(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 14 Januari 2023, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
bukti-bukti bahwa
yesus adalah allah(12)
4) Ayat-ayat yang berbicara / bernubuat tentang Allah (YAHWEH) digenapi dalam diri Yesus.
a) Maz 68:19 - “Engkau telah naik ke tempat tinggi, telah membawa tawanan-tawanan; Engkau telah menerima persembahan-persembahan di antara manusia, bahkan dari pemberontak-pemberontak untuk diam di sana, ya TUHAN Allah (TDB: ‘oh, Allah Yah’).”.
Kata ‘Engkau’ jelas menunjuk kepada ‘TUHAN Allah’, dan kata-kata yang diterjemahkan ‘Tuhan Allah’ ini adalah ‘YAH ELOHIM’, dimana kata ‘YAH’ adalah kependekan dari ‘YAHWEH’. Bandingkan dengan kata HALELUYAH (dalam LAI ditulis ‘Haleluya’).
Sekarang mari kita bandingkan dengan Ef 4:8-9 - “(8) Itulah sebabnya kata nas: ‘Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.’ (9) Bukankah ‘Ia telah naik’ berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah?”.
Jelas bahwa Ef 4:8-9 ini mengutip Maz 68:19 itu dan menerapkannya kepada Yesus. Jadi jelas bahwa Yesus adalah ‘TUHAN Allah’ (YAH ELOHIM) yang dibicarakan dalam Maz 68:19 itu. Bandingkan dengan Wah 1:8 yang juga menyebut Yesus dengan istilah ‘Tuhan Allah’.
b) Maz 102:25-28 - “(25) Aku berkata: ‘Ya Allahku, janganlah mengambil aku pada pertengahan umurku! Tahun-tahunMu tetap turun-temurun!’ (26) Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu. (27) Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; (28) tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan.”.
Jelas bahwa kata-kata ini diucapkan oleh si pemazmur kepada Allah / YAHWEH (Maz 102:2,13,25).
Sekarang
mari kita bandingkan dengan Ibr 1:8-12 -
“(8) Tetapi tentang
(kepada) Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya
Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah
tongkat kebenaran. (9) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab
itu Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan,
melebihi teman-teman sekutuMu.’ (10) Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah
meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu. (11) Semuanya itu akan
binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti
pakaian; (12) seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan
mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak
berkesudahan.’”.
Ibr 1:10-12 jelas mengutip dari Maz 102:26-27, tetapi kalau kata-kata dalam Maz 102 itu ditujukan kepada Allah / YAHWEH, maka kata-kata dalam Ibr 1:10-12 itu ditujukan kepada Anak / Yesus. Jadi jelas bahwa Yesus adalah Allah / YAHWEH sendiri!
Barnes’ Notes (tentang Ibr 1:10): “In the Psalm, there can be no doubt that JEHOVAH is intended. ... because the name JEHOVAH is introduced in vers. 1,12, and because he is addressed as the Creator of all things, and as immutable. No one, on reading the Psalm, ever would doubt that it referred to God; and, if the apostle meant to apply it to the Lord Jesus, it proves most conclusively that he is divine.” [= Dalam Mazmur itu, tidak ada keraguan bahwa Yehovah-lah yang dimaksudkan. ... karena nama YEHOVAH digunakan dalam ay 2,13, dan karena Ia disebut sebagai sang Pencipta segala sesuatu, dan sebagai tidak berubah. Tidak seorangpun yang membaca Mazmur itu bisa meragukan bahwa itu menunjuk kepada Allah; dan jika sang rasul bermaksud untuk menerapkannya kepada Tuhan Yesus, itu membuktikan secara paling meyakinkan bahwa Ia adalah ilahi / Allah.] - hal 1229.
c) Yes 6:1-10 - “(1) Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan (TDB: ‘Yehuwa’) duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahNya memenuhi Bait Suci. (2) Para Serafim berdiri di sebelah atasNya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. (3) Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: ‘Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya!’ (4) Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap. (5) Lalu kataku: ‘Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.’ (6) Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. (7) Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: ‘Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.’ (8) Lalu aku mendengar suara Tuhan (TDB: ‘Yehuwa’) berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’ Maka sahutku: ‘Ini aku, utuslah aku!’ (9) Kemudian firmanNya: ‘Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! (10) Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.’”.
Jelas bahwa Yesaya melihat Yahweh sendiri, dan Yahweh lalu mengucapkan kata-kata dalam ay 10 itu.
Sekarang mari kita membandingkannya dengan Yoh 12:37-42 - “(37) Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepadaNya, (38) supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?’ (39) Karena itu mereka tidak dapat percaya, sebab Yesaya telah berkata juga: (40) ‘Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka.’ (41) Hal ini dikatakan oleh Yesaya, karena ia telah melihat kemuliaanNya dan telah berkata-kata tentang Dia. (42) Namun banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepadaNya, tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan.”.
Yoh 12:40 itu (bagian yang saya garis bawahi) jelas mengutip Yes 6:10. Jadi kedua text ini jelas sangat dekat hubungannya. Tetapi kalau dalam Yes 6 itu Yesaya melihat Adonay / Yahweh, maka dalam Yoh 12:41 dikatakan bahwa Yesaya telah melihat kemuliaanNya (garis bawah ganda), dan kalau kita melihat Yoh 12:42-nya maka terlihat dengan jelas bahwa kata ‘Nya’ itu menunjuk kepada Yesus. Jadi jelas bahwa Yesus adalah Adonay / Yahweh sendiri.
d) Yes 8:12b-13 - “(12b) ... apa yang mereka takuti janganlah kamu takuti dan janganlah gentar melihatnya. (13) Tetapi TUHAN (YAHWEH) semesta alam, Dialah yang harus kamu akui sebagai Yang Kudus; kepadaNyalah harus kamu takut dan terhadap Dialah harus kamu gentar.”.
Bagian yang saya garis bawahi diterjemahkan secara agak berbeda oleh KJV.
KJV: ‘Sanctify the LORD of hosts himself’ [= Kuduskanlah TUHAN semesta alam sendiri].
Yes 8:12-13 ini dikutip oleh Petrus dalam 1Pet 3:14-15 dan diterapkan kepada Kristus!
1Pet 3:14b-15a - “(14) ... janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. (15) Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!”.
Jadi, kalau dalam Yes 8:12-13 ada perintah untuk menguduskan YAHWEH, maka dalam 1Pet 3:15a perintahnya adalah untuk menguduskan Kristus. Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah YAHWEH.
Pulpit Commentary (tentang 1Pet 3:15): “St. Peter here substitutes the Saviour’s Name where the prophet wrote, ‘the Lord of hosts, Jehovah Sabaoth’ - a change which would be nothing less than impious if the Lord Jesus Christ were not truly God.” [= Santo Petrus di sini menggantikan dengan Nama sang Juruselamat dimana sang nabi menulis ‘TUHAN semesta alam, Yehovah Tsebbaoth’ - perubahan mana merupakan sesuatu yang tidak kurang dari suatu ketidak-hormatan terhadap Allah, seandainya Tuhan Yesus Kristus bukan sungguh-sungguh Allah.] - hal 131-132.
Pulpit Commentary (tentang 1Pet 3:15): “Peter, the Jew, who knew that perhaps the very highest title which could be ascribed to Jehovah was ‘the Lord of hosts,’ did not hesitate to give that title to Christ. Peter had known him in the humiliation of his human life; he had even washed Peter’s feet, yet Peter uses his name and that of ‘the Lord of hosts’ as convertible terms - speaks of these two as one. Peter, at least, had no doubt of the Deity of Jesus.” [= Petrus, si orang Yahudi, yang tahu bahwa mungkin gelar tertinggi yang bisa diberikan kepada Yehovah adalah ‘TUHAN semesta alam’, tidak ragu-ragu untuk memberikan gelar itu kepada Kristus. Petrus telah mengenalNya dalam perendahan dari kehidupan manusiaNya; Ia bahkan telah mencuci kaki Petrus, tetapi Petrus menggunakan namaNya dan nama ‘TUHAN semesta alam’ sebagai istilah-istilah yang dapat ditukar - berbicara tentang kedua nama ini sebagai satu nama. Sedikitnya, Petrus tidak ragu-ragu tentang Keilahian Yesus.] - hal 156.
e) Yer 9:23-24 - “(23) Beginilah firman TUHAN: ‘Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, (24) tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.’”.
Karena yang berbicara dalam ayat ini adalah TUHAN (Yahweh), maka itu berarti bahwa ayat ini menyuruh seseorang bermegah karena ia memahami dan mengenal Yahweh.
Yer 9:24 ini dikutip 2 x oleh Paulus, yaitu dalam 1Kor 1:31 dan 2Kor 10:17.
1Kor 1:31 - “Karena itu seperti ada tertulis: ‘Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.’”.
2Kor 10:17 - “‘Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.’”.
Saya berpendapat bahwa dalam kedua ayat itu Paulus menerapkannya kepada Yesus, dan dengan demikian ini menunjukkan bahwa Yesus adalah YAHWEH. Tetapi kontext dari kedua ayat itu tidak terlalu jelas dalam menunjukkan bahwa Paulus menerapkannya kepada Yesus. Dan baik dalam 1Kor 1:31 maupun dalam 2Kor 10:17, TDB mengubah kata ‘Tuhan’ menjadi ‘Yehuwa’.
Karena itu mari kita membandingkan dengan:
1. Ayat-ayat di bawah ini yang menunjukkan bahwa Paulus bermegah dalam / oleh Yesus!
a. Ro 5:11 - “Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.”.
b. Ro 15:17 - “Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah.”.
c. Gal 6:14 - “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.”.
d. Fil 3:3 - “karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.”.
2. Ayat-ayat di bawah ini yang menunjukkan bahwa Paulus bermegah karena pengenalannya terhadap Yesus.
Fil 3:7-11 - “(7) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. (8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, (9) dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. (10) Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, (11) supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”.
Dari semua ini jelas bahwa Yesus adalah Yahweh sendiri!
Kita juga bisa menambahkan bahwa dalam 1Kor 3:21a Paulus melarang untuk bermegah dalam / tentang manusia.
1Kor 3:21a - “Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia,”.
KJV: ‘let no man glory in men’ [= jangan ada orang yang bermegah dalam manusia].
NIV: ‘no more boasting about men’ [= jangan lagi bermegah tentang manusia].
Kalau Yesus hanya manusia biasa dan bukan Allah, seperti yang dipercayai oleh Saksi-Saksi Yehuwa, maka Paulus melanggar kata-katanya sendiri, karena Paulus ternyata bermegah dalam Kristus / bermegah karena pengenalannya terhadap Yesus.
f) Yoel 2:32a - “Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN (YAHWEH) akan diselamatkan,”.
Dalam Perjanjian Baru Yoel 2:32a itu dikutip 2 x yaitu dalam:
1. Ro 10:9-13 - “(9) Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan (TDB: ‘Tuan’), dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. (10) Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. (11) Karena Kitab Suci berkata: ‘Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.’ (12) Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepadaNya. (13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan (TDB: ‘Yehuwa’), akan diselamatkan.”.
Ro 10:13 jelas merupakan kutipan dari Yoel 2:32, dan kata ‘Tuhan’ dalam Ro 10:13 tidak mungkin menunjuk kepada ‘Yehuwa’ tetapi pasti menunjuk kepada ‘Yesus’. Alasannya:
a. Kata-kata ‘Yesus adalah Tuhan’ dalam Ro 10:9 jelas menunjukkan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘Tuhan’ dalam Ro 10:13 adalah ‘Yesus’.
b. Ro 10:11 merupakan kutipan dari Yes 28:16 - “sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!”.
Kata ‘batu’ / ‘batu penjuru’ di sini jelas menunjuk kepada Yesus, dan karena itu, kata ‘Dia’ dalam Ro 10:11 itu pasti menunjuk kepada Yesus!
c. Kontext setelah Ro 10:13 itu juga berbicara tentang Yesus.
Ro 10:14-15 - “(14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya? (15) Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!’”.
Jadi, terlihat bahwa penterjemahan ‘Yehuwa’ dalam Ro 10:13 itu betul-betul bertentangan dengan seluruh kontext dari Ro 10:9-15, yang seluruhnya berbicara tentang ‘Yesus’.
2. Kis 2:21-23 - “(21) Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan (TDB: ‘Yehuwa’) akan diselamatkan. (22) Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. (23) Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.”.
Kis 2:21 jelas merupakan kutipan dari Yoel 2:32 itu, dan dari Kis 2:22-dst terlihat bahwa kata ‘Tuhan’ itu diterapkan kepada Yesus. Saya betul-betul tidak mengerti, bagaimana dengan adanya kata-kata ‘Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret’ dalam Kis 2:22 itu, Saksi-Saksi Yehuwa masih bisa menterjemahkan kata ‘Tuhan’ dalam Kis 2:21 itu menjadi ‘Yehuwa’.
Jadi kata ‘TUHAN’ dalam Yoel 2:32 (yang menunjuk kepada Yahweh), dalam Ro 10:13 dan Kis 2:21 diarahkan kepada Yesus. Ini jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Yahweh!
g) Zakh 12:1,10 - “(1) Ucapan ilahi. Firman TUHAN tentang Israel: Demikianlah firman TUHAN yang membentangkan langit dan yang meletakkan dasar bumi dan yang menciptakan roh dalam diri manusia: ... (10) ‘Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia1 yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia2 seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung.”.
1. Kata ‘dia’ yang pertama.
Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, dan RSV sama salahnya dengan Kitab Suci Indonesia. Kata ‘dia’ yang pertama dalam Zakh 12:10 itu seharusnya adalah ‘Aku’. Bandingkan dengan terjemahan-terjemahan lain di bawah ini (saya hanya mengambil kedua kata ‘dia’ itu).
KJV/NIV/NASB/ASV/NKJV: ‘me ... him’ [= Aku ... dia].
RSV: ‘him ... him’ [= dia ... dia].
NWT: “they will certainly look to the One whom they pierced through, and they will certainly wail over Him” [= mereka pasti akan memandang kepada Orang yang mereka tikam, dan mereka pasti akan meratapi Dia].
Kata Ibrani yang digunakan di sini adalah אֵלַ֖י (ELAY), yang artinya ‘kepadaku’.
Pulpit Commentary (tentang Zakh 12:10): “‘Me’ has been altered in some manuscripts into ‘him:’ but this is an evident gloss received into the text for controversial purposes, or to obviate the supposed impropriety of representing Jehovah as slain by the impious.” [= ‘Aku / Ku’ telah diubah dalam sebagian manuscripts menjadi ‘dia’: tetapi ini merupakan suatu kesalahan yang menipu yang diterima ke dalam text untuk tujuan kontroversi / perdebatan, atau untuk mencegah gambaran yang dianggap tidak sesuai dari Yehovah yang dibunuh oleh orang-orang jahat.] - hal 136.
Jamieson, Fausset & Brown mengatakan bahwa perubahan itu dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Mereka mengubah ‘to me / kepadaku’ menjadi ‘to him / kepadanya’.
Sekarang, kalau kata ‘dia’ yang pertama sebetulnya adalah ‘Aku’, maka kata ‘Aku’ ini jelas menunjuk kepada YAHWEH, karena mulai Zakh 12:1 yang berbicara adalah YAHWEH. Jadi, Zakh 12:10 ini menunjukkan bahwa dengan dosa-dosanya Yehuda telah ‘menikam’ YAHWEH.
Sekarang bandingkan dengan Yoh 19:37 - “Dan ada pula nas yang mengatakan: ‘Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.’”.
KJV/RSV/NASB: ‘him’ [= Dia].
NIV/NWT: ‘the one’ [= orang / dia].
Sebetulnya dalam Yoh 19:37 ini tidak ada kata ‘Dia’. Terjemahan hurufiahnya adalah: ‘They will look at whom they pierced’ [= Mereka akan memandang kepada yang mereka tikam].
Kata Yunani yang diterjemahkan ‘whom’ [= yang] adalah ὃν (HON), suatu relative pronoun [= kata ganti penghubung] yang berjenis kelamin laki-laki, dan karena itu KJV/RSV/NASB menterjemahkan ‘him’ [= Dia].
Jelas bahwa Yoh 19:37 ini mengutip dari Zakh 12:10, tetapi kalau kata-kata dalam Zakh 12:10 itu diterapkan kepada YAHWEH, maka Yohanes mengutipnya dan menerapkannya kepada Yesus, yang baru saja ditikam dengan tombak. Ini membuktikan bahwa Yesus adalah YAHWEH.
Pulpit Commentary (tentang Zakh 12:10): “The Speaker is Jehovah. ... We may say generally that the clause intimates that the people, who had grieved and offended God by their sins and ingratitude, ... But there was a literal fulfilment of this piercing, i.e. slaying ..., when the Jews crucified the Messiah, him who was God and Man,” [= Si Pembicara adalah Yehovah. ... Kita boleh mengatakan secara umum bahwa anak kalimat itu menunjukkan bahwa bangsa itu, yang telah menyedihkan dan menyakiti hati Allah oleh dosa-dosa dan rasa tidak tahu berterima kasih mereka, ... Tetapi ada penggenapan hurufiah dari penikaman ini, yaitu pembunuhan ..., pada waktu orang-orang Yahudi menyalibkan Mesias, Ia yang adalah Allah dan Manusia,] - hal 136.
Calvin (tentang Zakh 12:10): “John says that this prophecy was fulfilled in Christ, when his side was pierced by a spear, (John 19:37;) and this is most true: for it was necessary that the visible symbol should be exhibited in the person of Christ, in order that the Jews might know that he was the God who had spoken by the Prophets; ... The Jews then had crucified their God when they grieved his Spirit; but Christ also was as to his flesh pierced by them. And this is what John means - that God by that visible symbol made it evident, that he had not only been formerly provoked in a disgraceful manner by the Jews, but that at length in the person of his only begotten Son this great sin was added to their disgraceful impiety, that they pierced even the side of Christ. It is indeed true, that the side of Christ was pierced by a Roman soldier, but, as Peter says, he was crucified by the Jews, for they were the authors of his death, and Pilate was almost forced by them to condemn him. (Acts 2:38.) So then the piercing of his side is justly to be ascribed to the Jews, for they executed what their mad impiety suggested by the hand of a foreign soldier. But it must be observed, that the words of the Prophet are not cited by John with reference to repentance, for he does not speak there of repentance; but his object was briefly to show, that Christ is that God who had from the beginning spoken by the Prophets; for he says, ‘They shall look to me.’ It is certain that the only true God, the creator of heaven and earth, declared this through his Spirit by the mouth of Zechariah. Then Christ is that same God. We do not, however, thus confound the persons; but we are to conclude that the essence of the Father and of the Son is simple and the same, which those wicked men, who now disturb the Church, attempt to deny.” [= Yohanes mengatakan bahwa nubuat ini digenapi dalam Kristus, pada waktu sisi / rusukNya ditikam dengan sebuah tombak (Yoh 19:37), dan ini sangat tepat: karena merupakan suatu keharusan bahwa simbol yang bisa dilihat ini harus ditunjukkan dalam diri Kristus, supaya orang-orang Yahudi bisa mengetahui bahwa Ia adalah Allah yang telah berbicara melalui nabi-nabi; ... Orang-orang Yahudi pada saat itu telah menyalibkan Allah mereka pada waktu mereka mendukakan RohNya; tetapi Kristus, berkenaan dengan dagingNya, juga ditikam oleh mereka. Dan ini adalah apa yang dimaksudkan oleh Yohanes - bahwa Allah oleh simbol yang bisa dilihat itu, membuatnya jelas bahwa Ia bukan hanya dahulu pernah dibuat menjadi marah dengan cara yang memalukan oleh orang-orang Yahudi, tetapi akhirnya dalam pribadi dari Anak TunggalNya dosa yang besar ini ditambahkan kepada kejahatan mereka yang memalukan, bahwa mereka bahkan menikam sisi / rusuk dari Kristus. Memang benar, bahwa sisi / rusuk Kristus ditikam oleh seorang tentara Romawi, tetapi seperti yang dikatakan oleh Petrus, Ia disalibkan oleh orang-orang Yahudi, karena mereka adalah dalang dari kematianNya, dan Pilatus hampir-hampir dipaksa oleh mereka untuk menghukum Dia (Kis 2:38). Jadi penikaman sisi / rusukNya dengan benar dianggap berasal dari orang-orang Yahudi, karena mereka melaksanakan apa yang diusulkan oleh kejahatan mereka yang gila melalui tangan dari seorang tentara asing. Tetapi harus diperhatikan bahwa kata-kata dari sang Nabi tidak dikutip oleh Yohanes berkenaan dengan pertobatan, karena di sana ia tidak berbicara tentang pertobatan; tetapi tujuannya adalah menunjukkan secara singkat bahwa Kristus adalah Allah yang dari semula telah berbicara melalui nabi-nabi; karena ia berkata ‘mereka akan memandang kepadaKu’. Adalah pasti bahwa satu-satunya Allah yang benar, Pencipta dari langit dan bumi, menyatakan ini melalui RohNya oleh mulut dari Zakharia. Jadi Kristus adalah Allah yang sama. Tetapi kami tidak mencampur-adukkan pribadi-pribadi; tetapi kami harus menyimpulkan bahwa hakekat dari Bapa dan dari Anak adalah tunggal dan sama, yang diusahakan untuk disangkal oleh orang-orang jahat itu, yang sekarang mengganggu Gereja.] - hal 364-365.
Catatan: Kis 2:38 itu pasti salah, dan seharusnya adalah Kis 2:36 - “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.’”.
Dalam ayat ini Petrus berbicara kepada orang-orang Yahudi, dan mengatakan ‘Yesus, yang kamu salibkan’.
Calvin: “Was God the Father pierced? By no means; for he had not put on flesh in which he could have suffered; but this was done by his only begotten Son. Why then does the Father say, ‘They shall look to me?’ the answer given is, because of the unity of the essence.” [= Apakah Allah Bapa ditikam? Tidak mungkin; karena Ia tidak mengenakan daging dalam mana Ia bisa menderita; tetapi ini dilakukan oleh Anak satu-satuNya yang diperanakkan. Lalu, mengapa Bapa berkata: ‘Mereka akan memandang kepadaKu?’ jawaban yang diberikan adalah, karena kesatuan hakekat.] - hal 366-367.
2. Sekarang tentang kata ‘dia’ yang kedua.
Kata ‘dia’ yang kedua ini terjemahannya memang betul.
Pulpit Commentary (tentang Zakh 12:10): “‘They shall mourn for him.’ There is a change of persons here. Jehovah speaks of the Messiah as distinct in Person from himself.” [= ‘Mereka akan berdukacita untuknya’. Ada perubahan orang di sini. Yehovah berbicara tentang Mesias sebagai pribadi yang berbeda dari diriNya sendiri.] - hal 136.
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Zakh 12:10): “‘They shall look upon me ... and they shall mourn for him.’ The change of person is due to Yahweh-Messiah speaking in His own person first, then the prophet speaking of Him.” [= ‘Mereka akan memandang kepadaKu ... dan mereka akan berkabung untukNya.’ Perubahan orang terjadi karena Yahweh-Mesias berbicara dalam pribadiNya sendiri terlebih dahulu, kemudian sang nabi berbicara tentangNya.].
Tentang ini Calvin memberikan adanya 2 kemungkinan penafsiran:
Calvin: “There is here a transition from the first to the third person; for though Christ is the same with the Father, yet different as to his person.” [= Di sini ada perubahan dari orang pertama menjadi orang ketiga; karena sekalipun Kristus adalah sama dengan Bapa, tetapi berbeda berkenaan dengan pribadiNya.] - hal 367.
Calvin: “the Hebrew mode of speaking seems to countenance the other opinion - that the Prophet introduces God as the speaker, and then narrates himself, as God’s minister, what would take place.” [= cara berbicara orang Ibrani kelihatannya menyetujui pandangan yang lain - bahwa sang Nabi memperkenalkan Allah sebagai pembicara, dan lalu menceritakan sendiri, sebagai pelayan Allah, apa yang akan terjadi.] - hal 367.
Calvin sendiri mengambil pandangan yang kedua ini, sama dengan pandangan dari Jamieson, Fausset & Brown.
Tanggapan Saksi Yehuwa:
Sekarang perhatikan bagaimana cara Saksi-Saksi Yehuwa menjelaskan ayat-ayat yang menunjuk kepada YAHWEH / bernubuat tentang YAHWEH, tetapi yang lalu digenapi dalam diri Yesus Kristus ini.
Saksi-Saksi Yehuwa: “Penulis-penulis Alkitab yang terilham menerapkan ayat-ayat dari Alkitab Ibrani yang jelas berlaku untuk Yehuwa, kepada Yesus Kristus. Mengapa Yesaya 40:3 dikutip dalam Yohanes 1:23 dan diterapkan pada apa yang dikerjakan Yohanes Pembaptis dalam menyiapkan jalan bagi Yesus Kristus, sedangkan Yesaya 40:3 jelas membahas tentang persiapan jalan di hadapan Yehuwa? Karena Yesus mewakili Bapanya. Ia datang atas nama Bapanya dan mempunyai jaminan bahwa Bapanya selalu menyertai dia karena ia melakukan hal-hal yang menyenangkan Bapanya. - Yoh. 5:43; 8:29. Mengapa Mazmur 102:25-27 dikutip dalam Ibrani 1:10-12 dan diterapkan kepada Anak, sedangkan mazmur mengatakan bahwa itu ditujukan kepada Allah? Karena melalui Anak, Allah menghasilkan karya-karya ciptaanNya yang digambarkan oleh penulis mazmur. (Lihat Kolose 1:15,16; Amsal 8:22,27-30.) Perlu diperhatikan bahwa dalam Ibrani 1:5b ada sebuah kutipan dari 2Samuel 7:14 dan diterapkan pada Anak Allah. Meskipun ayat itu mula-mula diterapkan pada Salomo, penerapan berikutnya kepada Yesus Kristus tidak berarti bahwa Salomo sama dengan Yesus. Yesus ‘lebih dari pada Salomo’ dan melaksanakan pekerjaan yang digambarkan oleh Salomo.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 402.
Saksi-Saksi Yehuwa: “Jika sebutan tertentu atau ungkapan yang bersifat menggambarkan ditemukan di lebih dari satu tempat dalam Alkitab, jangan kita tergesa-gesa menyimpulkan bahwa itu harus selalu ditujukan pada orang yang sama. Pemikiran sedemikian akan membawa kita kepada kesimpulan bahwa Nebukadnezar adalah Yesus Kristus, karena keduanya disebut ‘raja segala raja’ (Dan. 2:37; Why. 17:14); dan bahwa murid-murid Yesus sebenarnya ialah Yesus Kristus, karena keduanya disebut ‘terang dunia.’ (Mat. 5:14; Yoh. 8:12) Kita harus selalu mempertimbangkan ikatan kalimat dan kejadian-kejadian lain dalam Alkitab di mana ungkapan yang sama muncul.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 401-402.
Tanggapan saya:
1. Di sini terlihat ‘mbuletnya’ Saksi-Saksi Yehuwa. Kalau untuk Yesus diberikan gelar ilahi seperti misalnya ‘Allah yang perkasa’ (Yes 9:5), maka mereka menuntut adanya sebutan yang persis seperti sebutan bagi Bapa / Yehuwa, yaitu EL SHADDAY.
Tetapi kalau ada sebutan yang sama yang digunakan baik untuk Bapa maupun untuk Yesus, mereka mengatakan bahwa pada saat ada 2 orang disebut dengan sebutan yang sama, itu tidak menunjukkan bahwa mereka identik / sama.
Tetapi bagaimanapun juga argumentasi mereka di sini ada logikanya, dan mungkin bisa dibenarkan dalam hal-hal lain, tetapi tidak dalam hal ini.
2. Pada waktu ada 2 orang / pribadi diberi sebutan / gelar yang sama, harus diteliti apakah sebutan / gelar itu diberikan dalam arti yang sama atau tidak. Kalau suatu gelar / sebutan / ungkapan diterapkan kepada 2 orang dalam arti berbeda, maka pasti akan ada hal-hal yang menunjukkan bahwa gelar / sebutan / ungkapan itu memang digunakan dalam arti yang berbeda.
Sekarang mari kita perhatikan contoh-contoh yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa:
a. Nebukadnezar dan Yesus disebut dengan sebutan yang sama yaitu ‘raja segala raja’. Tetapi jelas bahwa sebutan itu tidak digunakan dalam arti yang sama, karena:
(1) Nebukadnezar adalah raja duniawi, sedangkan Kristus adalah raja secara rohani (Yoh 18:36-37).
Yoh 18:36-37 - “(36) Jawab Yesus: ‘KerajaanKu bukan dari dunia ini; jika KerajaanKu dari dunia ini, pasti hamba-hambaKu telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi KerajaanKu bukan dari sini.’ (37) Maka kata Pilatus kepadaNya: ‘Jadi Engkau adalah raja?’ Jawab Yesus: ‘Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu.’”.
(2) Kerajaan Nebukadnezar, sekalipun besar, tetapi hanya sebagian dari dunia ini, sedangkan kerajaan Kristus mencakup segala sesuatu.
(3) Kerajaan Nebukadnezar akhirnya hancur, tetapi Kerajaan Kristus kekal selama-lamanya (Daniel 2:36-45).
Dan 2:36-45 - “(36) Itulah mimpi tuanku, dan sekarang maknanya akan kami katakan kepada tuanku raja: (37) Ya tuanku raja, raja segala raja, yang kepadanya oleh Allah semesta langit telah diberikan kerajaan, kekuasaan, kekuatan dan kemuliaan, (38) dan yang ke dalam tangannya telah diserahkanNya anak-anak manusia, di manapun mereka berada, binatang-binatang di padang dan burung-burung di udara, dan yang dibuatNya menjadi kuasa atas semuanya itu - tuankulah kepala yang dari emas itu. (39) Tetapi sesudah tuanku akan muncul suatu kerajaan lain, yang kurang besar dari kerajaan tuanku; kemudian suatu kerajaan lagi, yakni yang ketiga, dari tembaga, yang akan berkuasa atas seluruh bumi. (40) Sesudah itu akan ada suatu kerajaan yang keempat, yang keras seperti besi, tepat seperti besi yang meremukkan dan menghancurkan segala sesuatu; dan seperti besi yang menghancurluluhkan, maka kerajaan ini akan meremukkan dan menghancurluluhkan semuanya. (41) Dan seperti tuanku lihat kaki dan jari-jarinya sebagian dari tanah liat tukang periuk dan sebagian lagi dari besi, itu berarti, bahwa kerajaan itu terbagi; memang kerajaan itu juga keras seperti besi, sesuai dengan yang tuanku lihat besi itu bercampur dengan tanah liat. (42) Tetapi sebagaimana jari-jari kaki itu sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat, demikianlah kerajaan itu akan menjadi keras sebagian dan rapuh sebagian. (43) Seperti tuanku lihat besi bercampur dengan tanah liat, itu berarti: mereka akan bercampur oleh perkawinan, tetapi tidak akan merupakan satu kesatuan, seperti besi tidak dapat bercampur dengan tanah liat. (44) Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya, (45) tepat seperti yang tuanku lihat, bahwa tanpa perbuatan tangan manusia sebuah batu terungkit lepas dari gunung dan meremukkan besi, tembaga, tanah liat, perak dan emas itu. Allah yang maha besar telah memberitahukan kepada tuanku raja apa yang akan terjadi di kemudian hari; mimpi itu adalah benar dan maknanya dapat dipercayai.’”.
(4) Pada waktu gelar itu diberikan kepada Allah / Yesus selalu disertai dengan gelar ‘Tuhan di atas segala tuan / tuhan’ / ‘Lord of lords’ (lihat kutipan di bawah); sedangkan kalau gelar itu diberikan kepada Nebukadnezar tidak ada tambahan seperti itu.
Dan International Standard Bible Encyclopedia mengatakan bahwa penggunaan gelar seperti ini untuk Yesus / Allah dalam Perjanjian Baru, justru merupakan tanggapan terhadap praktek pendewaan terhadap raja-raja duniawi.
The International Standard Bible Encyclopedia, vol II: “The title ‘King of kings,’ denoting absolute authority rather than divinity per se, is used of God and Christ in the NT (always with ‘Lord of lords’: 1Tim. 6:15; Rev. 17:14; 19:16). Its use was a response by both Jews and Christians to the practice of deifying earthly political rulers” [= Gelar ‘Raja segala raja’ lebih menunjukkan otoritas mutlak dari pada keilahian sendiri, digunakan terhadap Allah dan Kristus dalam PB (selalu dengan ‘Tuhan segala Tuhan’: 1Tim 6:15; Wah 17:14; 19:16). Penggunaannya merupakan suatu tanggapan baik oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen terhadap praktek pendewaan penguasa-penguasa politik duniawi] - hal 508.
1Tim 6:15 - “yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.”.
Wah 17:14 - “Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.’”.
Wah 19:16 - “Dan pada jubahNya dan pahaNya tertulis suatu nama, yaitu: ‘Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.’”.
b. Yesus maupun orang percaya disebut dengan istilah ‘terang dunia’ (Yoh 8:12 Yoh 9:5 Mat 5:14).
Jelas bahwa sebutan itu digunakan dalam arti yang berbeda, karena dalam bagian lain Kristus disebut sebagai ‘terang yang sesungguhnya’ (Yoh 1:9), sedangkan orang percaya disebut sebagai ‘terang di dalam Tuhan’ (Ef 5:8), atau dengan kata lain, orang percaya menjadi terang karena memantulkan terang dari Kristus.
Yoh 8:12 - “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kataNya: ‘Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.’”.
Yoh 9:5 - “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.’”.
Mat 5:14 - “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”.
Yoh 1:9 - “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”.
Ef 5:8 - “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,”.
c. Sebagai tambahan, kalau Kristus maupun orang percaya disebut ‘Anak / anak Allah’, maka sebutan itu pasti digunakan juga dalam arti yang berbeda, karena:
(1) Kristus berulang-ulang disebut sebagai ‘Anak Tunggal Allah’.
(2) Kristus mengatakan ‘BapaKu dan Bapamu’ (Yoh 20:17), yang jelas membedakan hubunganNya dengan Bapa dan kita dengan Bapa.
Yoh 20:17 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu.’”.
(3) Yesus adalah Anak Allah karena diperanakkan secara kekal oleh Allah / Bapa (lihat tentang doktrin ‘The Eternal Generation of the Son’), sedangkan kita menjadi anak Allah karena pengadopsian.
Gal 4:5 - “Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.”.
KJV: ‘that we might receive the adoption of sons’ [= supaya kita menerima pengangkatan / pengadopsian sebagai anak].
Tetapi, pada waktu Yesus diberi sebutan / gelar / ungkapan yang sama dengan yang digunakan terhadap Bapa, seperti misalnya sebutan / gelar ‘Tuhan’, ‘Allah’, ‘Allah yang perkasa’, ‘Alfa dan Omega’, ‘Yang Pertama dan Yang Terakhir’, ‘mahakuasa’, dan sebagainya, tidak ada apapun yang menunjukkan bahwa gelar-gelar / sebutan-sebutan itu digunakan dalam arti yang berbeda.
3. Sekedar adanya sebutan / gelar yang sama yang digunakan terhadap 2 orang / pribadi, tidak bisa disamakan dengan fakta bahwa:
a. Nama Allah (YAHWEH) ternyata diberikan kepada Yesus (Yer 23:5-6). Mengapa? Karena ‘YAHWEH’ bukan sekedar suatu gelar / sebutan, tetapi betul-betul suatu nama (a proper name), yang tidak bisa diberikan kepada makhluk lain.
b. Begitu banyak nubuat tentang YAHWEH / Allah yang digenapi dalam diri Yesus.
Sangat tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa nubuat-nubuat itu digenapi dalam Yesus, karena Yesus adalah wakil dari Allah. Saya tidak pernah tahu bahwa dalam Kitab Suci ada nubuat tentang seseorang yang lalu digenapi oleh wakilnya, yang adalah pribadi yang berbeda dan terpisah total dari orang yang diwakilinya! Kalau nubuat itu tentang YAHWEH, maka harus digenapi dalam diri YAHWEH. Kalau tidak, maka itu berarti bahwa nubuat itu gagal / tidak digenapi. Jadi, pada waktu nubuat itu digenapi dalam diri Yesus, maka kita harus memilih salah satu dari dua hal ini:
(1) Nubuat itu gagal / tidak digenapi.
(2) Yesus adalah YAHWEH.
Saya memilih yang kedua.
4. Salomo adalah TYPE dari Yesus.
Tentang ayat Kitab Suci yang diterapkan kepada Salomo, dan sesudah itu juga diterapkan kepada Yesus, mari kita melihat ayatnya lebih dulu.
2Sam 7:12-16 - “(12) Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. (13) Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. (14) Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. (15) Tetapi kasih setiaKu tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. (16) Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.’”.
Ibr 1:5 - “Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?’ dan ‘Aku akan menjadi BapaNya, dan Ia akan menjadi AnakKu?’”.
Mengapa bisa ada ayat yang berlaku untuk Salomo, yang lalu digenapi dalam diri Yesus? Karena Salomo adalah Type / bayangan dari Kristus (sama seperti domba korban, domba Paskah, imam adalah type-type dari Kristus).
Ayat seperti ini sebetulnya tidak ditujukan kepada Salomo secara pribadi, tetapi kepada Salomo sebagai Type dari Kristus (Pulpit Commentary tentang 2Sam 7:14, hal 185). Karena itu, 2Sam 7:13b,16 (yang saya beri garis bawah ganda), yang berbicara tentang kerajaan yang kokoh untuk selama-lamanya, tidak tergenapi dalam diri Salomo. Kenyataan menunjukkan bahwa Kerajaan Daud / Salomo akhirnya hancur. Ayat ini hanya digenapi secara sempurna dalam diri Yesus (Calvin, ‘Sermons on 2Samuel’, hal 324-325).
Calvin: “The temporal kingdom, therefore, which involved the house of David, was only a type, so that the substance and ultimate reality of what is contained in this prophecy cannot be found in it.” [= Karena itu, kerajaan yang sementara itu, yang mencakup keluarga Daud, hanya merupakan suatu TYPE, sehingga inti dan kenyataan akhir / pokok dari apa yang ada dalam nubuat ini tidak bisa didapatkan di dalamnya.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 325.
Catatan: Calvin berkata bahwa hal yang sama terjadi dengan nubuat tentang Yehuda dalam Kej 49:10 - “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.”.
Karena itu, Yesaya menggambarkan bahwa Isai (ayah Daud) seperti tunggul dari pohon yang roboh, yang lalu bertunas, dan tunas itu adalah Yesus!
Yes 11:1 - “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.”.
Calvin: “In sum, when God promised to raise up seed to David, we clearly see that he did not have in mind Solomon alone, nor those who are descended from his race, but above all he had in mind our Lord Jesus Christ. If one asks, however, if this was not understood of Solomon, we have already responded ‘yes, in part’, as the First Book of Chronicles, chapter 22 sufficiently explains.” [= Singkatnya, pada waktu Allah berjanji untuk membangkitkan benih bagi Daud, kita melihat dengan jelas bahwa Ia tidak memikirkan Salomo saja, juga tidak mereka yang diturunkan dari dia, tetapi di atas semua Ia memikirkan Tuhan kita Yesus Kristus. Tetapi jika seseorang bertanya, jika ini tidak dimengerti tentang Salomo, kami telah menjawab ‘Ya, sebagian’, seperti 1Taw 22 menjelaskan secara cukup.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 326.
Tetapi mungkin ada keberatan untuk mengatakan bahwa nubuat ini menunjuk kepada Yesus, mengingat 2Sam 7:14b - “Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.” - tidak mungkin diterapkan kepada Yesus. Calvin mengatakan bahwa bagian ini menunjuk kepada orang-orang percaya yang adalah anggota-anggota tubuh Kristus.
Calvin: “since this does not refer to the person of our Lord Jesus Christ, it must refer to us who are members of him; and it is spoken in common of him and of us, because it pleases him for us to be his body.” [= karena ini tidak menunjuk kepada diri dari Tuhan kita Yesus Kristus, ini harus menunjuk kepada kita yang adalah anggota-anggotaNya; dan ini dikatakan bersama-sama tentang dia dan tentang kita, karena merupakan sesuatu yang menyenangkan Dia bahwa kita adalah tubuhNya.] - ‘Sermons on 2Samuel’, hal 333.
Jadi, karena Salomo adalah TYPE dari Yesus, maka contoh tentang Salomo ini tentu berbeda dengan ayat yang bernubuat tentang YAHWEH dan ternyata digenapi dalam Yesus saja (tidak ada penggenapan yang lain).
Jadi dari dua pelajaran terakhir, kita bisa melihat bahwa Yesus adalah YAHWEH sendiri, dan itu berarti bahwa Yesus adalah Allah dalam arti kata yang setinggi-tingginya, setara dengan Bapa dan Roh Kudus.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali