KEBAKTIAN online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 15 Oktober 2023, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

bukti-bukti bahwa

yesus adalah allah(2c)

 

e)   Peraturan E. C. Colwell tentang Yoh 1:1c.

Ditinjau dari sudut tatabahasa / gramatika bahasa Yunani kalimat itu terjemahannya memang ‘The Word was God’ (= Firman itu adalah Allah), bukan ‘The Word was a god’ (= Firman itu adalah suatu allah), dan juga bukan ‘The Word was divine’ (= Firman itu bersifat ilahi).

 

1.   Terjemahan ini didasarkan pada peraturan yang dikeluarkan oleh  E. C. Colwell (1901-1974), seorang sarjana bahasa Yunani, tentang hal ini, dan peraturan tersebut saya kutip dari Leon Morris di bawah ini.

 

Leon Morris (NICNT): The Greek is Θεὸς ἦν ὁ Λόγος. The adjective ‘divine’ would be θεῖος, a word that was available and is found in the New Testament (Acts 17:29; 2 Pet. 1:3, 4). The difficulty about the construction is the absence of the article with Θεὸς. ... The true explanation of the absence of the article appears to be given by E. C. Colwell, who has shown that in the New Testament definite nouns which precede the verb regularly lack the article (JBL, LII, 1993, pp. 12-21). On this verse he comments: ‘The absence of the article does not make the predicate indefinite or qualitative when it precedes the verb; it is indefinite in this position only when the context demands it. The context makes no such demand in the Gospel of John (op. cit., p. 21).” [= Bahasa Yunaninya adalah Θεὸς ἦν ὁ Λόγος / THEOS EN HO LOGOS. Kata sifat ‘ilahi’ adalah θεῖος / THEIOS, suatu kata yang tersedia dan ditemukan dalam Perjanjian Baru (Kis 17:29; 2Pet 1:3,4). ... Kesukaran dari konstruksi ini adalah tidak adanya kata sandang (tertentu) dengan Θεὸς / THEOS. ... Penjelasan yang benar tentang tidak adanya kata sandang (tertentu), tampaknya diberikan oleh E. C. Colwell, yang telah menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Baru kata-kata benda yang tertentu yang mendahului kata kerja biasanya tidak mempunyai kata sandang (JBL, LII, 1993, hal 12-21). Tentang ayat ini ia berkomentar: ‘Tidak adanya kata sandang tidak membuat predikatnya tidak tertentu atau bersifat kwalitet pada waktu predikat itu mendahului kata kerja; predikat itu tidak tertentu dalam posisi ini hanya pada waktu kontextnya menuntut hal itu. Kontextnya tidak menuntut seperti itu dalam Injil Yohanes (op. cit., hal 21).] - hal 77, footnote.

 

Catatan:

 

a.   Kata ‘regularly’ (yang saya cetak dengan huruf besar) bisa diterjemahkan ‘secara tetap’ atau ‘biasanya’. James Hope Moulton, ‘Grammar of the New Testament Greek’, vol III, hal 182, menggunakan kata ‘usually’ (= biasanya). Karena itu, kata itulah yang saya pilih dalam menterjemahkan kata ‘regularly’ di sini.

 

b.   Dalam bahasa Yunani anak kalimat yang dipersoalkan ini (Yoh 1:1c) berbunyi:

 

θεὸς               ἦν                 ὁ λόγος

 

THEOS           EN                HO LOGOS

 

God        was         the Word

 

Allah       adalah      Firman

    ¯             ¯                ¯

 predikat     k.k.          subyek

 

Kata benda HO LOGOS (the Word / sang Firman) adalah subyeknya, kata EN (was / adalah) adalah kata kerjanya (k.k.), dan kata benda THEOS (God / Allah) adalah predikatnya. Jadi di sini, predikatnya, yang berupa kata benda (THEOS / God / Allah), mendahului kata kerjanya, yaitu EN (was / adalah).

 

Jadi, berdasarkan peraturan Colwell ini maka tidak adanya kata sandang tertentu sebelum kata THEOS, tidak membuat kata ini menjadi tidak tertentu (‘a god’ / ‘suatu allah’), dan juga tidak membuat kata ini menjadi kata yang bersifat kwalitet (‘divine’ / ‘bersifat ilahi’). Kata sifat ‘divine’ (= ilahi) dalam bahasa Yunani adalah THEIOS (Kis 17:29; 2Pet 1:3,4). Yohanes tidak menggunakan kata itu, dan karena itu jelas ia tidak memaksudkan supaya pembaca mengertinya sebagai kata sifat.

 

Jadi terjemahan yang benar adalah tetap menterjemahkannya sebagai kata benda, yaitu ‘God’ / ‘Allah’.

 

Dengan demikian terjemahan yang benar menurut perumusan / hukum yang diberikan oleh Colwell adalah: ‘The Word was God’ (= Firman itu adalah Allah).

 

c.   Contoh lain: Mark 15:39 - “Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat matiNya demikian, berkatalah ia: ‘Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!’”.

 

Saya hanya menyoroti bagian yang saya garis bawahi saja.

 

οὗτος        ὁ ἄνθρωπος         υἱὸς      θεοῦ                         ἦν

 

HOUTOS   HO ANTHROPOS   HUIOS   THEOU                       EN

 

This                       the man                        Son of God                     was

 

Ini                          sang orang                  Anak (dari) Allah              adalah

 

              ¯                                       ¯                              ¯                                                                     

                                 subyek                              predikat                  kata kerja

 

Kata benda HO ANTHROPOS (= the man / sang orang), atau HOUTOS HO ANTHROPOS (= this man / orang ini) adalah subyeknya, kata EN (= was / adalah) adalah kata kerjanya, dan kata benda HUIOS THEOU (= Son of God / Anak Allah) adalah predikatnya.

 

Jadi, di sini predikatnya juga mendahului kata kerjanya. Maka berdasarkan peraturan Colwell, kata HUIOS THEOU tidak memerlukan kata sandang tertentu untuk menjadi tertentu.

 

Karena itu tetap diterjemahkan the Son of God’ (menggunakan definite article / kata sandang tertentu).

KJV/RSV/NIV/NASB/NKJV/ASV: the Son of God’.

 

Catatan: RSV dan NASB pada catatan kakinya memberikan terjemahan alternatif yaitu a son of God’. Tetapi ini jelas merupakan terjemahan yang salah.

 

Sekarang, bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa menterjemahkan Mark 15:39 ini?

NWT: ‘God’s Son’; TDB: ‘Putra Allah’.

 

NWT menterjemahkan demikian mungkin untuk menghindari penggunaan definite article.

 

Tetapi mengapa mereka tidak menterjemahkan ‘a Son of God’ (= seorang Anak / Putra Allah)? Kalau menurut rumusan mereka, bukankah seharusnya mereka menterjemahkan ‘a Son of God’ (= seorang Anak / Putra Allah)?

 

Mengapa mereka menterjemahkan Yoh 1:1c sebagai ‘a god’ (= suatu allah), tetapi tidak menterjemahkan bagian ini sebagai ‘a Son of God’ (= seorang Putra / Anak Allah)?

 

d.   Contoh lain lagi: 1Yoh 1:5 - “Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.”.

 

Perhatikan bagian yang saya garis bawahi saja.

 

ὁ θεὸς         φῶς           ἐστιν

 

HO THEOS  PHOS      ESTIN

 

the God          light           is

 

sang Allah    terang         adalah

 

¯                  ¯                  ¯

 

subyek         predikat           kata kerja

 

Kata benda HO THEOS (= the God / sang Allah) adalah subyeknya, kata ESTIN (= is / adalah) adalah kata kerjanya, dan kata benda PHOS (= light / terang) adalah predikatnya.

 

Jadi di sini predikatnya juga mendahului kata kerjanya. Maka berdasarkan peraturan Colwell, sekalipun kata PHOS tidak mempunyai kata sandang tertentu, tetap tidak diterjemahkan ‘a light’ (= suatu terang), ataupun ‘bersifat terang’, tetapi diterjemahkan ‘light’ (= terang).

 

KJV/RSV/NIV/NASB/NKJV/ASV: ‘God is light’.

 

Bahkan NWT juga menterjemahkan: ‘God is light’.

 

Mengapa mereka tidak menterjemahkan ‘God is a light’ (= Allah adalah suatu terang)? Atau mengapa mereka tidak menterjemahkan ‘Allah bersifat terang’?

 

2.   Peraturan dari E. C. Colwell ini diketahui dan disebutkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam buku ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 28.

Tetapi dalam buku itu, hal 28, mereka lalu menambahkan kata-kata ini:

Jadi ia (Colwell) pun mengakui bahwa bila ikatan kalimat menun­tut hal itu, para penterjemah dapat menyisipkan kata sandang tidak tentu (Indefinite article) di depan kata benda dalam susu­nan kalimat sejenis ini. Apakah ikatan kalimatnya menuntut kata sandang tidak tentu dalam Yohanes 1:1? Ya, karena bukti dari seluruh Alkitab menunjukkan bahwa Yesus bukan Allah Yang Mahakua­sa. Jadi, yang harus membimbing penerjemah dalam hal-hal seperti itu bukan peraturan tata bahasa dari Colwell yang meragukan, tetapi ikatan kalimatnya.”.

 

Catatan: definite article / kata sandang tertentu dalam bahasa Inggris diterjemahkan ‘the’, sedangkan indefinite article / kata sandang tidak tertentu diterjemahkan ‘a / an’.

 

Tentang definite (tertentu) dan indefinite (tidak tertentu) dalam bahasa Inggris:

 

Robert M. Bowman Jr.: “The terms ‘definite’ and ‘indefinite’ would seem straightforward enough, but they have turned out to be used in slightly different senses depending on the scholarly source using them. It is natural to understand ‘definite’ to mean ‘articular’ and ‘indefinite’ to mean ‘anarthrous,’ and so these terms are occasionally used, but usually not. Most often, ‘definite’ is used of a noun that refers to a specific, identifiable person or thing.” (= Istilah ‘tertentu’ dan ‘tidak tertentu’ mungkin terlihat cukup mudah dipahami, tetapi ternyata mereka digunakan dalam makna yang sedikit berbeda tergantung pada sumber ilmiah yang menggunakannya. Wajar untuk menganggap ‘tertentu’ berarti ‘menggunakan kata sandang tertentu’ dan ‘tidak tertentu’ berarti ‘tidak menggunakan kata sandang tertentu,’ dan demikianlah istilah-istilah ini kadang-kadang digunakan, tetapi biasanya tidak. Seringkali, ‘tertentu’ digunakan untuk suatu kata benda yang mengacu pada orang atau benda tertentu yang dapat diidentifikasi.) - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 30.

 

Robert M. Bowman Jr.: “For example, in the sentence, ‘Joe is going to the hospital,’ ‘hospital’ is articular, but not necessarily definite, because in American English idiom ‘the hospital’ could be any hospital. However, if Joe is a doctor who works at a certain hospital, then in that context ‘the hospital’ probably would be definite. In other words, the same noun in the same exact sentence might be definite in one context and not definite in another context. In the sentence, ‘Mary is going home,’ ‘home’ is anarthrous, yet definite, because there is a specific home in view (that is, Mary’s). Furthermore, in both of these sentences, the subject is anarthrous yet quite definite (‘Joe,’ ‘Mary’). This is because proper name in English do not normally require the definite article to be definite.” [= Sebagai contoh, dalam kalimat, ‘Joe pergi ke rumah sakit,’ ‘rumah sakit’ mempunyai kata sandang tertentu, tetapi tidak selalu tertentu, karena dalam idiom bahasa Inggris Amerika, ‘the hospital’ bisa menunjuk pada rumah sakit manapun. Namun, jika Joe adalah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit tertentu, maka dalam konteks itu ‘the hospital’ kemungkinan akan menjadi tertentu. Dengan kata lain, kata benda yang sama dalam kalimat yang sama bisa menjadi tertentu dalam satu konteks dan tidak tertentu dalam konteks lain. Dalam kalimat, ‘Mary pulang ke rumah,’ ‘rumah’ adalah tanpa kata sandang tertentu, namun tertentu, karena ada rumah tertentu yang dimaksud (yaitu, rumah Mary). Selain itu, dalam kedua kalimat ini, subjeknya tanpa kata sandang tertentu namun cukup tertentu (‘Joe,’ ‘Mary’). Hal ini karena nama-nama orang dalam bahasa Inggris biasanya tidak memerlukan kata sandang tertentu untuk menjadi tertentu.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 30.

 

Robert M. Bowman Jr.: “The word ‘indefinite’ is usually used to mean simply any moun that is not definite, that is which does not refer to a specific, identifiable person or thing. However, the word is used specifically to refer to a noun that in English has an indefinite article (a, an) in front of it. In the sentence, ‘An old man is king,’ both nouns ‘man’ and ‘king’ are indefinite in the usual sense, but only ‘man’ is indefinite in the second, more narrow, sense.” [= Kata ‘tidak tertentu’ biasanya digunakan untuk merujuk kepada kata benda apapun yang tidak tertentu, yaitu kata benda yang tidak merujuk pada orang atau benda tertentu yang dapat diidentifikasi. Namun, kata ini digunakan secara khusus untuk merujuk kepada kata benda yang dalam bahasa Inggris memiliki kata sandang tidak tertentu  (a, an) di depannya. Dalam kalimat, ‘Seorang pria tua adalah raja,’ kedua kata benda ‘pria’ dan ‘raja’ adalah tidak tertentu dalam arti biasa, tetapi hanya ‘pria’ yang tidak tertentu dalam arti kedua, yang lebih sempit.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 31.

 

Kata-kata Saksi-Saksi Yehuwa di atas ini merupakan sesuatu yang menggelikan dan bodoh, atau merupakan suatu usaha penipuan terhadap orang-orang yang kurang teliti.

 

Mengapa saya katakan demikian? Karena Saksi-Saksi Yehuwa ingin membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah Yang Mahakuasa dengan menggunakan Yoh 1:1. Tetapi pada waktu mereka menafsirkan Yoh 1:1 itu, mereka menafsirkan ayat itu berdasarkan asumsi / anggapan mereka bahwa seluruh Alkitab mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Allah Yang Mahakua­sa. Ini merupakan kebodohan dari orang yang sengaja membutakan dirinya sendiri!

 

3.   Contoh-contoh yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

Saksi-Saksi Yehuwa juga memberikan beberapa contoh dimana pada saat ikatan kalimatnya menuntut hal itu, maka dalam penterjemahannya diberikan kata sandang tidak tertentu, yaitu:

 

a.   Mark 6:49 - “Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,”.

 

φάντασμά          ἐστιν

 

PHANTASMA    ESTIN

 

ghost                    it is

 

hantu                    itu adalah

 

Kata ‘hantu’ dalam bahasa Yunaninya tidak menggunakan definite article / kata sandang tertentu, dan terletak di depan kata kerjanya, tetapi banyak Kitab Suci bahasa Inggris yang menterjemahkan a ghost’ (= suatu hantu) - ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 27.

 

RSV/NIV/NASB: a ghost’; KJV: a spirit’.

 

b.   Yoh 8:44 - “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”.

 

ἐκεῖνος               ἀνθρωποκτόνος                              ἦν

 

EKEINOS             ANTHROPOKTONOS                      EN

 

that                                    murderer                                 was

 

itu                                      pembunuh                               adalah

 

ψεύστης                           ἐστὶν

 

PHEUSTES                     ESTIN

 

liar                                     he is

 

pendusta                          ia adalah  

 

Kata ‘pembunuh’ (ANTHROPOKTONOS) dan ‘pendusta’ (PHEUSTES) dalam bahasa Yunaninya tidak menggunakan definite article / kata sandang tertentu, dan terletak di depan kata kerjanya (EN dan ESTIN), tetapi banyak Kitab Suci bahasa Inggris yang menterjemahkan a murderer’ (= seorang pembunuh) dan a liar’ (= seorang pendusta) - ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 28.

 

c.   Dengan cara yang sama dalam Yoh 6:70 Yudas Iskariot disebut a devil’ (= seorang setan); dan dalam Yoh 9:17 Yesus disebut a prophet’ (= seorang nabi).

 

Jawaban saya:

 

(1) Dalam ayat-ayat di atas ini, kontextnya menuntut hal itu, tetapi dalam Yoh 1:1 kontextnya tidak menuntut hal itu.

 

Perkecualian seperti ini memang ada dan sudah diberikan oleh Colwell; lihat kutipan dari Leon Morris tentang perumusan Colwell, pada bagian yang saya cetak dengan huruf besar.

 

Leon Morris (NICNT): The Greek is Θεὸς ἦν ὁ Λόγος. The adjective ‘divine’ would be θεῖος, a word that was available and is found in the New Testament (Acts 17:29; 2 Pet. 1:3, 4). The difficulty about the construction is the absence of the article with Θεὸς. ... The true explanation of the absence of the article appears to be given by E. C. Colwell, who has shown that in the New Testament definite nouns which precede the verb regularly lack the article (JBL, LII, 1993, pp. 12-21). On this verse he comments: ‘The absence of the article does not make the predicate indefinite or qualitative when it precedes the verb; it is indefinite in this position only when the context demands it. The context makes no such demand in the Gospel of John (op. cit., p. 21).” [= Bahasa Yunaninya adalah Θεὸς ἦν ὁ Λόγος / THEOS EN HO LOGOS. Kata sifat ‘ilahi’ adalah θεῖος / THEIOS, suatu kata yang tersedia dan ditemukan dalam Perjanjian Baru (Kis 17:29; 2Pet 1:3,4). ... Kesukaran dari konstruksi ini adalah tidak adanya kata sandang (tertentu) dengan Θεὸς / THEOS. ... Penjelasan yang benar tentang tidak adanya kata sandang (tertentu), tampaknya diberikan oleh E. C. Colwell, yang telah menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Baru kata-kata benda yang tertentu yang mendahului kata kerja biasanya tidak mempunyai kata sandang (JBL, LII, 1993, hal 12-21). Tentang ayat ini ia berkomentar: ‘Tidak adanya kata sandang tidak membuat predikatnya tidak tertentu atau bersifat kwalitet pada waktu predikat itu mendahului kata kerja; predikat itu tidak tertentu dalam posisi ini hanya pada waktu kontextnya menuntut hal itu. Kontextnya tidak menuntut seperti itu dalam Injil Yohanes (op. cit., hal 21).] - hal 77, footnote.

 

(2) Dalam semua contoh yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa di atas, kata-kata ‘hantu’, ‘pembunuh’, ‘pendusta’, ‘setan’, ‘nabi’ tetap mempunyai arti yang normal.

 

Tetapi mengapa pada saat Saksi-Saksi Yehuwa menterjemahkan Yoh 1:1c sebagai ‘Firman itu adalah suatu allah, kata ‘allah’ tahu-tahu bisa mempunyai arti sebagai allah sekunder / allah kecil, yang lebih rendah dari Allah yang sebenarnya? Mengapa kata ‘allah’ itu bisa berubah arti dari arti normalnya?

 

Robert M. Bowman Jr.: “A careful look at the nouns in the New Testament which are anarthrous and precede the verb and should be translated with the indefinite article reveals that the nouns never change their basic meaning as a result of being used or even translated indefinitely.” (= Suatu tinjauan yang seksama tentang kata-kata benda dalam Perjanjian Baru yang tidak mempunyai kata sandang tertentu dan terletak di depan kata kerja dan harus diterjemahkan dengan kata sandang tidak tertentu, menyatakan bahwa kata-kata benda itu tidak pernah berubah dari arti dasar mereka sebagai akibat dari digunakannya atau diterjemahkannya mereka secara tidak tertentu.) - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 43.

 

Robert M. Bowman Jr.: “a qualitative use of the anarthrous THEOS does not shift its meaning from ‘God’ to ‘a god.’” (= penggunaan kwalitatif dari kata THEOS yang tidak mempunyai kata sandang tertentu tidak menggeser artinya dari ‘Allah’ menjadi ‘suatu allah’.) - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 47.

 

Bowman lalu memberikan banyak contoh lain, yaitu:

(a) a God (= suatu Allah) - Mark 12:27  Lukas 20:38.

(b) an apparition (= seorang hantu) - Mat 14:26  Mark 6:49.

(c)  a prophet (= seorang nabi) - Mark 11:32  Yoh 4:19; 9:17.

(d) a man (= seorang manusia) - Luk 5:8  Yoh 10:33  Kis 10:26  Yak 5:17.

(e) a woman (= seorang perempuan) - Yoh 4:19.

(f)   a slanderer (= seorang pemfitnah) - Yoh 6:70.

(g) a murderer (= seorang pembunuh) - Yoh 8:44  Kis 28:4.

(h)  a liar (= seorang pendusta) - Yoh 8:44  1Yoh 2:4.

(i)   a beggar (= seorang pengemis) - Yoh 9:8.

(j)   a sinner (= seorang berdosa) - Yoh 9:24,25.

(k)  a thief (= seorang pencuri) - Yoh 10:1; 12:6.

(l)   a hired man (= seorang upahan) - Yoh 10:13.

(m)a relative (= seorang keluarga) - Yoh 18:26.

(n)  a king (= seorang raja) - Yoh 18:37.

(o) a vessel (= suatu alat) - Kis 9:15.

(p) a sweet odor (= suatu bau harum) - 2Kor 2:15.

(q) a babe (= seorang bayi) - Gal 4:1  Ibr 5:13.

(r)  a debtor (= seorang yang berhutang) - Gal 5:3.

 

Dan Bowman lalu berkata: “None of these words takes on a lesser or weakened meaning because of being used ‘qualitatively’ or ‘indefinitely.’ The men are men, the woman is a woman, the sinner is a sinner, the king is a king, in the usual, fullest sense of the words. ... They argue that THEOS in 1:1c means a god of a lesser deity than TON THEON, ‘God,’ in 1:1b. Such shift in meaning in THEOS is inconsistent with the indefinite use of Greek nouns, as the above list demonstrates.” (= Tidak ada dari kata-kata ini mempunyai arti yang lebih sedikit / kecil atau arti yang diperlemah karena digunakan ‘secara kwalitatif’ atau ‘secara tidak tertentu’. Orang-orang ini adalah orang-orang, perempuan itu adalah perempuan, orang berdosa itu adalah orang berdosa, raja itu adalah raja, dalam arti biasa dan arti yang penuh dari kata-kata itu. ... Mereka (Saksi-Saksi Yehuwa) berargumentasi bahwa THEOS dalam 1:1c berarti ‘suatu allah’ dengan keallahan yang lebih sedikit dari TON THEON, ‘Allah’ dalam 1:1b. Pergeseran arti seperti itu dalam kata THEOS, adalah tidak konsisten dengan penggunaan kata-kata benda tidak tertentu dalam bahasa Yunani, seperti ditunjukkan oleh daftar di atas.) - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 48.

 

Robert M. Bowman Jr.: “Of the several instances of the anarthrous predicate nominative THEOS before the verb, then, not one makes THEOS mean anything less than God (Mark 12:27; Luke 20:38; John 8:54; Phil. 2:13; Heb. 11:16; cf. Rom. 8:33b), unless one counts John 1:1. In the other five clear instances of this use of THEOS, the word can only be translated ‘God’ in English.” [= Dari beberapa contoh / kejadian dari kata THEOS yang tidak mempunyai kata sandang tertentu, dan ada dalam kasus nominatif, dan bersifat sebagai predikat, dan terletak sebelum kata kerja, maka tidak satupun yang membuat THEOS berarti apapun yang kurang dari Allah (Mark 12:27; Luk 20:38; Yoh 8:54; Fil 2:13; Ibr 11:16; bdk. Ro 8:33b), kecuali ada yang menganggap Yoh 1:1 demikian. Dalam lima contoh / kejadian lain dari penggunaan THEOS seperti ini, kata itu hanya bisa diterjemahkan ‘God’ (= Allah) dalam bahasa Inggris.] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 53.

 

Mark 12:27 - Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!’.

 

Luk 20:38 - Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.’.

 

Yoh 8:54 - Jawab Yesus: ‘Jikalau Aku memuliakan diriKu sendiri, maka kemuliaanKu itu sedikitpun tidak ada artinya. BapaKulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami,.

 

Fil 2:13 - karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya..

 

Ibr 11:16 - Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka..

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali