kebaktian online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 26 April 2020, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Bersama Yesus dalam badai (4)

 

Markus 4:35-41

 

Mat 8:23-27 - “(23) Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-muridNyapun mengikutiNya. (24) Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. (25) Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Tuhan, tolonglah, kita binasa.’ (26) Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. (27) Dan heranlah orang-orang itu, katanya: ‘Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepadaNya?’”.

 

Luk 8:22-25 - “(22) Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan murid-muridNya, dan Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang danau.’ Lalu bertolaklah mereka. (23) Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga perahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya. (24) Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Guru, Guru, kita binasa!’ Iapun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan angin dan air itupun reda dan danau itu menjadi teduh. (25) Lalu kataNya kepada mereka: ‘Di manakah kepercayaanmu?’ Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepadaNya?’.

 

Mark 4:35-41 - “(35) Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang.’ (36) Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. (37) Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. (38) Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepadaNya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’ (39) Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’ Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. (40) Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’ (41) Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepadaNya?’.

 

3)   Murid-murid berdoa dalam ketakutan mereka.

Mereka membangunkan Yesus, tetapi dengan cara sedemikian rupa, sehingga tidak menunjukkan iman.

 

a)         Cerita dalam Matius, Markus dan Lukas berbeda / saling bertentangan?

Mat 8:25: “Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Tuhan, tolonglah, kita binasa.’.

Mark 4:38b: “Maka murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepadaNya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’.

Luk 8:24a: “Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Guru, Guru, kita binasa!’.

 

Penjelasan: Kata-kata yang berbeda ini bukan kontradiksi. Dalam kepanikan seperti itu, bisa saja murid yang satu mengucapkan suatu hal, dan murid yang lain mengucapkan hal yang lain.

 

William Hendriksen (tentang Mark 4:38): “It is reasonable to suppose that in a situation of terrified distress this disciple would cry one thing, another something else.” [= Merupakan sesuatu yang masuk akal untuk menganggap bahwa dalam suatu keadaan dari kekuatiran yang menakutkan murid yang ini berteriak satu hal, murid yang lain berteriak sesuatu yang lain.].

 

b)   Bisa dikatakan bahwa mereka memang berdoa, tetapi kata-kata / tindakan ini mereka ucapkan / lakukan tanpa iman.

 

Mark 4:38b: “Maka murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepadaNya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’”.

 

Semua / setiap problem / kesukaran sebetulnya merupakan undangan dari Allah kepada kita, untuk berdoa! Ini dikatakan oleh Calvin dalam komentarnya tentang Kel 16:2. Kita akan lihat itu sebentar lagi.

 

Ada beberapa kemungkinan sikap / tindakan orang pada waktu mengalami problem / penderitaan / bahaya.

 

1.   Ada orang-orang yang mengalami problem / penderitaan, dan mereka bukan saja tidak berdoa, tetapi mereka bersungut-sungut dan marah.

 

Bdk. Kel 16:1-3 - “(1) Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir. (2) Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; (3) dan berkata kepada mereka: ‘Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.’.

 

Pada waktu mereka dikejar oleh Firaun dan pasukannya, sekalipun mereka juga bersungut-sungut dan marah kepada Musa, tetapi mereka juga berseru kepada Tuhan.

 

Kel 14:10-12 - “(10) Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN, (11) dan mereka berkata kepada Musa: ‘Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? (12) Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.’.

 

Tetapi di sini, dalam Kel 16, mereka sama sekali tidak berdoa. Mereka hanya bersungut-sungut dan marah kepada Musa dan Harun. Ini salah sama sekali.

 

Calvin (tentang Kel 16:2): This was the case of the Israelites in the wilderness of Sin. The want of all things, which presents itself to them, is an invitation to them from God, that they may feel His power, by which He created the world out of nothing, to be independent of all foreign assistance for the maintenance of mankind. But despair seizes upon their faithless minds, so that they reject His aid and beneficence. And not only so, but their malignity and ingratitude instigates them to quarrel with Moses; and this is the sum of their complaint, that they were dragged away from abundance of bread and meat, that they might perish in the desert of hunger. Therefore they call Moses and Aaron, by whose hand and means they had been delivered, their murderers.[= Ini adalah kasus dari bangsa Israel di padang gurun Sin. Kebutuhan / kekurangan akan segala sesuatu, yang menunjukkan dirinya sendiri kepada mereka, merupakan suatu undangan kepada mereka dari Allah, supaya mereka bisa merasakan kuasaNya, dengan mana Ia menciptakan dunia / alam semesta dari nihil, untuk tak tergantung pada semua bantuan asing untuk pemeliharaan umat manusia. Tetapi rasa putus asa mencengkeram pikiran tak beriman mereka, sehingga mereka menolak bantuan dan kemurahan hatiNya. Dan bukan hanya itu, tetapi kejahatan dan rasa tidak tahu terima kasih mereka menghasut mereka untuk bertengkar dengan Musa; dan ini adalah ringkasan dari keluhan mereka, bahwa mereka ditarik dari kelimpahan roti dan daging, supaya mereka bisa binasa di padang gurun dari kelaparan. Karena itu mereka menyebut Musa dan Harun, oleh tangan dan cara siapa mereka telah dibebaskan, pembunuh-pembunuh mereka.].

 

Mereka sebetulnya diundang untuk berdoa, tetapi mereka bukan saja tidak berdoa, tetapi mereka bersungut-sungut dan marah.

 

Apakah saudara menghadapi wabah virus corona ini (dengan semua side-effect-nya) dengan cara yang sama seperti bangsa Israel pada saat itu?

 

2.   Ada orang yang mengalami problem / penderitaan, dan mereka berdoa dengan iman. Misalnya dalam Kis 4:23-31.

 

Kis 4:23-31 - “(23) Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka. (24) Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: ‘Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. (25) Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hambaMu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? (26) Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang DiurapiNya. (27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu. (29) Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hambaMu keberanian untuk memberitakan firmanMu. (30) Ulurkanlah tanganMu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, HambaMu yang kudus.’ (31) Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani..

 

Matthew Henry (tentang Mark 4:35-41): When Christ seems as if he slept in a storm, he is awaked by the prayers of his people; when we know not what to do, our eye must be to him (2 Chron 20:12); we may be at our wits’ end, but not at our faith’s end, while we have such a Saviour to go to.[= Pada waktu Kristus kelihatan seakan-akan Ia tidur dalam badai, Ia dibangunkan oleh doa-doa dari umatNya; pada waktu kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, mata kita harus ditujukan kepadaNya (2Taw 20:12); kita mungkin berada pada akhir dari kepandaian kita, tetapi tidak pada akhir dari iman kita, pada waktu kita mempunyai seorang Juruselamat seperti itu untuk pergi kepadaNya.].

 

Matthew Henry memberi ayat referensi 2Taw 20:12, yang merupakan doa raja Yosafat, pada waktu mereka diserang oleh orang-orang Moab dan Amon.

 

2Taw 20:1-13 - “(1) Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. (2) Datanglah orang memberitahukan Yosafat: ‘Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,’ yakni En-Gedi. (3) Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. (4) Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN. (5) Lalu Yosafat berdiri di tengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem di rumah TUHAN, di muka pelataran yang baru (6) dan berkata: ‘Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tanganMu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau. (7) Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umatMu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabatMu itu, untuk selama-lamanya? (8) Lalu mereka mendiami tanah itu, dan mendirikan bagiMu tempat kudus untuk namaMu. Kata mereka: (9) Bila sesuatu malapetaka menimpa kami, yakni pedang, penghukuman, penyakit sampar atau kelaparan, kami akan berdiri di muka rumah ini, di hadapanMu, karena namaMu tinggal di dalam rumah ini. Dan kami akan berseru kepadaMu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami. (10) Sekarang, lihatlah, bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir ini! Ketika orang Israel datang dari tanah Mesir, Engkau melarang mereka memasuki negerinya. Oleh sebab itu mereka menjauhinya dan tidak memusnahkannya. (11) Lihatlah, sebagai pembalasan mereka datang mengusir kami dari tanah milik yang telah Engkau wariskan kepada kami. (12) Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepadaMu.’ (13) Sementara itu seluruh Yehuda berdiri di hadapan TUHAN, juga segenap keluarga mereka dengan isteri dan anak-anak mereka..

 

3.   Ada juga orang-orang yang dalam problem / bahaya / penderitaan memang berdoa, tetapi mereka berdoa tanpa iman.

Ini seperti para murid di sini. Mereka memang berdoa tetapi jelas tanpa iman. Ini terlihat dengan jelas dari kata-kata mereka (ay 38b) dan dari reaksi Yesus setelah Ia bangun (ay 40).

 

Mark 4:38b: “Maka murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepadaNya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’.

 

Mark 4:40 - Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’.

 

Matthew Henry (tentang Mark 4:35-41): Their address to Christ is here expressed very emphatically; ‘Master, carest thou not that we perish?’ I confess this sounds somewhat harsh, rather like chiding him for sleeping than begging him to awake. ... They do Christ a deal of wrong, who suspect him to be careless of his people in distress.[= Kata-kata mereka kepada Kristus di sini dinyatakan dengan sangat ditekankan; ‘Guru, Engkau tidak peduli kalau kami binasa?’ Saya mengakui ini kedengaran agak kasar, lebih seperti memarahi / mencela Dia untuk tidur dari pada memohon Dia untuk bangun. ... Mereka menyalahi Kristus, yang mencurigai Dia sebagai tak peduli kepada umatNya dalam problem / penderitaan.].

 

Pulpit Commentary (tentang Mark 4:38): “This question savours of impatience, if not of irreverence.” [= Pertanyaan ini berbau ketidak-sabaran, jika bukan sikap tidak hormat.].

 

IV) Sikap Yesus terhadap doa para murid.

 

1)   Yesus menenangkan badai itu, dan menegur para murid karena ketakutan dan kurangnya / ketidak-ada-an iman mereka.

 

a)   Bagaimana urut-urutan kedua hal di atas?

 

Mat 8:26 - Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali..

 

Saya tadinya merasa kata-kata dalam Mat 8:26 ini aneh, karena Yesus bicara dulu (menegur para murid), baru bangun. Tetapi kata Yunani yang diterjemahkan ‘bangun’ ini, bisa berarti ‘bangun dari tidur’ ataupun ‘bangun dari posisi berbaring’. Kalau diambil arti kedua maka tidak ada keanehan apa-apa dalam ayat ini.

 

Luk 8:24b-25a - “(24b) Iapun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan angin dan air itupun reda dan danau itu menjadi teduh. (25a) Lalu kataNya kepada mereka: ‘Di manakah kepercayaanmu?’.

 

Mark 4:39-40 - (39) Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’ Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. (40) Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’.

 

Jadi, dalam Injil Matius Yesus menegur para murid dahulu, baru Ia menghardik dan menenangkan badai. Tetapi dalam Markus dan Lukas sebaliknya. Penulis Kitab Suci tidak selalu menulis sesuai dengan urut-urutan waktu.

 

Lenski (tentang Mark 4:39): Matthew places the rebuke to the disciples before the act of stilling the tempest, but Mark and Luke seem to have the correct order of the acts. [= Matius menempatkan peneguran terhadap murid-murid sebelum tindakan menenangkan badai, tetapi Markus dan Lukas kelihatannya mempunyai urut-urutan yang benar dari tindakan-tindakan itu.].

 

Mengapa Matius membalik urut-urutan itu? Mungkin karena ia mau menekankan teguran Yesusnya.

 

b)         Sekarang kita bahas kedua tindakan Yesus ini.

 

1.   Yesus bangun, dan menghardik badai itu, dan menenangkannya.

Ay 39: “Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’ Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.”.

 

a.   Yesus bangun, dan menghardik angin / danau itu.

Ay 39a: “Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’”.

 

Lenski (tentang Mark 4:39): Note the two aorists ‘he rebuked,’ ‘he said,’ both are effective. The mere word of Jesus was enough. [= Perhatikan dua kata bentuk aorist / past tense ‘Ia menghardik’, ‘Ia berkata’, keduanya efektif. Semata-mata kata dari Yesus adalah cukup.].

 

Jadi, Ia hanya mengatakan kata-kata itu satu kali, dan badai itu tenang. Bandingkan dengan banyak pendeta / orang kristen yang kalau menengking setan / berdoa untuk kesembuhan seseorang dsb, melakukan doa yang diulang-ulang sampai puluhan kali!

 

Kata ‘tenanglah’ merupakan kata perintah dalam bentuk perfect, pasif!! Ini sangat jarang dipakai. Hampir semua kata perintah dalam bahasa Yunani ada dalam present tense atau aorist tense.

 

Dari suatu link di internet:

In the imperative ‘tense’ has no real meaning as all imperatives, regardless of tense, refer to the future. The distinction between present, aorist, and perfect imperatives involves ‘aspect’ only.” [= Dalam kata perintah ‘tensa’ tidak mempunyai arti yang nyata / sungguh-sungguh karena semua kata perintah, tak peduli apa tensa-nya, menunjuk ke masa yang akan datang. Perbedaan dari kata perintah bentuk present, aorist / past, dan perfect, hanya melibatkan ‘aspek’.] - https://www.quora.com/Can-you-give-a-usage-example-of-the-Ancient-Greek-perfect-imperative

 

Lenski (tentang Mark 4:39): Then one of the only two perfect imperatives in the New Testament, πεφίμωσο, the force of which is: ‘Put the muzzle on and keep it on!’ R. 908. Mark alone reports the words that Jesus used. [= Lalu satu dari dua kata perintah bentuk perfect dalam Perjanjian Baru, πεφίμωσο (PEPHIMOSO), kekuatan / penekanan darinya adalah: ‘Pasanglah berangusnya dan biarlah itu tetap terpasang!’ R. 908. Hanya Markus yang melaporkan kata-kata yang Yesus gunakan.].

Catatan: Lenski mengutip dari buku A. T. Robertson hal 908, dan dalam bukunya itu, A. T. Robertson mengatakan bahwa baik kata ‘diam!’ (present imperative) maupun kata ‘tenanglah!’ (perfect imperative) mempunyai ‘durative idea’ [= arti yang bersifat terus menerus] - ‘A Grammar of the Greek New Testament in the Light of Historical Research’, hal 908.

 

J. A. Alexander (tentang Mark 4:39): “The peculiar force of the perfect imperative passive, as if commanding what was past already, cannot be perfectly expressed in English. [= Kekuatan yang khusus dari kata perintah bentuk perfect, pasif, seakan-akan memerintahkan apa yang sudah lalu, tidak bisa dinyatakan secara sempurna dalam bahasa Inggris.]. - hal 107.

 

b.         Badai dan ombak langsung jadi tenang.

Ay 39b: “Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.”.

 

Lenski (tentang Mark 4:39): The result of this command was instantaneous: ‘and there came a great calm.’ All three synoptists record the calm, and they all use the significant aorist ἐγένετο, ‘there did come’ on the instant, in obedience to that mighty command. [= Hasil dari perintah ini bersifat langsung / segera: ‘dan di sana terjadi suatu ketenangan yang besar’. Semua tiga Injil mencatat ketenangan itu, dan mereka semua menggunakan bentuk aorist yang penting EGENETO, ‘di sana terjadi’ pada saat itu juga, sebagai ketaatan pada perintah yang besar kuasanya itu.].

 

Perlu dicamkan bahwa penggunaan bentuk aorist menunjukkan bahwa hal itu terjadi secara instant / segera, bukan berangsur-angsur!

 

Matthew Henry (tentang Mark 4:39): A word of comfort to us, that, be the storm of trouble ever so loud, ever so strong, Jesus Christ can lay it with a word’s speaking.[= Suatu kata penghiburan bagi kita, bahwa, sekalipun badai kesukaran begitu keras, Yesus Kristus bisa menenangkannya dengan pengucapan suatu kata.].

 

Pulpit Commentary (tentang Mark 4:37-39): The Christian’s extremity Christ’s opportunity.[= Bahaya yang serius dari orang Kristen adalah kesempatan Kristus.].

 

c.         Ini membuktikan / menunjukkan keilahian Yesus.

 

Adam Clarke (tentang Mark 4:39): ‘Peace, be still.’ Be silent! Be still! There is uncommon majesty and authority in these words. Who but God could act thus?[= ‘Diam, tenanglah’. Jadilah diam! Jadilah tenang! Di sana ada keagungan dan otoritas yang luar biasa dalam kata-kata ini. Siapa kecuali Allah bisa bertindak seperti itu?].

 

Matthew Henry (tentang Mark 4:39): It is spoken of as God’s prerogative to command the seas, Jer 31:35. By this therefore Christ proves himself to be God. He that made the seas, can make them quiet.[= Itu diucapkan sebagai hak exklusif Allah untuk memerintah laut, Yer 31:35. Karena itu, dengan ini Kristus membuktikan diriNya sendiri sebagai Allah. Ia yang menjadikan laut, bisa membuat mereka tenang.].

 

d.   Kristus bukan hanya bisa menenangkan badai di luar diri kita, tetapi juga badai di dalam hati kita.

 

Barclay (tentang Mat 8:23-27): But the meaning of this story is far greater than that - the meaning of this story is not that Jesus stopped a storm in Galilee; the meaning is that wherever Jesus is, the storms of life become a calm. ... In every storm that shakes the human heart, there is peace with Jesus Christ. [= Tetapi arti dari cerita ini jauh lebih besar dari pada itu - arti dari cerita ini bukanlah bahwa Yesus menghentikan suatu badai di Galilea; artinya adalah bahwa dimanapun Yesus berada, badai kehidupan menjadi suatu ketenangan. ... Dalam setiap badai yang menggoncangkan hati manusia, di sana ada damai dengan / bersama Yesus Kristus.].

 

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

[email protected]

http://golgothaministry.org

Email : [email protected]