(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Minggu,
tgl 24 Nopember 2019, pk 08.00 & 17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
Bil 22:14-22a
- “(14) Lalu berangkatlah pemuka-pemuka Moab itu dan setelah mereka sampai
kepada Balak, berkatalah mereka: ‘Bileam menolak datang bersama-sama dengan
kami.’ (15) Tetapi Balak mengutus pula pemuka-pemuka lebih banyak dan lebih
terhormat dari yang pertama. (16) Setelah mereka sampai kepada Bileam,
berkatalah mereka kepadanya: ‘Beginilah kata Balak bin Zipor: Janganlah
biarkan dirimu terhalang-halang untuk datang kepadaku, (17) sebab aku akan
memberi upahmu sangat banyak, dan apapun yang kauminta dari padaku, aku akan
mengabulkannya. Datanglah, dan serapahlah bangsa itu bagiku.’ (18) Tetapi
Bileam menjawab kepada pegawai-pegawai Balak: ‘Sekalipun Balak memberikan
kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat
sesuatu, yang kecil atau yang besar, yang melanggar titah TUHAN, Allahku. (19)
Oleh sebab itu, baiklah kamupun tinggal di sini pada malam ini, supaya aku
tahu, apakah pula yang akan difirmankan TUHAN kepadaku.’ (20) Datanglah
Allah kepada Bileam pada waktu malam serta berfirman kepadanya: ‘Jikalau
orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah,
pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan
kepadamu harus kaulakukan.’ (21) Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi,
dipelanainyalah keledainya yang betina, dan pergi bersama-sama dengan
pemuka-pemuka Moab. (22a) Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi,”.
Dalam
pelajaran yang lalu kita sudah melihat 2 hal:
1)
Firman Tuhan dari Tuhan kepada Bileam, oleh Bileam dikurangi pada waktu
ia menyampaikannya kepada para utusan Balak, dan dikurangi lagi oleh para utusan
itu pada waktu mereka menyampaikannya kepada Balak.
2)
Bileam memang mengatakan ‘Tidak’, tetapi jelas terkandung kata
‘Ya’ di dalamnya.
Rupanya
kedua hal ini menyebabkan Balak tidak putus asa dalam usahanya untuk memanggil
Bileam, dan ia lalu mengirim utusan kedua yang lebih banyak dan lebih terhormat.
Ay 15-17: “(15)
Tetapi Balak mengutus pula pemuka-pemuka lebih
banyak dan lebih terhormat dari yang pertama. (16) Setelah mereka sampai kepada Bileam, berkatalah
mereka kepadanya: ‘Beginilah kata Balak bin Zipor: Janganlah biarkan dirimu
terhalang-halang untuk datang kepadaku, (17) sebab aku
akan memberi upahmu sangat banyak, dan apapun yang kauminta dari padaku, aku
akan mengabulkannya.
Datanglah, dan serapahlah bangsa itu bagiku.’”.
Ada
2 hal yang perlu diperhatikan:
a)
Ketekunan Balak dalam mengusahakan kejahatan.
Matthew
Henry: “We
have here a second embassy sent to Balaam, to fetch him over to curse Israel. It
were well for us if we were as earnest and constant in prosecuting a good work,
notwithstanding disappointments, as Balak was in pursuing this ill design. The
enemies of the church are restless and unwearied in their attempts against
it;”
[= Di sini kita mendapati utusan kedua dikirim kepada Bileam, untuk menjemputnya
untuk mengutuk Israel. Adalah bagus bagi kita jika kita sama sungguh-sungguhnya
dan konstannya dalam melaksanakan suatu perbuatan baik, meskipun ada
kekecewaan-kekecewaan, seperti Balak dalam mengejar rancangan jahat ini.
Musuh-musuh gereja tidak bisa berhenti dan tidak bosan-bosannya dalam usaha
mereka menentang gereja;].
b)
Pencobaan yang lebih hebat.
Matthew
Henry: “The
temptation Balak laid before Balaam. He contrived to make this assault more
vigorous than the former. It is very probable that he sent double money in the
hands of his messengers; but, besides that, now he tempted him with honours,
laid a bait not only for his covetousness, but for his pride and ambition. How
earnestly should we beg of God daily to mortify in us these two limbs of the old
man! Those that know how to look with a holy contempt upon worldly wealth and
preferment will find it not so hard a matter as most men do to keep a good
conscience.”
[= Pencobaan yang diletakkan oleh Balak di hadapan Bileam. Ia merencanakan untuk
membuat serangan ini lebih hebat dari yang terdahulu. Adalah sangat mungkin
bahwa ia mengirimkan uang dua kali lipat dalam tangan dari utusan-utusannya;
tetapi disamping itu, sekarang ia mencobainya dengan kehormatan, memberi umpan
bukan hanya bagi ketamakannya, tetapi juga bagi kesombongan dan ambisinya.
Alangkah sungguh-sungguhnya kita harus meminta kepada Allah setiap hari untuk
mematikan dalam diri kita kedua anggota badan dari manusia lama ini! Mereka yang
tahu bagaimana melihat dengan kejijikan yang kudus pada kekayaan dan pangkat
yang lebih tinggi secara duniawi akan mendapati bahwa itu bukan hal yang terlalu
sukar untuk menjaga hati nurani yang baik seperti kebanyakan orang.].
1)
Kata-kata dan sikap Bileam terhadap utusan kedua dari Balak.
Ay 18-19: “(18)
Tetapi Bileam menjawab kepada
pegawai-pegawai Balak: ‘Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak
seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat sesuatu, yang kecil atau yang
besar, yang melanggar titah TUHAN, Allahku. (19) Oleh sebab itu, baiklah kamupun
tinggal di sini pada malam ini, supaya aku tahu, apakah pula yang akan
difirmankan TUHAN kepadaku.’”.
a)
Orang brengsek sering mengeluarkan kata-kata yang kelihatan indah /
saleh, yang sebetulnya hanya merupakan ‘sandiwara’.
The
Biblical Illustrator: “How often has it happened
that those who make the loudest profession of their virtue, and of their love to
the cause of God, are the first to succumb to covetousness or other besetting
sin.” [= Alangkah sering terjadi
bahwa mereka yang membuat pengakuan yang paling keras tentang sifat baik mereka,
dan tentang kasih mereka pada perkara Allah, adalah yang pertama-tama mengalah
pada godaan ketamakan dan dosa-dosa lain yang terus menerus mengganggu /
menyerang.].
The
Bible Exposition Commentary: “In
light of the fact that Balaam even considered the new offer, his speech in verse
18 is just so much pious talk. With his lips, he professed to obey the Lord, but
in his heart he coveted the money and hoped God would change His mind.” [= Dalam terang dari fakta
bahwa Bileam bahkan mempertimbangkan tawaran yang baru itu, ucapan / pidatonya
dalam ay 18 hanyalah sekedar kata-kata saleh. Dengan bibirnya, ia mengaku
mentaati Tuhan, tetapi dalam hatinya ia menginginkan uang itu dan berharap Allah
akan / mau mengubah pikiranNya.].
Matthew
Henry: “Balaam’s
seeming resistance of, but real yielding to, this temptation. We may here
discern in Balaam a struggle between his convictions and his corruptions.”
[= Bileam kelihatannya menolak, tetapi sebetulnya tunduk / menyerah pada,
pencobaan ini. Di sini kita bisa melihat dalam diri Bileam suatu pergumulan
antara keyakinannya dan kejahatannya.].
Matthew
Henry: “His
convictions charged him to adhere to the command of God, and he spoke their
language, v. 18. Nor could any man have said better: ‘If Balak would give me
his house full of silver and gold, and that is more than he can give or I can
ask, I cannot go beyond the word of the Lord
my God.’ See how honourably he speaks of God; he is Jehovah, my God. Note,
Many call God theirs that are not his, ... See how respectfully he speaks of the
word of God, as one resolved to stick to it, and in nothing to vary from it, and
how slightly of the wealth of this world, as if gold and silver were nothing to
him in comparison with the favour of God; and yet, at the same time, the
searcher of hearts knew that he loved the wages of unrighteousness. Note, It is
an easy thing for bad men to speak very good words, and with their mouth to make
a show of piety.” [= Keyakinannya menyuruhnya
untuk taat pada perintah Allah, dan ia berbicara sesuai dengannya, ay 18.
Tidak ada orang yang bisa mengatakannya dengan lebih baik: ‘Sekalipun
Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, dan itu lebih dari apa
yang bisa ia berikan atau yang bisa aku minta, aku tidak akan sanggup berbuat
sesuatu, yang melampaui / melanggar firman TUHAN, Allahku’.
Lihatlah betapa dengan hormatnya ia berbicara tentang Allah; Ia adalah YEHOVAH,
Allahku. Perhatikan, Banyak orang menyebut Allah
sebagai Allah mereka padahal mereka bukan milikNya, ... Lihat betapa dengan
hormatnya ia berbicara tentang firman Allah, sebagai seseorang yang telah
memutuskan untuk melekat padanya, dan dalam hal apapun tidak mau berbeda
darinya, dan betapa ia berbicara secara meremehkan tentang kekayaan dunia ini,
seakan-akan emas dan perak sama sekali tidak berarti baginya dibandingkan dengan
perkenan Allah; tetapi pada saat yang sama, sang Pemeriksa hati tahu bahwa ia
mencintai upah ketidak-benaran / kejahatan. Perhatikanlah, Merupakan sesuatu
yang mudah bagi orang-orang jahat untuk mengatakan kata-kata yang sangat bagus,
dan dengan mulut mereka membuat pertunjukkan / pameran kesalehan.].
b)
Kalau diperhatikan dengan teliti, maka terlihat bahwa sebetulnya
kata-kata Bileam saling bertentangan.
The
Biblical Illustrator: “A brave speech, certainly!
Yes, no doubt it was true that Balaam felt that even for a house full of silver
and gold he could not go beyond the word of the Lord. But, in the first place,
why protest so much concerning silver and gold? Balak’s message had not
mentioned silver and gold - it spoke specially of honour. Surely it must have
been because the mind of Balaam was so much preoccupied with thoughts of silver
and gold that he thus spake; answering himself rather than others.” [= Ini pasti merupakan suatu
ucapan / pidato yang berani! Ya, tak diragukan bahwa merupakan sesuatu yang
benar bahwa Bileam merasa bahwa bahkan untuk sebuah rumah penuh dengan perak dan
emas ia tidak bisa bertindak melampaui firman Tuhan. Tetapi pertama, mengapa ia
memprotes begitu banyak tentang perak dan emas? Pesan Balak tidak menyebutkan
perak dan emas - pesannya berbicara khususnya tentang kehormatan. Pasti itu
disebabkan karena pikiran Bileam begitu dipenuhi dengan pikiran-pikiran tentang
perak dan emas sehingga ia berbicara seperti itu; cocok / menyesuaikan dengan
dirinya sendiri lebih dari pada orang-orang lain.].
Matthew
Henry: “it
appears (v. 19) that he had a strong inclination to accept the proffer; for he
would further attend, to know what God would say to him, hoping that he might
alter his mind and give him leave to go. This was a vile reflection upon God
Almighty, as if he could change his mind, and now at last suffer those to be
cursed whom he had pronounced blessed, and as if he would be brought to allow
what he had already declared to be evil. Surely he thought God altogether such a
one as himself. He had already been told what the will of God was, in which he
ought to have acquiesced, and not to have desired a re-hearing of that cause
which was already so plainly determined. Note, It is a very great affront to
God, and a certain evidence of the dominion of corruption in the heart, to beg
leave to sin.” [= kelihatannya (ay 19) ia
mempunyai kecenderungan yang kuat untuk menerima tawaran itu; karena ia akan
mendengar lebih jauh, untuk mengetahui apa yang akan Allah katakan kepadanya,
dengan berharap bahwa Ia bisa mengubah pikiranNya, dan akhirnya mengijinkan
mereka yang telah Ia berkati untuk dikutuk, dan seakan-akan Ia akan mengijinkan
apa yang telah Ia nyatakan sebagai kejahatan. Jelas ia berpikir bahwa Allah itu
adalah seseorang yang sepenuhnya seperti dirinya sendiri. Ia telah diberitahu
apa kehendak Allah, dalam mana ia seharusnya telah menyetujuinya tanpa
membantah, dan tidak menginginkan untuk mendengar ulang perkara itu yang sudah
dengan begitu jelas ditetapkan. Perhatikan, Merupakan suatu penghinaan kepada
Allah, dan suatu bukti yang jelas / pasti tentang berkuasanya kejahatan dalam
hati, untuk meminta ijin untuk berbuat dosa.].
The
Biblical Illustrator:
“Men
forget that there is a time when they need not ask the Lord any questions. Never
trouble the Lord to know whether you cannot do just a little wrong; He is not to
be called upon in relation to business of that kind. He does not pray who
palters with moral distinctions, who wants to make compromises, who is anxious
to find some little crevice or opening through which he can pass into the land
of his own desire.”
[= Manusia lupa bahwa ada saat dimana mereka tidak perlu menanyakan Tuhan
pertanyaan apapun. Jangan pernah menyusahkan Tuhan
untuk mengetahui apakah engkau tidak bisa hanya melakukan kesalahan kecil;
Ia tidak boleh dipanggil dalam hubungan dengan kesibukan seperti itu. Ia
tidak berdoa kalau ia menawar dengan perbedaan moral, yang ingin membuat
kompromi-kompromi, yang ingin untuk mendapatkan suatu celah atau lobang yang
kecil melalui mana ia bisa masuk ke tanah / negeri dari keinginannya sendiri.].
Contoh:
orang Kristen yang bertanya kepada Tuhan apakah boleh berpacaran / menikah
dengan orang yang tidak beriman. Atau bertanya kepada Tuhan apakah boleh bekerja
di suatu pekerjaan yang jelas mengharuskan ia berbuat dosa (dusta, melanggar
Sabat dsb). Atau bertanya kepada Tuhan apakah ia boleh membolos dari kebaktian
hari Minggu untuk pergi piknik bersama teman-teman / keluarga. Atau bolehkah
tidak memberikan persembahan persepuluhan dan menggunakan uangnya untuk
keperluan yang lain. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak perlu, dan bahkan
tidak boleh ditanyakan, karena jawabnya sudah jelas adalah ‘tidak boleh’!
c)
‘Penolakan Bileam’ lagi-lagi bernada terlalu lemah.
The
Biblical Illustrator: “why does Balaam say, ‘I cannot
go beyond the word of the Lord’? Why does he not roundly say, ‘I will not
go beyond the word of the Lord’? As it is he only speaks of inability; he does
not mention such a thing as personal disinclination.” [= mengapa Bileam berkata: ‘Aku
tidak bisa bertindak melampaui firman Tuhan’? Mengapa ia tidak
berkata dengan bersemangat: ‘Aku tidak mau
bertindak melampaui firman Tuhan’? Seakan-akan ia hanya berbicara tentang
ketidak-mampuan; ia tidak menyebutkan apapun tentang keseganan / ketidak-mauan
pribadi.].
Matthew
Henry: “His
corruptions at the same time strongly inclined him to go contrary to the
command. He seemed to refuse the temptation, v. 18. But even then he expressed
no abhorrence of it, as Christ did when he had the kingdoms of the world offered
him (Get thee hence Satan), and as
Peter did when Simon Magus offered him money: ‘Thy money perish with
thee.’”
[= Pada saat yang sama kejahatannya dengan kuat mencenderungkan dia untuk
bertindak bertentangan dengan perintah Allah. Ia kelihatannya menolak pencobaan,
ay 18. Tetapi bahkan pada saat itu ia tidak menyatakan kejijikannya terhadap hal
itu, seperti yang Kristus lakukan pada waktu kerajaan-kerajaan dunia ditawarkan
kepadaNya (‘Enyahlah, Iblis’), dan seperti yang Petrus lakukan pada saat
Simon tukang sihir menawarkan uang kepadanya: ‘Binasalah kiranya uangmu itu
bersama dengan engkau’ (Kis
8:20).].
d)
Orang yang bersikap seperti Bileam adalah murid Bileam.
Calvin:
“It is plain, therefore, that
all those are disciples of Balaam, who try the indulgence of God, that He may at
length permit them to attempt what He has once refused.”
[= Karena itu, adalah jelas, bahwa semua mereka merupakan murid-murid Bileam,
yang berusaha supaya Allah menuruti keinginannya, sehingga Ia akhirnya bisa
mengijinkan mereka untuk mengusahakan apa yang tadinya telah Ia tolak.]
- hal 192.
1)
Tuhan ‘mengijinkan’ Bileam pergi dengan para utusan Balak.
Ay 20: “Datanglah
Allah kepada Bileam pada waktu malam serta berfirman kepadanya: ‘Jikalau
orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah, pergilah
bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan kepadamu
harus kaulakukan.’”.
Matthew
Henry: “The
permission God gave him to go, v. 20. God came to him, probably by an anger,
and told him he might, if he pleased, go with Balak’s messengers. So he gave
him up to his own heart’s lust. ‘Since thou hast such a mind to go, even go,
yet know that the journey thou undertakest shall not be for thy honour; for,
though thou hast leave to go, thou shalt not, as thou hopest, have leave to
curse, for the word which I shall say unto thee, that thou shalt do.’ Note,
God has wicked men in a chain; hitherto they shall come by his permission, but
no further than he does permit them. ... It was in anger that God said to
Balaam, ‘Go with them,’ and we have reason to think that Balaam himself
so understood it, for we do not find him pleading this allowance when God
reproved him for going. Note, As God sometimes denies the prayers of his people
in love, so sometimes he grants the desires of the wicked in wrath.”
[= Allah mengijinkan ia untuk pergi, ay 20. Allah datang kepadanya, mungkin
oleh suatu kemarahan, dan memberitahunya bahwa ia boleh, jika ia ingin,
pergi dengan utusan-utusan Balak. Demikianlah Ia
menyerahkan dia pada nafsu hatinya sendiri. ‘Karena engkau
mempunyai pikiran untuk pergi, pergilah, tetapi ketahuilah bahwa perjalanan yang
engkau lakukan tidak akan menjadi kehormatanmu; karena sekalipun engkau mendapat
ijin untuk pergi, engkau tidak akan, seperti yang engkau harapkan, mendapat ijin
untuk mengutuk, karena firman yang Aku akan katakan kepadamu, itulah yang akan
engkau lakukan’. Perhatikan, Allah merantai orang-orang jahat; sampai di sini
mereka akan datang oleh ijinNya, tetapi tidak lebih jauh dari yang Ia ijinkan.
... Adalah dalam kemurkaan Allah berkata kepada
Bileam, ‘Pergilah dengan mereka’, dan kita mempunyai alasan untuk
berpikir bahwa Bileam sendiri mengertinya seperti itu, karena kita tidak
mendapati ia mengadakan pembelaan pada waktu Allah memarahinya karena
kepergiannya (mungkin
Matthew Henry memaksudkan ay 31-35). Perhatikan,
sebagaimana Allah kadang-kadang menolak doa-doa dari umatNya dalam kasih,
demikianlah Ia kadang-kadang mengabulkan keinginan-keinginan dari orang jahat
dalam kemurkaan.].
Jadi,
‘ijin’ seperti ini tidak terlalu berbeda dengan:
a)
‘Ijin’ yang Allah berikan bagi bangsa Israel untuk mempunyai seorang
raja.
1Sam 8:6-9
- “(6)
Waktu mereka berkata: ‘Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah
kami,’ perkataan itu mengesalkan Samuel,
maka berdoalah Samuel kepada TUHAN. (7) TUHAN
berfirman kepada Samuel: ‘Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal
yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak,
tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. (8)
Tepat seperti yang dilakukan mereka kepadaKu sejak hari Aku menuntun mereka
keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada
allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu. (9) Oleh
sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya peringatkanlah mereka
dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak
raja yang akan memerintah mereka.’”.
Lalu
dalam 1Sam 8:10-18 Samuel memperingatkan bangsa itu apa ruginya kalau mempunyai
seorang raja. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?
1Sam 8:19-22
- “(19)
Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata:
‘Tidak, harus ada raja atas kami; (20) maka kamipun akan sama seperti segala
bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam
perang.’ (21) Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan
menyampaikannya kepada TUHAN. (22) TUHAN berfirman
kepada Samuel: ‘Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi
mereka.’ Kemudian berkatalah Samuel kepada orang-orang Israel itu:
‘Pergilah, masing-masing ke kotanya.’”.
Bdk.
Hos 13:11 - “Aku
memberikan engkau seorang raja dalam murkaKu dan mengambilnya dalam gemasKu.”.
b)
‘Ijin’ yang Yesus berikan kepada Yudas Iskariot dalam Yoh 13:27b
- “Maka Yesus berkata kepadanya:
‘Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.’”.
Catatan:
sebagai perbandingan, kalau dalam kata-kata
‘tidak’ dari Bileam kepada para utusan Balak terkandung kata ’ya’,
maka sebaliknya dalam kata Tuhan ‘ya’ sekarang
ini kepada Bileam, terkandung kata ‘tidak’, atau bahkan sebetulnya berarti
‘tidak’. Bukan berarti bahwa Allah berbicara secara munafik,
tetapi maksudnya Ia mengijinkan, dengan tujuan untuk menghajar!
Calvin:
“If we more closely consider
the desire of Balaam, it was that God should belie Himself. ... God, therefore,
ironically permits what He had before forbidden. ... had not his ungodly
covetousness blinded Balaam, the meaning of this ironical permission was not
difficult to be understood.”
[= Jika kita mempertimbangkan dengan lebih dekat keinginan Bileam, itu adalah
supaya Allah mengingkari diriNya sendiri. ... Karena itu, Allah secara ironis
mengijinkan apa yang tadinya telah Ia larang. ... seandainya ketamakannya yang
jahat tidak membutakan Bileam, arti dari ijin yang bersifat ironis ini tidak
sukar untuk dimengerti.] - hal 192.
The
Biblical Illustrator: “There is no greater danger
than for God to answer a man according to the desires of his own heart; ... But
yet in this case God does not give us up altogether. As when Israel asked for a
king, He gave indeed what they desired - but He expostulated, He warned, He sent
them a token of His displeasure. So will He show us by His Providence that He is
displeased with us; in the way that we go, His angel with the sword in his hand
will meet us, i.e., some calamity, some accident, some grief, is sure to cross
our way to remind us from God that the way that we are going is not the way of
holiness or of peace. And these are all calls from God, not at all the less so
because when a man’s eyes are blinded with worldly business and covetousness
he does not see them to be such.”
[= Tidak ada bahaya yang lebih besar dari pada kalau
Allah menjawab seseorang sesuai dengan keinginan-keinginan dari hatinya sendiri;
... Tetapi dalam kasus inipun Allah tidak menyerahkan kita sama sekali /
sepenuhnya. Seperti pada waktu Israel meminta seorang raja, Ia memang memberikan
apa yang mereka inginkan - tetapi Ia berargumentasi dengan sungguh-sungguh, Ia
memperingati, Ia mengirim kepada mereka suatu tanda dari / tentang
ketidak-senanganNya. Demikianlah Ia akan menunjukkan
kita oleh ProvidensiaNya bahwa Ia tidak berkenan kepada kita; dalam jalan dimana
kita pergi, malaikatNya dengan pedang di tangannya akan menjumpai kita, yaitu
suatu bencana, kecelakaan, kesedihan, pasti melewati jalan kita untuk
mengingatkan kita dari Allah bahwa jalan yang sedang kita lalui bukanlah jalan
kekudusan atau damai. Dan hal-hal ini merupakan panggilan-panggilan
dari Allah, sama sekali tidak kurang dari itu sekalipun mata manusia dibutakan
oleh kesibukan duniawi dan ketamakan sehingga ia tidak melihatnya sebagai
panggilan-panggilan dari Allah.].
Contoh:
dalam kasus Yunus, sekalipun memang tidak pernah ada ‘ijin’ dari Allah,
tetapi kelihatannya ada jalan terbuka. Tetapi pada waktu Yunus nekad
melewatinya, ia dihajar habis-habisan!
2)
Bileam pergi dengan para utusan Balak, tetapi itu ternyata membuat Tuhan
marah!
Ay 21: “Lalu
bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan
pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab.”.
Tetapi
hal itu ternyata membuat Tuhan murka.
Ay 22a: “Tetapi
bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, ...”.
Mengapa?
The
Biblical Illustrator:
“The
sin of sinners is not to be thought the less provoking to God for His permitting
it. We must not think that because God doth not by His providence restrain men
from sin, therefore He approves of it; or that it is therefore not hateful to
Him; He suffers sin, and yet is angry at it.”
[= Dosa dari orang-orang berdosa tidak boleh dianggap kurang memprovokasi Allah
karena ijin yang Ia berikan. Kita tidak boleh berpikir bahwa karena Allah oleh
providensiaNya tidak mengekang manusia dari dosa, karena itu Ia menyetujui /
merestuinya; atau bahwa karena itu dosa itu tidak membangkitkan kebencianNya; Ia
mengijinkan dosa, tetapi Ia marah padanya.].
Keil
& Delitzsch:
“The
apparent contradiction in His first of all prohibiting Balaam from going (v.
12), then permitting it (v. 20), and then again, when Balaam set out in
consequence of this permission, burning with anger against him (v. 22), does not
indicate any variableness in the counsels of God, but vanishes at once when we
take into account the pedagogical purpose of the divine consent.” [= Hal yang kelihatannya
kontradiksi pada waktu Ia pertama-tama melarang Bileam untuk pergi (ay 12), dan
lalu mengijinkannya (ay 20), dan lalu lagi, pada waktu Bileam berangkat sebagai
konsekwensi dari ijin ini, murkaNya menyala-nyala terhadap dia (ay 22),
tidak menunjukkan perubahan apapun dalam rencana Allah, tetapi segera hilang
pada waktu kita memperhatikan tujuan pendidikan dari ijin ilahi.].
Di
atas telah kita lihat bahwa Allah memang memberi ‘ijin’ dalam kemurkaan.
Tetapi beberapa penafsir mengatakan bahwa ada sebab lain yang menyebabkan
kemurkaan Allah, pada saat Bileam pergi.
Matthew
Henry: “God
gave him leave to go if the men called him, but he was so fond of the journey
that we do not find he staid for their calling him, but he himself rose up in
the morning, got every thing ready with all speed, and went with the princes of
Moab, who were proud enough that they had carried their point. The apostle
describes Balaam’s sin here to be that he ran greedily into an error
for reward, Jude 11. The love of money is the root of all evil.”
[= Allah memberinya ijin untuk pergi jika
orang-orang itu memanggilnya (ay
20), tetapi ia begitu senang dengan perjalanan itu sehingga kita tidak
menemukan bahwa ia tinggal tenang sampai mereka memanggilnya, tetapi ia sendiri
bangkit di pagi hari, mempersiapkan segala sesuatu dengan secepatnya, dan pergi
bersama dengan pangeran-pangeran Moab, yang cukup bangga karena mereka telah
berhasil / memenangkan maksud mereka. Sang rasul menggambarkan dosa Bileam di
sini sebagai ia berlari dengan tamak ke
dalam kesalahan untuk upah, Yudas 11. Cinta uang adalah akar segala kejahatan (1Tim
6:10).].
Ay 20: “Datanglah
Allah kepada Bileam pada waktu malam serta berfirman kepadanya: ‘Jikalau
orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah,
pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan
kepadamu harus kaulakukan.’”.
KJV:
‘And God came unto Balaam at night, and said unto him, If the men come
to call thee, rise up, and go with them; but yet the word which I shall say
unto thee, that shalt thou do’ [= Dan Allah datang kepada Bileam pada
malam, dan berkata kepadanya, Jika orang-orang itu datang untuk memanggilmu,
bangunlah, dan pergilah dengan mereka; tetapi kata-kata yang akan Aku katakan
kepadamu, itulah yang harus engkau lakukan].
Yudas 11 - “Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh
Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan
Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah”.
KJV:
‘Woe unto them! for they have gone in the way of Cain, and ran greedily
after the error of Balaam for reward, and perished in the gainsaying of
Core’ [= Celakalah mereka! karena mereka telah mengikuti jalan Kain, dan
berlari dengan tamak menuruti kesalahan Bileam demi upah, dan binasa dalam
penyangkalan Korah].
The
Bible Exposition Commentary: “God
came to Balaam and instructed him to go with the princes only if they came to
call him the next morning (v. 20). The Lord
cautioned Balaam, ‘Do only what I tell you.’ But the next morning, Balaam
didn’t wait for the men to come to him; he saddled his donkey and went to the
place where the delegation was camped, determined to do his own will. This
determination, along with the covetousness in Balaam’s heart, made the Lord
angry.” [= Allah datang kepada Bileam
dan menginstruksikan dia untuk pergi bersama pangeran-pangeran itu hanya
jika mereka datang untuk memanggilnya pada pagi berikutnya (ay 20).
Tuhan memperingatkan Bileam, ‘Lakukan hanya apa yang Aku beritahu kepadamu’.
Tetapi pagi berikutnya, Bileam tidak menunggu sampai orang-orang itu datang
kepadanya; ia memasang pelana keledainya dan pergi ke tempat dimana
utusan-utusan itu berkemah, memutuskan untuk melakukan kehendaknya sendiri.
Keputusan ini, bersama-sama dengan ketamakan dalam hati Bileam, membuat Tuhan
marah.].
Karena
itu, yang paling benar dan aman, adalah langsung mentaati, tanpa menawar, pada
saat kita mengetahui kehendak Allah bagi kita.
Calvin:
“wherefore, nothing is better
than, in pure and simple teachableness, to inquire what He would have us do,
that we may instantly succumb, nor try to alter a word or a syllable as soon as
He shall have deigned to open His holy mouth to instruct us. For to call in
question what has been decided by Him, what is it but to compel Him by our
importunity to bend Himself to our wishes?”
[= karena itu, tak ada yang lebih baik dari, dalam keadaan bisa diajar yang
murni dan sederhana, untuk bertanya apa yang Allah inginkan untuk kita lakukan,
supaya kita bisa segera tunduk, dan tidak berusaha untuk mengubah suatu kata
atau suku kata, begitu Ia berkenan membuka mulutNya yang kudus untuk mengajar
kita. Karena mempertanyakan apa yang telah Ia tentukan, apakah itu selain
memaksa Dia oleh desakan kita untuk membengkokkan diriNya sendiri pada keinginan
kita?] - hal
192-193.
Maukah
saudara taat pada Firman Tuhan secara langsung, dan tanpa menawar?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali