(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 6 September 2009, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
KEJADIAN 42:1-38
Kej
42:1-38 - “(1) Setelah Yakub
mendapat kabar, bahwa ada gandum di Mesir, berkatalah ia kepada anak-anaknya:
‘Mengapa kamu berpandang-pandangan saja?’ (2) Lagi katanya: ‘Telah
kudengar, bahwa ada gandum di Mesir; pergilah ke sana dan belilah gandum di
sana untuk kita, supaya kita tetap hidup dan jangan mati.’ (3) Lalu pergilah
sepuluh orang saudara Yusuf untuk membeli gandum di Mesir. (4) Tetapi Yakub
tidak membiarkan Benyamin, adik Yusuf, pergi bersama-sama dengan
saudara-saudaranya, sebab pikirnya: ‘Jangan-jangan ia ditimpa kecelakaan
nanti.’ (5) Jadi di antara orang yang datang membeli gandum terdapatlah juga
anak-anak Israel, sebab ada kelaparan di tanah Kanaan. (6) Sementara itu Yusuf
telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada
seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang,
kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah. (7)
Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi
ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka; ia menegor mereka
dengan membentak, katanya: ‘Dari mana kamu?’ Jawab mereka: ‘Dari tanah
Kanaan untuk membeli bahan makanan.’ (8) Memang Yusuf mengenal
saudara-saudaranya itu, tetapi dia tidak dikenal mereka. (9) Lalu teringatlah
Yusuf akan mimpi-mimpinya tentang mereka. Berkatalah ia kepada mereka: ‘Kamu
ini pengintai, kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak
dijaga.’ (10) Tetapi jawab mereka: ‘Tidak tuanku! Hanyalah untuk membeli
bahan makanan hamba-hambamu ini datang. (11) Kami ini sekalian anak dari satu
ayah; kami ini orang jujur; hamba-hambamu ini bukanlah pengintai.’ (12)
Tetapi ia berkata kepada mereka: ‘Tidak! Kamu datang untuk melihat-lihat di
mana negeri ini tidak dijaga.’ (13) Lalu jawab mereka: ‘Hamba-hambamu ini
dua belas orang, kami bersaudara, anak dari satu ayah di tanah Kanaan, tetapi
yang bungsu sekarang ada pada ayah kami, dan seorang sudah tidak ada lagi.’
(14) Lalu kata Yusuf kepada mereka: ‘Sudahlah! Seperti telah kukatakan
kepadamu tadi: kamu ini pengintai. (15) Dalam hal ini juga kamu harus diuji:
demi hidup Firaun, kamu tidak akan pergi dari sini, jika saudaramu yang bungsu
itu tidak datang ke mari. (16) Suruhlah seorang dari padamu untuk menjemput
adikmu itu, tetapi kamu ini harus tinggal terkurung di sini. Dengan demikian
perkataanmu dapat diuji, apakah benar, dan jika tidak, demi hidup Firaun,
sungguh-sungguhlah kamu ini pengintai.’ (17) Dan dimasukkannyalah mereka
bersama-sama ke dalam tahanan tiga hari lamanya. (18) Pada hari yang ketiga
berkatalah Yusuf kepada mereka: ‘Buatlah begini, maka kamu akan tetap hidup,
aku takut akan Allah. (19) Jika kamu orang jujur, biarkanlah dari kamu
bersaudara tinggal seorang terkurung dalam rumah tahanan, tetapi pergilah
kamu, bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu. (20) Tetapi
saudaramu yang bungsu itu haruslah kamu bawa kepadaku, supaya perkataanmu itu
ternyata benar dan kamu jangan mati.’ Demikianlah diperbuat mereka. (21)
Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Betul-betullah kita menanggung
akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak
hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak
mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita.’
(22) Lalu Ruben menjawab mereka: ‘Bukankah dahulu kukatakan kepadamu:
Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan
perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita.’ (23) Tetapi mereka
tidak tahu, bahwa Yusuf mengerti perkataan mereka, sebab mereka memakai
seorang juru bahasa. (24) Maka Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu
menangis. Kemudian ia kembali kepada mereka dan berkata-kata dengan mereka; ia
mengambil Simeon dari antara mereka; lalu disuruh belenggu di depan mata
mereka. (25) Sesudah itu Yusuf memerintahkan, bahwa tempat gandum mereka akan
diisi dengan gandum dan bahwa uang mereka masing-masing akan dikembalikan ke
dalam karungnya, serta bekal mereka di jalan akan diberikan kepada mereka.
Demikianlah dilakukan orang kepada mereka itu. (26) Sesudah itu merekapun
memuat gandum itu ke atas keledai mereka, lalu berangkat dari situ. (27)
Ketika seorang membuka karungnya untuk memberi makan keledainya di tempat
bermalam, dilihatnyalah uangnya ada di dalam mulut karungnya. (28) Katanya
kepada saudara-saudaranya: ‘Uangku dikembalikan; lihat, ada dalam
karungku!’ Lalu hati mereka menjadi tawar dan mereka berpandang-pandangan
dengan gemetar serta berkata: ‘Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap
kita!’ (29) Ketika mereka sampai kepada Yakub, ayah mereka, di tanah Kanaan,
mereka menceritakan segala sesuatu yang dialaminya, katanya: (30) ‘Orang
itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, telah menegor kami dengan
membentak dan memperlakukan kami sebagai pengintai negeri itu. (31) Tetapi
kata kami kepadanya: Kami orang jujur, kami bukan pengintai. (32) Kami dua
belas orang bersaudara, anak-anak ayah kami; seorang sudah tidak ada lagi, dan
yang bungsu ada sekarang pada ayah kami, di tanah Kanaan. (33) Lalu kata orang
itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, kepada kami: Dari hal ini aku
akan tahu, apakah kamu orang jujur: dari kamu bersaudara haruslah kamu
tinggalkan seorang padaku; kemudian bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi
rumahmu dan pergilah; (34) lalu bawalah kepadaku saudaramu yang bungsu itu,
maka aku akan tahu, bahwa kamu bukan pengintai, tetapi orang jujur; dan aku
akan mengembalikan saudaramu itu kepadamu, dan bolehlah kamu menjalani negeri
ini dengan bebas.’ (35) Ketika mereka mengosongkan karungnya, tampaklah ada
pundi-pundi uang masing-masing dalam karungnya; dan ketika mereka beserta ayah
mereka melihat pundi-pundi uang itu, ketakutanlah mereka. (36) Dan Yakub, ayah
mereka, berkata kepadanya: ‘Kamu membuat aku kehilangan anak-anakku: Yusuf
tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi, sekarang Benyaminpun hendak kamu
bawa juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!’ (37) Lalu
berkatalah Ruben kepada ayahnya: ‘Kedua anakku laki-laki boleh engkau bunuh,
jika ia tidak kubawa kepadamu; serahkanlah dia ke dalam tanganku, maka dia
akan kubawa kembali kepadamu.’ (38) Tetapi jawabnya: ‘Anakku itu tidak
akan pergi ke sana bersama-sama dengan kamu, sebab kakaknya telah mati dan
hanya dialah yang tinggal; jika dia ditimpa kecelakaan di jalan yang akan kamu
tempuh, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia
orang mati karena dukacita.’”.
I) Saudara-saudara Yusuf pergi ke Mesir
(ay 1-5).
1)
Kanaan terkena kelaparan.
Dalam
Kej 41:56-57 dikatakan bahwa kelaparan itu menimpa ‘seluruh
bumi’. Tidak
jelas apa yang dimaksud dengan ‘seluruh
bumi’
ini, karena istilah ‘seluruh bumi’
tidak harus betul-betul diartikan seluruh bumi (bdk. Luk 2:1 dimana ‘seluruh
dunia’ jelas hanya
berarti wilayah kekaisaran Romawi). Yang jelas adalah: bukan hanya Mesir yang
terkena kelaparan, tetapi juga daerah sekitarnya, termasuk Kanaan (ay 5),
tempat Yakub dan keluarganya tinggal.
Jadi
bahaya kelaparan itu tidak hanya menimpa orang kafir / tak beriman, tetapi juga
menimpa orang beriman. Mengapa? Bukankah Tuhan bisa memberikan bencana hanya
kepada orang kafir / tak beriman, dan mengecualikan orang beriman? Tentu saja Ia
bisa, dan itu sering Ia lakukan, seperti yang Ia lakukan pada waktu memberikan
10 tulah di Mesir, dimana tulah-tulah itu sama sekali tidak menimpa orang
Israel. Kalau demikian, mengapa Ia membiarkan Yakub dan keluarganya
(‘gereja’ pada saat itu) juga terkena bahaya kelaparan? Jelas karena Ia
mempunyai rencana yang baik terhadap mereka. Rencana apa?
a)
Untuk mempertemukan kembali Yakub dengan Yusuf, dan mempersatukan kembali
Yusuf dengan keluarganya (karena mereka harus membentuk 12 suku Israel).
b)
Untuk menggenapi nubuatNya kepada Abraham dalam Kej 15:13-16 - “(13)
Firman TUHAN kepada Abram: ‘Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu
akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan
bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. (14)
Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka
akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. (15) Tetapi engkau akan
pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu
telah putih rambutmu. (16) Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini,
sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap.’”.
Penerapan:
Kalau ada bencana menimpa baik orang kafir maupun beriman, apakah itu krisis
moneter, bencana alam (banjir, gempa bumi, gunung meletus, dsb), kebakaran,
perusakan oleh massa, dsb, sebagai orang beriman kita harus tetap percaya bahwa
kalau Allah tidak mengecualikan kita dari bencana itu, Ia pasti mempunyai maksud
yang baik untuk kita. Bdk. Ro 8:28 - “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut
bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang
mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.
2)
Menghadapi bencana itu saudara-saudara Yusuf hanya berpandang-pandangan
saja (ay 1b).
Mungkin
ini menunjukkan sikap kehabisan akal / putus asa. Ini adalah sikap yang salah
dalam menghadapi problem, kesukaran, dan penderitaan.
Amsal 17:22
- “Hati
yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan
tulang”.
Amsal 18:14
- “Orang
yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa yang akan
memulihkan semangat yang patah?”.
Karena
itu kalau saudara mengalami penderitaan / problem besar, maka tetaplah berharap
kepada Allah. Baca dan renungkanlah ayat-ayat di bawah ini:
·
Maz 42:6 - “Mengapa
engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada
Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku!”.
·
Yes 40:27-31 - “(27)
Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel:
‘Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?’ (28)
Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang
menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi
lesu, tidak terduga pengertianNya. (29) Dia memberi kekuatan kepada yang lelah
dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. (30) Orang-orang muda menjadi
lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, (31) tetapi orang-orang yang
menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang
naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu,
mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”.
·
Yes 41:8-16 - “(8)
Tetapi engkau, hai Israel, hambaKu, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan
Abraham, yang Kukasihi; (9) engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan
yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: ‘Engkau
hambaKu, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau’; (10) janganlah
takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku
akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan
tangan kananKu yang membawa kemenangan. (11) Sesungguhnya, semua orang yang
bangkit amarahnya terhadap engkau akan mendapat malu dan kena noda; orang-orang
yang membantah engkau akan seperti tidak ada dan akan binasa; (12) engkau akan
mencari orang-orang yang berkelahi dengan engkau, tetapi tidak akan menemui
mereka; orang-orang yang berperang melawan engkau akan seperti tidak ada dan
hampa. (13) Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata
kepadamu: ‘Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.’ (14) Janganlah
takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau,
demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah
Israel. (15) Sesungguhnya, Aku membuat engkau menjadi papan pengirik yang tajam
dan baru, dengan gigi dua jajar; engkau akan mengirik gunung-gunung dan
menghancurkannya, dan bukit-bukitpun akan kaubuat seperti sekam. (16) Engkau
akan menampi mereka, lalu angin akan menerbangkan mereka, dan badai akan
menyerakkan mereka. Tetapi engkau ini akan bersorak-sorak di dalam TUHAN dan
bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel”.
3) Yakub
mendengar kabar bahwa di Mesir ada gandum, dan ia menyuruh anak-anaknya pergi ke
Mesir untuk membeli gandum (ay 1-2).
a)
Dalam buku Saat Teduhnya, Charles Haddon Spurgeon memberikan renungan
tentang hal ini sebagai berikut:
“Famine
pinched all the nations, and it seemed inevitable that Jacob and his family
should suffer great want; but the God of providence, who never forgets the
objects of electing love, had stored a granary for His people by giving the
Egyptians warning of the scarcity, and leading them to store up the grain in the
years of plenty. Little did Jacob expect deliverance from Egypt, but there was
the corn in store for him. Believer, though all things are apparently against
you, rest assured that God has made a reservation on your behalf; in the roll of
your griefs there is a saving clause. Somehow He will deliver you, and somewhere
He will provide for you. The quarter from which your rescue arises may be a very
unexpected one, but help will assuredly come in your extremity, and you will
magnify the name of the Lord. If men do not feed you, ravens will; and if earth
yield no wheat, heaven will drop with manna. Therefore be of good courage, and
rest quietly in the Lord. God can make the sun rise in the west if He pleases,
and make the source of distress the channel of delight” (= Kelaparan menjepit semua bangsa, dan
kelihatannya tak terhindarkan bahwa Yakub dan keluarganya harus menderita
kekurangan yang hebat; tetapi Allah dari providensia, yang tidak pernah
melupakan obyek dari kasihNya yang memilih, telah menyimpan sebuah lumbung untuk
umatNya dengan memberikan orang Mesir peringatan tentang masa kekurangan, dan
memimpin mereka untuk menimbun gandum pada masa kelimpahan. Yakub tidak
mengharapkan pertolongan dari Mesir, tetapi di sana ada jagung tersimpan
untuknya. Orang percaya, sekalipun segala sesuatu kelihatannya menentangmu,
tetaplah yakin bahwa Allah telah membuat persediaan demi kepentinganmu; dalam
gulungan kesedihanmu ada ketentuan / persediaan keselamatan. Dengan cara
tertentu Ia akan membebaskan / menolongmu, dan entah dimana, dan di suatu tempat
tertentu Ia akan menyediakan bagimu. Pertolonganmu mungkin akan muncul dari
sudut yang tidak diharapkan, tetapi pertolongan pasti akan datang dalam
kebutuhanmu yang sangat hebat, dan engkau akan membesarkan nama Tuhan. Jika
manusia tidak memberi engkau makan, burung-burung gagak akan melakukannya; dan
jika bumi tidak mengeluarkan gandum, langit akan menurunkan manna. Karena itu
teguhkanlah hatimu, dan beristirahatlah dengan tenang di dalam Tuhan. Allah bisa
membuat matahari terbit dari Barat jika Ia menghendakinya, dan membuat sumber
kesukaran sebagai saluran kesenangan / kesukaan)
- ‘Morning and Evening’, May 21,
evening.
b)
Yakub melakukan hal yang benar, dimana ia bukan hanya beriman dan berdoa,
tetapi juga berusaha. Padahal Tuhan pernah berjanji kepada Yakub bahwa ia akan
menjadi bangsa yang besar (Kej 28:14). Janji ini pasti terjadi, sehingga
tidak mungkin Yakub dan keluarganya mati dalam bahaya kelaparan itu. Tetapi toh
Yakub tidak hanya beriman pada janji Tuhan dan lalu tidak melakukan
apa-apa di tengah-tengah bahaya kelaparan itu! Adanya rencana Allah / janji
Allah tidak membuang tanggung jawab manusia!
Penerapan:
Sekalipun sebagai orang beriman kita harus percaya kepada Allah, berdoa dan
berharap kepada Allah pada waktu menghadapi kesukaran, itu tidak berarti bahwa
kita tidak perlu melakukan apa-apa. Kita harus berusaha semaximal mungkin.
4)
Yakub tidak mengijinkan Benyamin ikut (ay 4).
Yakub
masih trauma karena ‘kematian’ Yusuf, sehingga ia melindungi Benyamin secara
berlebihan. Benyamin sudah dewasa, dan tidak ada bahaya yang terlihat dengan
mengirimkannya ke Mesir bersama 10 saudaranya, sehingga tidak pada tempatnya
kalau Benyamin dilindungi seperti itu. Ini menunjukkan bahwa Yakub kurang
beriman dan berserah kepada Tuhan.
Penerapan:
kita memang perlu berhati-hati, karena ‘tidak berhati-hati’ sama dengan
mencobai Tuhan. Tetapi ‘terlalu berhati-hati’ menunjukkan kurangnya iman dan
penyerahan. Yang sukar adalah menentukan batas antara ‘tidak berhati-hati /
mencobai Tuhan’ dengan ‘terlalu berhati-hati’. Mintalah hikmat dan
pimpinan Tuhan dalam hal ini!
5)
Akhirnya hanya 10 saudara laki-laki Yusuf yang pergi ke Mesir (ay 3,5).
Mengapa
10 orang yang diutus? Mengapa tidak hanya 2 orang saja dengan banyak keledai /
kuda? Ditinjau dari sudut manusia / logika, ini mungkin disebabkan karena
pembelian gandum di Mesir dijatah berdasarkan orangnya, sehingga kalau yang
datang hanya sedikit orang maka hanya akan mendapatkan sedikit gandum. Karena
itu Yakub mengirimkan sebanyak mungkin anak, kecuali Benyamin. Tetapi
bagaimanapun juga dibalik semua ini ada tangan Allah yang mengatur supaya mimpi
pertama Yusuf dalam Kej 37:7 (berkas gandum saudara-saudara Yusuf menyembah
kepada berkas gandum Yusuf) tergenapi.
II) Pertemuan Yusuf dengan
saudara-saudaranya (ay 6-25).
1)
Saudara-saudara Yusuf menyembah Yusuf yang adalah ‘mangkubumi’ (ay 6).
NIV: ‘governor’
(= gubernur).
NASB: ‘ruler’
(= penguasa).
a)
Hati-hati dengan bagian-bagian Perjanjian Lama yang menunjukkan
penyembahan manusia terhadap manusia. Dalam Perjanjian Lama hal seperti itu
memang lazim, dan memang diijinkan karena belum adanya kata-kata Yesus dalam Mat 4:10.
Sekalipun
Mat 4:10 itu dikutip oleh Yesus dari Ul 6:13, tetapi dalam Ul 6:13
tidak ada kata ‘hanya’
[Catatan: dalam Ul 6:13 versi NIV memang ada kata ‘only’
(= hanya / saja), tetapi ini salah].
Dalam
Perjanjian Baru setelah adanya kata-kata Yesus dalam Mat 4:10, maka
penyembahan kepada manusia maupun malaikat dilarang (bdk. Kis 10:25-26
Kis 14:14-18 Wah 19:10
Wah 22:8-9 Kis 12:20-23).
Karena
itu, dilarang menyembah Maria, orang-orang suci, roh orang tua, dan bahkan orang
tua / kakek nenek yang masih hidup (paikwi / sungkem).
Ada
orang yang keberatan dengan larangan ini dengan alasan bahwa paikwi / sungkem
bukanlah penyembahan, tetapi penghormatan. Untuk ini perhatikan peristiwa dimana
Kornelius menyembah Petrus dalam Kis 10:25.
Mungkinkah
ia begitu bodoh sehingga menganggap Petrus sebagai Allah / dewa? Rasanya tidak
mungkin, karena Kornelius adalah seorang ‘simpatisan Yudaisme’ (Kis 10:2,22).
Jelas bahwa ia sebetulnya bukan menyembah, tetapi hanya menghormat, tetapi ia
melakukan penghormatan itu dengan sikap menyembah. Tetapi Petrus tetap menolak
penghormatan seperti itu, dan ia berkata: “Bangunlah,
aku hanya manusia saja”
(Kis 10:26). Jadi, Petrus beranggapan bahwa penghormatan seperti itu tidak
layak baginya karena ia hanya seorang manusia biasa; penghormatan seperti itu
hanya layak bagi Allah.
b)
Ini merupakan penggenapan mimpi Yusuf dalam Kej 37:7.
Pada
waktu mimpi itu diberikan, adalah sesuatu yang tidak masuk akal bahwa mimpi itu
akan terjadi. Tetapi kenyataannya itu terjadi. Memang Firman Tuhan sering
kelihatan tidak masuk akal dan pasti tidak akan terjadi, tetapi pada akhirnya
itu pasti terjadi!
2) Yusuf
berlaku sebagai orang asing dan menuduh mereka sebagai pengintai (ay 7-14).
a)
Pada
saat Yusuf dijual, saudara-saudara Yusuf sudah dewasa, sehingga wajah mereka
tidak berubah jauh. Disamping itu, pakaian mereka, jumlah mereka yang 10 orang,
dan bahasa mereka, menyebabkan Yusuf langsung bisa mengenali mereka (ay 7-8a),
sekalipun sedikitnya 20 tahun berlalu (bdk. Kej 37:2 dengan Kej 41:46,53).
b)
Tetapi
saudara-saudara Yusuf tidak mengenal Yusuf (ay 8b), karena:
1. Waktu
ia dijual ia baru berusia 17 tahun, sehingga mungkin sekali ia banyak mengalami
perubahan.
2. Pakaian
Mesir dan bahasa Mesir yang digunakan oleh Yusuf membuat mereka tidak
mengenalinya.
3. Pangkat
Yusuf yang begitu tinggi menyebabkan mereka tidak menyangka bahwa itu adalah
adik mereka yang mereka jual sebagai budak.
c)
Yusuf berlaku seolah-olah tidak kenal mereka, dan bahkan menuduh mereka
sebagai pengintai. Mengapa ia melakukan ini? Pasti bukan karena ingin membalas
dendam. Alasannya:
1. Kalau
ingin balas dendam ia bisa melakukan yang jauh lebih hebat.
2. Kej 50:15-21
jelas menunjukkan Yusuf tidak mendendam kepada saudara-saudaranya.
Kalau
begitu mengapa ia berlaku demikian?
a. Untuk
mengetahui apakah mereka menyesali tindakan mereka atau tidak.
b. Untuk
mengetahui keadaan Yakub dan Benyamin.
c. Untuk
mengetahui apa yang terjadi selama 13 tahun ini.
Tetapi
saya berpendapat bahwa bagaimanapun juga sikap pura-pura seperti ini tidak bisa
dibenarkan dalam kekristenan, karena merupakan dusta dengan sikap / perbuatan.
3) Yusuf
menahan Simeon sampai mereka membawa Benyamin ke Mesir (ay 15-25).
a)
Mula-mula Yusuf menahan mereka semua sampai hari yang ketiga (ay 15-16).
Mungkin
ini dilakukan untuk memberi mereka waktu luang sehingga bisa merenungkan
kejahatan mereka dahulu (Catatan: pada waktu menderita orang sering
bertanya-tanya dan melakukan introspeksi dosa apa yang telah mereka lakukan
sehingga mengalami semua itu). Tindakan Yusuf ini rupanya berhasil karena
kata-kata mereka dalam ay 21 mungkin menunjukkan bahwa dalam tahanan itu
mereka menduga-duga bahwa mereka mengalami semua ini karena mereka menjual
Yusuf.
Ay
21: “Mereka berkata seorang kepada
yang lain: ‘Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita
itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas
kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah
sebabnya kesesakan ini menimpa kita.’”.
b)
Lalu Yusuf memanggil mereka dan berbicara kepada mereka (ay 18-25).
1. Yusuf
cuma menahan seorang, yaitu Simeon, sampai mereka kembali membawa Benyamin.
Mengapa Simeon yang dipilih? Mungkin karena:
a. Kata-kata
Ruben dalam ay 22 terdengar oleh Yusuf sehingga ia tahu bahwa Ruben yang
adalah saudara tertua tidaklah terlalu salah. Karena itu Yusuf memilih saudara
yang kedua, yaitu Simeon.
b. Mungkin
Yusuf tahu bahwa dalam peristiwa memasukkan dia ke sumur dan / atau menjualnya
sebagai budak, Simeonlah yang paling berperan.
2. Yang
lain diperbolehkan kembali sambil membawa gandum.
3. Tanpa
sepengetahuan mereka, Yusuf mengembalikan uang mereka dan memasukkannya ke dalam
karung gandum masing-masing (ay 25).
III) Saudara-saudara Yusuf kembali ke
Kanaan (ay 26-38).
1) Dalam
perjalanan seorang dari mereka mendapati bahwa uangnya ada dalam karung
gandumnya. Ini membuat mereka jadi takut dan bertanya-tanya: ‘Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap kita?’
(ay 27-28).
Mereka
benar dalam satu hal, yaitu mereka tahu bahwa ‘God is the First Cause of
everything’ (= Allah adalah Penyebab
Pertama dari segala sesuatu).
Tetapi kesalahan mereka adalah bahwa mereka tidak beriman pada kasih dan
kebijaksanaan Allah!
2) Ketika
sampai di rumah, mereka menceritakan semuanya kepada Yakub (ay 29-34), lalu
membuka karung gandum mereka. Ternyata mereka mendapati semua uang mereka ada di
dalam karung gandum masing-masing. Ini membuat mereka lebih takut lagi (ay 35).
3)
Yakub menjadi putus asa (ay 36).
Hiburan
tolol dari Ruben (ay 37) sama sekali tidak menolong Yakub dari
keputus-asaannya, dan ini menyebabkan Yakub, tanpa mempedulikan Simeon, melarang
Benyamin pergi ke Mesir (ay 38).
Sekarang
mari kita membahas kata-kata Yakub dalam ay 36.
Ay 36:
‘Aku inilah yang menanggung
segala-galanya’.
Ini salah terjemahan.
NIV:
‘Everything is against me’ (=
Segala sesuatu menentang aku).
KJV/NASB:
‘all these things are against me’
(= Semua hal ini menentang aku).
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“‘All
these things are against me!’ was a valid statement from a human point of
view, but from God’s perspective, everything that was happening was working
for Jacob’s good and not for his harm (Rom 8:28)”
[= ‘Semua hal ini menentang aku!’ merupakan suatu pernyataan yang sah dari
sudut pandang manusia, tetapi dari sudut pandang Allah, segala sesuatu yang
sedang terjadi sedang mengerjakan untuk kebaikan Yakub dan bukan untuk
kerugiannya (Ro 8:28)].
Adam
Clarke: “All
these things are against me, said poor desponding Jacob; whereas, instead of
being against him, all these things were for him” (= Semua hal-hal ini menentang aku, kata
Yakub yang putus asa; padahal semua hal-hal itu bukannya menentang dia,
tetapi untuk dia).
Matthew
Henry: “Jacob
gives up Joseph for gone, and Simeon and Benjamin as being in danger; and he
concludes, ‘All these things are against me.’ It proved otherwise,
that all these were for him, were working together for his good
and the good of his family: yet here he thinks them all against him.
Note, Through our ignorance and mistake, and the weakness of our faith, we often
apprehend that to be against us which is really for us. We are
afflicted in body, estate, name, and relations; and we think all these things
are against us, whereas these are really working for us the weight
of glory” (= Yakub menganggap Yusuf
mati, dan Simeon dan Benyamin sebagai ada dalam bahaya; dan ia menyimpulkan,
‘Semua hal-hal ini menentang aku’. Tetapi terbukti sebaliknya, bahwa
semua ini adalah untuk dia, bekerja bersama-sama untuk kebaikannya
dan kebaikan keluarganya: tetapi ia berpikir semua itu menentang dia.
Perhatikan, Melalui ketidak-tahuan dan kesalahan kita, dan kelemahan dari iman
kita, kita sering melihat itu sebagai menentang kita apa yang sebetulnya
adalah untuk kita. Kita menderita dalam tubuh, milik / kekayaan, nama,
dan hubungan; dan kita berpikir bahwa semua hal-hal ini menentang kita,
sedangkan ini sebetulnya sedang mengerjakan untuk kita kemuliaan yang
besar).
Catatan:
dalam bahasa Inggris, lawan kata dari kata depan ‘for’
(= untuk) adalah kata depan ‘against’
(= terhadap / menentang).
Kalau
saudara adalah seorang anak Tuhan yang sungguh-sungguh, maka Tuhan tidak pernah
dan tidak akan pernah bekerja menentang saudara. Sebaliknya Ia selalu
bekerja untuk saudara!
Bdk.
Ro 8:28 (KJV): “...
all things work together for good to them that love God”
(= ... segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan bagi mereka
yang mengasihi Allah).
Pulpit
Commentary: “So
God’s providences are often misinterpreted by his saints”
(= Demikianlah providensia Allah sering disalah-mengerti / disalah-tafsirkan
oleh orang-orang kudusNya).
Pulpit
Commentary: “How
often the believer says, ‘All these things are against me.’ when he is
already close upon that very stream of events which will carry him out of his
distress into the midst of plenty, peace, and joy of a healed heart in its
recovered blessedness” (= Betapa
sering orang percaya berkata: ‘Semua hal ini menentang aku’ pada saat ia
sudah dekat dengan aliran peristiwa-peristiwa yang akan membawanya keluar dari
kesukaran / penderitaan ke tengah-tengah kelimpahan, damai dan sukacita dari
hati yang disembuhkan dalam keadaan diberkati yang dipulihkan).
Memang,
Yakub sebetulnya sudah dekat sekali dengan kebahagiaan yang luar biasa dimana ia
bertemu kembali dengan Yusuf, dan semua yang ia alami ini mengarahkan ia kepada
pertemuan yang berbahagia itu, tetapi saat ini ia justru menjadi putus asa.
Bagi
kita, karena kita mengetahui Kej 43-dst, maka kita bisa melihat betapa
bodohnya Yakub. Tetapi bagi Yakubnya sendiri pada saat itu, segalanya terlihat
gelap gulita, sehingga ia menjadi putus asa.
Penerapan:
kalau saudara adalah anak Allah, dan pada saat ini
segalanya kelihatan gelap gulita bagi saudara, jangan putus asa seperti Yakub.
Percayalah bahwa Allah mengarahkan semua itu pada kebaikan saudara, dan mungkin
sekali, sama seperti Yakub, saudara sudah dekat sekali dengan saat yang akan
sangat membahagiakan saudara!
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali