KEBAKTIAN online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 3 Desember 2023, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

bukti-bukti bahwa

yesus adalah allah(8a)

(Ibrani 1:8)(1)

 

10)            Ibr 1:8 - “Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran.”.

TDB: “Namun sehubungan dengan sang Putra, ‘Allah adalah takhtamu, kekal selama-lamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kelurusan hati.”.

 

Ada beberapa hal yang akan saya bahas di sini:

 

1.   Kata-kata ‘Ia berkata’ (yang saya beri garis bawah tunggal) tidak ada dalam TDB.

Sebetulnya memang kata-kata ‘Ia berkata’ itu tidak ada dalam Ibr 1:8, tetapi kata-kata itu ada dalam Ibr 1:7, dan jelas bahwa secara implicit kata-kata itu ada dalam Ibr 1:8.

 

Untuk jelasnya perhatikan Ibr 1:7-8 - “(7) Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: ‘Yang membuat malaikat-malaikatNya menjadi badai dan pelayan-pelayanNya menjadi nyala api.’ (8) Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran.”.

 

Kata-kata ‘Ia berkata’ yang pertama (dalam ay 7) memang ada, tetapi kata-kata ‘Ia berkata’ yang kedua (dalam ay 8) seharusnya tidak ada.

Tetapi jelas bahwa yang berbicara dalam ay 8 adalah Pribadi yang sama dengan yang berbicara dalam ay 7. Karena itu, kalau Kitab Suci Indonesia (dan juga Kitab-kitab Suci bahasa Inggris) menambahkan kata-kata itu, itu hanya dimaksudkan untuk memperjelas arti.

 

2.   Kata-kata tentang Anak’ (yang saya beri garis bawah ganda) bisa diterjemahkan kepada Anak’.

KJV: ‘But unto the Son he saith’ [= Tetapi kepada Anak Ia berkata].

 

Calvin (hal 44) juga menterjemahkan Ibr 1:8 seperti KJV dan demikian juga dengan John Owen (‘Hebrews: The Epistle of Warning’, hal 10).

 

Yunani: πρὸς       δὲ      τὸν       υἱόν

            PROS    DE   TON    HUION

               to        but     the       Son

           kepada  tetapi sang     Anak

 

Barclay M. Newman Jr., dalam kamus kecil berjudul ‘Greek-English Dictionary of the New Testament’, hal 152, mengatakan bahwa kata Yunani PROS adalah suatu kata depan, yang kalau diikuti dengan suatu kata benda dalam kasus akusatif, artinya antara lain adalah ‘to’ / ‘toward’ [= kepada]. Dan kata TON HUION [= sang Anak] memang merupakan kata benda dalam kasus akusatif.

 

Fritz Rieneker & Cleon Rogers, dalam buku mereka yang berjudul ‘Linguistic Key to the Greek New Testament’, hal 665, juga mengatakan hal yang sama. Hanya saja yang ia komentari adalah Ibr 1:7. Tetapi Ibr 1:7 mempunyai bentuk yang sama dengan Ibr 1:8, yaitu kata Yunani PROS yang diikuti oleh kata benda dalam kasus akusatif.

 

Pulpit Commentary: “The preposition here translated ‘unto’ is πρὸς, as in ver. 7, there translated ‘of.’ As is evident from its use in ver. 7, it does not imply of necessity that the persons spoken of are addressed in the quotations, though it is so in this second case.” [= Kata depan yang di sini diterjemahkan ‘kepada’ adalah πρὸς, seperti dalam ay 7, dimana di sana diterjemahkan ‘tentang’. Seperti nyata dari penggunaannya dalam ay 7, itu tidak menunjukkan suatu keharusan bahwa kutipan-kutipan itu ditujukan kepada pribadi-pribadi yang dibicarakan, sekalipun demikianlah halnya dalam kasus kedua (ay 8).] - hal 14.

 

Jadi, Pulpit Commentary mengatakan bahwa penterjemahan ‘kepada’ memang bukan merupakan suatu keharusan, karena dalam ay 7 ternyata kata itu diterjemahkan ‘tentang’. Tetapi ia berpendapat bahwa dalam ay 8, memang lebih tepat kalau diterjemahkan ‘kepada’.

 

Saya berpendapat bahwa terjemahan ‘kepada’ ini diharuskan oleh kontext / ayat itu sendiri, karena kata ‘TakhtaMu’ jelas ditujukan kepada Anak. Lebih-lebih kalau kita menganggap bahwa kata ‘Allah’ sebagai bentuk sapaan, dan menterjemahkannya ‘Ya Allah’.

 

Saksi-Saksi Yehuwa kelihatannya juga beranggapan demikian, dan ini terlihat dari kata-kata mereka sebagai berikut: “ayat berikutnya (Ibr 1:9) menggunakan ungkapan ‘Allah, AllahMu,’ menunjukkan bahwa yang sedang diajak bicara bukanlah Allah yang Mahatinggi melainkan seorang penyembah dari Allah itu.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 410.

 

Tetapi anehnya, dalam TDB mereka menterjemahkan: “Namun sehubungan dengan sang Putra, ...”.

 

3.   Kata-kata ‘takhtaMu, ya Allah’, diterjemahkan secara berbeda oleh NWT / TDB.

Kitab Suci Indonesia: ‘TakhtaMu, ya Allah’.

KJV/RSV/ASV/NASB: ‘Thy throne, O God’ [= TakhtaMu, Ya Allah].

NIV/NKJV: ‘Your throne, O God’ [= TakhtaMu, Ya Allah].

 

Karena kata-kata ini ditujukan kepada Anak / Yesus, maka terjemahan-terjemahan ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.

 

Sekarang bandingkan dengan terjemahan dari Saksi-Saksi Yehuwa.

NWT/TDB: “God is your throne” [= Allah adalah takhtamu].

Terjemahan ini tidak menyatakan / menunjukkan Yesus sebagai Allah.

 

Bagaimana mereka bisa menterjemahkan seperti itu? Sebetulnya mereka menterjemahkan seperti itu bukan tanpa alasan sama sekali. Untuk melihat hal itu mari kita melihat Ibr 1:8 itu dalam bahasa Yunaninya.

 

Yunani:       θρόνος            σου                 θεὸς

                  HO  THRONOS      SOU         HO  THEOS

            the     throne     of you / your   the     God

            kst     takhta            mu           sang   Allah

 

Catatan: kst = kata sandang tertentu.

 

Yang menjadi problem dengan penterjemahan Ibr 1:8 ini adalah bahwa dalam bahasa Yunani kata-kata HO THEOS bisa dianggap sebagai ‘nominative case’ [= kasus nominatif] atau ‘vocative case’ [= kasus vokatif].

 

Untuk mengingatkan kembali apa yang dimaksud dengan ‘case’ [= kasus] dalam bahasa Yunani, maka saya mengutip ulang kata-kata Gresham Machen, yang telah saya kutip di depan. Hanya saja di sini saya ingin saudara menyoroti secara khusus bagian yang saya garis bawahi, karena itu yang berhubungan dengan apa yang sedang kita bahas di sini.

 

Gresham Machen: “There are five cases; nominative, genitive, dative, accusative, and vocative. ... The subject of a sentence is put in the nominative case. ... The object of a transitive verb is placed in the accusative case. ... The genitive case expresses possession. ... The dative case is the case of the indirect object. ... The vocative case is the case of direct address.” [= Ada lima cases / kasus; nominatif, genitif, datif, akusatif, dan vokatif. ... Subyek dari suatu kalimat diletakkan dalam kasus nominatif. ... Obyek dari suatu kata kerja transitif ditempatkan dalam kasus akusatif. ... Kasus genitif menyatakan kepemilikan. ... Kasus datif adalah kasus dari obyek tidak langsung. ... Kasus vokatif adalah kasus dari sapaan langsung.] - ‘New Testament Greek For Beginners’, hal 24,25.

 

Kalau dianggap sebagai kasus vokatif, maka HO THEOS dianggap sebagai bentuk sapaan, dan karena itu diterjemahkan ‘TakhtaMu, ya Allah, seperti dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia ataupun KJV/RSV/ASV/NKJV/NIV/NASB.

 

Tetapi kalau dianggap sebagai kasus nominatif, maka itu berarti bahwa HO THEOS adalah subyek. Karena itu diterjemahkan ‘Allah adalah takhtamu’ seperti dalam TDB. Tetapi karena kedua kata benda yang digunakan di sini (THRONOS dan THEOS) sama-sama menggunakan definite article / kata sandang tertentu, maka terjemahannya bisa dibolak-balik (subyek dan predikatnya bisa dibolak-balik). Jadi bisa diterjemahkan ‘Your throne is God’ [= Takhtamu adalah Allah] atau ‘God is your throne’ [= Allah adalah takhtamu].

 

Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan: “Terjemahan mana yang selaras dengan ikatan kalimatnya? Ayat-ayat sebelumnya mengatakan bahwa Allah yang sedang berbicara, dan bukan yang diajak bicara; ayat berikutnya menggunakan ungkapan ‘Allah, AllahMu,’ menunjukkan bahwa yang sedang diajak bicara bukanlah Allah yang Mahatinggi melainkan seorang penyembah dari Allah itu.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 409-410.

 

Yang mereka maksudkan dengan ‘ayat berikutnya’ adalah Ibr 1:9 - “Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutuMu.’”.

 

Tanggapan saya:

 

Dalam Ibr 1:8 ini yang berbicara memang adalah Allah, tetapi Ia berbicara kepada Yesus, yang juga adalah Allah.

Saksi-Saksi Yehuwa beranggapan bahwa karena yang berbicara adalah Allah, maka yang diajak bicara pasti bukan Allah. Juga karena dalam Ibr 1:9 Allah berbicara kepada Yesus dan menyebut diriNya sendiri dengan sebutan ‘Allahmu’, maka jelas bahwa Yesus bukan Allah. Ada 2 hal yang bisa diberikan sebagai tanggapan:

 

a.   Kata-kata mereka ini hanya benar jika Allah itu tunggal mutlak.

Kalau Allah itu tunggal mutlak, maka memang tidak mungkin Allah berbicara kepada Allah. Tetapi kalau kita mempercayai doktrin Allah Tritunggal, maka adalah sesuatu yang memungkinkan bagi Allah untuk berbicara kepada Allah, karena dalam doktrin Allah Tritunggal, ketiga pribadi itu berbeda (distinct), sehingga bisa saling mengasihi (Mat 3:17), berbicara (Kej 1:26-27), mengutus (Gal 4:4  Yoh 14:26), dsb.

 

Bdk. Maz 110:1 (NASB): The LORD says to my Lord: ‘Sit at My right hand, Until I make Thine enemies a footstool for Thy feet.’” [= TUHAN berkata kepada Tuhanku: ‘Duduklah di sebelah kananKu, sampai Aku membuat musuh-musuhMu suatu tumpuan untuk kakiMu’].

 

Di sini TUHAN bicara kepada Tuhan! Dan dalam Mat 22:44 Yesus mengutip kata-kata ini untuk membuktikan keilahianNya! Jadi, apa anehnya Allah bicara kepada Allah?

 

b.   Bukan merupakan sesuatu yang aneh bahwa sekalipun Yesus adalah Allah, tetapi Bapa menyebut diriNya sendiri sebagai ‘AllahMu’ pada waktu Ia berbicara kepada Yesus (bdk. Yoh 20:17). Mengapa? Karena Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Dalam hal ini Yesus disoroti sebagai manusia.

 

4.   Ibr 1:8-9 merupakan kutipan dari Maz 45:7-8, yang berbunyi sebagai berikut: “(7) Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran. (8) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu.”.

 

Catatan: kata ‘kepunyaan’ dalam Maz 45:7 itu salah terjemahan; seharusnya kata itu tidak ada. Seharusnya bunyinya adalah: ‘TakhtaMu, ya Allah’, seperti dalam terjemahan KJV/NIV/NASB. Tetapi, sama seperti dalam kasus Ibr 1:8, dalam Maz 45:7 ini juga ada perbedaan terjemahan dengan NWT / TDB.

NWT / TDB: “God is your throne” [= Allah adalah takhtamu].

 

Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan: “Ibrani 1:8 mengutip dari Mazmur 45:7, yang pada mulanya ditujukan kepada seorang raja manusia dari bangsa Israel. Jelaslah bahwa penulis Alkitab dari mazmur ini tidak berpikir bahwa raja manusia ini adalah Allah yang Mahatinggi. Sebaliknya, Mazmur 45:7 mengatakan ‘Takhtamu kepunyaan Allah.’ (NE mengatakan: ‘Takhtamu seperti takhta Allah.’) JP (ayat 7): ‘Takhtamu yang diberikan oleh Allah.’) Salomo, yang mungkin adalah raja yang mula-mula dimaksudkan dalam Mazmur 45 dikatakan duduk ‘di atas takhta Yehuwa.’ (1Taw. 29:23, NW) Selaras dengan kenyataan bahwa Allah ialah ‘takhta,’ atau Sumber dan Pendukung dari pemerintahan Kristus, Daniel 7:13,14 dan Lukas 1:32 menunjukkan bahwa Allah menganugerahkan kuasa seperti itu kepadanya.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 410.

 

Catatan: menurut saya beberapa dari terjemahan-terjemahan yang diberikan dalam kutipan di atas oleh Saksi-Saksi Yehuwa, sama sekali tidak memungkinkan. Terjemahan-terjemahan itu adalah:

a.   NE: ‘Takhtamu seperti takhta Allah’.

b.   JP: ‘Takhtamu yang diberikan oleh Allah’.

c.   TB1-LAI: ‘Takhtamu kepunyaan Allah’.

Matthew Poole (tentang Ibr 1:8): “some heretics, to elude this proof of Christ’s Deity, would make ‘God’ the genitive case in the proposition, as, Thy throne of God, expressly contrary to the grammar, both in Hebrew and Greek:” [= beberapa orang sesat / bidat, untuk menghindarkan bukti KeAllahan Kristus ini, membuat kata ‘Allah’ menjadi kasus genitif dalam hal ini, sehingga menjadi ‘Takhtamu dari / milik Allah’, secara jelas bertentangan dengan tata bahasa, baik dalam bahasa Ibrani maupun Yunani:] - hal 811.

Juga ada terjemahan lain yang ngawur seperti RSV: ‘Your divine throne’ [= Takhta ilahimu].

 

John Owen mengutip kata-kata Turner, yang juga menentang terjemahan ini [John Owen, ‘Hebrews’, vol 3, hal 179 (footnote)].

Alexander MacLaren mengatakan (hal 70) bahwa ada juga orang yang menterjemahkan: ‘Thy throne is the throne of God’ [= Takhtamu adalah takhta Allah].

Ini jelas juga merupakan terjemahan yang pasti salah, karena terjemahan ini menggunakan kata ‘takhta’ 2 x padahal sebetulnya hanya ada satu kata ‘takhta’.

 

Dalam bahasa Ibraninya digunakan hanya 2 kata. Kata pertama adalah KISAKA, yang berarti ‘your throne’ [= takhtamu], dan kata kedua adalah ELOHIM, yang berarti ‘God’ [= Allah]. Karena itu, hanya ada 2 kemungkinan untuk menterjemahkan:

 

(1) Kata ‘Allah’ dianggap sebagai bentuk sapaan, sehingga terjemahannya menjadi ‘Takhtamu, ya Allah’ (KJV/ASV/NKJV/NIV/NASB).

 

(2) Ditambahkan kata ‘is’ [= adalah] di tengah-tengah kedua kata itu, sehingga menjadi ‘Your throne is God’ [= ‘Takhtamu adalah Allah’] atau ‘God is your throne’ [= Allah adalah takhtamu] seperti dalam NWT / TDB.

 

Dalam bahasa Ibrani penambahan seperti ini memang biasa terjadi, dan ini bisa terlihat dari kata-kata di bawah ini.

 

Menahem Mansoor: “Hebrew has no special words for the English verbs am, are, or is. They were understood from the context. Thus, the present tense of to be is not expressed in Hebrew. When you translate into English, you must add the appropriate English verb.” [= Bahasa Ibrani  tidak mempunyai kata-kata khusus untuk kata-kata kerja bahasa Inggris ‘am’, ‘are’, atau ‘is’. Kata-kata itu dimengerti dari kontextnya. Maka / karena itu, bentuk present dari ‘to be’ tidak dinyatakan dalam bahasa Ibrani. Pada waktu engkau menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris, engkau harus menambahkan kata kerja bahasa Inggris yang sesuai.] - ‘Biblical Hebrew Step By Step’, vol I, hal 61.

 

Sebagai contoh kalau dalam bahasa Ibrani seseorang mau mengatakan ‘I am the mother’ [= aku adalah sang ibu], maka ia hanya mengatakan:

HA-EM        ANI  (dibaca dari kanan ke kiri)

the mother    I

sang ibu      aku

Tetapi dalam menterjemahkan kita tidak bisa menterjemahkan: ‘I the mother’ [= Aku sang ibu]. Kita harus menambahkan kata ‘am’ [= adalah] sehingga menjadi ‘I am the mother’ [= Aku adalah sang ibu].

 

Saksi-Saksi Yehuwa menambahkan lagi: “Ibrani 1:8,9 mengutip dari Mazmur 45:7,8, dan mengenai ayat ini sarjana Alkitab B. F. Westcott menyatakan: ‘LXX mengakui adanya dua terjemahan: (HO THEOS) dapat dianggap sebagai vokatif (bentuk sapaan) dalam kedua hal itu (TakhtaMu, ya Allah, ... sebab itu, ya Allah, AllahMu ...) atau dapat dianggap sebagai subyek (atau predikat) dalam kasus pertama (Allah adalah takhtaMu, atau takhtaMu adalah Allah ...), dan sebagai tambahan kepada (HO THEOS SOU = AllahMu) dalam kasus kedua (Sebab itu Allah, Allahmu ...) ... Hampir tidak mungkin bahwa (ELOHIM) dalam bahasa aslinya dapat ditujukan kepada sang raja. Maka anggapan itu bertentangan dengan kepercayaan bahwa (HO THEOS) adalah suatu vokatif dalam LXX. Maka secara keseluruhan, seolah-olah yang paling baik adalah untuk menerima, di tempat pertama, terjemahan: Allah adalah takhtaMu (atau, takhtaMu adalah Allah), artinya ‘kerajaanMu didirikan di atas Allah, Batu Karang yang teguh.’” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 410.

 

Jadi intinya adalah: Saksi-Saksi Yehuwa berpendapat bahwa Maz 45 itu pada mulanya ditujukan kepada seorang raja manusia (Salomo), dan kata ELOHIM dalam Maz 45:7-8 itu tidak mungkin ditujukan kepada raja Salomo. Untuk menghindarkan penyebutan ELOHIM terhadap Salomo itu, maka seharusnya bagian itu bukan diterjemahkan ‘Takhtamu, ya Allah’ tetapi ‘Takhtamu adalah Allah’ atau ‘Allah adalah takhtamu’. Konsekwensinya adalah:

1.   Pada waktu Maz 45 itu diterapkan kepada Kristus, maka itu tidak menyatakan keilahian Kristus.

2.   Demikian juga Ibr 1:8-9, yang mengutip dari Maz 45:7-8, juga harus diterjemahkan demikian, dan dengan demikian, maka Ibr 1:8 itu juga tidak menunjukkan Yesus sebagai Allah.

 

Tanggapan saya:

 

a.   Maz 45 ini hanya menunjuk kepada Kristus saja.

Memang apakah Maz 45 ini pada mulanya (secara orisinil) memang ditujukan kepada seorang raja manusia / Salomo atau tidak, menimbulkan perdebatan yang cukup hebat.

 

Ada yang mengatakan bahwa Maz 45 itu memang menunjuk kepada seorang raja manusia, dan raja manusia itu adalah:

(1) Daud.

(2) Salomo, yang menikah dengan putri Firaun!

(3) Ahab. Mengapa bisa muncul dugaan bahwa raja ini adalah Ahab? Karena:

(a) Ahab mempunyai istana gading - 1Raja 22:39 bdk. Maz 45:9b.

(b) Adanya istilah ‘Puteri Tirus’ dalam Maz 45:13.

Tetapi Izebel adalah putri raja Sidon, bukan Tirus. Dan kelihatannya Maz 45:13 tidak menunjukkan bahwa putri Tirus itu adalah istri raja itu, tetapi hanya orang yang datang membawa pemberian-pemberian.

Pulpit Commentary (hal 352) menganggap ‘Puteri Tirus’ ini sebagai gambaran dari orang-orang kafir / non Yahudi secara umum.

(4) Yoram, anak Yosafat, yang menikah dengan Atalya, anak Ahab dan Izebel (bdk. 2Raja 8:18,26).

(5) Seorang raja Persia. Alasannya adalah bahwa istilah yang diterjemahkan ‘permaisuri’ dalam Maz 45:10 digunakan untuk ratu Persia dalam Neh 2:6. Tetapi merupakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal bahwa raja di sini menunjuk kepada seorang raja Persia, karena bagaimana mungkin muncul kata-kata ‘Allah, Allahmu (Maz 45:8) untuk seorang raja kafir?

 

Alexander MacLaren menganggap (hal 66,74,78) bahwa Maz 45 ini memang menunjuk kepada seorang raja, tetapi ia tidak bisa mengatakan siapa raja ini. Ini adalah seorang raja ideal, yang merupakan type dari Kristus.

 

Calvin [juga Derek Kidner (Tyndale)] beranggapan bahwa Maz 45 ditujukan kepada Salomo. Tetapi Calvin menambahkan bahwa ada hal-hal dalam Maz 45 ini yang tidak bisa diterapkan sepenuhnya kepada Salomo, yaitu kata-kata ‘untuk seterusnya dan selamanya’ dalam Maz 45:7, dan kata ‘ELOHIM’ [= Allah] dalam Maz 45:7. Calvin menganggap bahwa kata-kata ini menunjuk kepada Kristus, dan menunjukkan keilahian Kristus.

 

Calvin: “Although he is called ‘God’, because God has imprinted some mark of his glory in the person of kings, yet this title cannot well be applied to a mortal man; for we nowhere read in Scripture that man or angel has been distinguished by this title without some qualification. It is true, indeed, that angels as well as judges are called collectively אלהים, Elohim, gods; but not individually, and no one man is called by this name without some word added by way of restriction, as when Moses was appointed to be a god to Pharaoh, (Exod. 7:1.) From this we may naturally infer, that this psalm relates, as we shall soon see, to a higher than any earthly kingdom.” [= Sekalipun ia disebut ‘Allah’, karena Allah telah menanamkan tanda kemuliaanNya dalam diri dari raja-raja, tetapi gelar ini tidak bisa dengan benar diterapkan kepada seorang manusia biasa; karena kita tidak pernah membaca dalam Kitab Suci bahwa manusia atau malaikat telah diistimewakan / ditonjolkan dengan gelar ini tanpa pembatasan. Memang benar bahwa malaikat-malaikat maupun hakim-hakim disebut secara kolektif dengan sebutan אלהים, Elohim, allah-allah; tetapi tidak secara individuil, dan tidak ada satu orangpun yang dipanggil dengan nama ini tanpa tambahan kata-kata sebagai pembatasan, seperti pada waktu Musa diangkat menjadi allah bagi Firaun, (Kel 7:1). Dari sini kita secara wajar menyimpulkan, bahwa mazmur ini berkenaan, seperti yang akan kita lihat, dengan suatu kerajaan yang lebih tinggi dari kerajaan duniawi manapun.] - hal 178.

 

Kel 7:1 - Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu..

 

Calvin: “the posterity of David typically represented Christ to the ancient people of God:” [= keturunan Daud mewakili Kristus sebagai suatu TYPE kepada / bagi umat Allah jaman dulu:] - hal 180.

 

Calvin: “in the kingdom of Solomon God had exhibited a type or figure of that everlasting kingdom which was still to be looked for and expected.” [= dalam kerajaan Salomo Allah telah menunjukkan suatu TYPE / bayangan atau gambaran dari kerajaan kekal itu, yang masih harus dicari dan diharapkan.] - hal 180.

 

Calvin: “there is the name אלהים, Elohim, which it is proper to notice. It is no doubt also applied to angels and men, but it cannot be applied to a mere man without qualification. And, therefore, the divine majesty of Christ, beyond all question, is expressly denoted here.” [= di sana ada nama אלהים, Elohim, yang perlu diperhatikan. Tidak diragukan bahwa nama ini juga diterapkan kepada malaikat-malaikat dan orang-orang, tetapi nama itu tidak bisa diterapkan kepada seorang manusia biasa tanpa pembatasan. Dan karena itu, tanpa keraguan, keagungan ilahi dari Kristus ditunjukkan secara jelas di sini.] - hal 181.

 

Calvin: “Though it is said in Ps. 45, ‘O God, thy throne is everlasting and forever and ever’ ... , the Jews turned their backs and made the name Elohim fit also the angels and the highest powers. Yet nowhere in Scripture do we find a like passage, which raises up an eternal throne for a creature; nor, indeed, is he called simply ‘God,’ but also the eternal ruler. Furthermore, this title is bestowed on no one without an addition, as when Moses is said to become ‘as God to Pharaoh’ (Ex. 7:1).” [= Sekalipun dikatakan dalam Maz 45, ‘Ya Allah, takhtamu adalah kekal dan selama-lamanya’ ..., orang-orang Yahudi memalingkan wajah mereka dan membuat nama Elohim cocok juga untuk malaikat-malaikat dan kuasa-kuasa tertinggi. Tetapi dalam Kitab Suci, kita tidak menemukan suatu text yang serupa, yang membangkitkan suatu takhta yang kekal untuk seorang makhluk ciptaan; dan juga Ia bukan hanya disebut ‘Allah’ tetapi juga ‘pemerintah / penguasa yang kekal’. Selanjutnya, gelar ini (gelar ‘Allah’) tidak diberikan kepada siapapun tanpa suatu tambahan, seperti pada waktu Musa dikatakan menjadi seperti Allah bagi Firaun (Kel 7:1).] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XIII, no 9.

 

Dalam tafsirannya tentang Ibr 1:8, Calvin mengatakan hal yang serupa.

 

Calvin: “Nor is there any reason to object, that the word ELOHIM is sometimes given to angels and judges; for it is never found to be given simply to one person, except to God alone.” [= Tidak ada alasan untuk keberatan, bahwa kata ELOHIM kadang-kadang diberikan kepada malaikat-malaikat dan hakim-hakim; karena tidak pernah ditemukan bahwa kata itu diberikan begitu saja / secara mutlak kepada seseorang, kecuali kepada Allah saja.] - hal 45.

 

Calvin: “Whosoever will read the verse, who is of a sound mind and free from the spirit of contention, cannot doubt but that the Messiah is called God.” [= Siapapun yang membaca ayat itu, yang mempunyai pikiran yang sehat dan bebas dari roh perdebatan / perbantahan, tidak bisa meragukan bahwa Mesias disebut Allah.] - hal 45.

Catatan: yang disebut ‘the verse’ [= ayat itu], adalah Maz 45:7.

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali