Pemahaman Alkitab

 

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tgl 12 Januari 2020, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Ayub (9)

 

Ayub 5:1-27(1)

 

Ayub 5:1-27 - “(1) Berserulah - adakah orang yang menjawab engkau? Dan kepada siapa di antara orang-orang yang kudus engkau akan berpaling? (2) Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati. (3) Aku sendiri pernah melihat orang bodoh berakar, tetapi serta-merta kukutuki tempat kediamannya. (4) Anak-anaknya selalu tidak tertolong, mereka diinjak-injak di pintu gerbang tanpa ada orang yang melepaskannya. (5) Apa yang dituainya, dimakan habis oleh orang yang lapar, bahkan dirampas dari tengah-tengah duri, dan orang-orang yang dahaga mengingini kekayaannya. (6) Karena bukan dari debu terbit bencana dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan; (7) melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi. (8) Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku. (9) Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya; (10) Ia memberi hujan ke atas muka bumi dan menjatuhkan air ke atas ladang; (11) Ia menempatkan orang yang hina pada derajat yang tinggi dan orang yang berdukacita mendapat pertolongan yang kuat; (12) Ia menggagalkan rancangan orang cerdik, sehingga usaha tangan mereka tidak berhasil; (13) Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri, sehingga rancangan orang yang belat-belit digagalkan. (14) Pada siang hari mereka tertimpa gelap, dan pada tengah hari mereka meraba-raba seperti pada waktu malam. (15) Tetapi Ia menyelamatkan orang-orang miskin dari kedahsyatan mulut mereka, dan dari tangan orang yang kuat. (16) Demikianlah ada harapan bagi orang kecil, dan kecurangan tutup mulut. (17) Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. (18) Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tanganNya menyembuhkan pula. (19) Dari enam macam kesesakan engkau diluputkanNya dan dalam tujuh macam engkau tidak kena malapetaka. (20) Pada masa kelaparan engkau dibebaskanNya dari maut, dan pada masa perang dari kuasa pedang. (21) Dari cemeti lidah engkau terlindung, dan engkau tidak usah takut, bila kemusnahan datang. (22) Kemusnahan dan kelaparan akan kautertawakan dan binatang liar tidak akan kautakuti. (23) Karena antara engkau dan batu-batu di padang akan ada perjanjian, dan binatang liar akan berdamai dengan engkau. (24) Engkau akan mengalami, bahwa kemahmu aman dan apabila engkau memeriksa tempat kediamanmu, engkau tidak akan kehilangan apa-apa. (25) Engkau akan mengalami, bahwa keturunanmu menjadi banyak dan bahwa anak cucumu seperti rumput di tanah. (26) Dalam usia tinggi engkau akan turun ke dalam kubur, seperti berkas gandum dibawa masuk pada waktunya. (27) Sesungguhnya, semuanya itu telah kami selidiki, memang demikianlah adanya; dengarkanlah dan camkanlah itu!’”.

 

Ingat bahwa Ayub 5 merupakan sambungan dari Ayub 4, dan tetap merupakan kata-kata Elifas.

 

Ay 1: “Berserulah - adakah orang yang menjawab engkau? Dan kepada siapa di antara orang-orang yang kudus engkau akan berpaling?”.

 

1)         “Berserulah - adakah orang yang menjawab engkau?”.

KJV: ‘Call now, if there be any that will answer thee’ [= Panggillah sekarang, jika ada siapapun yang akan menjawabmu].

Catatan: ‘to answer’ bisa diartikan ‘menjawab’, tetapi juga bisa diartikan ‘setuju / cocok dengan’.

 

Matthew Henry mengambil arti ke 2 ini dan mengartikan kata-kata Elifas dalam ay 1a ini sebagai berikut:

 

a)   Tidak ada satupun orang kudus yang menderita seperti engkau. Karena itu, engkau pasti bukan orang kudus. Arti ini pasti salah.

 

b)   Tidak ada orang kudus yang pada saat menderita mengatakan seperti yang engkau katakan (mengutuki hari kelahiran dsb). Arti ini, sekalipun mungkin benar, menurut saya tidak diucapkan pada saat yang tepat. Pada saat seperti itu Ayub membutuhkan penghiburan, bukan celaan.

 

Penerapan: kata-kata yang benar sekalipun, harus diucapkan pada waktu yang tepat. Kalau diucapkan pada waktu yang salah, bisa menghasilkan sesuatu yang buruk.

 

Amsal 15:23 - “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!”.

 

Amsal 25:11 - “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.”.

 

Saya berpendapat bahwa seluruh penafsiran Matthew Henry ini salah, karena membuat ay 1b tidak lagi sesuai / paralel dengan ay 1a. Jadi, arti yang harus diambil adalah ‘menjawab’ bukan ‘setuju / cocok dengan’.

 

2)   “Dan kepada siapa di antara orang-orang yang kudus engkau akan berpaling?”.

 

a)   Matthew Henry mengatakan bahwa dari sini terlihat bahwa dalam Perjanjian Lamapun orang-orang percaya juga disebut sebagai ‘orang-orang kudus’.

 

b)   Matthew Henry juga mengatakan bahwa kata-kata ini secara implicit menunjukkan bahwa pada saat seseorang kudus menderita, ia harus datang juga kepada orang kudus, bukan kepada seseorang yang bukan orang kudus.

 

3)   Adam Clarke menafsirkan bahwa seluruh ay 1 ini artinya adalah: Tak peduli kepada siapa engkau meminta tolong, siapa yang bisa menolong engkau dari problemmu? Jelas tidak ada!

Kalau yang dimaksud dengan ‘siapapun’ itu adalah makhluk-makhluk lain selain Allah, maka ia mungkin benar. Tetapi jelas bahwa kata ‘siapapun’ tidak bisa ditafsirkan mencakup Allah sendiri! Jadi, dalam penderitaan yang bagaimanapun beratnya, sekalipun tidak ada siapapun yang bisa menolong, Allah tetap bisa menolong. Tetapi Allah menolong pada waktuNya, dan dengan caraNya sendiri. Bisa saja, karena pertimbanganNya yang sering tidak bisa kita mengerti (bdk. Yes 55:8-9), Ia menunda pertolongan tersebut, dan menolong menggunakan cara yang sangat berbeda dengan yang kita inginkan.

 

Yes 55:8-9 - “(8) Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. (9) Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu.”.

Catatan: semua Alkitab bahasa Inggris menterjemahkan ‘rancangan’ dengan kata ‘thoughts’ [= pemikiran-pemikiran].

 

4)   Francis I. Andersen (Tyndale, hal 116,117) mengatakan bahwa penekanan dari ay 1 ini adalah: kalaupun Ayub ingin mencari seorang pengantara untuk menghubungkan dia dengan Allah, itu tidak akan ada gunanya. Kalau Allahnya tidak berkenan kepada Ayub, maka tidak ada gunanya mencari pengantara. Tidak ada pengantara yang bisa melakukan negosiasi dengan Allah kalau Allahnya memang tidak berkenan kepada Ayub.

Bandingkan ini dengan ajaran dari Gereja Roma Katolik yang menganggap bahwa kalau Allah / Yesus tidak mau menjawab doa seseorang, maka orang itu bisa mencari pengantaraan Maria!

 

Ay 2: “Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.”.

KJV: ‘For wrath killeth the foolish man, and envy slayeth the silly one’ [= Karena murka membunuh orang bodoh, dan iri hati membantai orang tolol].

 

1)   Kata-kata ‘orang bodoh’ dan ‘orang bebal’ jelas menunjuk kepada orang-orang yang jahat.

 

2)   Kata-kata ‘wrath’ / ‘sakit hati’ dan ‘envy’ / ‘iri hati’ ditafsirkan secara berbeda:

 

a)   Albert Barnes menganggap ini merupakan murka dan iri hati (atau ‘kecemburuan’) dari Allah.

 

b)   Jamieson, Fausset & Brown mengatakan ini adalah perasaan-perasaan yang salah dari orang jahat itu sendiri. Jadi, kata-kata ‘sakit hati’ / ‘murka’ dan ‘iri hati’ menunjuk pada perasaan-perasaan yang salah dalam diri Ayub pada waktu ia mengalami bencana ini. Dan dalam hal ini jelas Elifas mencakup Ayub dalam kelompok ‘orang bodoh’ / ‘orang bebal’ itu. Semua perasaan-perasaan salah itu hanya akan membunuh Ayub sendiri.

 

Saya lebih setuju dengan pandangan dari Jamieson, Fausset & Brown. Dan memang, pada saat menderita, perasaan-perasaan yang salah sangat merugikan diri kita sendiri. Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

1.   Amsal 14:30 - “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.”.

2.   Amsal 24:10 - “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”.

 

Ay 3-5: “(3) Aku sendiri pernah melihat orang bodoh berakar, tetapi serta-merta kukutuki tempat kediamannya. (4) Anak-anaknya selalu tidak tertolong, mereka diinjak-injak di pintu gerbang tanpa ada orang yang melepaskannya. (5) Apa yang dituainya, dimakan habis oleh orang yang lapar, bahkan dirampas dari tengah-tengah duri, dan orang-orang yang dahaga mengingini kekayaannya.”.

 

Dari ay 3-5 ini terlihat bahwa Elifas juga berpendapat bahwa orang-orang jahat itu bisa sukses, tetapi hanya sebentar. Dan setelah itu datanglah bencana baginya. Ini memang benar, dan didukung oleh beberapa ayat dalam Kitab Suci, seperti:

1.   Yer 12:1-2 - “(1) Engkau memang benar, ya TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! Tetapi aku mau berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia? (2) Engkau membuat mereka tumbuh, dan merekapun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga. Memang selalu Engkau di mulut mereka, tetapi jauh dari hati mereka.”.

2.   Maz 37:35-36 - “(35) Aku melihat seorang fasik yang gagah sombong, yang tumbuh mekar seperti pohon aras Libanon; (36) ketika aku lewat, lenyaplah ia, aku mencarinya, tetapi tidak ditemui.”.

3.   Maz 73:17-18 - “(17) sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka. (18) Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.”.

Catatan: kalau mau lebih jelas, baca Maz 73 ini dari awal.

 

Karena itu, kalau pada waktu yang lalu Ayub hidup enak / sukses, itu tidak menunjukkan bahwa ia adalah orang beriman / saleh. Sekarang bencana yang hebat datang, dan itu menunjukkan bahwa ia bukan orang saleh.

Kata-kata dalam ay 4 dianggap oleh para penafsir sebagai menunjuk kepada anak-anak Ayub, karena semua anak-anak Ayub mati (Ayub 1:18-19). Francis I. Andersen mengatakan (hal 118) bahwa kata-kata ‘pintu gerbang’ dalam ay 4 bisa dibaca ‘tempest’ [= angin badai]. Ingat bahwa bahasa Ibrani ditulis tanpa huruf hidup, sehingga bunyi huruf hidupnya harus ‘ditebak’. Pemberian huruf hidup yang berbeda bisa menghasilkan arti yang sangat berbeda. Kalau kata-kata Andersen ini benar, maka lebih jelas lagi bahwa pembicaraan ini mengarah pada kematian anak-anak Ayub dalam Ayub 1:18-19. Dan kalau ini benar, ini lagi-lagi merupakan suatu kritikan yang sangat kejam!

 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1)   Perlu diingat juga bahwa ‘sukses yang hanya sebentar’ itu bisa berlangsung seumur hidup mereka. Bandingkan dengan orang kaya dalam cerita Lazarus dan orang kaya, dan juga dengan cerita tentang orang kaya yang bodoh.

2)   Elifas tidak menyatakan kebalikannya. Kalau orang jahat bisa sukses untuk sementara, seharusnya ini diimbangi dengan pandangan bahwa orang benar bisa menderita untuk sementara.

Catatan: juga di sini ‘sebentar’ itu bisa berlangsung seumur hidup.

Kalau saja ia mempunyai pandangan seperti ini, maka ia bisa menganggap Ayub sebagai orang benar sekalipun ia saat itu sedang mengalami penderitaan yang hebat.

Jadi, sekalipun Elifas mengatakan hal yang benar, atau sekalipun ada kebenaran dalam kata-kata Elifas, tetapi kebenarannya kurang lengkap, dan ia menerapkannya secara salah.

 

Ay 5: “Apa yang dituainya, dimakan habis oleh orang yang lapar, bahkan dirampas dari tengah-tengah duri, dan orang-orang yang dahaga mengingini kekayaannya.”.

 

1)   Jamieson, Fausset & Brown menafsirkan kata-kata ‘dari tengah-tengah duri’ menunjuk pada gandum yang tumbuh di tengah-tengah semak duri (bdk. Mat 13:7). Dan ada penafsir lain yang menganggap duri itu merupakan semacam pagar untuk ladang gandum. Jadi, bagian yang seperti inipun tidak luput dari perampokan oleh orang-orang yang lapar.

 

2)   Bagian yang saya garis bawahi dari ay 5 di atas, diterjemahkan secara berbeda oleh KJV.

KJV: ‘the robber swalloweth up their substance’ [= perampok menelan kekayaannya / hartanya].

Catatan: NIV menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia.

Kelihatannya kata Ibraninya memang memungkinkan 2 pembacaan, seperti KJV atau seperti LAI / NIV.

Kebanyakan penafsir setuju dengan terjemahan LAI / NIV karena ‘orang-orang yang dahaga’ dalam ay 5b sesuai dengan ‘orang yang lapar’ dalam ay 5a.

 

3)   Kata-kata dalam ay 5 ini lagi-lagi merupakan kata-kata yang secara jelas menyerang Ayub, karena harta Ayub semua habis dirampok (Ayub 1:13-17).

 

Ay 6-7: “(6) Karena bukan dari debu terbit bencana dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan; (7) melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi.”.

 

1)   Bagian yang saya garis-bawahi oleh KJV diterjemahkan agak berbeda.

KJV: ‘Yet man is born unto trouble’ [= Tetapi manusia dilahirkan pada / bagi kesukaran].

Semua Alkitab bahasa Inggris menterjemahkan seperti KJV.

 

2)         Arti bagian ini.

Ay 6 menunjukkan bahwa penderitaan-penderitaan tidak terjadi secara kebetulan. Penderitaan bukan seperti semak duri / tumbuhan yang muncul dari bumi / tanah yang tidak mempunyai kesadaran. Penderitaan mempunyai penyebab, dan ada di bawah pengarahan dari Allah.

Dan dalam ay 7 Elifas mengatakan bahwa manusia memang dilahirkan untuk hal ini, dan karena itu hal ini tidak bisa dihindarkan.

Tujuan Elifas mengatakan ini adalah untuk mengarahkan Ayub kepada Allah yang melakukan semua ini (bdk. ay 8-dst).

 

Ay 8: “Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku.”.

 

Dengan kata-kata ini Elifas memaksudkan: seandainya aku menjadi engkau, aku pasti akan mencari Allah / berdoa kepada Allah. Di sini juga tersirat suatu teguran kepada Ayub, yang ia anggap bukannya mencari Allah / berdoa kepada Allah, tetapi marah kepada Allah.

Sekalipun kata-kata ini benar, tetapi juga mengandung kesombongan tertentu, dan kata-kata yang tersirat itu mengandung penghakiman yang tidak pada tempatnya.

 

Matthew Henry: “It is easy to say what we would do if we were in such a one’s case; but when it comes to the trial, perhaps it will be found not so easy to do as we say.” [= Adalah mudah untuk mengatakan apa yang akan kita lakukan seandainya kita ada dalam kasus dari orang lain; tetapi pada waktu sampai pada ujian, mungkin akan kita dapatkan bahwa tidak terlalu mudah untuk melakukan seperti yang kita katakan.].

 

Penerapan: jangan terlalu mudah mengecam seseorang yang jatuh ke dalam dosa pada saat mengalami penderitaan yang hebat, atau seseorang yang menghadapi penderitaan yang hebat dengan cara yang salah. Mengetahui cara yang benar dalam menghadapi penderitaan yang hebat, sangat berbeda dengan mampu melaksanakannya pada waktu kita betul-betul mengalami penderitaan yang hebat itu.

 

Lalu mulai ay 9-15 Elifas menjelaskan bagaimana Allah itu, atau apa yang dilakukan oleh Allah.

 

Ay 9-10: “(9) Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya; (10) Ia memberi hujan ke atas muka bumi dan menjatuhkan air ke atas ladang;”.

 

1)   Kata-kata ‘yang tak terduga’ dalam KJV diterjemahkan ‘unsearchable’ [= tak terselidiki].

Maksud dari kata-kata ini adalah bahwa Allah melakukan banyak hal-hal yang besar dan tak terduga / tak bisa diselidiki / tak bisa dimengerti oleh manusia. Kata-kata Elifas di sini memang benar.

 

Bdk. Ro 11:33-35 - “(33) O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya! (34) Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihatNya? (35) Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepadaNya, sehingga Ia harus menggantikannya?”.

 

2)   Sebetulnya, kalau Elifas memang menganggap bahwa Allah sering melakukan perbuatan yang tak terduga / tak dapat dimengerti, seharusnya ia tahu bahwa adalah mungkin bagi Allah untuk mengijinkan orang benar / anakNya menderita, bahkan sangat menderita.

 

Kalau ay 9 dihubungkan dengan ay 10nya (yang jelas menunjuk pada hal-hal yang baik bagi kita / berkat bagi kita), maka mungkin Elifas mengartikan hal-hal besar / tak terduga itu sebagai hal-hal yang baik bagi kita.

 

Kalau ini benar, maka jelas bahwa pengertian Elifas salah. Hal tak terduga yang dilakukan oleh Allah itu bukan hanya dalam arti yang baik dalam pandangan kita, tetapi juga dalam arti yang buruk dalam pandangan kita. Ini yang membuat hidup mengikut Tuhan itu menjadi sukar, dan seringkali sangat membingungkan.

 

Ay 11-16: “(11) Ia menempatkan orang yang hina pada derajat yang tinggi dan orang yang berdukacita mendapat pertolongan yang kuat; (12) Ia menggagalkan rancangan orang cerdik, sehingga usaha tangan mereka tidak berhasil; (13) Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri, sehingga rancangan orang yang belat-belit digagalkan. (14) Pada siang hari mereka tertimpa gelap, dan pada tengah hari mereka meraba-raba seperti pada waktu malam. (15) Tetapi Ia menyelamatkan orang-orang miskin dari kedahsyatan mulut mereka, dan dari tangan orang yang kuat. (16) Demikianlah ada harapan bagi orang kecil, dan kecurangan tutup mulut.”.

 

1)   Pasti yang dimaksud dengan ‘orang yang hina’ (ay 11) dan ‘orang yang berdukacita’ (ay 11) dan juga ‘orang-orang miskin’ (ay 15) dan ‘orang kecil’ (ay 16) adalah orang-orang yang benar / anak-anak Allah.

 

Kalau Theologia Kemakmuran itu memang benar, maka merupakan sesuatu yang sangat aneh bahwa Kitab Suci menggunakan istilah-istilah seperti ini untuk menggambarkan anak-anak Allah!

 

Orang-orang yang seperti ini akan ditolong oleh Allah.

Bdk. Maz 12:6 - “Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang lemah, oleh karena keluhan orang-orang miskin, sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya.”.

 

2)   Sebaliknya, yang ia maksudkan dengan ‘orang cerdik’ (ay 12), ‘orang berhikmat’ (ay 13), ‘orang yang belat-belit’ (ay 13), dan ‘orang yang kuat’ (ay 15) pasti adalah orang-orang jahat / tak beriman.

 

Kata-kata ‘cerdik’ dan ‘berhikmat’ harus diartikan dalam arti negatif, yaitu ‘licik’.

 

Kata-kata ‘belat-belit’ kelihatannya merupakan terjemahan yang salah.

KJV: ‘the froward’ [= orang yang keras kepala / tegar tengkuk].

NIV: ‘wily’ [= cerdik, lihai].

 

Kata-kata ‘dari kedahsyatan mulut mereka, dan dari tangan orang yang kuat’ dalam ay 15 menunjukkan bahwa orang-orang jahat itu menyerang bukan hanya dengan tangan / kekuatan mereka, tetapi juga dengan mulut / lidah mereka (dalam bentuk tipu daya, dusta, fitnah, dsb).

 

Orang-orang yang seperti ini akan dihancurkan oleh Allah.

 

Matthew Henry: “There is a supreme power that manages and overrules men who think themselves free and absolute, and fulfils its own purposes in spite of their projects. ... The froward, that walk contrary to God and the interests of his kingdom, are often very crafty; for they are the seed of the old serpent that was noted for his subtlety. They think themselves wise, but, at the end, will be fools.” [= Ada suatu kuasa yang tertinggi yang mengatur dan melindas / mengesampingkan orang-orang yang mengira diri mereka bebas dan mutlak, dan menggenapi tujuan / rencananya sendiri sekalipun orang-orang itu mempunyai rencana mereka sendiri. ... Orang yang keras kepala, yang berjalan / hidup bertentangan dengan Allah dan kepentingan-kepentingan dari kerajaanNya, seringkali sangat ahli / cerdik; karena mereka adalah benih dari ular tua yang terkenal karena kelicikannya. Mereka mengira diri mereka sendiri bijaksana, tetapi pada akhirnya, akan menjadi orang-orang bodoh / tolol.].

 

Matthew Henry lalu memberi contoh tentang orang-orang cerdik / licik seperti itu, yaitu Ahitofel, Sanbalat, dan Haman. Juga negara-negara / bangsa-bangsa yang berkomplot melawan Israel dalam jaman Perjanjian Lama. Mereka mula-mula kelihatannya menang, tetapi pada akhirnya dihancurkan.

 

Matthew Henry: “That which enemies have designed for the ruin of the church has often turned to their own ruin (v. 13): He takes the wise in their own craftiness, and snares them in the work of their own hands, Ps. 7:15-16; 9:15-16. This is quoted by the apostle (1 Cor. 3:19) to show how the learned men of the heathen were befooled by their own vain philosophy.” [= Apa yang direncanakan oleh musuh-musuh bagi kehancuran gereja sering telah berbalik bagi kehancuran mereka sendiri (ay 13): Ia menangkap orang-orang berhikmat dalam kecerdikannya, dan menjerat mereka dalam pekerjaan tangan mereka sendiri, Maz 7:16-17; 9:16-17. Ini dikutip oleh sang rasul (1Kor 3:19) untuk menunjukkan bagaimana orang-orang kafir yang terpelajar ditipu oleh filsafat sia-sia mereka sendiri.].

 

Maz 7:16-17 - “(16) Ia membuat lobang dan menggalinya, tetapi ia sendiri jatuh ke dalam pelubang yang dibuatnya. (17) Kelaliman yang dilakukannya kembali menimpa kepalanya, dan kekerasannya turun menimpa batu kepalanya.”.

 

Maz 9:16-17 - “(16) Bangsa-bangsa terbenam dalam pelubang yang dibuatnya, kakinya tertangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri. (17) TUHAN telah memperkenalkan diriNya, Ia menjalankan penghakiman; orang fasik terjerat dalam perbuatan tangannya sendiri. Higayon. Sela”.

 

1Kor 3:19 - “Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: ‘Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.’”.

 

3)   Ay 14 menunjukkan penghakiman Allah yang menyebabkan orang-orang jahat itu kebingungan / terhilang, bahkan dalam hal yang mudah dan jelas.

 

Ay 14: “Pada siang hari mereka tertimpa gelap, dan pada tengah hari mereka meraba-raba seperti pada waktu malam.”.

 

Jamieson, Fausset & Brown: “Judicial blindness often is sent upon keen men of the world” [= Kebutaan yang merupakan penghukuman sering dikirimkan kepada orang-orang yang hebat / tajam dari dunia ini].

 

Jamieson, Fausset & Brown lalu memberikan beberapa ayat di bawah ini:

a)   Ul 28:28-29 - “(28) TUHAN akan menghajar engkau dengan kegilaan, kebutaan dan kehilangan akal, (29) sehingga engkau meraba-raba pada waktu tengah hari, seperti seorang buta meraba-raba di dalam gelap; perjalananmu tidak akan beruntung, tetapi engkau selalu diperas dan dirampasi, dengan tidak ada seorang yang datang menolong.”.

b)   Yes 59:10 - “Kami meraba-raba dinding seperti orang buta, dan meraba-raba seolah-olah tidak punya mata; kami tersandung di waktu tengah hari seperti di waktu senja, duduk di tempat gelap seperti orang mati.”.

c)   Yoh 9:39 - “Kata Yesus: ‘Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.’”.

 

4)         Kata-kata yang benar, tetapi diterapkan secara salah.

Jamieson, Fausset & Brown: “Paul (1 Cor. 3:19) quoted this clause with the formula establishing its inspiration, ‘It is written.’” [= Paulus (1Kor 3:19) mengutip anak kalimat ini dengan formula yang meneguhkan pengilhamannya ‘Ada tertulis’.].

 

Bahwa kata-kata itu dikutip oleh Paulus dengan embel-embel ‘ada tertulis’, jelas menunjukkan bahwa kata-kata Elifas ini benar. Tetapi ia menerapkannya secara salah. Ayub yang seharusnya termasuk golongan 1, dianggap termasuk golongan 2. Ini menyebabkan, secara keseluruhan ‘khotbah’nya menjadi kacau!

 

5)   Dari ay 11-16 dimana Elifas menunjukkan bahwa Allah berpihak pada orang yang lemah / benar, tetapi menentang orang jahat, maka lagi-lagi kita melihat bahwa tujuan dari semua penggambarannya tentang Allah ini adalah untuk menghakimi Ayub. Bahwa Ayub mengalami penderitaan seperti itu menunjukkan bahwa Allah menentang dia, dan itu berarti dia termasuk orang jahat.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali