PEMAHAMAN ALKITAB

PERSEKUTUAN ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

Rabu, tgl 23 Januari  2008, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

Ayub 4:1-6

 

Ayub 4:1-6 - “(1) Maka berbicaralah Elifas, orang Teman: (2) ‘Kesalkah engkau, bila orang mencoba berbicara kepadamu? Tetapi siapakah dapat tetap menutup mulutnya? (3) Sesungguhnya, engkau telah mengajar banyak orang, dan tangan yang lemah telah engkau kuatkan; (4) orang yang jatuh telah dibangunkan oleh kata-katamu, dan lutut yang lemas telah kaukokohkan; (5) tetapi sekarang, dirimu yang tertimpa, dan engkau kesal, dirimu terkena, dan engkau terkejut. (6) Bukankah takutmu akan Allah yang menjadi sandaranmu, dan kesalehan hidupmu menjadi pengharapanmu?”.

 

Ay 1-2: Maka berbicaralah Elifas, orang Teman: (2) ‘Kesalkah engkau, bila orang mencoba berbicara kepadamu? Tetapi siapakah dapat tetap menutup mulutnya?.

 

1) Elifas yang paling tua, tapi tua tak selalu bijaksana.

 

Maz 119:99-100 - “(99) Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan2Mu kurenungkan. (100) Aku lebih mengerti dari pada orang2 tua, sebab aku memegang titah2Mu”.

 

2) Kata-katanya dalam ay 2 merupakan semacam permintaan maaf, karena ia berani bicara.

 

Barnes: Ia mengaku bahwa ia tidak akan berbicara seandainya ia tidak dipaksa oleh pentingnya pokok yang dibicarakan, dan seandainya apa yang akan ia bicarakan itu tidak penuh dengan hal-hal yang penting. Pada umumnya ini merupakan suatu peraturan yang baik untuk diambil: tidak berbicara kecuali ada pandangan yang membebani pikiran, dan keyakinan akan kewajiban yang tidak bisa ditekan.

 

Amsal 29:20 - “Kaulihat orang yang cepat dengan kata-katanya; harapan lebih banyak bagi orang bebal dari pada bagi orang itu”.

 

3) Elifas terdorong untuk bicara dg tujuan menegur / menyalahkan Ayub.

 

a)  Clarke mengatakan: setelah mereka mendengar keluhannya yang pahit, mereka lupa bahwa mereka datang sebagai penghibur, bukan sebagai pengkritik.

 

b) Dalam menegur, motivasi, cara dan saatnya harus benar.

 

1.  Motivasinya tentu haruslah kasih, dan tujuannya harus untuk kemuliaan Tuhan.

 

1Kor 13:1-3 - “(1) Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. (2) Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. (3) Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku”.

 

1Kor 10:31 - “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”.

 

2.  Cara bisa lembut dan bahkan tanpa kata2 (bdk. Luk 22:61), bisa juga keras (Gal 2:11-14).

Juga kadang2 harus secara pribadi (Mat 18:15-17), kadang2 harus di depan umum (1Tim 5:20).

 

Gal 2:11-14 - “(11) Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang2 menentangnya, sebab ia salah. (12) Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara2 yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara2 yang bersunat. (13) Dan orang2 Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. (14) Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: ‘Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara2 yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?’”.

 

Luk 22:61 - Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: ‘Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.’”.

 

Mat 18:15-17 - “(15) ‘Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah 4 mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. (16) Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau 2 orang lagi, supaya atas keterangan 2 atau 3 orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. (17) Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai”.

 

1Tim 5:20 - “Mereka yang berbuat dosa hendaklah kautegor di depan semua orang agar yang lain itupun takut”.

 

3.  Saatnya harus tepat.

 

Pkh 3:7b - “ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara”.

 

Amsal 25:11 - “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak”.

 

Pkh 11:4-6 - “(4) Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai. (5) Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang2 dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu. (6) Taburkanlah benihmu pagi2 hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua2nya sama baik”.

 

Amsal 22:13 - “Si pemalas berkata: ‘Ada singa di luar, aku akan dibunuh di tengah jalan.’”.

 

Amsal 26:13 - “Berkatalah si pemalas: ‘Ada singa di jalan! Ada singa di lorong!’”.

 

Ay 3-4: (3) Sesungguhnya, engkau telah mengajar banyak orang, dan tangan yang lemah telah engkau kuatkan; (4) orang yang jatuh telah dibangunkan oleh kata-katamu, dan lutut yang lemas telah kaukokohkan.

 

1) Ayub dulunya telah menguatkan banyak orang.

 

a)  Tidak mungkin ada kesalehan tanpa pelayanan!

 

b) Ayub adalah orang yang sangat kaya, tetapi ia melakukan pelayanan!

 

2) Elifas mulai dengan akui hal-hal baik yang dilakukan Ayub selama ini.

 

Pulpit: Kesalehan Ayub bukanlah sekedar bersifat intelektual dan emosional, tetapi juga bersifat praktis, bertujuan untuk kebaikan orang-orang lain. ... Dimana pekerjaan iman dan usaha kasih sama sekali tidak ada, harus dicurigai bahwa agama yang asli tidak ada.

 

Yak 1:27 - “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda2 dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia”.

 

Yak 2:15-16 - “(15) Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari2, (16) dan seorang dari antara kamu berkata: ‘Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!’, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?”.

 

1Yoh 3:17-18 - “(17) Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? (18) Anak2ku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran”.

 

Matthew Henry: Kewajiban kita bukan hanya mengangkat tangan kita sendiri yang terkulai, dengan menggairahkan dan mendorong diri kita sendiri dalam jalan kewajiban kita (Ibr 12:12), tetapi kita juga harus menguatkan tangan2 yang lemah dari orang2 lain, kalau ada kesempatan, dan melakukan apa yang kita bisa untuk meneguhkan lutut2 yang goyah, dengan mengatakan kepada mereka yang hatinya takut2, Jadilah kuat, (Yes 35:3-4). ... Suatu perkataan yang baik, yang diucapkan dengan baik dan bijaksana, bisa melakukan lebih banyak kebaikan dari pada yang mungkin kita pikirkan].

 

Ibr 12:12 - “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah”.

 

Yes 35:3-4 - “(3) Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. (4) Katakanlah kepada orang2 yang tawar hati: ‘Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!’”.

 

Pulpit: Perbuatan2 baik yang terpisah2 (hanya kadang2 saja) belum tentu keluar dari hati yang baik; tidak ada bukti yang lebih baik bahwa seseorang adalah orang kudus dari pada kehidupan yang kudus seumur hidup.

 

Ay 5: tetapi sekarang, dirimu yang tertimpa, dan engkau kesal, dirimu terkena, dan engkau terkejut.

 

1) Elifas kelihatannya agak meremehkan penderitaan Ayub.

 

NIV: it strikes you (= itu memukulmu / menabrakmu).

KJV: ‘it toucheth thee’ (= itu menyentuhmu).

RSV/NASB: ‘it touches you’ (= itu menyentuhmu).

 

Matthew Henry: Ia meremehkan penderitaan Ayub: ‘Itu menyentuhmu’. Ini adalah kata yang sama yang telah digunakan oleh Iblis sendiri, Ayub 1:11, 2:5. Seandainya Elifas merasakan ½ dari penderitaan Ayub, ia akan mengatakan ‘itu memukulku, itu melukaiku’; tetapi berbicara tentang penderitaan Ayub, ia meremehkannya: ‘Itu menyentuhmu dan engkau tidak bisa tahan untuk disentuh’.

 

Catatan: kata ‘jamahlah’ dalam Ayub 1:11 dan Ayub 2:5 seharusnya adalah ‘sentuhlah’.

 

2) Elifas memaksudkan bahwa sekarang Ayub harus mempraktekkan sendiri ajaran / penghiburannya itu.

 

Luk 4:23 - “Maka berkatalah Ia kepada mereka: ‘Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepadaKu: Hai tabib, sembuhkanlah diriMu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asalMu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!’”.

 

Ro 2:21a - “Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri?”.

 

Pulpit: Dalam keadaan yang paling menyenangkan sekalipun, tetap dibutuhkan kasih karunia yang besar untuk menerima teguran / nasehat dengan hati yang tenang / sabar; ... lebih lagi ketika nasehat / teguran itu bukan hanya dirasakan sebagai tidak pantas untuk diterima, tetapi juga diucapkan pada saat dimana jiwa sedang tertekan di bawah beban kesengsaraan, dan sedang membutuhkan simpati dan bukannya celaan, dan disamping itu ketika celaan itu diucapkan dengan nada yang tidak berperasaan, dan agak dibumbui dengan rasa puas diri dari si pemberi celaan. Celaan yang mencabik / mengoyakkan jarang bermanfaat / menguntungkan.

 

Ef 4:15 - tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala”.

 

KJV: ‘But speaking the truth in love (= Tetapi dengan mengucapkan kebenaran dalam kasih).

 

3)      Keadaan ini menunjukkan bahwa:

 

a)  Pulpitdunia selalu cepat dalam menegur kekurangan2 dari orang2 yang saleh.

 

b) Pulpit: lebih mudah untuk memberitakan / mengkhotbahkan kesabaran dari pada mempraktekkannya.

 

4) Seorang pengajar memang harus melakukan apa yang ia sendiri ajarkan, tetapi kita juga harus menyadari bahwa pengajar itu sendiri juga adalah manusia biasa.

 

a)  Kalau ia jatuh tanpa alasan yang berarti, maka pengajar itu layak ditegur, bahkan dengan keras.

 

b) Kalau ia jatuh karena memang bebannya sangat berat, seperti dalam kasus Ayub, seharusnya ia bukan ditegur tetapi dihibur.

 

5) Saya tidak setuju dg penafsir2 yang membenarkan sikap Elifas di sini.

 

Ay 6: Bukankah takutmu akan Allah yang menjadi sandaranmu, dan kesalehan hidupmu menjadi pengharapanmu?.

 

1)      Ayat ini kabur terjemahannya sehingga ada bermacam2 terjemahan.

 

KJV: Is not this thy fear, thy confidence, thy hope, and the uprightness of thy ways? (= Bukankah ini rasa takutmu, keyakinanmu, pengharapanmu, dan kelurusan jalan / hidupmu?).

RSV/NIV/NASB seperti Kitab Suci Indonesia.

 

Latin Vulgate: ‘Where is thy fear, thy fortitude, thy patience, and the integrity of thy ways?’ (= Dimana rasa takutmu, ketabahanmu, kesabaranmu, dan kejujuran jalanmu?).

 

2) Maksud pertanyaan ini: jika engkau yakin akan kebenaran / kesalehanmu, engkau harus tetap percaya kepada Allah bahwa Ia akan membebaskanmu dari penderitaan ini. Bahwa engkau kesal menunjukkan bahwa engkau sebetulnya tidak yakin akan kebenaran / kesalehanmu.

 

 

 

 

-o0o-

 

-AMIN-


e-mail us at [email protected]