(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 19 November 2023, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
bukti-bukti bahwa
yesus adalah allah(6)
(Fil 2:5-7)
7) Fil 2:5b-7 - “(5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”.
1. Pertama-tama mari kita menyoroti kata-kata ‘walaupun dalam rupa Allah’ (ay 6a).
Kata-kata ‘walaupun dalam rupa Allah’ dalam ay 6a itu oleh KJV diterjemahkan ‘being in the form of God’ [= berada dalam bentuk Allah].
a. Kata ‘being’ [= berada] itu dalam bahasa Yunani adalah ὑπάρχων / HUPARKHON dan ini ada dalam bentuk present participle.
Ini aneh dan kontras sekali dengan penggunaan bentuk-bentuk aorist [= past / lampau] pada kata-kata setelahnya, seperti:
(1) ‘menganggap’ (ἡγήσατο / HEGESATO).
(2) ‘mengosongkan’ (ἐκένωσεν / EKENOSEN).
(3) ‘mengambil’ (λαβών / LABON).
(4) ‘menjadi’ (γενόμενος / GENOMENOS).
Bentuk present dari kata HUPARKHON ini menunjuk pada ‘continuance of being’ [= keberadaan yang terus-menerus]. Walter Martin mengatakan (hal 94) bahwa kata HUPARKHON itu berarti ‘remaining or not ceasing to be’ [= tetap atau tidak berhenti ada].
William Barclay mengatakan bahwa kata HUPARKHON itu ‘menggambarkan seseorang sebagaimana adanya secara hakiki dan hal itu tak bisa berubah’ (‘It describes that which a man is in his very essence and which cannot be changed’) - hal 35.
Karena itu, kalau dikatakan bahwa Yesus itu ‘being in the form of God’, maka itu berarti bahwa Yesus adalah Allah, dan Ia tetap adalah Allah, dan ini tidak bisa berubah.
b. Kata ‘form’ [= bentuk].
Dalam bahasa Yunani ada 2 kata yang bisa diterjemahkan ‘bentuk’ / ‘rupa’, yaitu MORPHE dan SKHEMA.
William Hendriksen: “Do these two words - morphe and schema - have the same meaning? At times, throughout Greek literature, as any good lexicon will indicate, both can have the meaning ‘outward appearance’, ‘form’, ‘shape’. In certain contexts they can be just about interchangable. But at other times there is a clear difference in meaning. The context in each separate instance must decide.” [= Apakah dua kata ini - morphe dan sKhema - mempunyai arti yang sama? Kadang-kadang, dalam literatur Yunani, seperti yang ditunjukkan oleh lexicon yang baik manapun, keduanya bisa mempunyai arti ‘penampilan lahiriah’, ‘wujud’, ‘bentuk’. Dalam kontext-kontext tertentu kedua kata itu bisa dibolak-balik. Tetapi pada saat-saat lain ada perbedaan arti yang jelas. Kontext dalam setiap peristiwa harus menentukan.] - hal 103 (footnote).
Dalam Fil 2:6 ini William Hendriksen menganggap bahwa kata MORPHE itu berbeda dengan SKHEMA. Mengapa? Mari kita melihat terjemahan dari RSV di bawah ini.
Fil 2:6-8a (RSV): ‘(6) who, though he was in the form of God, did not count equality with God a thing to be grasped, (7) but emptied himself, taking the form of a servant, being born in the likeness of men. (8) And being found in human form’ [= (6) yang, sekalipun Ia berada dalam bentuk (MORPHE) Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu untuk dipegang erat-erat, (7) tetapi telah mengosongkan diriNya sendiri, mengambil bentuk (MORPHE) dari seorang pelayan / hamba, dilahirkan dalam keserupaan dari manusia. (8) Dan didapati dalam bentuk (SKHEMA) manusia].
Perhatikan kata-kata yang saya garis bawahi itu. Ada 3 x kata ‘form’ (= bentuk). Untuk dua kata yang pertama digunakan kata Yunani MORPHE (Yesus sebagai Allah dan sebagai hamba), sedangkan untuk kata yang ketiga digunakan kata Yunani SKHEMA (Yesus sebagai manusia).
William Hendriksen menganggap adanya perubahan dari MORPHE ke SKHEMA menunjukkan bahwa di sini ada perbedaan arti antara kedua kata itu. Memang sebagai manusia Yesus tidak terus sama. Ia bertumbuh makin besar, makin tua dalam usia, sehingga tentu berubah dalam wajah / bentuk badan. Ia bisa menjadi kurus (misalnya pada saat berpuasa), dan kembali menjadi normal lagi (setelah puasa), dsb. Karena itu di sini digunakan SKHEMA.
Tetapi sebagai Allah, Ia tidak berubah. Karena itu digunakan MORPHE. Juga sebagai hamba, Ia tidak berubah. Ia boleh menjadi dewasa, tua, kurus, gemuk, dsb., tetapi Ia tetap adalah hamba. Dan karena itu di sini juga digunakan MORPHE.
William Barclay: “There are two Greek words for ‘form’, MORPHE and SCHEMA. They must both be translated ‘form’, because there is no other English equivalent, but they do not mean the same thing. MORPHE is the essential form which never alters; SCHEMA is the outward form which changes from time to time and from circumstance to circumstance. ... The word Paul uses for Jesus being in the form of God is MORPHE; that is to say, his unchangeable being is divine. However his outward SCHEMA might alter, he remained in essence divine.” [= Ada dua kata Yunani untuk ‘bentuk’, MORPHE dan SKHEMA. Kedua kata itu harus diterjemahkan ‘bentuk’, karena tidak ada kata lain dalam bahasa Inggris yang sama artinya, tetapi kedua kata itu tidak sama artinya. MORPHE adalah bentuk yang hakiki yang tidak pernah berubah; SKHEMA adalah bentuk luar yang berubah-ubah dari saat ke saat dan dari keadaan ke keadaan. ... Kata yang digunakan oleh Paulus untuk Yesus yang ada dalam rupa / bentuk Allah adalah MORPHE; yang artinya adalah: keberadaanNya yang tidak berubah adalah ilahi. Bagaimanapun SKHEMA luarNya berubah, dalam hakekatNya Ia tetap ilahi.] - hal 35,36.
Jadi, baik penguraian tentang kata ‘being’ [= ada / berada] maupun kata ‘form’ [= bentuk], menunjukkan ketidak-berubahan Yesus sebagai Allah. Allah memang mempunyai sifat tidak bisa berubah (Mal 3:6 Maz 102:26-28 Yak 1:17), karena kalau Ia bisa berubah, itu menunjukkan Ia tidak sempurna!
2. Sekarang mari kita melihat text yang sedang kita bahas ini sekali lagi.
Fil 2:5b-7 - “(5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”.
Kalau kata-kata dalam ay 7 yang mengatakan ‘mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia’ diartikan bahwa Yesus betul-betul menjadi manusia, maka konsekwensinya, kata-kata dalam ay 6 yang mengatakan bahwa Yesus ada ‘dalam rupa Allah’ haruslah diartikan bahwa Yesus betul-betul adalah Allah.
3. Sekarang kita akan membahas bagian yang sukar dari text ini, yaitu kata-kata ‘tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan’.
Fil 2:5b-7 - “(5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”.
TDB: “(5) Peliharalah sikap mental ini dalam dirimu, yang juga ada dalam Kristus Yesus, (6) yang, walaupun ada dalam wujud Allah, tidak pernah mempertimbangkan untuk merebut kedudukan, yakni agar ia setara dengan Allah.”.
Mari kita membandingkan dengan beberapa terjemahan bahasa Inggris.
KJV: ‘(5) Let this mind be in you, which was also in Christ Jesus: (6) Who, being in the form of God, thought it not robbery to be equal with God’ [= Hendaknya pikiran ini ada dalam kamu, yang juga ada dalam Kristus Yesus: Yang, ada dalam bentuk Allah, menganggapnya bukan sebagai perampokan untuk menjadi setara dengan Allah].
RSV: ‘(5) Have this mind among yourselves, which is yours in Christ Jesus, (6) who, though he was in the form of God, did not count equality with God a thing to be grasped’ [= Milikilah pikiran ini di antara kamu sendiri, yang adalah milikmu dalam Kristus Yesus, yang sekalipun Ia ada dalam bentuk Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah suatu hal yang harus direbut / dipegang erat-erat].
NIV: ‘(5) Your attitude should be the same as that of Christ Jesus: (6) Who, being in very nature God, did not consider equality with God something to be grasped’ [= Sikapmu harus sama seperti sikap dari Kristus Yesus: Yang, ada dalam hakekat Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sesuatu untuk direbut / dipegang erat-erat].
NASB: ‘(5) Have this attitude in yourselves which was also in Christ Jesus, (6) who, although He existed in the form of God, did not regard equality with God a thing to be grasped’ [= Milikilah sikap ini dalam dirimu sendiri yang juga ada dalam Kristus Yesus, yang, sekalipun Ia berada dalam bentuk Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sesuatu untuk direbut / dipegang erat-erat].
Kata bahasa Inggris ‘grasp’ yang digunakan oleh RSV/NIV/NASB bisa diartikan ‘merebut’ atau ‘memegang erat-erat’. Oleh KJV kata itu diterjemahkan ‘robbery’ [= perampokan]. Kata bahasa Yunaninya adalah ἁρπαγμὸν / HARPAGMON. Kalau nanti di bawah digunakan istilah HARPAGMOS, jangan terlalu mempersoalkan perbedaan antara HARPAGMON dengan HARPAGMOS. Perbedaan ini hanya terjadi karena posisi kata itu dalam suatu kalimat.
Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan: The Expositor’s Greek Testament mengatakan: “Kami tidak dapat menemukan satu ayat pun di mana (har-pa’zo) ataupun kata jadiannya (termasuk har-pag-mon) mempunyai arti ‘memiliki,’ ‘mempertahankan’. Itu seolah-olah selalu berarti ‘merampas,’ ‘merebut dengan kekerasan’. Maka arti yang sebenarnya ‘merebut’ tidak dapat diganti dengan arti yang sangat berbeda, ‘memegang kuat-kuat.’” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 408.
Jadi, dalam penafsiran dari Saksi Yehuwa ayat ini menunjukkan bahwa Yesus tidak mempunyai kesetaraan dengan Allah, tetapi Ia tidak memikirkan untuk menjadi setara dengan Allah / merebut kesetaraan itu.
Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan: “Pemikiran mana yang cocok dengan ikatan kalimatnya? Ayat ke-5 menasihati orang-orang Kristen agar meniru Kristus dalam hal yang dibahas di sini. Dapatkah mereka dianjurkan untuk ‘menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,’ bahwa mereka berhak untuk ‘setara dengan Allah’? Tentu saja tidak! Namun mereka dapat meniru dia yang tidak berpikir untuk merebut kedudukan, yakni, agar ia setara dengan Allah.’ (NW) (Bandingkan Kejadian 3:5.) Terjemahan sedemikian juga selaras dengan Yesus Kristus sendiri, yang berkata: ‘Bapa lebih besar dari pada Aku.’ - Yohanes 14:28.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 407-408.
Tanggapan saya:
a. Ini omongan / serangan bodoh yang sangat tidak masuk akal dari orang-orang yang memang berusaha membutakan diri mereka sendiri! Sudah tentu yang harus diteladani dari Yesus bukan keilahianNya, tetapi kerelaanNya untuk merendahkan diri menjadi manusia dan bahkan taat sampai mati, demi umat manusia.
b. Kita juga bisa menyerang Saksi-Saksi Yehuwa dengan cara yang sama gilanya.
Fil 2:5-6 (TDB): “(5) Peliharalah sikap mental ini dalam dirimu, yang juga ada dalam Kristus Yesus, (6) yang, walaupun ada dalam wujud Allah, tidak pernah mempertimbangkan untuk merebut kedudukan, yakni agar ia setara dengan Allah”.
Jadi, dalam TDB kita disuruh meneladani ‘keberadaan Yesus dalam wujud Allah’, tak peduli apakah kata-kata itu diartikan sebagai ‘ke-malaikat-an’ atau ‘ke-suatu-allah-an’ dari Yesus!
c. Sudah barang tentu terjemahan dari Fil 2:6b ini tidak akan cocok dengan Yoh 14:28 (‘Bapa lebih besar dari pada Aku’), karena Fil 2:6b ini menunjukkan keilahian Yesus, sedangkan Yoh 14:28 itu menunjukkan kemanusiaan Yesus!
Dan bukan hanya Fil 2:6b saja yang tidak cocok dengan Yoh 14:28 itu. Fil 2:6a (‘walaupun dalam rupa / bentuk Allah’) juga tidak cocok!
Yang cocok dengan Yoh 14:28 adalah Fil 2:7nya yang berbunyi: “melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”, karena ini memang membicarakan kemanusiaan Yesus.
d. Memang ada banyak penterjemahan maupun penafsiran tentang text ini, tetapi yang jelas kita tidak boleh menafsirkan seakan-akan ayat itu artinya adalah: ‘Yesus itu lebih rendah dari Allah, dan Ia tidak mempertimbangkan untuk merampas kesetaraan dengan Allah itu’, seperti penterjemahan / penafsiran dari Saksi-Saksi Yehuwa. Mengapa? Karena kalau kita memilih penafsiran Saksi-Saksi Yehuwa itu, maka:
(1) Fil 2:6b ini akan bertentangan dengan Fil 2:6a, yang menunjukkan keilahian Kristus (yang sudah dijelaskan di atas).
(2) Fil 2:6b ini akan bertentangan dengan Yoh 5:18 - “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah.”.
Perlu diperhatikan bahwa kata Yunani yang diterjemahkan ‘kesetaraan’ dalam Fil 2:6b, sama dengan kata Yunani yang diterjemahkan ‘menyamakan’ dalam Yoh 5:18. Fil 2:6b menggunakan kata Yunani ἴσα / ISA, sedangkan Yoh 5:18 menggunakan kata Yunani ἴσον / ISON. Kedua kata Yunani itu jelas mempunyai kata dasar yang sama. Jadi, Yesus jelas sudah mempunyai kesetaraan dengan Allah itu, dan karena itu Fil 2:6b itu tidak mungkin diartikan seperti penafsiran yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa / TDB.
(3) Dalam Fil 2:1-4 Paulus sedang menasehati supaya jemaat Filipi mempunyai kerendahan hati dan kasih / ketidak-egoisan.
Fil 2:1-4 - “(1) Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, (2) karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, (3) dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; (4) dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”.
Lalu dalam Fil 2:5-dst, Paulus menunjuk kepada Yesus sebagai teladan dalam hal kerendahan hati dan kasih / ketidak-egoisan.
Sedangkan dalam terjemahan dari TDB itu, kalau dikatakan bahwa Yesus itu lebih rendah dari Allah dan tidak ingin merebut kesetaraan dengan Allah, maka itu bukan merupakan suatu contoh kerendahan hati ataupun kasih / ketidak-egoisan, tetapi hanya merupakan absennya suatu kegilaan! (Bandingkan dengan kata-kata dari Pulpit Commentary pada point e. di bawah).
Illustrasi: kalau saudara adalah warga negara Indonesia, dan saudara tidak berusaha untuk melakukan kudeta, menggulingkan presiden, dan menjadi presiden menggantikan presiden yang sah, maka apakah itu menunjukkan bahwa saudara adalah warga negara yang baik dan rendah hati? Tentu saja tidak! Itu hanya menunjukkan bahwa saudara tidak gila!
Demikian juga kalau Yesus lebih rendah dari Allah, dan Ia hanya tidak berusaha untuk menjadi setara dengan Bapa, itu sama sekali tidak menunjukkan suatu kerendahan hati ataupun kasih. Itu hanya menunjukkan bahwa Ia tidak gila. Dengan demikian Fil 2:5-6 ini menjadi tidak cocok dengan kontextnya (Fil 2:1-4).
Tetapi dalam terjemahan kita sendiri, maka Yesus yang setara dengan Allah itu, rela direndahkan dengan menjadi manusia, supaya bisa mati menebus dosa kita. Ini dengan jelas memang menunjukkan suatu kerendahan hati dan kasih / ketidak-egoisan.
Jadi, terjemahan kita lebih cocok dengan kontextnya, sedangkan TDB sama sekali tidak cocok dengan kontextnya!
e. Pandangan dari William Hendriksen, Pulpit Commentary, dan A. T. Robertson.
William Hendriksen mengatakan bahwa kata HARPAGMOS merupakan suatu kata benda, yang bisa diartikan secara aktif, atau secara pasif.
Kalau diartikan secara aktif, maka itu menjadi ‘an act’ / ‘suatu tindakan’ (suatu tindakan perampokan / perebutan kekuasaan).
Kalau diartikan secara pasif, maka itu menjadi ‘a thing’ / ‘suatu hal’ (suatu rampasan / harta / kekayaan untuk dipegang erat-erat).
Arti aktif diambil oleh KJV (yang menterjemahkannya ‘robbery’ / ‘perampokan’), tetapi Hendriksen berpendapat ini tidak sesuai dengan kontext yang mendahului ayat ini, yang menekankan supaya kita menjadi rendah hati dan tidak berpegang pada hak kita tetapi lebih memikirkan kepentingan orang lain. Jadi, Hendriksen memilih arti pasif.
William Hendriksen menambahkan bahwa ada orang yang mengatakan bahwa kata HARPAGMOS, karena berakhiran MOS, pasti adalah kata benda yang mempunyai arti aktif. Kata yang mempunyai arti pasif, biasanya berakhiran MA, bukan berakhiran MOS. Tetapi Hendriksen mengatakan bahwa terhadap peraturan tersebut, ada perkecualiannya, dan ia memberikan banyak contoh dari Kitab Suci tentang perkecualian tersebut, yaitu:
Kata ἐπισιτισμός / EPISITISMOS (Luk 9:12) berarti ‘food’ [= makanan].
Kata θερισμὸς / THERISMOS (Luk 10:2) berarti ‘harvest / crop’ [= panen / tuaian].
Kata ἱματισμός / HIMATISMOS (Yoh 19:24) berarti ‘vestment’ [= jubah].
Kata ὑπογραμμὸς / HUPOGRAMMOS (1Pet 2:21) berarti ‘example’ [= teladan].
Kata φραγμος / PHRAGMOS (Luk 14:23) berarti ‘hedge / fence’ [= pagar].
Kata χρηματισμός / KHREMATISMOS (Ro 11:4) berarti ‘oracle’ [= firman Allah].
Kata ψαλμὸς / PSALMOS (1Kor 14:26) berarti ‘psalm’ [= mazmur].
Catatan: semua kata berakhiran MOS ini diartikan ‘a thing’ / ‘suatu hal’ (arti pasif), bukan ‘an act’ / ‘suatu tindakan’ (arti aktif).
Hendriksen juga mengatakan bahwa kata HARPAGMOS juga digunakan dalam tafsiran dari Eusebius tentang Injil Lukas, dan diartikan dalam arti pasif, yaitu ‘rampasan’.
Selanjutnya, kalau kata HARPAGMOS ini diartikan dalam arti pasif, maka Hendriksen mengatakan bahwa itu memungkinkan 2 arti lagi, yaitu:
(1) Itu adalah sesuatu yang sudah dimiliki, dan dipertahankan.
(2) Itu adalah sesuatu yang belum dimiliki, dan diusahakan / dicari dengan sungguh-sungguh.
Lagi-lagi dalam hal ini, kontextnya yang harus menentukan, arti mana yang diambil.
Arti yang kedua jelas bertentangan dengan kata-kata ‘walaupun dalam rupa / bentuk Allah’ dalam Fil 2:6a, yang menunjukkan bahwa Yesus sudah adalah Allah (ini sudah dibahas di atas).
Jadi, jelas bahwa kita harus mengambil arti pertama. Dan ini menjadi cocok dengan terjemahan Kitab Suci Indonesia.
William Hendriksen: “The word ἁρπαγμὸς, acc. -ὸν, has given rise to several questions: Should it be taken in the active sense - an act of robbery or usurpation - or in the passive sense - a prize to be held on to, a treasure to be clutched? Is it an action or is it a thing? Several Latin fathers, notably Augustine, favor the former. Most of the early Greek writers prefer the latter, that is, they interpret the passage to mean that Christ Jesus did not regard his existence in a manner equal to God as a prize to be retained at all hazards. The active sense - robbery - is favored by A.V. But this meaning is in conflict with the words that precede (see Phil. 2:1-4). The apostle has just exhorted the Philippians to be humble and not always to be insisting on their own rights but to be thoughtful of others. Surely, in such a context the idea that Christ asserted his rights - ‘thought it not robbery to be equal with God’ - does not fit. Also, the rendering does not do justice to the words that follow. The conjunction ‘but’ suggests a direct contrast. This demand is satisfied only when the clause ‘he emptied himself’ is preceded by something like ‘he did not cling to,’ or as the text actually reads, ‘He did not count his existence-in-a-manner-equal-to-God something to cling to.’ Certainly when a word can have either an active or a passive meaning it is the specific context that decides the issue. But is not ἁρπαγμὸς after all an active concept because of its suffix -μὸς which is an active-ending, in contrast with -μα, which is a result-ending? The answer is: this rule allows for many exceptions. Note the following:
ἐπισιτισμός (in Luke 9:12) means ‘food’.
θερισμὸς (in Luke 10:2) means ‘harvest or crop’.
ἱματισμός (in John 19:24) means ‘vestment’.
ὑπογραμμὸς (in 1Peter 2:21) means ‘writing-copy, hence example’.
φραγμος (in Luke 14:23) means ‘hedge or fence’.
χρηματισμός (in Rom. 11:4) means ‘oracle’.
ψαλμὸς (in 1Cor. 14:26) means ‘psalm’.
And as to ἁρπαγμὸς Eusebius in his Commentary on Luke (vi) uses this very word, and in the passive sense, as meaning ‘prize.’ This, however, brings up another matter. Such a prize can be either res rapta, that is, something which one already has in his possession, ostensibly displays, and retains in his grasp, or (as in the case of Peter’s death on a cross) res rapienda, that is, something which one does not yet have in his possession, a prize to be eagerly sought. But here, too, it is the context in each given case that is decisive. The idea that also here in Phil. 2:6 the futuristic sense (res rapienda) should be ascribed to the word ἁρπαγμὸς is defended by ... With variations as to detail this view may be summarized as follows: Jesus might have used his miraculous powers in such a way as to compel men to worship him as God. He might have reached out for this honor in order to grab it. Is not that what, in substance, ‘the first Adam’ did (see Gen. 3:4,5 and cf. Phil. 3:6)? And was not that the very thing which in the desert of temptation and in fact throughout our Lord’s earthly sojourn Satan tempted ‘the second Adam’ to do? But Jesus said ‘No.’ Instead of using force he showed obedience. And on account of his great renunciation and obedience God now highly exalted him and bestowed upon him, as a reward, the name that is above every name (Phil. 2:9-11). The theory is very interesting, but will not do, and this for the following reasons: (1) To imply that the One who is here described as ‘existing in the form of God’ lacked ‘existence in a manner equal to God,’ so that he looked forward to it as a reward is indefensible. Surely, as a starting-point, one must proceed from the idea that he who is the possessor of the divine nature also had the divine glory and authority. (2) The clearly parallel-passage, 2Cor. 8:9, teaches that Christ gave up the glory which he already had! (3) The context, as has been shown, requires the idea that the Philippians must be willing to sacrifice certain things in the interests of others.” - hal 129-130 (footnote).
Catatan: kutipan ini tidak saya terjemahkan karena sudah saya berikan intisarinya di atas.
Pulpit Commentary: “‘Thought it not robbery to be equal with God; R. V. ‘counted it not a prize (margin, ‘a thing to be grasped’) to be on an equality with God.’ These two renderings represent two conflicting interpretations of this difficult passage. Do the words mean that Christ asserted his essential Godhead (‘thought it not robbery to be equal with God,’ as A. V.), or that he did not cling to the glory of the Divine majesty (‘counted it not a prize,’ as R. V.)? Both statements are true in fact. The grammatical form of the word ἁρπαγμὸς, which properly implies an action or process, favours the first view, which seems to be adopted by most of the ancient versions and by most of the Latin Fathers. On the other hand, the form of the word does not exclude the passive interpretation; many words of the same termination have a passive meaning, and ἁρπαγμὸς itself is used in the same sense of ἁρπαγμα by Eusebius, Cyril of Alexandria, and a writer in the ‘Catena Possini’ on Mark 10:42 (the three passages are quoted by Bishop Lightfoot, in loco). The Greek Fathers (as Chrysostom, ...) generally adopt this interpretation. And the context seems to require it. The aorist ἡγήσατο points to an act, the act of abnegation; not to a statement, the continued assertion. The conjunction ‘but’ (ἀλλὰ) implies that the two statements are opposed to one another. He did not grasp, but, on the contrary, he emptied himself. The first interpretation involves the tacit insertion of ‘nevertheless;’ he asserted his equality, but nevertheless, etc. And the whole stress is laid on the Lord’s humility and unselfishness. ... Not to grasp at equality with God would not be an instance of humility, but merely the absence of mad impiety, in one who was not himself Divine. On the whole, then, we prefer the second interpretation.” - hal 59-60.
Komentar Pulpit Commentary ini artinya kurang lebih sama dengan yang diberikan oleh William Hendriksen. Karena itu saya tidak memberikan terjemahannya, kecuali kata-kata yang saya garis bawahi yang terjemahannya adalah sebagai berikut:
“Kata penghubung ‘tetapi’ (ἀλλὰ / ALLA) secara implicit menunjukkan bahwa kedua pernyataan itu bertentangan satu sama lain. Ia tidak memegang erat-erat, tetapi, sebaliknya, Ia mengosongkan diriNya sendiri. ... Tidak merebut kesetaraan dengan Allah bukanlah suatu contoh kerendahan hati, tetapi hanya menunjukkan tidak adanya suatu ketidak-salehan yang gila, dalam diri seseorang yang bukan Allah.”.
Catatan: kata yang dibicarakan oleh Pulpit Commentary adalah kata pada awal ay 7, yang dalam terjemahan Indonesia diterjemahkan ‘melainkan’.
Fil 2:5b-7 - “(5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.
A. T. Robertson: “A Prize (harpagmon). ... Originally words in -mos signified the act, not the result (-ma). The few examples of HARPAGMOS (Plutarch, etc.) allow it to be understood as equivalent to HARPAGMA, like BAPTISMOS and BAPTISMA. That is to say Paul means a prize to be held on to rather than something to be won (‘robbery’).” [= Suatu hadiah (HARPAGMON). Semula kata-kata yang berakhiran MOS menandakan tindakannya, bukan hasil dari tindakan tersebut (-MA). Beberapa contoh dari HARPAGMOS (Plutarch, dsb.) mengijinkan kata itu untuk dimengerti sebagai kata yang sama artinya dengan HARPAGMA, seperti BAPTISMOS dan BAPTISMA. Itu berarti bahwa Paulus memaksudkan suatu rampasan / hadiah untuk dipegang erat-erat dan bukannya sesuatu untuk didapatkan (‘perampokan’).] - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 4, hal 444.
f. Pandangan dari William Barclay dan Matthew Poole.
William Barclay dan Matthew Poole memberikan penafsiran yang agak berbeda. Mereka menganggap sekalipun HARPAGMOS diambil dalam arti aktifpun, itu tetap menunjukkan keilahian dari Yesus.
William Barclay: “Jesus did not think it robbery to be equal with God; he did not regard existence in equality with God as something to be snatched at. The word used for ‘robbery’, which we have translated ‘a thing to be snatched at’, is HARPAGMOS which comes from a verb meaning ‘to snatch’, or ‘to clutch’. The phrase can mean one of two things, both of which are at heart the same. (a) It can mean that Jesus did not need to snatch at equality with God, because he had it as a right. (b) It can mean that he did not clutch at equality with God, as if to hug it jealously to himself, but laid it willingly down for the sake of men. However we take this, it once again stresses the essential godhead of Jesus.” [= Yesus tidak menganggap sebagai perampokan untuk menjadi setara dengan Allah; Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu untuk dirampas / direnggut. Kata yang digunakan untuk ‘perampokan’, yang kami terjemahkan ‘sesuatu untuk dirampas / direnggut’, adalah HARPAGMOS, yang berasal dari suatu kata kerja yang berarti ‘merampas’ / ‘merenggut’, atau ‘menggenggam / memegang erat-erat’. Ungkapan itu bisa berarti salah satu dari dua hal ini, yang sebetulnya mempunyai arti yang sama. (a) Itu bisa berarti bahwa Yesus tidak perlu untuk merampas kesetaraan dengan Allah, karena Ia sudah mempunyai hal itu sebagai suatu hak. (b) Itu bisa berarti bahwa Ia tidak memegang erat-erat kesetaraan dengan Allah, seakan-akan memeluknya dengan penuh kewaspadaan bagi diriNya sendiri, tetapi menyerahkannya dengan sukarela demi kepentingan manusia. Bagaimanapun kita menerimanya, ini menekankan lagi keAllahan yang hakiki dari Yesus.] - hal 36.
Matthew Poole: “we read not in the sacred text, he thought not to do this robbery, but, he thought it not robbery to be equal to God; which two are vastly different, even as much as to have the Godhead by usurpation, and to have it by nature.” [= kita tidak membaca dalam text yang kudus, ‘Ia tidak memikirkan untuk melakukan perampokan ini’, tetapi ‘Ia memikirkan / menganggapnya bukan perampokan untuk menjadi setara dengan Allah’; kedua hal mana sangat berbeda, sama berbedanya seperti ‘mendapatkan keilahian oleh suatu perebutan / perampasan’, dan ‘memilikinya secara alamiah’.] - hal 688.
Catatan: saya sendiri lebih memilih penafsiran William Hendriksen / Pulpit Commentary / A. T. Robertson di atas, karena lebih cocok dengan kontextnya. Penterjemahan dan penafsiran dari William Barclay (yang point a) dan Matthew Poole ini tidak menunjukkan kerendahan hati dan kasih / ketidak-egoisan dari Yesus.
4. Masih ada satu bagian penting yang harus dibahas dari text ini, yaitu kata-kata ‘mengosongkan diriNya sendiri’ dalam ay 7.
Kata-kata ini dijadikan dasar dari suatu ajaran sesat yang disebut Teori Kenosis. Kata ‘KENOSIS’ ini berasal dari kata Yunani yang diterjemahkan ‘mengosongkan diri’ itu, yaitu EKENOSEN.
Teori sesat ini mengatakan bahwa Anak Allah mengesampingkan atau membuang sebagian atau seluruh sifat-sifat ilahiNya supaya Ia bisa menjadi manusia yang terbatas.
Apa salahnya Teori Kenosis ini?
a. Yesus adalah Allah dan karena itu Ia tidak bisa berubah (lihat no 1. di atas). Allah tidak bisa berhenti menjadi Allah, sekalipun hanya untuk sementara!
b. Kalau Teori Kenosis itu benar, maka pada saat Yesus menjadi manusia, Allah Tritunggal bubar!
c. Kalau Teori Kenosis itu benar, maka Yesus bukanlah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia! Ia hanya manusia biasa, tanpa keilahian! Dan kalau ini benar, maka penebusanNya tidak bisa mempunyai nilai yang tak terbatas.
Jadi, bagaimana kita harus menafsirkan kata-kata ‘mengosongkan diriNya sendiri’ itu? Mengapa merupakan sesuatu yang penting untuk mengerti bagian ini dengan benar? Karena Saksi-Saksi Yehuwa boleh dikatakan menafsirkan kata-kata ini apa adanya. Mereka beranggapan bahwa pada waktu Yesus menjadi manusia, Ia kehilangan keilahian / kemalaikatanNya, sehingga Ia hanya manusia biasa saja. Ini jelas merupakan ajaran salah / sesat. Perhatikan komentar Calvin di bawah ini.
Calvin: “Christ, indeed, could not divest himself of Godhead; but he kept it concealed for a time, that it might not be seen, under the weakness of the flesh. Hence, he laid aside his glory in the view of men, not by lessening it, but by concealing it.” [= Kristus tidak bisa melepaskan diriNya sendiri dari keilahianNya; tetapi menyembunyikannya untuk sementara waktu, supaya tidak kelihatan, di bawah kelemahan daging. Jadi, Ia mengesampingkan kemuliaanNya dalam pandangan manusia, bukan dengan menguranginya, tetapi dengan menyembunyikannya.].
Jadi, pada waktu Anak Allah menjadi manusia, Ia tetap adalah Allah, dan keilahianNya tidak berkurang sedikitpun, tetapi hanya disembunyikan.
Herman Hoeksema mempunyai pandangan yang sama dengan Calvin, tetapi ia menambahkan bahwa sekalipun pada saat inkarnasi itu kemuliaan Kristus disembunyikan, tetapi kadang-kadang tetap bisa terlihat sekilas, misalnya pada waktu Ia melakukan mujijat.
Herman Hoeksema: “This does not mean that the Son of God temporarily laid aside the divine nature, in order to exchange it with the human nature. This would be impossible, for the divine nature is unchangeable. ... But it certainly means that He entered into the state of man in such a way that before man His divine glory and majesty was hid, although even in the state of humiliation it flashed out occasionally, as, for instance, in the performance of His wonders.” [= Ini tidak berarti bahwa Anak Allah untuk sementara waktu mengesampingkan hakekat ilahi, untuk menukarnya dengan hakekat manusia. Ini mustahil, karena hakekat ilahi tidak bisa berubah. ... Tetapi itu berarti bahwa Ia masuk ke dalam keadaan manusia sedemikian rupa sehingga di depan manusia kemuliaan dan keagungan ilahiNya tersembunyi, sekalipun bahkan dalam saat perendahanpun itu kadang-kadang memancar keluar, seperti misalnya dalam pelaksanaan / pertunjukan perbuatan-perbuatan ajaibNya.] - ‘Reformed Dogmatics’, hal 399.
Kalau begitu dalam hal apa Yesus “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”? Dalam arti ini:
a. Ia ketambahan hakekat manusia dalam diriNya.
Ada seseorang yang berkata: “Christ was lowered not by losing but rather by taking” [= Kristus direndahkan bukan dengan kehilangan tetapi dengan mengambil].
Illustrasi: kita bisa merendahkan seorang yang kaya bukan dengan mengambil kekayaannya, tetapi dengan memakaikan / menambahkan kepadanya pakaian yang buruk. Jadi orang itu direndahkan bukan dengan kehilangan apapun, tetapi sebaliknya dengan ketambahan sesuatu.
Demikian juga dengan Kristus. Ia sebetulnya tidak kehilangan apapun, tetapi ketambahan hakekat manusia. Manusia memang bagus kalau dibandingkan dengan binatang, tetapi kalau dibandingkan dengan Allah, maka manusia itu sangat rendah dan hina. Dan manusia itulah yang ditambahkan kepada Kristus, dan dengan cara itu Ia direndahkan.
b. Ia harus menyembunyikan keilahianNya sekalipun itu tetap ada padaNya.
Seandainya saudara adalah orang kaya, dan saudara harus pergi ke suatu perkumpulan orang kaya dengan naik sepeda pancal yang jelek, dan dengan memakai pakaian yang penuh dengan tambalan. Lalu pada waktu semua orang di sana berbicara tentang kekayaan mereka, dan mereka meremehkan saudara karena ‘kemiskinan’ saudara, saudara harus tetap menyembunyikan keadaan saudara yang sebenarnya. Apakah itu sesuatu hal yang mudah? Tidakkah untuk bisa melakukan itu dibutuhkan kerendahan hati yang luar biasa?
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali