kebaktian online

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 5 April 2020, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Bersama Yesus dalam badai (2)

 

Markus 4:35-41

 

Mat 8:23-27 - “(23) Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-muridNyapun mengikutiNya. (24) Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. (25) Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Tuhan, tolonglah, kita binasa.’ (26) Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. (27) Dan heranlah orang-orang itu, katanya: ‘Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepadaNya?’”.

 

Luk 8:22-25 - “(22) Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan murid-muridNya, dan Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang danau.’ Lalu bertolaklah mereka. (23) Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga perahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya. (24) Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Guru, Guru, kita binasa!’ Iapun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan angin dan air itupun reda dan danau itu menjadi teduh. (25) Lalu kataNya kepada mereka: ‘Di manakah kepercayaanmu?’ Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepadaNya?’.

 

Mark 4:35-41 - “(35) Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang.’ (36) Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. (37) Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. (38) Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepadaNya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’ (39) Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’ Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. (40) Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’ (41) Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepadaNya?’.

 

b)         Murid-murid menuruti ajakan Yesus untuk menyeberangi danau.

Mark 4:35-36 - “(35) Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang.’ (36) Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia..

 

Yesus yang mengajak murid-murid untuk menyeberangi danau, dan murid-murid itu mengikuti Yesus. Jadi, kontras dengan Yunus yang mengalami badai karena ketidak-taatan / pemberontakan, bahkan karena suatu tindakan melarikan diri dari Tuhan (Yun 1:3-4), maka murid-murid ini mengalami badai justru karena mereka mentaati Yesus, dan mereka ada bersama dengan Yesus. Jadi, jangan menganggap bahwa kalau saudara mentaati / bersama Yesus, hidup akan selalu tenang tanpa badai / bahaya. Juga jangan menganggap bahwa kalau saudara percaya Yesus, mentaati Yesus, saudara pasti tidak akan terkena wabah virus corona! Saya sudah jelaskan tentang Maz 91, yang ditafsirkan secara salah oleh banyak orang, sehingga seolah-olah mengajarkan bahwa orang kristen yang sejati tidak mungkin terkena segala macam bencana, termasuk wabah virus corona. Dan ayat-ayat lain yang sejenis juga harus ditafsirkan secara sama. Kita tidak mempunyai jaminan mutlak dari Tuhan bahwa kita sebagai orang kristen yang sejati tidak mungkin terkena virus corona!

 

c)         Yesus dan para murid naik perahu biasa / perahu nelayan.

 

Matthew Henry (tentang Mat 8:23): But observe, when he went to sea, he had no yacht or pleasure-boat to attend him, but made use of his disciples’ fishing-boats; so poorly was he accommodated in all respects.” [= Tetapi perhatikan, pada waktu Ia pergi ke laut, Ia tidak mempunyai perahu / kapal pesiar atau perahu untuk kesenangan untuk melayani Dia, tetapi menggunakan perahu memancing dari murid-muridNya; begitu dengan miskin Ia dilayani dalam segala hal.].

 

Seandainya para pendeta-pendeta dan istri-istri mereka yang masuk dalam ‘pastors in style’ itu yang menyeberangi danau, mungkin mereka memakai kapal pesiar, atau bahkan kapal induk!

 

II) Mereka mengalami badai pada saat Yesus tidur.

 

1)   Ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur (ay 38a).

 

a)   Dari Mark 4:35 terlihat bahwa peristiwa ini terjadi pada malam hari, dan karena itu tidak heran kalau Yesus tertidur (ay 38a). Ia lelah setelah melayani sepanjang hari.

 

William Hendriksen (tentang Luk 8): “Since Jesus was not only thoroughly divine but also thoroughly human, he was in need of rest.” [= Karena Yesus bukan hanya sepenuhnya ilahi tetapi juga sepenuhnya manusiawi, Ia membutuhkan istirahat.] - hal 438.

 

Orang yang tidak mempercayai bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, bukan orang kristen!

 

b)         Yesus tidur di sebuah tilam.

Mark 4:38a - “Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam.”.

Kata ‘tilam’ artinya ‘kasur’.

KJV: “a pillow” [= suatu bantal].

RSV/NASB: “the cushion” [= bantal / kasur tipis].

NIV: “a cushion” [= suatu bantal / kasur tipis].

 

William Hendriksen: “This sleeping, moreover, must not be pictured as if the head of Jesus was necessarily resting on a very soft pillow. ... It may have been a ‘cushion’ that belonged to the boat, the only one on board. It may have been a headrest of leather; perhaps even of wood (part of the boat), in which case ‘headrest’ would be a better rendering than ‘cushion.’” [= Selanjutnya, tidur ini, tidak boleh digambarkan seakan-akan kepala Yesus secara perlu sedang bersandar / beristirahat pada suatu bantal yang sangat empuk. ... Itu bisa merupakan suatu kasur tipis yang merupakan milik / cocok untuk perahu, satu-satunya yang ada di dalam perahu. Itu bisa merupakan suatu penopang kepala dari kulit; mugkin bahkan dari kayu (bagian dari perahu), dalam kasus mana ‘penopang kepala’ merupakan terjemahan yang lebih baik dari pada ‘bantal’.].

 

Ini lagi-lagi menunjukkan Yesus hidup secara sangat sederhana, dan sama sekali tidak hidup dengan cara hidup yang luar biasa mewah dari para ‘pastors in style’ itu.

 

2)   Sekonyong-konyong turunlah badai (ay 37).

Mark 4:37 - Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air..

Mat 8:24 - Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur..

Luk 8:23 - Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga perahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya..

 

a)   Baik dalam Mat 8:24 maupun Luk 8:23 ada kata ‘sekonyong-konyong’, yang menunjukkan bahwa badai itu datang secara mendadak. Letak danau Galilea secara geografis menyebabkan badai bisa datang secara mendadak di sana.

 

Barclay (tentang Mark 4:35-41): The Lake of Galilee was notorious for its storms. They came literally out of the blue with shattering and terrifying suddenness. [= Danau Galilea terkenal buruk untuk badai-badainya. Mereka secara hurufiah datang secara mendadak dan tidak terduga dengan sifat mendadak yang menghancurkan / merusak dan mengerikan.].

 

Barclay (tentang Mat 8:23-27): The Jordan valley makes a deep cleft in the surface of the earth, and the Sea of Galilee is part of that cleft. It is 680 feet below sea level. That gives it a climate which is warm and gracious, but it also creates dangers. On the west side, there are hills with valleys and gullies; and, when a cold wind comes from the west, these valleys and gullies act like gigantic funnels. The wind, as it were, becomes compressed in them, and rushes down upon the lake with savage violence and with startling suddenness, so that the calm of one moment can become the raging storm of the next. The storms on the Sea of Galilee combine suddenness and violence in a unique way..

 

Barclay (tentang Mat 8:23-27): The words in the Greek are very vivid. The storm is called a seismos, which is the word for an ‘earthquake.’ The waves were so high that the boat was hidden (kaluptesthai) in the trough as the crest of the waves towered over them. [= Kata-kata itu dalam bahasa Yunaninya sangat jelas / menyolok. Badai itu disebut suatu SEISMOS, yang merupakan suatu kata untuk ‘gempa bumi’. Gelombang-gelombang begitu tinggi sehingga perahu itu tersembunyi / tertutup (kaluptesthai) dalam palung / lembang pada waktu puncak dari gelombang-gelombang menjulang tinggi di atas mereka.].

Catatan:

1.   Dari ketiga kitab Injil yang menceritakan peristiwa ini hanya Matius yang menggunakan kata Yunani ini. Markus dan Lukas menggunakan kata Yunani yang berbeda.

2.   Yang warna hijau itu, saya pernah mengalami pada waktu naik perahu di Sendang Biru mengelilingi pulau Sempu.

 

Bandingkan dengan kata ‘seismograph’ yang artinya adalah alat untuk mengukur gempa bumi, baik intensitasnya maupun lamanya.

 

Ini sama seperti apa yang terjadi dalam kehidupan. Badai dalam kehidupan bisa datang secara mendadak. Contoh: kehidupan Ayub.

 

C. H. Spurgeon: “Thus may our loveliest calms be succeeded by overwhelming storms. A Christian man is seldom long at ease. ... ‘Boast not thyself of to-morrow,’ saith the wise man; and he might have added, ‘Boast not thyself of to-day, for thou knowest not how the evening may close, however brightly the morning may have opened.’” [= Demikianlah ketenangan kita yang paling menyenangkan bisa digantikan oleh badai yang sangat hebat. Seorang Kristen jarang mengalami kesenangan / ketenteraman untuk waktu yang lama. ... ‘Janganlah memuji / membanggakan diri karena / tentang esok hari’ (Amsal 27:1), kata orang yang bijaksana; dan ia sebetulnya bisa menambahkan, ‘Jangan membanggakan diri tentang hari ini, karena engkau tidak tahu bagaimana sore / malam akan berakhir, bagaimanapun cerahnya pagi itu dimulai’.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 3, hal 263,264.

 

Amsal 27:1 - “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.”.

 

Bdk. Yak 4:13-16 - “(13) Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, (14) sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (15) Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’ (16) Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.”.

 

Apakah kita akan terkena virus corona? Kita tidak bisa tahu. Karena itu, kita perlu berdoa dan berusaha secara maximal, supaya kita tidak terkena. Bagaimana kalau mendadak kita terkena?? Atau mendadak orang yang kita cintai terkena virus corona ini? Ya sudah, itu kehendak Tuhan. Ikuti saja aturan yang dibuat pemerintah kalau orang terkena virus corona.

 

b)   Banyak penafsir yang menganggap badai ini sebagai pekerjaan / serangan setan, tetapi ada yang tidak setuju dengan pandangan itu. Apakah itu pekerjaan setan atau bukan, tidak terlalu jadi soal, karena kalaupun itu pekerjaan setan, pasti harus ada ijin dari Tuhan bagi setan untuk melakukan hal itu.

 

Penerapan: sekarang ini ada banyak macam hal yang bisa menjadi badai dalam kehidupan kita. Pertama-tama, wabah virus corona itu sendiri, yang bisa menimpa kita atau orang-orang yang kita kasihi. Kedua, masalah ekonomi yang muncul di seluruh dunia karena wabah virus corona ini. Itu bisa saja menimpa saudara, karena pekerjaan / bisnis saudara terkena secara langsung. Atau perusahaan tempat saudara bekerja gulung tikar dan saudara dipecat. Ketiga, masalah rohani / gereja bisa timbul karena larangan beribadah. Bahkan kebaktian online ini saya tidak tahu apakah bisa berjalan terus. Keempat, bisa muncul huru hara masal dan kekacauan politik, khususnya di negara kita, dimana problem wabah virus corona bercampur dengan politik, problem SARA dan sebagainya. Kelima, tidak bisanya kita keluar rumah secara sembarangan, pasti bisa menimbulkan gangguan kesehatan, karena sukar untuk berolah raga, stress karena harus di rumah terus, dan sebagainya. Keenam, penjahat / tindakan kejahatan pasti akan menjadi makin banyak. Ketujuh, hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan wabah virus corona tetap bisa menjadi badai dalam kehidupan kita, misalnya penyakit demam berdarah yang sekarang mewabah lagi, banjir dan sebagainya.

 

3)   Ada badai, tetapi Yesusnya sedang tidur.

Thema khotbah ini adalah “Bersama Yesus dalam badai”.

 

Saudara mau menekankan ‘badai’nya, atau ‘bersama Yesus’nya??

Dalam wabah virus corona ini saudara mau menekankan ‘wabah’ itu, atau fakta bahwa sebagai anak Allah ‘Yesus ada bersama saudara’?

 

Dan pada waktu melihat Yesusnya, saudara menekankan ‘Yesus ada bersama para murid’, atau ‘Yesus tidur’??

 

Kita selalu harus memilih, mau menyoroti segala sesuatu itu secara negatif atau secara positif!

 

Kalau Yesus bisa tidur pada waktu Dia dan para murid terkena badai, maka seandainya saudara terkena virus corona, jangan terlalu heran kalau saudara melihat ‘Yesus tidur’!

 

The Biblical Illustrator (tentang Mark 4:35): Let every disciple remember that a sleeping Christ is not a dead Christ.[= Hendaklah setiap murid mengingat bahwa seorang Kristus yang tertidur bukanlah seorang Kristus yang mati.].

 

The Biblical Illustrator (tentang Mark 4:35-dst): And still Christ seems asleep. It seems as if He must be either ignorant or indifferent, and you do not know which of the two conclusions is sadder to come to. Murmur not. Others have been in storms, and thought the Saviour listless; but He is never beyond the call of faith.[= Dan Kristus kelihatannya tetap tidur. Kelihatannya seakan-akan Ia pasti tidak tahu atau tidak peduli, dan kamu tidak tahu yang mana dari dua kesimpulan itu yang lebih menyedihkan untuk terjadi. Jangan bersungut-sungut. Orang-orang lain telah berada dalam badai-badai, dan berpikir bahwa sang Juruselamat tidak mempunyai kekuatan; tetapi Ia tidak pernah melampaui / lebih jauh dari panggilan dari iman.].

 

Matthew Henry (tentang Mark 4:38): 7. Christ was asleep in this storm; and here we are told that it was ‘in the hinder part of the ship,’ the pilot’s place: he lay at the helm, to intimate that, as Mr. George Herbert expresses it, ‘When winds and waves assault my keel, He doth preserve it, he doth steer, Ev’n when the boat seems most to reel. Storms are the triumph of his art; Though he may close his eyes, yet not his heart.’[= 7. Kristus tidur dalam badai ini; dan di sini kami diberitahu bahwa itu adalah ‘di buritan kapal / perahu’, tempat pengemudi: Ia berbaring pada posisi kendali, untuk menunjukkan bahwa, seperti Tuan George Herbert menyatakannya, ‘pada waktu angin dan ombak menyerang bagian utama dari kapal / perahuku, Ia menjaganya, Ia mengemudikannya, Bahkan pada waktu perahu itu kelihatan paling diombang-ambingkan. Badai-badai adalah kemenangan dari keahlianNya; Sekalipun ia mungkin /  bisa menutup mataNya, tetapi tidak hatiNya’.].

 

Mark 4:37-38a - “(37) Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. (38a) Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam.”.

 

Catatan: Saya agak meragukan tafsiran Matthew Henry di atas, pada bagian awalnya, dimana ia menekankan tempat dimana Yesus tidur, yaitu di buritan, dekat dengan kemudi dari perahu. Karena Yesus tidak pernah menggunakan kemudi itu. Jadi, tak jadi soal di bagian mana dari perahu Ia tidur, dengan kemaha-kuasaanNya, Ia dengan mudah bisa menghentikan badai itu.

 

Matthew Henry (tentang Mark 4:37): Sometimes when the church is in a storm, Christ seems as if he were asleep, unconcerned in the troubles of his people, and regardless of their prayers, and doth not presently appear for their relief. [= Kadang-kadang pada waktu gereja berada dalam badai, Kristus kelihatan seakan-akan Ia tidur, tak peduli pada kesukaran-kesukaran dari umatNya, dan tak memperhatikan doa-doa mereka, dan untuk sementara waktu tidak muncul untuk menolong mereka.].

 

Lalu Matthew Henry memberi beberapa ayat.

 

Yes 45:15 - “Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat.”.

 

Hab 2:3 - “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.”.

 

Maz 121:2-4 - “(2) Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. (3) Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. (4) Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel..

 

Kidung 5:2a - Aku tidur, tetapi hatiku bangun.”.

 

Pulpit Commentary (tentang Mark 4:38): “But while he slept as man, he was watchful as God. ‘Behold, he that keepeth Israel neither slumbers nor sleeps.’” [= Tetapi pada waktu Ia tidur sebagai manusia, Ia sedang berjaga-jaga sebagai Allah. ‘Lihatlah, Ia yang menjaga Israel tidak terlelap atau tertidur’.].

 

4)   Ini semua merupakan ujian terhadap iman dari para murid.

 

Matthew Henry (tentang Mat 8:24): Jesus Christ was asleep in this storm. We never read of Christ’s sleeping but at this time; ... He slept at this time, to try the faith of his disciples, whether they could trust him when he seemed to slight them. He slept not so much with a desire to be refreshed, as with a design to be awaked.[= Yesus Kristus sedang tidur dalam badai ini. Kita tidak pernah membaca tentang tidurnya Kristus kecuali pada saat ini; ... Ia tidur pada saat ini untuk menguji iman dari murid-muridNya, apakah mereka bisa percaya kepadaNya pada waktu Ia kelihatannya meremehkan mereka. Ia tidur bukan dengan suatu keinginan yang begitu besar untuk disegarkan, seperti dengan suatu rancangan untuk dibangunkan.].

 

Calvin: “it is certain that the storm which agitated the lake was not accidental: for how would God have permitted his Son to be driven about at random by the violence of the waves? But on this occasion he intended to make known to the apostles how weak and inconsiderable their faith still was. Though Christ’s sleep was natural, yet it served the additional purpose of making the disciples better acquainted with their weakness. I will not say, as many do, that Christ pretended (to?) sleep, in order to try them. On the contrary, I think that he was asleep in such a manner as the condition and necessity of human nature required.” [= adalah pasti bahwa badai yang menggoncangkan danau bukanlah kebetulan: karena bagaimana Allah bisa mengijinkan AnakNya didorong kesana kemari dengan sembarangan oleh kehebatan gelombang-gelombang? Tetapi pada peristiwa ini Ia bermaksud untuk menyatakan kepada rasul-rasul betapa lemah dan tidak berartinya iman mereka. Sekalipun tidurnya Kristus merupakan sesuatu yang alamiah, tetapi itu mempunyai tujuan tambahan untuk membuat murid-murid mengetahui kelemahan mereka dengan lebih baik. Saya tidak akan mengatakan, seperti yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa Kristus berpura-pura untuk tidur, untuk menguji mereka. Sebaliknya, saya berpikir bahwa Ia tidur dengan cara sedemikian rupa seperti yang dibutuhkan oleh kondisi dan kebutuhan manusia.] - hal 423-424.

 

Calvin: “Let us therefore conclude, that all this was arranged by the secret providence of God, - that Christ was asleep, that a violent tempest arose, and that the waves covered the ship, which was in imminent danger of perishing. And let us learn hence that, whenever any adverse occurrence takes place, the Lord tries our faith.” [= Karena itu hendaknya kita menyimpulkan, bahwa semua ini diatur oleh providensia rahasia dari Allah, - supaya Kristus tidur, supaya suatu badai yang hebat muncul, dan supaya gelombang-gelombang melingkupi perahu, yang ada dalam bahaya dari kehancuran. Dan hendaknya kita belajar bahwa kapanpun terjadi peristiwa apapun yang merugikan / bersifat bermusuhan, Tuhan menguji iman kita.] - hal 424.

 

Jadi badai itu muncul dan Kristus tidur, untuk menguji mereka. Dan setelah terbukti mereka gagal dalam ujian itu karena mereka menjadi sangat takut / panik, maka setelah itu mereka bisa melihat betapa lemahnya iman mereka.

 

The Bible Exposition Commentary (tentang Mark 4:35-41): He had been teaching His disciples the Word and now He would give them a practical test to see how much they had really learned. After all, the hearing of God’s Word is intended to produce faith (Rom 10:17); and faith must always be tested. It is not enough for us merely to learn a lesson or be able to repeat a teaching. We must also be able to practice that lesson by faith, and that is one reason why God permits trials to come to our lives.[= Ia telah mengajar firman kepada para muridNya sampai saat ini, dan sekarang Ia memberi mereka suatu ujian yang pratis untuk melihat berapa banyak mereka telah sungguh-sungguh belajar. Bagaimanapun, pendengaran firman Allah dimaksudkan untuk menghasilkan iman (Ro 10:17); dan iman selalu harus diuji. Tidak cukup bagi kita untuk semata-mata mempelajari suatu pelajaran atau mampu untuk mengucapkan suatu pelajaran dari ingatan / hafalan. Kita juga harus bisa untuk mempraktekkan pelajaran itu dengan iman, dan itu adalah salah satu alasan mengapa Allah menginjinkan ujian-ujian untuk datang pada kehidupan kita.].

 

Ro 10:17 - Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus..

 

The Bible Exposition Commentary (tentang Mark 4:35-41): Did Jesus know that the storm was coming? Of course He did! The storm was a part of that day’s curriculum. It would help the disciples understand a lesson that they did not even know they needed to learn: Jesus can be trusted in the storms of life. Many people have the idea that storms come to their lives only when they have disobeyed God, but this is not always the case. Jonah ended up in a storm because of his disobedience, but the disciples got into a storm because of their obedience to the Lord. [= Apakah Yesus tahu bahwa badai itu sedang mendatang? Tentu Ia tahu! Badai itu adalah suatu bagian dari kurikulum hari itu. Itu menolong murid-murid untuk mengerti suatu pelajaran yang mereka bahkan tidak tahu kalau mereka butuh untuk mempelajarinya. Banyak orang mempunyai pandangan bahwa badai-badai datang pada kehidupan mereka hanya pada waktu mereka telah tidak mentaati Allah, tetapi faktanya tidak selalu seperti itu. Yunus berakhir dalam suatu badai karena ketidak-taatannya, tetapi murid-murid masuk ke dalam badai karena ketaatan mereka kepada Tuhan.].

 

 

 

-AMIN-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

[email protected]

http://golgothaministry.org

Email : [email protected]