kebaktian online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 10 Mei 2020, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Bersama Yesus dalam badai (6)

 

Markus 4:35-41

 

Mat 8:23-27 - “(23) Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-muridNyapun mengikutiNya. (24) Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. (25) Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Tuhan, tolonglah, kita binasa.’ (26) Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. (27) Dan heranlah orang-orang itu, katanya: ‘Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepadaNya?’.

 

Luk 8:22-25 - “(22) Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan murid-muridNya, dan Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang danau.’ Lalu bertolaklah mereka. (23) Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga perahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya. (24) Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Guru, Guru, kita binasa!’ Iapun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan angin dan air itupun reda dan danau itu menjadi teduh. (25) Lalu kataNya kepada mereka: ‘Di manakah kepercayaanmu?’ Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepadaNya?’.

 

Mark 4:35-41 - “(35) Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang.’ (36) Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. (37) Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. (38) Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepadaNya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’ (39) Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’ Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. (40) Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’ (41) Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepadaNya?’.

 

g.   Yang jelas, dengan Yesus menenangkan badai itu, doa para murid yang ketakutan / tak beriman itu, dikabulkan.

 

Pada waktu berdoa, sedapat mungkin berdoalah dengan iman. Tetapi kalau tidak bisa, tetaplah berdoa. Lebih baik berdoa tanpa iman dari pada tidak berdoa sama sekali.

 

Adam Clarke (tentang Mat 8:26): “our imperfections may not hinder us from praying to God. ... it is not our merits which make our prayers effectual.” [= ketidak-sempurnaan kita tidak boleh menghalangi kita dari berdoa kepada Allah. ... bukan jasa kita yang membuat doa-doa kita effektif.] - hal 106.

 

Sebetulnya kata-kata Adam Clarke tidak sepenuhnya benar.

 

Mari kita melihat Yak 5:16b.

 

Yak 5:16b - “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”.

 

(1) Kata-kata ‘bila dengan yakin didoakan’ sebetulnya salah terjemahan, dan saya tidak mengerti dari mana anak kalimat itu bisa muncul dalam terjemahan LAI.

NIV: ‘The prayer of a righteous man is powerful and effective [= Doa orang yang benar, berkuasa dan efektif].

Jelas bahwa kata-kata ‘bila dengan yakin didoakan’ tidak ada sama sekali. Itu juga tidak ada dalam terjemahan-terjemahan bahasa Inggris yang lain.

 

(2) Kata ‘berkuasa’ dan kata ‘efektif’ memang berhubungan, karena doa tidak mungkin bisa berkuasa kalau tidak efektif. Tetapi 2 kata itu tetap berbeda artinya. ‘Berkuasa’ menunjukkan bahwa doanya bisa melakukan hal-hal yang besar, sedangkan ‘efektif’ menunjukkan bahwa doanya dikabulkan oleh Allah.

 

(3) Sekarang siapa yang dimaksud dengan ‘orang benar’?

 

Pertama-tama ia haruslah orang yang percaya kepada Kristus.

Ro 5:1 - “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita Yesus Kristus.”.

 

Jadi, jangan bermimpi mau membenarkan diri sendiri melalui usaha sendiri, tanpa Kristus. Itu tidak mungkin bisa membenarkan diri kita.

 

Tetapi setelah kita dibenarkan oleh iman kepada Kristus, kita juga harus menjaga kesucian. Memang kita tidak mungkin bisa suci, tetapi kita tidak boleh hidup dalam dosa, karena ini akan kembali menghalangi doa kita. Kitab Suci memang menekankan bahwa dosa menghalangi doa. Bandingkan dengan ayat di bawah ini.

 

Yes 59:1-2 - “(1) Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; (2) tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”.

 

Sekarang kita kembali pada persoalan doa dengan iman. Banyak orang, lagi-lagi biasanya dari kalangan Kharismatik yang mengatakan bahwa doa yang tanpa iman tidak akan dikabulkan. Ini omong kosong karena dalam Alkitab ada banyak doa yang dinaikkan tanpa iman, tetapi dikabulkan.

 

Saya akan memberi beberapa contoh:

 

(1) Kasus yang sedang kita pelajari ini. Para murid berdoa tanpa iman, tetapi toh dikabulkan.

 

(2) Waktu Petrus berjalan di atas air, dan imannya goncang dan mau tenggelam, ia berdoa dan Tuhan menolong dia.

 

Mat 14:28-31 - “(28) Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: ‘Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air.’ (29) Kata Yesus: ‘Datanglah!’ Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. (30) Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ‘Tuhan, tolonglah aku!’ (31) Segera Yesus mengulurkan tanganNya, memegang dia dan berkata: ‘Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?’”.

 

(3) Cerita di bawah ini.

 

Mark 9:17-27 - “(17) Kata seorang dari orang banyak itu: ‘Guru, anakku ini kubawa kepadaMu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. (18) Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-muridMu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.’ (19) Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!’ (20) Lalu mereka membawanya kepadaNya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. (21) Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: ‘Sudah berapa lama ia mengalami ini?’ Jawabnya: ‘Sejak masa kecilnya. (22) Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.’ (23) Jawab Yesus: ‘Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!’ (24) Segera ayah anak itu berteriak: ‘Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!’ (25) Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kataNya: ‘Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!’ (26) Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: ‘Ia sudah mati.’ (27) Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.”.

 

Kata-kata ayah anak itu dalam ay 24 bukan kontradiksi! Orang itu percaya, tetapi ia juga sadar bahwa imannya tidak sempurna, dan tetap ada keragu-raguan di dalamnya [saya ingatkan, ini bukan dalam persoalan ‘saving faith’ {= iman yang menyelamatkan}]. Karena itu ia meminta Yesus menolongnya dalam keraguannya itu.

 

(4) Pembangkitan Lazarus dari antara orang mati (Yoh 11). Baik Maria, Marta, apalagi Lazarusnya yang sudah mati, tidak beriman bahwa Yesus akan membangkitkan Lazarus yang sudah mati itu. Tetapi Yesus tetap membangkitkan dia.

 

Satu hal lagi tentang doa dengan iman. Beriman bahwa Tuhan mau mengabulkan doa kita hanya bisa kalau kita mempunyai dasar janji Tuhan untuk apa yang kita doakan.

 

Misalnya: kita sudah hidup mengutamakan Tuhan, dan kita tetap hidup berkekurangan. Untuk itu ada janji Tuhan dalam Mat 6:33.

Mat 6:33 - “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”.

Kata-kata ‘semuanya itu’ harus diartikan sesuai dengan kontextnya, yaitu menunjuk pada kebutuhan pokok kita (makanan, minuman, pakaian).

Jadi dalam hal seperti ini kita bisa berdoa dengan iman bahwa Tuhan mau mengabulkan doa kita.

 

Tetapi bagaimana kalau apa yang kita minta tidak pernah Tuhan janjikan? Kita tetap boleh memintanya, tetapi kita tidak bisa beriman untuk apa yang Tuhan tidak pernah janjikan. Misalnya, minta sembuh dari penyakit, minta jangan terkena wabah virus corona, dan sebagainya.

 

Dalam hal ini kita sudah beriman kalau kita berdoa dengan percaya bahwa Tuhan mampu mengabulkan doa kita, tetapi Ia belum tentu mau mengabulkan doa kita.

 

Bdk. Dan 3:16-18 - “(16) Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: ‘Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. (17) Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; (18) tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.’”.

 

Kata-kata yang saya garis-bawahi itu salah terjemahan. Terjemahan LAI itu menunjukkan mereka bahkan tidak yakin kalau Allah sanggup / mampu. Bandingkan dengan terjemahan NIV di bawah ini:

 

Ay 16-17 (NIV): “(16) If we are thrown into the blazing furnace, the God we serve is able to save us from it, and he will rescue us from your hand, O king. (17) But even if he does not, we want you to know, O king, that we will not serve your gods or worship the image of gold you have set up.’” [= (16) Jika kami dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, Allah yang kami puja mampu untuk menyelamatkan kami darinya, dan Ia akan menolong kami dari tanganmu, Ya raja. (17) Tetapi bahkan jika Ia tidak menyelamatkan / menolong, kami mau engkau mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa-dewamu atau menyembah patung emas yang telah engkau dirikan.’].

 

Penerapan: tidak pernah ada janji Tuhan berkenaan dengan wabah virus corona ini. Kita tak bisa berdoa dengan iman bahwa Ia mau membasmi virus corona ini, mau meloloskan kita dari virus corona ini, mau menyembuhkan kita yang sudah terjangkit virus corona ini dan sebagainya. Karena itu kita tidak bisa berdoa dengan iman bahwa Ia mau melakukan hal-hal itu pada saat kita mendoakannya. Tetapi kita tetap boleh berdoa untuk hal-hal itu, dan kita sudah berdoa dengan iman, kalau kita berdoa dengan percaya bahwa Tuhan mampu untuk melakukan semua itu.

 

h.         Tindakan Yesus ini mengeluarkan mereka semua dari bahaya.

 

Pulpit Commentary (tentang Luk 8:22-56): “Jesus may lead his people into danger, but he always shares it with them, and leads in due time out of it.” [= Yesus bisa membimbing umatNya ke dalam bahaya, tetapi Ia selalu mengalaminya bersama mereka, dan membimbing keluar darinya pada saatnya.] - hal 230.

 

2.   Yesus menegur para murid karena ketakutan dan kurangnya / tidak adanya iman mereka.

Mat 8:26a - “Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’”.

Luk 8:25a - “Lalu kataNya kepada mereka: ‘Di manakah kepercayaanmu?’”.

Mark 4:40 - “Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’”.

 

Bagaimanapun, rasa takut dan ketidak-percayaan mereka, merupakan sesuatu yang salah, dan harus dibetulkan. Dan karena itu Yesus menegur mereka.

 

J. C. Ryle: We see our Lord dealing most gently and tenderly with them. He does not sharply reprove them. He does not threaten to cast them off because of their unbelief. He simply asks the touching question, ‘Why are you so afraid? Do you still have no faith?’ (verse 40). Let us take good note of this lesson. The Lord Jesus is very compassionate and of tender mercy. ‘As a father has compassion on his children, so the Lord has compassion on those who fear him’ (Psalm 103:13). He does not deal with believers according to their sins, nor reward them according to their iniquities. He sees their weakness. He is aware of their shortcomings. He knows all the defects of their faith, hope, love and courage. And yet he will not cast them off. He bears with them continually. He loves them right to the end. He raises them when they fall. He restores them when they go wrong. His patience, like his love, is a patience that passes knowledge. When he sees a heart right, it is his glory to pass over many a shortcoming. [= Kita melihat Tuhan kita menangani mereka dengan sangat lembut. Ia tidak menegur mereka dengan tajam. Ia tidak mengancam untuk membuang / menolak mereka karena ketidak-percayaan mereka. Ia hanya menanyakan pertanyaan yang menyentuh, ‘Mengapa kamu begitu takut? Apakah kamu tetap tidak mempunyai iman?’ (ay 40). Marilah kita memperhatikan dengan baik pelajaran ini. Tuhan Yesus sangat sayang / ingin menghibur dan mempunyai belas kasihan yang lembut. ‘Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.’ (Maz 103:13). Ia tidak menangani orang-orang percaya sesuai dengan dosa-dosa mereka, ataupun membalas mereka sesuai dengan kejahatan mereka. Ia melihat kelemahan mereka. Ia sadar tentang kekurangan / cacat mereka. Ia tahu semua kekurangan / cacat dari iman, pengharapan, kasih dan keberanian mereka. Dan Ia tidak akan menolak / membuang mereka. Ia terus menerus sabar terhadap mereka. Ia mengasihi mereka sampai akhir. Ia mengangkat mereka pada waktu mereka jatuh. Ia memulihkan mereka pada waktu mereka bersalah. KesabaranNya, seperti kasihNya, adalah suatu kesabaran yang melampaui pengertian. Pada waktu Ia melihat suatu hati yang benar, merupakan kemuliaanNya untuk mengabaikan banyak kekurangan / cacat.] - Libronix.

 

Bdk. Maz 103:8-14 - “(8) TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. (9) Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. (10) Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, (11) tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setiaNya atas orang-orang yang takut akan Dia; (12) sejauh timur dari barat, demikian dijauhkanNya dari pada kita pelanggaran kita. (13) Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. (14) Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu..

 

J. C. Ryle: Let us leave these verses with the comforting recollection that Jesus has not changed. His heart is still the same as it was when he crossed the Sea of Galilee and stilled the storm. High in heaven at the right hand of God, Jesus is still sympathizing - still almighty - still compassionate and patient towards his people. Let us be more loving and patient towards our brothers and sisters in the faith. They may go wrong in many things, but if Jesus has received them and can bear with them, surely we may bear with them too. [= Marilah kita meninggalkan ayat-ayat ini dengan ingatan yang menghibur bahwa Yesus tidak / belum berubah. HatiNya tetap sama seperti pada waktu Ia menyeberangi Danau Galilea dan menenangkan badai. Tinggi di surga di sebelah kanan Allah, Yesus tetap sedang bersimpati - tetap mahakuasa - tetap sayang / berbelas-kasihan dan sabar terhadap umatNya. Marilah kita lebih kasih dan sabar terhadap saudara-saudara dan saudari-saudari kita dalam iman. Mereka bisa bersalah dalam banyak hal, tetapi jika Yesus telah menerima mereka dan bisa sabar terhadap mereka, pastilah kita bisa sabar terhadap mereka juga.] - Libronix.

 

J. C. Ryle: Let us be more hopeful about ourselves. We may be very weak, frail and unstable; but if we can truly say that we do come to Christ and believe in him, we may take comfort. The question for conscience to answer is not, ‘Are we like the angels? Are we perfect as we shall be in heaven?’ The question is, ‘Are we real and true in our approaches to Christ? Do we truly repent and believe?’ [= Marilah kita lebih mempunyai pengharapan tentang diri kita sendiri. Kita bisa / boleh sangat lemah, rapuh dan tidak stabil; tetapi jika kita bisa mengatakan dengan benar bahwa kita memang datang kepada Kristus dan percaya kepadaNya, kita bisa mendapatkan penghiburan. Pertanyaan untuk hati nurani untuk dijawab bukanlah, ‘Apakah kita seperti malaikat-malaikat? Apakah kita sempurna seperti kita akan sempurna di surga?’ Pertanyaannya adalah, ‘Apakah kita sungguh-sungguh dan benar dalam pendekatan-pendekatan kita kepada Kristus? Apakah kita benar-benar bertobat dan percaya?’] - Libronix.

 

Alan Cole (Tyndale): No command is more often reiterated in the Bible than the simple ‘Do not fear’ (see Exod. 14:13; 20:20, etc.). [= Tak ada perintah yang lebih sering diulang dalam Alkitab dari pada perintah yang sederhana ‘Jangan takut’ (lihat Kel 14:13; 20:20, dsb.).] - hal 96.

 

Barnes’ Notes (tentang Mat 8:26): “Christians should never fear danger, disease, or death. With Jesus they are safe.” [= Orang-orang Kristen tidak pernah boleh takut pada bahaya, penyakit, atau kematian. Bersama Yesus mereka aman.] - hal 40.

 

Kata-kata Albert Barnes ini ada bahayanya. Bandingkan dengan kata-kata Calvin di bawah ini untuk memberikan keseimbangan.

 

Calvin: “It is not every kind of fear that is opposed to faith. This is evident from the consideration that, if we fear nothing, an indolent and carnal security steals upon us; and thus faith languishes, the desire to pray becomes sluggish, and the remembrance of God is at length extinguished. Besides, those who are not affected by a sense of calamities, so as to fear, are rather insensible than firm. Thus we see that fear, which awakens faith, is not in itself faulty till it go beyond bounds. ... But as it never happens that believers exercise such restraint on themselves as to keep their faith from being injured, their fear is almost always attended by sin. Yet we ought to be aware that it is not every kind of fear which indicates a want of faith, but only that dread which disturbs the peace of the conscience in such a manner that it does not rest on the promise of God.” [= Bukan setiap jenis rasa takut bertentangan dengan iman. Ini nyata dari pertimbangan bahwa, jika kita tidak takut pada apapun, suatu rasa aman yang tidak berhati-hati dan bersifat daging mendatangi kita dengan tiba-tiba; dan lalu iman kendor / layu, keinginan berdoa menjadi melempem, dan ingatan kepada Allah akhirnya padam. Disamping itu, mereka yang tidak dipengaruhi oleh suatu perasaan bahaya, sehingga menjadi takut, bukannya teguh tetapi tidak berhati-hati. Karena itu kita lihat bahwa rasa takut, yang membangunkan iman, dalam dirinya sendiri bukan merupakan sesuatu yang salah kecuali itu melampaui batas. ... Tetapi karena tidak pernah terjadi bahwa orang-orang percaya mempunyai kekang seperti itu terhadap diri mereka sendiri sehingga menjaga iman mereka dari luka, rasa takut mereka hampir selalu disertai oleh dosa. Tetapi kita harus sadar bahwa bukan setiap jenis rasa takut menunjukkan kurangnya iman, tetapi hanya rasa takut yang mengganggu damai dari hati nurani sedemikian rupa sehingga tidak bersandar pada janji Allah.] - hal 425.

 

Pulpit Commentary (tentang Mark 4:35-41): “Let the doubting Christian be encouraged to put away his fears, and to pray, ‘Lord, increase our faith!’” [= Hendaklah orang Kristen yang ragu-ragu dikuatkan untuk membuang rasa takutnya, dan untuk berdoa, ‘Tuhan, tumbuhkanlah iman kami!’].

 

Beriman bukan sesuatu yang bisa kita usahakan pada satu saat. Tetapi bisa kita usahakan melalui suatu proses. Banyaklah berdoa supaya Tuhan menambahkan iman saudara. Juga belajar firman, mendekat kepada Tuhan, berusaha meningkatkan pengudusan dalam diri kita, semua bisa meningkatkan iman kita. Kita juga harus belajar untuk tidak bersandar pada otak / pikiran kita. Kita harus belajar untuk berjalan dengan iman, bukan dengan penglihatan.

 

Amsal 3:5       - “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”.

 

Menggunakan otak / pikiran / akal sehat itu harus. Tetapi bersandar pada otak / pikiran / akal sehat, itu salah!

 

2Kor 5:7 - “-sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-”.

KJV: “For we walk by faith, not by sight:” [= Karena kami / kita berjalan dengan iman, bukan dengan penglihatan].

 

V) Sikap para murid.

 

Mark 4:41 - Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepadaNya?’.

 

1)   Mereka tidak menjawab apapun.

Terhadap teguran / pertanyaan Yesus yang bersifat menegur dalam ay 40 ini tidak ada jawaban yang diberikan (kecuali mereka menjadi takut).

 

William Hendriksen (tentang Luk 8:25): “The answer is not given. ... Very appropriately the present narrative ends by fixing the attention upon the person of Jesus Christ, so that everyone who reads it may give his own answer, may profess his own faith, and add his own doxology.” [= Jawabannya tidak diberikan. ... Sangat tepat / cocok bahwa cerita ini berakhir dengan memancangkan perhatian pada pribadi dari Yesus Kristus, sehingga setiap orang yang membacanya bisa memberikan jawabannya sendiri, bisa mengaku imannya sendiri, dan menambahkan pujiannya sendiri.] - hal 442.

 

2)   Mereka menjadi takut.

Setelah angin itu menjadi reda, murid-murid tetap takut, tetapi sekarang ketakutan mereka terjadi karena mereka berhadapan dengan ‘seseorang’ yang bisa menenangkan badai. Mereka menyadari keilahian Yesus, dan karena itu mereka takut.

 

William Hendriksen (tentang Luk 8:25): “Filled with deep reverence were they. They began to realize: Jesus is even greater than we had previously imagined. He exercised control not only over audience (4:32), sicknesses (6:19), demons (4:35,36), and death (7:11-17; cf. 7:22), but even over the elements of nature, the winds and the water. ... it takes deity to change the weather. It is Jesus who commands the elements of the weather, with the result that even the winds and the water obey him!” [= Mereka dipenuhi dengan rasa takut dan hormat yang mendalam. Mereka mulai menyadari: Yesus bahkan lebih besar dari pada yang tadinya mereka bayangkan. Ia mempunyai kendali bukan hanya atas pendengar-pendengar (4:32), penyakit-penyakit (6:19), setan-setan (4:35,36), dan kematian (7:11-17; bdk. 7:22), tetapi bahkan atas elemen-elemen dari alam, angin dan air. ... membutuhkan keallahan untuk mengubah cuaca. Yesuslah yang memerintah elemen-elemen cuaca, dengan hasil / akibat bahwa bahkan angin dan air taat kepadaNya!] - hal 442.

 

David Gooding (tentang Luk 8:22-25): We live in a universe that is lethally hostile to human life: only the miracle of creation and divine maintenance preserves our planet and its wonderful adaptations and provisions for the propagation of human life. Within our earth itself wind, wave, lightning, storm, flood, drought, avalanche, earthquake, fire, heat, cold, germ, virus, epidemic, all from time to time threaten and destroy life. Sooner or later one of them may destroy us. The story of the stilling of the storm is not, of course, meant to tell us that Christ will never allow any believer to perish by drowning, or by any other natural disaster. Many believers have so perished. It does demonstrate that he is Lord of the physical forces in the universe, that for him nothing happens by accident, and that no force in all creation can destroy his plan for our eternal salvation or separate us from the love of God which is in Christ Jesus our Lord (see Rom. 8:38-39). [= Kita hidup di suatu alam semesta yang bermusuhan secara membahayakan pada kehidupan manusia: hanya mujizat dari penciptaan dan pemeliharaan ilahi melindungi / menjaga planet kita dan penyesuaian-penyesuaian dan persediaan-persediaannya yang luar biasa untuk perkembangan / penyebaran dari kehidupan manusia. Di dalam bumi kita sendiri angin, ombak, petir, badai, banjir, kekeringan, longsoran salju, gempa bumi, kebakaran, panas, dingin, kuman, virus, epidemi, semuanya dari waktu ke waktu mengancam dan menghancurkan kehidupan. Cepat atau lambat satu dari mereka bisa menghancurkan kita. Cerita tentang penenangan badai pasti tidak dimaksudkan untuk memberitahu kita bahwa Kristus tidak akan pernah mengijinkan orang percaya manapun untuk binasa karena tenggelam, atau karena bencana alamiah lain manapun. Banyak orang percaya telah binasa dengan cara itu. Itu menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan dari kekuatan-kekuatan fisik dalam alam semesta, sehingga bagi Dia tak ada apapun yang terjadi karena kebetulan, dan bahwa tidak ada kekuatan dalam seluruh ciptaan bisa menghancurkan rencanaNya untuk keselamatan kekal kita atau memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Kristus Yesus Tuhan kita (lihat Ro 8:38-39).] - hal 143.

 

Ro 8:38-39 - “(38) Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, (39) atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita..

 

Apa yang perlu kita camkan dan percayai dalam pandemi beserta semua side-effects-nya ini, adalah bahwa tidak ada hal yang kebetulan, dan semua ada dalam tangan Tuhan, yang mengasihi kita. Kita kena atau tidak kena, kita hidup atau kita mati, semua ada dalam tangan Tuhan, yang mengasihi kita. Kapan pandemi ini dengan semua side-effects-nya berakhir, itu juga ada dalam tangan Tuhan, yang mengasihi kita. Jadi, perlukah kita kuatir / takut / panik? Kita bersama Yesus dalam badai ini! Kita hanya perlu melakukan yang terbaik, dan selanjutnya berserah pada kehendakNya, yang selalu mendatangkan kebaikan bagi kita.

 

Kiranya Tuhan memberkati saudara sekalian.

 

 

-AMIN-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

[email protected]

http://golgothaministry.org

Email : [email protected]