(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 25 Februari 2023, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
bukti-bukti bahwa
yesus adalah allah(13c)
3. Yoh 18:5-6,8 - “(5) Jawab mereka: ‘Yesus dari Nazaret.’ KataNya kepada mereka: ‘Akulah Dia.’ Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. (6) Ketika Ia berkata kepada mereka: ‘Akulah Dia,’ mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. ... (8) Jawab Yesus: ‘Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.’”.
TDB: ‘Akulah dia’.
NWT: ‘I am (he)’ [= Aku adalah (Dia)].
KJV: ‘I am he’ [= Aku adalah Dia].
Literal: ‘I am’ [= Aku adalah].
Tasker (Tyndale): “The Greek EGO EIMI rendered ‘I am he’ might well suggest divinity to those familiar with the Greek Bible, for it is the rendering in the LXX for the sacred name of God (see Ex. 3:14).” [= Kata Yunani EGO EIMI yang diterjemahkan ‘Akulah Dia’ memang mungkin secara tak langsung menunjukkan keilahian bagi mereka yang akrab dengan Alkitab Yunani, karena itu merupakan terjemahan dalam LXX / Septuaginta untuk nama yang kudus dari Allah (lihat Kel 3:14).] - hal 196.
C. H. Spurgeon: “When in His humiliation he did but say to the soldiers, ‘I am He,’ they fell backward; what will be the terror of His enemies when He shall more fully reveal Himself as the ‘I am?’” [= Jika dalam perendahanNya Ia hanya berkata kepada tentara-tentara itu ‘Akulah Dia’ dan mereka rebah ke belakang; bagaimana ketakutan dari musuh-musuhNya pada waktu Ia akan menyatakan diriNya sendiri secara lebih penuh sebagai ‘Aku adalah’?] - ‘Morning and Evening’, October 15, morning.
George Hutcheson: “The word of Christ, how contemptible soever it seem to be, is full of majesty, and accompanied with divine power, and terror to his enemies, when he pleaseth to let it out; ... And if his lamb’s voice was so terrible, how dreadful will he be when he roars as a lion? and if that sweet word, ‘I am he,’ which comforted the disciples, John 6:20, be their terror, how terrible will it be when he speaks to them as they deserve?” [= Perkataan Kristus, betapapun remehnya kelihatannya, adalah penuh dengan keagungan, dan disertai dengan kuasa ilahi, dan rasa takut pada musuh-musuhNya, pada waktu Ia berkenan mengeluarkannya; ... Dan jika suara anak dombaNya begitu mengerikan, bagaimana menakutkannya suaraNya nanti pada waktu Ia meraung sebagai seekor singa? dan jika kata-kata yang manis, ‘Akulah Dia’, yang menghibur murid-muridNya, Yoh 6:20, menakutkan bagi mereka, bagaimana mengerikan kata-kataNya pada waktu Ia berbicara sesuai dengan yang layak mereka dapatkan?] - hal 375.
Catatan: ia menggambarkan Yesus sebagai ‘singa’ karena Wah 5:5 menyebut Yesus sebagai ‘singa Yehuda’.
Yoh 6:19-20 - “(19) Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. (20) Tetapi Ia berkata kepada mereka: ‘Aku ini (EGO EIMI), jangan takut!’”.
Calvin (tentang Yoh 18:5): “He replies mildly that he is the person whom they seek,” [= Ia menjawab dengan lembut bahwa Ia adalah orang yang mereka cari,] - hal 191.
Jadi Calvin tidak menghubungkan ini dengan Kel 3:14, dan bahkan dalam persoalan ayat ini, kelihatannya Calvin tidak menganggap ini sebagai bukti keilahian Yesus.
4. Yoh 8:58 - “Kata Yesus kepada
mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku
telah ada.’”.
Dari seluruh bagian ini, Yoh 8:58 ini adalah ayat yang terkuat / terpenting. Karena itu mari sekarang kita menyorotinya secara mendetail.
a. Terjemahan dari ayat ini.
Kata-kata ‘Aku telah ada’ ini salah terjemahan; TB2-LAI tidak memperbaikinya.
TDB: “aku telah ada.’”.
NWT: “I have been” [= Aku telah ada].
KJV/RSV: ‘Before Abraham was, I am’ [= Sebelum Abraham ada, Aku ada].
NIV/NASB: ‘before Abraham was born, I am’ [= sebelum Abraham dilahirkan, Aku ada].
Catatan: dalam menterjemahkan kata-kata ‘I am’ ke dalam bahasa Indonesia kadang-kadang harus diterjemahkan ‘Aku ada’ dan kadang-kadang harus diterjemahkan sebagai ‘Aku adalah’. Kontextnya yang harus menentukan hal itu.
Kata-kata bentuk present (‘I am’) ini kelihatannya aneh / tak masuk akal, karena pada waktu membicarakan tentang Abraham (yang hidup di masa lampau) digunakan bentuk lampau (past tense), tetapi pada waktu membicarakan Yesus, yang ada sebelum Abraham, digunakan present tense.
Tetapi keanehan yang sama juga ada dalam Kol 1:17a - “Ia (Yesus) ada terlebih dahulu dari segala sesuatu”.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘He is before all things’. Perhatikan kata ‘is’ yang merupakan bentuk present!
H. C. G. Moule: “is, not only was;” - hal 78.
Kata-kata ‘He is’ tidak terlalu berbeda dengan kata-kata ‘I am’. Perbedaannya hanyalah bahwa dalam kasus pertama Yesus digambarkan sebagai orang ketiga, dan dalam kasus kedua Yesus digambarkan sebagai orang pertama.
Jangan terlalu heran kalau Yesus membicarakan diriNya dengan ‘cara yang aneh’. Ia adalah Allah, dan karena itu Ia melampaui pikiran kita. Dan terjemahan yang aneh ini justru sesuai dengan bahasa aslinya.
Pulpit Commentary (tentang Yoh 8:58): “the present tense, εἰμι, and not the past, ἦν, was used by our Lord.” [= bentuk present, εἰμι (EIMI), dan bukan bentuk lampau, ἦν (EN), yang digunakan oleh Tuhan kita.] - hal 373.
Jadi, kata-kata yang diterjemahkan ‘Aku telah ada’ ini dalam bahasa Yunaninya adalah EGO EIMI, yang ada dalam bentuk present.
Bagaimana kata-kata Yunani bentuk present EGO EIMI [= ‘I am’] bisa diterjemahkan ‘Aku telah ada’ baik oleh Kitab Suci Indonesia maupun oleh NWT / TDB? Ini mengubah bentuk ‘present’ menjadi bentuk ‘perfect’, dan karenanya jelas salah! Terjemahan yang benar adalah ‘Aku ada / adalah’ bukan ‘Aku telah ada’.
b. Apa tujuan Saksi Yehuwa menterjemahkan ‘I have been’ [= Aku telah ada]?

Robert
M. Bowman Jr.:
“it
eliminates any apparent allusion to Exodus 3:14 and the ‘I am’ passages in
Isaiah. It also softens the contrast between the two verbs (‘came into
existence’ and ‘am’), and in so doing enables the Witnesses to understand Jesus
to mean that he simply existed some time prior to Abraham without being
eternally preexistent.”
[= itu menghapuskan hubungan tidak langsung yang nyata dengan Kel 3:14 dan
text-text ‘Aku adalah’ dalam Yesaya. Itu juga melunakkan kontras antara dua kata
kerja (‘jadi / menjadi ada’ dan ‘ada / adalah’), dan dengan
demikian memungkinkan Saksi-Saksi untuk mengerti bahwa kata-kata Yesus berarti
bahwa Ia hanya ada / sudah ada beberapa waktu sebelum Abraham tetapi tanpa
pra-existensi secara kekal.]
- ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 89-90.
Yoh 8:58 - “Sebelum Abraham jadi, Aku ada”.
Pada waktu membahas Kel 3:14 kita telah melihat bahwa Saksi-Saksi Yehuwa tidak mau menerima terjemahan ‘I am who I am’, dan mereka menghendaki terjemahan ‘I will be that I will be’. Tujuannya untuk menghindari hubungan antara Yoh 8:58 dengan Kel 3:14 itu. Rupanya mereka masih tidak puas dengan hal itu, sehingga dalam penterjemahan Yoh 8:58 ini mereka mengubah kata-kata ‘I am’ menjadi ‘I have been’.
c. Keberatan / serangan dari Saksi-Saksi Yehuwa terhadap terjemahan ‘I am’ [= Aku ada / adalah] ini.
(1) Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan: “(NE, KJ, TEV, JB, NAB semua menyatakan ‘Aku ada,’ bahkan ada yang menggunakan huruf-huruf besar untuk menyatakan gagasan sebuah gelar. Jadi mereka berusaha menghubungkan ungkapan itu dengan Keluaran 3:14, di mana, menurut terjemahan mereka, Allah menyebut diriNya dengan gelar ‘Aku ada.’) Tetapi, dalam NW dan TB (TB-LAI) bagian terakhir dari Yohanes 8:58 bunyinya: ‘Sebelum Abraham ada, aku telah ada.’ (Gagasan yang sama dinyatakan dalam AT, Mo, CBW, SE, Bode dan BIS.) Terjemahan manakah yang sesuai dengan ikatan kalimatnya? Pertanyaan orang-orang Yahudi (ayat 57) yang dijawab Yesus ada hubungannya dengan usia, bukan identitas. Jawaban Yesus secara logis adalah mengenai usianya, lamanya ia telah hidup. Menarik sekali, tidak pernah ada usaha untuk memakai EGO EIMI sebagai gelar untuk roh kudus. A Grammar of the Greek New Testament in the Light of Historical Research, oleh A. T. Robertson mengatakan: ‘Kata kerja (EIMI) ... Kadang-kadang kata itu memang menyatakan keberadaan sebagai predikat seperti kata kerja lainnya, misalnya dalam (EGO EIMI) (Yohanes 8:58).’ Nashville, Tenn.; 1934, h. 394.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 405-406.
Jawaban saya:
(a) Dalam menterjemahkan kita harus memperhatikan gramatika, dan dalam Yoh 8:58 telah saya tunjukkan di atas bahwa kata-kata EGO EIMI ada dalam bentuk present, dan karena itu harus diterjemahkan ‘Aku ada / adalah’ / ‘I am’, dan tidak boleh diterjemahkan ‘Aku sudah ada’ / ‘I have been’ yang merupakan bentuk perfect. Kalau Yesus memang memaksudkan ‘Aku sudah ada’ / ‘I have been’, mengapa Ia tidak menggunakan ‘perfect tense’ saja?
(b) Sekarang tentang ikatan kalimat / kontext.
Saya kutip ulang kata-kata mereka pada bagian tengah yang berbunyi sebagai berikut: “Terjemahan manakah yang sesuai dengan ikatan kalimatnya? Pertanyaan orang-orang Yahudi (ayat 57) yang dijawab Yesus ada hubungannya dengan usia, bukan identitas. Jawaban Yesus secara logis adalah mengenai usianya, lamanya ia telah hidup.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 405.
Tanggapan saya:
Adalah merupakan suatu omong kosong bahwa orang-orang Yahudi menanyakan usia dan bukan identitas. Mulai Yoh 8:12, Yesus sudah berbicara tentang identitasnya sebagai ‘Terang dunia’. Lalu dalam Yoh 8:19b Yesus berkata: “‘Baik Aku, maupun BapaKu tidak kamu kenal. Jikalau sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga BapaKu.’”. Ini lagi-lagi pasti berurusan dengan identitas. Lalu dalam Yoh 8:24 Yesus berkata: “jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu”. Ini pasti juga berurusan dengan identitas, sehingga orang-orang Yahudi lalu bertanya dalam Yoh 8:25 - “Siapakah Engkau?”. Apakah ini bukan pertanyaan tentang identitas?
Mari kita sekarang melihat kontext yang dekat dengan Yoh 8:58.
Yoh 8:51-59 - “(51) Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami
maut sampai selama-lamanya.’ (52) Kata orang-orang Yahudi kepadaNya: ‘Sekarang
kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian
juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak
akan mengalami maut sampai selama-lamanya. (53) Adakah Engkau lebih besar
dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati;
dengan siapakah Engkau samakan diriMu?’ (54) Jawab Yesus: ‘Jikalau Aku
memuliakan diriKu sendiri, maka kemuliaanKu itu sedikitpun tidak ada artinya.
BapaKulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah
kami, (55) padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika
Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti
kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firmanNya. (56) Abraham bapamu
bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu dan ia telah melihatnya dan ia
bersukacita.’ (57) Maka kata orang-orang Yahudi itu kepadaNya: ‘UmurMu belum
sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?’ (58) Kata Yesus
kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku
telah ada.’ (59) Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi
Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.”.
Perhatikan Yoh 8:53 yang saya garis bawahi itu. Kalau itu bukan pertanyaan tentang identitas, lalu tentang apa? Jawaban Yesus dalam Yoh 8:58 ini diberikan bukan hanya untuk menjawab pertanyaan orang-orang Yahudi dalam Yoh 8:57 tetapi juga pertanyaan mereka dalam Yoh 8:53, yang jelas mempersoalkan identitas.
William Hendriksen: “what he states here in 8:58 is his answer not only to the statement of the Jews recorded in 8:57 but also to that found in 8:53.” [= apa yang Ia nyatakan di sini dalam 8:58 merupakan jawabanNya bukan hanya terhadap pernyataan orang-orang Yahudi yang dicatat dalam 8:57 tetapi juga terhadap pernyataan yang didapatkan dalam 8:53.] - hal 67.
Jadi terjemahan ‘I am’ / ‘Aku ada’ tetap sesuai dengan ikatan kalimat / kontext, karena dengan jawaban ini Yesus menunjukkan identitasNya sebagai Allah sendiri.
(c) Kalaupun jawaban Yesus hanya mempersoalkan umur, kata-kataNya yang menunjukkan bahwa Ia sudah ada lebih dulu dari Abraham yang hidup lebih dari 2000 tahun sebelum kelahiranNya, tetap menunjukkan bahwa Ia itu kekal, dan dengan demikian, juga menunjukkan bahwa Ia adalah Allah.
(d) Kalau mau memperhatikan kontext, kita harus memperhatikan bagian sebelum dan sesudah ayat itu.
Sekarang perhatikan bagian sesudah Yoh 8:58, yaitu Yoh 8:59 - “Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.”.
Mengapa orang-orang Yahudi itu mau merajam Yesus? Jelas karena kata-kata ‘I am’ [= Aku adalah] itu merupakan claim sebagai Allah, dan itu dianggap sebagai penghujatan!
Seandainya Yesus berkata ‘I have been’ [= Aku telah ada], maka paling-paling orang-orang Yahudi akan menganggap Dia sebagai orang gila, dan mereka tidak akan merajam orang gila.
Walter Martin berkata bahwa dalam hukum Taurat hanya ada beberapa hal dimana hukuman rajam diberlakukan, yaitu:
· mempunyai roh peramal (Im 20:27).
· menghujat Allah (Im 24:10-23).
· nabi palsu yang mengajak menyembah allah lain (Ul 13:5-10).
· anak durhaka (Ul 21:18-21).
· perzinahan dan pemerkosaan (Ul 22:21-24 Im 20:10).
Satu-satunya yang bisa dipakai sebagai alasan oleh orang-orang Yahudi untuk mau merajam Yesus adalah ‘menghujat Allah’. Mengapa Ia dianggap menghujat Allah? Karena kata-kata ‘I am’ [= Aku ada / adalah] dalam Yoh 8:58 itu jelas mengacu pada Kel 3:14 yang merupakan nama Allah.
Bandingkan dengan Yoh 5:18 dan Yoh 10:33 dimana mereka juga mau merajam Yesus karena pengakuan Yesus bahwa Ia adalah Anak Allah (yang berarti bahwa Ia setara dengan Allah - Yoh 5:18 Yoh 10:33).
Yoh 5:18
- “Sebab
itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena
Ia meniadakan (melanggar) hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan
bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan
(menyetarakan) diriNya dengan Allah.”.
Calvin (tentang Yoh 5:18): “When the Evangelist says that the Jews were hostile to Christ, because he had broken the Sabbath,
he speaks according to the opinion which they had formed; for I have already showed that the state of the case was quite the contrary.” [= Pada waktu sang Penginjil (rasul Yohanes) berkata bahwa orang-orang Yahudi memusuhi Kristus, karena Ia telah melanggar Sabat, ia berbicara sesuai dengan pandangan yang telah mereka bentuk; karena saya telah menunjukkan bahwa keadaan dari kasusnya adalah sebaliknya.].
Jelas bahwa Yoh 5:18 bukan kata-kata dari orang-orang Yahudi, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Islam / Saksi-Saksi Yehuwa / Unitarian, tetapi merupakan penjelasan yang diberikan oleh rasul Yohanes.
Yoh 10:33 - “Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.’”.
Walter Martin juga mengatakan (hal 88) bahwa ada Saksi-Saksi Yehuwa yang mengatakan bahwa orang-orang Yahudi itu mau merajam Yesus, karena Yesus mengatai mereka dengan mengatakan bahwa Iblis adalah bapa mereka (Yoh 8:44). Tetapi jika ini alasannya:
* mengapa mereka tidak berusaha melempariNya pada saat itu (pada Yoh 8:44,45)?
* mengapa mereka tidak berusaha melempariNya pada waktu Yesus mengatakan bahwa mereka adalah orang munafik, ular beludak, kuburan yang dilabur putih, orang-orang tolol yang buta, dan sebagainya (Mat 23:13-33)?
(e) Tidak ada keharusan untuk menggunakan EGO EIMI terhadap Roh Kudus. Kitab Suci memang menunjukkan keilahian Roh Kudus, tetapi Kitab Suci menggunakan cara yang berbeda dengan pada waktu Kitab Suci menunjukkan keilahian Yesus. Siapa yang memberi peraturan bahwa dalam membuktikan / menunjukkan keilahian Yesus dan keilahian Roh Kudus Kitab Suci harus menggunakan cara yang sama?
Ini sama konyolnya dengan tuntutan mereka bahwa kata-kata EL SHADDAY (Kej 17:1) harus juga ada bagi Yesus kalau Ia memang adalah Allah sendiri.
(f) Saksi-Saksi Yehuwa mengutip A. T. Robertson seakan-akan A. T. Robertson mendukung pandangan mereka, yang untuk jelasnya saya kutip ulang di sini: “A Grammar of the Greek New Testament in the Light of Historical Research, oleh A. T. Robertson mengatakan: ‘Kata kerja (EIMI) ... Kadang-kadang kata itu memang menyatakan keberadaan sebagai predikat seperti kata kerja lainnya, misalnya dalam (EGO EIMI) (Yohanes 8:58).’ Nashville, Tenn.; 1934, h. 394.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 405-406.
Catatan: mereka mengutip hanya sebagian dari kata-kata A. T. Robertson dalam buku itu. Ini mencurigakan. Kata-kata lengkapnya adalah sebagai berikut:
“(g) Verb not the Only Predicate. But the predicate is not quite so simple a matter as the subject. The verb indeed is the usual way of expressing it, but not the only way. The verb εἰμί, especially ἐστί and εἰσίν, may be merely a ‘form-word’ like a preposition and not be the predicate. Sometimes it does express existence as a predicate like any other verb, as in ἐγὼ εἰμί (Jo. 8:58) and ἡ θάλασσα οὐκ ἔστιν ἔτι (Rev. 21:1). Cf. Mt. 23:30. But more commonly the real predicate is another word and εἰμί merely serves as a connective or copula.”.
Mereka hanya mengutip bagian yang saya garis-bawahi.
Tetapi dalam buku tafsirannya ‘Word Pictures in the New Testament’, vol V, hal 158-159, A. T. Robertson mengomentari Yoh 8:58 dengan kata-kata sebagai berikut: “‘I am’ (EGO EIMI). Undoubtedly here Jesus claims eternal existence with the absolute phrase used of God. The contrast between GENESTHAI (entrance into existence of Abraham) and EIMI (timeless being) is complete.” [= ‘Aku ada / adalah’ (EGO EIMI). Tidak diragukan bahwa di sini Yesus mengclaim keberadaan yang kekal dengan suatu ungkapan mutlak yang digunakan terhadap Allah. Kontras antara GENESTHAI (masuknya Abraham ke dalam keberadaan) dan EIMI (keberadaan yang kekal / ada di atas waktu) adalah sempurna.].
Juga dalam komentar A. T. Robertson tentang Yoh 8:24 di atas, terlihat bahwa ia menganggap bahwa kata-kata Yesus dalam Yoh 8:58 sebagai claim keilahian.
Untuk jelasnya saya kutip ulang komentar A. T. Robertson tentang Yoh 8:24 - “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia (EGO EIMI), kamu akan mati dalam dosamu.’”.
A. T. Robertson (tentang Yoh 8:24): “Jesus can mean either ‘that I am from above’ (verse 23), ‘that I am the one sent from the Father or the Messiah’ (7:18,28), ‘that I am the Light of the World’ (8:12), ‘that I am the Deliverer from the bondage of sin’ (8:28, 31f., 36), ‘that I am’ without supplying a predicate in the absolute sense as the Jews (Deut. 32:39) used the language of Jehovah (cf. Isa. 43:10 where the very words occur HINA PISTEUSETE - HOTI EGO EIMI). The phrase EGO EIMI occurs three times here (8:24,28,58) and also in 13:19. Jesus seems to claim absolute divine being as in 8:58.” [= Yesus bisa memaksudkan salah satu dari hal-hal ini, ‘bahwa Aku adalah dari atas’ (ayat 23), ‘bahwa Aku adalah Orang yang diutus oleh Bapa atau Mesias’ (7:18,28), ‘bahwa Aku adalah Terang Dunia’ (8:12), ‘bahwa Aku adalah Pembebas dari perbudakan / belenggu dosa’ (8:28, 31-dst, 36), ‘bahwa Aku ada / adalah’ tanpa menyuplai predikat dalam arti yang mutlak seperti orang-orang Yahudi (Ul 32:39) menggunakan bahasa Yehovah (bdk. Yes 43:10 dimana kata-kata yang persis sama muncul (HINA PISTEUSETE - HOTI EGO EIMI). Ungkapan EGO EIMI muncul 3 x di sini (8:24,28,58) dan juga dalam 13:19. Yesus kelihatannya mengclaim sebagai makhluk ilahi yang mutlak seperti dalam 8:58.] - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 5, hal 146.
(2) Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan bahwa EGO EIMI itu merupakan ‘perfect indefinite tense’ dan secara benar diterjemahkan ‘Aku telah ada’.
Jawaban saya:
EGO EIMI itu jelas merupakan ‘present tense’, dan dalam bahasa Yunani tidak ada ‘perfect indefinite tense’. Itu hanya merupakan ciptaan / khayalan dari Saksi-Saksi Yehuwa, untuk melakukan penipuan. Karena itu, bukankah tepat kalau saya mengubah nama mereka menjadi ‘Jehovah’s (False) Witnesses’ / ‘Saksi-Saksi (Palsu) Yehuwa’?
Walter Martin: “Jehovah’s Witnesses (p. 312 of the New World Translation of the Christian Greek Scriptures, footnote C) declare that the Greek rendering of EGO EIMI (I am) in John 8:58 is properly rendered in the ‘perfect indefinite tense’ (I have been), not ‘I am.’ ... It is difficult to know what the author of the note on page 312 means since he does not use standard grammatical terminology, nor is his argument documented from standard grammars. ... The term ‘perfect indefinite’ is not a standard grammatical term and its use here has been invented by the authors of the note, so it is impossible to know what it meant. ... The incorrect and rude rendering of the NWT only serves to illustrate the difficulty of evading the meaning of the phrase and the context.” [= Saksi-Saksi Yehuwa (h. 312 dari the New World Translation of the Christian Greek Scriptures, footnote C) menyatakan bahwa terjemahan Yunani dari EGO EIMI (I am / Aku ada / adalah) dalam Yoh 8:58 diterjemahkan dengan benar dalam ‘perfect indefinite tense’ (I have been / Aku sudah ada), bukan ‘I am’ / ‘Aku ada / adalah’. ... Sukar untuk mengetahui apa yang dimaksudkan oleh sang pengarang dengan catatan pada halaman 312, karena ia tidak menggunakan istilah gramatika yang standard. ... Istilah ‘perfect indefinite’ bukanlah istilah gramatika yang standard, dan penggunaannya di sini telah ditemukan / diciptakan oleh pengarang-pengarang dari catatan itu, sehingga mustahil untuk mengetahui apa yang dimaksudkan dengan istilah itu. ... Terjemahan yang tidak benar dan bodoh dari NWT hanya berfungsi untuk mengilustrasikan sukarnya menghindari arti dari ungkapan dan kontext.] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 88.
Robert M. Bowman Jr.: “It is true that some Christian scholars have critized the NWT footnote on the grounds that there is no such thing in Greek as the ‘perfect indefinite tense’.” [= Adalah benar bahwa beberapa ahli bahasa / penafsir Kristen telah mengkritik catatan kaki dari NWT dengan dasar bahwa dalam bahasa Yunani tidak ada ‘perfect indefinite tense’.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 94.
(3) Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan bahwa ungkapan EGO EIMI merupakan bentuk present ditinjau secara sejarah (historical present), dan karena itu dari sudut pandang kita bagian itu boleh diterjemahkan ‘Aku telah ada’.
Jawaban saya:
Baik Walter Martin maupun Robert M. Bowman Jr. mengatakan bahwa ‘historical present’ hanya bisa digunakan dalam suatu cerita sejarah. Padahal dalam Yoh 8:58 itu bukan merupakan suatu cerita, tetapi suatu kutipan dari argumentasi Yesus.
Walter Martin: “In conclusion, the facts are self-evident and undeniably clear - the Greek allows no such impositions as ‘I have been.’ The Watchtower’s contention on this point is that the phrase in question is a ‘historical present’ used in reference to Abraham, hence permissible. This is a classic example of Watchtower double talk. The passage is not a narrative, but a direct quote of Jesus’ argument. Standard grammars reserve the use of ‘historical present’ to narrative alone.” [= Kesimpulannya, fakta-fakta membuktikan dirinya sendiri dan begitu jelas sehingga tidak bisa disangkal - bahasa Yunani tidak mengijinkan pemaksaan seperti ‘Aku telah ada’. Anggapan dari Menara Pengawal pada bagian ini adalah bahwa ungkapan yang dipersoalkan merupakan suatu ‘historical present’ / ‘masa sekarang secara historis’ yang digunakan berkenaan dengan Abraham, dan karena itu diijinkan. Ini merupakan contoh klasik dari omongan ganda dari Menara Pengawal. Text ini bukanlah suatu cerita, tetapi suatu kutipan langsung dari argumentasi Yesus. Standard dari gramatika menyediakan penggunaan dari ‘historical present’ / ‘masa sekarang secara historis’ hanya bagi suatu cerita saja.] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 89.
Robert M. Bowman Jr.: “The historical present is an idiom in which past events are narrated, story-telling fashion, in the present tense, as a vivid, dramatic way of projecting the reader or listener into the narrative. In John 8:58, on the other hand, Jesus’ words do not tell a story or describe a past event, but instead simply state a comparison between Abraham and Jesus. … There is thus no reason whatsoever to believe that EIMI in John 8:58 is an historical present, and every reason to believe that it is not.” [= Historical present merupakan suatu ungkapan dalam mana peristiwa-peristiwa pada masa lampau diceritakan - suatu cara menceritakan cerita - dalam bentuk present / sekarang, sebagai suatu cara yang hidup dan dramatis untuk membawa pembaca atau pendengar ke dalam cerita itu. Dalam Yoh 8:58, di sisi yang lain, kata-kata Yesus tidak menceritakan suatu cerita atau menggambarkan suatu peristiwa di masa lampau, tetapi sebaliknya hanya menyatakan suatu perbandingan antara Abraham dan Yesus. … Karena itu, tidak ada alasan apapun untuk percaya bahwa EIMI dalam Yoh 8:58 adalah suatu ‘historical present’, dan ada banyak / setiap alasan untuk percaya bahwa itu bukanlah demikian.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 100,103.
(4) Saksi-Saksi Yehuwa juga mengatakan bahwa kata-kata EGO EIMI dalam Yoh 8:58 itu merupakan ‘present of past action still in progress’.
Jawaban saya:
(a) Argumentasi yang berubah-ubah.
Robert M. Bowman Jr. mengatakan (‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 90-92) bahwa argumentasi dari Saksi-Saksi Yehuwa tentang Yoh 8:58 ini berubah-ubah. Mula-mula mereka mengatakan bahwa itu merupakan bentuk ‘perfect indefinite tense’ (suatu tense yang sebetulnya tidak pernah ada), lalu mereka mengatakan bahwa itu adalah suatu ‘historical present’, dan lalu mereka mengubahnya lagi dengan mengatakan bahwa itu adalah suatu ‘perfect tense indicative’, ‘perfect indicative’, atau hanya ‘perfect tense’.
Lalu pada tahun 1978 seorang bernama Nelson Herle mulai memberikan penafsiran bahwa ‘perfect indefinite tense’ dan ‘perfect tense indicative’ adalah sama. Tetapi Robert Bowman mengatakan bahwa kedua istilah itu tidak mungkin sama.
Robert M. Bowman Jr.: “‘indicative’ is a term describing the mood of the verb, while ‘indefinite,’ as used in the 1950 NWT footnote, is a term describing the tense of the verb. The indicative mood is simply that aspect of the verb that identifies it as a statement (rather than a question, command, or wish). Thus, it is simply not true that ‘perfect tense indicative’ is synonymous with ‘perfect indefinite tense.’” [= ‘indikatif’ adalah suatu istilah yang menggambarkan ‘mood’ / ‘modus’ dari kata kerja, sedangkan ‘indefinite’, sebagaimana digunakan dalam catatan kaki dari NWT tahun 1950, adalah suatu istilah yang menggambarkan ‘tense’ / ‘tensa’ dari kata kerja. Modus indikatif hanyalah suatu aspek dari kata kerja yang menunjukkan kata kerja itu sebagai suatu pernyataan (dan bukannya suatu pertanyaan, perintah, atau keinginan). Karena itu, adalah tidak benar bahwa ‘perfect tense indicative’ adalah sama dengan ‘perfect indefinite tense’.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 94-95.
(b) Sekarang tentang ‘present of past action still in progress’.
Nelson Herle mengatakan bahwa adanya anak kalimat dalam bentuk lampau / aorist yang mendahului kata kerja EIMI itu menyebabkan kata EIMI itu harus ditafsirkan sebagai ‘perfect tense’. Ia menggunakan suatu ungkapan ‘present of past action still in progress’. Untuk mendukung pandangannya, Nelson Herle / Saksi-Saksi Yehuwa mengutip 2 ahli bahasa Yunani yaitu G. B. Winer dan Nigel Turner, yang mengatakan bahwa kadang-kadang bentuk present tense bisa mencakup bentuk past tense, yang terus berlangsung sampai sekarang (Robert M. Bowman Jr., ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 105).
Tetapi Robert M. Bowman Jr. mengatakan (hal 105,109) bahwa dalam hal seperti itu kalimat tersebut harus mengandung suatu bagian yang menunjukkan lamanya waktu yang ditunjukkan oleh kata kerja tersebut, dan ia mengutip kata-kata dari Burton, Goodwin, A. T. Robertson, dan Dana & Mantey untuk mendukung pandangannya itu.
Contoh:
· 1Yoh 2:9 - “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada (present tense) di dalam kegelapan sampai sekarang.”.
· 2Pet 3:4 - “Kata mereka: ‘Di manakah janji tentang kedatanganNya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap (present tense) seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.’”.
· Yoh 15:27 - “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu (Lit: ‘you are’ - present tense) dari semula bersama-sama dengan Aku.’”.
Bagian yang saya beri garis bawah ganda menunjukkan ‘lamanya waktu’.
Dalam Yoh 8:58 ‘lamanya waktu’ itu tidak ada, dan karena itu Robert M. Bowman Jr. menyimpulkan bahwa Yoh 8:58 tidak termasuk dalam ‘present of past action still in progress’ (‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 111).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali