(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3
Minggu, tgl 14 Maret 2010, pk 17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
1)
Ada konflik dalam diri kita.
Dalam
diri setiap orang kristen yang sejati, pasti ada konflik antara keinginan Roh
dan keinginan daging.
Mat 26:41
- “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam
pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.’”.
Ro 7:18-19
- “(18) Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai
manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku,
tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. (19) Sebab bukan apa yang aku kehendaki,
yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu
yang jahat, yang aku perbuat”.
Gal 5:17
- “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh
berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga
kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki”.
Tetapi
selain itu, juga ada konflik antara keinginan daging yang satu dan keinginan
daging yang lain, atau hawa nafsu yang satu dengan hawa nafsu yang lain. Untuk
ini perhatikan ay 1: ‘hawa
nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu’ (Catatan: kata yang
diterjemahkan ‘hawa nafsu’ ini ada dalam bentuk jamak).
Contoh:
keinginan terhadap uang maupun cewek bisa menimbulkan konflik dalam diri kita.
2)
Ada konflik antara diri kita dengan orang lain.
Ay 1-2a:
“(1) Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu?
Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? (2a)
Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh;
kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan
kamu berkelahi”.
Keinginan
/ hawa nafsu sering diikuti dengan rasa iri hati terhadap orang yang mempunyai
apa yang kita inginkan itu. Dan iri hati ini bisa menimbulkan konflik antara
kita dengan orang itu.
Matthew
Henry: “The
Jews were a very seditious people, and had therefore frequent wars with the
Romans; and they were a very quarrelsome divided people, often fighting among
themselves; and many of those corrupt Christians against whose errors and vices
this epistle was written seem to have fallen in with the common quarrels.
Hereupon, our apostle informs them that the origin of their wars and fightings
was not (as they pretended) a true zeal for their country, and for the honour of
God, but that their prevailing lusts were the cause of all. Observe hence, What
is sheltered and shrouded under a specious pretence of zeal for God and religion
often comes from men’s pride, malice, covetousness, ambition, and
revenge” [= Orang-orang Yahudi adalah bangsa yang
sangat bersifat memberontak, dan karena itu sering berperang dengan orang-orang
Romawi; dan mereka adalah bangsa terpecah yang sangat suka gegeran, sering
berkelahi di antara mereka sendiri; dan banyak dari orang-orang Kristen yang
jahat itu terhadap mana surat ini menulis tentang kesalahan-kesalahan dan
kejahatan-kejahatannya, kelihatannya telah jatuh ke dalam
pertengkaran-pertengkaran yang umum. Tentang hal ini, rasul kita
menginformasikan kepada mereka bahwa asal mula dari peperangan dan perkelahian
mereka bukanlah (seperti mereka anggap) suatu semangat yang sungguh-sungguh /
benar untuk negara mereka, dan untuk kehormatan dari Allah, tetapi bahwa hawa
nafsu yang berkuasa dari mereka adalah penyebab dari semuanya. Karena itu
perhatikan, Apa yang dilindungi dan dibungkus / diselubungi di bawah suatu
semangat yang pura-pura, yang kelihatannya bagus, untuk Allah dan agama, sering
datang dari kesombongan, kejahatan, ketamakan, ambisi, dan balas dendam manusia].
Catatan:
perhatikan kata ‘often’ (= sering) yang digunakan Matthew Henry. Ia tidak
mengatakan ‘always’ (= selalu),
karena kadang-kadang gegeran memang diharuskan, dari pada mengorbankan kebenaran.
3)
Ada konflik antara diri kita dengan Allah.
Perlu
diingat bahwa konflik dengan sesama otomatis akan menimbulkan konflik dengan
Allah. Konflik dengan Allah ini dinyatakan oleh Yakobus dengan menunjukkan
beberapa hal:
a)
Tidak berdoa.
Ay 2b:
“Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa”.
Kalau
kita mempunyai keinginan yang kita tahu sebagai keinginan yang salah, maka
mungkin sekali kita tidak akan berani berdoa untuk meminta hal tersebut kepada
Allah. Tetapi dengan tidak berdoa, persekutuan dengan Allah menjadi rusak /
memburuk.
b)
Kita berdoa dengan motivasi yang salah.
Ay 3:
“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu
salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan
hawa nafsumu”.
KJV:
‘Ye ask, and receive not, because ye ask
amiss, that ye may consume it upon your lusts’ (= Kamu
meminta, dan tidak menerima, karena kamu meminta dengan salah, supaya
kamu bisa menghabiskannya untuk nafsumu).
Bible
Knowledge Commentary: “The
verb ‘ask’ is in the middle voice, meaning, ‘ask for yourself.’” (=
Kata kerja ‘meminta’ ada dalam middle voice, artinya, ‘meminta untuk
dirimu sendiri’).
Catatan:
dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia, suatu kata kerja hanya bisa dalam bentuk
aktif atau pasif, tetapi dalam bahasa Yunani ada bentuk aktif, pasif, dan
middle. Kata ‘ask’ (= meminta) ada
dalam middle voice, dan itu berarti ‘meminta untuk diri sendiri’. Ini
menunjukkan keegoisan dalam doa. Kata-kata ‘hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu’ (akhir ay 3)
lebih menekankan lagi keegoisan dalam doa ini.
Ada
orang yang sekalipun tahu bahwa keinginannya salah, tetapi tetap nekad untuk
berdoa. Tetapi doa seperti ini tidak akan dikabulkan oleh Allah (ay 3: ‘tetapi
kamu tidak menerima apa-apa’). Ini bisa membuat kita menjadi marah /
jengkel kepada Allah, sehingga ada konflik antara kita dengan Allah.
c)
Persahabatan dengan dunia menyebabkan kita menjadi musuh Allah.
Ay 4:
“Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa
persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa
hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah”.
Bdk.
1Yoh 2:15 - “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya.
Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang
itu”.
Barnes’
Notes: “‘Whosoever
therefore will be a friend of the world.’ ‘Whoever’ he may be, whether in
the church or out of it. The fact of being a member of the church makes no
difference in this respect, for it is as easy to be a friend of the world in the
church as out of it” (= ‘Karena itu, siapapun
mau menjadi sahabat dunia’. ‘Siapapun’ ia adanya, apakah di dalam gereja
atau di luarnya. Fakta bahwa seseorang adalah anggota dari suatu gereja tidak
membuat perbedaan dalam hal ini, karena adalah sama mudahnya untuk menjadi
sahabat dunia di dalam gereja seperti di luarnya).
Barnes’
Notes: “The
phrase ‘whosoever will’ (bouleethee)
implies ‘purpose, intention, design.’ It supposes that the heart is
set on it; or that there is a deliberate purpose to seek the friendship of the
world. It refers to that strong desire which often exists, even among professing
Christians, to secure the friendship of the world; to copy its fashions and
vanities; to enjoy its pleasures; and to share its pastimes and its
friendships” [= Ungkapan ‘siapapun yang mau’
(BOULEETHEE) secara implicit menunjuk pada ‘tujuan, maksud, rancangan’. Kata
itu menunjukkan bahwa hati diarahkan kepadanya; atau bahwa di sana ada suatu
tujuan yang sengaja untuk mencari persahabatan dengan dunia. Itu menunjuk pada
keinginan yang kuat yang sering ada, bahkan di antara orang-orang yang mengaku
sebagai orang-orang Kristen, untuk mendapatkan persabahatan dengan dunia; untuk
meniru cara-cara / kebiasaan-kebiasaan dan kesia-siaan dunia; untuk menikmati
kesenangan-kesenangannya; dan untuk ikut ambil bagian dalam hiburan-hiburan /
rekreasi-rekreasinya dan persahabatannya].
Barnes’
Notes: “Wherever
there is a manifested purpose to find our chosen friends and associates there
rather than among Christians; wherever there is a greater desire to enjoy the
smiles and approbation of the world than there is to enjoy the approbation of
God and the blessings of a good conscience; and wherever there is more conscious
pain because we have failed to win the applause of the world, or have offended
its votaries, and have sunk ourselves in its estimation, than there is because
we have neglected our duty to our Saviour, and have lost the enjoyment of
religion, there is the clearest proof that the heart wills or desires to be the
‘friend of the world.’” (= Dimanapun ada
suatu tujuan yang nyata untuk mendapatkan sahabat-sahabat dan teman-teman
pilihan kita di sana dari pada di antara orang-orang Kristen; dimanapun ada
suatu keinginan yang lebih besar untuk menikmati senyum dan penerimaan dari
dunia dari pada untuk menikmati penerimaan dari Allah dan berkat dari suatu hati
nurani yang baik; dan dimanapun ada rasa sakit yang lebih disadari karena kita
telah gagal untuk memenangkan pujian dari dunia, atau telah menyinggung
penggemar-penggemarnya, dan telah menenggelamkan diri kita sendiri dalam
penilaiannya, dari pada karena kita telah mengabaikan / melalaikan kewajiban
kita kepada Juruselamat kita, dan telah kehilangan penikmatan agama, di sana ada
bukti yang paling jelas bahwa hati menghendaki atau menginginkan untuk menjadi
‘sahabat dari dunia’).
Dalam
ay 4 itu, orang kristen yang bersahabat dengan dunia, oleh Yakobus
dikatakan sebagai:
1.
Musuh Allah (ay 4).
Matthew
Henry: “He
who will act upon this principle, to keep the smiles of the world, and to have
its continual friendship, cannot but show himself, in spirit, and in his actions
too, an enemy to God” (= Ia yang bertindak
berdasarkan prinsip ini, menjaga senyum dari dunia, dan mempunyai
persahabatannya terus menerus, hanya bisa menunjukkan dirinya sendiri, dalam
roh, dan dalam tindakannya juga, seorang musuh terhadap / bagi Allah).
Adam
Clarke: “How
strange it is that people professing Christianity can suppose that with a
worldly spirit, worldly companions, and their lives governed by worldly maxims,
they can be in the favour of God, or ever get to the kingdom of heaven! When the
world gets into the church, the church becomes a painted sepulchre; its
spiritual vitality being extinct” (= Betapa
anehnya bahwa orang-orang yang mengakui kekristenan, bisa menganggap bahwa
dengan suatu semangat duniawi, teman-teman duniawi, dan kehidupan yang
diperintah / dikuasai oleh peraturan-peraturan duniawi, mereka bisa ada dalam
perkenan Allah, atau akan masuk ke dalam kerajaan surga! Pada waktu dunia masuk
ke dalam gereja, gereja menjadi suatu kuburan yang dicat; karena vitalitas
rohaninya musnah).
Barnes’
Notes: “‘Is
the enemy of God.’ This is a most solemn declaration, and one of fearful
import in its bearing on many who are members of the church. It settles the
point that anyone, no matter what his professions, who is characteristically a
friend of the world, cannot be a true Christian” (= ‘Adalah
musuh Allah’. Ini adalah suatu pernyataan yang paling khidmat, dan suatu makna
yang menakutkan dalam hubungannya dengan banyak orang yang adalah
anggota-anggota dari gereja. Itu menetapkan suatu pendirian bahwa siapapun, tak
peduli apapun pengakuannya, yang secara khas adalah seorang sahabat dunia, tidak
bisa adalah seorang Kristen yang sungguh-sungguh / sejati).
2.
Orang-orang yang tidak setia (ay 4).
Kata-kata
‘orang-orang yang tidak setia’ ini oleh NASB diterjemahkan secara
hurufiah dengan kata ‘adulteresses’
(= pezinah-pezinah perempuan). Mengapa disebut demikian? Karena sebagai orang yang percaya kepada
Yesus, saudara sudah dipertunangkan dengan Kristus, dimana Kristus adalah calon mempelai laki-laki dan saudara adalah
calon mempelai perempuan. Kalau saudara bersahabat dengan dunia, saudara
melakukan penyelewengan secara rohani, sehingga saudara disebut ‘pezinah
perempuan’!
Penerapan:
·
setiap kali saudara membolos dari
kebaktian demi menuruti ajakan teman / keluarga untuk piknik, atau demi pergi ke
pesta pernikahan, atau karena urusan keluarga, RT / RW dsb, maka saudara
menjadikan diri saudara musuh Allah, dan saudara adalah seorang pezinah
perempuan!
·
kalau saudara mengutamakan
pekerjaan / uang lebih dari Tuhan, saudara menjadikan diri saudara musuh Allah,
dan saudara adalah seorang pezinah perempuan!
Ay
5 dalam Kitab Suci Indonesia salah terjemahan.
Ay 5:
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: ‘Roh
yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diinginiNya dengan cemburu!’”.
NIV:
‘Or do you think Scripture says without
reason that the spirit he caused to live in us envied intensely?’
(= Atau apakah kamu menyangka bahwa Kitab Suci tanpa
alasan berkata: roh yang disebabkanNya tinggal di dalam kamu sangat iri hati?).
Problem
dengan ay 5 ini:
a)
Yang dimaksud dengan ‘roh’ itu Roh Kudus atau roh kita? Ingat
bahwa dalam bahasa aslinya kata ‘roh’ tidak dimulai dengan huruf
besar sekalipun menunjuk pada Roh Kudus.
b)
Dalam Perjanjian Lama tidak ada ayat yang bunyinya seperti itu. Lalu
mengapa dalam ayat itu dikatakan ‘Kitab Suci berkata’?
Saya berpendapat bahwa:
a)
Yang dimaksud dengan ‘roh’ di sini adalah roh kita.
Barnes’
Notes: “The
more obvious interpretation is to refer it to our spirit or disposition as we
are by nature, and it is equivalent to saying that we are naturally prone to
envy” (= Penafsiran yang lebih jelas adalah
menujukannya kepada roh atau kecondongan kita sebagaimana adanya kita secara
alamiah, dan itu sama dengan mengatakan bahwa secara alamiah kita condong pada
iri hati).
b)
Memang dalam Perjanjian Lama tidak ada ayat seperti itu karena Yakobus
tidak mengutip dari 1 ayat. Ia mengucapkan kalimat itu berdasarkan ajaran umum
dalam Perjanjian Lama.
Baik
Adam Clarke maupun Albert Barnes, dan juga beberapa penafsir lain, mengatakan
bahwa tidak ada ayat dalam Kitab Suci yang bunyinya seperti itu, dan karena itu
Yakobus tidak memaksudkan satu ayat tertentu, tetapi menunjuk pada ajaran umum
dari seluruh Perjanjian Lama.
Kata-kata
‘roh yang disebabkanNya tinggal di dalam kamu sangat iri hati’
artinya: roh kita condong pada iri hati. Ini sejalan dengan beberapa ayat
Perjanjian Lama yang menunjukkan kecondongan manusia kepada dosa seperti:
·
Kej 6:5 - “Ketika dilihat
TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan
hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”.
·
Kej 8:21 - “Ketika TUHAN
mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hatiNya: ‘Aku
takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan
hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi
segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan”.
·
Amsal 21:10 - “Hati orang
fasik mengingini kejahatan dan ia tidak menaruh belas kasihan kepada
sesamanya”.
·
dsb.
Jadi
mungkin ayat-ayat inilah yang ada dalam pikiran Yakobus saat itu.
Ay 6
dalam Kitab Suci Indonesia lagi-lagi salah terjemahan.
Ay
6: “Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkanNya kepada kita, lebih besar
dari pada itu. Karena itu Ia katakan: ‘Allah menentang orang yang congkak,
tetapi mengasihani orang yang rendah hati.’”.
NIV:
‘But he gives us more grace. That is why
Scripture says: God opposes the proud but gives grace to the humble’ (= Tetapi
Ia memberikan kasih karunia yang lebih besar. Karena itu Kitab Suci berkata:
Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi kasih karunia kepada orang
yang rendah hati).
Jadi
sekalipun kecondongan kita pada dosa menyebabkan kita juga condong pada iri hati
(ay 5), tetapi pemberian kasih karunia dari Tuhan bisa mengatasi semua itu,
sehingga memungkinkan kita untuk tidak iri hati (ay 6a).
Ay
6b mungkin merupakan kutipan dari Amsal 3:34 - “Apabila Ia menghadapi
pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihaniNya”.
Ay
6b mengatakan 2 hal:
1)
Allah menentang orang yang congkak.
Barnes’
Notes: “The
proud are those who have an inordinate self-esteem; who have a high and
unreasonable conceit of their own excellence or importance. This may extend to
anything; to beauty, or strength, or attainments, or family, or country, or
equipage, or rank, or even religion. A man may be proud of anything that belongs
to him, or which can in any way be construed as a part of himself, or as
pertaining to him. This does not, of course, apply to a correct estimate of
ourselves, or to the mere knowledge that we may excel others. One may know that
he has more strength, or higher attainments in learning or in the mechanic arts,
or greater wealth than others, and yet have properly no pride in the case. He
has only a correct estimate of himself, and he attaches no undue importance to
himself on account of it. His heart is not lifted up; he claims no undue
deference to himself; he concedes to all others what is their due; and he is
humble before God, feeling that all that he has, and is, is nothing in his
sight. He is willing to occupy his appropriate place in the sight of God and
men, and to be esteemed just as he is. Pride goes beyond this, and gives to a
man a degree of self-estimation which is not warranted by anything that he
possesses” (= Orang
congkak adalah mereka yang mempunyai penilaian diri sendiri yang berlebihan;
yang mempunyai kesombongan yang tinggi dan tidak logis tentang keunggulan atau
kepentingan mereka sendiri. Ini bisa mencakup apapun; kecantikan, atau kekuatan,
atau pencapaian, atau keluarga, atau negara, atau perabot / kereta, atau
pangkat, atau bahkan agama. Seseorang bisa sombong tentang apapun yang menjadi
miliknya, atau yang bisa ditafsirkan sebagai bagian dari dirinya, atau sebagai
berhubungan dengannya. Ini tentu saja, tidak berlaku pada suatu penilaian yang
benar tentang diri kita sendiri, atau pada semata-mata suatu pengetahuan bahwa
kita memang melebihi orang-orang lain. Seseorang bisa tahu bahwa ia mempunyai
kekuatan yang lebih, atau pencapaian yang lebih, dalam belajar atau dalam seni
mekanik, atau kekayaan yang lebih dari orang-orang lain, tetapi secara benar
tidak mempunyai kesombongan dalam kasus itu. Ia hanya mempunyai suatu penilaian
yang benar tentang dirinya sendiri, dan tidak melekatkan kepentingan yang tidak
semestinya pada dirinya sendiri karena hal itu. Hatinya tidak ditinggikan; ia
tidak mengclaim rasa hormat yang tidak pantas untuk dirinya sendiri; ia
mengakui kepada semua orang lain apa yang menjadi hak mereka; dan ia rendah hati
di hadapan Allah, merasa bahwa semua yang ia miliki, dan apa adanya dia, tidak
ada apa-apanya dalam pandanganNya. Ia mau menempati tempatnya yang pantas dalam
pandangan Allah dan manusia, dan dinilai sebagaimana adanya. Kesombongan
berjalan melewati ini, dan memberi kepada seseorang suatu tingkat penilaian diri
sendiri yang tidak dibenarkan oleh apapun yang ia miliki).
2)
Allah memberi kasih karunia kepada orang yang rendah hati (lihat
terjemahan NIV di atas).
Ini
aneh! Bukankah kasih karunia menunjukkan pemberian Allah kepada orang yang
tidak berlayak menerima pemberian itu? Mengapa di sini dikatakan Allah
memberi kasih karunia kepada orang yang rendah hati? Kalau demikian, bukankah
kerendahan hati itu melayakkan kita untuk menerima kasih karunia Allah
itu? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu saudara ketahui bahwa kita bisa rendah
hati juga karena kasih karunia Allah! Tanpa kasih karunia Allah kita tidak bisa
rendah hati, tetapi sebaliknya, kita akan menjadi congkak.
Kesimpulannya:
Allah perlu memberi kita kasih karunia supaya kita menjadi rendah hati, dan
Allah juga perlu memberi kita kasih karunia supaya kita tidak iri hati! Memang
seluruh kehidupan orang kristen adalah karena kasih karunia!
Kalau
saudara bisa lebih menyadari hal ini, maka saudara akan menjadi orang kristen
yang lebih dipenuhi dengan pujian dan syukur kepada Tuhan!
Kalau
semua karena kasih karunia Allah, apakah ini menunjukkan bahwa kita tidak
mempunyai kewajiban apa-apa lagi? Apakah kita hanya perlu berpangku tangan
menantikan datangnya kasih karunia Allah itu? Tentu saja tidak!
Sekalipun
ajaran Reformed / Calvinisme mengajarkan kedaulatan Allah yang menentukan
segala sesuatu, tetapi ajaran Reformed / Calvinisme yang sejati tidak pernah
membuang atau meremehkan tanggung jawab manusia! Demikian juga, sekalipun
ajaran Reformed / Calvinisme percaya bahwa seluruh kehidupan kristen itu
karena kasih karunia Allah, dan bahwa tanpa kasih karunia Allah kita sama
sekali tidak bisa melakukan apapun yang baik, tetapi ajaran Reformed /
Calvinisme tidak pernah membuang atau meremehkan tanggung jawab manusia.
Karena itu kalau ada orang / hamba Tuhan yang menyerang ajaran Reformed /
Calvinisme dengan mengatakan bahwa ajaran Reformed / Calvinisme mengajar orang
menjadi pasif / apatis, maka serangan mereka sebetulnya salah alamat! Yang
mereka serang sebetulnya adalah Hyper-Calvinisme, bukan Reformed / Calvinisme.
Sekarang
mari kita kembali pada pokok persoalan dalam Yakobus ini. Tadi sudah kita lihat
bahwa untuk membuang iri hati maka kita harus menjadi rendah hati. Sekarang apa
tanggung jawab kita untuk bisa menjadi rendah hati?
1)
Tunduk kepada Allah (ay 7a).
Ay 7:
“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan
lari dari padamu!”.
Orang
sombong paling sukar untuk tunduk! Kalau ditegur, bahkan menjadi marah! Tetapi
kita harus belajar untuk membuang hal-hal itu. Kita harus belajar untuk mau
tunduk pada waktu menerima teguran Firman Tuhan, tidak peduli siapapun yang
menyampaikan Firman Tuhan itu!
2)
Lawanlah Iblis (ay 7b).
Ay 7:
“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan
lari dari padamu!”.
Ketundukan
kepada Allah harus dibarengi dengan perlawanan terhadap Iblis! Kita tidak bisa
tunduk kepada Allah, dan pada saat yang sama juga mau tunduk kepada Iblis! Orang
yang mencintai kesucian, harus membenci dosa!
Kalau
kita mau tunduk kepada Allah dan melawan Iblis, Yakobus mengatakan bahwa Iblis
itu akan lari dari kita (ay 7b). Apa artinya?
Bandingkan
dengan Luk 4:13 - “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia
mundur dari padaNya dan menunggu waktu yang baik”.
Perhatikan
bahwa dalam Luk 4:13 itupun Iblis mundur dari Yesus karena diusir oleh Yesus
(Bdk. Mat 4:9-11). Tetapi dalam kasus Yesuspun Iblis bukannya mundur
selama-lamanya! Ia mundur untuk mencari saat / kesempatan yang baik, untuk
menyerang lagi!
Jadi,
jangan menafsirkan ay 7b ini seakan-akan Iblis itu akan menjauhi kita dan tidak
menyerang kita lagi!
Jadi
arti dari ay 7 itu adalah: kalau kita mau tunduk kepada Allah dan melawan
Iblis, maka Iblis akan kalah!
3)
Mendekat kepada Allah (ay 8a).
Ay 8a:
“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu”.
Kalau
kita memang mau melawan Iblis, maka kita harus sadar bahwa kita tidak bisa
melawan Iblis dengan kekuatan / kecerdasan kita sebagai manusia! Kita
membutuhkan kekuatan dan hikmat dari Allah untuk melawan Iblis, dan karena itu,
kita harus dengan rendah hati mendekat kepada Allah!
Dan
kalau saudara mau mendekat kepada Allah, Allah berjanji akan mendekat kepada
saudara (ay 8a). Mungkin saudara pernah merasakan bahwa saudara mau
mendekat kepada Allah, tetapi Allah tetap tidak mau mendekat kepada saudara.
Kalau ini terjadi, yakinlah bahwa itu bukan terjadi karena Allah mengingkari
janjiNya di sini! Itu mungkin hanya perasaan saudara belaka, atau itu mungkin
betul-betul fakta, dan itu terjadi karena adanya dosa yang belum saudara
singkirkan!
4)
Menyucikan diri kita (ay 8b).
Ay 8b:
“Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu,
hai kamu yang mendua hati!”.
Kalau
kita mau mendekat kepada Allah, maka kita tidak mungkin melakukan hal itu
dengan mempertahankan dosa (apapun juga adanya dosa itu). Kita harus menyucikan
diri!
Kata
‘tangan’ dalam ay 8b itu merupakan suatu synecdoche
(= gaya bahasa dimana sebagian mewakili seluruhnya) yang mewakili seluruh tubuh
kita. Ini menunjukkan bahwa kita harus menyucikan seluruh kehidupan lahiriah
kita.
Kata
‘hati’ dikontraskan dengan ‘tangan’ dan menunjukkan bahwa
penyucian juga harus terjadi dalam hati, pikiran, dan motivasi kita.
Penyucian
diri ini harus mencakup juga penyesalan dan pengakuan dosa. Dan ini dibahas oleh
Yakobus dalam ay 9-10:
a)
Ay 9: “Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah;
hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita”.
NIV:
‘Grieve, mourn and wail. Change your
laughter to mourning and your joy to gloom’ (= Bersedihlah,
berkabung dan merataplah. Hendaklah tertawamu diganti dengan perkabungan dan
sukacitamu dengan kemurungan).
Ini menunjuk pada kesedihan karena dosa.
Penerapan:
Kalau saudara menyadari bahwa saudara sudah berbuat dosa, apakah saudara
menyesali dosa itu dengan cara seperti yang diperintahkan oleh ay 9 di
atas?
b)
Ay 10: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan
meninggikan kamu”.
Ay 10
ini bukan hanya mencakup perintah untuk mengakui dosa dengan merendahkan diri di
hadapan Tuhan (ay 10a), tetapi juga mencakup janji Tuhan yang menyatakan
bahwa Ia akan menerima orang yang mengaku dosa dengan sungguh-sungguh (ay 10b: “dan
Ia akan meninggikan kamu”.).
Maukah
saudara melakukan hal-hal yang menjadi tanggung jawab saudara ini? Kiranya Tuhan
memberkati saudara sekalian.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali