kebaktian online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 3 Mei 2020, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Bersama Yesus dalam badai (5)

 

Markus 4:35-41

 

Mat 8:23-27 - “(23) Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-muridNyapun mengikutiNya. (24) Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. (25) Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Tuhan, tolonglah, kita binasa.’ (26) Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. (27) Dan heranlah orang-orang itu, katanya: ‘Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepadaNya?’”.

 

Luk 8:22-25 - “(22) Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan murid-muridNya, dan Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang danau.’ Lalu bertolaklah mereka. (23) Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga perahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya. (24) Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Guru, Guru, kita binasa!’ Iapun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan angin dan air itupun reda dan danau itu menjadi teduh. (25) Lalu kataNya kepada mereka: ‘Di manakah kepercayaanmu?’ Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepadaNya?’.

 

Mark 4:35-41 - “(35) Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang.’ (36) Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. (37) Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. (38) Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepadaNya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’ (39) Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’ Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. (40) Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’ (41) Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepadaNya?’.

 

e.   Jangan mengartikan kata-kata Yesus sebagai ‘the word of faith’ [= perkataan / firman iman]!!

 

Bandingkan dengan WA yang beredar beberapa waktu yang lalu tentang kesaksian seorang perempuan yang terkena virus corona. Saya bersimpati dengan dia karena kematian suaminya, tetapi bagaimanapun saya menentang ‘theologia’ dalam kesaksiannya. Kata-kata yang ia ucapkan, harus terjadi, itu kira-kira pandangannya. Jadi setiap dia merasa ‘down’, dia ucapkan kata-kata bahwa ia akan sembuh dan sebagainya.

 

Sangat banyak orang di facebook dsb yang berulang kali mengatakan kata-kata ‘jadilah sesuai dengan imanmu’ atau ‘jadilah sesuai dengan perkataanmu’.

 

Di bawah ini saya memberikan 3 buah kutipan yang saya dapatkan dari link ini: https://en.wikipedia.org/wiki/Word_of_Faith

 

Word of Faith (also known as Word-Faith or simply Faith) is a worldwide Evangelical Christian movement which teaches that Christians can access the power of faith through speech. [= Perkataan / firman Iman (juga dikenal sebagai Kata-Iman / Firman-Iman atau sekedar Iman) adalah suatu gerakan Kristen Injili di seluruh dunia yang mengajarkan bahwa orang-orang Kristen bisa membuat kuasa iman tersedia melalui ucapan.].

Catatan: adalah omong kosong kalau ajaran ini diberi predikat ‘injili’!

 

Ro 10:8 - Tetapi apakah katanya? Ini: ‘Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.’ Itulah firman iman, yang kami beritakan..

KJV/RSV/NIV/NASB: “the word of faith” [= firman iman].

 

Faith and confession. In Word of Faith teaching, a central element of receiving from God is ‘confession’, often called ‘positive confession’ or ‘faith confession’ by practitioners. ... Noted Word of Faith teachers, such as Kenneth E. Hagin and Charles Capps, have argued that God created the universe by speaking it into existence (Genesis 1), and that God has endowed believers with this power. Thus, making a ‘positive confession’ of God’s promise and believing God’s word stirs the power of resurrection which raised Christ from the dead (Ephesians 1:19-20  Ephesians 3:20), and brings that promise to fulfilment. [= Iman dan pengakuan. Dalam ajaran Firman Iman, suatu elemen yang terpenting tentang penerimaan dari Allah adalah ‘pengakuan’, sering disebut ‘pengakuan positif’ atau ‘pengakuan iman’ oleh orang-orang yang mempraktekkannya. Guru-guru Firman Iman yang terkenal, seperti Kenneth E. Hagin dan Charles Capps, telah berargumentasi bahwa Allah menciptakan alam semesta dengan mengatakannya menjadi keberadaan (Kej 1), dan bahwa Allah telah memperlengkapi orang-orang percaya dengan kuasa ini. Jadi, membuat suatu ‘pengakuan positif’ tentang janji Allah dan mempercayai firman Allah menggerakkan kuasa kebangkitan yang membangkitkan Kristus dari orang mati (Ef 1:19-20  Ef 3:20), dan membawa janji itu pada penggenapan.].

 

“Conversely, ‘negative confession’ can harm, so believers should be conscious of their words. This is argued on the interpretation of Proverbs 18:21, ‘Life and death are in the power of the tongue, and they that love them will eat the fruit thereof’, also Numbers 14:28, ‘...saith the Lord, as you have spoken in my ears, so will I do’, among other scriptures.” [= Sebaliknya, ‘pengakuan negatif’ bisa merusak / melukai, jadi orang-orang percaya harus menyadari kata-kata mereka. Ini diargumentasikan pada penafsiran dari Amsal 18:21, ‘Hidup dan mati ada dalam kuasa lidah, dan mereka yang mengasihinya akan memakan buahnya’, juga Bil 14:28, ‘... kata Tuhan, seperti kamu telah mengatakan di telingaKu, demikianlah akan Kulakukan’, di antara ayat-ayat lain dalam Kitab Suci.].

 

Amsal 18:21 - Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya..

KJV: “Death and life are in the power of the tongue: and they that love it shall eat the fruit thereof.” [= Kematian dan kehidupan ada dalam kuasa lidah: dan mereka yang mengasihinya akan memakan buahnya.].

 

Bil 14:28 - Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapanKu, demikianlah akan Kulakukan kepadamu..

 

Ajaran gila seperti ini, sangat banyak di kalangan Kharismatik! Dan mungkin banyak juga orang-orang Protestan bodoh yang ikut-ikutan tanpa memeriksa apakah ajaran itu sesuai dengan Alkitab atau tidak.

 

Saya memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan kesalahan ajaran ini.

 

(1) Contoh-contoh untuk kata-kata yang negatif:

 

(a) Mark 4:38b - Maka murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepadaNya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?.

 

Mengapa mereka akhirnya tidak binasa?

 

(b) 1Raja 17:12 - Perempuan itu menjawab: ‘Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.’.

 

Mengapa mereka akhirnya tidak mati?

 

(c)  2Raja 6:15 - Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: ‘Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?’.

 

Mengapa akhirnya ia tidak celaka??

 

(2) Contoh-contoh untuk kata-kata yang positif:

 

(a) Mark 14:29-31 - “(29) Kata Petrus kepadaNya: ‘Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.’ (30) Lalu kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.’ (31) Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: ‘Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.’ Semua yang lainpun berkata demikian juga..

Mengapa kata-kata Petrus dan para murid yang lain tidak terjadi???

 

(b) Mat 16:22 - Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.’.

Lagi-lagi, mengapa kata-kata Petrus tidak terjadi?

 

(c)  Mat 17:15-16 - “(15) katanya: ‘Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. (16) Aku sudah membawanya kepada murid-muridMu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.’.

 

Mengapa para murid tidak bisa menyembuhkan penyakit / mengusir setan yang menyebabkan penyakit itu? Mereka berusaha, dan pasti mengeluarkan kata-kata untuk menengking setan itu (sekalipun tidak dicatat dalam Alkitab), tetapi mengapa kata-kata mereka tidak terjadi?

 

(d) Kata-kata pendeta Kharismatik yang menghardik wabah virus corona dengan side effects-nya; mengapa sama sekali tidak terjadi? Padahal katanya ia disuruh oleh Tuhan untuk melakukan hardikan itu??

 

f.          Apakah kita boleh meniru tindakan / kata-kata Kristus ini?

Ini lagi-lagi persoalan Hermeneutics [= ilmu penafsiran (Alkitab)]. Apakah semua yang dilakukan Yesus atau para rasul, atau para nabi dalam melakukan mujizat-mujizat boleh kita tiru?? Ini harus kita persoalkan dan pelajari, karena banyak orang, khususnya dari kalangan Kharismatik yang main tiru seenaknya.

 

Yang satu bilang diperintah Tuhan untuk tenangkan badai virus corona dan dampaknya dalam dunia ekonomi.

 

Yang satu lagi menggunakan sapu tangan untuk sembuhkan orang sakit (Kis 19:12).

 

Bolehkah kita meniru hal-hal itu? Mari kita melihat bermacam-macam peniruan dalam Alkitab.

 

(1) Ada yang meniru dengan menggunakan kuasa gelap, tetapi hanya sampai pada taraf tertentu saja, dan setelah itu mereka gagal.

 

Ini seperti para tukang sihir Firaun meniru mujizat-mujizat Musa.

 

Kel 7:10-12 - “(10) Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu mereka berbuat seperti yang diperintahkan TUHAN; Harun melemparkan tongkatnya di depan Firaun dan para pegawainya, maka tongkat itu menjadi ular. (11) Kemudian Firaunpun memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir; dan merekapun, ahli-ahli Mesir itu, membuat yang demikian juga dengan ilmu mantera mereka. (12) Masing-masing mereka melemparkan tongkatnya, dan tongkat-tongkat itu menjadi ular; tetapi tongkat Harun menelan tongkat-tongkat mereka..

 

Kel 7:20-22 - “(20) Demikianlah Musa dan Harun berbuat seperti yang difirmankan TUHAN; diangkatnya tongkat itu dan dipukulkannya kepada air yang di sungai Nil, di depan mata Firaun dan pegawai-pegawainya, maka seluruh air yang di sungai Nil berubah menjadi darah; (21) matilah ikan di sungai Nil, sehingga sungai Nil itu berbau busuk dan orang Mesir tidak dapat meminum air dari sungai Nil; dan di seluruh tanah Mesir ada darah. (22) Tetapi para ahli Mesir membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu mantera mereka, sehingga hati Firaun berkeras dan ia tidak mau mendengarkan mereka keduanya seperti yang telah difirmankan TUHAN..

 

Kel 8:5-7 - “(5) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Katakanlah kepada Harun: Ulurkanlah tanganmu dengan tongkatmu ke atas sungai, ke atas selokan dan ke atas kolam, dan buatlah katak-katak bermunculan meliputi tanah Mesir.’ (6) Lalu Harun mengulurkan tangannya ke atas segala air di Mesir, maka bermunculanlah katak-katak, lalu menutupi tanah Mesir. (7) Tetapi para ahli itupun membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu mantera mereka, sehingga mereka membuat katak-katak bermunculan meliputi tanah Mesir.”.

 

Kel 8:16-18 - “(16) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Katakanlah kepada Harun: Ulurkanlah tongkatmu dan pukulkanlah itu ke debu tanah, maka debu itu akan menjadi nyamuk di seluruh tanah Mesir.’ (17) Lalu mereka berbuat demikian; Harun mengulurkan tangannya dengan tongkatnya dan memukulkannya ke debu tanah, maka nyamuk-nyamuk itu hinggap pada manusia dan pada binatang. Segala debu tanah menjadi nyamuk di seluruh tanah Mesir. (18) Para ahli itupun membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu manteranya untuk mengadakan nyamuk-nyamuk, tetapi mereka tidak dapat. Demikianlah nyamuk-nyamuk itu hinggap pada manusia dan pada binatang.”.

 

Ini memberikan peringatan kepada kita bahwa orang bisa meniru mujizat-mujizat dari Tuhan, tetapi menggunakan kuasa setan. Bdk. Mat 7:21-23.

 

Mat 7:15-23 - “(15) ‘Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. (19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (21) Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!’.

 

Yesus sudah memperingatkan akan adanya banyak nabi-nabi palsu dengan mujizat-mujizat palsu mereka.

 

Mat 24:24 - Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga..

 

Karena itu, siapapun yang tergila-gila pada mujizat-mujizat, adalah orang-orang yang sangat potensial untuk disesatkan!

 

Dan mendekati akhir zaman, ada nabi-nabi palsu, dalam hal ini mungkin itu adalah sang Anti Kristusnya sendiri, berhasil melakukan banyak mujizat, dan bahkan berhasil meniru mujizat dari Elia.

 

Bdk. 1Raja 18:22-38 - “(22) Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: ‘Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya. (23) Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api. (24) Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!’ Seluruh rakyat menyahut, katanya: ‘Baiklah demikian!’ (25) Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: ‘Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api.’ (26) Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: ‘Ya Baal, jawablah kami!’ Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu. (27) Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: ‘Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.’ (28) Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. (29) Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian. (30) Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: ‘Datanglah dekat kepadaku!’ Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu. (31) Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub. - Kepada Yakub ini telah datang firman TUHAN: ‘Engkau akan bernama Israel.’ - (32) Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama TUHAN dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih. (33) Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu. (34) Sesudah itu ia berkata: ‘Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!’ Kemudian katanya: ‘Buatlah begitu untuk kedua kalinya!’ Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian katanya: ‘Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!’ Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya, (35) sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air. (36) Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: ‘Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hambaMu dan bahwa atas firmanMulah aku melakukan segala perkara ini. (37) Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.’ (38) Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya..

 

Sang Anti Kristus akan meniru hal ini, dan kelihatannya ia bakal berhasil.

 

Wah 13:13-14a - “(13) Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan ia menurunkan api dari langit ke bumi di depan mata semua orang. (14a) Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang itu..

 

Jadi, apakah itu peniruan yang gagal, atau yang berhasil, tetap bisa menggunakan kuasa setan!

 

(2) Ada yang mencoba meniru tetapi gagal, dan bahkan dipukuli oleh setan.

 

Kis 19:11-18 - “(11) Oleh Paulus Allah mengadakan mujizat-mujizat yang luar biasa, (12) bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat. (13) Juga beberapa tukang jampi Yahudi, yang berjalan keliling di negeri itu, mencoba menyebut nama Tuhan Yesus atas mereka yang kerasukan roh jahat dengan berseru, katanya: ‘Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus.’ (14) Mereka yang melakukan hal itu ialah tujuh orang anak dari seorang imam kepala Yahudi yang bernama Skewa. (15) Tetapi roh jahat itu menjawab: ‘Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?’ (16) Dan orang yang dirasuk roh jahat itu menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka. (17) Hal itu diketahui oleh seluruh penduduk Efesus, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, maka ketakutanlah mereka semua dan makin masyhurlah nama Tuhan Yesus..

 

(3) Ada yang ingin meniru dan dimarahi oleh Yesus.

 

Luk 9:51-55 - “(51) Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandanganNya untuk pergi ke Yerusalem, (52) dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagiNya. (53) Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalananNya menuju Yerusalem. (54) Ketika dua muridNya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: ‘Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?’ (55) Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka..

 

Yang ingin mereka tiru adalah mujizat yang Elia lakukan dalam 2Raja 1.

 

Bdk. 2Raja 1:1-15 - “(1) Sesudah Ahab mati, maka memberontaklah Moab terhadap Israel. (2) Pada suatu hari jatuhlah Ahazia dari kisi-kisi kamar atasnya yang ada di Samaria, lalu menjadi sakit. Kemudian dikirimnyalah utusan-utusan dengan pesan: ‘Pergilah, mintalah petunjuk kepada Baal-Zebub, allah di Ekron, apakah aku akan sembuh dari penyakit ini.’ (3) Tetapi berfirmanlah Malaikat TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu: ‘Bangunlah, berangkatlah menemui utusan-utusan raja Samaria dan katakan kepada mereka: Apakah tidak ada Allah di Israel, sehingga kamu ini pergi untuk meminta petunjuk kepada Baal-Zebub, allah di Ekron? (4) Sebab itu beginilah firman TUHAN: Engkau tidak akan bangun lagi dari tempat tidur, di mana engkau berbaring, sebab engkau pasti akan mati.’ Lalu pergilah Elia. (5) Sesudah utusan-utusan itu kembali kepada raja, berkatalah ia kepada mereka: ‘Mengapa kamu kembali?’ (6) Jawab mereka kepadanya: ‘Ada seorang datang menemui kami dan berkata kepada kami: Pergilah, kembalilah kepada raja yang telah menyuruh kamu, dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Apakah tidak ada Allah di Israel, sehingga engkau menyuruh meminta petunjuk kepada Baal-Zebub, allah di Ekron? Sebab itu engkau tidak akan bangun lagi dari tempat tidur di mana engkau berbaring, sebab engkau pasti akan mati.’ (7) Lalu bertanyalah ia kepada mereka: ‘Bagaimanakah rupa orang yang telah datang menemui kamu itu dan yang mengatakan perkataan ini kepadamu?’ (8) Jawab mereka kepadanya: ‘Seorang yang memakai pakaian bulu, dan ikat pinggang kulit terikat pada pinggangnya.’ Maka berkatalah ia: ‘Itu Elia, orang Tisbe!’ (9) Sesudah itu disuruhnyalah kepada Elia seorang perwira dengan kelima puluh anak buahnya. Orang itu naik menjumpai Elia yang sedang duduk di atas puncak bukit. Berkatalah orang itu kepadanya: ‘Hai abdi Allah, raja bertitah: Turunlah!’ (10) Tetapi Elia menjawab, katanya kepada perwira itu: ‘Kalau benar aku abdi Allah, biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu.’ Maka turunlah api dari langit memakan dia habis dengan kelima puluh anak buahnya. (11) Kemudian raja menyuruh pula kepadanya seorang perwira yang lain dengan kelima puluh anak buahnya. Lalu orang itu berkata kepada Elia: ‘Hai abdi Allah, beginilah titah raja: Segeralah turun!’ (12) Tetapi Elia menjawab mereka: ‘Kalau benar aku abdi Allah, biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu!’ Maka turunlah api Allah dari langit memakan dia habis dengan kelima puluh anak buahnya. (13) Kemudian raja menyuruh pula seorang perwira yang ketiga dengan kelima puluh anak buahnya. Lalu naiklah perwira yang ketiga itu dan sesudah sampai, berlututlah ia di depan Elia, serta memohon belas kasihan kepadanya, katanya: ‘Ya abdi Allah, biarlah kiranya nyawaku dan nyawa kelima puluh orang hamba-hambamu ini berharga di matamu. (14) Bukankah api sudah turun dari langit memakan habis kedua perwira yang dahulu dengan kelima puluh anak buah mereka? Tetapi sekarang biarlah nyawaku berharga di matamu.’ (15) Maka berfirmanlah Malaikat TUHAN kepada Elia: ‘Turunlah bersama-sama dia, janganlah takut kepadanya!’ Lalu bangunlah Elia dan turun bersama-sama dia menghadap raja..

 

(4) Ada yang meniru dan berhasil (1Raja 17:21  2Raja 4:34-35  Kis 20:10).

 

1Raja 17:17-21 - “(17) Sesudah itu anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit dan sakitnya itu sangat keras sampai tidak ada nafasnya lagi. (18) Kata perempuan itu kepada Elia: ‘Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?’ (19) Kata Elia kepadanya: ‘Berikanlah anakmu itu kepadaku.’ Elia mengambilnya dari pangkuan perempuan itu dan membawanya naik ke kamarnya di atas, dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya. (20) Sesudah itu ia berseru kepada TUHAN, katanya: ‘Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya?’ (21) Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: ‘Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya.’ (22) TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali..

 

Ini ditiru oleh Elisa, dan berhasil.

 

2Raja 4:32-35 - “(32) Dan ketika Elisa masuk ke rumah, ternyata anak itu sudah mati dan terbaring di atas tempat tidurnya. (33) Sesudah ia masuk, ditutupnyalah pintu, sehingga ia sendiri dengan anak itu di dalam kamar, kemudian berdoalah ia kepada TUHAN. (34) Lalu ia membaringkan dirinya di atas anak itu dengan mulutnya di atas mulut anak itu, dan matanya di atas mata anak itu, serta telapak tangannya di atas telapak tangan anak itu; dan karena ia meniarap di atas anak itu, maka menjadi panaslah badan anak itu. (35) Sesudah itu ia berdiri kembali dan berjalan dalam rumah itu sekali ke sana dan sekali ke sini, kemudian meniarap pulalah ia di atas anak itu. Maka bersinlah anak itu sampai tujuh kali, lalu membuka matanya..

 

Ini juga ditiru oleh Paulus, dan juga berhasil.

 

Kis 20:7-10 - “(7) Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. (8) Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. (9) Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati. (10) Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: ‘Jangan ribut, sebab ia masih hidup.’.

 

Saya yakin bahwa baik Elisa maupun Paulus tidak meniru secara sembarangan. Mereka pasti mendapat perintah Tuhan untuk itu, sekalipun tidak dinyatakan dalam Alkitab. Jadi sebetulnya boleh meniru, asal mendapat perintah dari Tuhan.

 

Nah, bagaimana dengan pendeta yang meniru kata-kata Yesus untuk menenangkan badai dan menerapkannya pada wabah virus corona dan semua side-effects-nya? Dia mengaku diperintah oleh Tuhan. Kalau ia memang diperintah oleh Tuhan, tentu ia boleh, bahkan harus, meniru. Tetapi mengapa ia gagal total?? Saya menyimpulkan, ia hanya omong kosong. Ia sama sekali tidak diperintah oleh Tuhan. Dan saya sama sekali tidak mengerti mengapa dan untuk apa ia meniru. Itu hanya merusak nama dan reputasinya sendiri!

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

[email protected]

http://golgothaministry.org

Email : [email protected]