kebaktian online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 19 April 2020, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Bersama Yesus dalam badai (3)

 

Markus 4:35-41

 

Mat 8:23-27 - “(23) Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-muridNyapun mengikutiNya. (24) Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. (25) Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Tuhan, tolonglah, kita binasa.’ (26) Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. (27) Dan heranlah orang-orang itu, katanya: ‘Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepadaNya?’”.

 

Luk 8:22-25 - “(22) Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan murid-muridNya, dan Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang danau.’ Lalu bertolaklah mereka. (23) Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga perahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya. (24) Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Guru, Guru, kita binasa!’ Iapun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan angin dan air itupun reda dan danau itu menjadi teduh. (25) Lalu kataNya kepada mereka: ‘Di manakah kepercayaanmu?’ Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepadaNya?’.

 

Mark 4:35-41 - “(35) Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang.’ (36) Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. (37) Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. (38) Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepadaNya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’ (39) Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’ Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. (40) Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’ (41) Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepadaNya?’.

 

III) Sikap murid-murid dalam badai itu.

 

Mark 4:38b: “Maka murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepadaNya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’”.

 

1)   Murid-murid menjadi takut.

Beberapa di antara murid-murid Yesus adalah penjala ikan dan karena itu sudah biasa mengalami badai, sehingga seharusnya mereka tidak takut. Apa yang bagi orang biasa adalah badai, bagi orang yang sudah terbiasa mengalami badai, adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Waktu saya mengalami ‘badai’ di Sendang Biru itu, tukang perahunya duduk santai sambil merokok!

 

Bahwa ternyata mereka semua bisa takut, menunjukkan bahwa badai itu luar biasa hebatnya.

 

Bdk. Mark 4:37 - Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air..

 

Rasa takut ini menunjukkan kelemahan iman mereka. Ini mungkin tidak akan pernah mereka sadari seandainya mereka tidak mengalami badai ini.

 

Adam Clarke (tentang Mat 8:25): “One advantage of trials is to make us know our weakness,” [= Satu keuntungan dari ujian-ujian adalah membuat kita mengetahui kelemahan kita,] - hal 105.

 

The Bible Exposition Commentary (tentang Mark 4:35-41): How often in the trials of life we are prone to imitate the faithless disciples and cry out, ‘Lord, don’t You care?’ ... the greatest danger was not the wind or the waves: it was the unbelief in the hearts of the disciples. Our greatest problems are within us, not around us. This explains why Jesus gently rebuked them and called them ‘men of little faith.’ They had heard Him teach the Word and had even seen Him perform miracles, and yet they still had no faith. It was their unbelief that caused their fear, and their fear made them question whether Jesus really cared. We must beware of ‘an evil heart of unbelief’ (Heb 3:12). [= Betapa sering dalam ujian-ujian kehidupan kita condong untuk meniru murid-murid yang tidak beriman dan berteriak, ‘Tuhan, tidakkah Engkau peduli?’ ... bahaya yang terbesar bukanlah angin atau ombak / gelombang: itu adalah ketidak-percayaan dalam hati dari murid-murid. Problem terbesar kita ada di dalam kita, bukan di sekitar / sekeliling kita. Ini menjelaskan mengapa Yesus dengan lembut memarahi mereka dan menyebut mereka ‘orang-orang yang imannya / kecil / tidak percaya’. Mereka telah mendengar Ia mengajar Firman dan telah melihat Dia melakukan mujizat-mujizat, tetapi mereka tetap tidak mempunyai iman. Adalah ketidak-percayaan mereka yang menyebabkan rasa takut mereka, dan rasa takut mereka membuat mereka mempertanyakan apakah Yesus sungguh-sungguh peduli. Kita harus berhati-hati terhadap ‘suatu hati yang jahat dari ketidak-percayaan’ (Ibr 3:12).].

Catatan: para murid dikatakan ‘tidak mempunyai iman’, dan kata ‘iman’ di sana bukanlah ‘saving faith’ [= iman yang menyelamatkan]. Tetapi ‘iman’ dalam Ibr 3:12 adalah iman yang menyelamatkan. Jadi penggunaan ayat tidak terlalu cocok.

Ibr 3:12 - Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup..

KJV: an evil heart of unbelief [= suatu hati yang jahat dari ketidak-percayaan].

 

The Bible Exposition Commentary (tentang Mark 4:35-41): This was only one of many lessons Jesus would teach His disciples in the familiar environs of the Sea of Galilee, and each lesson would reveal some wonderful new truth about the Lord Jesus. They already knew that He had the authority to forgive sins, to cast out demons, and to heal diseases. Now they discovered that He even had authority over the wind and the sea. This meant that they had no reason ever again to be afraid, for their Lord was in constant control of every situation. [= Ini hanyalah satu dari banyak pelajaran-pelajaran yang Yesus ajarkan kepada murid-muridNya di sekitar danau Galilea yang akrab (dengan mereka), dan setiap pelajaran menyingkapkan beberapa kebenaran baru yang sangat bagus tentang Tuhan Yesus. Mereka telah mengetahui bahwa Ia mempunyai otoritas untuk mengampuni dosa, untuk mengusir setan-setan, dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Sekarang mereka menemukan bahwa Ia bahkan mempunyai otoritas atas angin dan laut / danau. Ini berarti bahwa mereka tidak mempunyai alasan untuk pernah merasa takut lagi, karena Tuhan mereka ada dalam kendali secara terus menerus dalam setiap keadaan.].

 

Jadi, Yesus membawa murid-muridNya ke dalam bahaya badai itu, untuk memberikan pelajaran bagi mereka bahwa Ia selalu memegang kendali atas sikon apapun. Kalau sekarang Ia membawa kita ke dalam badai wabah virus corona, beserta semua side effects-nya, apakah ini suatu kebetulan? Tidak! Apakah ini di luar rencana dan providensiaNya? Tentu tidak! Dia pasti ingin mengajar sesuatu kepada kita, bahwa Ia selalu memegang kendali dalam setiap sikon.

 

The Bible Exposition Commentary (tentang Mark 4:35-41): There were at least three good reasons why none of the men in the ship should have been disturbed, even though the situation appeared to be threatening. To begin with, they had His promise that they were going to the other side (Mark 4:35). His commandments are always His enablements and nothing can hinder the working out of His plans. He did not promise an easy trip, but He did promise a guaranteed arrival at their destination. Second, the Lord Himself was with them, so what was there to fear? They had already seen His power demonstrated in His miracles, so they should have had complete confidence that He could handle the situation. For some reason, the disciples did not yet understand that He was indeed the Master of every situation. Finally, they could see that Jesus was perfectly at peace, even in the midst of the storm. This fact alone should have encouraged them. Jesus was in God’s will and knew that the Father would care for Him, so He took a nap. Jonah slept during a storm because he had a false sense of security, even though he was running from God. Jesus slept in the storm because He was truly secure in God’s will. [= Di sana ada sedikitnya tiga alasan yang baik mengapa tak ada dari mereka dalam perahu harus merasa terganggu, sekalipun keadaannya kelihatan mengancam / menakutkan. Pertama-tama, mereka mempunyai janjiNya bahwa mereka akan pergi ke seberang (Mark 4:35). Perintah-perintahNya selalu adalah tindakan-tindakan memampukanNya dan tak ada apapun bisa menghalangi pelaksanaan / penyelesaian dari rencana-rencanaNya. Ia tidak menjanjikan suatu perjalanan yang mudah, tetapi Ia memang menjanjikan ketibaan yang terjamin di tujuan mereka. Kedua, Tuhan sendiri ada bersama mereka, jadi apa yang ada di sana untuk ditakuti? Mereka telah melihat kuasaNya didemonstrasikan dalam mujizat-mujizatNya, jadi mereka seharusnya telah mempunyai keyakinan yang lengkap bahwa Ia bisa menangani keadaan itu. Untuk alasan tertentu, murid-murid belum mengerti bahwa Ia memang adalah Tuan dari setiap keadaan. Terakhir, mereka bisa melihat bahwa Yesus ada dalam damai secara sempurna, bahkan di tengah-tengah badai itu. Fakta ini saja seharusnya telah menguatkan hati mereka. Yesus ada dalam kehendak Allah dan tahu bahwa Bapa peduli kepadaNya, maka Ia tidur sebentar. Yunus tidur selama badai karena ia mempunyai suatu perasaan aman yang palsu, sekalipun ia sedang lari dari Allah. Yesus tidur dalam badai karena Ia betul-betul aman dalam kehendak Allah.].

Mark 4:35 - Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang.’.

Catatan: saya tidak setuju dengan bagian yang saya garis-bawahi dan beri warna hijau itu! Kalau Tuhan memerintahkan, tidak berarti bahwa Ia selalu memberi kita kemampuan untuk melaksanakan perintahNya. Ia memerintahkan kita untuk sempurna (Mat 5:48). Bisakah kita sempurna? Hanya orang bodoh yang menjawab YA.

Ajaran yang mengatakan bahwa kalau Tuhan memerintahkan, maka Ia selalu memberi kemampuan kepada kita untuk mentaatinya, adalah ajaran sesat dari seorang yang bernama Pelagius (yang bertentangan dengan Agustinus pada abad ke 4), tetapi cukup sering ada orang Kristen (paling sering yang berpandangan Arminian) yang juga mempercayainya.

Kemampuan mentaati hanya ada pada jaman Adam dan Hawa belum jatuh ke dalam dosa. Tetapi sejak Adam jatuh, semua manusia  ada dalam keadaan TOTAL DEPRAVITY [= Kebejatan total] atau Total Inability [= Ketidak-mampuan total]. Jadi, manusia di luar Kristus tidak bisa taat sama sekali. Pada saat seseorang percaya Yesus, maka Ia menerima Roh Kudus sehingga Ia mulai bisa mentaati Tuhan, tetapi tetap tidak mungkin bisa taat secara sempurna.

 

Saya yakin bahwa badai dan rasa takut yang sama juga dialami oleh orang-orang dalam perahu-perahu lain yang menyertai mereka.

 

Mark 4:36 - Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia..

 

Pulpit Commentary (tentang Mark 4:37): “Bede and others have thought that the boat in which Christ was was the only boat that was tossed by this storm; in order that Christ might show his power in limiting the area of the tempest. But it is far more probable that the other boats were subject to it; for they were very near to the boat in which Christ was. There must have been some reason for the allusion to these boats; and the wider the reach of the tempest, the greater would appear the Divine power of Christ in stilling it, and the greater the amount of testimony to the reality of the miracle.” [= Bede dan orang-orang lain telah berpikir bahwa perahu dalam mana Kristus berada adalah satu-satunya perahu yang diombang-ambingkan oleh badai ini; supaya Kristus bisa menunjukkan kuasaNya dalam membatasi daerah dari badai itu. Tetapi adalah jauh lebih memungkinkan bahwa perahu-perahu yang lain juga mengalaminya; karena mereka berada sangat dekat dengan perahu dalam mana Kristus berada. Di sana pasti ada alasan untuk referensi tak langsung pada perahu-perahu ini; dan makin lebar jangkauan dari badai itu, makin besar kelihatannya kuasa Ilahi Kristus dalam menenangkannya, dan makin besar jumlah kesaksian pada realita dari mujizat itu.].

 

Saya mutlak menolak kalau hanya perahu yang ada Kristus di dalamnya yang mengalami badai. Perahu-perahu lain itu, tidak bisa tidak, mengikuti perahu Kristus, karena mereka ingin mengikuti Dia, dan mendengar ajaranNya, yang sudah mereka dengar sejak pagi. Dan karena itu, mereka juga mengalami badai.

 

Dekat / bersama dengan Kristus, atau dekat / bersama dengan orang beriman yang saleh, memang bisa ikut mendapatkan berkat, tetapi bisa juga ikut mendapatkan bahaya / penderitaan.

 

2)   Murid-murid menjadi takut, karena Kristus kelihatannya ‘tidak peduli’.

 

Mark 4:38 - “Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepadaNya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’”.

 

Contoh lain dimana Yesus kelihatannya tidak peduli pada badai yang dialami oleh orang-orang percaya adalah dalam Yoh 11. Pada saat Lazarus sakit, Maria dan Marta mengirim pesan kepada Yesus, tetapi Yesus santai-santai saja, sungguh pada saat sampai di sana, Lazarus sudah mati selama 4 hari. Juga pada waktu Yohanes Pembaptis ada di dalam penjara (Mat 11:2-3).

 

Di sini saya memberikan beberapa pembahasan / kutipan tentang ‘ketidak-pedulian’ Kristus terhadap badai yang kita alami:

 

a)   Kristus hanya tampaknya saja tidak peduli, tetapi sebetulnya Ia selalu siap menolong kita.

 

Pulpit Commentary (tentang Luk 8:23): “Christ sleeping when the boat was sinking! It looked like negligence! ‘Carest thou not that we perish?’ That negligence was only apparent; there was no real danger. ... That was not the last time that the Master seemed negligent of his own. To his Church in its storm of terrible persecution, to his people (in their individual lives) in the tempest of temptation or adversity through which they have passed, Christ may often, indeed has often, seemed to be heedless and indifferent. But he has always been at hand, always ready for action at the right moment.” [= Kristus tidur pada waktu perahu sedang tenggelam! Itu kelihatannya seperti kecerobohan / kealpaan! ‘Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’ Kecerobohan / kealpaan itu hanya kelihatannya; di sana tidak ada bahaya yang sebenarnya. ... Itu bukan kali yang terakhir sang Guru kelihatannya mengabaikan milikNya. Bagi GerejaNya dalam badai penganiayaan yang hebat, bagi umatNya (dalam kehidupan pribadi mereka) dalam badai pencobaan atau kesengsaraan melalui mana mereka lewat, Kristus bisa sering, dan memang telah sering, kelihatan seperti tidak mempedulikan dan acuh tak acuh. Tetapi Ia selalu tersedia di dekat kita, selalu siap untuk bertindak pada saat yang tepat.] - hal 224.

 

b)   Segala sesuatu ditetapkan dan diatur oleh Allah untuk kebaikan kita, dan karena itu semua badai yang kita alami pasti berguna untuk kita.

 

C. H. Spurgeon: “There is no such power as a law of nature acting by itself; all power lies in God, ... The laws of nature are but a powerless letter; God worketh all things. What hath he himself said, ‘I create the light, and I create darkness.’ Not a seed swells beneath the soil, not a bud bursts into beauty, not an ear of corn ripens for the harvest, without God; ... Happy is he who in all things beholds a present Deity. ... His ways of action must be right, and if they cause us grief, we nevertheless feel that he is not afflicting us willingly, or grieving us without design. When we perceive his hand we kiss the rod. Instead of saying, ‘Master, carest thou not that we perish,’ we cry out in resignation, ‘It is the Lord, let him do what seemeth him good.’” [= Tidak ada kuasa yang merupakan hukum alam yang bertindak sendiri; semua kuasa ada pada Allah, ... Hukum-hukum alam hanyalah merupakan huruf yang tidak mempunyai kuasa; Allah mengerjakan segala sesuatu. Apa yang telah dikatakanNya sendiri: ‘Aku menciptakan terang, dan Aku menciptakan kegelapan’ (Yes 45:7). Tidak ada benih yang berkembang dalam tanah, tidak ada kuncup yang berkembang menjadi suatu keindahan, tidak ada bulir jagung yang matang untuk panen, tanpa Allah; ... Berbahagialah ia yang di dalam segala sesuatu melihat Allah yang hadir. ... Jalan dari tindakanNya pasti benar, dan jika itu menyebabkan kita sedih, bagaimanapun kita merasa bahwa Ia tidak dengan senang hati menyakiti kita, atau menyedihkan kita tanpa rencana. Pada waktu kita merasakan tanganNya kita mencium tongkatNya. Dari pada mengatakan ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’, kita berteriak dalam penyerahan ‘Itu Tuhan, biarlah Ia melakukan apa yang Ia anggap baik’ (1Sam 3:18).] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 3, hal 265.

Bdk. Yes 45:7 - “yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.”.

 

C. H. Spurgeon: “we believe that all things, great and small, are fixed in the eternal purpose, and will surely be as they are ordained. This doctrine becomes the lurking-place of a temptation. We gaze upon the ponderous wheels of predestination in their awful revolution, and fear that they will grind us to powder. ... God hath his purpose and his way, and his purposes are both for his own glory and for the good of his people. Who among us would wish the Lord to turn aside from his holy and gracious designs? He has ordained the best, would we have him vary? He hath determined all things wisely, would we have him determine otherwise? ... Do not say - ‘Carest thou not that we perish?’ but believe that instead of perishing your complete salvation will be promoted by all the events of providence.” [= kita percaya bahwa segala sesuatu, besar atau kecil, ditentukan dalam rencana kekal, dan pasti akan terjadi seperti mereka ditentukan. Doktrin ini menjadi tempat bersembunyi dari suatu pencobaan. Kita memandang pada roda-roda yang berat / membosankan dari predestinasi dalam perputaran mereka yang tidak menyenangkan, dan takut bahwa mereka akan menghancurkan kita menjadi bubuk. ... Allah mempunyai rencana dan jalanNya, dan rencanaNya adalah bagi kemuliaanNya sendiri maupun bagi kebaikan umatNya. Siapa di antara kita menginginkan supaya Tuhan menyimpang dari rencanaNya yang kudus dan murah hati / penuh kasih karunia? Ia telah menentukan yang terbaik, apakah kita menghendaki Ia berubah? Ia telah menentukan segala sesuatu dengan bijaksana, apakah kita menghendaki Ia menentukan yang lain? ... Jangan berkata ‘Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’ tetapi percayalah bahwa sebaliknya dari binasa, keselamatanmu yang lengkap / sempurna akan dimajukan oleh semua peristiwa-peristiwa dari providensia.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 3, hal 265-266.

 

c)   Mungkin kita menganggap bahwa kalau orang-orang brengsek terkena badai, dan bahkan binasa dalam badai itu, maka itu memang sudah pada tempatnya. Tetapi kita tidak bisa menerima bahwa kita, yang betul-betul beriman dan mengasihi / mentaati Tuhan, terkena badai. Tetapi orang yang dididik / dihajar oleh Tuhan, justru adalah orang yang dikasihiNya.

 

C. H. Spurgeon: “‘We are thine apostles, we love thee, we spend our lives for thee, carest thou not that we perish. We could understand that the vessel which carries a load of publicans and sinners should go to the bottom; but carest thou not that we perish?’ ... Sometimes under trouble we have wondered why we are so afflicted, for we have felt that the Lord has kept us from known sin, and led us in the way of holiness; and therefore we have seen no special cause for his scourging. ... It is not written, ‘As many as I hate I chasten,’ far from it: ... But it is written, ‘As many as I love I rebuke and chasten:’ the favourites of heaven are inheritors of the rod. It is not said, ‘The branches which bring forth no fruit shall be pruned.’ No, they shall be utterly taken away in due season, and cast into the fire; but it is written, ‘Every branch that beareth fruit, he purgeth it, that it may bring forth more fruit.’ ... The gold is put into the furnace because it is gold; it would have been of no use to put mere stones and rubbish there.” [= ‘Kami adalah rasul-rasulMu, kami mengasihiMu, kami menghabiskan hidup kami untukMu, apakah Engkau tidak perduli bahwa kami / kita binasa? Kami bisa mengerti bahwa perahu yang mengangkut pemungut-pemungut cukai dan orang-orang berdosa tenggelam; tetapi apakah Engkau tidak perduli kalau kami / kita binasa?’ ... Kadang-kadang di bawah kesukaran kita bertanya-tanya mengapa kita ditimpa penderitaan seperti itu, karena kita merasa bahwa Tuhan telah menjaga kita dari dosa-dosa yang kita ketahui, dan memimpin kita di jalan kekudusan; dan karena itu kita tidak melihat penyebab khusus untuk hajaran ini. ... Tidak dituliskan, ‘Sebanyak yang Aku benci Aku hajar’, jauh dari itu: ... Tetapi tertulis ‘Sebanyak yang Aku kasihi Kutegur dan Kuhajar’ (Wah 3:19); orang-orang kesukaan surga adalah pewaris-pewaris dari tongkat (untuk menghajar). Tidak dikatakan ‘Ranting-ranting yang tidak berbuah dibersihkannya’. Tidak, mereka akan dipotong sama sekali pada saatnya, dan dibuang ke dalam api; tetapi dituliskan ‘Setiap ranting yang berbuah dibersihkannya, supaya lebih banyak berbuah’ (Yoh 15:2). ... Emas dimasukkan ke dapur api karena ia adalah emas; tidak ada gunanya memasukkan batu dan sampah ke sana.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 3, hal 266-267.

 

d)   Juga ada orang percaya yang dalam badai mengharapkan terjadinya mujizat, tetapi karena Tuhan tidak memberikan mujizat yang ia inginkan, ia menganggap Tuhan tidak peduli kepadanya. Padahal merupakan sesuatu yang lebih hebat kalau Tuhan menopang kita di dalam badai, dari pada kalau Ia mengeluarkan kita dari badai / menghentikan badai.

 

C. H. Spurgeon: “Mayhap, dear brethren, we have thought that Jesus did not care for us because he has not wrought a miracle for our deliverance, and has not interposed in any remarkable way to help us. You are at this time in such sore distress that you would fain cry, O that he would rend the heavens and descend for my deliverance!’ but he has not rent the heavens. You have read in biographies of holy men the details of very extraordinary providence, but no extraordinary providence has come to your rescue. You are getting gradually poorer and poorer, or you are becoming more and more afflicted in body, and you had hoped that God would have taken some extraordinary method with you, but he has done nothing of the sort. My dear brother, do you know that sometimes God works a greater wonder when he sustains his people in trouble than he would do if he brought them out of it. For him to let the bush burn on and yet not to be consumed is a grander thing than for him to quench the flame and so save the bush.” [= Mungkin saudara-saudara yang kekasih, kita berpikir bahwa Yesus tidak peduli kepada kita karena Ia tidak melakukan suatu mujizat untuk pembebasan kita, dan tidak melakukan intervensi dengan cara yang luar biasa untuk menolong kita. Pada saat ini engkau ada dalam keadaan yang sangat sukar / berbahaya sehingga engkau berteriak dengan sungguh-sungguh, ‘Oh kalau saja Ia membuka langit / surga dan turun untuk pembebebasanku!’ tetapi Ia tidak membuka langit / surga. Engkau telah membaca dalam biografi dari orang-orang kudus detail-detail dari providensia yang luar biasa, tetapi tidak ada providensia yang luar biasa yang datang untuk menolongmu. Engkau menjadi makin lama makin miskin, atau engkau menjadi makin menderita / sakit dalam tubuhmu, dan engkau berharap bahwa Allah mengambil metode yang luar biasa dengan kamu, tetapi Ia tidak melakukan hal seperti itu. Saudaraku yang kekasih, tahukah kamu bahwa Allah kadang-kadang mengerjakan mujizat yang lebih besar pada waktu Ia menopang umatNya dalam kesukaran dari pada jika Ia membawa mereka keluar darinya. Bagi Dia untuk membiarkan semak menyala tetapi tidak terbakar merupakan sesuatu yang lebih agung / hebat dari pada memadamkan nyala itu dan dengan demikian menyelamatkan semak itu.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 3, hal 267.

 

e)   Ada juga orang yang bukannya menginginkan mujizat, tetapi hanya menginginkan supaya di tengah-tengah badai, ia merasakan kehadiran Tuhan sedemikian rupa, sehingga ada sukacita dan damai yang begitu hebat, yang seakan-akan menguburkan semua penderitaan yang sedang ia alami. Tetapi ternyata hal-hal itu tidak terjadi; ia tidak merasakan kehadiran Tuhan, Ia tidak merasa damai dan sukacita, sehingga ia menganggap Tuhan tidak peduli kepadanya. Ini tetap merupakan sikap yang salah, karena kita harus tetap percaya kepada Allah sekalipun Ia ‘menyembunyikan diri’. Fakta tentang penderitaan dan kematian Yesus di atas kayu salib harus membuat kita tetap percaya akan kasih dan kepedulianNya terhadap kita sekalipun kita tidak melihat Dia / merasakan penyertaanNya.

 

C. H. Spurgeon: “Possibly the hard suspicion that Jesus does not care for you takes another form. ‘I do not ask the Lord to work a miracle, but I do ask him to cheer my heart. I want him to apply the promises to my soul. I want his Spirit to visit me, as I know he does some good people, so that my pain may be forgotten in the delight of the Lord’s presence. I want to feel such a full assurance of the Saviour’s presence that the present trial shall, as it were, be swallowed up in a far more exceeding weight of joy. But, alas, the Lord hides his face from me, and this makes my trial all the heavier.’ Beloved, can you not believe in a silent God? Do you always want tokens from God? Must you be petted like a spoiled child? Is your God of such a character that you must needs mistrust him if his face be veiled? Can you trust him no further than you can see him? ... what greater tokens do you require than he had already given you in your past experience, or than he has presented to you in the flowing wounds of a dying Saviour?” [= Mungkin kecurigaan keras bahwa Yesus tidak peduli kepadamu mengambil bentuk yang lain. ‘Aku tidak meminta Tuhan untuk mengerjakan mujizat, tetapi aku meminta Dia untuk menggembirakan hatiku. Aku ingin Ia menerapkan janji-janjiNya kepada jiwaku. Aku ingin RohNya mengunjungi aku, seperti yang aku tahu Ia lakukan kepada beberapa orang saleh, supaya rasa sakitku bisa terlupakan dalam kesenangan karena kehadiran Tuhan. Aku ingin merasakan keyakinan yang begitu penuh tentang kehadiran sang Juruselamat supaya ujian saat ini akan seakan-akan ditelan dalam suatu sukacita yang jauh melebihinya. Tetapi ternyata Tuhan menyembunyikan wajahNya dari aku, dan ini membuat ujianku makin berat’. Kekasih, tidak bisakah engkau percaya kepada Allah yang diam? Apakah kamu selalu menginginkan tanda-tanda / bukti-bukti dari Allah? Haruskah kamu dielus-elus seperti anak yang manja? Apakah Allahmu mempunyai karakter seperti itu sehingga engkau harus tidak percaya kepadaNya jika wajahNya ditutupi? Tidak bisakah engkau mempercayai Dia sekalipun engkau tidak bisa melihat Dia? ... tanda-tanda / bukti-bukti lebih besar apa yang engkau butuhkan / kehendaki dari pada yang Ia sudah berikan kepadamu dalam pengalamanmu yang lalu, atau dari pada yang Ia sudah berikan kepadamu dalam luka-luka yang mengalir dari Juruselamat yang sekarat?] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 3, hal 267,268.

 

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, kita tidak tahu bagaimana masa depan kita, khususnya berhubungan dengan wabah virus corona ini, dengan semua side effect-nya. Tak peduli keadaan menjadi buruk, sangat buruk, ASAL SAUDARA BETUL-BETUL ADALAH ANAK TUHAN, JANGAN SEKALI-SEKALI MENGANGGAP BAHWA TUHAN TIDAK PEDULI KEPADA SAUDARA!

Kalau Dia mau mati di salib untuk saudara, betul-betul tidak masuk akal bahwa Dia tak peduli kepada saudara dalam wabah virus corona ini, atau dalam bencana-bencana yang lain yang saudara alami.

 

Kiranya Tuhan memberkati saudara sekalian. Amin.

 

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

[email protected]

http://golgothaministry.org

Email : [email protected]