(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 31 Desember 2023, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
bukti-bukti bahwa
yesus adalah allah(10)
II) Kitab Suci memberikan nama-nama ilahi untuk Yesus.
1) Mat 1:23 menyatakan Yesus sebagai ‘Imanuel’.
Mat 1:23 - “‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ - yang berarti: Allah menyertai kita.”.
Kata ‘Imanuel’, arti sebetulnya adalah ‘God with us’ [= Allah dengan kita].
Saksi-Saksi Yehuwa mengomentari tentang nama Imanuel yang diberikan kepada Yesus (Mat 1:23), dengan berkata: “Ketika mengumumkan kelahiran Yesus yang akan datang, apakah malaikat Yehuwa mengatakan bahwa anak itu kelak adalah Allah sendiri? Tidak, pengumumannya berbunyi: ‘Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi.’ (Luk 1:32,35; cetak miring ditambahkan.) Dan Yesus sendiri tidak pernah mengaku sebagai Allah tetapi, sebaliknya, ‘Anak Allah.’ (Yoh 10:36; cetak miring ditambahkan.) Yesus diutus ke dunia oleh Allah; jadi melalui Putra tunggal ini, Allah ada bersama umat manusia.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 432.
Jawaban saya:
a) Tentang Yesus yang disebut Anak Allah.
Yesus memang tidak pernah menyatakan diri sebagai ‘Allah’; Ia selalu menyatakan diri sebagai ‘Anak Allah’. Tetapi perlu dipertanyakan kepada Saksi-Saksi Yehuwa pertanyaan ini: apakah kita harus membentuk pemikiran / kepercayaan / ajaran tentang Yesus hanya berdasarkan kata-kata Yesus sendiri saja, atau juga dari bagian-bagian Kitab Suci yang lain? Yang dianggap sebagai Firman Tuhan itu hanya kata-kata Yesus sendiri saja, atau juga bagian-bagian lain dari Kitab Suci? Sekalipun Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diri sebagai ‘Allah’, tetapi banyak ayat-ayat Kitab Suci yang menyatakan demikian, seperti Yes 9:5 Yoh 1:1 Yoh 1:18 Yoh 20:28 Kis 20:28 Ro 9:5 Tit 2:13 Ibr 1:8 2Pet 1:1 1Yoh 5:20 Wah 1:8 dsb.
b) Ingat bahwa suatu istilah dalam Kitab Suci harus diartikan sesuai dengan pengertian penulisnya / orang jaman itu tentang istilah tersebut, bukan dengan pengertian orang jaman sekarang tentang istilah tersebut.
Tentang istilah ‘Anak Allah’ yang digunakan oleh Yesus terhadap diriNya sendiri ini, banyak orang menyalah-artikan istilah ini, dengan mengatakan bahwa istilah ‘Anak Allah’ menunjukkan bahwa dulu hanya ada Allah saja, yang lalu beranak, dsb. Karena itu jelas bahwa Yesus tidak setua / sekekal BapaNya. Tetapi ini adalah penafsiran yang menggunakan pengertian orang jaman sekarang tentang istilah ‘Anak Allah’ itu. Padahal istilah itu digunakan sekitar 2000 tahun yang lalu di Palestina, dan karena itu harus diartikan menurut pengertian orang-orang di sana pada jaman itu.
Lalu bagaimana pengertian orang-orang di sana pada jaman itu tentang istilah ‘Anak Allah’?
Tentang istilah / gelar ‘Anak Allah’ bagi Yesus, W. E. Vine memberikan komentar sebagai berikut: “absolute Godhead, not Godhead in a secondary or derived sense, is intended in the title.” [= keAllahan yang mutlak, bukan keAllahan dalam arti sekunder atau yang didapatkan, yang dimaksudkan dalam gelar tersebut.] - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’, hal 1061.
Tetapi, apa dasarnya pandangan seperti ini?
1. Kita bisa mendapatkan jawabannya dengan membandingkan istilah ‘Anak Allah’ dengan istilah ‘Anak Manusia’, yang sama-sama merupakan gelar / sebutan yang sangat sering digunakan oleh Yesus untuk diriNya sendiri. Kalau istilah ‘Anak Manusia’ diartikan bahwa Yesus ‘betul-betul manusia’, maka istilah ‘Anak Allah’ harus diartikan bahwa Yesus ‘betul-betul Allah’.
2. Mat 14:33 - “Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: ‘Sesungguhnya Engkau Anak Allah.’”.
Pikirkan ayat ini! Mereka menganggap Yesus betul-betul adalah Anak Allah, dan karena itu mereka lalu menyembah Dia. Kalau mereka menganggap bahwa ‘Anak Allah’ itu ‘bukan Allah’, atau ‘lebih rendah dari Allah’, maka mungkinkah mereka, yang adalah orang-orang Yahudi (bangsa monotheist, yang hanya menyembah Allah saja), lalu menyembah Dia? Dari ayat ini jelas bahwa mereka menganggap istilah ‘Anak Allah’ berarti ‘Allah sendiri’.
3. Kita bisa mendapatkan jawabannya dengan melihat pada Yoh 10:33b dan Yoh 5:18b, dimana terlihat dengan jelas bahwa pada waktu Yesus menyebut diriNya sebagai ‘Anak Allah’, orang-orang Yahudi pada saat itu mengerti bahwa kata-kata itu berarti bahwa Yesus menganggap diri sehakekat dengan Allah, atau menyamakan diri dengan Allah, atau menganggap diri setara dengan Allah. Ini mereka anggap sebagai penghujatan terhadap Allah, dan karena itu mereka mau merajam Yesus.
Yoh 5:17-18 - “(17) Tetapi Ia berkata kepada mereka: ‘BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.’ (18) Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah.”.
NIV/NASB: ‘making himself equal with God’ [= membuat diriNya sendiri setara dengan Allah].
Catatan: kata Yunani yang diterjemahkan ‘menyamakan’ dalam Yoh 5:18 adalah kata yang sama dengan kata Yunani yang diterjemahkan ‘setara’ dalam Fil 2:6. Jadi artinya ‘menyetarakan’ / ‘menyederajatkan’, bukan betul-betul ‘mengidentikkan’.
Yoh 10:30-33 - “(30) Aku dan Bapa adalah satu.’ (31) Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. (32) Kata Yesus kepada mereka: ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari BapaKu yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?’ (33) Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.’”.
Catatan: kata-kata ‘menyamakan diriMu dengan Allah’ seharusnya adalah ‘membuat diriMu Allah’.
c) Perhatikan bagian yang saya garis bawahi dari kutipan dari Saksi-Saksi Yehuwa itu. Kalau Saksi-Saksi Yehuwa menganggap Yesus bukan Allah, bagaimana mereka bisa mengatakan bahwa “melalui Putra tunggal ini Allah ada bersama umat manusia”?
Kalau Yesus memang bukan Allah, dan merupakan pribadi yang sama sekali terpisah dari Allah, tidak peduli yang mengutus Yesus adalah Allah, tetap saja Allah tidak bisa dikatakan ada bersama umat manusia melalui Putra tunggalNya!
Kalau seseorang mempunyai seorang putra tunggal, dan orang itu mengutus putra tunggalnya pergi ke rumah saudara, apakah saudara menganggap bahwa orang itu sudah ada bersama saudara?
2) Yesus disebut sebagai ‘Tuhan’.
1Kor 8:4-6 - “(4) Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ‘tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.’ (5) Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’, baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak ‘allah’ dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - (6) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.”.
Saksi-Saksi Yehuwa menekankan bagian yang saya garis bawahi tersebut, dan menggunakannya sebagai dasar untuk mengatakan bahwa hanya Bapa yang betul-betul adalah Allah, dan Yesus bukan Allah.
a) Kalau dari kata-kata yang digaris-bawahi tersebut disimpulkan bahwa hanya Bapa yang adalah Allah, dan Yesus bukan Allah, maka konsekwensinya adalah: dari kata-kata dalam ay 6b (yang saya beri warna merah) - ‘dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus’, kita harus menyimpulkan bahwa hanya Yesus yang adalah Tuhan, dan Bapa bukan Tuhan! Tentu tidak ada orang yang waras yang mau menerima konsekwensi ini!
Bandingkan juga dengan 1Kor 12:4-6 - “(4) Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. (5) Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. (6) Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.”.
Kata-kata ‘satu Roh’ menunjuk kepada Roh Kudus, dan tentu ini tidak berarti bahwa Bapa dan Anak bukan Roh. Kata-kata ‘satu Tuhan’ menunjuk kepada Anak / Yesus, dan tentu ini tidak berarti bahwa Bapa dan Roh Kudus bukan Tuhan. Kata-kata ‘Allah adalah satu’ menunjuk kepada Bapa, dan tentu ini tidak berarti bahwa Anak / Yesus dan Roh Kudus bukan Allah.
Catatan: 3 x kata ‘satu’ dalam 1Kor 12:4-6 itu seharusnya adalah ‘sama’. Jadi ay 4nya berbicara tentang ‘Roh yang sama’, ay 5nya tentang ‘Tuhan yang sama’, dan ay 6nya tentang ‘Allah yang sama’. Cek dengan Bible Works 8.
b) Penafsiran yang benar tentang text ini adalah sebagai berikut:
1. Memang hanya ada satu Allah yaitu Bapa, tetapi karena Yesus (dan Roh Kudus) satu dengan Bapa, maka Yesus (dan Roh Kudus) juga adalah Allah.
2. Memang hanya ada satu Tuhan, yaitu Yesus, tetapi karena Bapa (dan Roh Kudus) satu dengan Yesus, maka Bapa (dan Roh Kudus) juga adalah Tuhan.
Sekalipun Kristen mempercayai bahwa Bapa adalah Allah / Tuhan, Yesus adalah Allah / Tuhan, dan Roh Kudus adalah Allah / Tuhan, tetapi Kristen tidak percaya adanya 3 Allah / Tuhan!
Bandingkan dengan Pengakuan Iman Athanasius, no 7-19, yang berbunyi sebagai berikut: “7. What the Father is, the same is the Son, and the Holy Ghost. 8. The Father is uncreated, the Son uncreated, the Holy Ghost uncreated. 9. The Father is immense, the Son immense, the Holy Ghost immense. 10. The Father is eternal, the Son eternal, the Holy Ghost eternal. 11. And yet there are not three eternals, but one eternal. 12. So there are not three (beings) uncreated, nor three immense, but one uncreated, and one immense. 13. In like manner the Father is omnipotent, the Son is omnipotent, the Holy Ghost is omnipotent. 14. And yet there are not three omnipotents, but one omnipotent. 15. Thus the Father is God, The Son is God, the Holy Ghost is God. 16. And yet there are not three Gods, but one God. 17. Thus The Father is Lord, the Son is Lord, the Holy Ghost is Lord. 18. And yet there are not three Lords, but one Lord. 19. Because as we are thus compelled by Christian verity to confess each person severally to be God and Lord; so we are prohibited by the Catholic religion from saying that there are three Gods or Lords.” [= 7. Apa adanya Bapa itu, demikian juga dengan Anak, dan juga Roh Kudus. 8. Bapa tidak diciptakan, Anak tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan. 9. Bapa itu maha besar, Anak itu maha besar, Roh Kudus itu maha besar. 10. Bapa itu kekal, Anak itu kekal, Roh Kudus itu kekal. 11. Tetapi tidak ada tiga yang kekal, tetapi satu yang kekal. 12. Demikian juga tidak ada tiga (makhluk) yang tidak dicipta, juga tidak tiga yang maha besar, tetapi satu yang tidak dicipta, dan satu yang maha besar. 13. Dengan cara yang sama Bapa adalah maha kuasa, Anak adalah maha kuasa, Roh Kudus adalah maha kuasa. 14. Tetapi tidak ada tiga yang maha kuasa, tetapi satu yang maha kuasa. 15. Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah. 16. Tetapi tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah. 17. Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan. 18. Tetapi tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan. 19. Karena sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara terpisah / individuil sebagai Allah dan Tuhan; demikian pula kami dilarang oleh agama Katolik / universal / am untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan.] - A. A. Hodge, ‘Outlines of Theology’, hal 117-118.
John Calvin: “Three are spoken of, each of which is entirely God, yet there is not more than one God.” [= Tiga yang dibicarakan, masing-masing adalah Allah sepenuhnya, tetapi tidak ada lebih dari satu Allah.] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, No 3.
c) Juga perhatikan bagian akhir dari ay 6 itu, yang mengatakan: ‘yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup’ (ay 6c). Ini jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Pencipta, dan karena itu Ia adalah Tuhan / Allah dalam arti yang setinggi-tingginya.
d) Ada banyak sekali ayat-ayat lain yang menyatakan Yesus sebagai Tuhan.
1. Kitab Kisah Rasul menekankan penginjilan, sehingga seharusnya menekankan Yesus sebagai Juruselamat. Tetapi ternyata hanya ada 2 x sebutan ‘Juruselamat’ untuk Yesus, yaitu dalam Kis 5:31 dan 13:23. Tetapi Yesus disebut ‘Tuhan’ sebanyak 92 x, disebut ‘Tuhan Yesus’ sebanyak 13 x, dan disebut ‘Tuhan Yesus Kristus’ sebanyak 6 x!
2. Kata Yunani KURIOS yang biasanya diterjemahkan ‘Tuhan’, memang bisa diterjemahkan ‘tuan’. Kitab Suci bahasa Inggris (KJV/RSV/NIV/NASB) kadang-kadang menterjemahkan ‘Sir’ (= Tuan), misalnya dalam Yoh 4:11, padahal kata itu ditujukan kepada Yesus. Mengapa diterjemahkan demikian? Karena kontextnya menunjukkan bahwa perempuan Samaria itu baru bertemu dengan Yesus dan sebelumnya tidak pernah mendengar ataupun mengenal Yesus. Jadi tidak mungkin ia tahu-tahu menyebut Yesus dengan sebutan ‘Tuhan’.
3. Tetapi ada banyak ayat yang menyatakan Yesus betul-betul sebagai ‘Tuhan’ dan tidak mungkin diterjemahkan ‘tuan’, seperti: Mat 7:21-22 12:8 25:37,44 Luk 2:11 5:8 6:46 Yoh 11:27 20:28 Kis 2:20,21,25,36 4:33 7:59,60 8:16 9:1,2,5,10,11,13,15,17,31 10:13,36 11:16,20,21,24 15:11,26 16:15,31 18:8,25 19:5,9,13,17 20:21,24,35 21:13 22:4,5,8,10,16 24:14 26:15 28:31 Ro 1:4,7 4:24 5:1,11,21 6:23 7:25 8:39 10:9,13 13:14 14:14 15:6,30 16:18,20,24 1Kor 1:2,3,7,8,9,10 2:8 4:4,5 5:5 6:11,14 9:1 11:23,26,27,29 12:3,5 15:31,57,58 16:23 2Kor 1:2,3,14 4:5,14 8:9 11:31 13:13 Gal 1:3,19 6:14,18 Ef 1:2,3,15,17 3:11 4:1,5 5:20 6:23,24 Fil 2:11,19 3:20 4:23 Kol 2:6 3:17 1Tes 1:1,3 2:15,19 3:11,13 4:1,2,15,16,17 5:2,9,23,28 2Tes 1:1,2,7,8,12 2:1,2,8,14,16 3:6,12,18 1Tim 1:2,12 6:3,14 2Tim 1:2,8,12,19 4:8 Filemon 3,5,25 Ibr 1:10 7:14 13:20 Yak 1:1 2:1 5:7 1Pet 1:3 3:15 2Pet 1:2,8,14,16,20 3:2,10,18 Yudas 21,25 Wah 1:8,10 14:13 22:20,21.
Sebagai contoh dari ayat-ayat di atas, saya memberikan beberapa ayat di sini:
a. Yoh 9:38 - “Katanya: ‘Aku percaya, Tuhan!’ Lalu ia sujud menyembahNya.”.
Di sini TDB menterjemahkan ‘Tuan’, dan ini betul-betul tidak masuk akal, karena kalau orang itu menganggap Yesus sebagai ‘Tuan’ dan bukan ‘Tuhan’, mengapa ia sujud menyembahNya?
b. Kis 7:59-60 - “(59) Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan (TDB: ‘Tuan’) Yesus, terimalah rohku.’ (60) Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan (TDB: ‘Yehuwa’), janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.”.
Ini betul-betul terjemahan yang seenaknya sendiri. Dalam satu doa, Stefanus menggunakan kata Yunani KURIE 2 x, tetapi TDB menterjemahkan secara berbeda. Yang pertama, karena menunjuk kepada Yesus, mereka terjemahkan ‘Tuan’, sedangkan yang kedua mereka terjemahkan ‘Yehuwa’. Ini berarti separuh doa ditujukan kepada Yesus dan separuh sisanya ditujukan kepada Bapa / Yehuwa. Tidakkah ini merupakan suatu lelucon?
Kata KURIE dalam Kis 7:59 itu tidak mungkin diterjemahkan ‘Tuan’, karena di sana Stefanus menggunakan sebutan tersebut pada saat berdoa kepada Yesus. Sebagai obyek doa, Yesus harus adalah ‘Tuhan’ dan bukan sekedar ‘Tuan’.
c. Kis 10:36 - “Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan (TDB: ‘Tuan’) dari semua orang.”.
d. Ibr 1:8,10 - “(8) Tetapi
tentang
(kepada) Anak
Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah,
tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat
kebenaran. ... (10) Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan
dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu.”.
Kata ‘Tuhan’ dalam Ibr 1:10 ini tidak mungkin diartikan sebagai ‘Tuan’, karena dalam Ibr 1:8nya Ia disebut ‘Allah’, yang mempunyai ‘takhta yang kekal’, dan dalam Ibr 1:10nya dikatakan bahwa Ia adalah pencipta langit dan bumi.
4. Sebutan ‘Tuhan’ bagi Yesus dikontraskan dengan ‘hamba’ / ’budak’.
Paulus bukan hanya menyebut Yesus dengan sebutan ‘Tuhan’, tetapi juga mengkontraskan sebutan tersebut dengan sebutan yang ia gunakan bagi dirinya sendiri, yaitu ‘hamba’.
Hal ini terlihat dalam banyak tempat, misalnya dalam Ro 1:1,4 - “(1) Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. ... (4) dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”.
B. B. Warfield: “‘Slave’ is the correlate of ‘Lord,’ and the relation must be taken at its height. When Paul calls himself the slave of Christ Jesus, he is calling Christ Jesus his Lord in the most complete sense which can be ascribed to that word” [= ‘Hamba’ adalah kata yang berhubungan dengan kata ‘Tuhan’, dan hubungan kedua kata itu harus diambil pada puncaknya. Pada waktu Paulus menyebut dirinya sendiri hamba Kristus Yesus, ia menyebut Kristus Yesus Tuhannya dalam arti yang paling lengkap yang bisa diberikan kepada kata itu] - ‘The Person and Work of Christ’, hal 74-75.
Catatan:
a. Ingat bahwa lawan kata dari ‘Tuhan’ adalah ‘hamba’, sedangkan lawan kata dari ‘Tuan’ adalah ‘pelayan’ / ‘pegawai’. Kalau kata ‘Tuhan’ untuk Yesus diganti dengan ‘Tuan’, maka Paulus seharusnya menyebut dirinya sebagai ‘pelayan’ / ‘pegawai’ dari Kristus Yesus, bukan sebagai ‘hamba’ dari Kristus Yesus.
b. Bukan hanya Paulus yang menyebut dirinya sendiri ‘hamba’ sebagai kontras dari sebutan ‘Tuhan’ terhadap Yesus, tetapi juga:
(1) Yakobus.
Bdk. Yak 1:1 - “Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.”.
(2) Petrus.
Bdk. 2Pet 1:1-2 - “(1) Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2) Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.”.
(3) Yudas.
Bdk. Yudas 1,4 - “(1) Dari Yudas, hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus, kepada mereka, yang terpanggil, yang dikasihi dalam Allah Bapa, dan yang dipelihara untuk Yesus Kristus. ... (4) Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus.”.
5. Ingat juga bahwa yang menyebut Yesus dengan sebutan ‘Tuhan’ adalah orang-orang Yahudi yang adalah bangsa monotheist, sehingga tidak mungkin begitu sering menyebut Yesus dengan sebutan ‘Tuhan’, seandainya Yesus bukan betul-betul Tuhan dalam arti yang setinggi-tingginya.
W. E. Vine: “The full significance of this association of Jesus with God under the one appellation, ‘Lord,’ is seen when it is remembered that these men belonged to the only monotheistic race in the world. To associate with the Creator one known to be a creature, however exalted, though possible to Pagan Philosophers, was quite impossible to a Jew.” [= Arti sepenuhnya dari persatuan Yesus dengan Allah di bawah satu sebutan ‘Tuhan’ ini, terlihat pada waktu diingat bahwa orang-orang ini termasuk dalam satu-satunya bangsa monotheist dalam dunia ini. Menyatukan / menggabungkan sang Pencipta dengan seseorang yang diketahui sebagai ciptaan, bagaimanapun ditinggikannya dia, sekalipun merupakan sesuatu yang memungkinkan bagi ahli-ahli filsafat kafir, adalah mustahil bagi seorang Yahudi.] - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’, hal 689.
Catatan: bangsa Yahudi memang adalah satu-satunya bangsa monotheist di dunia pada saat itu.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali