KEBAKTIAN online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 18 Februari 2023, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

bukti-bukti bahwa

yesus adalah allah(13b)

 

d.   LXX / Septuaginta menterjemahkan kata EHYEH yang pertama dalam Kel 3:14 sebagai EGO EIMI [= ‘I am’].

 

Walter Martin: “The Septuagint translation of Exodus 3:14 from the Hebrew EHYEH utilizes EGO EIMI as the equivalent of ‘I am,’” [= Terjemahan Septuaginta dari Keluaran 3:14 dari kata Ibrani EHYEH menggunakan EGO EIMI sebagai kata yang sama artinya dari ‘Aku adalah’,] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 89.

Kel 3:14 -        EHYEH      ASYER     EHYEH

                          I am            who          I am

                     Aku adalah     yang      Aku adalah

  


 

                                       LXX: EGO EIMI [= I am / Aku adalah].

 

Tetapi Robert Bowman berkata bahwa Saksi-Saksi Yehuwa justru memberi argumentasi bahwa terjemahan LXX terhadap kata EHYEH dalam Kel 3:14 ini bukan EGO EIMI [= ‘I am’] tetapi HO ON [= ‘the Being’ atau ‘the One who is’]. Tetapi kata-kata Saksi-Saksi Yehuwa ini lagi-lagi hanyalah ½ kebenaran, karena sebetulnya LXX menterjemahkan EHYEH yang kedua dengan HO ON, tetapi EHYEH yang pertama dengan EGO EIMI.

 

Robert Bowman, dalam bukunya ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, mengatakan:

(1) “This is not quite telling the whole truth, however. What the text actually says in the LXX is as follows (translating literally): And God said to Moses, ‘I am (EGO EIMI) the One who is (HO ON)’; and He said, ‘Thus you shall say to the sons of Israel, ‘The One who is (HO ON) has sent me to you.’” [= Tetapi ini tidak menceritakan seluruh kebenaran. Apa yang sebetulnya dikatakan oleh text itu dalam LXX adalah sebagai berikut (diterjemahkan secara hurufiah): Dan Allah berkata kepada Musa: ‘Aku adalah (EGO EIMI) seseOrang/Dia yang adalah (HO ON)’; dan Ia berkata: ‘Demikianlah akan kaukatakan kepada anak-anak Israel: ‘SeseOrang/Dia yang adalah (HO ON) telah mengutus aku kepadamu’.] -  hal 124-125.

(2) “Thus, the LXX has rendered the word EHYEH in two different ways, by both EGO EIMI and HO ON.” [= Jadi, LXX telah menterjemahkan kata EHYEH dengan dua cara yang berbeda, dengan EGO EIMI dan HO ON.] - hal 125.

(3) “The foregoing reasoning has assumed what the JWs here seem to take for granted, that an allusion to Exodus 3:14 must be based on the Hebrew text. Yet there is no reason to make such an assumption. John may have chosen to use the LXX rendering of EHYEH in its first occurrence in Exodus 3:14 as EGO EIMI to report Jesus’ words to the Jews in John 8:58.” [= Argumentasi yang terlebih dulu menunjukkan anggapan Saksi-Saksi Yehuwa, bahwa suatu penghubungan dengan Kel 3:14 harus didasarkan pada text bahasa Ibrani. Tetapi tidak ada alasan untuk membuat anggapan seperti itu. Yohanes bisa memilih untuk menggunakan terjemahan LXX dari EHYEH dalam pemunculan pertamanya dalam Kel 3:14 sebagai EGO EIMI untuk melaporkan kata-kata Yesus kepada orang-orang Yahudi dalam Yoh 8:58.] - hal 128.

 

Perlu diketahui bahwa LXX / Septuaginta sudah digunakan secara luas pada jaman Yesus, dan Yesus sendiri pasti menggunakannya, dan Ia tidak pernah meralat bagian ini. Karena itu terjemahan EGO EIMI [= I am / Aku adalah] dalam Kel 3:14 itu bisa dipertanggung-jawabkan.

 

3.   Sekarang kita membandingkan dengan terjemahan TDB dari Kel 3:14.

Kel 3:14 (TDB): “Maka Allah berfirman kepada Musa, ‘Aku akan menjadi apa pun yang aku inginkan.’ Dan ia menambahkan, ‘Inilah yang harus kaukatakan kepada putra-putra Israel, ‘Aku akan menjadi telah mengutus aku kepadamu.’”.

 

Bagian yang saya garis bawahi itu merupakan terjemahan yang ngawur seenaknya sendiri. Itu bukan hanya merupakan terjemahan yang salah, tetapi ditinjau secara teologispun itu juga sangat salah, karena terjemahan itu menunjukkan bahwa Allah bisa berubah menjadi apapun (sesuatu yang lain) yang Ia inginkan. Padahal secara teologis, Allah tidak bisa berubah.

 

Disamping itu, terlihat bahwa di sini TDB berbeda dengan NWT yang menterjemahkan: ‘I shall prove to be what I shall prove to be’ [= Aku akan buktikan menjadi apa yang Aku akan buktikan menjadi].

Mungkin penterjemah TDB bingung bagaimana menterjemahkan kata-kata NWT dalam bagian ini, yang memang kacau balau.

 

4.   Dalam Kel 3:14b Kitab Suci Indonesia berbunyi: Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu’. Ini kurang tepat terjemahannya.

NIV: I am has sent me to you’ [= Aku adalah telah mengutus aku kepadamu].

Kata ‘I AM’ di sini adalah kependekan dari ‘I am who I am’, dan dalam kalimat ini kelihatannya digunakan sebagai nama Allah.

 

5.   Lalu dalam Kel 3:15 dikatakan bahwa nama Allah adalah ‘TUHAN’ / ‘LORD’ [= YAHWEH].

 

Kel 3:15 - “Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN (YAHWEH), Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah namaKu untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun-temurun.”.

 

6.   Jadi, ada hubungan yang erat antara nama ‘I am’ / ‘I am who I am’ dengan nama ‘YAHWEH’.

 

Ada beberapa komentar tentang hubungan nama ‘YAHWEH’ dalam Kel 3:15 ini dengan nama ‘I am’ / ‘I am who I am’ dalam Kel 3:14:

 

a.   Pulpit Commentary: “The name is given first explicatively, - ‘I am that I am’ (ver. 14), then as a denominative - ‘Jehovah’ (ver. 15);” [= Nama itu mula-mula diberikan secara menjelaskan, - ‘Aku adalah yang Aku adalah’ (ay 14), kemudian sebagai suatu penamaan / nama - ‘Yehovah’ (ay 15);] - hal 70.

 

b.   Pulpit Commentary: “The name is clearly an equivalent of the ‘I AM’ in the preceding verse.” [= Nama itu (YAHWEH) jelas merupakan padankata dari ‘Aku adalah’ dalam ayat sebelumnya.] - hal 57.

 

c.   Barnes’ Notes: “It corresponds exactly to the preceding verse, the words ‘I am’ and ‘Jehovah’ being equivalent.” [= Itu sesuai / dapat disamakan secara persis dengan ayat sebelumnya, karena kata-kata ‘Aku adalah’ dan ‘Yehovah’ merupakan kata-kata yang sinonim.] - hal 13.

 

d.   Herman Hoeksema: “The name EHYEH ASYER EHYEH, or, briefly, EHYEH, which is an explanation of the name Jehovah, by which God was already known to the fathers, is here designated as the Name of God, the Name par excellence, in which God’s nature is revealed in the highest sense of the word, and by which He is distinguished forever even from the deities of the heathen.” [= Nama EHYEH ASYER EHYEH, atau singkatnya EHYEH, yang merupakan suatu penjelasan tentang nama Yehovah, dengan mana Allah sudah dikenal oleh para leluhur, di sini ditunjukkan sebagai Nama Allah, Nama yang menonjol, dalam mana sifat dasar Allah dinyatakan dalam arti tertinggi dari kata itu, dan dengan mana Ia dibedakan selama-lamanya dari allah-allah / dewa-dewa orang kafir.] - ‘Reformed Dogmatics’, hal 66.

 

e.   Keil & Delitzsch: “God therefore told his His name, or, to speak more correctly, He explained the name hvhy, by which He had made Himself known to Abraham at the making of the covenant (Gen. 15:7), in this way, EHYEH ASYER EHYEH, ‘I am that I am,’” [= Karena itu Allah memberitahu namaNya, atau, berbicara secara lebih tepat, Ia menjelaskan nama YHWH, dengan mana Ia telah menyatakan diriNya sendiri kepada Abraham pada pembuatan perjanjian (Kej 15:7), dengan cara ini, EHYEH ASYER EHYEH, ‘Aku adalah yang Aku adalah’,] - hal 442.

 

Dari komentar-komentar ini terlihat bahwa kata-kata ‘I am who I am’ bukan hanya berhubungan erat dengan nama YAHWEH, tetapi bahkan merupakan penjelasan dari nama YAHWEH.

 

7.   Apa arti dari nama ‘YAHWEH’ atau ‘I am who I am’ / ‘I will be that I will be’?

 

Herman Bavinck berkata bahwa ungkapan ini menunjuk kepada: “the God who is unchangeable in his grace, the Ever-faithful covenant God.” [= Allah yang tidak berubah dalam kasih karuniaNya, Allah perjanjian yang selalu setia.] - ‘The Doctrine of God’, hal 102.

 

Louis Berkhof tentang nama ‘Yahweh’: “The meaning is explained in Ex. 3:14, which is rendered ‘I am that I am,’ or ‘I shall be what I shall be.’ Thus interpreted, the name points to the unchangeableness of God. Yet it is not so much the unchangeableness of His essential Being that is in view, as the unchangeableness of His relation to His people.” [= Artinya dijelaskan dalam Kel 3:14, yang diterjemahkan ‘Aku adalah Aku’, atau ‘Aku akan jadi apa yang Aku akan jadi’. Ditafsirkan demikian, nama itu menunjuk pada ketidak-berubahan dari Allah. Tetapi bukan ketidak-berubahan dari hakekatNya yang disoroti, tetapi ketidak-berubahan dari hubunganNya dengan umatNya.] - ‘Systematic Theology’, hal 49.

 

Herman Hoeksema: “As to the meaning of this name, ... we regard it as being expressive, first of all, of God’s aseitas. ... This aseitas Dei, also called His independentia, is that virtue of God according to which He is of and in and through Himself, is not caused by or dependent on any being outside of Himself, and is, therefore, the absolute, pure Being, Who is also perfectly Self-sufficient, and has no need of any being outside of Himself. In this virtue He is wholly different from the creature.” [= Berkenaan dengan arti dari nama ini, ... kami menganggapnya sebagai sesuatu yang pertama-tama menyatakan sifat aseitas dari Allah. ... Sifat aseitas dari Allah, juga disebut ketidak-tergantunganNya, adalah sifat Allah menurut mana Ia ada dari dan dalam dan melalui diriNya sendiri, dan tidak disebabkan oleh atau tergantung pada makhluk apapun di luar diriNya sendiri, dan karena itu Ia adalah Makhluk / Keberadaaan yang mutlak dan murni, yang juga mencukupi diri sendiri secara sempurna, dan tidak membutuhkan makhluk apapun di luar diriNya sendiri. Dalam sifat ini, Ia sepenuhnya berbeda dari makhluk ciptaan.] - ‘Reformed Dogmatics’, hal 68,69.

 

Jadi nama YAHWEH / ‘I am who I am’ / ‘I will be that I will be’ ini:

a.   Menunjukkan ketidak-berubahan Allah dalam hubunganNya dengan umatNya.

b.   Menunjukkan bahwa Allah ada dari diriNya sendiri, dan Ia tidak tergantung kepada siapapun / apapun di luar diriNya. Dengan demikian, ini juga menunjukkan kekekalan dari Allah.

 

c)   Ayat-ayat Perjanjian Lama lain yang dalam Septuaginta juga menggunakan EGO EIMI.

 

1.   Ul 32:39 - “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu.”.

 

Dalam bahasa Ibrani bagian yang saya garis bawahi itu berbunyi ANI ANI HU [= I myself am He / Aku sendiri adalah Dia]. Adanya 2 x kata ANI [= aku] menunjukkan suatu penekanan, dan karena itu seharusnya diterjemahkan ‘Aku sendiri adalah Dia’.

 

Robert Bowman (lihat kutipan di bawah, setelah point 7.) mengatakan bahwa dalam Septuaginta bagian ini diterjemahkan EGO EIMI [= ‘I am’ {= Aku adalah}]. Pulpit Commentary juga mengatakan demikian.

 

Pulpit Commentary: “LXX, ἴδετε ἴδετε ὅτι ἐγώ εἰμι (cf. Isa. 41:4; 48:12; John 8:24; 18:5).” [= LXX, ἴδετε ἴδετε ὅτι ἐγώ εἰμι / IDETE, IDETE HOTI EGO EIMI (bdk. Yes 41:4; 48:12; Yoh 8:24; 18:5).] - hal 503.

Catatan: IDETE artinya ‘lihatlah’.

NWT: ‘I, I am he’ [= Aku, Aku adalah Dia].

TDB: ‘aku - akulah dia’.

 

2.   Yes 41:4 - “Siapakah yang melakukan dan mengerjakan semuanya itu? Dia yang dari dahulu memanggil bangkit keturunan-keturunan, Aku, TUHAN, yang terdahulu, dan bagi mereka yang terkemudian Aku tetap Dia juga.”.

Ibrani: ANI Yahweh [= I (am) YAHWEH / Aku (adalah) YAHWEH].

LXX / Septuaginta: EGO EIMI (lihat kutipan dari Bowman di bawah).

NWT: ‘I, Jehovah’ [= Aku, Yehovah].

TDB: ‘Aku, Yehuwa’.

 

3.   Yes 43:10 - “‘Kamu inilah Saksi-SaksiKu,’ demikianlah firman TUHAN (YAHWEH), ‘dan hambaKu yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepadaKu dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.”.

 

Catatan: Kata ‘tetap’ yang saya coret itu sebetulnya tidak ada.

Ibrani: ANI HU [= I (am) He / Aku (adalah) Dia].

LXX / Septuaginta: EGO EIMI (lihat kutipan dari Bowman di bawah; lihat juga kata-kata A. T. Robertson dalam komentarnya tentang Yoh 8:24 di bawah).

NWT: “I am the same One” [= Aku adalah Orang Yang sama].

TDB: “aku adalah Pribadi yang sama”.

Entah dari mana mereka menyulap sehingga muncul kata-kata ini.

 

4.   Yes 45:18 - “Sebab beginilah firman TUHAN, yang menciptakan langit, - Dialah Allah - yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, - dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami -: ‘Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain.”.

Ibrani: ANI Yahweh [= I (am) YAHWEH / Aku (adalah) YAHWEH].

LXX / Septuaginta: EGO EIMI (lihat kutipan dari Bowman di bawah).

NWT: ‘I am Jehovah’ [= Aku adalah Yehovah].

TDB: ‘Akulah Yehuwa’.

 

5.   Yes 46:4 - “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”.

 

Catatan: Kata ‘tetap’ sebetulnya tidak ada.

Ibrani: ANI HU [= I (am) He / Aku (adalah) Dia].

LXX / Septuaginta: EGO EIMI (lihat kutipan dari Bowman di bawah).

NWT: “I am the same One” [= Aku adalah Orang Yang sama].

TDB: “aku tetap Pribadi yang sama”.

Saksi-Saksi Yehuwa melakukan sulapan yang sama seperti di atas.

 

6.   Yes 48:12 - “‘Dengarkanlah Aku, hai Yakub, dan engkau Israel yang Kupanggil! Akulah yang tetap sama, Akulah yang terdahulu, Akulah juga yang terkemudian!”.

Ini terjemahan yang ngawur, karena kata-kata ‘tetap’ maupun ‘sama’ sebetulnya tidak pernah ada.

Ibrani: ANI HU [= I (am) He / Aku (adalah) Dia].

LXX / Septuaginta: EGO EIMI.

NWT: “I am the same One” [= Aku adalah Orang Yang sama].

TDB: “Aku adalah Pribadi yang sama”.

Lagi-lagi sulapan yang sama mereka gunakan.

 

7.   Yes 52:6 - “Sebab itu umatKu akan mengenal namaKu dan pada waktu itu mereka akan mengerti bahwa Akulah Dia yang berbicara, ya Aku!”.

Ibrani: ANI HU [= I (am) He / Aku (adalah) Dia].

LXX / Septuaginta: EGO EIMI (lihat kutipan dari Bowman di bawah).

NWT: “I am the One” [= Aku adalah Orang].

TDB: “akulah Pribadi”.

 

Robert M. Bowman Jr.: “Among biblical scholars a growing consensus has formed behind the opinion that John 8:58 deliberately echoes Yahweh’s statements in Isaiah 40-55. The NWT obscures the parallels in Isaiah by rendering them ‘I am the same One’ or ‘I am the same’; but the Hebrew in each case reads simply ANI HU {literally, ‘I (am) he’}, which the LXX renders as EGO EIMI (Isa. 41:4; 43:10; 46:4; 52:6; compare with Deut. 32:29). ... This suggests that the reason for the anger of the Jews at Jesus’ absolute use of the expression EGO EIMI was that on the occasion his language was instantly recognizable as that of Yahweh. ... a large number scholars have defended this conclusion, and very few deny it. ... Considerations such as these have led most scholars to conclude that the closest Old Testament antecedent to John 8:58 is to be found in the Isaiah’s ‘I am’ sayings. If this is correct, the conclusion cannot be avoided that Jesus was claiming to be Yahweh.” [= Di antara para ahli bahasa / penafsir Alkitab suatu persetujuan umum yang bertumbuh telah membentuk di belakang pandangan bahwa Yoh 8:58 secara sengaja menggemakan pernyataan-pernyataan Yahweh dalam Yes 40-55. NWT mengaburkan ayat-ayat paralel dalam Yesaya ini dengan menterjemahkan mereka ‘Aku adalah Orang yang sama’ atau ‘Aku adalah yang sama’; tetapi dalam bahasa Ibrani setiap kasus hanya berbunyi ANI HU {secara hurufiah, ‘Aku (adalah) Dia’}, yang oleh LXX / Septuaginta diterjemahkan sebagai EGO EIMI (Yes 41:4; 43:10; 46:4; 52:6; bandingkan dengan Ul 32:39). ... Ini mengusulkan bahwa alasan untuk kemarahan dari orang-orang Yahudi pada penggunaan ungkapan EGO EIMI secara mutlak oleh Yesus adalah bahwa pada peristiwa itu bahasaNya langsung dikenali sebagai bahasa Yahweh. ... sejumlah besar ahli-ahli bahasa / penafsir telah mempertahankan kesimpulan ini, dan sangat sedikit menyangkalnya. ... Pertimbangan-pertimbangan seperti ini telah membimbing para ahli bahasa / penafsir untuk menyimpulkan bahwa bagian-bagian terdekat dalam Perjanjian Lama yang merupakan pendahulu dari Yoh 8:58 ditemukan dalam kata-kata ‘Aku adalah’ dari Yesaya. Jika ini benar, kesimpulannya tidak bisa dihindarkan bahwa Yesus sedang mengclaim sebagai Yahweh.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 120,121.

 

d)   Sekarang mari kita kembali kepada kedua kelompok ayat dalam Injil Yohanes dimana Yesus menyebut diriNya dengan sebutan ‘I am’ [= Aku adalah].

Dengan mengingat apa yang sudah saya bahas di atas, yang menekankan hubungan yang erat antara nama YAHWEH dengan ‘I am’ [= Aku adalah], maka kita bisa menyimpulkan bahwa kata-kata ‘I am’ [= Aku adalah] dari Yesus ini secara implicit menunjukkan diriNya sebagai Yahweh / Allah sendiri (bdk. Yer 23:5-6 dimana Yesus secara explicit disebut sebagai TUHAN / Yahweh!).

 

Yer 23:5-6 - (5) Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. (6) Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN - keadilan kita..

 

Memang ada orang-orang yang tidak setuju bahwa kelompok pertama, yaitu seri 7 ‘I am’, menunjukkan bahwa Yesus adalah YAHWEH. Mereka menganggap bahwa ‘I am’ di dalam ayat-ayat itu hanyalah ‘I am’ biasa, karena kata-kata ‘I am’ itu diikuti penggambaran Yesus tentang diriNya sendiri. Karena itu mari kita memperhatikan kelompok kedua saja, dimana kata-kata ‘I am’ digunakan secara mutlak, maksudnya kata-kata ‘I am’ itu tidak diikuti dengan penggambaran oleh Yesus tentang diriNya.

 

1.   Yoh 8:24,28 - “(24) Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.’ ... (28) Maka kata Yesus: ‘Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diriKu sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaKu”.

TDB: ‘akulah dia’.

NWT: ‘I am (he)’ [= Aku adalah (Dia)].

KJV: ‘I am he’ [= Aku adalah Dia].

Terjemahan hurufiah seharusnya hanyalah: ‘I am’ [= Aku adalah].

Catatan: kata ‘he’ [= Dia] oleh NWT diletakkan dalam tanda kurung untuk menunjukkan bahwa kata itu tidak ada dalam bahasa aslinya; tetapi TDB tidak memberikan tanda kurung itu. KJV menterjemahkan seperti NWT, tetapi kata ‘he’ tidak diletakkan dalam tanda kurung, melainkan dicetak dengan huruf miring. Maksudnya sama seperti NWT, yaitu untuk menunjukkan bahwa kata itu sebetulnya tidak ada dalam bahasa aslinya.

 

William Hendriksen: “This death in sins will be the result of not believing that I am he; literally, that I am (ἐγώ εἰμι), ... Basic to the expression are passages such as Ex. 3:14; Deut. 32:39; Is. 43:10. The meaning is: that I am all that I claim to be; the One sent by the Father, the One who is from above, the Son of Man, the only-begotten Son of God, equal with God, the One who has life in himself, the very essence of the scriptures, the bread of life, the light of the world, etc.” [= Kematian dalam dosa ini merupakan akibat dari ketidak-percayaan bahwa ‘Akulah Dia’; secara hurufiah, bahwa ‘Aku adalah’ (ἐγώ εἰμι / EGO EIMI), ... Yang mendasari ungkapan itu adalah text-text seperti Kel 3:14; Ul 32:39; Yes 43:10). Artinya adalah: bahwa Aku adalah semua yang Aku claim tentang diriKu; seseorang yang diutus oleh Bapa, seseorang dari atas, Anak Manusia, satu-satunya Anak Allah yang diperanakkan, setara dengan Allah, seseorang yang mempunyai hidup dalam diriNya sendiri, inti / hakekat dari kitab suci, roti hidup, terang dunia, dsb.] - hal 46.

 

A. T. Robertson: “Jesus can mean either ‘that I am from above’ (verse 23), ‘that I am the one sent from the Father or the Messiah’ (7:18,28), ‘that I am the Light of the World’ (8:12), ‘that I am the Deliverer from the bondage of sin’ (8:28, 31f., 36), ‘that I am’ without supplying a predicate in the absolute sense as the Jews (Deut. 32:39) used the language of Jehovah (cf. Isa. 43:10 where the very words occur HINA PISTEUSETE - HOTI EGO EIMI). The phrase EGO EIMI occurs three times here (8:24,28,58) and also in 13:19. Jesus seems to claim absolute divine being as in 8:58.” [= Yesus bisa memaksudkan salah satu dari hal-hal ini, ‘bahwa Aku adalah dari atas’ (ayat 23), ‘bahwa Aku adalah Orang yang diutus oleh Bapa atau Mesias’ (7:18,28), ‘bahwa Aku adalah Terang Dunia’ (8:12), ‘bahwa Aku adalah Pembebas dari perbudakan / belenggu dosa’ (8:28, 31-dst, 36), ‘bahwa Aku ada / adalah’ tanpa menyuplai predikat dalam arti yang mutlak seperti orang-orang Yahudi (Ul 32:39) menggunakan bahasa Yehovah (bdk. Yes 43:10 dimana kata-kata yang persis sama muncul (HINA PISTEUSETE - HOTI EGO EIMI). Ungkapan EGO EIMI muncul 3 x di sini (8:24,28,58) dan juga dalam 13:19. Yesus kelihatannya mengclaim sebagai makhluk ilahi yang mutlak seperti dalam 8:58.] - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 5, hal 146.

 

Robert M. Bowman Jr.: “The sole objection offered by the JWs is that David said ANI HU in 1Chronicles 21:17, an objection which fails to note that David’s use of the phrase is completely nontheological.” [= Satu-satunya keberatan yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa adalah bahwa Daud mengatakan ANI HU dalam 1Taw 21:17, suatu keberatan yang tidak memperhatikan bahwa penggunaan Daud tentang ungkapan ini adalah sama sekali tidak bersifat teologis.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 120.

 

1Taw 21:17 - “Dan berkatalah Daud kepada Allah: ‘Bukankah aku ini yang menyuruh menghitung rakyat dan aku sendirilah (ANI HU = akulah dia) yang telah berdosa dan yang melakukan kejahatan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Ya TUHAN, Allahku, biarlah kiranya tanganMu menimpa aku dan kaum keluargaku, tetapi janganlah tulah menimpa umatMu.’”.

 

Tetapi Calvin mempunyai pandangan lain tentang Yoh 8:24 ini.

Calvin: “For there is no other way for lost men to recover salvation, but to betake themselves to Christ. The phrase, ‘that I am,’ is emphatic; for, in order to make the meaning complete, we must supply all that the Scripture ascribes to the Messiah, and all that it bids us expect from him. ... Some of the ancient writers have deduced from this passage the Divine essence of Christ; but that is a mistake, for he speaks of his office towards us. This statement is worthy of observation; for men never consider sufficiently the evils in which they are plunged; and though they are constrained to acknowledge their destruction, yet they neglect Christ, and look around them, in every direction, for useless remedies.” [= Karena tidak ada jalan lain untuk orang-orang yang terhilang untuk memperoleh keselamatan, kecuali dengan pergi / membawa dirinya sendiri kepada Kristus. Ungkapan ‘bahwa Aku ada / adalah’ perlu diperhatikan; karena untuk membuat artinya lengkap, kita harus menyuplai semua yang oleh Kitab Suci dianggap sebagai milik / kwalitet dari Mesias, dan semua yang Kitab Suci minta untuk kita harapkan dari Dia. ... Sebagian dari penulis-penulis kuno telah menyimpulkan dari text ini hakekat Ilahi dari Kristus; tetapi itu merupakan suatu kesalahan, karena Ia berbicara tentang jabatanNya / tugasNya terhadap kita. Pernyataan ini layak untuk diperhatikan; karena manusia tidak pernah mempertimbangkan dengan cukup kejahatan dalam mana mereka tercebur, tetapi mereka mengabaikan Kristus, dan memandang ke sekeliling mereka, ke setiap arah, untuk pengobatan yang sia-sia.] - hal 333-334.

Catatan:

a.   Bagian yang saya garis-bawahi itu jelas juga mencakup keilahian dari Kristus / Mesias, karena hal itu jelas diajarkan oleh Kitab Suci.

b.   Calvin kelihatannya tidak menghubungkan Yoh 8:24 ini dengan Kel 3:14.

 

Dan tentang kata-kata ‘I am’ [= Aku adalah] dalam Yoh 8:28, Calvin berkata: “this does not refer to Christ’s Divine essence, but to his office;” [= ini tidak menunjuk kepada hakekat Ilahi Kristus, tetapi kepada jabatanNya;] - hal 338.

 

2.   Yoh 13:19 - “Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.”.

TDB: ‘akulah dia’.

NWT: ‘I am (he)’ [= Aku adalah (Dia)].

KJV: ‘I am he’ [= Aku adalah Dia].

Literal: ‘I am’ [= Aku adalah].

 

William Hendriksen: “They must continue to believe that ‘I am (he),’ that is, that Jesus is whatever he claimed to be.” [= Mereka harus terus percaya bahwa Yesus adalah apapun seperti yang Ia claim tentang diriNya sendiri.] - hal 240.

 

Calvin (hal 66) dan A. T. Robertson (hal 242) menganggap bahwa kata-kata ‘Akulah Dia’ di sini menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, tetapi tentang pandangan A. T. Robertson bandingkan dengan komentarnya tentang Yoh 8:24 yang sudah saya berikan di atas.

 

Walter Martin menganggap bahwa kata-kata ‘I am’ [= Aku adalah] di sini juga berhubungan dengan kata-kata ‘Aku adalah yang Aku adalah’ dan ‘Aku adalah’ dalam Kel 3:14.

 

Walter Martin: “The meaning of the phrase in the sense of full Deity is especially clear at John 13:19 where Jesus says that He has told them things before they come to pass, that when they do come to pass the disciples may believe that EGO EIMI (I am). Jehovah is the only One who knows the future as a present fact. Jesus is telling them beforehand that when it does come to pass in the future, they may know that ‘I am’ (EGO EIMI), i.e., that He is Jehovah!” [= Arti dari ungkapan itu dalam arti KeAllahan yang penuh khususnya sangat jelas dalam Yoh 13:19 dimana Yesus berkata bahwa Ia telah memberitahu mereka hal-hal sebelum hal-hal itu terjadi, supaya pada waktu hal-hal itu terjadi, murid-murid bisa percaya EGO EIMI (Aku adalah) itu. Yehovah adalah satu-satunya yang mengetahui masa depan sebagai suatu fakta masa kini. Yesus memberitahu mereka sebelumnya bahwa pada waktu itu terjadi, mereka bisa mengetahui bahwa ‘Aku adalah’ (EGO EIMI), yaitu bahwa Ia adalah Yehovah!] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 88-89.

 

 

-bersambung-


 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali