KEBAKTIAN online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 29 Oktober 2023, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

bukti-bukti bahwa

yesus adalah allah(3)

 

(Yoh 1:18)

 

3)   Yoh 1:18.

 

Yoh 1:18 (TB-LAI) - “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya.”.

Yoh 1:18 (NWT): ‘the only begotten god’ [= satu-satunya allah yang diperanakkan].

Yoh 1:18 (TDB): “Tidak seorang pun pernah melihat Allah; satu-satunya allah yang diperanakkan yang berada pada posisi dada Bapak, dia itulah yang menjelaskan mengenai dirinya.”.

 

Catatan: dalam Yoh 1:18 ini ada 4 kelompok manuscripts, dan menurut saya terjemahan dari NWT / TDB ini memilih manuscript yang terbaik. Jadi dalam hal Yoh 1:18 ini, NWT / TDB lebih baik dari pada TB-LAI, kecuali kata ‘god’ / ‘allah’ yang dimulai dengan huruf kecil, yang menunjukkan mereka tidak mempercayai Yesus sebagai Allah.

 

Dalam istilah / bagian yang saya garis-bawahi dari ayat ini terdapat textual problem [= problem text, dimana ada perbedaan antara manuscript yang satu dengan manuscript yang lain]. Tetapi ini merupakan problem text yang sangat unik, yang saya kira tidak ada duanya dalam seluruh Alkitab. Biasanya problem text hanya ada 2 variasi, tetapi di sini ada 4 variasi!

 

Perhatikan terjemahan-terjemahan Alkitab bahasa Indonesia maupun Inggris yang berbeda satu sama lain dalam hal ini.

 

Yoh 1:18 (TB-LAI) - “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan (dada) Bapa, Dialah yang menyatakanNya.”.

 

KJV/ASV/NKJV/YLT: the only begotten Son [= satu-satunya Anak yang diperanakkan].

RSV: the only Son [= satu-satunya Anak].

NIV: God the One and Only [= satu-satunya Allah].

NASB: the only begotten God [= satu-satunya Allah yang diperanakkan].

 

Ada 4 golongan manuscript Yunani, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah sebagai berikut::

1.   The only begotten [= satu-satunya yang diperanakkan].

2.   The only begotten Son [= satu-satunya Anak yang diperanakkan].

3.   The only begotten Son of God [= satu-satunya Anak Allah yang diperanakkan].

4.   (The) only begotten God [= satu-satunya Allah yang diperanakkan].

 

Catatan: untuk yang ke 4 ini ada yang mengatakan bahwa ada definite article / kata sandang tertentu (the only begotten God’), tetapi kebanyakan mengatakan bahwa di sini tidak digunakan definite article / kata sandang tertentu (‘only begotten God’).

 

Kebanyakan penafsir (Jamieson, Fausset & Brown, A. T. Robertson, Vincent, Bruce Metzger, Leon Morris, A. H. Strong) menganggap bahwa manuscript yang keempatlah yang benar, dengan alasan:

 

a.         Ini didukung oleh manuscript yang paling kuno.

Makin kuno suatu manuscript, makin dekat manuscript itu dengan autograph / naskah aslinya, sehingga makin dipercaya. Makin baru suatu manuscript, makin jauh manuscript itu dari naskah aslinya sehingga makin tidak dipercaya.

Catatan: autograph adalah naskah asli, yang ditulis langsung oleh para penulis Kitab Suci, dan ini saja yang dianggap sebagai infallible dan inerrant (sama sekali tidak ada salahnya). Tetapi autograph ini sudah tidak ada lagi / musnah. Yang ada hanyalah salinan-salinan atau manuscript-manuscript, yang sudah mengandung kesalahan.

 

b.         Ini merupakan ‘bacaan yang lebih sukar’ (‘more difficult reading’).

Memang kalau ada perbedaan manuscript, biasanya bacaan yang lebih sukar / ‘lebih tidak masuk akal’ yang diterima, berdasarkan suatu anggapan logis bahwa penyalin manuscript itu lebih mungkin untuk mengubah dari ‘yang tidak masuk akal’ menjadi ‘yang masuk akal’, dari pada mengubah dari ‘yang masuk akal’ menjadi ‘yang tidak masuk akal’. Dengan kata lain, penyalin manuscript itu mungkin sekali mempermudah bacaan, tetapi tidak mungkin mempersukar bacaan.

 

Dalam peristiwa ini, kalau yang benar adalah yang no 1, maka tidak mungkin ada penyalin yang mengubahnya menjadi no 2 atau no 3, dan lebih-lebih tidak mungkin ada penyalin yang mengubah menjadi yang no 4, yang ‘begitu tidak masuk akal’.

Demikian juga kalau yang benar adalah no 2 atau no 3.

 

Sebaliknya, kalau no 4 yang benar, mungkin sekali para penyalin menganggap bacaan itu tidak masuk akal, dan ia menganggapnya sebagai pasti salah, sehingga ada yang  mengubahnya menjadi no 1, ada yang mengubahnya menjadi no 2, dan juga ada yang mengubahnya menjadi no 3.

 

c.   Saksi-Saksi Yehuwa juga menterjemahkan berdasarkan manuscript golongan 4 ini.

 

Dan Saksi-Saksi Yehuwa menganggap bahwa Yesus disebut demikian “karena keunikan kedudukannya sehubungan dengan Yehuwa” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 431.

 

Bagi saya, ini sama sekali tidak masuk akal. Mengapa kalau kedudukanNya unik, lalu harus disebut sebagai ‘satu-satunya Allah yang diperanakkan’? Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan keunikan!

 

Perhatikan bahwa dalam Yoh 1:18 ini Yesus disebut sebagai ‘satu-satunya Allah yang diperanakkan’. Kita mengakui Bapa sebagai Allah, Yesus sebagai Allah, dan Roh Kudus juga sebagai Allah (sekalipun kita tidak mengakui adanya 3 Allah). Bapa dan Roh Kudus tidak diperanakkan; hanya Yesus yang diperanakkan (ingat, ini tidak membicarakan Yesus sebagai manusia, pada waktu Ia diperanakkan oleh Maria. Ini membicarakan Yesus sebagai Allah!). Jadi tepatlah kalau dalam Yoh 1:18 ini dikatakan bahwa Yesus adalah ‘satu-satunya Allah yang diperanakkan’.

 

Yoh 1:14,18 dan Yoh 3:16 ini bisa dijadikan senjata dalam melawan Saksi Yehuwa, yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah ‘suatu allah’, yang adalah ciptaan pertama dari Allah, karena dalam ayat-ayat ini ditunjukkan secara jelas bahwa Yesus bukan diciptakan, tetapi diperanakkan. Ini menunjuk pada doktrin ‘the eternal generation of the Son’ yang akan saya jelaskan belakangan.

 

Ayat lain yang juga bisa dipakai untuk menunjukkan bahwa Yesus bukan dicipta tetapi dilahirkan / diperanakkan adalah Amsal 8:24-25 - “(24) Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. (25) Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir.”.

 

Dalam perdebatan saya dengan penatua Saksi Yehuwa, terhadap serangan ini ia menjawab bahwa: Yesus diperanakkan itu artinya Ia diciptakan oleh Bapa. Ia juga menunjuk kepada Adam yang juga disebut sebagai ‘anak Allah’ (Luk 3:38) sekalipun ia diciptakan oleh Bapa.

 

Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan: “Yesus disebut ‘Putra satu-satunya yang diperanakkan’ dari Allah karena Yehuwa menciptakan dia secara langsung. (Yohanes 3:16)” - ‘Pengetahuan Yang Membimbing Kepada Kehidupan Abadi’, hal 39.

 

Tanggapan saya:

 

Kata ‘Bapa’ memang bisa diartikan sebagai ‘sumber’ / ‘pencipta’, seperti dalam Yes 9:5 Yesus dikatakan sebagai ‘Bapa yang kekal’ (seharusnya ‘Bapa dari kekekalan’). Ini berarti bahwa Yesus adalah sumber / pencipta dari kekekalan.

 

Kalau ‘Bapa’ bisa diartikan sebagai sumber / pencipta, maka adalah sesuatu yang logis kalau ‘anak’ bisa diartikan sebaliknya, yaitu sebagai ‘ciptaan’. Dan mungkin arti inilah yang diambil pada waktu Adam, dan juga malaikat, disebut dengan istilah ‘anak Allah’ (Luk 3:38  Ayub 1:6).

 

Luk 3:38 - anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah..

 

Ayub 1:6 - Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis..

 

Saya katakan ‘mungkin’, karena masih ada kemungkinan lain, yaitu dengan mengartikan kata ‘anak’ sebagai ‘kemiripan’, seperti pada waktu ada orang-orang yang disebut sebagai ‘anak Iblis’ (1Yoh 3:10).

 

1Yoh 3:10 - Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya..

 

Tetapi pada saat Yesus disebut sebagai ‘Anak Allah’, pasti kata ‘Anak’ ini digunakan dalam arti yang berbeda, karena:

 

a)   Pada waktu Ia menggunakan istilah ‘Anak Allah’ untuk diriNya Ia dituduh menyamakan / menyetarakan diri dengan Allah, dan Ia tidak menyangkal tuduhan tersebut! Bdk. Yoh 5:18  Yoh 10:30-36.

 

Yoh 5:18 - Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan (menyetarakan) diriNya dengan Allah..

 

Yoh 10:30-36 - (30) Aku dan Bapa adalah satu. (31) Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. (32) Kata Yesus kepada mereka: ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari BapaKu yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?’ (33) Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan (membuat diriMu sendiri) Allah.’ (34) Kata Yesus kepada mereka: ‘Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? (35) Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah - sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan -, (36) masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusNya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?.

 

b)   Selain disebut ‘Anak Allah’, Ia juga disebut ‘Anak Tunggal Allah / Bapa’.

Kalau Yesus disebut ‘Anak’ dalam arti bahwa Ia dicipta oleh Allah, bagaimana mungkin Ia disebut ‘Anak yang Tunggal dari Allah / Bapa’?

 

c)   Berbeda dengan Adam dan malaikat-malaikat, yang oleh bagian-bagian lain dari Kitab Suci dikatakan sebagai diciptakan oleh Bapa / Allah (Kej 1  Yoh 1:3); maka untuk Yesus, Kitab Suci tidak pernah mengatakan seperti itu. Sebaliknya Kitab Suci menggambarkan Dia sebagai Pencipta (Yoh 1:3,10  Ibr 1:10).

 

Yoh 1:3,10 - (3) Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. ... (10) Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya..

 

1Kor 8:6 - namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup..

 

Ibr 1:8-10 - (8) Tetapi tentang (kepada) Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran. (9) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutuMu.’ (10) Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu..

 

Saya sendiri beranggapan bahwa pada waktu Yesus disebut dengan istilah ‘only begotten God’ (= satu-satunya Allah yang diperanakkan), maka:

1.   Secara implicit ini menunjukkan bahwa ada kejamakan dalam diri Allah (karena ada Allah yang diperanakkan, dan ada yang tidak) sehingga juga bisa digunakan sebagai dasar dari Allah Tritunggal.

2.   Ini menunjukkan bahwa Yesus betul-betul diperanakkan oleh Bapa. Karena itu ayat ini juga menjadi dasar dari doktrin the eternal generation of the Son, yang mengajarkan bahwa Anak diperanakkan secara kekal oleh Bapa.

3.   Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Bapa dan Roh Kudus adalah Allah, tetapi Mereka tidak pernah diperanakkan; Yesus adalah Allah, dan Ia diperanakkan. Jadi Ia adalah satu-satunya Allah yang diperanakkan.

 

A. H. Strong: “In John 1:18, μονογενὴς θεὸς - ‘the only begotten God’ - must be regarded as the correct reading, and as a plain ascription of absolute Deity to Christ.” [= Dalam Yoh 1:18, μονογενὴς θεὸς (MONOGENES THEOS) - ‘satu-satunya Allah yang diperanakkan’ - harus dianggap sebagai bacaan yang benar, dan sebagai pengakuan yang jelas atas keilahian yang mutlak kepada Yesus Kristus.] - ‘Systematic Theology’, hal 306.

 

Satu hal lain yang meneguhkan penafsiran ini adalah bahwa Yoh 1:18 ini juga menunjukkan bahwa Yesus itu maha ada. Ini bisa terlihat kalau kita melihat seluruh kontext dari Yoh 1:1-18 itu.

 

Yoh 1, yang mula-mula menyatakan bahwa Firman / Yesus itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah (Yoh 1:1), tetapi lalu menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu lalu menjadi manusia dan diam di antara kita (Yoh 1:14). Tetapi anehnya Yoh 1:18 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu masih ada di pangkuan (dada) Bapa.

 

Yoh 1:1,14,18 - “(1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. ... (14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. ... (18) Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan (dada) Bapa, Dialah yang menyatakanNya.”.

 

Perhatikan kata ‘ada’ dalam Yoh 1:18. Dalam bahasa Inggris digunakan present tense!!

 

KJV: which is in the bosom of the Father [= yang ada (present tense!) di dada Bapa].

NIV/NWT: who is at the Father’s side [= yang ada (present tense!) di sisi Bapa].

RSV/NASB/ASV/NKJV: who is in the bosom of the Father [= yang ada (present tense!) di dada Bapa].

YLT: who is on the bosom of the Father [= yang ada (present tense!) di dada Bapa].

 

Perhatikan bahwa NWT juga menggunakan present tense untuk bagian ini, dan menterjemahkannya persis seperti terjemahan dari NIV.

 

Kata bahasa Yunani yang digunakan adalah HO ON yang arti hurufiahnya adalah ‘the being’. Kata HO adalah definite article / kata sandang tertentu (‘the’), sedangkan ON adalah suatu participle yang ada dalam bentuk present.

 

Karena itu tepatlah kata-kata Calvin yang mengatakan: “For even if the Word in his immeasurable essence united with the nature of man into one person, we do not imagine that he was confined therein. Here is something marvel­ous: the Son of God descended from heaven in such a way, that without leaving heaven, he willed to be borne in the virgin’s womb, to go about the earth, and to hang upon the cross, yet he continuously filled the world even as he had done from the beginning!” [= Karena bahkan ketika Firman dalam hakekatNya yang tak terbatas, bersatu dengan hakekat manusia dalam satu pribadi, kami tidak membayang­kan bahwa Ia dibatasi di dalamnya. Ini adalah sesuatu yang menakjubkan: Anak Allah turun dari surga dengan cara sedemikian rupa, sehingga tanpa meninggalkan surga, Ia mau dikandung dalam kandungan perawan, berjalan-jalan di bumi, dan tergantung di kayu salib, tetapi Ia secara terus-menerus memenuhi alam semesta seperti yang Ia sudah lakukan dari semula!] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter XIII, no 4.

 

Ini menunjukkan kemaha-adaan Yesus! Sekalipun manusia Yesusnya terbatas, tetapi Anak Allah itu tidak terbatas di dalam manusia Yesus itu. Ia tetap maha ada! Karena hanya Allah yang bisa mempunyai sifat maha ada, maka ini juga membuktikan / mendukung keilahian Yesus, dan mendukung terjemahan ‘the only begotten God’ [= satu-satunya Allah yang diperanakkan].

 

Keberatan:

Ada orang yang membantah ajaran ini dengan mengatakan bahwa bentuk present itu menunjuk pada saat rasul Yohanes sedang menu­liskan Injil Yohanes ini, yaitu pada sekitar akhir abad I. Karena itu, ini hanya menunjukkan bahwa Yesus yang sudah bangkit dan naik ke surga itu, saat itu ada di dada / dalam pelukan Bapa.

 

Tanggapan saya:

 

Tetapi ini tidak mungkin, karena dalam ay 18 itu kata-kata ‘ada di dada Bapa’ jelas menjadi dasar yang menyebabkan Yesus itu bisa ‘menyatakan’ Bapa!

 

Yoh 1:18 - Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan (dada) Bapa, Dialah yang menyatakanNya..

 

Jadi jelas tidak menunjuk pada peristiwa yang terjadi pada akhir abad I, tetapi pada saat Yesus sedang menjadi manusia, atau bahkan bisa diartikan bahwa Yesus terus menerus ada di dada Bapa.

 

Perhatikan juga kutipan-kutipan di bawah ini:

 

a.         Pulpit Commentary (tentang Yoh 1:18):

“In view of the contention of Meyer that the language here refers to no agelong, eternal indwelling of the Logos with, or of the Son (God only begotten) on the bosom of, the Father, but to the exaltation of the Christ after his ascension, we can only refer to the present tense (HO ON), which from the standpoint of the prologue does not transfer itself to the historical standpoint of the writer at the end of the first century.” [= Tentang pandangan Meyer bahwa kata-kata di sini tidak menunjukkan bahwa Logos itu diam / tinggal secara kekal bersama-sama, atau di dada, Bapa, tetapi menunjuk pada pemuliaan Kristus setelah kenaikanNya, kami bisa hanya menunjuk pada present tense (HO ON), yang dari sudut pandang pendahuluan (pendahuluan Injil Yohanes), tidak mentranfer dirinya sendiri ke sudut pandang historis dari penulis pada akhir abad pertama.] - hal 24.

 

Keterangan: jadi, present tense itu ditinjau dari sudut pandang pendahuluan Injil Yohanes (Yoh 1:1-18), bukan dari sudut pandang saat penulisan Injil Yohanes.

 

b.         Leon Morris (tentang Yoh 1:18):

“The copula ‘is’ expresses a continuing union. The only begotten is continually in the bosom of the Father.” [= Kata kerja penghu­bung ‘is’ {= ada} menunjukkan kesatuan yang terus menerus. Anak Tunggal itu terus menerus ada di dada Bapa.] - hal 114.

 

c.         William Hendriksen (tentang Yoh 1:18):

“Besides, the added clause ‘who lies upon the Father’s breast’ indicates a relation of abiding closeness between the Father-God and the Son-God.” [= Disamping itu, anak kalimat tambahan ‘yang bersandar di dada Bapa’ menunjukkan suatu hubungan dekat yang kekal antara Allah Bapa dan Allah Anak.]. hal 90.

 

d.         Pulpit Commentary (tentang Yoh 1:18):

“... in this verse he is speaking of the timeless condition, the eternal fellowship, of the Only Begotten with the Father, as justifying the fulness of the revelation made in his incarnation.” [= ... dalam ayat ini ia berbicara tentang kondisi yang kekal, persekutuan kekal, dari Anak Tunggal dengan Bapa, sebagai dasar / pembenaran kepenuhan wahyu yang dibuat dalam inkarnasiNya.] -hal 24.

 

e.         William Barclay (tentang Yoh 1:18):

“When John uses this phrase about Jesus, he means that between Jesus and God there is complete and uninterrupted intimacy. It is because Jesus is so intimate with God, that he is one with God and can reveal him to men.” [= Ketika Yohanes menggunakan istilah ini tentang Yesus, ia memaksudkan bahwa antara Yesus dan Allah ada keintiman yang lengkap dan tak putus-putusnya. Justru karena Yesus begitu intim dengan Allah, dan satu dengan Allah, maka Ia bisa menyatakan Dia kepada manusia.] - hal 74.

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali