(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Minggu,
tgl 10 Nopember 2019, pk 08.00 & 17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
Bil 22:5-7
- “(5)
Raja ini mengirim utusan kepada Bileam bin Beor, ke Petor yang di tepi sungai
Efrat, ke negeri teman-teman sebangsanya, untuk memanggil dia, dengan pesan:
‘Ketahuilah, ada suatu bangsa keluar dari Mesir; sungguh, sampai tertutup
permukaan bumi olehnya, dan mereka sedang berkemah di depanku. (6) Karena itu,
datanglah dan kutuk bangsa itu bagiku, sebab mereka lebih kuat dari padaku;
mungkin aku sanggup mengalahkannya dan menghalaunya dari negeri ini, sebab aku
tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia
kena kutuk.’ (7) Lalu berangkatlah para tua-tua Moab dan para tua-tua Midian
dengan membawa di tangannya upah penenung; setelah mereka sampai kepada
Bileam, disampaikanlah kepadanya pesan Balak.”.
Ay 5: “Raja
ini mengirim utusan kepada Bileam bin Beor, ke Petor yang di tepi sungai Efrat,
ke negeri teman-teman sebangsanya, untuk memanggil dia, dengan pesan:
‘Ketahuilah, ada suatu bangsa keluar dari Mesir; sungguh, sampai tertutup
permukaan bumi olehnya, dan mereka sedang berkemah di depanku.”.
1)
Tempat tinggal Bileam.
Ay 5: “ke
Petor yang di tepi sungai Efrat,
ke negeri teman-teman sebangsanya,”.
KJV:
‘to Pethor, which is by the river of the land of the children of his
people’ [= ke Petor, yang dekat sungai dari negeri dari anak-anak
bangsanya].
RSV:
‘at Pethor, which is near the River, in the land of Amaw’ [= di
Petor, yang dekat Sungai, di negeri dari Amaw].
NIV:
‘at Pethor, near the River, in his native land’
[= di Petor, dekat Sungai, di negeri asalnya].
NASB:
‘at Pethor, which is near the River, in the land of the sons of his people’
[= di Petor, yang dekat Sungai, di negeri dari anak-anak dari bangsanya].
Jadi,
kata ‘Efrat’
sebetulnya tidak ada, dan Adam Clarke memberikan pandangan dari Dr. Kennicott
yang mengatakan bahwa tempat tinggal Bileam bisa di dekat sungai apa saja.
Tetapi lalu sungai apa? Apakah dekat S. Nil di Mesir, atau S. Yordan di Kanaan,
atau S. Efrat di Mesopotamia yang termasuk wilayah bangsa Amon? Dr. Kennicott
menganggap yang terakhirlah yang benar, dan ada 12 manuscripts Ibrani yang bukan
menuliskan AMOW [= his people / bangsanya], tetapi AMOWN [= bangsa Amon]
sesuai dengan apa yang ada dalam manuscripts Samaria, Syria dan Latin (Vulgate).
Dengan demikian Ul 23:3-4 menjadi masuk akal.
Ul 23:3-4
- “(3)
Seorang Amon atau seorang Moab janganlah masuk jemaah TUHAN, bahkan
keturunannya yang kesepuluhpun tidak boleh masuk jemaah TUHAN sampai
selama-lamanya, (4) karena mereka
tidak menyongsong kamu dengan roti dan air pada waktu perjalananmu keluar dari
Mesir, dan karena mereka
mengupah Bileam bin Beor dari Petor di Aram-Mesopotamia melawan engkau,
supaya dikutukinya engkau.”.
Mengapa
Amon diikut-ikutkan? Kalau sekedar dilihat dari cerita tentang Bileam dalam Bil 22-25,
bangsa Amon sama sekali tidak ikut campur dalam usaha pengutukan terhadap
Israel. Tetapi dalam Ul 23:3-4 bangsa Amon ikut dihukum / dikutuk oleh
Tuhan, karena Bileam bertempat-tinggal di antara mereka.
Albert
Barnes mempunyai pandangan berbeda. Ia menganggap bangsa Amon ikut dihukum
karena mereka dan Moab dianggap sebagai satu kesatuan. Saya sendiri tak setuju
dengan Barnes, dan lebih setuju dengan pandangan Clarke / Dr. Kennicott.
2)
Arti nama Bileam.
Pulpit Commentary: “‘Unto Balaam the son of Beor.’
בִּלְעָם
(Bileam: our common form is from the Septuagint and New Testament, Βαλαάμ)
is derived either from בָּלַע,
to destroy or devour, and עָם,
the people; or simply from בָּלַע,
with the terminal syllable -ָם,
‘the destroyer.’ The former derivation receives some support from Rev. 2:14,
15, where ‘Nicolaitans’ are thought by many to be only a Greek form of
‘Balaamites’ (Νικόλαος,
from νικάω and λαός).
Beor (בְּעוּר)
has a similar signification, from בָּעָר,
to burn, or consume. Both names have probable reference to the supposed effect
of their maledictions, for successful cursing was an hereditary profession in
many lands, as it still is in some.” [= ‘Bileam anak
Beor’. בִּלְעָם! (Bileam: bentuk umum
yang digunakan dalam bahasa Inggris adalah dari Septuaginta dan Perjanjian Baru, Βαλαάμ) diturunkan atau
dari בָּלַע*,
‘menghancurkan’ atau ‘menelan’, dan
עָם,
‘bangsa’; atau sekedar dari בָּלַע,
dengan suku kata akhir
-ָם,
‘sang penghancur’. Penurunan yang pertama mendapatkan dukungan dari Wah
2:14,15, dimana ‘Nikolaus’ dianggap oleh banyak orang hanya sebagai bentuk
Yunani dari ‘pengikut Bileam’
(Νικόλαος,
dari νικάω dan λαός).
‘Beor’ (בְּעוּר)
mempunyai arti yang mirip, dari בָּעָר, ‘membakar’,
atau ‘menghanguskan’. Kedua nama mempunyai kemungkinan berhubungan dengan
akibat / hasil dari pengutukan mereka, karena pengutukan yang sukses merupakan
pekerjaan turun-temurun, seperti yang masih ada sekarang di beberapa tempat.].
Catatan:
NIKAO = ‘saya mengalahkan’; LAOS = bangsa.
Wah 2:14-15
- “(14)
Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa
orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk
menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat
zinah. (15) Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut
Nikolaus.”.
Catatan:
menurut saya, kalau dilihat pengalimatan dari Wah 2:14-15 ini kelihatannya
‘penganut ajaran Bileam’ ini dibedakan dari ‘penganut ajaran Nikolaus’.
Entah bagaimana penafsir dari Pulpit Commentary itu bisa menyamakan.
3)
Siapakah Bileam itu?
Ada
pro dan kontra yang besar tentang diri Bileam ini, tetapi saya menganggap Bileam
sebagai seorang kafir, tetapi bukan orang kafir biasa. Mengapa? Karena jelas
bahwa ia mengenal Allah dengan benar, dan bahkan menyebutNya dengan nama
‘Yahweh’ (Misalnya dalam ay 8).
Ay
8: “Lalu berkatalah Bileam kepada
mereka: ‘Bermalamlah di sini pada malam ini, maka aku akan memberi jawab
kepadamu, sesuai dengan apa yang akan difirmankan TUHAN
(Ibrani: YHWH)
kepadaku.’ Maka tinggallah pemuka-pemuka Moab itu pada Bileam.”.
Dan
juga ia bisa bernubuat, berkomunikasi dengan Allah, mentaati Allah, dan
kelihatannya melayani Allah yang benar. Tetapi pada saat yang sama, ia adalah
semacam tukang sihir / penenung (ay 7), yang boleh dipastikan menggunakan
kuasa setan, dan bukannya kuasa Allah.
Ay
7: “Lalu berangkatlah para tua-tua
Moab dan para tua-tua Midian dengan membawa di tangannya upah penenung; setelah mereka sampai kepada Bileam, disampaikanlah
kepadanya pesan Balak.”.
Juga,
ia adalah orang yang tamak / cinta uang, dan itu mengalahkan semua pengetahuan /
pengenalannya yang benar tentang Allah, rasa takutnya kepada Allah, dsb. Dan itu
juga pada akhirnya mencelakakan dan membunuh dia!
Pulpit
Commentary: “Balaam had a true knowledge
of the most high God. He was not in any sense a heathen as far as his
intellectual perception of Divine things went. And it was not merely Elohim, the
God of nature and creation, whom he knew and revered, but distinctly Jehovah,
the God of Israel and of grace. Speculatively he knew as much of God as Abraham
or Job.”
[= Bileam mempunyai pengetahuan yang benar tentang Allah yang Maha Tinggi. Ia
sama sekali bukan orang kafir sejauh pengertian intelektualnya tentang hal-hal
Ilahi dipersoalkan. Dan bukan semata-mata ELOHIM, Allah dari alam dan ciptaan,
yang ia kenal dan hormati / takuti, tetapi dengan jelas Yehovah, Allah dari
Israel dan dari kasih karunia. Diduga, ia mengetahui / mengenal Allah sama
banyaknya dengan Abraham dan Ayub.].
The
Biblical Illustrator: “Balaam
belonged to that still numerous class who theoretically know God, and who
actually do fear Him, but whose love and fear of God are not the governing
principles of their minds. They are convinced, but not converted. They would
serve God, but they must serve mammon also; and in the strife between the two
contending influences their lives are made bitter, and their death is perilous.” [= Bileam termasuk dalam
kelompok orang banyak itu yang secara teoretis mengenal Allah, dan yang
sungguh-sungguh takut kepadaNya, tetapi yang kasih
dan rasa takut terhadap Allah bukanlah prinsip-prinsip yang memerintah pikiran
mereka. Mereka diyakinkan, tetapi tidak
dipertobatkan. Mereka mau menyembah / melayani Allah, tetapi
mereka harus menyembah / melayani Mammon juga; dan dalam
pergumulan di antara dua pengaruh yang bertentangan ini, kehidupan mereka dibuat
menjadi pahit, dan kematian mereka membahayakan.].
Teacher’s Commentary: “There
is no reason to doubt that Balaam had some spiritual powers. ... But it is more
likely that the roots of Balaam’s spiritual power were in the demonic than the
divine. Throughout the Bible Balaam is spoken of in a negative way, and held up
as a negative example. His ways and his motives are condemned in the New
Testament, and his death is recounted in chapter 31 as a divine judgment.” [= Tak ada alasan
untuk meragukan bahwa Bileam mempunyai kuasa-kuasa rohani. ... Tetapi adalah
lebih memungkinkan bahwa akar dari kuasa-kuasa rohani Bileam adalah setan dan
bukan Allah. Dalam sepanjang Alkitab Bileam dibicarakan dengan cara negatif, dan
ditegakkan sebagai suatu teladan buruk. Cara-cara dan motivasinya dikecam dalam
Perjanjian Baru, dan kematiannya dalam pasal 31 diperhitungkan sebagai suatu
penghukuman ilahi.].
Bil 31:7-8
- “(7)
Kemudian
berperanglah mereka melawan Midian, seperti yang
diperintahkan TUHAN kepada Musa, lalu membunuh semua laki-laki
mereka. (8) Selain dari orang-orang yang mati terbunuh itu, merekapun membunuh
juga raja-raja Midian, yakni Ewi, Rekem, Zur, Hur dan Reba, kelima raja Midian, juga
Bileam bin Beor dibunuh mereka dengan pedang.”.
Pulpit
Commentary: “Balaam’s
name mentioned in the New Testament only three times, and each time it is
covered with reproach (2 Peter 2:15; Jude 11; Rev 2:14). His root sin was the
ancient, inveterate vice of human nature, selfishness. ... His
selfishness was shown in - (1) Ambition. ... (2) Covetousness.” [= Nama Bileam disebutkan dalam
Perjanjian Baru hanya 3 x, dan setiap kali itu ditutupi dengan celaan (2Pet
2:15; Yudas 11; Wah 2:14). Akar dosanya adalah kejahatan yang kuno, dan
berurat-berakar dari sifat manusia, keegoisan. ... Keegoisannya ditunjukkan
dalam (1) Ambisi. ... (2) Ketamakan.].
2Pet 2:15 - “Oleh
karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu
mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka
menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.”.
Yudas 11 - “Celakalah
mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh
sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan
Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.”.
Wah 2:14 - “Tetapi
Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang
yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat
kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan
berhala dan berbuat zinah.”.
Barnes’
Notes: “Balaam
the son of Beor was from the first a worshipper in some sort of the true God;
and had learned some elements of pure and true religion in his home in the far
East, the cradle of the ancestors of Israel. But though prophesying, doubtless
even before the ambassadors of Balak came to him, in the name of the true God, yet
prophecy was still to him as before a mere business, not a religion. The
summons of Balak proved to be a crisis in his career: and he failed under the
trial.” [= Bileam anak Beor dari semula adalah
semacam seorang penyembah dari Allah yang benar; dan telah mempelajari beberapa
elemen dari agama yang murni dan benar di rumahnya di Timur Jauh, tempat lahir
dari nenek moyang Israel. Tetapi sekalipun bernubuat dalam nama dari Allah yang
benar, tak diragukan bahkan sebelum utusan-utusan Balak datang kepadanya, tetapi
baginya tetap seperti sebelumnya nubuat hanyalah semata-mata bisnis, bukan agama.
Pemanggilan dari Balak terbukti merupakan suatu krisis dalam karirnya: dan ia
gagal dalam ujian itu.].
Nubuat
adalah pemberitaan firman! Kalau Bileam bisa bernubuat semata-mata demi bisnis,
maka demikian juga banyak pendeta-pendeta jaman sekarang bisa ‘memberitakan
firman’ / ‘berkhotbah’ semata-mata demi bisnis! Mereka adalah
Bileam-Bileam jaman modern!
The
Biblical Illustrator: “He knows the true God. ... He
is a wise man, and a prophet of God. God really speaks to him, and really
inspires him. And bear in mind, too, that Balaam’s inspiration did not merely
open his mouth to say wonderful words which he did not understand, but opened
his heart to say righteous and wise things which he did understand. What, then,
was wrong in Balaam? This, that he was double-minded. He wished to serve God.
True. But he wished to serve himself by serving God, as too many do in all times.” [= Ia mengenal Allah yang
benar. ... Ia adalah orang yang bijaksana, dan seorang nabi Allah. Allah
sungguh-sungguh berbicara kepadanya, dan sungguh-sungguh mengilhaminya. Dan
camkanlah juga bahwa pengilhaman Bileam tidak semata-mata membuka mulutnya untuk
mengatakan hal-hal bijaksana yang tidak ia mengerti, tetapi membuka hatinya
untuk mengatakan hal-hal benar dan bijaksana yang ia mengerti. Lalu apa yang
salah dalam diri Bileam? Ini, bahwa ia mempunyai
pikiran yang bercabang. Ia ingin melayani Allah. Benar. Tetapi ia ingin melayani
dirinya sendiri dengan cara melayani Allah, seperti yang juga banyak dilakukan
dalam semua jaman.].
Catatan:
memang 2Pet 2:15-16 menyebutnya sebagai ‘nabi’, tetapi secara negatif,
sehingga bisa diartikan sebagai ‘nabi palsu’.
2Pet 2:15-16
- “(15)
Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka,
lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka
menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. (16) Tetapi
Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang
bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan
nabi itu”.
The
Biblical Illustrator: “That was what was wrong with
him - self-seeking; ... But what may we learn from this ugly story? Recollect
what I said at first, that we should find Balaam too like many people
nowadays; perhaps too like ourselves. Too like indeed. For never were men more
tempted to sin as Balaam did than in these days, when religion is all the
fashion, and pays a man, and helps him on in life; ... Thereby comes a
terrible temptation to many men. I do not mean to hypocrites, but to really
well-meaning men. They like religion. They wish to be good; they have the
feeling of devotion. They pray, they read their Bibles, they are attentive to
services and to sermons, and are more or less pious people. But soon - too
soon - they find that their piety is profitable. Their business increases.
Their credit increases. They gain power over their fellow men. What a fine
thing it is, they think, to be pious! Then creeps in the love of the world;
the love of money, or power, or admiration; and they begin to value religion
because it helps them to get on in the world.”
[= Itulah yang salah dengan dia - pencarian
kepentingan diri sendiri; ... Tetapi apa yang bisa kita pelajari
dari cerita yang buruk ini? Ingatlah apa yang saya katakan pada awalnya, bahwa
kita mendapati bahwa Bileam mirip dengan banyak orang pada jaman sekarang;
mungkin juga mirip dengan diri kita sendiri. Bahkan terlalu mirip. Karena
tidak pernah manusia dicobai pada dosa seperti Bileam lebih dari pada jaman
ini, dimana agama hanya merupakan mode, dan membayar / menguntungkan
seseorang, dan menolongnya untuk melanjutkan kehidupan. ... Dengan itu
datanglah pencobaan yang dahsyat kepada banyak orang. Saya
tidak memaksudkan orang-orang munafik, tetapi orang-orang yang sungguh-sungguh
bermaksud baik. Mereka menyukai agama. Mereka ingin menjadi baik;
mereka mempunyai perasaan pembaktian. Mereka berdoa, mereka membaca Alkitab
mereka, mereka sangat memperhatikan kebaktian-kebaktian dan khotbah-khotbah,
dan mereka kurang lebih merupakan orang-orang saleh. Tetapi
dengan cepat - terlalu cepat - mereka mendapati bahwa kesalehan mereka
merupakan sesuatu yang menguntungkan. Bisnis mereka meningkat.
Kehormatan mereka meningkat. Mereka mendapatkan kekuasaan atas sesama mereka.
Dan mereka berpikir, Alangkah indahnya hal ini, menjadi saleh! Lalu
merangkaklah masuk kasih kepada dunia ini; cinta uang, atau kuasa, atau
penghargaan; dan mereka mulai menghargai agama karena agama itu menolong
mereka untuk maju / berhasil dalam dunia ini.].
The
Biblical Illustrator:
“How
came it that Balaam acted so inconsistently with his knowledge and convictions,
and succeeded for the time, as we may say, in juggling with his conscience? The
answer is not hard to find. He loved money. His heart was set on gold. He had
allowed the passion of covetousness to become the ruling principle of his
nature. ... What a terrible passion is this of covetousness! ... No one of us,
whether rich or poor, whether minister or layman, has a right to say that there
is no fear of him in this matter; for if the love of money takes possession of
the heart, it will blind the eyes, and harden the conscience, and become a root
of evil, so that we shall ‘fall into temptation and a snare, and into many
foolish and hurtful lusts that war against the soul.’ But what is true of
covetousness is true also of every evil principle, so that we may generalise the
lesson here, and say that if the heart be fixed on any object as its God, other
than the God and Father of our Lord Jesus Christ, we may expect in the end,
whatever may be our knowledge, and whatever our scruples in other respects, that
we shall act against our convictions, and make shipwreck not only of the faith,
but also of ourselves, ‘without possibility of salvage.’” [= Bagaimana Bileam bisa
bertindak begitu tidak konsisten dengan pengetahuan dan keyakinannya, dan
berhasil untuk sementara waktu dalam bermain sulap dengan hati nuraninya?
Jawabannya tidak sukar untuk didapatkan. Ia cinta uang. Hatinya diarahkan pada
emas. Ia telah mengijinkan nafsu ketamakan untuk menjadi prinsip yang memerintah
dirinya. ... Alangkah mengerikannya nafsu ketamakan ini! ... Tak seorangpun dari
kita, apakah kaya atau miskin, apakah seorang pendeta atau orang awam, mempunyai
hak untuk berkata bahwa tidak ada rasa takut dalam dirinya dalam persoalan ini;
karena jika cinta uang menguasai hati, itu akan
membutakan mata, dan mengeraskan hati nurani, dan menjadi akar dari kejahatan,
sehingga kita akan ‘terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam
berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan
manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan’ (1Tim
6:9). Tetapi
apa yang benar tentang ketamakan, juga benar tentang setiap prinsip jahat,
sehingga kita bisa menjadikan pelajaran ini bersifat umum, dan berkata bahwa
jika hati dipancangkan pada obyek apapun sebagai allahnya, selain
dari Allah dan Bapa dari Tuhan Yesus Kristus, kita bisa mengharapkan pada
akhirnya, tak peduli bagaimana pengetahuan kita, dan tak peduli bagaimana
kecermatan kita dalam hal-hal lain, bahwa kita akan bertindak menentang
keyakinan kita, dan mengandaskan, bukan hanya iman kita, tetapi juga diri kita
sendiri, ‘tanpa kemungkinan untuk diselamatkan’.].
Dari
hal-hal tentang Bileam ini bisa ditarik beberapa kesimpulan sebagai penerapan.
a)
Hanya sekedar pengetahuan intelektual dan karunia pelayanan, sehebat
apapun kedua hal itu, tidak ada artinya sama sekali, kalau tidak disertai dengan
iman yang sungguh-sungguh.
b)
Sekalipun pada satu sisi, jelas merupakan sesuatu yang salah kalau kita
langsung mempercayai seseorang sebagai orang kristen sejati / hamba Tuhan yang
sejati, begitu kita melihat pengetahuan dan karunia yang hebat, tetapi juga
salah kalau pada saat kita melihat seseorang yang mempunyai pengetahuan dan
karunia yang hebat mempunyai cacat cela sedikit saja, kita langsung mencapnya
‘sebagai Bileam’.
c)
Cinta uang / ketamakan merupakan sesuatu yang membahayakan dan harus
diwaspadai oleh semua orang! Dan pada jaman sekarang kita melihat bahwa banyak
sekali, bahkan mungkin mayoritas, orang kristen, hamba Tuhan, gereja, Lembaga
Kristen, Penerbit buku, bahkan mungkin sekolah theologia, secara sadar atau
tidak, menjadikan uang sebagai pusat kehidupan / pelayanan mereka.
4) Pemanggilan
Bileam merupakan hal baik yang salah arah.
Calvin
menganggap bahwa Balak mempunyai suatu sikap yang baik, yaitu mencari
pertolongan dari Allah, tetapi ia mencarinya dengan cara yang salah, yaitu
dengan mendatangi satu nabi upahan / mata duitan.
Calvin: “This
passage shews us, like many others, that the errors wherein Satan entangles
unbelievers are derived from good principles. The modesty of king Balak appears
to be worthy of praise, in that, conscious of his own weakness, and placing no
confidence in human aid, he sets about imploring the help of God. ... but, when
he seeks for God amiss by circuitous ways, he departs far from Him. And this is
a common error with all hypocrites and unbelievers, that, whilst they aspire
after God, they wander into indirect paths of their own. Balak desires Divine
deliverance from his danger; but the means are of his own device, when he would
purchase incantations from a mercenary prophet;”
[= Text ini menunjukkan kepada kita, seperti text-text yang lain, bahwa
kesalahan-kesalahan dalam mana Setan / Iblis menjerat orang-orang yang tidak
percaya didapatkan dari prinsip-prinsip yang baik. Kerendahan hati dari raja
Balak kelihatannya layak dipuji, dalam hal dimana ia sadar akan kelemahannya,
dan tidak menempatkan keyakinan pada pertolongan manusia, dan ia mulai mencari
pertolongan dari Allah. ... tetapi, pada saat ia
mencari Allah secara keliru dengan cara memutar, ia menyimpang jauh dari padaNya.
Dan ini adalah suatu kesalahan yang umum dengan semua orang munafik dan orang
tidak percaya, bahwa sementara mereka menginginkan /
mencari Allah, mereka mengembara ke dalam jalan-jalan yang menyimpang dari diri
mereka sendiri. Balak menginginkan pembebasan / pertolongan Ilahi
dari bahayanya; tetapi caranya merupakan rancangannya
sendiri, pada waktu ia mau membeli mantera dari seorang nabi yang berjiwa dagang;].
Calvin: “We
gather, therefore, from his anxiety to obtain peace and pardon from God, that
there was some seed of religion implanted in his mind. The reverence which he
pays to the Prophet is also a sign of his piety. But that he desires to win over
God by his own vain inventions is a proof of foolish superstition; and that he
seeks to lay Him under obligation to himself, of impious pride.”
[= Karena itu, kami menyimpulkan, dari keinginannya untuk mendapatkan damai dan
pengampunan dari Allah, bahwa ada sedikit benih agama tertanam dalam pikirannya.
Penghormatan yang ia berikan kepada sang nabi juga merupakan suatu tanda dari
kesalehannya. Tetapi bahwa ia ingin memenangkan Allah oleh penemuan-penemuannya
sendiri yang sia-sia, merupakan suatu bukti dari suatu takhyul yang tolol; dan
bahwa ia berusaha untuk meletakkan Dia di bawah kewajiban terhadap dirinya
sendiri, merupakan suatu bukti dari kesombongan yang jahat.].
Catatan:
saya berpendapat bahwa penafsiran Calvin belum tentu benar dalam kasus raja
Balak (khususnya dalam kata-katanya bahwa Balak mencari Allah), tetapi dalam
banyak kasus ini memang sering benar.
5)
Apa yang Balak inginkan untuk dilakukan Bileam baginya.
Ay 6: “Karena
itu, datanglah dan kutuk bangsa itu bagiku, sebab mereka lebih kuat dari padaku;
mungkin aku sanggup mengalahkannya dan menghalaunya dari negeri ini, sebab aku
tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia
kena kutuk.’”.
a)
Balak ingin Bileam mengutuk Israel baginya.
Teacher’s
Commentary: “Balak called on Balaam to
curse Israel for him. The word translated ‘curse’ here is QABAB, which
suggests the idea of binding, to reduce ability, or to render powerless. Peoples
in the ancient world considered curses magic tools to be used to gain power over
enemies. Balak was attempting to mount a supernatural attack on this people
against whom natural resources seemed inadequate.”
[= Balak memanggil Bileam untuk mengutuk Israel baginya. Kata yang diterjemahkan
‘mengutuk’ di sini adalah QABAB, yang menunjukkan suatu gagasan tentang
mengikat, menurunkan kemampuan, atau membuat tak berdaya. Orang-orang dalam
dunia kuno menganggap kutukan sebagai alat-alat magic untuk digunakan untuk
mendapatkan kuasa atas musuh-musuh mereka. Balak
sedang berusaha untuk naik pada suatu serangan supranatural / gaib terhadap
bangsa ini, terhadap siapa sumber-sumber alamiah kelihatannya tidak mencukupi.].
Calvin
mengomentari bagian ini dengan mengatakan bahwa setan selalu menyerang
gereja dengan segala macam cara untuk menghancurkannya. Tetapi pada saat
yang sama cerita ini juga menunjukkan bagaimana Tuhan selalu menjaga
milikNya / anak-anakNya dan menggunakan serangan-serangan dari musuh-musuh
gereja itu untuk kebaikan anak-anakNya itu.
Tetapi
saya ingin menambahkan bahwa antara serangan setan dan pertolongan Tuhan itu
bisa ada suatu masa yang cukup panjang, dan itu yang membuat kita menderita!
b)
Apakah orang kristen perlu takut terhadap kutuk?
Matthew
Henry: “Curses
pronounced by God’s prophets in the name of the Lord have wonderful effects,
as Noah’s (Gen. 9:25), and Elisha’s, 2 Kin. 2:24. But the curse causeless
shall not come (Prov. 26:2), no more than Goliath’s, when he cursed David by
his gods, 1 Sam. 17:43.” [= Kutuk-kutuk yang diucapkan
oleh nabi-nabi Allah dalam nama Tuhan mempunyai akibat / hasil yang luar biasa,
seperti kutuk dari Nuh (Kej 9:25), dan kutuk dari Elisa, 2Raja 2:24. Tetapi
kutuk tanpa alasan tidak akan datang / kena (Amsal 26:2), seperti kutuk dari
Goliat, pada waktu ia mengutuk Daud demi nama dewa-dewanya, 1 Sam 17:43.].
Kej 9:25
- “berkatalah
ia (Nuh): ‘Terkutuklah
Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi
saudara-saudaranya.’”.
2Raja 2:24
- “Lalu
berpalinglah ia (Elisa) ke
belakang, dan ketika ia melihat mereka, dikutuknyalah mereka demi nama TUHAN.
Maka keluarlah dua ekor beruang dari hutan, lalu mencabik-cabik dari mereka
empat puluh dua orang anak.”.
1Sam 17:43
- “Orang
Filistin itu berkata kepada Daud: ‘Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku
dengan tongkat?’ Lalu demi para allahnya orang Filistin itu (Goliat) mengutuki Daud.”.
Amsal 26:2
- “Seperti
burung pipit mengirap dan burung layang-layang terbang, demikianlah kutuk
tanpa alasan tidak akan kena.”.
Bdk.
Maz 109:28 - “Biar
mereka mengutuk, Engkau akan memberkati; biarlah lawan-lawanku mendapat malu,
tetapi hambaMu ini kiranya bersukacita.”.
Penerapan:
1.
Kalau kita adalah orang percaya, maka kita tidak perlu takut pada kutuk
dari siapapun. Pada saat kita belum percaya, kita memang adalah orang-orang
terkutuk, tetapi Kristus sudah memikul kutuk kita di kayu salib, sehingga kalau
kita adalah orang-orang percaya, maka kita adalah orang-orang yang diberkati.
Dan kalau di hadapan Allah kita memang adalah orang-orang yang diberkati, kita
tidak usah takut terhadap kutuk dari siapapun.
2.
Ada orang tua kafir yang mengutuk anaknya pada saat anaknya menjadi orang
kristen, atau aktif dalam gereja, pelayanan dsb. Kalau saudara adalah anak yang
dikutuk seperti itu, saudara tidak perlu takut. Ingat Amsal 26:2 dan ayat-ayat
lain yang baru kita baca di atas.
6)
Utusan Balak untuk memanggil Bileam.
Ay 7: “Lalu
berangkatlah para tua-tua Moab dan para tua-tua Midian dengan membawa di
tangannya upah penenung; setelah mereka sampai kepada Bileam, disampaikanlah
kepadanya pesan Balak.”.
a)
‘para tua-tua Moab dan para
tua-tua Midian’.
Keil
& Delitzsch:
“According
to v. 7, the elders of Midian went to Balaam with the elders of Moab; and there
is no doubt that the Midiantish elders advised Balak to send for Balaam ... to
come and curse the Israelites. Another circumstance also points to an intimate
connection between Balaam and the Midianites, namely, the fact that, after he
had been obliged to bless the Israelites in spite of the inclination of his own
natural heart, he went to the Midianites and advised them to make the Israelites
harmless, by seducing them to idolatry (Num 31:16).”
[= Menurut ay 7, tua-tua Midian pergi kepada Bileam bersama dengan tua-tua
Moab; dan tidak diragukan bahwa tua-tua Midian menasehati Balak untuk memanggil
Bileam ... untuk datang dan mengutuk orang-orang Israel. Keadaan yang lain juga
menunjukkan suatu hubungan dekat antara Bileam dengan orang-orang Midian, yaitu
fakta bahwa setelah ia dipaksa untuk memberkati orang-orang Israel tak peduli
apa kecenderungan hatinya sendiri, ia pergi kepada orang-orang Midian dan
menasehati mereka untuk membuat orang-orang Israel tak berbahaya, dengan
membujuk / merayu mereka pada penyembahan berhala (Bil 31:16).].
Bil 31:16
- “Bukankah
perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel
berubah setia terhadap TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat
TUHAN.”.
b)
‘dengan membawa upah
penenung’.
1.
Perbedaan konsep orang kafir dan bangsa Israel tentang Allah.
Wycliffe
Bible Commentary: “‘The rewards of
divination in their hand.’ The story shows a marked distinction between the
heathen concept that the prophet was a manipulator of the gods and the Hebrew
idea that God was a sovereign Determiner of all that came to pass, ‘who
blesses whom he will bless and curses whom he will curse’ (v. 6).”
[= ‘Upah penenung di tangan mereka’. Cerita ini menunjukkan suatu perbedaan
yang penting antara konsep kafir bahwa
seorang nabi adalah seorang manipulator dari dewa-dewa, dan gagasan orang Ibrani
bahwa Allah adalah Penentu yang berdaulat dari semua yang akan terjadi, ‘yang memberkati siapa yang akan Ia berkati dan mengutuk siapa
yang akan Ia kutuk’ (ay 6).].
Penerapan:
saya kuatir bahwa dari dua pandangan yang dibicarakan oleh Wycliffe ini, yang
populer pada jaman sekarang dalam kebanyakan gereja / orang kristen adalah
pandangan kafir. Kebanyakan orang kristen menganggap ‘hamba Tuhan’ bisa
memanipulasi Allah sesuai kemauannya sendiri. Ini misalnya terlihat dari
pandangan banyak orang yang mengatakan: ‘Kalau mau kaya, pergilah ke gereja X’.
2.
Nabi upahan / nabi dengan jiwa dagang.
Ay 7
mengatakan bahwa utusan Balak menghadap Bileam sambil membawa upah penenung. Ini
mungkin karena kebiasaan jaman itu kalau menghadap nabi / orang penting selalu
mempersembahkan sesuatu (bdk. 1Sam 9:7-8
1Sam 16:20), tetapi mungkin juga karena seperti yang Calvin katakan
bahwa: “there
have been in all ages hireling prophets who made a sale of their revelations;” [= selalu ada nabi-nabi upahan
yang menjual wahyu-wahyu mereka;] - hal 184.
Bdk.
2Pet 2:15 - “Oleh
karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu
mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka
menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.”.
Bdk.
Yeh 13:19 - “Kamu melanggar kekudusanKu di tengah-tengah umatKu hanya
demi beberapa genggam jelai dan beberapa potong roti,
dengan membunuh orang-orang yang tidak patut mati, dan membiarkan hidup
orang-orang yang tidak patut hidup, dalam hal kamu berbohong kepada umatKu yang sedia
mendengar bohong.”.
Penerapan:
alangkah banyaknya ‘nabi’ seperti ini pada jaman sekarang! Bahkan sekarang
ada pendeta-pendeta yang pasang tarif untuk khotbah! Kalau saudara adalah
seorang hamba Tuhan, renungkanlah apakah saudara termasuk ‘nabi’ seperti
ini. Kalau ya, bertobatlah!
3.
Bujukan setan yang dimodifikasi.
The
Biblical Illustrator: “‘All things will I give
Thee, if Thou wilt fall down and worship me’: so spake the prince of this
world to Jesus; and at every turn he modifies his voice, but still to say the
same thing, in the softest tone, to all Christ’s followers - nay, even to
every one of His redeemed.”
[= ‘Semua itu akan kuberikan kepadaMu, jika Engkau sujud menyembah aku’ (Mat
4:9): demikianlah kata dari pangeran /
penguasa dunia ini kepada Yesus; dan pada setiap belokan ia memodifikasi
suaranya, tetapi tetap mengatakan hal yang sama, dalam nada yang paling lembut,
kepada semua pengikut Kristus, bahkan kepada setiap orang yang Ia tebus.].
Penerapan:
setan selalu siap untuk membayar / ‘memberkati’ saudara, asal saudara tunduk
kepadanya.
Tetapi
ingat kata-kata Yesus dalam Mat 16:26 - “Apa gunanya
seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang
dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”.
Karena
itu, marilah kita mentaati Tuhan, dan menolak setiap bujukan setan, tak peduli
kita harus menderita dan miskin dalam dunia ini!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali