(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 3 Maret 2024, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
bukti-bukti bahwa
yesus adalah allah(13d)
d. Kontras antara EIMI (= am / adalah) dan GENESTHAI (= became / menjadi; was made / dibuat; was born / dilahirkan; was created / dicipta).
Yoh 8:58 -
“Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi
(GENESTHAI), Aku telah
ada (EIMI).’”.
Robert M. Bowman Jr.: “It has long been recognized by commentators on the Gospel of John that in 8:58 a deliberate contrast is made between the created origin of Abraham and the eternal uncreated nature of Christ. This contrast is made by the use of GENESTHAI for Abraham, but EIMI for Christ. Thus, Augustine wrote, "Understand, that ‘was made’ refers to human formation; but ‘am’ to the Divine essence."” [= Telah lama diakui oleh penafsir-penafsir tentang Injil Yohanes bahwa dalam 8:58 ada suatu kontras yang disengaja antara asal usul Abraham yang diciptakan dan hakekat Kristus yang kekal dan tidak diciptakan. Kontras ini dibuat dengan menggunakan GENESTHAI untuk Abraham, tetapi EIMI untuk Kristus. Karena itu, Agustinus menulis: "Mengertilah, bahwa kata ‘dibuat’ menunjuk pada pembentukan manusia; tetapi kata ‘adalah’ menunjuk pada hakekat Ilahi."] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 112.
Robert M. Bowman Jr.: “By itself, of course, the word EIMI does not connote eternal preexistence. However, placed alongside GENESTHAI and referring to a time anterior to that indicated by GENESTHAI, the word EIMI (or its related forms), because it denotes simple existence and is a durative form of the verb ‘to be,’ stands in sharp contrast to the aorist GENESTHAI which speaks of ‘coming into being.’ It is this sharp contrast between ‘being’ and ‘becoming’ which makes it clear that in a text like John 8:58 EIMI connotes eternality, not merely temporal priority.” [= Dalam dirinya sendiri, tentu saja kata EIMI tidak mempunyai arti pre-eksistensi yang kekal. Tetapi, ditempatkan di sisi GENESTHAI dan menunjuk pada suatu waktu sebelum waktu yang ditunjukkan oleh GENESTHAI, maka kata EIMI (atau bentuk-bentuknya yang berhubungan), karena kata itu menunjukkan keberadaan biasa dan merupakan suatu bentuk yang terus menerus dari kata kerja ‘to be’, berada dalam kontras yang tajam dengan bentuk aorist / lampau GENESTHAI, yang berbicara tentang ‘menjadi ada’. Kontras yang tajam antara ‘being’ dan ‘becoming’ inilah yang membuat jelas bahwa dalam suatu text seperti Yoh 8:58 EIMI menunjukkan ‘kekekalan’, bukan sekedar ‘lebih dulu dalam hal waktu’.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 114.
Robert M. Bowman Jr.: “In his ‘Prologue’ John contrasts the Word, which ‘was’ (EN, third person imperfect form of EIMI) in the beginning, with his bringing into existence (EGENETO, the third person singular indicative form of GENESTHAI) of all things (John 1:1-3). ... to say that the Word was continuing to exist at the beginning of created time is simply another way of saying that the Word was eternal. By going on to say that this uncreated Logos ‘became’ (egeneto) flesh (1:14), John draws another contrast between the two natures of Christ. To put it in the classic terminology of orthodox incarnational theology, Christ was uncreated (EN) with respect to his deity, but created (EGENETO) with respect to his humanity.” [= Dalam ‘Pendahuluan’nya Yohanes mengkontraskan Firman, yang ‘was’ / ‘telah ada’ (EN, orang ketiga, bentuk imperfect dari EIMI) pada mulanya, dengan pembuatan / penciptaan (EGENETO, orang ketiga tunggal, bentuk indikatif dari GENESTHAI) dari segala sesuatu (Yoh 1:1-3). ... mengatakan bahwa Firman terus ada pada permulaan dari waktu yang diciptakan hanyalah merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa Firman itu kekal. Dengan mengatakan selanjutnya bahwa Logos yang tidak diciptakan ini ‘became’ / ‘menjadi’ (EGENETO) daging (1:14), Yohanes membuat kontras yang lain antara kedua hakekat Kristus. Untuk mengatakannya dalam ungkapan klasik dari theologia inkarnasi yang ortodox, Kristus tidak diciptakan (EN) berkenaan dengan keallahanNya, tetapi diciptakan (EGENETO) berkenaan dengan kemanusiaanNya.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 114.
Yoh 1:1,3,14 - “(1) Pada mulanya adalah (EN) Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. ... (3) Segala sesuatu dijadikan (EGENETO) oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi (EGENETO) dari segala yang telah dijadikan. ... (14) Firman itu telah menjadi (EGENETO) manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”.
Catatan: kata EGENETO ada dalam aorist tense; sedangkan kata EN ada dalam imperfect tense. Aorist tense menunjuk pada tindakan sesaat di masa lampau, sedangkan imperfect tense menunjuk pada tindakan yang berjalan terus di masa lampau.
Robert M. Bowman Jr.: “had Jesus wished to say what JWs understand him to have said - that he merely existed for a long time before Abraham - he could have said so by saying, ‘Before Abraham came into existence, I was,’ using the imperfect tense EMEN instead of the present tense EIMI. ... Such a statement would have left open the question of whether or not Jesus had always existed, or whether (like the angels) he had existed from the earliest days of the universe’s history. Or, ... he could have said so by stating, ‘Before Abraham came into existence, I came into existence’ (by using the first person aorist EGENOMEN instead of EIMI), or perhaps more simply, ‘I came into existence before Abraham.’ Having said neither of these things, but rather, having chosen terms which went beyond these other formulations to draw a contrast between the created and the uncreated, Jesus’ words must be interpreted as a claim to eternality.” [= seandainya Yesus bermaksud untuk mengatakan sebagaimana kata-kataNya dimengerti oleh Saksi-Saksi Yehuwa - bahwa Ia hanya sudah ada untuk waktu yang lama sebelum Abraham - Ia bisa mengatakan hal itu dengan berkata: ‘Sebelum Abraham menjadi ada, Aku ada / I was’, menggunakan imperfect tense EMEN dan bukannya present tense EIMI. ... Pernyataan seperti itu akan membiarkan terbuka pertanyaan apakah Yesus selalu sudah ada atau tidak, atau apakah (seperti malaikat-malaikat) Ia telah ada sebelum saat-saat yang paling awal dari sejarah alam semesta. Atau, ... Ia bisa mengatakan demikian dengan berkata: ‘Sebelum Abraham menjadi ada, Aku menjadi ada’ (dengan menggunakan bentuk aorist / lampau, orang pertama EGENOMEN dan bukannya EIMI), atau mungkin dengan lebih sederhana: ‘Aku menjadi ada sebelum Abraham’. Tetapi karena Ia tidak mengatakan yang manapun dari hal-hal ini, tetapi sebaliknya, memilih istilah-istilah yang melampaui pernyataan-pernyataan yang lain ini, untuk membuat suatu kontras antara yang dicipta dan yang tidak dicipta, maka kata-kata Yesus harus ditafsirkan sebagai suatu claim pada / untuk kekekalan.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 115-116.
e. Hubungan antara Yoh 8:58 dengan Maz 90:2.
Yoh 8:58 -
“Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi
(GENESTHAI = became = menjadi),
Aku telah ada (EIMI = am = adalah).’”.
Maz 90:2 - “Sebelum gunung-gunung dilahirkan (LXX: GENETHENAI), dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah (LXX: SU EI = You are / Engkau adalah)”.
Catatan: Bowman menggunakan LXX / Septuaginta / Perjanjian Lama berbahasa Yunani untuk Maz 90:2. Sama seperti Bowman, A. T. Robertson juga membandingkan Yoh 8:58 dengan Maz 90:2 (hal 159).
Bowman mengatakan (hal 117-118) bahwa kata GENESTHAI dalam Yoh 8:58 dan kata GENETHENAI dalam Maz 90:2 mempunyai kata dasar yang sama, yaitu GINOMAI. Tetapi:
(1) GENESTHAI ada dalam bentuk aorist active infinitive.
(2) GENETHENAI ada dalam bentuk aorist passive infinitive.
Lalu, kata-kata ‘Aku ada / adalah’ dalam Yoh 8:58 adalah EGO EIMI [= I am]; sedangkan kata-kata ‘Engkaulah’ atau ‘Engkau adalah’ dalam Maz 90:2 adalah SU EI [= You are].
Jadi terlihat dengan jelas bahwa Yoh 8:58 paralel dengan Maz 90:2. Perbedaan dari kedua text itu hanyalah:
(a) Dalam Yoh 8:58 digunakan bentuk aktif dari GINOMAI; sedangkan dalam Maz 90:2 digunakan bentuk pasifnya.
(b) Dalam Yoh 8:58 digunakan orang pertama (Aku); sedangkan dalam Maz 90:2 digunakan orang kedua (Engkau).
Tetapi perbedaan ini sama sekali tidak mempengaruhi ke-paralel-an dari kedua text ini.
Maz 90:2 jelas dimaksudkan untuk menunjukkan kekekalan dari Allah / Tuhan (baca ay 1nya yang berbicara tentang Tuhan), dan jelas bahwa Yoh 8:58, yang begitu paralel dengan Maz 90:2 itu, berbicara tentang kekekalan dari Yesus!
Robert Bowman mengatakan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa menjawab dengan mengatakan bahwa terjemahan LXX dari Maz 90:2 itu salah, karena LXX menghapuskan kata ‘Allah’ pada akhir dari ayat itu. LXX hanya menterjemahkan ‘You are’ [= Engkau adalah], padahal seharusnya adalah ‘You are God’ [= Engkau adalah Allah]. Dengan demikian Maz 90:2 tidak paralel dengan Yoh 8:58.
Robert Bowman menjawab keberatan ini dengan 2 hal:
· Memang Yoh 8:58 bukan kutipan dari Maz 90:2, dan karena itu tidak harus sama dalam segala hal. Yang kita claim hanyalah bahwa kedua text ini paralel dalam mengkontraskan bentuk dari EIMI dan GENESTHAI untuk menunjukkan kontras antara ‘keberadaan sementara’ dan ‘keberadaan yang kekal’.
· Perbedaan antara adanya kata ‘Allah’ dalam text Ibraninya dan tidak adanya kata ‘Allah’ dalam LXX tidak terlalu besar artinya.
Dengan menggunakan kata ‘Allah’ itu maka text Ibraninya menekankan fakta bahwa Tuhan bukan hanya ada secara kekal, tetapi ada secara kekal sebagai Allah.
f. Kalaupun Yoh 8:58 tidak mempunyai hubungan dengan Kel 3:14-15 ataupun dengan ayat-ayat Perjanjian Lama yang lain, Robert Bowman berpendapat bahwa Yoh 8:58 tetap menunjukkan kekekalan Kristus, dan karena itu, juga menunjukkan keilahianNya.
Robert M. Bowman Jr.: “it is not very important whether such a connection can be established. Even if Exodus 3:14 were not in the Bible at all, John 8:58 would stand on its own as an assertion of the eternality of Christ, … If Christ is eternal and uncreated, then he is Yahweh, for only Yahweh is eternal and uncreated. Therefore, it is not at all necessary for the Christian to prove any connection at all between John 8:58 and Exodus 3:14 in order to use John 8:58 as a prooftext for the deity of Christ.” [= tidak terlalu penting apakah hubungan seperti itu bisa dibuktikan. Bahkan seandainya Kel 3:14 itu sama sekali tidak ada dalam Alkitab, Yoh 8:58 tetap akan berdiri sendiri sebagai suatu penegasan tentang kekekalan Kristus, … Jika Kristus kekal dan tidak dicipta, maka Ia adalah YAHWEH, karena hanya YAHWEH yang kekal dan tidak dicipta. Karena itu, sama sekali tidak perlu bagi orang Kristen untuk membuktikan hubungan apapun antara Yoh 8:58 dan Kel 3:14 untuk menggunakan Yoh 8:58 sebagai ayat bukti untuk keallahan Kristus.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 121-122.
g. Komentar-komentar lain tentang Yoh 8:58.
Calvin: “he uses different verbs. Before Abraham WAS, or Before Abraham WAS BORN, I AM. But by these words he excludes himself from the ordinary rank of men, and claims for himself a power more than human, a power heavenly and divine, the perception of which reached from the beginning of the world through all ages. Yet these words may be explained in two ways. Some think that this applies simply to the eternal Divinity of Christ, and compare it with that passage in the writings of Moses, I am what I am, (Exod. 3:14.) But I extend it much farther, because the power and grace of Christ, so far as he is the Redeemer of the world, was common to all ages. It agrees therefore with that saying of the apostle, ‘Christ (is the same) yesterday, and to-day, and for ever, (Heb. 13:8). For the context appears to demand this interpretation. ... this saying of Christ contains a remarkable testimony of his Divine essence. ... the present tense of the verb is emphatic; for he does not say, I was, but I am; by which he denotes a condition uniformly the same from the beginning to the end.” [= Ia menggunakan kata kerja yang berbeda. Sebelum Abraham ADA, atau Sebelum Abraham dilahirkan, Aku ADA / ADALAH. Tetapi oleh kata-kata ini Ia mengeluarkan diriNya sendiri dari golongan manusia biasa, dan mengclaim untuk diriNya sendiri suatu kuasa yang lebih dari manusiawi, suatu kuasa surgawi dan ilahi, yang pengertiannya mencapai dari permulaan dunia ini sampai semua jaman. Tetapi kata-kata ini bisa dijelaskan dengan dua cara. Sebagian orang beranggapan bahwa ini hanya digunakan untuk keilahian yang kekal dari Kristus, dan membandingkannya dengan text dalam tulisan Musa, ‘Aku adalah yang Aku adalah’, (Kel 3:14). Tetapi saya memperluasnya lebih jauh, karena kuasa dan kasih karunia Kristus, sejauh Ia adalah Penebus dunia ini, adalah sama untuk semua jaman. Karena itu, ini sesuai dengan kata-kata sang rasul, ‘Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya’ (Ibr 13:8). Karena kontextnya kelihatannya menuntut penafsiran ini. ... kata-kata Kristus ini mencakup suatu kesaksian yang luar biasa tentang hakekat IlahiNya. ... bentuk present tense dari kata kerjanya ditekankan; karena Ia tidak berkata, ‘Aku dulu ada’, tetapi ‘Aku ada’; dengan mana Ia menunjukkan suatu kondisi yang terus menerus sama dari permulaan sampai akhir.] - hal 362-363.
Dari kata-kata ini saya beri warna biru itu terlihat bahwa Calvin menganggap Yoh 8:58 ini memang ada hubungannya dengan Kel 3:14. Bahkan kelihatannya, sama seperti yang dikatakan oleh Robert Bowman di atas, Calvin juga berpendapat bahwa Yoh 8:58 itu sendiri (terpisah dari Kel 3:14) menyatakan kekekalan dari Kristus, dan karena itu juga keilahian dari Kristus.
William Hendriksen: “The Jews had committed the error of ascribing to Jesus a merely temporal existence. They saw only the historical manifestation, not the eternal Person; only the human, not the divine. Jesus, therefore, reaffirms his eternal, timeless absolute essence. ... Over against Abraham’s fleeting span of life (Gen. 25:7) Jesus places his own timeless present. To emphasize this eternal present he sets over against the aorist infinitive, indicating Abraham’s birth in time, the present indicative, with reference to himself; hence, not ‘I was,’ but ‘I am.’ Hence, the thought here conveyed is not only that the second Person always existed (existed from all eternity; cf. 1:1,2; cf. Col. 1:17), though this, too, is implied; but also, and very definitely, that his existence transcends time. ... The ‘I am’ here (8:58) reminds one of the ‘I am’ in 8:24. Basically the same thought is expressed in both passages; namely, that Jesus is God! Moreover, what he states here in 8:58 is his answer not only to the statement of the Jews recorded in 8:57 but also to that found in 8:53.” [= Orang-orang Yahudi telah melakukan kesalahan karena memberikan kepada Yesus suatu keberadaan yang hanya bersifat sementara. Mereka hanya melihat manifestasi yang bersifat sejarah, bukan Pribadi yang kekal; hanya manusia, bukan ilahi. Karena itu, Yesus menegaskan kembali hakekatNya yang mutlak, kekal, dan tak terbatas oleh waktu. ... Bertentangan dengan saat kehidupan Abraham yang singkat (Kej 25:7) Yesus menempatkan keadaan present / masa kiniNya yang tidak terbatas waktu / ada di atas waktu. Untuk menekankan masa kini yang kekal ini Ia mengkontraskan / mempertentangkan bentuk infinitif lampau yang menunjukkan kelahiran Abraham dalam waktu dengan indikatif present / sekarang berkenaan dengan diriNya sendiri; karena itu Ia tidak menggunakan ‘I was’, tetapi ‘I am’. Karena itu pemikiran yang disampaikan di sini bukan hanya bahwa Pribadi yang kedua ini selalu ada (sudah ada dari kekekalan; bdk. 1;1,2; bdk. Kol 1:17), sekalipun ini juga ditunjukkan secara implicit / tak langsung; tetapi juga, dan dengan sangat pasti, bahwa keberadaanNya melampaui waktu. ... Kata-kata ‘Aku ada / adalah’ di sini (8:58) mengingatkan pada ‘Aku ada / adalah’ dalam 8:24. Secara dasari pemikiran yang sama dinyatakan dalam kedua text; yaitu bahwa Yesus adalah Allah! Lebih lagi, apa yang Ia nyatakan di sini dalam 8:58 merupakan jawabanNya bukan hanya terhadap pernyataan orang-orang Yahudi yang dicatat dalam 8:57 tetapi juga terhadap pernyataan yang didapatkan dalam 8:53.] - hal 66-67.
Kol 1:17 - “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”.
Kata-kata ‘Ia ada’ menggunakan present tense!
Yoh 8:53,57 - “(53) Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diriMu?’ ... (57) Maka kata orang-orang Yahudi itu kepadaNya: ‘UmurMu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?’”.
Walter Martin: “The real problem in the verse is the verb ‘EGO EIMI.’ ... The usage occurs four times (in John 8:24; 8:58; 13:19; 18:5). In these places the term is the same used by the Septuagint at Deuteronomy 32:39; Isaiah 43:10; 46:4; etc., to render the Hebrew phrase ‘I (am) He.’ The phrase occurs only where Jehovah’s Lordship is reiterated. The phrase then is a claim to full and equal Deity.” [= Problem sebenarnya dalam ayat ini adalah kata kerja ‘EGO EIMI’. ... Penggunaannya terjadi empat kali (dalam Yoh 8:24; 8:58; 13:19; 18:5). Di tempat-tempat ini istilah itu sama dengan yang digunakan oleh Septuaginta (Perjanjian Lama berbahasa Yunani) pada Ulangan 32:39; Yesaya 43:10; 46:4; dsb. untuk menterjemahkan ungkapan Ibrani ‘Aku (adalah) Dia’. Ungkapan itu terjadi hanya dimana KeTuhanan dari Yehovah diulangi / dinyatakan ulang. Maka, ungkapan itu merupakan suatu claim tentang KeAllahan yang penuh dan setara.] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 88.
Yoh 8:24 - “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia (EGO EIMI), kamu akan mati dalam dosamu.’”.
Yoh 13:19 - “Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia (EGO EIMI).”.
Yoh 18:5a - “Jawab mereka: ‘Yesus dari Nazaret.’ KataNya kepada mereka: ‘Akulah Dia (EGO EIMI).’”.
Ul 32:39 - “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia (ANI HU / EGO EIMI). Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu.”.
Yes 43:10 - “‘Kamu inilah saksi-saksiKu,’ demikianlah firman TUHAN, ‘dan hambaKu yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepadaKu dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia (ANI HU / EGO EIMI). Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.”.
Yes 46:4 - “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia (ANI HU / EGO EIMI) dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”.
Walter Martin: “The term is translated here correctly only as ‘I am’ and since Jehovah is the only ‘I am’ (Exodus 3:14; Isaiah 44:6), He and Christ are ‘One’ in Nature, truly the fullness of the ‘Deity’ in the flesh. The Septuagint translation of Exodus 3:14 from the Hebrew EHYEH utilizes EGO EIMI as the equivalent of ‘I am,’ Jehovah, and Jesus quoted the Septuagint to the Jews frequently, hence their known familiarity with it, and their anger at His claim (8:59).” [= Di sini istilah ini diterjemahkan dengan benar hanya sebagai ‘Aku ada / adalah’ dan karena Yehovah adalah satu-satunya ‘Aku ada / adalah’ (Keluaran 3:14; Yesaya 44:6), Ia dan Kristus adalah ‘Satu’ dalam Hakekat, sungguh-sungguh kepenuhan ‘keAllahan’ dalam daging. Terjemahan Septuaginta dari Keluaran 3:14 dari kata Ibrani EHYEH menggunakan EGO EIMI sebagai kata yang sama artinya dengan ‘Aku adalah’, Yehovah, dan Yesus sering mengutip Septuaginta bagi orang-orang Yahudi, dan karena itu mereka akrab dengannya / mengenalnya dengan baik, dan mereka menjadi marah atas claimNya (8:59).] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 89.
Yes 44:6 - “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari padaKu.”.
Catatan: sebetulnya kata-kata EGO EIMI tidak muncul dalam Yes 44:6 versi LXX. Saya tidak mengerti mengapa ia menjadikan ayat ini sebagai referensi.
Yoh 8:59 - “Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.”.
Leon Morris (NICNT): “Whether we translate ‘before Abraham was’ (as AV), or ‘was born’ (as ARV, NEB, etc.) the meaning will be ‘came into existence’, as the aorist tense indicates. A mode of being which has a definite beginning is contrasted with one which is eternal. ‘I am’ must have the fullest significance it can bear. It is ... in the style of deity. ... It is an emphatic form of speech and one that would not normally be employed in ordinary speech. Thus to use it was recognizably to adopt the divine style. In passages like vv. 24,28 that is fairly plain, but in the present passage it is unmistakable. When Jesus is asserting His existence in the time of Abraham there is no other way of understanding it. It should also be observed that He says ‘I am’, not ‘I was’. It is eternity of being and not simply being which has lasted through several centuries that the expression indicates.” [= Apakah kita menterjemahkan ‘sebelum Abraham ada’ (seperti AV / KJV), atau ‘dilahirkan’ (seperti ARV, NEB, dsb.) artinya adalah ‘menjadi ada’, seperti yang ditunjukkan oleh bentuk lampau dari kata itu. Suatu cara keberadaan yang mempunyai suatu permulaan yang tertentu dikontraskan dengan cara keberadaan yang kekal. ‘Aku adalah’ harus mempunyai arti yang paling penuh yang bisa dikandungnya. Kata-kata itu ada ... dalam gaya dari keallahan. ... Itu merupakan bentuk pengucapan yang tegas / ditekankan, dan merupakan suatu bentuk yang tidak digunakan secara normal dalam pembicaraan biasa. Jadi menggunakan bentuk itu bisa dikenali sebagai menggunakan gaya ilahi. Dalam text-text seperti ay 24,28 hal itu cukup jelas, tetapi dalam text ini (Yoh 8:58) hal itu tidak bisa salah. Pada waktu Yesus sedang menegaskan keberadaanNya pada jaman Abraham tidak ada cara lain untuk memahaminya. Juga harus diperhatikan bahwa Ia mengatakan ‘I am’ (‘Aku adalah’ - bentuk present) bukan ‘I was’ (‘Aku adalah’ - bentuk lampau). Adalah kekekalan dari keberadaan, dan bukannya sekedar keberadaan yang berlangsung / bertahan melalui beberapa abad, yang ditunjukkan oleh ungkapan itu.] - hal 473-474.
Leon Morris (NICNT): “That is a supreme claim to Deity; ... These are the words of the most impudent blasphemer that ever spoke, or the words of God incarnate” [= Ini adalah claim yang tertinggi atas keAllahan; ... Kata-kata ini adalah kata-kata dari penghujat yang paling kurang ajar yang pernah berbicara, atau kata-kata dari Allah yang berinkarnasi] - hal 473 (footnote).
Leon Morris (NICNT): “ἐγώ εἰμι in LXX renders the Hebrewאֲנִי֙ ה֔וּא , which is the way God speaks (cf. Deut. 32:39; Isa. 41:4; 43:10; 46:4, etc.). The Hebrew may carry a reference to the meaning of the divine name יהוה (cf. Exod. 3:14). We should almost certainly understand John’s use of the term to reflect that in the LXX. It is the style of deity, and it points to the eternity of God according to the strictest understanding of the continuous significance of the present εἰμι. He continually IS.” [= ἐγώ εἰμι / EGO EIMI dalam LXX / Septuaginta menterjemahkan kata-kata Ibrani אֲנִי֙ ה֔וּא (ANI HU - Aku adalah Dia) yang merupakan cara Allah berbicara (bdk. Ul 32:39; Yes 41:4; 43:10; 46:4, dsb). Bahasa Ibraninya mungkin membawa suatu hubungan dengan arti dari nama ilahi יהוה / YHWH (bdk. Kel 3:14). Hampir pasti kita harus memahami penggunaan istilah itu oleh Yohanes untuk menggambarkan hal itu dalam LXX / Septuaginta. Itu merupakan gaya dari keallahan, dan itu menunjuk kepada kekekalan Allah menurut pengertian yang paling ketat dari sifat kontinyu / terus menerus dari bentuk present εἰμι (EIMI). Ia secara kontinyu / terus menerus ADA / adalah.] - hal 473 (footnote).
Yes 41:4 - “Siapakah yang melakukan dan mengerjakan semuanya itu? Dia yang dari dahulu memanggil bangkit keturunan-keturunan, Aku, TUHAN, yang terdahulu, dan bagi mereka yang terkemudian Aku tetap Dia (ANI HU / EGO EIMI) juga.”.
William Barclay: “We must note carefully that Jesus did not say: ‘Before Abraham was, I was,’ but, ‘Before Abraham was, I am.’ Here is the claim that Jesus is timeless. There never was a time when he came into being; there never will be a time when he is not in being. ... There is only one person in the universe who is timeless; and that one person is God. What Jesus is saying here is nothing less than that the life in him is the life of God; he is saying, as the writer of the Hebrew put it more simply, that he is the same yesterday, today and forever. In Jesus we see, not simply a man who came and lived and died; we see the timeless God, who was the God of Abraham and of Isaac and of Jacob, who was before time and who will be after time, who always is. In Jesus the eternal God showed himself to men and women.” [= Kita harus memperhatikan dengan seksama bahwa Yesus tidak berkata: ‘Sebelum Abraham ada, I was’ (‘Aku ada’ - bentuk lampau), tetapi ‘Sebelum Abraham ada, I am’ (‘Aku ada’ - bentuk present). Ini adalah suatu claim bahwa Yesus itu tidak terbatas waktu. Tidak pernah ada waktu dimana Ia menjadi ada; tidak pernah akan ada waktu dimana Ia tidak ada. ... Hanya ada satu pribadi dalam alam semesta yang tidak terbatas waktu; dan satu pribadi itu adalah Allah; Ia sedang mengatakan, seperti penulis dari surat Ibrani menyatakannya dengan lebih sederhana, bahwa Ia adalah sama kemarin, hari ini, dan selama-lamanya (Ibr 13:8). Dalam Yesus kita melihat, bukan hanya seorang manusia yang datang dan hidup dan mati; kita melihat Allah yang tidak terbatas waktu, yang adalah Allah dari Abraham dan dari Ishak dan dari Yakub, yang ada sebelum waktu dan akan ada setelah waktu, yang selalu ada (IS - bentuk present). Dalam Yesus, Allah yang kekal menunjukkan diriNya sendiri kepada orang-orang laki-laki dan perempuan.] - hal 36.
Barnes’ Notes: “There is a remarkable similarity between the expression employed by Jesus in this place, and that used in Exodus to denote the name of God.” [= Ada suatu kemiripan yang hebat / luar biasa antara ungkapan yang digunakan oleh Yesus di tempat ini, dan ungkapan yang digunakan dalam Keluaran untuk menunjukkan nama Allah.] - hal 310.
Tasker (Tyndale): “The fact that the Jews attempted to stone Jesus after hearing the words ‘I am’ shows that it suggested to them the divine name so translated in the LXX version of Ex. 3:14.” [= Fakta bahwa orang-orang Yahudi berusaha untuk merajam Yesus setelah mendengar kata-kata ‘Aku adalah’ menunjukkan bahwa itu menunjukkan secara tidak langsung kepada mereka nama ilahi yang diterjemahkan demikian dalam Kel 3:14 versi LXX / Septuaginta.] - hal 122.
F. F. Bruce: “He echoes the language of the God of Israel, who remains the same from everlasting to everlasting: ‘I, the LORD, the first, and with the last, I am He’ (Isa. 41:4). ... he was using language which only God could use.” [= Ia menggemakan bahasa Allah dari Israel, yang tetap sama dari selama-lamanya sampai selama-lamanya: ‘Aku TUHAN, yang pertama, dan bersama dengan yang terakhir, Aku adalah Dia’ (Yes 41:4). ... Ia sedang menggunakan bahasa yang hanya bisa digunakan oleh Allah.] - hal 205,206.
Kesimpulan: tidak semua penafsir setuju bahwa semua ayat dimana Yesus mengucapkan ‘I am’ [= Aku ada / adalah] berhubungan dengan nama Allah dalam Kel 3:14,15. Tetapi dalam kasus Yoh 8:58:
1. Kebanyakan penafsir setuju / sependapat bahwa kata-kata ‘I am’ [= Aku ada / adalah] di sana memang berhubungan dengan nama Allah dalam Kel 3:14-15.
2. Sebagian penafsir membandingkannya dengan ayat-ayat Perjanjian Lama lain yang dalam Septuaginta menggunakan EGO EIMI, khususnya Ul 32:39 Yes 41:4 Yes 43:10 Yes 45:18 Yes 46:4 Yes 48:12 Yes 52:6.
3. Beberapa penafsir masih menghubungkan lagi Yoh 8:58 dengan Maz 90:2.
Dan, seperti yang dikatakan oleh Robert Bowman dalam point f. di atas, kalaupun Yoh 8:58 tidak berhubungan dengan Kel 3:14-15 atau ayat-ayat Perjanjian Lama yang lain, ayat itu sendiri tetap menunjukkan kekekalan Yesus dan keberadaan Yesus yang melampaui waktu / di atas waktu / tak terbatas oleh waktu, dan karena itu tetap menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah sendiri.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali