(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tanggal 17 Januari 2010, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
Bil 23:13-26 - “(13) Lalu Balak berkata kepadanya: ‘Baiklah
pergi bersama-sama dengan aku ke tempat lain, dan dari sana engkau dapat
melihat bangsa itu; engkau akan melihat hanya bagiannya yang paling ujung,
tetapi seluruhnya tidak akan kaulihat; serapahlah mereka dari situ bagiku.’
(14) Lalu dibawanyalah dia ke Padang Pengintai, ke puncak gunung Pisga; ia
mendirikan tujuh mezbah dan mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor
domba jantan di atas setiap mezbah itu. (15) Kemudian berkatalah ia kepada
Balak: ‘Berdirilah di sini di samping korban bakaranmu, sedang aku hendak
bertemu dengan TUHAN di situ.’ (16) Lalu TUHAN menemui Bileam dan menaruh
perkataan ke dalam mulutnya, dan berfirman: ‘Kembalilah kepada Balak dan
katakanlah demikian.’ (17) Ketika ia sampai kepadanya, Balak masih berdiri
di samping korban bakarannya bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab.
Berkatalah Balak kepadanya: ‘Apakah yang difirmankan TUHAN?’ (18) Lalu
diucapkannyalah sanjaknya, katanya: ‘Bangunlah, hai Balak, dan dengarlah;
pasanglah telingamu mendengarkan aku, ya anak Zipor. (19) Allah bukanlah
manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.
Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak
menepatinya? (20) Ketahuilah, aku mendapat perintah untuk memberkati, dan
apabila Dia memberkati, maka aku tidak dapat membalikkannya. (21) Tidak ada
ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat
kesukaran di antara orang Israel. TUHAN, Allah mereka, menyertai mereka, dan
sorak-sorak karena Raja ada di antara mereka. (22) Allah, yang membawa mereka
keluar dari Mesir, adalah bagi mereka seperti tanduk kekuatan lembu hutan,
(23) sebab tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang
mempan terhadap Israel. Pada waktunya akan dikatakan kepada Yakub, begitu juga
kepada Israel, keajaiban yang diperbuat Allah: (24) Lihat, suatu bangsa, yang
bangkit seperti singa betina, dan yang berdiri tegak seperti singa jantan,
yang tidak membaringkan dirinya, sebelum ia memakan mangsanya dan meminum
darah dari yang mati dibunuhnya.’ (25) Lalu berkatalah Balak kepada Bileam:
‘Jika sekali-kali tidak mau engkau menyerapah mereka, janganlah sekali-kali
memberkatinya.’ (26) Tetapi Bileam menjawab Balak: ‘Bukankah telah
kukatakan kepadamu: Segala yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan
kulakukan.’”.
1)
Pindah ke tempat yang lain.
Ay
13-14:
“(13) Lalu Balak berkata kepadanya:
‘Baiklah pergi bersama-sama dengan aku ke tempat lain, dan dari sana engkau
dapat melihat bangsa itu; engkau akan melihat hanya bagiannya yang paling ujung,
tetapi seluruhnya tidak akan kaulihat; serapahlah mereka dari situ bagiku.’
(14) Lalu dibawanyalah dia ke Padang Pengintai, ke puncak gunung Pisga; ia
mendirikan tujuh mezbah dan mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba
jantan di atas setiap mezbah itu”.
Calvin: “Balak,
therefore, removes his sorcerer to another place, that there he might the better
exercise his divinations. There is some ambiguity in the words. Some render them
thus, ‘Come to another place, that thou mayest see from thence, mayest see a
part, and not the whole,’ as if Balak feared that the multitude itself
frightened Balaam, or diminished the power of his incantations. Their opinion,
however, is the more probable, who take the verb see,
where it is used the second time, in the perfect tense, so that the sense
is, ‘Come to a place where thou mayest behold them; for as yet thou hast not
seen the whole, but only a part;’ for we know how common a thing with the
Hebrews is such an employment of one tense for another”
(= Karena itu, Balak memindahkan penyihirnya ke tempat
yang lain, supaya di sana ia bisa menggunakan sihirnya dengan lebih baik. Ada
kemenduaan arti dalam kata-kata ini. Sebagian orang menterjemahkan kata-kata ini
demikian, ‘Datanglah ke tempat lain, supaya engkau bisa melihat dari sana,
bisa melihat sebagian, dan bukan seluruhnya’ seakan-akan Balak takut bahwa
banyaknya orang-orang itu membuat Bileam menjadi takut, atau mengurangi kuasa
dari manteranya. Tetapi pandangan mereka lebih memungkinkan, yang menganggap
kata kerja ‘melihat’ dimana kata itu digunakan untuk kedua-kalinya, dalam perfect
tense, sehingga artinya adalah, ‘Datanglah ke suatu tempat dimana engkau
bisa melihat mereka; karena engkau belum melihat seluruhnya tetapi hanya
sebagian’; karena kita tahu betapa umum bagi orang-orang Ibrani untuk
menggunakan satu tensa untuk tensa yang lain).
Tetapi
baik Kitab Suci Indonesia maupun KJV/RSV/NIV/NASB/ASV kelihatannya memilih arti
pertama, yang bukan merupakan arti yang dipilih oleh Calvin. Demikian juga
Matthew Henry kelihatannya mengambil pandangan pertama.
Tetapi,
yang manapun pandangan yang benar, yang jelas adalah: Balak mencari tempat lain,
seakan-akan dari tempat baru itu Tuhan akan mengubah sikap, dan mau mengutuk
Israel.
Matthew
Henry menganggap ini sebagai usaha yang tak henti-hentinya dari musuh-musuh
gereja dalam menyerang gereja. Dan ia berharap kita juga mempunyai sikap yang
sama dalam usaha kita memuliakan Allah.
Matthew
Henry: “See how restless and
unwearied the church’s enemies are in their malicious attempts to ruin it;
they leave no stone unturned, no project untried, to compass it. O that we were
as full of contrivance and resolution in prosecuting good designs for the glory
of God!” (= Lihatlah betapa tanpa istirahat dan
dengan tidak bosan-bosannya musuh-musuh gereja dalam usaha jahat mereka untuk
menghancurkan gereja; mereka tidak membiarkan satu batupun tidak dibalikkan,
tidak membiarkan satu proyekpun tidak dicobai, untuk mengepungnya. Oh,
seandainya kita sama penuhnya dengan penemuan dan keputusan dalam melaksanakan
rancangan-rancangan yang baik untuk kemuliaan Allah!).
2)
Firman Tuhan kepada Balak melalui Bileam.
a)
Allah tidak menyesal / mengubah keputusan / pikiranNya.
Ay 19:
“Allah bukanlah manusia, sehingga Ia
berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan
tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”.
Ini
merupakan jawaban terhadap pemikiran Balak, bahwa Allah bisa mengubah sikap dari
‘memberkati Israel’ menjadi ‘mengutuk Israel’. Jadi, Allah menjawab
dengan menekankan bahwa Ia tidak mungkin menyesal / mengubah pemikiran /
keputusanNya.
Berkenaan
dengan Allah menyesal atau tidak menyesal, ada dua kelompok ayat yang
kelihatannya saling bertentangan.
1.
Kelompok ayat yang menunjukkan ‘Allah menyesal’.
Kej
6:6-7 - “(6) maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan
manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya. (7)
Berfirmanlah TUHAN: ‘Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu
dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan
burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan
mereka.’”.
Maz 106:45
- “Ia ingat akan perjanjianNya karena
mereka, dan menyesal sesuai dengan kasih setiaNya yang besar”.
Yer 18:8
- “Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah
bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak
menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka”.
Yer 26:3
- “Mungkin mereka mau mendengarkan dan
masing-masing mau berbalik dari tingkah langkahnya yang jahat, sehingga Aku
menyesal akan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka oleh karena
perbuatan-perbuatan mereka yang jahat”.
Yer 26:13
- “Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah
langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN
menyesal akan malapetaka yang diancamkanNya atas kamu”.
Yer 26:19
- “Apakah Hizkia, raja Yehuda, beserta
segenap Yehuda membunuh dia? Tidakkah ia takut akan TUHAN, sehingga ia memohon
belas kasihan TUHAN, agar TUHAN menyesal akan malapetaka yang
diancamkanNya atas mereka? Dan kita, maukah kita mendatangkan malapetaka yang
begitu besar atas diri kita sendiri?’”.
Yer
42:10 - “Jika kamu tinggal tetap di
negeri ini, maka Aku akan membangun dan tidak akan meruntuhkan kamu, akan
membuat kamu tumbuh dan tidak akan mencabut kamu; sebab Aku menyesal
telah mendatangkan malapetaka kepadamu”.
Yoel
2:13 - “Koyakkanlah hatimu dan jangan
pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang,
panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena
hukumanNya”.
Yoel 2:14
- “Siapa tahu, mungkin Ia mau
berbalik dan menyesal, dan ditinggalkanNya berkat, menjadi korban sajian dan
korban curahan bagi TUHAN, Allahmu”.
Amos 7:3,6
- “(3) Maka menyesallah TUHAN karena hal itu. ‘Itu tidak akan
terjadi,’ firman TUHAN. ... (6) Maka menyesallah TUHAN karena hal itu.
‘Inipun tidak akan terjadi,’ firman Tuhan ALLAH”.
Yunus 3:9
- “Siapa tahu, mungkin Allah akan
berbalik dan menyesal serta berpaling dari murkaNya yang bernyala-nyala itu,
sehingga kita tidak binasa.’”.
Yunus 4:2
- “Dan berdoalah ia kepada TUHAN,
katanya: ‘Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di
negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku
tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang
sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka
yang hendak didatangkanNya”.
Dalam
kelompok ini ada ayat yang ‘paling extrim’ dalam menggambarkan ‘Allah
menyesal’, yaitu Kel 32:10-14 - “(10) Oleh sebab itu biarkanlah Aku,
supaya murkaKu bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi
engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar.’ (11) Lalu Musa mencoba
melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: ‘Mengapakah, TUHAN, murkaMu
bangkit terhadap umatMu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan
kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? (12) Mengapakah orang Mesir
akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka
kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah
dari murkaMu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang
hendak Kaudatangkan kepada umatMu. (13) Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan
Israel, hamba-hambaMu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi
diriMu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu
sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan
Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.’ (14) Dan
menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkanNya atas umatNya”.
2.
Kelompok ayat yang menunjukkan ‘Allah tidak menyesal’.
Bil
23:19 - “Allah bukanlah manusia,
sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia
berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”.
Maz 110:4
- “TUHAN telah bersumpah, dan Ia
tidak akan menyesal: ‘Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut
Melkisedek.’”.
Yeh 24:14
- “Aku, TUHAN, yang mengatakannya. Hal
itu akan datang, dan Aku yang akan membuatnya. Aku tidak melalaikannya dan tidak
merasa sayang, juga tidak menyesal. Aku akan menghakimi engkau menurut
perbuatanmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH.’”.
Zakh
8:14 - “Sebab beginilah firman TUHAN
semesta alam: ‘Kalau dahulu Aku telah bermaksud mendatangkan malapetaka kepada
kamu, ketika nenek moyangmu membuat Aku murka, dan Aku tidak menyesal,
firman TUHAN semesta alam,”.
Ibr 7:21
- “tetapi Ia dengan sumpah, diucapkan
oleh Dia yang berfirman kepadaNya: ‘Tuhan telah bersumpah dan Ia tidak akan
menyesal: Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya’”.
Seakan-akan
untuk menambah kerumitan dari hal ini, ada satu pasal dimana ‘Allah
menyesal’ dan ‘Allah tidak menyesal’ muncul secara bergantian, sehingga
seakan-akan terjadi suatu kontradiksi dalam satu pasal.
1Sam 15:10-11,29,35
- “(10) Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian: (11) ‘Aku
menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik
dari pada Aku dan tidak melaksanakan firmanKu.’ Maka sakit hatilah Samuel dan
ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman. ... (29) Lagi Sang
Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan
manusia yang harus menyesal.’ ... (35)
Sampai hari matinya Samuel tidak melihat Saul lagi, tetapi Samuel
berdukacita karena Saul. Dan TUHAN menyesal, karena Ia menjadikan Saul
raja atas Israel”.
Kita
tidak boleh menganggap kedua kelompok ayat ini sebagai kontradiksi, dan kita
juga tidak boleh mengambil hanya satu kelompok saja dan mengabaikan kelompok
yang lain, karena kedua kelompok adalah Firman Tuhan.
Kalau
kita mengambil pandangan Arminian, yang menganggap Allah bisa mengubah
rencanaNya, maka pertama kita menabrak kelompok ayat kedua yang menunjukkan
Allah tidak menyesal. Juga, kita akan bertentangan dengan banyak ayat lain yang
menunjukkan bahwa rencana Allah itu tidak akan berubah ataupun gagal, seperti:
·
Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku
tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu
yang gagal’”.
·
Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa;
Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap
selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun”.
·
Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta alam telah bersumpah,
firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi,
dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah
rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang
teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang,
siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang
dapat membuatnya ditarik kembali?”.
·
Yes 25:1 - “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan
Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan
kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib
yang telah ada sejak dahulu”.
·
Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah
menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang
Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu
menjadi timbunan batu”.
·
Yes 43:13 - “Juga
seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu; Aku
melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?”.
·
Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang
kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu
akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil
burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang
jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah
merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.
·
Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit
di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah
merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu”.
Tetapi
sebaliknya, kalau kita mengambil pandangan Calvinist / Reformed, yang menganggap
Allah tidak mungkin mengubah rencanaNya, bukankah kita menabrak kelompok ayat
pertama yang menunjukkan bahwa ‘Allah menyesal’? Lalu bagaimana
menjelaskannya / mengharmoniskannya?
a.
Istilah ‘Allah menyesal’ merupakan bahasa Anthropopathy.
Kitab
Suci sering menggunakan bahasa Anthropomorphism (bahasa yang menggambarkan
Allah seakan-akan Ia adalah manusia) dan Anthropopathy (bahasa yang
menggambarkan Allah dengan perasaan-perasaan manusia). Kalau Kitab Suci
menggunakan bahasa Anthropomorphism, maka tidak boleh diartikan betul-betul
demikian.
Misalnya
pada waktu dikatakan ‘tangan Allah tidak kurang panjang’ (Yes 59:1), atau pada waktu
dikatakan ‘mata TUHAN ada di segala
tempat’ (Amsal 15:3), ini tentu tidak berarti bahwa Allah betul-betul
mempunyai tangan / mata. Ingat bahwa Allah adalah Roh (Yoh 4:24).
Contoh
lain adalah Kel 31:17b - “sebab
enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh
Ia berhenti bekerja untuk beristirahat”. NIV menterjemahkan seperti Kitab
Suci Indonesia, tetapi KJV, RSV, NASB menterjemahkan secara berbeda.
KJV:
‘for
in six days the LORD made heaven and earth, and on the seventh day he rested,
and was refreshed’
(= karena dalam enam hari TUHAN membuat langit dan
bumi, dan pada hari ketujuh Ia beristirahat, dan segar kembali).
Jelas
bahwa kita tidak bisa menafsirkan ayat ini seakan-akan Allahnya capek / loyo
setelah bekerja berat selama enam hari, dan lalu setelah beristirahat pada hari
yang ketujuh, Ia menjadi segar kembali dan pulih kekuatanNya! Ayat ini hanya
menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia yang bisa letih, dan
bisa segar kembali.
Demikian
juga pada waktu Kitab Suci menggunakan Anthropopathy (bahasa yang menggambarkan
Allah menggunakan perasaan-perasaan manusia), maka kita tidak boleh mengartikan
bahwa Allahnya betul-betul seperti itu. Contohnya adalah ayat-ayat yang
menunjukkan ‘Allah menyesal’ ini.
Keil
& Delitzsch: “The unchangeableness of the divine purposes is a necessary
consequence of the unchangeableness of the divine nature. With regard to His own
counsels, God repents of nothing; but this does not prevent the repentance of
God, understood as an anthropopathic expression, denoting the pain
experienced by the love of God, on account of the destruction of its creatures
(see at Gen. 6:6, and Ex. 32:14)” [= Ketidak-bisa-berubahan
dari tujuan / rencana ilahi merupakan suatu konsekwensi yang harus ada dari
ketidak-bisa-berubahan dari hakekat ilahi. Berkenaan dengan rencanaNya sendiri,
Allah tidak menyesali apapun; tetapi ini tidak menghalangi ‘pertobatan /
perubahan dari Allah’, dimengerti sebagai suatu ungkapan yang bersifat
anthropopathy, menunjukkan rasa sakit yang dialami oleh kasih Allah, karena
penghancuran dari makhluk-makhluknya (lihat Kej 6:6, dan Kel 32:14)].
Perlu
juga saudara ingat bahwa manusia bisa menyesal, karena ia tidak maha tahu.
Misalnya, seorang laki-laki melihat seorang gadis dan ia menyangka gadis itu
seorang yang layak ia peristri. Tetapi setelah menikah, barulah ia tahu akan
adanya banyak hal jelek dalam diri istrinya itu yang tadinya tidak ia ketahui.
Ini menyebabkan ia lalu menyesal telah memperistri gadis itu.
Tetapi
Allah itu maha tahu, sehingga dari semula Ia telah tahu segala sesuatu yang akan
terjadi. Karena itu tidak mungkin Ia bisa menyesal!
Kalau
Kitab Suci mengatakan bahwa Allah menyesal karena terjadinya sesuatu hal, maka
maksudnya hanyalah menunjukkan bahwa hal itu tidak menyenangkan Allah. Calvin
mengatakan bahwa ‘Allah menyesal’ hanya menunjukkan perubahan tindakan.
Calvin:
“Now
the mode of accommodation is for him to represent himself to us not as he is in
himself, but as he seems to us. Although he is beyond all disturbance of mind,
yet he testifies that he is angry toward sinners. Therefore whenever we hear
that God is angered, we ought not to imagine any emotion in him, but rather to
consider that this expression has been taken from our human experience; because
God, whenever he is exercising judgment, exhibits the appearance of one kindled
and angered. So we ought not to understand anything else under the word
‘repentance’ than change of action, ...” (= Cara
penyesuaian itu adalah dengan menyatakan diriNya sendiri kepada kita bukan
sebagaimana adanya Ia dalam diriNya sendiri, tetapi seperti Ia terlihat oleh
kita. Sekalipun Ia ada di atas segala gangguan pikiran, tetapi Ia mememberi
kesaksian bahwa Ia marah kepada orang-orang berdosa. Karena itu setiap saat kita
mendengar bahwa Allah marah, kita tidak boleh membayangkan adanya emosi apapun
dalam Dia, tetapi menganggap bahwa pernyataan ini diambil dari pengalaman
manusia; karena Allah, pada waktu Ia melakukan penghakiman, menunjukkan diri
seperti seseorang yang marah. Demikian juga kita tidak boleh mengartikan apapun
yang lain terhadap kata ‘penyesalan’ selain perubahan tindakan, ...) -
‘Institutes of the Christian Religion’,
Book I, Chapter XVII, no 13.
Calvin (tentang Kel
32:12): “When,
therefore, it is said a little further on that ‘the Lord repented of the
evil,’ it is tantamount to saying, that He was appeased; not because He
retracts in Himself what He has once decreed, but because He does not execute
the sentence He had pronounced” (= Karena
itu, pada waktu selanjutnya dikatakan bahwa ‘Tuhan menyesal karena malapetaka
...’, itu sama dengan berkata, bahwa Ia ditenangkan / diredakan kemarahanNya;
bukan karena Ia menarik / mencabut dalam diriNya apa yang pernah Ia tetapkan,
tetapi karena Ia tidak melaksanakan keputusan yang telah Ia umumkan).
b.
Pada waktu Kitab Suci mengatakan ‘Allah menyesal’ maka itu berarti
bahwa hal itu ditinjau dari sudut pandang manusia.
Catatan:
ini tetap berlaku, sekalipun yang mengucapkan kata-kata itu adalah Allah
sendiri, seperti dalam 1Sam 15:10-11. Allah yang mengucapkan kata-kata itu,
tetapi dalam mengucapkan, Ia menyesuaikannya dengan manusia yang terbatas.
Illustrasi:
Ada seorang sutradara yang menyusun naskah untuk sandiwara, dan ia juga
sekaligus menjadi salah satu pemain sandiwara tersebut. Dalam sandiwara itu
ditunjukkan bahwa ia mau makan, tetapi tiba-tiba ada telpon, sehingga ia lalu
tidak jadi makan. Dari sudut penonton, pemain sandiwara itu berubah pikiran /
rencana. Tetapi kalau ditinjau dari sudut naskah / sutradara, ia sama sekali
tidak berubah dari rencana semula, karena dalam naskah sudah direncanakan bahwa
ia mau makan, lalu ada telpon, lalu ia mengubah rencana / pikirannya, dsb.
Pada
waktu Kitab Suci berkata ‘Allah menyesal’ maka memang dari sudut manusia,
Allahnya menyesal / mengubah rencanaNya. Tetapi dari sudut Allah / Rencana
Allah, sebetulnya tidak ada perubahan, karena semua perubahan / penyesalan itu
sudah direncanakan oleh Allah.
Adam
Clarke (tentang Kel 32:14): “‘And
the Lord repented of the evil.’ This is spoken merely after the manner of
men who, having formed a purpose, permit themselves to be diverted from it
by strong and forcible reasons, and so change their minds relative to their
former intentions” (= ‘Dan Tuhan menyesal atas
malapetaka’. Ini dikatakan semata-mata menurut cara manusia yang,
setelah membentuk suatu rencana / tujuan, mengijinkan diri mereka sendiri untuk
menyimpang darinya oleh alasan-alasan yang kuat dan memaksa, dan dengan demikian
mengubah pikiran mereka dibandingkan dengan maksud-maksud mereka yang terdahulu).
Kesimpulan:
kelompok pertama yang mengatakan ‘Allah menyesal’ menggunakan bahasa
Anthropopathy, yang tidak bisa ditafsirkan apa adanya, dan juga menyoroti dari
sudut pandang manusia. Sedangkan kelompok kedua yang mengatakan ‘Allah tidak
menyesal’ menyoroti dari sudut pandang Allah / rencana Allah, dan ini yang
benar-benar merupakan fakta!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali