‘Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, (18) dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.”.

Catatan:

(1) Dengan melihat pada Wah 1:7, terlihat bahwa Wah 1:8 berbicara tentang Yesus. Dan Wah 1:17-18 jelas sekali berbicara tentang Yesus, karena adanya kata-kata ‘telah mati, namun lihatlah, Aku hidup’. Juga bdk. dengan Wah 1:13nya yang mengatakan ‘Anak  Manusia’.

(2) Kata-kata ‘Yang Awal’ dalam Wah 1:17 seharusnya adalah ‘Yang Pertama’.

 

b.   Wah 2:8 - “‘Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali:”.

 

Catatan:

 

(1) Kalau Saksi-Saksi Yehuwa tidak mau mengakui bahwa Wah 2:8 ini menunjuk kepada Yesus, maka:

(a) Tanyakan mengapa mereka menganggap bahwa Wah 3:14 ditujukan kepada Yesus. Jelas karena Wah 2 dan Wah 3 adalah surat-surat kepada ketujuh gereja dari Tuhan Yesus. Jadi, tidak bisa tidak, Wah 2:8 pasti menunjuk kepada Yesus.

(b) Ajak mereka melihat bagian akhir dari Wah 2:8 itu, yang berbunyi ‘yang telah mati dan hidup kembali’, dan tanyakan: kalau ini tidak menunjuk kepada Yesus, lalu menunjuk kepada siapa?

 

(2) Kata-kata ‘Yang Awal’ di sini seharusnya juga adalah ‘Yang Pertama’.

 

c.   Wah 22:12-13 - “(12) ‘Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upahKu untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. (13) Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.’”.

Catatan: kata-kata ‘Yang Terkemudian’ dalam Wah 22:13 ini seharusnya adalah ‘Yang Akhir’.

 

Perhatikan bahwa:

1.   Wah 1:8 dan Wah 22:13 menyebut Yesus sebagai Alfa dan Omega’ (huruf pertama dan terakhir dalam abjad Yunani). Kalau Yesus memang adalah ciptaan pertama dari Bapa, maka Ia seharusnya disebut sebagai Beta dan Omega’ (Catatan: Beta adalah huruf kedua dalam abjad Yunani).

2.   Wah 22:13 mengatakan bahwa Ia adalah Yang Awal dan Yang Akhir’. Kalau Yesus adalah ciptaan pertama dari Bapa, Ia tidak bisa disebut sebagai ‘Yang Awal’.

3.   Wah 1:17, Wah 2:8 dan Wah 22:13 mengatakan bahwa Yesus adalah Yang pertama dan Yang Akhir’. Kalau Yesus adalah ciptaan pertama dari Bapa, Ia seharusnya disebut sebagai Yang kedua dan Yang Akhir’.

4.   Wah 1:18 mengatakan bahwa Ia ‘hidup sampai selama-lamanya’.

 

Semua ini jelas menunjukkan bahwa Yesus itu kekal / ada dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, dan semuanya ini bertentangan dengan ajaran Saksi Yehuwa tentang Yesus Kristus, yang mengatakan:

a.   “Karena telah diciptakan oleh Allah, Yesus adalah nomor dua dalam hal waktu, kuasa, dan pengetahuan” - ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’, hal 14.

b.   “Namun bagaimana seseorang bisa menjadi anak dan pada waktu yang sama umurnya setua ayahnya?” - ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 15.

c.   “bila Alkitab menyebut Allah sebagai ‘Bapa’ dari Yesus, ini memaksudkan tepat seperti yang dikatakannya - bahwa mereka adalah dua pribadi yang terpisah. Allah yang senior. Yesus yang yunior - dalam hal waktu atau umur, ...” - ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 16.

d.   Yesus Kristus, pribadi terbesar kedua di alam semesta ini, di samping Allah sendiri!” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 124.

Catatan: tentang bagaimana seorang anak bisa setua ayahnya, lihat penjelasan tentang doktrin ‘The Eternal Generation of The Son’ yang akan saya jelaskan di bawah ini.

 

Untuk menjelaskan hubungan Bapa dengan Anak, dan sekaligus untuk melindungi ketidak-berubahan Allah dan kekekalan Yesus, maka diciptakan doktrin ‘the eternal generation of the Son’ ini.

 

1)         Dasar Kitab Suci dari doktrin ini:

 

a)   Sebutan ‘Bapa’ dan ‘Anak’ dalam Kitab Suci menunjukkan bahwa Bapa memang memperanakkan Anak (tetapi bukan seperti seorang bapak memperanakkan anaknya!). Kalau memang tidak ada tindakan memperanakkan, mengapa tidak disebut saja suami - istri, atau dua saudara kembar, atau paman - keponakan, dan sebagainya?

 

b)   Sebutan ‘Anak Tunggal’ / ‘The Only Begotten’ (Yoh 1:14  3:16), dan juga sebutan ‘sulung’ [dalam bahasa Inggrisnya firstborn [= yang dilahirkan pertama] bagi Yesus (Kol 1:15  Ro 8:29  Ibr 1:6), menunjukkan bahwa Ia memang diperanakkan.

 

c)   Yoh 5:26 dan Yoh 6:57 mengatakan bahwa Bapa memberikan Anak untuk mempunyai hidup dalam diriNya sendiri.

 

Yoh 5:26 - Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diriNya sendiri, demikian juga diberikanNya Anak mempunyai hidup dalam diriNya sendiri..

 

Ay 26a menunjukkan bahwa Allah Bapa itu self-existent [= ada dengan sendirinya, tidak mendapatkan keberadaannya dari pihak lain], dan ay 26b menunjukkan bahwa Allah Anak itu self-existent. Catatan: ini tentu tidak menunjuk kepada kemanusiaan Yesus, tetapi kepada keilahian Yesus.

 

Yoh 6:57 - Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku..

 

Ini merupakan bagian sukar yang ditafsirkan bermacam-macam:

 

1.   Ini menunjuk kepada Yesus sebagai manusia. Sebagai manusia, Yesus memang mendapatkan hidup dari Bapa.

 

2.   Ini menunjuk pada kesatuan antara Yesus dengan Bapa. Anak tidak mempunyai hidup di luar / terpisah dari Bapa.

 

3.   Ini menunjuk pada doktrin The Eternal Generation of the Son, yang mengatakan bahwa Yesus (sebagai Allah Anak) diperanakkan secara kekal oleh Bapa.

 

d)   Yoh 1:18, kalau dilihat dari manuscript yang dianggap paling benar, terjemahannya adalah ‘satu-satunya Allah yang diperanakkan’ (‘the only begotten God’).

Sekalipun Bapa dan Roh Kudus adalah Allah, tetapi Bapa dan Roh Kudus tidak pernah diperanakkan. Jadi, Yesus adalah satu-satunya Allah yang diperanakkan!

 

2)   Definisi doktrin ini: ‘The eternal generation of the Son’ merupakan suatu tindakan kekal dari Bapa, dimana Bapa secara kekal / terus menerus memperanakkan Anak.

 

Itu bukanlah suatu tindakan yang terjadi hanya pada satu saat di masa lampau, tetapi merupakan suatu tindakan yang, sekalipun sudah selesai dilakukan, tetapi tetap dilakukan terus-menerus, dari minus tak terhingga sampai plus tak terhingga. Tidak ada saat di mana Bapa tidak melakukan tinda­kan itu.

 

Catatan: yang diperanakkan secara kekal itu adalah pribadi Allah Anak, bukan hakekatNya, karena Ia sehakekat dengan Bapa.

 

Definisi ini penting, karena kalau dikatakan bahwa Bapa memperanakkan Anak pada satu saat di masa yang lampau, maka gambarnya adalah seperti ini:

 

 

                                          Bapa

                                  memperanakkan

                                          Anak

  


 

  B                                         B & A

     

Hanya ada Bapa sendiri                 Ada Bapa dan Anak

_____________________________________________________________

 

 

Dengan demikian:

a)   Ada perubahan dalam diri Allah (dari 1 pribadi menjadi 2 pribadi).

Catatan: jangan menganggap gambar-gambar di atas sebagai gambar-gambar dari Bapa dan Anak. Saya tidak menggambarkan Allah, karena itu dilarang oleh Kitab Suci. Dengan gambar itu saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada perubahan dari satu pribadi menjadi dua pribadi!

b)   Bapa lebih kekal dari Anak / Yesus.

 

Memang ada yang menangkis serangan ini dengan berkata bahwa pada minus tak terhingga itu belum ada waktu, sehingga tidak ada ‘sebelum’ atau ‘sesudah’. Itu benar tetapi:

1.   Secara logika kita masih dapat memikirkan hal itu.

2.   Bdk. Ro 8:29 - “Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”.

Baik ‘pemilihan’ maupun ‘penentuan’ terjadi dari semula (minus tak terhingga), tetapi toh ayat itu menunjukkan bahwa ‘pemilihan’ mendahului ‘penentuan’.

 

Sekarang mari kita kembali pada doktrin yang benar dari ‘The Eternal Generation of the Son’ ini.

 

Herman Bavinck: “It is not to be regarded as having been completed once for all in the past, but it is an act eternal and immutable, eternally finished, yet continuing forevermore. As it is natural for the sun to give light and for the fountain to pour forth water, so it is natural for the Father to generate the Son.” [= Ini tidak boleh dianggap sebagai sudah terjadi sekali untuk selama-lamanya di masa yang lalu, tetapi ini merupakan suatu tindakan yang kekal dan tidak berubah, diselesaikan secara kekal, tetapi terus berlang­sung selama-lamanya. Sebagaimana merupakan sesuatu yang alamiah bagi matahari untuk memberikan sinarnya dan bagi suatu sumber untuk mengeluarkan air, demikian juga adalah sesuatu yang alamiah bagi Bapa untuk memperanakkan Anak.] - ‘The Doctrine of God’, hal 309.

 

Illustrasi / analogi yang dipakai oleh Bavinck di sini adalah sangat penting. Tindakan Bapa memperanakkan Anak merupakan suatu tinda­kan yang sudah selesai, tetapi terus berlangsung secara kekal.

 

Analoginya adalah matahari yang memancarkan sinarnya. Matahari itu sudah selesai memancarkan sinarnya, tetapi hal itu tetap berlangsung terus menerus, dan tidak ada saat dimana matahari tidak memancarkan sinarnya.

 

Sekarang cobalah membayangkan hal itu. Dari minus tak terhingga sampai ke plus tak terhingga matahari terus menerus memancarkan sinarnya. Coba bayangkan hal ini, dan ikuti matahari dan sinarnya itu mulai minus tak terhingga sampai ke plus tak terhingga. Apakah ada perubahan? Sama sekali tidak, bukan? Semua tetap sama selama-lamanya. Lalu, apakah matahari lebih kekal dari sinarnya? Kalau saudara berkata bahwa matahari ada lebih dulu dari sinarnya, maka ingat bahwa matahari tanpa sinar tidak bisa disebut sebagai matahari, dan ingat juga bahwa dalam ilustrasi ini matahari itu terus mengeluarkan sinarnya dari minus tak terhingga sampai plus tak terhingga. Jadi jelas bahwa matahari sama usianya dengan sinarnya.

 

Kalau hal ini kita jadikan ilustrasi tentang Bapa yang memperanakkan Anak, maka kita tidak bisa melihat adanya perubahan dalam diri Allah, dan kita juga tidak bisa mengatakan bahwa Bapa itu lebih kekal dari pada Anak.

 

Philip Schaff: “In human generation, ... the father is older than the son; but in the divine generation, which takes place not in time, but is eternal, there can be no such thing as priority or posteriority of one or the other hypostasis.” [= Dalam kelahiran manusia, ... bapanya lebih tua dari anaknya; tetapi dalam kelahiran ilahi, yang terjadi bukan dalam waktu, tetapi merupakan sesuatu yang kekal, tidak ada ‘sebelum’ atau ‘sesudah’ dari satu pribadi atau pribadi yang lain.] - ‘History of the Christian Church’, vol III, hal 659.

 

W. G. T. Shedd mengutip kata-kata yang indah dari Turretin:

“The Father does not generate the Son either as previously exist­ing, for in this case there would be no need of generation; nor as not yet existing, for in this case the Son would not be eter­nal; but as coexisting, because he is from eternity in the God­head.” [= Bapa tidak memperanakkan Anak seakan-akan Anak itu sudah ada sebelumnya, karena dalam hal ini tidak dibutuhkan tindakan memperanakkan itu; juga tidak seakan-akan Anak itu belum ada, karena dalam hal ini Anak itu tidak kekal; tetapi sebagai ada bersama-sama, karena Ia ada di dalam Allah sejak kekekalan.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 293-294.

 

Dari penjelasan-penjelasan ini terlihat bahwa sekalipun Yesus memang betul-betul diperanakkan oleh Bapa, Ia tetap sama kekalnya dengan Bapa, dan itu membuktikan bahwa Ia memang adalah Allah sendiri!

 

Jadi, dengan penjelasan dan ilustrasi ini kita bisa menjawab dan mematahkan argumentasi yang cuma berdasarkan logika semata-mata yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa: “Para penganut Tritunggal mengatakan bahwa karena Allah itu kekal, maka Anak Allah juga kekal. Namun bagaimana seseorang bisa menjadi anak dan pada waktu yang sama umurnya setua ayahnya?” - ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 15.

 

Satu hal lagi yang perlu ditekankan adalah bahwa: yang dibicarakan dalam doktrin ‘the eternal generation of the Son’ ini adalah Yesus sebagai Allah, bukan Yesus sebagai manusia. Sebagai manusia, Yesus dicipta, dan tidak kekal.

 

Philip Schaff: “The Son, as man, is produced; as God, he is unproduced or uncreated; he is begotten from eternity of the unbegotten Father.” [= Anak, sebagai manusia, dihasilkan / diciptakan; sebagai Allah, Ia tidak dihasilkan atau tidak diciptakan; Ia diperanakkan dari kekekalan dari Bapa yang tidak diperanakkan.] - ‘History of the Christian Church’, vol III, hal 658.

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali