(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 1 Oktober 2023, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
bukti-bukti bahwa
yesus adalah allah(2a)
2) Yoh 1:1.
Yoh 1:1 - “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”.
Yoh 1:1 - “In the beginning was the Word, and the Word was with God1, and the Word was God2” (= Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah1, dan Firman itu adalah Allah2).
Kata-kata yang terakhir, yaitu ‘The Word was God’ (= Firman itu adalah Allah), oleh NWT / TDB diterjemahkan sebagai ‘The Word was a god’ (= Firman itu adalah suatu allah).
Saksi-Saksi Yehuwa memberi alasan sebagai berikut: dalam Yoh 1:1 itu ada 2 x kata ‘God’ (= Allah). Dan mereka mengatakan bahwa:
a) Kata ‘God’ (= Allah) yang pertama (Yoh 1:1b), dalam bahasa Yunaninya menggunakan definite article / kata sandang tertentu. Dalam bahasa Yunani kata yang digunakan adalah TON THEON (TON adalah definite article). Karena di sini digunakan definite article, maka menurut Saksi-Saksi Yehuwa terjemahan hurufiahnya adalah ‘the God’, dan ini jelas menunjuk kepada Allah / YEHUWA.
b) Kata ‘God’ (= Allah) yang kedua (Yoh 1:1c), dalam bahasa Yunaninya tidak menggunakan definite article. Dalam bahasa Yunani kata yang digunakan adalah THEOS. Karena kata ini tidak mempunyai definite article, maka menurut Saksi-Saksi Yehuwa kata ini harus diterjemahkan ‘a god’ (= suatu allah), dan kata ini menunjuk kepada Yesus.
Jadi, Saksi-Saksi Yehuwa, dengan membesar-besarkan persoalan ada atau tidak adanya definite article / kata sandang tertentu, lalu memakai ayat ini sebagai dasar untuk mengatakan bahwa Yesus adalah ‘suatu allah’ (‘allah kecil’), yang lebih rendah dari YEHUWA, yang adalah Allah yang Mahakuasa.
Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan:
1. “John J. McKenzie, S.J., dalam bukunya Dictionary of the Bible, mengatakan: ‘... firman itu adalah makhluk ilahi.’ ... Dalam terjemahannya ke dalam bahasa Jerman Ludwig Thimme menyatakannya sebagai berikut: ‘Firman itu semacam allah.’” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 405.
2. “NE berbunyi ‘sebagaimana Allah itu, demikianlah pula Firman.’ MO mengatakan ‘Logos itu ilahi.’ AT dan Sd memberitahu kita ‘Firman itu ilahi.’ Terjemahan interlinear (kata demi kata) dari ED ialah ‘suatu allah itulah Firman.’ NW bunyinya ‘Firman itu suatu allah.’ NTIV menggunakan kata-kata yang sama.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 431.
Catatan: perhatikan betapa banyaknya versi Kitab Suci yang aneh-aneh dan yang tidak pernah kita dengar, yang digunakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa untuk mendukung pandangan mereka.
Saksi-Saksi Yehuwa lalu melanjutkan: “Apa yang diperhatikan para penerjemah ini dalam naskah Yunani sehingga beberapa dari antara mereka tergerak untuk tidak mengatakan ‘Firman itu adalah Allah’? Kata sandang tertentu (bahasa Inggris, the) muncul di depan kata THEOS (Allah) yang pertama, tapi tidak di depan kata yang kedua. Susunan dari kata benda itu, yaitu jika didahului kata sandang, menunjuk kepada identitas, kepribadian, sedangkan sebuah kata benda sebutan (predikat) tanpa kata sandang di depannya (seperti susunan kalimat itu dalam bahasa Yunani) menunjuk kepada sifat seseorang. Jadi ayat itu tidak mengatakan bahwa Firman (Yesus) sama dengan Allah yang ada bersamanya tetapi, sebaliknya, bahwa Firman itu seperti allah, ilahi, suatu allah.” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 431.
Catatan: kalau kata benda tanpa kata sandang tertentu menunjuk pada sifat seseorang, lalu mengapa NWT / TDB menterjemahkannya menjadi ‘a god’ / ‘suatu allah’? Ini bukan sifat, ini kata benda!
Saksi-Saksi Yehuwa menambahkan: “Bulletin of the John Rylands Library di Inggris menyatakan bahwa menurut teolog Katolik Karl Rahner, meskipun THEOS digunakan dalam ayat-ayat seperti Yohanes 1:1 untuk menyebutkan Kristus, ‘dalam ayat-ayat tersebut THEOS tidak pernah digunakan sedemikian rupa sehingga menyatakan Yesus sama dengan Dia yang di tempat lain dalam Perjanjian Baru disebut sebagai HO THEOS, yaitu, Allah Yang Paling tinggi.’ Dan bulletin menambahkan: ‘Jika para penulis Perjanjian Baru menganggap sangat penting agar orang-orang yang setia mengakui Yesus sebagai ‘Allah,’ mengapa pengakuan semacam ini tidak ada sama sekali dalam Perjanjian Baru?” - ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 28,29.
Catatan: tentang teolog Katolik yang bernama Karl Rahner ini saudara bisa mempelajarinya sendiri dalam link-link di bawah ini:
a. Bahasa Indonesia: https://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Rahner
b. Bahasa Inggris: https://en.wikipedia.org/wiki/Karl_Rahner#Christology
Yang ini lebih panjang dari yang Indonesia.
c. Bahasa Inggris: https://churchlifejournal.nd.edu/articles/an-assessment-of-karl-rahners-revitalization-of-trinitarian-theology/
Tidak butuh waktu yang lama untuk mengetahui bahwa Karl Rahner ini memang sesat, tetapi saya tidak bisa menemukan kata-kata / pandangan Karl Rahner yang dikutip oleh Saksi-Saksi Yehuwa di atas!
Tetapi pada waktu saya mencari dari ChatGPT terlihat bahwa ia memang sesat dalam Kristologi maupun Tritunggal. Ia menganggap Yesus sebagai Allah yang lebih rendah dari Bapa.
a) Pemutar-balikkan oleh Saksi Yehuwa.
Yoh 1:1 ini sebetulnya merupakan salah satu ayat yang sangat kuat untuk membuktikan keilahian Yesus. Kata ‘Firman’ (Yunani: LOGOS) di sini jelas menunjuk kepada Yesus (bdk. Yoh 1:14 yang mengatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia), dan Yoh 1:1 itu mengatakan ‘Firman (atau ‘Yesus’) itu adalah Allah’.
Tetapi Saksi-Saksi Yehuwa memutar-balikkan / mengubah terjemahan dari ayat, yang seharusnya menunjukkan keilahian Yesus ini, menjadi ayat yang mendukung pandangan mereka, bahwa Yesus adalah ‘suatu allah’.
Dan ini pemutar-balikkan / perubahan terjemahan semacam ini mereka lakukan terhadap hampir semua ayat-ayat yang menunjukkan keilahian Yesus, seperti Fil 2:5-7 Tit 2:13 Ibr 1:8 dan sebagainya, yang akan kita pelajari belakangan.
b) Komentar saya tentang ajaran Saksi Yehuwa bahwa Yesus adalah ‘suatu allah’.
1. Sebetulnya, istilah ‘a god’ / ‘suatu allah’ ini adalah istilah omong kosong ciptaan mereka sendiri, yang mungkin mereka sendiri tidak mengerti artinya.
Kalau saudara berdebat dengan Saksi-Saksi Yehuwa tentang hal ini, tanyakan kepada mereka: Apakah ‘suatu allah’ itu? Ia Allah atau bukan? Atau, apakah Ia adalah ‘allah kecil’ atau ‘setengah allah’?
Perlu diingat bahwa Kitab Suci tidak pernah membicarakan hal seperti ini. Kitab Suci memang membicarakan dewa-dewa / allah-allah kafir, tetapi Kitab Suci juga mengatakan bahwa mereka sebetulnya tidak ada / tidak mempunyai existensi (1Kor 8:4-6).
1Kor 8:4-6 - “(4) Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ‘tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.’ (5) Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’, baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak ‘allah’ dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - (6) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.”.
Dengan demikian Kitab Suci memberikan batasan yang sangat keras antara ‘Allah’ dan ‘bukan Allah’. Atau sesuatu / seseorang itu adalah Allah (sungguh-sungguh dan sepenuhnya), atau ia sama sekali bukan Allah! Tidak ada sesuatu / seseorang yang bisa disebut ‘allah kecil’, ‘setengah allah’ dsb.
Dan penatua Saksi Yehuwa yang berdebat dengan saya, setelah saya desak dengan kata-kata di atas, akhirnya mengaku bahwa Yesus sama sekali bukan Allah.
Lalu saya bertanya lagi: ‘Kalau begitu mengapa Kitab Suci menyebut Yesus sebagai Allah?’.
Ia menjawab: ‘Karena Yesus yang paling dekat dengan Allah’.
Tetapi, apakah orang yang paling dekat dengan presiden harus disebut sebagai ‘suatu presiden’?
Kalau saudara berdebat dengan Saksi-Saksi Yehuwa dan dengan desakan seperti di atas mereka tetap tidak mau mengaku bahwa bagi mereka Yesus sama sekali bukan Allah, maka serang mereka dengan point no 2 dan no 3 di bawah ini.
2. Kepercayaan / ajaran akan adanya ‘Allah besar’ dan ‘allah kecil’ ini mirip dengan kepercayaan dari agama-agama kafir / non Kristen (seperti agama-agama Romawi dan Yunani kuno dan agama Hindu) yang mempercayai banyak dewa, dimana dewa yang satu lebih kuat / besar / hebat dari dewa yang lain.
Dan memang istilah ‘a god’ (= ‘suatu allah’) itu mungkin hanya bisa ada artinya dalam polytheisme (= kepercayaan terhadap banyak dewa / allah), karena dalam kepercayaan ini ada dewa yang besar dan kecil, dan ada dewa yang tertinggi.
Yang tertinggi ini yang mungkin harus disebut ‘the God’ (= Sang Allah / Dewa), sedangkan yang lain masing-masing disebut ‘a god’ (= suatu allah / dewa).
Tetapi dalam monotheisme (= kepercayaan kepada satu Allah), pembedaan ‘the God’ (= Sang Allah) dengan ‘a god’ (= suatu allah), merupakan suatu omong kosong.
Beberapa kutipan yang juga menganggap theologia seperti itu sebagai polytheisme:
a. Walter Martin: “the Watchtower ... make Jesus ‘a second god’ and thus introduce polytheism into Christianity.” [= Menara Pengawal ... membuat Yesus ‘allah yang kedua’ dan dengan demikian memasukkan polytheisme ke dalam kekristenan.] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 69.
b. Robert M. Bowman Jr. mengutip kata-kata Bruce Metzger: “It must be stated quite frankly that, if the Jehovah’s Witnesses take this translation seriously, they are polytheists. ... such a rendering is a frightful mistranslation.” (= Harus dinyatakan dengan terus terang bahwa jika Saksi-Saksi Yehuwa mengambil terjemahan ini dengan serius, mereka adalah orang-orang yang berpegang pada polytheisme. ... terjemahan seperti itu merupakan kesalahan penterjemahan yang menakutkan.) - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 83.
c. Philip Schaff mengutip kata-kata Athanasius yang menyerang Arianisme dengan cara yang sama: “Arianism teaches two gods, an uncreated and a created, a supreme and a secondary god, and thus far relapses into heathen polytheism. ... Athanasius charges the Arians with dualism and heathenism,” (= Arianisme mengajarkan dua allah, satu allah tidak diciptakan dan satu allah diciptakan, satu allah yang tertinggi dan satu allah sekunder, dan jatuh kembali ke dalam polytheisme kafir. ... Athanasius menuduh pengikut-pengikut Arianisme dengan dualisme dan kekafiran,) - ‘History of the Christian Church’, vol III, hal 648-649.
Jadi, kepercayaan Saksi Yehuwa tentang ‘suatu allah’ itu membuat Saksi Yehuwa menjadi satu golongan dengan agama-agama kafir. Saksi Yehuwa menuduh bahwa banyak ajaran Kristen yang berasal dari kepercayaan kafir, misalnya ajaran tentang Allah Tritunggal, tentang jiwa yang tidak bisa mati, tentang neraka, dan sebagainya, tetapi sebetulnya ini seperti ‘maling teriak maling’, karena ajaran Saksi Yehuwa sendirilah yang merupakan kepercayaan kafir.
3. Pandangan Saksi Yehuwa tentang Yesus sebagai ‘suatu allah’ / ‘allah kecil’ ini juga bertentangan dengan:
a. Kel 20:3 - “Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.”.
Lucunya, Saksi-Saksi Yehuwa justru menggunakan Kel 20:3 ini untuk menyerang doktrin Allah Tritunggal (‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 13).
Saksi-Saksi Yehuwa: “‘Akulah Yahweh Allahmu ... Engkau tidak boleh memiliki allah-allah lain kecuali Aku.’ ... Keluaran 20:2,3, JB.” - ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 13.
Tetapi serangan itu justru menjadi bumerang yang berbalik menghantam diri mereka sendiri, karena anggapan mereka bahwa Yesus adalah ‘suatu allah’ yang betul-betul terpisah dari Allah / Yehuwa, jelas menunjukkan bahwa mereka mempunyai ‘allah lain’!
Ini berbeda dengan kekristenan yang benar, yang sekalipun menganggap bahwa Yesus adalah Allah, dan bahwa Ia adalah pribadi yang berbeda (distinct) dengan Bapa, tetapi pada saat yang sama mempercayai bahwa Yesus dan Bapa mempunyai hanya satu hakekat, dan karena itu Yesus bukanlah ‘allah / Allah lain’!
Bdk. Yoh 10:30 - “Aku dan Bapa adalah satu.’”.
b. Yes 44:6 - “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari padaKu.”.
c. Yes 45:5 - “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku,”.
d. Yes 43:10 - “‘Kamu inilah Saksi-SaksiKu,’ demikianlah firman TUHAN, ‘dan hambaKu yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepadaKu dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.”.
Walter Martin: “if there has been ‘no god formed before or after Me’ (Jehovah speaking in Isaiah 43:10), then it is impossible on that ground alone, namely God’s declaration, for any other god (‘a God’ included) to exist.” [= jika tidak ada allah dibentuk sebelum atau sesudah Aku (Yehovah yang berbicara dalam Yesaya 43:10), maka adalah mustahil berdasarkan pernyataan Allah ini saja, untuk adanya allah lain apapun / manapun (termasuk ‘suatu Allah’).] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 89.
Walter Martin: “we find that Jehovah declares in Isaiah 44:6 that He alone is ... the only God, ... Since Jehovah is the only God, then how can the LOGOS be ‘a god,’ a lesser god than Jehovah, as Jehovah’s Witnesses declare in John 1:1? ... However, despite the testimony of Scripture that ‘... before me there was no God formed, neither shall there be after me’ (Isaiah 43:10), the ‘a god’ fallacy is pursued and taught by Jehovah’s Witnesses in direct contradiction to God’s Word.” [= kita mendapati bahwa Yehovah menyatakan dalam Yes 44:6 bahwa Ia saja yang adalah ... satu-satunya Allah, ... Karena Yehovah adalah satu-satunya Allah, maka bagaimana LOGOS bisa adalah ‘suatu allah’, allah yang lebih kecil / rendah dari pada Yehovah, seperti yang dinyatakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam Yoh 1:1? ... Tetapi, sekalipun ada kesaksian dari Kitab Suci bahwa ‘... sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi’ (Yes 43:10), pemikiran yang keliru tentang ‘suatu allah’ terus diikuti dan diajarkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam suatu kontradiksi langsung dengan Firman Allah.] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 91.
Lagi-lagi dalam hal ini, kalau kekristenan mengakui Yesus sebagai Allah, itu tidak bertentangan dengan ayat-ayat seperti Yes 43:10 44:6 45:5, karena kekristenan mempercayai bahwa Yesus (sebagai Allah) tidak dicipta, dan sekalipun kekristenan mempercayai Yesus sebagai Allah, tetapi pada saat yang sama juga mempercayai kesatuan Yesus dengan Bapa (dan dengan Roh Kudus), sehingga kekristenan tetap mempercayai adanya hanya satu Allah.
Tetapi Saksi-Saksi Yehuwa yang menganggap Yesus sekedar sebagai ‘suatu allah’, yang dicipta oleh Bapa / Yehuwa, dan yang betul-betul merupakan suatu pribadi yang berbeda dan terpisah secara total dari Allah, jelas bertentangan dengan ayat-ayat dalam Yesaya tersebut di atas.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali