KEBAKTIAN online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 22 Oktober 2023, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

bukti-bukti bahwa

yesus adalah allah(2d)

 

4.   Contoh-contoh yang salah / tidak cocok yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

Robert Bowman, dalam bukunya ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 56-57, mengatakan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa sering sekali menggunakan Kis 28:6, dan kadang-kadang juga menggunakan Kis 12:22, untuk menunjukkan bahwa THEOS bisa diterjemahkan ‘a god’ (= suatu allah). Mari kita menyoroti kedua text itu.

 

a.   Kis 28:6 - “Namun mereka menyangka, bahwa ia akan bengkak atau akan mati rebah seketika itu juga. Tetapi sesudah lama menanti-nanti, mereka melihat, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, maka sebaliknya mereka berpendapat, bahwa ia seorang dewa [KJV/NWT: ‘a god’ (= suatu allah).].

 

Tetapi Bowman lalu mengatakan 2 hal sebagai jawaban, yaitu:

 

(1) Dalam Kis 28:6 ini, berbeda dengan dalam Yoh 1:1, kata THEON digunakan setelah kata kerja. Karena itu, tentu ini tidak sesuai dengan pembahasan dari Yoh 1:1 ini.

 

(2) Orang-orang yang mengatakan kata-kata itu jelas adalah orang-orang kafir yang menganut polytheisme, dan karena itu mereka bisa mengatakan bahwa Paulus adalah ‘a god’ (= suatu allah).

 

b.   Kis 12:22 - “Dan rakyatnya bersorak membalasnya: ‘Ini suara allah [KJV/NWT: ‘a god’ (= suatu allah)] dan bukan suara manusia!’”.

 

Tentang ayat ini Bowman memberikan jawaban sebagai berikut:

(1) Dalam ayat ini kata digunakan kata THEOU, yang bukan berada dalam kasus nominatif, tetapi kasus genitif. Menurut Bowman, peraturan Colwell berlaku untuk kata benda yang ada dalam kasus nominatif (hal 57).

(2) Seruan / teriakan dalam ayat itu, ditujukan kepada Herodes, dan karena itu jelas lagi-lagi harus diartikan sebagai allah palsu.

 

Bowman lalu menambahkan bahwa dalam Perjanjian Baru, kata THEOS dalam bentuk tunggal, selalu menunjuk kepada Allah yang benar atau kepada allah palsu (Yoh 10:33  Kis 7:43  Kis 12:22  Kis 17:23  Kis 28:6  2Kor 4:4  Fil 3:19  2Tes 2:4). Dan kalau menunjuk kepada allah palsu, kontext selalu menunjukkan hal itu dengan jelas.

 

Kata THEOS bentuk tunggal ini tidak pernah menunjuk kepada ‘a god’ (= suatu allah), yang bukan Allah yang benar dan juga bukan allah yang palsu, atau yang berada di antara Allah yang benar dan allah yang palsu.

 

Karena itu, bagaimana mungkin Saksi-Saksi Yehuwa menterjemahkan Yoh 1:1c sebagai ‘a god’ (= suatu allah) dan menafsirkannya sebagai ‘allah sekunder / kecil’?

 

5.   Ketidak-konsistenan Saksi-Saksi Yehuwa berkenaan dengan peraturan Colwell.

Dalam bagian di atas terlihat bahwa Saksi-Saksi Yehuwa menggunakan peraturan Colwell.

Untuk mengingatkan kembali, saya beri ulang kutipan kata-kata Saksi-Saksi Yehuwa dalam pelajaran minggu lalu:

 

Jadi ia (Colwell) pun mengakui bahwa bila ikatan kalimat menun­tut hal itu, para penterjemah dapat menyisipkan kata sandang tidak tentu (Indefinite article) di depan kata benda dalam susu­nan kalimat sejenis ini. Apakah ikatan kalimatnya menuntut kata sandang tidak tentu dalam Yohanes 1:1? Ya, karena bukti dari seluruh Alkitab menunjukkan bahwa Yesus bukan Allah Yang Mahakua­sa. Jadi, yang harus membimbing penerjemah dalam hal-hal seperti itu bukan peraturan tata bahasa dari Colwell yang meragukan, tetapi ikatan kalimatnya.”. - ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 28.

 

Tetapi dalam bagian-bagian lain mereka menyerang peraturan tersebut, dan menyebutnya sebagai peraturan yang meragukan dan dibuat-buat, dan lalu menambahkan bahwa ikatan kalimat / kontextlah yang harus menentukan penterjemahan bagian akhir dari Yoh 1:1 tersebut.

 

Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan: “di sini pula ikatan kalimatnya memberikan dasar untuk pengertian yang benar. Ayat itu berbunyi: ‘Firman itu bersama-sama dengan Allah.’ ... jika bagian akhir dari Yohanes 1:1 dianggap mengartikan Allah sendiri, hal ini ‘akan bertentangan dengan ungkapan sebelumnya,’ yang mengatakan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah. ... karena Yohanes 1:1 itu memperlihatkan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah, ia tidak mungkin adalah Allah melainkan ‘suatu allah,’ atau ‘ilahi’. ... Jadi, yang harus membimbing penerjemah dalam hal-hal seperti itu bukan peraturan tata bahasa dari Colwell yang meragukan, tetapi ikatan kalimatnya. Dan jelas dari banyak terjemahan-terjemahan yang menyisipkan kata sandang tidak tentu ‘suatu’ dalam Yohanes 1:1 dan di ayat-ayat lain, bahwa banyak sarjana tidak menyetujui peraturan yang dibuat-buat seperti di atas, demikian juga Firman Allah.” - ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 26,27,28.

 

Dan mengenai kontext, dalam buku ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 431, Saksi-Saksi Yehuwa menambahkan bahwa terjemahan ‘Firman (Yesus) itu adalah Allah’, bertentangan dengan Yoh 1:18. Mengapa? Karena Yoh 1:18 mengatakan bahwa ‘tidak seorangpun yang pernah melihat Allah’, padahal banyak orang pernah melihat Yesus, dan karena itu Yesus pasti bukan Allah.

 

Jawaban saya:

 

a.         Berkenaan dengan peraturan Colwell:

 

(1) Sikap dari Saksi-Saksi Yehuwa ini betul-betul sangat tidak konsisten / plin-plan. Kalau mereka mengakui peraturan Colwell, mengapa di sini mereka menyerangnya? Kalau mereka tidak mengakuinya, mengapa tadi di atas, mereka menggunakannya?

 

(2) Bahwa ada banyak sarjana yang tidak menyetujui peraturan Colwell itu, dan bahwa ada banyak terjemahan yang mendukung pandangan Saksi Yehuwa, sama sekali tidak menunjukkan bahwa Saksi Yehuwa memang benar, dan Colwell salah. Pertama sarjana yang bagaimana yang mereka maksudkan? Yang abal-abal / sesat? Mengapa mereka tidak menybutkan nama sarjana-sarjana itu?

Saya juga bisa mengutip banyak sarjana / penafsir / ahli theologia yang setuju dengan Colwell. Saya bahkan bisa memberikan nama-nama mereka, seperti Robert M. Bowman Jr., James Hope Moulton, A. T. Robertson, Dana & Mantey, dan sebagainya.

 

Dan saya juga bisa mengutip banyak sarjana / penafsir / ahli theologia yang setuju dengan penterjemahan yang umum dari Yoh 1:1 - ‘Firman itu adalah Allah’, seperti Calvin, William Hendriksen, Adam Clarke, Leon Morris, A. H. Strong, dsb.

 

Juga berbagai Alkitab bahasa Inggris, seperti KJV/ASV/RSV/NIV/NASB/NKJV/YLT menterjemahkan secara seragam, yaitu ‘the Word was God’ (= Firman itu adalah Allah).

 

b.         Berkenaan dengan kontext:

 

(1) Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan bahwa jika Yoh 1:1c itu diterjemahkan ‘Firman itu adalah Allah’, maka bagian itu akan bertentangan dengan kata-kata ‘Firman itu bersama-sama dengan Allah’ (Yoh 1:1b). Jadi mereka mengatakan bahwa terjemahan seperti itu tidak sesuai dengan kontextnya.

 

Ini merupakan kata-kata yang bodoh, karena dua kalimat itu hanya akan bertentangan, bagi orang-orang yang menganut monotheisme mutlak, yang adalah doktrin yang salah / sesat.

 

Tetapi kalau kita mempercayai doktrin Allah Tritunggal, maka 2 bagian itu justru menjadi harmonis. Bagian pertama (Yoh 1:1b) menunjukkan perbedaan pribadi, sedangkan bagian kedua (Yoh 1:1c) menekankan kesatuan hakekat.

 

Atau, bisa juga dikatakan bahwa bagian pertama (ay 1b) menunjukkan bahwa Yesus dan Bapa itu adalah pribadi yang berbeda, sedangkan bagian kedua (ay 1c) menunjukkan bahwa sekalipun Yesus bukan Bapa, tetapi Ia juga adalah Allah!

 

Yoh 1:1b,c: Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah..

 

Calvin: “That there may be no remaining doubt as to Christ’s divine essence, the Evangelist distinctly asserts that he is God. Now since there is but one God, it follows that Christ is of the same essence with the Father, and yet that, in some respect, he is distinct from the Father.” [= Supaya tidak ada keraguan yang tersisa berkenaan dengan hakekat ilahi Kristus, sang Penginjil (rasul Yohanes) menegaskan dengan jelas bahwa Ia adalah Allah. Karena hanya ada satu Allah, maka kesimpulannya adalah bahwa Kristus adalah dari hakekat yang sama dengan Bapa, tetapi bahwa dalam hal tertentu, Ia berbeda (distinct) dengan Bapa.] - hal 29.

 

(2) Kontext justru mendukung terjemahan ‘Firman itu adalah Allah’, karena:

 

(a) Dalam Yoh 1:1a sudah dikatakan bahwa Firman itu ada ‘pada mulanya’, yang menunjukkan kekekalan dari Firman itu.

 

(b) Dan baru dalam Yoh 1:3 dikatakan bahwa Firman itu menciptakan segala sesuatu.

Tentang Yoh 1:3 ini perhatikan komentar-komentar sebagai berikut:

 

William Barclay: “the word is not one of the created things; the word was there before creation.” (= Firman itu bukan salah satu dari hal-hal yang diciptakan; Firman itu telah ada di sana sebelum penciptaan.) - hal 37.

 

B. B. Warfield: “Thus He is taken out of the category of creatures altogether.” (= Maka Ia dikeluarkan sama sekali dari kategori ciptaan-ciptaan.) - ‘The Person and Work of Christ’, hal 53.

 

Adam Clarke: “the Word was the creator of the world, is equivalent to the assertion, that he was GOD in the highest possible sense.” (= Firman adalah pencipta dari dunia / alam semesta, merupakan sesuatu yang sama dengan penegasan, bahwa Ia adalah ALLAH dalam arti tertinggi yang dimungkinkan.) - ‘Preface to the Gospel of John’, hal 510.

 

C. H. Spurgeon: “Who less than God could make the heavens and the earth?” (= Siapa yang kurang dari Allah bisa membuat langit dan bumi?) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol 2, hal 217.

 

Bandingkan ini dengan ajaran Saksi Yehuwa yang mengatakan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama dan langsung dari Allah Bapa, dan lalu dengan perantaraan Yesus, Bapa menciptakan segala sesuatu.

 

(3) Terjemahan ‘Firman itu adalah Allah’ juga tidak bertentangan dengan Yoh 1:18 - “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya.”. Mengapa?

 

Karena:

(a) Kata-kata ‘melihat Allah’ dalam Yoh 1:18 itu maksudnya adalah ‘melihat Allah dengan seluruh kemuliaan dan kebesaranNya’.

(b) Orang banyak yang melihat Yesus itu hanya melihat Yesus sebagai manusia, bukan Yesus sebagai Allah.

(c)  Yoh 1:18 sebetulnya juga menunjukkan Yesus sebagai Allah. Ini terlihat dari:

·        sebutan ‘Anak Tunggal Allah’ untuk Yesus itu seharusnya adalah ‘satu-satunya Allah yang diperanakkan’ (NASB/NWT/TDB). Ini akan saya bahas belakangan.

·        ke-mahaada-an Yesus yang ditunjukkan oleh ayat ini. Ini juga akan saya bahas belakangan.

 

f)    Kata sandang tertentu / tidak tertentu dalam bahasa Yunani dan hubungannya dengan kata ‘Allah’.

 

1.   Berbeda dengan bahasa Inggris yang mempunyai indefinite article / kata sandang tidak tertentu (yaitu ‘a’ / ‘an’), maka bahasa Yunani tidak mempunyainya.

 

Dana & Mantey: “The Greek had no indefinite article, though TIS and EIS sometimes approximated this idiom (cf. Lk. 10:25; Mt. 8:19).” [= Bahasa Yunani tidak mempunyai kata sandang tidak tertentu, sekalipun TIS dan EIS kadang-kadang sangat dekat / mirip dengan ungkapan ini (bdk. Luk 10:25; Mat 8:19).] - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 136.

 

2.   Fungsi / kegunaan dari kata sandang tertentu dalam bahasa Yunani.

 

Dana & Mantey: “The function of the article is to point out an object or to draw attention to it. Its use with a word makes the word stand out distinctly.” [= Fungsi dari kata sandang (tertentu) adalah untuk menunjukkan suatu obyek atau untuk menarik perhatian kepada obyek itu. Penggunaannya dengan suatu kata membuat kata itu menonjol secara jelas.] - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 137.

 

3.   Digunakan atau tidak digunakannya definite article / kata sandang tertentu dalam bahasa Yunani.

 

a.   Ada atau tidaknya kata sandang tertentu dalam bahasa Yunani tidak selalu sama dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris.

Jadi, sering terjadi dimana kata Yunani yang mempunyai kata sandang tertentu diterjemahkan ke bahasa Inggris tanpa kata sandang tertentu, seperti kata ‘God’ (= Allah) yang pertama dalam Yoh 1:1b itu, yang dalam bahasa Yunaninya adalah TON THEON (= the God).

Demikian pula sebaliknya, kata Yunani yang tidak mempunyai kata sandang tertentu kadang-kadang harus diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan menggunakan kata sandang tertentu (Lihat point c. di bawah).

 

Dana & Mantey: “It is important to bear in mind that we cannot determine the English translation by the presence or absence of the article in Greek. Sometimes we should use the article in the English translation when it is not used in the Greek, and sometimes the idiomatic force of the Greek article may best be rendered by an anarthrous noun in English.” (= Penting untuk diingat bahwa kita tidak bisa menentukan terjemahan bahasa Inggris dengan ada atau tidak adanya kata sandang dalam bahasa Yunaninya. Kadang-kadang kita harus menggunakan kata sandang dalam terjemahan bahasa Inggris pada waktu kata sandang itu tidak digunakan dalam bahasa Yunaninya, dan kadang-kadang kekuatan dari ungkapan dari kata sandang bahasa Yunani bisa diterjemahkan dengan paling baik oleh suatu kata benda yang tidak mempunyai kata sandang dalam bahasa Inggris.) - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 150-151.

 

b.   Kalau suatu kata benda dalam bahasa Yunani mempunyai kata sandang tertentu, maka benda itu pasti tertentu; tetapi sebaliknya, kalau suatu kata benda tidak mempunyai kata sandang tertentu, maka bendanya bisa tertentu bisa tidak.

 

Dana & Mantey mengutip kata-kata A. T. Robertson: “Whenever the article occurs the object is certainly definite. When it is not used the object may or may not be” (= Pada waktu kata sandang itu muncul, obyeknya pasti tertentu. Pada waktu kata sandang itu tidak digunakan, obyeknya bisa tertentu atau tidak tertentu) - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 137.

 

c.   Nama-nama, dan semua kata-kata benda yang merupakan obyek tunggal, seperti ‘kematian’, ‘kehidupan’, ‘dunia’, dsb. tidak membutuhkan kata sandang tertentu untuk menjadi tertentu.

 

A. T. Robertson, dalam tafsirannya tentang 1Kor 3:22, mengatakan: “All the words in this verse and 23 are anarthrous, though not indefinite, but definite. ... Proper names do not need the article to be definite nor do words for single objects like ‘world,’ ‘life,’ ‘death.’ (= Semua kata-kata dalam ayat ini dan ayat 23 tidak mempunyai kata sandang tertentu, sekalipun bukannya tidak tertentu, tetapi tertentu. ... Nama-nama yang sungguh-sungguh tidak membutuhkan kata sandang tertentu supaya menjadi tertentu, dan demikian juga dengan obyek-obyek tunggal seperti ‘dunia’, ‘kehidupan’, ‘kematian’.) - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol IV, hal 100,101.

 

Kata-kata A. T. Robertson ini tentu juga bisa diterapkan untuk kata ‘Allah’, karena Allah juga merupakan obyek tunggal! Jadi, kata ‘Allah’ sekalipun tidak menggunakan kata sandang tertentu, tetap tertentu, dan karena itu tidak bisa diterjemahkan ‘a god’ / ‘suatu allah’!

 

Dana & Mantey: “Sometimes with a noun which the context proves to be definite the article is not used.” (= Kadang-kadang dengan suatu kata benda yang kontextnya membuktikan sebagai tertentu, kata sandang tertentu tidak digunakan.) - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 149.

 

Kesimpulan: tidak adanya kata sandang tertentu sebelum kata ‘God’ / ‘Allah’ dalam Yoh 1:1c dalam bahasa Yunaninya, tidak membuat kata itu menjadi tidak tertentu.

 

4.   Kata ‘Allah’ (secara umum, bukan hanya dalam Yoh 1:1 ini) tidak harus mempunyai kata sandang tertentu.

 

Gresham Machen: “THEOS, HO, a god, God (When it means God, THEOS may have the article).” [= THEOS, HO, ‘suatu allah’, ‘Allah’ (Pada waktu itu berarti ‘Allah’, THEOS bisa / boleh mempunyai kata sandang).] - ‘New Testament Greek For Beginners’, hal 39.

 

Perhatikan bahwa ia menggunakan kata ‘may’ (= bisa / boleh). Itu berarti ‘tidak harus’.

 

Dana & Mantey mengutip kata-kata A. T. Robertson yang mengomentari kata THEOS berkenaan dengan kata sandang, dengan kata-kata sebagai berikut: (THEOS) is treated like a proper name and may have it or not have it” [= (THEOS) diperlakukan seperti nama sungguh-sungguh dan bisa mempunyai kata sandang atau tidak mempunyainya] - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 140.

 

Catatan: ini menjadi sama seperti kata Yunani KURIOS (= Tuhan), yang juga sering dianggap sebagai ‘proper name’ (= nama sungguh-sungguh), dan lalu tidak diberi kata sandang tertentu.

 

Walter Martin: “Omission of the article with THEOS does not mean that ‘a god’ other than the one true God is meant. ... In other words, the writers of the New Testament frequently do not use the article with THEOS and yet the meaning is perfectly clear in the context, namely that the One True God is intended.” (= Tidak adanya kata sandang dengan THEOS tidak berarti bahwa yang dimaksudkan adalah ‘suatu allah’ yang lain / berbeda dari satu-satunya Allah yang benar. ... Dengan kata lain, penulis-penulis dari Perjanjian Baru sering tidak menggunakan kata sandang dengan THEOS tetapi artinya sangat jelas dalam kontext, yaitu bahwa satu-satunya Allah yang benar yang dimaksudkan.) - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 86,87.

 

Catatan: ada ratusan kali penggunaan kata ‘Allah’ tanpa menggunakan definite article / kata sandang tertentu dalam Perjanjian Baru.

 

5.   Perbedaan antara kata ‘Allah’ yang menggunakan kata sandang tertentu dan kata ‘Allah’ yang tidak menggunakannya.

 

Dana & Mantey mengatakan bahwa kata ‘Allah’ (THEOS) yang tidak menggunakan kata sandang tertentu menunjukkan hakekat ilahi, sedangkan kalau menggunakan kata sandang tertentu menunjukkan kepribadian ilahi.

 

Dana & Mantey: “without the article THEOS signifies divine essence, while with the article divine personality is chiefly in view.” [= tanpa kata sandang kata THEOS menunjuk kepada hakekat ilahi, sedangkan dengan kata sandang kepribadian ilahi yang secara terutama dituju / dipertimbangkan.] - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 139-140.

 

Ia lalu memberi contoh: dalam Yoh 1:1b - ‘Firman itu bersama-sama dengan Allah’, kata ‘Allah’ menggunakan kata sandang tertentu, dan ini berarti bahwa Firman / Yesus itu mempunyai persekutuan dengan pribadi dari Bapa.

 

Tetapi dalam Yoh 1:1c - ‘Firman itu adalah Allah’, kata ‘Allah’ tidak menggunakan kata sandang tertentu, dan ini berarti bahwa Yesus berpartisipasi dalam hakekat ilahi (‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 139-140).

 

Dana & Mantey menambahkan: “THEOS occurs without the article ... where the Deity is contrasted with what is human, or with the universe as distinct from its Creator,” [= THEOS muncul tanpa kata sandang ... dimana Allah / KeAllahan dikontraskan dengan apa yang manusiawi, atau dengan alam semesta yang dibedakan dengan Penciptanya,] - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 140.

 

Ini cocok kalau diterapkan dalam Yoh 1:1. Yesus disebut THEOS tanpa definite article / kata sandang tertentu, karena memang dalam text itu keilahianNya dikontraskan dengan segala sesuatu yang Ia ciptakan (Yoh 1:3).

 

6.   Tidak adanya definite article / kata sandang tertentu sebelum kata ‘Allah’ dalam Yoh 1:1 menunjukkan bahwa THEOS adalah predikat, dan adanya definite article sebelum kata LOGOS menunjukkan bahwa LOGOS adalah subyeknya.

 

Karena itu Yoh 1:1c ini tidak boleh diterjemahkan ‘Allah adalah Firman itu’, tetapi harus diterjemahkan ‘Firman itu adalah Allah’.

 

A. H. Strong: In John 1:1 - Θεὸς ἦν ὁ λόγος - the absence of the article shows Θεός to be the predicate (cf. 4:24 - πνεῦμα ὁ Θεός). This predicate precedes the verb by way of emphasis, to indicate progress in the thought - ‘the Logos was not only with God, but was God’ ... ‘Only ὁ λόγος can be the subject, for in the whole Introduction the question is, not who God is, but who the Logos is’ (Godet). [= Dalam Yoh 1:1 - θεὸς ἦν ὁ λόγος (THEOS EN HO LOGOS / Firman itu adalah Allah) - tidak adanya kata sandang menunjukkan Θεός sebagai predikat (bdk. 4:24 - πνεῦμα ὁ θεός / PNEUMA HO THEOS / Allah adalah Roh). Predikat ini mendahului kata kerja sebagai penekanan, untuk menunjukkan kemajuan pemikiran dari ayat itu - ‘LOGOS itu bukan hanya bersama dengan Allah, tetapi adalah Allah’ ... ‘Hanya ὁ λόγος (the Word / Firman) bisa menjadi subyek, karena dalam seluruh Pengantar / Pendahuluan (dari Injil Yohanes - Yoh 1:1-18) pertanyaannya bukanlah siapa Allah itu, tetapi siapa LOGOS itu’ (Godet).] - ‘Systematic Theology’, hal 305-306.

 

Dana & Mantey: “The article sometimes distinguishes the subject from the predicate in a copulative sentence. ... in John 1:1, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος, ‘and the word was deity.’ The article points out the subject in these examples.” (= Kata sandang kadang-kadang membedakan subyek dari predikatnya dalam suatu kalimat yang menggunakan kata kerja ‘to be’. ... dalam Yoh 1:1, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος, ‘dan firman itu adalah Allah’. Kata sandang itu menunjukkan subyeknya dalam contoh-contoh ini.) - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 148.

 

7.   Pembahasan ajaran Saksi-Saksi Yehuwa yang menganggap bahwa kedua kata (LOGOS dan THEOS) harus menggunakan definite article / kata sandang tertentu.

 

Tuntutan konyol ini menunjukkan mereka sama sekali tidak mengerti gramatika bahasa Yunani, atau mereka sengaja mau menipu orang. Mengapa?

 

Karena kalau kata ‘Firman’ dan kata ‘Allah’ dalam Yoh 1:1c itu kedua-duanya menggunakan definite article, maka subyek dan predikatnya bisa dibolak-balik. Jadi, kita bisa menterjemahkan ‘Firman itu adalah Allah’ atau ‘Allah itu adalah Firman’. Dengan demikian terjadi pencampur-adukkan antara ‘Firman’ dengan ‘Allah’, sehingga Yoh 1:1 ini akan mendukung ajaran sesat Sabellianisme.

 

William Barclay: “John did not say that the word was HO THEOS; that would have been to say that the word was identical with God.” (= Yohanes tidak mengatakan bahwa Firman itu adalah HO THEOS; (karena) itu akan sama dengan mengatakan bahwa Firman itu identik dengan Allah.) - hal 39.

 

Leon Morris (NICNT): “How else in Greek would one say, ‘the Word was God’? And, as Westcott says, an article would equate THEOS and LOGOS, and would be ‘pure Sabellianism’. Had this been John’s meaning he could not have said ‘the Word was with God’.” [= Dengan cara lain apa lagi dalam bahasa Yunani seseorang akan mengatakan ‘(Sang) Firman itu adalah Allah’? Dan, seperti yang dikatakan Westcott, suatu kata sandang akan menyamakan THEOS / Allah dan LOGOS / Firman, dan akan menjadi ‘Sabellianisme yang murni’. Andaikata ini arti dari Yohanes, ia tidak bisa berkata ‘(Sang) Firman itu bersama dengan Allah’.] - hal 77, footnote.

 

A. T. Robertson: “‘And the Word was God’ (KAI THEOS EN HO LOGOS). By exact and careful language John denied Sabellianism by not saying HO THEOS EN HO LOGOS. That would mean that all of God was expressed in HO LOGOS and the terms would be interchangeable, each having the article.” [= Dan (sang) Firman itu adalah Allah (KAI THEOS EN HO LOGOS). Dengan bahasa yang tepat / seksama dan hati-hati Yohanes menyangkal Sabellianisme dengan tidak berkata HO THEOS EN HO LOGOS. Itu akan berarti bahwa seluruh Allah dinyatakan dalam HO LOGOS / the Word / sang Firman dan istilah-istilah itu akan bisa dibolak-balik, karena masing-masing mempunyai kata sandang.] - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 5, hal 4.

 

A. H. Strong: The predicate stands emphatically first. It is necessarily without the article, inasmuch as it describes the nature of the Word and does not identify his person. It would be pure Sabellianism to say: ‘The Word was HO THEOS.’ ... “The Word is distinguishable from God, yet θεὸς ἦν ὁ λόγος - the Word was God, of divine nature; not ‘a God,’ which to a Jewish ear would have been abominable, nor yet identical with all that can be called God, for then the article would have been inserted (cf. 1John 3:4).” [= Predikatnya diletakkan di depan untuk menekankan. Itu harus tanpa kata sandang, karena itu menggambarkan hakekat dari Firman dan tidak memberikan identifikasi / ciri-ciri dari pribadiNya. Akan merupakan Sabellianisme yang murni untuk mengatakan: ‘(sang) Firman itu adalah HO THEOS (sang Allah)’. ... "(Sang) Firman itu dibedakan dari Allah, sekalipun demikian THEOS EN HO LOGOS - (sang) Firman adalah Allah, dari hakekat ilahi, bukan ‘suatu allah’, yang bagi telinga orang Yahudi merupakan sesuatu yang menjijikkan, juga tidak identik dengan semua yang bisa disebut Allah, karena jika demikian kata sandang akan sudah dimasukkan (bdk. 1Yoh 3:4).”] - ‘Systematic Theology’, hal 306.

 

A. H. Strong juga memberikan contoh ayat dimana kedua kata benda menggunakan definite article / kata sandang tertentu, sehingga kedua kata benda itu menjadi betul-betul identik, dan bisa dibolak-balik, yaitu 1Yoh 3:4.

 

1Yoh 3:4 - “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.”.

 

Kata ‘Allah’ sebetulnya tidak ada, dan kata ‘dosa’ (he HAMARTIA) maupun kata ‘pelanggaran hukum’ (HE ANOMIA) menggunakan definite article / kata sandang tertentu. Dengan demikian ‘dosa’ dan ‘pelanggaran hukum’ betul-betul identik, sehingga kalimatnya bisa dibalik: ‘pelanggaran hukum adalah dosa’.

 

Kasus lain yang serupa adalah Luk 8:11 - ‘Benih itu ialah firman Allah’ / The seed is the word of God’ (HO SPOROS ESTIN HO LOGOS TOU THEOU). Di sini baik kata ‘benih’ (HO SPOROS) maupun kata ‘firman’ (HO LOGOS) mempunyai definite article / kata sandang tertentu, sehingga bisa diterjemahkan ‘Firman Allah adalah benih’.

 

A. T. Robertson: “The article with both subject and predicate as here means that they are interchangeable and can be turned round: ‘The word of God is the seed’.” (= Kata sandang dengan subyek maupun predikat seperti di sini berarti bahwa mereka bisa dibolak-balik dan bisa ditukar tempatnya: ‘Firman Allah adalah benih’.) - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 2, hal 113.

 

Dana & Mantey: “When the article is used with the predicate, it marks its essential identity with the subject. Thus ἁμαρτία ἐστὶν ἡ ἀνομία (1Jn. 3:4) makes sin identical with lawlessness.” [= Pada waktu kata sandang tertentu digunakan dengan predikat, itu menandakan keidentikannya yang hakiki dengan subyeknya. Karena itu ἁμαρτία ἐστὶν ἡ ἀνομία / HE HAMARTIA ESTIN HE ANOMIA (1Yoh 3:4) membuat dosa identik dengan ke-tidak-taat-an terhadap hukum.] - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 152.

 

Dana & Mantey: “The article sometimes distinguishes the subject from the predicate in a copulative sentence. ... in John 1:1, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος, and the word was deity. The article points out the subject ... Neither ... was the word all of God, as it would mean if the article were also used with θεὸς. ... In a convertible proposition, where the subject and predicate are regarded as interchangeable, both have the article (cf. 1Cor. 15:56).” [= Kata sandang (tertentu) kadang-kadang membedakan subyek dari predikat dalam suatu kalimat yang menggunakan kata kerja ‘to be’ (= adalah). ... dalam Yoh 1:1, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος, dan (sang) Firman adalah Allah. Kata sandang tertentunya menunjukkan subyeknya. ... Firman bukan seluruh dari Allah, sebagaimana akan menjadi arti dari kalimat itu seandainya kata sandang tertentu juga digunakan dengan θεὸς. ... Dalam suatu ungkapan yang dapat dibalik, dimana subyek dan predikatnya dianggap bisa dibolak-balik, keduanya mempunyai kata sandang tertentu (bdk. 1Kor 15:56).] - ‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 148,149.

 

1Kor 15:56 - Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.”.

 

a.   Baik ‘sengat (dari) maut’ (TO KENTRON TOU THANATOU) maupun ‘dosa’ (HE HAMARTIA) sama-sama mempunyai definite article / kata sandang tertentu, dan karena itu bisa diterjemahkan ‘sengat (dari) maut ialah dosa’ atau ‘dosa ialah sengat (dari) maut’.

 

b.   Demikian juga ‘kuasa dosa’ (HE DUNAMIS TES HAMARTIAS) maupun ‘hukum Taurat’ (HO NOMOS), sama-sama mempunyai definite article / kata sandang tertentu, sehingga bisa diterjemahkan ‘kuasa dosa ialah hukum Taurat’ atau ‘hukum Taurat ialah kuasa dosa’.

 

Jadi, seandainya dalam Yoh 1:1 digunakan kata sandang tertentu untuk ‘Firman’ maupun ‘Allah’, maka bagian itu bisa diterjemahkan ‘Firman adalah Allah’ maupun ‘Allah adalah Firman’. Dengan demikian ‘Firman’ dan ‘Allah’ betul-betul menjadi identik, dan ini salah (menimbulkan Sabellianisme).

 

g)   Kesimpulan dan illustrasi.

Yoh 1:1c secara benar diterjemahkan ‘dan Firman itu adalah Allah’ asal kita tahu / menyadari bahwa kata ‘Allah’ dalam Yoh 1:1c itu tidak diidentikkan dengan kata ‘Allah’ dalam Yoh 1:1b.

 

Para penafsir / ahli bahasa yang tidak mau menterjemahkan ‘dan Firman itu adalah Allah’, hanya melakukan itu karena takut bahwa kata ‘Allah’ dalam Yoh 1:1b disamakan / diidentikkan dengan kata ‘Allah’ dalam Yoh 1:1c, bukan karena mereka setuju dengan penterjemahan Saksi-Saksi Yehuwa.

 

Untuk itu ada seorang penulis di internet yang memberikan ilustrasi sebagai berikut:

 

Yoh 1:1 - “In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God (= Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah).

 

“In the beginning was EVE, and EVE was with MAN, and EVE was MAN” (= Pada mulanya adalah HAWA, dan HAWA bersama-sama dengan MAN, dan HAWA adalah MAN).

 

Dan ia lalu berkata: “Just as ‘man’ can refer specifically to male to the exclusion of female, So also ‘God’ can refer to the Father to the exclusion of the Son. However, just as ‘man’ can include both male and female as a class of being, (Gen 5:2 ‘He created them male and female, and He blessed them and named them Man’), so too ‘God’ can include both Father and Son as a class of being, as in John 1:1.” [= Sama seperti ‘man’ (= orang laki-laki) bisa menunjuk secara khusus kepada orang laki-laki dengan tidak mengikutkan perempuan, demikian juga ‘Allah’ bisa menunjuk kepada sang Bapa dengan tidak mengikutkan Anak. Tetapi, sama seperti ‘man’ (manusia) bisa mencakup baik laki-laki dan perempuan sebagai suatu golongan makhluk, (Kej 5:2 - ‘laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama ‘Manusia’ kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan’), demikian juga ‘Allah’ bisa mencakup Bapa dan Anak sebagai suatu golongan makhluk (being), seperti dalam Yoh 1:1.] - https://www.bible.ca/trinity/trinity-texts-john1-1.htm

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali